• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 107-114)

BAB 4 PELAKSANAA INTERVENSI “MaSa INDAH” DALAM

4.1.3 Rencana Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas

Pengembangan staf tenaga kesehatan dan kader kesehatan untuk meningkatkan kemampuan pemberian pelayanan kesehatan bagi lansia depresi belum optimal. a. Tujuan Umum :

Setelah dilakukan upaya pengembangan staf yaitu bagi tenaga kesehatan dan kader posbindu selama 9 bulan diharapkan dapat meningkatkan perilaku kesehatan dalam pemberian pelayanan kesehatan bagi lansia depresi.

b. Tujuan Khusus :

1) Terjadi peningkatan pengetahuan perawat atau tenaga kesehatan tentang intervensi MaSa INDAH pada kelompok lansia depresi

2) Terjadi peningkatan sikap perawat atau tenaga kesehatan tentang intervensi MaSa INDAH pada kelompok lansia depresi

3) Peningkatan keterampilan perawat atau tenaga kesehatan minimal sebesar 20% dalam melakukan tindakan asuhan keperawatan lansia dalam teknik meningkatkan harga diri, manajemen stres, senam kaki DM, latihan ROM pada lansia depresi.

4) Peningkatan keterampilan tenaga kesehatan minimal sebesar 20% dalam melakukan pencatatan dan pelaporan tentang pelayanan kesehatan bagi lansia serta status mental emosional lansia pada KMS lansia dalam laporan ke tingkat puskesmas dan dinas kesehatan.

5) Terjadinya peningkatan pengetahuan kader kesehatan tentang intervensi MaSa INDAH minimal 20%

6) Terjadinya peningkatan sikap kader kesehatan tentang intervensi MaSa INDAH kader kesehatan minimal 20%.

7) 70% kader kesehatan memiliki kemampuan dengan kategori baik memberikan intervensi MaSa INDAH untuk masalah kesehatan lansia dengan depresi.

8) 70% kader kesehatan melakukan pendataan dan pencatatan tentang status emosional lansia dalam KMS lansia.

Tenaga kesehatan yang akan dilatih adalah dengan kriteria sebagai penanggungjawab atau perawat pelaksana program kesehatan lansia atau perkesmas atau program kesehatan jiwa yang bekerja di wilayah kerja Puskesmas Cimanggis, Kota Depok.

Kader kesehatan yang akan dilatih adalah kader posbindu di wilayah Kelurahan Curug, bisa membaca dan menulis, serta bersedia untuk berperan dalam kegiatan pembinaan kesehatan lansia khususnya dengan masalah depresi.

c. Alternatif Penyelesaian Masalah Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas

1) Pelatihan bagi tenaga kesehatan tentang asuhan keperawatan psikososial (khususnya dengan depresi ) bagi lansia dengan intervensi MaSa INDAH. a) Pelatihan tentang proses asuhan keperawatan (pengkajian, perencanaan,

implementasi dan evaluasi) pada lansia dengan depresi dengan intervensi MaSa INDAH

b) Pelatihan tentang tindakan keperawatan bagi kesehatan lansia berupa latihan meningkatkan harga diri lansia, manajemen stres dengan teknik nafas dalam, latihan ROM dan senam kaki DM.

c) Evaluasi tenaga kesehatan dalam pencatatan dan pelaporan asuhan keperawatan lansia serta kegiatan pembinaan kesehatan lansia di puskesmas dan di masyarakat.

2) Penyegaran bagi kader posbindu :

a) Pendidikan kesehatan bagi kader tentang depresi pada lansia dan cara pencegahannya melalui intervensi MaSa INDAH

b) Melatih kader dalam melakukan pendidikan kesehatan bagi lansia dan keluarga lansia

c) Melatih kader untuk melakukan komunikasi efektif, meningkatkan harga diri lansia, teknik relaksasi: meditasi untuk manajemen stres pada lansia depresi

d) Melatih kader dalam pengisian KMS dan mengevaluasi pengisian Kartu Tilik Diri (KTD) lansia INDAH untuk hasil pengkajian status emosional lansia.

e) Evaluasi kader dalam melakukan intervensi MaSa INDAH yaitu melakukan komunikasi efektif, meningkatkan harga diri lansia, teknik relaksasi nafas dalam untuk manajemen stress pada lansia depresi. d. Pembenaran :

Pelatihan merupakan suatu proses seorang individu disediakan dengan berbagai interaksi yang baik ditujukan untuk mengembangkan isu dan menerima umpan balik terhadap kekuatan dan kesempatan untuk terlibat atau menerima

dukungan dan bimbingan selama transisi peran di dalam sebuah instansi (Karten & Baggot dalam (Marquis & Huston, 2012). Kurangnya pelatihan merupakan suatu kelemahan dalam sebuah manajemen sehingga dapat berdampak pada kinerja staf pegawai kurang memuaskan (Swanburg, 2000). Kurang adanya pelatihan bagi staf pegawai Dinkes Kota Depok serta petugas kesehatan di puskesmas khususnya staf Program Lansia terhadap berbagai aspek yang berkaitan dengan lansia dapat berdampak pada kurang optimalnya kinerja staf pegawai Dinkes Kota Depok untuk meningkatkan status kesehatan bagi lansia serta membuat petugas puskesmas kurang mendapat isu-isu terbaru dalam pelayanan terhadap kesehatan lansia.

Kader posbindu yang terdapat di Kelurahan Curug memerlukan suatu kegiatan untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuannya dalam perannya sebagai kader melalui pelatihan bagi kader. Kegiatan posbindu di kelurahan Curug memfasilitasi petugas kesehatan untuk lebih banyak memberikan informasi program-program sebatas teknis pelaksanaan administrasi dan proses kegiatan posbindu, pencatatan dan pelaporan kegiatan pelayanan kesehatan lansia. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Fatmah (2013) menunjukkan bahwa ada pengaruh pelatihan kader kesehatan (posbindu) dalam peningkatan pengetahuan dan keterampilan teknis bagi kader posbindu di kota Depok.

4.1.3.2 Masalah Keperawatan Manajemen (2):

Wadah yang mendukung masyarakat dalam pembinaan khusus lansia dengan depresi belum tersedia.

a. Tujuan Umum

Setelah dilakukan pengelolaan fungsi manajemen : tersedianya wadah yang mendukung masyarakat program kesehatan lansia dengan depresi selama 9 bulan diharapkan program MaSa INDAH dapat diaplikasikan langsung dalam upaya peningkatan status kesehatan lansia dengan depresi.

b. Tujuan Khusus

1) Tersosialisasinya tentang program MaSa INDAH bagi dinas kesehatan kota Depok dan Puskesmas Cimanggis serta kelompok pendukung/ masyarakat.

2) Terbentuknya struktur organisasi kelompok pendukung MaSa INDAH bebas depresi.

3) Dibuatnya rencana program kegiatan kelompok pendukung MaSa INDAH bebas depresi.

4) Terbinanya kelompok pendukung MaSa INDAH bebas depresi.

c. Alternatif Penyelesaian Masalah Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas :

1) Sosialisasi program lansia INDAH bebas depresi bagi dinas kesehatan kota Depok dan Puskesmas Cimanggis serta kelompok pendukung atau masyarakat.

2) Pembentukan kelompok pendukung (support group) yaitu membuat struktur organisasi kelompok pendukung dan pembagian kerja masing-masing anggota kelompok pendukung.

3) Pembinaan kelompok pendukung lansia INDAH bebas depresi dalam 9 kali pertemuan untuk kegiatan :

a) Pertemuan 1 yaitu: pembentukan kelompok pendukung lansia INDAH bebas depresi di RW 11, identifikasi pengetahuan, sikap dan keterampilan kelompok pendukung, identifikasi masalah kesehatan lansia yang dihubungkan dengan masalah depresi, pembagian buku kerja dan cara penggunaannya, penyusunan rencana kegiatan kelompok selanjutnya yaitu : mengidentifikasi masalah kesehatan lansia di wilayah RW

b) Pertemuan 2 yaitu: evaluasi kegiatan sebelumnya yaitu identifikasi masalah kesehatan pada lansia di wilayah RW, pemberian materi kesehatan tentang masalah kesehatan dan depresi lansia, identifikasi lansia depresi dan faktor risiko depresi pada lansia, penyusunan rencana kegiatan kelompok selanjutnya yaitu: identifikasi faktor risiko dan

tanda-tanda depresi pada minimal satu (1) lansia dengan kunjungan ke rumah lansia oleh masing-masing kader.

c) Pertemuan 3 yaitu: evaluasi kegiatan sebelumnya yaitu identifikasi faktor risiko dan tanda-tanda depresi pada minimal satu (1) lansia dengan kunjungan ke rumah lansia oleh masing-masing kader, pembinaan kader dalam melakukan kegiatan pendidikan kesehatan tentang kesehatan lansia dan risiko depresi lansia oleh kader, penyusunan rencana kegiatan kelompok selanjutnya yaitu mengeksplorasi kemampuan diri oleh kader masing-masing untuk persiapan memberikan pendidikan kesehatan.

d) Pertemuan 4 yaitu: evaluasi kegiatan sebelumnya yaitu ekplorasi kemampuan diri kader untuk memberikan pendidikan kesehatan dan memberikan umpan balik dan motivasi, praktik melakukan pendidikan kesehatan oleh kader, evaluasi kegiatan penkes oleh kader, penyusunan rencana kegiatan kelompok selanjutnya yaitu identifikasi cara keluarga berkomunikasi dengan lansia melalui kunjungan rumah

e) Pertemuan 5 yaitu: evaluasi kegiatan sebelumnya yaitu identifikasi cara keluarga berkomunikasi dengan lansia melalui kunjungan rumah, pembinaan melalui pendidikan kesehatan tentang komunikasi efektif dan latihan dalam berkomunikasi efektif, penyusunan rencana kegiatan selanjutnya yaitu identifikasi stress dan cara mengatasi stress pada diri sendiri oleh kader.

f) Pertemuan 6 yaitu: evaluasi kegiatan sebelumnya yaitu identifikasi stress dan cara mengatasi stress oleh kader, latihan manajemen stres dengan teknik relaksasi, penyusunan rencana kegiatan selanjutnya yaitu eksplorasi perasaan malu pada individu atau harga diri rendah. g) Pertemuan 7 yaitu: evaluasi kegiatan sebelumnya yaitu eksplorasi

perasaan malu pada individu atau harga diri rendah, pembinaan dengan pendidikan kesehatan tentang harga diri rendah pada lansia dan cara meningkatkannya, penyusunan rencana kegiatan selanjutnya yaitu persiapan untuk evaluasi keluarga binaan dengan melakukan kunjungan rumah.

h) Pertemuan 8 yaitu: Review kegiatan-kegiatan sebelumnya dan pembinaan ulang untuk topik yang masih kurang dipahami.

i) Pertemuan 9 yaitu: evaluasi kegiatan sebelumnya yaitu persiapan untuk evaluasi keluarga binaan dengan melakukan kunjungan rumah dan evaluasi perilaku kesehatan kelompok pendukung (post test).

d. Pembenaran :

Penugasan suatu kelompok manajer dengan otoritas pengawasan setiap kelompok dan menentukan cara pengoordinasian aktivitas yang tepat dengan unit lainnya, baik secara vertikal maupun horizontal yang bertanggungjawab mencapai tujuan organisasi (Swansburg, 1993). Pengorganisasian juga merupakan fase yang kedua setelah perencanaan dalam proses manajemen dan dalam tahap pengorganisasian menjelaskan tentang hubungan, prosedur pelaksanaan, perlengkapan, dan pembagian tugas (Marquis & Huston, 2012). Struktur organisasi menentukan tingkah laku staf pegawai sebagai akibat dari peran, kekuatan, tanggung jawab, kekuasaan, pemusatan, dan komunikasi (Gillies, 1994). Faktor tersebut berkontribusi terhadap efektifitas kerja dari masing-masing staf pegawai atau anggota organisasi dan sebagai bentuk dukungan antara sesama dalam pelaksanaan kegiatan program lansia.

Upaya pencapaian suatu tujuan program lansia dapat dengan memberdayakan masyarakat juga diperlukan. Huber (2006) menyatakan bahwa pengorganisasian berarti memobilisasi sumber daya material dan manusia untuk mencapai apa yang dibutuhkan. Selain itu melalui pendidikan kesehatan adalah suatu kegiatan dalam rangka upaya promotif dan preventif dengan melakukan penyebaran informasi dan meningkatkan motivasi bagi masyarakat untuk berperilaku sehat termasuk dalam pelayanan kesehatan bagi lansia (Stanhope & Lancaster, 2004).

4.1.4 Pelaksanaan Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 107-114)