UNIVERSITAS INDONESIA
PENGARUH INTERVENSI “ MaSa INDAH” DALAM
PELAYANAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
TERHADAP PENURUNAN TINGKAT DEPRESI PADA
AGGREGATE
LANSIA DI KELURAHAN CURUG,
KECAMATAN CIMANGGIS, KOTA DEPOK
KARYA ILMIAH AKHIR
AGNES DEWI ASTUTI 1106042555
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI NERS SPESIALIS
KEPERAWATAN KOMUNITAS DEPOK
UNIVERSITAS INDONESIA
PENGARUH INTERVENSI “ MaSa INDAH” DALAM
PELAYANAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
TERHADAP PENURUNAN TINGKAT DEPRESI PADA
AGGREGATE
LANSIA DI KELURAHAN CURUG,
KECAMATAN CIMANGGIS, KOTA DEPOK
KARYA ILMIAH AKHIR
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ners Spesialis Keperawatan Komunitas
AGNES DEWI ASTUTI 1106042555
Pembimbing I : Dra. Junaiti Sahar, SKp.,M.App.Sc.,PhD Pembimbing II : Widyatuti, SKp.,M.Kep.,Sp.Kom
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI NERS SPESIALIS
KEPERAWATAN KOMUNITAS DEPOK
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan atas segala berkat kasih karunia Tuhan Yang Maha Esa, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah akhir yang berjudul “Pengaruh Intervensi “MaSa INDAH” dalam Pelayanan dan Asuhan Keperawatan Komunitas Terhadap Penurunan Tingkat Depresi pada Aggregate Lansia di Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok”. Karya Ilmiah Akhir ini
disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ners Spesialis Keperawatan Komunitas Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam memberikan masukan, bimbingan, semangat serta dukungan yang sangat besar dalam menyelesaikan karya ilmiah akhir ini. Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada :
1. Dra. Junaiti Sahar, SKp.,M.App., PhD., selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia sekaligus sebagai pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan karya ilmiah akhir ini.
2. Ns. Henny Permatasari, SKp.,M.Kep.,Sp.Kom., selaku Ketua Program Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
3. Ns. Widyatuti, S,Kp.,M.Kep.,Sp.Kom selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan karya ilmiah akhir ini. 4. Segenap dosen Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
5. Segenap karyawan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
6. Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok yang telah memberikan ijin praktik residensi keperawatan komunitas Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
7. Kepala Puskesmas Cimanggis Kota Depok yang telah memberikan ijin praktik residensi keperawatan komunitas Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
8. Suami tercinta Vinsensius Goda Lengu, anak-anak kesayangan Alberto Alessandro Senada Putra dan Rafael Senada Putra, mamah tercinta dan kakak
Dodi, Maria, keponakan Anto serta seluruh keluarga yang telah mendukung melalui doa dan semangat yang sangat besar.
9. Seluruh rekan-rekan residen Program Spesialis Keperawatan Komunitas angkatan 2013 (13 Pejuang’13) dan rekan-rekan Program Magister angkatan 2011 di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia yang telah memberikan masukan serta motivasi yang begitu besar.
Semoga seluruh kebaikan serta dukungan yang diberikan mendapatkan berkat dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis sadar bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan karya ilmiah akhir ini, maka kritik dan saran yang membangun untuk melengkapi karya ilmiah akhir ini sangat penulis hargai agar dapat bermanfaat bagi kita semua.
Depok, Juni 2014
Agnes Dewi Astuti
Spesialis Keperawatan Komunitas Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia Pengaruh Intervensi “MaSa INDAH” dalam Pelayanan dan Asuhan Keperawatan Komunitas Terhadap Penurunan Tingkat Depresi pada Aggregate Lansia di Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok
MaSa INDAH merupakan bentuk intervensi keperawatan komunitas untuk menurunkan tingkat depresi pada lansia. Penulisan bertujuan untuk memberikan gambaran pengaruh intervensi “MaSa INDAH” dalam pelayanan dan asuhan keperawatan komunitas terhadap penurunan tingkat depresi lansia. Hasil menunjukkan terjadi penurunan tingkat depresi pada lansia sebesar 31,58% dengan peningkatan pengetahuan 25,01 %; sikap 35 %; keterampilan lansia melakukan intervensi ”MaSa INDAH” dengan presentasi paling besar yaitu meningkatkan harga diri positif sebesar 52,9%. Kesimpulan peningkatan harga diri lansia dapat menurunkan tingkat depresi. Direkomendasikan pengambil keputusan program kesehatan lansia meningkatkan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan yang melibatkan lansia sebagai bentuk penghargaan, agar lansia tetap sehat dan bahagia.
Kata kunci : MaSa INDAH, intervensi keperawatan komunitas, lansia, depresi.
ABSTRACT
Agnes Dewi Astuti
Specialist Community Nursing, Faculty of Nursing, University Indonesia
Effect of Intervention "MaSa INDAH" in the Services and Community Nursing Care to Decreased Elderly’s Depression Level in Curug Sub Distric, Cimanggis, Depok
MaSA INDAH is a form of community nursing intervention to decrease the level of depression in the elderly. The aims of this paper was to provide an overview of the effect of the intervention "MaSa INDAH" in the community nursing service and to decrease the level of depression. The results showed that there was a decrease in the level of depression in the elderly by 31.58% with an increase knowledge of 25.01%; attitudes 35%; the skills of the elderly in giving “MaSa INDAH” intervention was the greatest presentation of improving positive self-esteem by 52.9%. Conclusion improved positive self-esteem in the elderly has been decreased the level of depression. The decision makers is recommended to improve community empowerment through activities involving the elderly as a form of appreciation, so that the elderly remain healthy and happy.
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ... ii
HALAMAN ORISINALITAS ... iii
HALAMAN PENGESAHAN... iv
KATA PENGANTAR ... v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI... vii
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR GAMBAR... xii
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB 1 PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Tujuan Penulisan... 12 1.2.1 Tujuan Umum... 12 1.2.2 Tujuan Khusus... 12 1.3 Manfaat Penulisan ... 13
1.3.1 Pengelola Program Kesehatan ... 13
1.3.2 Kader Kesehatan ... 13
1.3.3 Masyarakat, Keluarga dan Lansia ... 14
1.3.4 Pengembangan Ilmu Keperawatan ... 14
BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Lansia sebagai Populasi Rentan (Vulnerable Population) ... 15
2.1.1 Definini Populasi Rentan ... 15
2.1.2 Karakteristik Lansia sebagai Populasi Rentan ... 16
2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kerentanan ... 18
2.1.4 Konsekuensi Fungsional pada Kelompok Lansia ... 20
2.2 Lansia dengan Depresi ... 21
2.2.1 Perubahan akibat Proses Penuaan pada Lansia ... 21
2.2.2 Depresi pada Lansia ... 23
2.3 Keperawatan Komunitas ... 26
2.3.1 Unsur-unsur Penting dalam Kesehatan Komunitas ... 26
2.3.2 Karakteristik keperawatan Komunitas ... 26
2.3.3 Strategi Keperawatan Komunitas ... 27
2.3.4 Prinsip Keperawatan Komunitas ... 31
2.3.5 Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas ... 33
2.3.6 Asuhan Keperawatan ... 42
2.4 Peran Perawat Komunitas pada Kelompok Lansia dengan Depresi... 60
2.4.1 Peran sebagai Pemberi Pelayanan Keperawatan atau provider.. 60
2.4.2 Peran sebagai Pendidik atau edukator ... 60
2.4.3 Peran sebagai advocator ... 61
2.4.4 Peran sebagai Manajer ... 61
BAB 3 KERANGKA KONSEP PRAKTIK KEPERAWATAN KOMUNITAS
3.1 Kerangka Konsep Praktik Keperawatan Komunitas ... 64
3.2 Pelaksanaan Intervensi MaSa INDAH dalam menurunkan Depresi pada Lansia ... 67
3.3 Profil Wilayah Kelurahan Curug Kota Depok ... 69
BAB 4 PELAKSANAA INTERVENSI “MaSa INDAH” DALAM PELAYANAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS UNTUK MENURUNKAN TINGKAT DEPRESI PADA AGGREGATE LANSIA 4.1 Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas dalam Mencegah Depresi pada Aggregate Lansia ... 73
4.1.1 Analisis Situasi ... 73
4.1.2 Masalah Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas ... 93
4.1.3 Rencana Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas ... 93
4.1.4 Pelaksanaan Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas.. 100
4.1.5 Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut ... 104
4.2 Asuhan Keperawatan Komunitas ... 109
4.2.1 4.2.2 Pengumpulan Data... Analisis Situasi ... 109 111 4.2.3 Masalah Keperawatan Komunitas ... 115
4.2.4 Rencana Tindakan Keperawatan Komunitas ... 117
4.2.5 Pelaksanaan Keperawatan Komunitas ... 121
4.2.6 Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut ... 123
4.3 Asuhan Keperawatan Keluarga ... 129
4.3.1 Analisis Situasi ... 129
4.3.2 Masalah Keperawatan Keluarga ... 132
4.3.3 Rencana Tindakan Keperawatan Keluarga ... 134
4.3.4 Pelaksanaan Keperawatan Keluarga ... 139
4.3.5 Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut ... 140
BAB 5 PEMBAHASAN 5.1 Analisis Pencapaian Kesenjangan ... 145
5.1.1 Manajemen Pelayanan Keperawatan Kesehatan ... 145
5.1.2 Asuhan Keperawatan Komunitas ... 148
5.1.3 Asuhan Keperawatan Keluarga ... 153
5.2 Keterbatasan ... 155
5.3 Implikasi keperawatan ... 155
5.3.1 Implikasi Pelayanan Keperawatan Komunitas ... 155
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
Gambar 2.1 Model Community As Partner... 43 Gambar 2.2 Modifikasi Langkah-langkah dalam Proses
Keperawatan Individu dan Keluarga Lansia
dengan Depresi... 58 Gambar 3.1 Kerangka Konsep Praktik Keperawatan
Komunitas pada Aggregate Lansia dengan
Depresi ... 66 Gambar 3.2 Kerangka Modifikasi Pelaksanaan Intervensi
MaSa INDAH ... 69 Gambar 4.1 Fish Bone Analisis Manajemen Pelayanan
Kesehatan pada Aggregate Lansia dengan
Depresi ... 92 Gambar 4.2 WOC (Web of Causation) Asuhan Keperawatan
Komunitas pada Aggregat Lansia dengan
Depresi ... 116 Gambar 4.3 WOC (Web of Causation) Asuhan Keperawatan
Keluarga pada Aggregate Lansia dengan
Depresi ... 133
Tabel 4.1 Distribusi frekuensi karakteristik lansia depresi yang mendapatkan intervensi MaSa INDAH berdasarkan usia, masalah kesehatan dan
tingkat ketergantungan di Kelurahan Curug
tahun 2013 (n=19) ... 111 Tabel 4.2 Distribusi frekuensi karakteristik lansia depresi
yang mendapatkan intervensi MaSa INDAH berdasarkan jenis kelamin, status perkawinan pendidikan, pekerjaan dan penghasilan di
Kelurahan Curug tahun 2013 (n=19) ... 112 Tabel 4.3 Distribusi frekuensi karakteristik lansia depresi
yang mendapatkan intervensi MaSa INDAH berdasarkan jaminan kesehatan di Kelurahan
Curug tahun 2013 (n=19) ... 113 Tabel 4.4 Distribusi frekuensi lansia depresi sebelum
mendapatkan intervensi MaSa INDAH berdasarkan skore pengetahuan tentang perawatan kesehatan lansia dengan depresi di
Kelurahan Curug tahun 2013 (n=19) ... 113 Tabel 4.5 Distribusi frekuensi lansia depresi sebelum
mendapatkan intervensi MaSa INDAH berdasarkan skore depresi dan tingkat depresi di
Kelurahan Curug tahun 2013 (n=19) ... 114 Tabel 4.6 Distribusi frekuensi lansia depresi setelah
mendapatkan intervensi MaSa INDAH berdasarkan skore pengetahuan tentang perawatan kesehatan lansia dengan depresi di
Kelurahan Curug tahun 2013 (n=19) ... 124 Tabel 4.7 Distribusi rata-rata skor pengetahuan kelompok
lansia sebelum dan sesudah mendapatkan intervensi MaSa INDAH di Kelurahan Curug
Kota Depok tahun 2014 (n=19) ... 124 Tabel 4.8 Distribusi Perubahan Kemampuan Lansia dalam
Memilih Cara untuk Mengatasi Depresi Pre dan Post intervensi MaSa INDAH di Kelurahan
Curug, Cimanggis Kota Depok, 2014 (n=19) ... 125 Tabel 4.9 Distribusi rata-rata skor depresi kelompok lansia
sebelum dan sesudah mendapatkan intervensi MaSa INDAH di Kelurahan Curug Kota Depok
tahun 2014 (n=19) ... 126 Tabel 4.10 Distribusi Perubahan Tingkat Depresi Lansia
Sebelum dan Sesudah intervensi MaSa INDAH di Kelurahan Curug, Cimanggis Kota Depok,
Lampiran 2: Kuesioner Lampiran 3: Leaflet
1
BAB 1 PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan latar belakang, tujuan dan manfaat dari penerapan model asuhan keperawatan pada komunitas dan keluarga lansia dengan depresi di Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis Kota Depok, Jawa Barat.
1.1 LATAR BELAKANG
Seiring dengan peningkatan derajat kesehatan dan kesejahteraan penduduk, maka akan berpengaruh pada peningkatan Usia Harapan Hidup (UHH) di Indonesia. Berdasarkan laporan dari World Health Organization (WHO) dalam Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2013) dan Komisi Nasional Lanjut Usia (2010), peningkatan UHH terjadi dari tahun 1980 adalah 55,7 tahun, angka ini kemudian meningkat pada tahun 1990 menjadi 59,5 tahun, pada tahun 2009 mencapai 70,6 tahun dan pada tahun 2020 diperkirakan UHH menjadi 71,7 tahun. Hal ini menyebabkan pertumbuhan penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia semakin meningkat.
Lansia mengalami suatu proses dalam kehidupan yang alami dan pasti akan dihadapi oleh setiap manusia dan tidak dapat dihindari yaitu penuaan. Perubahan yang terjadi pada proses penuaan ditandai dengan hilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan organ tubuh memperbaiki diri dan bersifat irreversibel. Perubahan yang terjadi yaitu pada aspek fisik atau fisiologi, psikologi, dan sosial (Miller, 2012).
Perubahan kondisi fisik mengakibatkan lansia tidak mampu beraktifitas secara optimal (Stanhope & Lancaster, 2010). Lansia menjadi kurang aktif dan akhirnya mengalami keterbatasan pergerakan, kekakuan otot dan tulang. Hal ini menyebabkan lansia lebih banyak melakukan aktifitas hanya di dalam rumah. Lansia yang lebih banyak melakukan aktifitas sendiri di dalam rumah akan merasakan kondisi kesepian dan jauh dari pengaruh sosial di dalam masyarakat.
2
Perubahan psikologis, sosial dan ekonomi juga dapat dialami oleh lansia terutama yang memasuki masa pensiun atau penurunan peran dalam masyarakat (Stanhope & Lancaster, 2010; Miller, 2012). Demikian pula dengan lansia yang mengalami proses kehilangan pasangan hidup atau orang-orang yang dicintainya, ia akan merasakan kesedihan dan kesepian (Stanhope & Lancaster, 2010; Friedman, Bowden & Jones, 2010). Penurunan produktivitas dan ekonomi lansia berdampak pada penurunan pendapatan, sehingga lansia mengalami pemenuhan nutrisi yang kurang baik, terjadinya penelantaran, hingga kondisi sulitnya mendapatkan pelayanan kesehatan. (Stanhope & Lancaster, 2010; Miller, 2012). Kondisi tersebut dapat menimbulkan masalah kesehatan pada lansia yaitu depresi.
Depresi merupakan salah satu gangguan mental emosional yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya (Sadock & Sadock, 2010). Kurangnya motivasi dan gangguan dalam alam perasaan menyebabkan penurunan semangat hidup, sehingga jika depresi terjadi pada kondisi lansia yang sudah mengalami penurunan kesehatan, maka akan memperberat kondisi kesehatannnya.
Menurut ahli, faktor yang dapat menyebabkan depresi pada lansia adalah karena hilangnya harga diri, hilangnya peran yang berarti, hilangnya orang tertentu, dan kontak sosial yang kurang (Reker, 1997 dalam Miller, 2012). Faktor lain yang berkontribusi dalam munculnya masalah depresi pada lansia adalah meliputi: usia; jenis kelamin, kurangnya peran sosial dan rendahnya status sosial ekonomi; pengalaman masa lalu seperti trauma pada masa kecil; stres sosial yang berulang termasuk dalam kejadian hidup yang membuat stress; jaringan sosial yang tidak adekuat; kurangnya interaksi sosial; rendahnya intergrasi sosial misalnya ketidakmampuan lingkungan dan terbatasnya kekuatan keagamaan; serta kombinasi beberapa faktor-faktor (Miller, 2012; Cole & Dendukuri, 2003).
Depresi diawali dengan gejala ringan seperti merasa sedih, kurang bersemangat dan malas beraktifitas. Manifestasi depresi akan meningkat ke depresi sedang dan
3
berat, jika lansia tidak memiliki koping yang adekuat. Kondisi tersebut membuat lansia atau aggregate (kelompok khusus) lansia menjadi bagian dalam populasi rentan meliputi rentan secara fisiologis yaitu berupa proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri, sehingga masalah kesehatan lansia banyak yang bersifat kronik; rentan secara psikologis yaitu lansia akan dihadapkan oleh berbagai peristiwa dan kejadian kehidupan yang mengakibatkan perubahan-perubahan yang berpotensi menimbulkan stres; rentan secara sosial yaitu stres sosial dapat disebabkan oleh diskriminan baik ras, budaya, atau yang lainnya; dan rentan secara ekonomi yaitu lansia mengalami keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan kesehatannya (Miller, 2012; Swanson & Nies, 1993; Stanhope & Lancaster, 2010; Ruof, 2004).
Kondisi keterasingan, kemiskinan dan kurangnya dukungan sosial membuat lansia semakin tidak diperhatikan. Moccia dan Mason (1986, dalam Stanhope & Lancaster, 2010) menyatakan bahwa kemiskinan adalah masalah utama karena melibatkan kontrol atas sumber daya yang diperlukan, sehingga dapat berfungsi efektif di dalam masyarakat. Kondisi tersebut mengakibatkan lansia semakin berisiko besar mengalami masalah kesehatan dengan depresi.
Angka kejadian depresi pada lansia semakin meningkat. Kejadian depresi secara klinis pada lansia di dunia cukup signifikan yaitu 8-16%. Menurut Back dalam Tamber & Kookasiani (2009), prevalensi depresi pada lansia yang menjalani perawatan di institusi seperti rumah sakit dan panti perawatan adalah sebesar 50-75%. Sedangkan di komunitas, prevalensi depresi yang dialami oleh lansia adalah 1-35% (Frazer, Christense & Griffith, 2005). Di Indonesia dilaporkan bahwa 74% lansia berusia 60 tahun ke atas menderita penyakit kronis seperti diabetes mellitus, hipertensi, stroke, rematik, asma dan jantung. Angka tersebut mengindikasikan bahwa ada kemungkinan sebanyak 74% lansia di Indonesia akan berisiko mengalami depresi, karena kondisi lansia dengan proses penuaan disertai penyakit kronik akan berdampak pada ekspresi putus asa pada keadaan dan tidak memiliki harapan kesembuhan.
4
Hasil dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menyatakan bahwa prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk Indonesia adalah sebesar 6%. Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang memiliki prevalensi gangguan mental emosional yang lebih tinggi dibandingkan prevalensi nasional yaitu 9,3% (Kemenkes RI, 2013a). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa depresi bukan merupakan masalah yang berisiko akan terjadi dalam masyarakat, namun sudah memang menjadi masalah kesehatan yang aktual dan perlu diperhatikan.
Pentingnya masalah depresi pada lansia didasarkan pula dari fenomena yang ditemukan di lapangan. Hasil survei di Kelurahan Curug Kecamatan Cimanggis, Depok, Jawa Barat pada bulan September-Oktober 2013 dengan menggunakan kuesioner depresi yaitu GDS (Geriatric Depression Scale) ditemukan 38 lansia yang ada di masyarakat mengalami depresi, dimana 12 lansia (31,5%) dengan risiko depresi dan 16 lansia (42,1%) mengalami depresi ringan dan 10 lansia (26,3%) mengalami depresi sedang. Data tersebut menunjukkan bahwa prevelensi lansia yang mengalami depresi di Kelurahan Curug (risiko depresi, ringan hingga sedang) adalah 7,5 % atau lebih tinggi dari prevalensi nasional maupun provinsi (Survey Mahasiswa Program Spesialis Keperawatan Komunitas FIK-UI, 2013).
Sejumlah 38 lansia yang mengalami depresi di Kelurahan Curug, memiliki pola komunikasi lansia yang tidak terbuka, banyak berdiam diri dan duduk sendiri di dalam rumah. Hal tersebut disebabkan pula karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan di luar rumah, ada juga yang disebabkan karena lansia merasakan malu dengan perubahan yang terjadi pada dirinya. Beberapa lansia jarang berkomunikasi dengan anggota keluarganya, karena kesibukan anggota keluarga yang lain dan lansia juga merasakan kerinduannya untuk dikunjungi oleh anggota keluarga yang lain. Kondisi tersebut tidak dikomunikasikan oleh lansia dengan baik kepada keluarga atau orang lain, sehingga lansia memendam keinginan dan perasaannya sendiri dengan mengekpresikannya melalui tangisan maupun sikap berdiam diri.
5
Dukungan bagi kesehatan lansia depresi masih kurang optimal dan sering diabaikan. Banyak keluarga yang masih belum mengetahui perawatan bagi lansia depresi di rumah, sehingga dapat memperburuk kondisi lansia dan akhirnya akan menambah beban bagi keluarga yang merawatnya. Selain itu, dukungan dari masyarakat yang masih kurang memperhatikan kondisi psikososial lansia dalam kegiatan bermasyarakat serta persepsi keluarga dan masyarakat yang masih kurang tepat tentang depresi pada lansia dengan menyatakan bahwa kesedihan di masa tua adalah hal yang biasa dan tidak perlu dipersoalkan. Hasil pengamatan pada kegiatan posbindu, lansia hanya mendapatkan pelayanan kesehatan minimal berupa pengukuran tekanan darah dana belum adanya kegiatan lansia sebagai upaya promotif dan preventif khususnya untuk masalah depresi.
Masalah kesehatan depresi pada lansia sering diabaikan bukan hanya oleh masyarakat, namun juga oleh tenaga kesehatan. Menurut Conner (2010), persepsi negatif terhadap masalah lansia depresi dapat mempengaruhi perilaku kesehatan dan perhatian dalam memperoleh dan memberikan pelayanan kesehatan yang optimal bagi lansia depresi. Sejumlah faktor yang menyebabkan keadaan ini adalah karena adanya fakta bahwa lansia mengalami kondisi gangguan fisik saja, sehingga depresi menjadi tersamarkan. Selain itu, isolasi sosial, sikap orang tua, penyangkalan, pengabaian terhadap proses penuaan normal menyebabkan tidak terdeteksi dan tidak tertanganinya depresi pada lansia (Love, 1991 dalam Stanley & Beare, 2007).
Lansia yang mengalami kesedihan hingga depresi dan tidak segera ditangani dengan baik akan berdampak negatif bagi kondisi kesehatan lansia. Kondisi depresi dapat memperpendek harapan hidup dan memperburuk kemunduran fisik lansia. Dampak terbesar sering terjadi pada penurunan kepuasan dan kualitas hidup lansia serta menghambat pemenuhan tugas perkembangan lansia (Stanley, & Beare, 2007; Friedman, Bowden, & Jones, 2010). Depresi juga akan menguras habis emosi dan finansial lansia dan keluarga lansia serta sistem pendukung sosial informal dan formal yang dimilikinya. Akhirnya, angka bunuh diri yang tinggi menjadi konsekuensi yang serius dari kondisi depresi tersebut (Stanley & Beare,
6
2007). Kondisi lansia dengan depresi, membutuhkan dukungan seoptimal mungkin, sehingga lansia dapat menikmati masa tuanya dengan sehat, bahagia, produktif dan berkualitas secara sosial maupun ekonomis sesuai dengan martabat kemanusiaan.
Kualitas hidup lansia dapat dicapai dengan kondisi peningkatan kesehatan fisik dan mental lansia dalam mewujudkan proses menua secara aktif dan sehat bagi lansia. Dukungan, bantuan dan perlindungan lansia diperlukan diberbagai bidang seperti kesehatan, pendidikan dan pelatihan, kemudahan dalam menggunakan fasilitas, sarana dan prasarana umum serta pelayanan dengan memperhatikan kemauan lansia untuk berpartisipasi dalam kegiatan di masyarakat (Komisi Nasional Lanjut Usia, 2010). Dukungan tersebut dapat diberikan oleh pemerintah, masyarakat, keluarga dan petugas atau pemberi pelayanan kesehatan.
Perawat merupakan salah satu petugas kesehatan yang memberikan asuhan keperawatan secara holistik dan komprehensif terhadap masalah kesehatan yang terjadi pada lansia (Roger dalam Ruof, 2004). Hal ini juga seiring dengan perkembangan keperawatan di masyarakat terutama di bidang spesialistik yaitu spesialisasi keperawatan komunitas, dimana peran perawat spesialis keperawatan komunitas antara lain sebagai manajer dan pemberi asuhan keperawatan dengan manajemen kasus (Allender, Rector, & Warner, 2014).
Peran perawat sebagai manajer yaitu dalam pengelolaan pelayanan kesehatan secara langsung untuk kebutuhan masyarakat dengan menjalankan fungsi manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan dan evaluasi kemajuan dari tujuan yang ingin dicapai untuk meningkatkan kesehatan lansia (Allender, Rector, & Warner, 2014; Marquis & Huston, 2012). Salah satunya adalah masalah lansia dengan depresi. Sedangkan peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan dengan manajemen kasus adalah memberikan pelayanan keperawatan secara sistematis dengan mengkaji kebutuhan klien, merencanakan dan mengkoordinasikan pelayanan, rujukan pada pemberi pelayanan kesehatan yang lain, dan monitoring serta evaluasi dengan
7
menggunakan biaya yang efektif (Allender, Rector, & Warner, 2014; Stuart & Laraia, 2005). Tindakan keperawatan diharapkan bertujuan untuk mencegah atau menurunkan tanda dan gejala depresi melalui penguatan sumber koping dan kemampuan personal lansia serta dukungan sosial dari keluarga maupun masyarakat Perawat juga berperan sebagai edukator, advokator, kolaborator, leadership, dan peneliti (Allender, Rector, & Warner, 2014).
Seorang perawat komunitas harus mampu mengkaji dan menganalisis masalah yang terjadi pada aggregat lansia depresi dengan membuat rencana pemecahan masalah dengan pendekatan asuhan keperawatan komunitas. Peran perawat komunitas diharapkan dapat melakukan proses pengkajian komunitas berdasarkan perspektif manajemen/pengorganisasian masyarakat dan manajemen asuhan keperawatan di komunitas. Salah satunya dengan penerapan model konseptual Betty Neuman yaitu Community As Partner sebagai framework pengkajian terhadap sistem klien dengan memperhatikan aspek biopsikososiospiritual dan kultural yang meliputi lingkungan fisik, pendidikan, sistem keamanan dan transportasi, politik dan pemerintahan, pelayanan kesehatan, komunikasi, ekonomi dan rekreasi (Anderson & McFarlene, 2011). Komponen tersebut sangat diperlukan lansia dalam upayanya untuk mencegah depresi melalui kegiatan-kegiatan yang ada di dalam masyarakat atau dalam kelompok.
Model Betty Neuman yang diterapkan dalam Community As Partner memandang manusia sebagai makhluk holistik meliputi aspek fisiologis, psikologis, sosiokultural, perkembangan dan spiritual. Kelima aspek tersebut saling berhubungan secara dinamis seiring dengan adanya respon-respon sistem terhadap stressor baik dari internal maupun eksternal yang dapat mengakibatkan lansia mengalami depresi. Model Community As Partner juga menekankan pengertian komunitas sebagai mitra untuk menekankan filosofi pelayanan kesehatan primer yang menjadi landasannya (Anderson & McFarlene, 2011). Pelayanan kesehatan dan asuhan keperawatan komunits diberikan untuk menurunkan tingkat depresi pada lansia. Hal ini sesuai dengan prinsip dalam keperawatan komunitas yang ditetapkan oleh ANA (2007 dalam Allender, Rector & Warner, 2014) yaitu
8
perawat bekerja sama dengan komunitas (komunitas sebagai rekan kerja) dalam mencapai tujuan intervensi keperawatan kesehatan komunitas yang berfokus pada upaya pencegahan primer. Intervensi keperawatan yaitu dengan mempertimbangkan kondisi lansia dengan masalah depresi.
Lansia dengan kondisi penuaannya dan mengalami depresi merupakan salah satu bentuk stress, sehingga lansia berada pada kondisi risiko terhadap masalah kesehatan. Hal ini sesuai dengan teori konsekuensi fungsional yang menyatakan bahwa perubahan yang berkaitan dengan usia dapat mempengaruhi kualitas hidup (Miller, 2012). Respon konsekuensi fungsional baik secara positif maupun negatif, tergantung dari faktor-faktor risiko serta koping yang dilakukan dalam mengatasi masalahnya. Konsekuensi fungsional negatif terjadi bila tidak dapat memkompensasikan perubahan yang terjadi, baik secara fisik maupun psikologis, sedangkan konsekuensi fungsional positif terjadi bila lansia dapat memkompensasikan perubahan yang terjadi dengan koping yang baik.
Salah satu sumber koping yang dapat digunakan oleh lansia adalah dari keluarga. Sebuah keluarga terdiri dari beberapa anggota keluarga yang saling berinteraksi, sehingga dapat memberikan dukungan yang mempengaruhi kesehatan seseorang (Pender, 2002). Dukungan yang dapat diberikan oleh keluarga (dukungan keluarga) adalah suatu sistem pendukung keluarga bagi anggota keluarganya yang mengalami situasi stres, sehingga dapat memberikan kenyamanan fisik dan psikologis (Taylor, 2006). Hal ini sesuai dengan model proses keperawatan keluarga menurut Friedman yaitu Family Centered Nursing yang menyatakan bahwa perawat mengonseptualisasikan keluarga sebagai unit pelayanan yang memiliki kekuatan dalam memberikan dukungan bagi anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan, serta menjadi sumber kekuatan dalam intervensi asuhan keperawatan (Friedman, Bowden & Jones, 2010). Salah satunya untuk pengelolaan asuhan keperawatan keluarga lansia dengan risiko depresi.
Pengelolaan pelayanan dan asuhan keperawatan yang diberikan dalam menurunkan tingkat depresi lansia menggunakan teori manajemen keperawatan,
9
sedangkan asuhan keperawatan komunitas menggunakan community as partner, konsekuensi fungsional dan family center nursing (Anderson & McFarlene, 2011; Miller, 2012; Friedman, Bowden & Jones, 2003; Marquis & Huston, 2012). Integrasi teori dan model tersebut digunakan dalam melakukan proses asuhan keperawatan yaitu pengkajian faktor risiko, sumber koping, mekanisme koping dan manajemen keperawatan, mengidentifikasi diagnosis keperawatan, membuat rencana untuk mencapai hasil yang diharapkan, serta implementasi keperawatan dan evaluasi terhadap keefektifan dari intervensi yang diberikan kepada lansia dengan depresi sebagai individu, kelompok dan komunitas serta keluarga sebagai bagian masyarakat dan menjadi rekan kerja petugas kesehatan dalam bentuk program intervensi keperawatan (Anderson & McFarlene, 2011; Stanhope & Lancaster, 2010; Miller, 2012).
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak hal yang perlu diperhatikan dan dapat dilakukan oleh perawat dalam menangani masalah lansia dengan depresi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia, mengungkapkan bahwa 70% dari lansia di atas 60 tahun mengalami ketergantungan dengan orang lain. Banyaknya lansia yang depresi merasa tidak bahagia, karena bergantung pada orang lain dalam melakukan aktivitas sehari-hari sebagai akibat dari penurunan kesehatan fisik dan mental (Palestin, 2006). Aktivitas pekerjaan dan rekreasi sangat membantu dalam meningkatkan kondisi fisik lansia, menurunkan emosi dan tekanan serta berdampak pada antidepresan. Aktifitas yang dapat dilakukan adalah seperti jogging, berjalan, berenang, bersepeda dan berolahraga (Trivedi, 2006). Aktivitas kegiatan lansia dapat dilakukan secara rutin di dalam rumah bersama-sama keluarga seperti kegiatan yang membersihkan rumah, memasak berbagai menu yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan lansia.
Kegiatan di luar rumah juga dapat membantu lansia mengatasi depresi. Perawat dapat membantu lansia dengan meningkatkan kemampuan sosial lansia melalui identifikasi perilaku interaksi sosial dan kemampuan sosial yang positif lansia serta mencoba melakukan kemampuan sosialnya. Faktor sosial dapat memberikan
10
pengalaman yang positif pada kondisi depresi, meningkatkan harga diri dan kepuasan diri karena adanya dukungan sosial dan penerimaan pribadi (Cutler, 2005). Hasil penelitian yang dipresentasikan pada konferensi dari British Nutrition Foundation (2008) juga menyatakan bahwa individu dengan aktifitas fisik yang rendah memiliki risiko depresi dua kali dibanding individu yang memiliki aktivitas teratur (David, 2008), sehingga lansia diharapkan dapat melakukan aktivitas secara teratur di rumah maupun di masyarakat. Hal ini sangat penting bagi lansia dengan proses penuaan, sehingga lansia bisa menerima kondisinya dengan baik.
Proses penerimaan diri pada lansia yaitu kondisi lansia dapat menerima dirinya dengan segala kekurangannya untuk dapat tetap merasa bahagia, hal ini didasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Putri (2012) menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara penerimaan diri dengan depresi pada wanita perimenopuase. Berdasarkan perubahan tersebut, diharapkan perawat dapat berperan membantu lansia untuk mampu menerima proses penuaan secara baik, karena salah satu faktor yang dapat menyebabkan lansia bisa merasa tetap berguna di masa tuanya adalah kemampuan lansia dalam menyesuaikan diri dan menerima segala perubahan dan kemunduran yang dialaminya (Miller, 2012).
Kemampuan lansia dalam penerimaan diri penting dalam meningkatkan harga diri lansia. Peningkatan harga diri lansia diidentifikasikan juga secara verbal dan non verbal yang menunjukkan nilai-nilai positif dan penerimaan diri lansia. Hal tersebut dapat dilihat dalam partisipasi aktif lansia pada terapi kelompok, kemampuan meditasi dan relakasasi, sehingga dapat meningkatkan kemampuan koping dalam diri lansia untuk menghadapi ketegangan hidup sehari-hari dan mendukung gaya hidup yang sehat (Copel, 2007).
Proses penerimaan kondisi lansia juga dilihat dari kemampuan lansia untuk mengenal masalah depresinya. Kemampuan lansia tersebut adalah kesadaran akan diri sendiri. Kesadaran diri merupakan proses mengembangkan pemahaman tentang perasaan yang dapat menggunakan kemampuan lansia. Ketika lansia
11
memahami dan memadukan individu, maka lansia akan belajar memperbaiki diri, berubah untuk hidup lebih baik lagi dengan harga diri yang tinggi. Harga diri berhubungan dengan afek lansia. Jika lansia dengan harga diri tinggi, maka akan menurunkan tingkat depresi (MacInnes, 2006).
Pendekatan perawat dalam pencapaian kesehatan lansia bukan hanya kondisi fisik, namun juga membantu lansia dalam memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungan dengan Tuhan atau agama yang dianutnya karena agama dan kepercayaan semakin terintegrasi dalam kehidupan lansia yang disebut dalam kebutuhan spiritual (Maslow, 1980 dalam Keliat, 2011). Spiritual adalah suatu aktivitas untuk mencari arti dan tujuan hidup yang berhubungan dengan kegiatan spiritual keagamaan (Keliat, 2011). Aktivitas-aktivitas spiritual akan memberikan nilai tertinggi bagi lansia untuk menemukan kebermaknaan, harapan dan rasa harga dirinya dengan banyak berdzikir dan melaksanakan ibadah sehari-hari, lansia akan menjadi lebih tenang dalam hidupnya, menurunkan gejala depresi dan kecemasan akan kematian serta meningkatkan kesehatan mental lansia (Kemensos, 2008; Bjorklop, 2013; Hill, 2006; Meisenhelder, 2002).
Berdasarkan hasil penelitian tentang intervensi yang dapat diberikan bagi lansia dengan depresi, maka penulis memadukan beberapa intervensi keperawatan ke dalam sebuah program yang bernama “MaSa INDAH” yaitu MAri berSAma melakukan “I “adalah ikut dalam kegiatan keluarga dan masyarakat, “N” adalah meNerima kondisi penuaan dengan tulus dan ikhlas, “D” adalah doa dan diskusi bersama orang lain, “A” adalah atasi segala macam stres dengan baik, dan “H” adalah harga diri yang tinggi. Program ini diharapkan lansia akan merasakan masa-masa tua dengan indah tanpa ada kesedihan dan merasakan kebermaknaan hidup bersama orang lain disekitarnya. Kegiatan dilakukan dalam intervensi untuk petugas kesehatan dan kelompok di masyarakat yaitu kelompok pendukung MaSa INDAH dan kelompok lansia depresi, serta intervensi individu dalam keluarga. Selain itu lansia juga dikenalkan dengan kartu tilik diri (KTD) yang membantu lansia dalam menilai perasaanya. Lansia dapat berusaha belajar untuk menurunkan kondisi depresi atau kesedihan yang dirasakannya dengan cara yang baik dan
12
efektif dengan adanya panduan dalam membantu diri sendiri, sehingga dapat meningkatakan kebahagiaan lansia dengan depresi (Songprakum, Wallapa & McCann, 2012).
Pelaksanaan intervensi “MaSa INDAH” pada kelompok lansia dengan depresi menggunakan strategi pemberdayaan kemampuan lansia sebagai klien dan dukungan sosialnya. Hasil dari intervensi selama 9 bulan waktu efektif praktik residensi spesialis keperawatan kesehatan komunitas, dapat tergambarkan keefektifan intervensi “MaSa INDAH” dalam penurunan tingkat depresi yang signifikan pada aggregat lansia yang mendapatkan intervensi yaitu sebesar 31,58%. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis tertarik untuk menyampaikan inti dari hasil praktik residensi spesialis keperawatan kesehatan komunitas melalui intervensi “MaSa INDAH” untuk menurunkan tingkat depresi pada aggregate lansia dengan depresi di Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok dalam Karya Ilmiah Akhir ini.
1.2 TUJUAN PENULISAN 1.2.1 Tujuan Umum
Memberikan gambaran pengaruh intervensi “MaSa INDAH” dalam pelayanan dan asuhan keperawatan komunitas terhadap penurunan tingkat depresi pada aggregate lansia di Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok.
1.2.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus adalah teridentifikasi:
1.2.2.1 Peningkatan perilaku kesehatan tenaga kesehatan yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam melaksanakan intervensi “MaSa INDAH” pada aggregate lansia di Kelurahan Curug.
1.2.2.2 Peningkatan perilaku kesehatan kelompok pendukung yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam melaksanakan intervensi “MaSa INDAH” pada aggregate lansia di Kelurahan Curug.
13
1.2.2.3 Peningkatan perilaku keluarga yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam melaksanakan intervensi “MaSa INDAH” pada aggregate lansia di Kelurahan Curug.
1.2.2.4 Peningkatan kemandirian keluarga dalam melakukan perawatan lansia dengan depresi.
1.2.2.5 Peningkatan perilaku lansia dengan depresi yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam melaksanakan intervensi “MaSa INDAH” di Kelurahan Curug.
1.2.2.6 Penurunan tingkat depresi setelah pelaksanaan intervensi “MaSa INDAH” pada aggregate lansia di Kelurahan Curug.
1.3 Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan mencakup:
1.3.1 Pengelola Program Kesehatan
1.3.1.1 Dinas Kesehatan
Sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan program dan sebagai masukan untuk pengembangan program promosi kesehatan terkait dengan masalah kesehatan depresi pada aggregate lansia melalui intevensi “MaSa INDAH”.
1.3.1.2 Puskesmas
Sebagai masukan dalam pengembangan program inovasi tambahan pada pelayanan kesehatan di dalam gedung dan di luar gedung pada aggregate lansia melalui intevensi “MaSa INDAH”.
1.3.1.3 Perawat Kesehatan Masyarakat (Perawat Komunitas)
Sebagai gambaran pelaksanaan intervensi pada aggregate lansia dengan depresi atau keluarga serta yang melibatkan kader dalam kelompok pendukung melalui intevensi “MaSa INDAH”.
1.3.2 Kader Kesehatan
Sebagai gambaran pelaksanaan kegiatan oleh kader kesehatan atau kelompok pendukung kesehatan lansia dengan depresi serta memberikan umpan balik pada aggregate lansia maupun pada keluarga melalui intevensi “MaSa INDAH”.
14
1.3.3 Masyarakat, Keluarga dan Lansia
Sebagai gambaran upaya peningkatan perilaku kesehatan (pengetahuan, sikap, keterampilan) dan tingkat kemandirian keluarga serta masyarakat dalam meningkatkan kesehatan keluarga melalui perawatan lansia dengan depresi melalui intervensi “MaSa INDAH”.
1.3.4 Pengembangan Ilmu Keperawatan
Pengembangan asuhan keperawatan komunitas, kelompok dan keluarga melalui intervensi “MaSa INDAH” pada aggregate lansia dengan depresi, serta pengembangan penelitian yang terkait tentang keperawatan kesehatan lansia dengan depresi.
BAB 2
TINJAUAN TEORITIS
Bab ini menguraikan tentang tinjauan teroritis yang menjadi sumber referensi atau landasan dalam menulis karya ilmuah akhir yaitu lanjut usia sebagai populasi rentan, konsekuensi fungsional, lansia dengan depresi, dan keperawatan komunitas yang mencakup manajemen pelayanan kesehatan dan asuhan keperawatan komunitas dan keluarga sebagai integrasi model Community as Partner, Family Centered Nursing pada aggregat lansia dengan depresi.
2.1 Lansia sebagai Populasi Rentan (Vulnerable Population) 2.1.1 Definisi populasi rentan
Flaskerud dan Winslow (1998, dalam Stanhope & Lancaster, 2010) mengatakan bahwa kerentanan merupakan hasil gabungan efek dari keterbatasan sumber keadaan tidak sehat dan tingginya faktor risiko. Kerentanan juga menunjukkan interaksi antara keterbatasan fisik dan sumber lingkungan, sumber personal (human capital), dan sumber biopsikososial (adanya penyakit dan kecenderungan genetik) (Aday, 2001 dalam Stanhope & Lancaster, 2010). Populasi rentan adalah populasi yang lebih besar kemungkinannya untuk mengalami masalah kesehatan akibat paparan berbagai risiko daripada populasi yang lainnya (Stanhope & Lancaster, 2010). Vulnerable population ialah suatu kelompok yang mempunyai karakteristik lebih memungkinkan berkembangnya masalah kesehatan dan lebih mengalami kesulitan dalam mengakses pelayanan kesehatan serta kemungkinan besar penghasilannya kurang atau masa hidup lebih singkat akibat kondisi kesehatan (Maurer & Smith, 2005).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa populasi rentan adalah populasi atau sekelompok orang yang memiliki karakteristik tertentu sebagai akibat dari hasil interaksi keterbatasan fisik dan sumber lingkungan, personal dan biopsikososial sehingga mudah mengalami masalah kesehatan, kesulitan dalam mengakses kesehatan, berpenghasilan rendah dan memiliki masa hidup yang lebih singkat. Lansia yang mengalami depresi adalah
karena kondisi penuaan yang menyebabkan adanya perubahan-perubahan yang terjadi dan kadang berbeda dengan harapan lansia sebelumnya. Perubahan kondisi yang tidak sesuai harapan, membuat lansia terpukul, kecewa hingga putus ada dan pada kondisi ketidakberdayaan. Koping pemecahan masalah yang tidak efektif, membuat kondisi lansia menjadi lebih berat lagi misalnya dengan risiko terjadinya bunuh diri pada lansia.
2.1.2 Karakteristik Lansia sebagai Populasi Rentan
Lansia dengan depresi merupakan bagian dari populasi rentan. Karakteristik lansia sebagai populasi rentan mencakup rentan secara fisiologis, psikologis, sosial dan ekonomi dalam mengatasi masalah kesehatannya.
2.1.2.1 Rentan Secara Fisiologis
Rentan secara fisiologis pada lansia semakin meningkat sesuai dengan usia kronologis (Miller, 2012). Seseorang individu yang disebut lansia menurut umur kronologis meliputi young old yaitu kelompok lansia yang berusia 65 sampai 74 tahun; middle old yaitu kelompok lansia yang berusia 75 tahun sampai 85 tahun; dan old old atau very old yaitu kelompok lansia yang telah berusia berusia 85 tahun atau lebih (Mauk, 2006; Miller 2012; Swanson & Nies, 1993). Lansia sebagai individu yang sangat tua atau lebih dari 65 tahun dikategorikan termasuk dalam populasi rentan (Maurer & Smith, 2005). Menurut UU No. 13 tahun 1998 dan PP RI No. 43 tahun 2004, lansia ialah individu yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun (Biro Hukum & Humas BPKP, 1998, 2004).
Lansia mengalami proses menua atau aging. Proses menua yaitu terjadinya suatu proses perubahan fisiologis sebagai konsekuensi fungsional berupa proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita, sehingga masalah kesehatan pada lansia banyak yang bersifat kronik yang berhubungan dengan genetik dan gaya hidup (Miller, 2012; Stanhope & Lancaster, 2010).
2.1.2.2 Rentan Secara Psikologis
Lansia mengalami kemunduran fungsi psikologis berupa perubahan fungsi psikososial. Lansia dihadapkan pada berbagai peristiwa dan kejadian kehidupan yang mengakibatkan perubahan-perubahan yang berpotensi menimbulkan stres (Miller, 2012; Swanson & Nies, 1993). Stres yang berkepanjangan dapat berpengaruh pada kondisi kesehatan lansia.
Peristiwa kehidupan yang terjadi pada lansia antara lain peristiwa kehilangan pasangan hidup atau orang yang dicintai; kehilangan pekerjaaan atau masa pensiun yang berdampak pada berkurangnya pendapatan, identitas dan peran; gangguan dalam kesehatan atau akibat menderita penyakit kronik; maupun persepsi atau pendapat negatif tentang lansia. Peristiwa tersebut menimbulkan reaksi tubuh lansia terhadap stres dan berdampak pada fungsi psikologis yang berhubungan dengan koping individu misalnya menjadi menolak kondisi saat ini, menjadi pendiam, pemarah, pemurung, pencemas sampai kondisi depresi (Miller, 2012).
2.1.2.3 Rentan Secara Sosial
Menurut teori Cumning dan Henry (1961 dalam Miller, 2012) menyatakan bahwa semakin tua seseorang akan semakin tidak terlibat secara emosional dengan dunia sekitar, sehingga lansia akan melepaskan diri dari berbagai ikatan. Lansia juga menjadi rentan secara sosial karena dapat mengalami stress sosial dan hal ini akan mempengaruhi kesehatan lansia. Stres sosial dapat disebabkan oleh adanya diskriminasi ras, budaya, atau yang lainnya (Stanhope & Lancaster, 2010; Swanson & Nies, 1993).
2.1.2.4.Rentan Secara Ekonomi
Proses penuaan atau kondisi kesehatan yang kurang baik pada lansia, menimbulkan lansia tidak dapat beraktifitas secara optimal, sehingga bagi lansia yang semula bekerja harus berhenti bekerja atau lansia yang harus memasuki masa pensiun. Kondisi tersebut membuat lansia mengalami penurunan penghasilan (Miller, 2012). Keterbatasan dana berdampak pada ketidakmampuan
lansia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, termasuk untuk kesehatannya karena mengalami keterbatasan dalam mendapatkan pelayanan perawatan kesehatan yang optimal (Ski & Stevens; 2004 dalam Allender, 2014; Swanson & Nies, 1993).
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik lansia yang merupakan bagian dari populasi rentan. Karakteristik lansia sebagai populasi rentan dapat secara fisiologis, psikologis, sosial dan ekonomi yang mempengaruhi status kesehatan lansia. Kerentanan tersebut juga dipengaruhi oleh banyak faktor.
2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kerentanan
Menurut Stanhope dan Lancaster (2010), lansia masuk dalam populasi rentan dan sering memiliki faktor risiko yang lebih banyak dari pada populasi yang lain. Kerentanan bersifat multidimensi yaitu dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berkontribusi.
2.1.3.1 Faktor Keterbatasan Sumber Daya
Kurangnya sumber daya sosial, pendidikan dan ekonomi yang memadai merupakan faktor seseorang menjadi rentan. Kemiskinan adalah penyebab utama terhadap kerentanan. Kemiskinan menyebabkan kerentanan karena membuat seseorang sulit berfungsi atau mengakses sumber daya untuk hidup atau untuk perawatan kesehatan. Kondisi lansia tidak memiliki penghasilan atau pensiun dengan penghasilan kecil berkontribusi besar pada kondisi kerentanan pada masalah kesehatan karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan harga diri.
Perubahan-perubahan yang terjadi lansia akan berpengaruh pada aktivitas ekonomi dan sosial mereka. Berdasarkan hasil Sakernas Agustus 2009, hampir separuh (47,44%) lansia di Indonesia memiliki kegiatan utama bekerja dan sebesar 0,41% termasuk menganggur/ mencari kerja, 27,88% mengurusi rumah tangga dan kegiatan lain sekitar 24,27%. Tingginya persentase lansia yang bekerja dapat dimaknai bahwa sebenarnya lansia masih mampu bekerja secara produktif
untuk membiayai kehidupan rumah tangganya, namun disisi lain mengindikasikan bahwa tingkat kesejahteraan lansia masih rendah, sehingga meskipun usia sudah lanjut, lansia terpaksa bekerja untuk membiayai kehidupan rumah tangganya (Komisi Nasional Lanjut Usia, 2010).
2.1.3.2 Faktor Perubahan Status Kesehatan
Perubahan status fisiologi mempengaruhi individu untuk menjadi rentan akibat dari proses penyakit seperti individu dengan satu atau lebih penyakit kronis. Menurut Allender (2014), populasi yang dipertimbangkan masuk dalam populasi rentan adalah populasi yang mengalami kecacatan, penyakit kronik (misalnya hipertensi, kanker, diabetes mellitus, dll), penyakit mental dan penyalahgunaan obat terlarang.
Menurut teori konsekuensi fungsional, kesehatan lansia adalah kemampuan lansia untuk berfungsi secara optimal meskipun dalam situasi perubahan yang berkaitan dengan penuaan dan faktor risiko (Miller, 2012). Proses penuaan yang terjadi pada lansia tersebut dapat mempengaruhi status kesehatannya karena memiliki keterbatasan akibat kemunduran berbagai sistem dalam tubuh. Lansia yang disertai dengan penyakit kronik dan kurangnya dukungan mengakibatkan lansia dengan depresi masuk dalam kelompok rentan.
2.1.3.3 Faktor Risiko Kesehatan
Populasi rentan tidak hanya mengalami beberapa risiko kumulatif, tetapi populasi tersebut juga sangat sensitif terhadap efek dari risiko tersebut. Risiko yang berasal dari bahaya lingkungan (paparan zat adatif) atau bahaya sosial (kejahatan, kekerasaan dan pengabaian/penyalahgunaan), dalam perilaku pribadi (diet dan kebiasaan olahraga) atau susunan biologis atau genetik (bawaan atau status kesehatan). Populasi rentan sering memiliki komorbiditas atau penyakit multiple dengan masing-masing mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Lansia juga merupakan individu yang mempunyai kondisi fisik, psikologi, dan sosial yang lemah, sehingga mudah berkembangnya masalah kesehatan dan mengalami kondisi kesehatan yang buruk (Pender, Murdaugh, & Parsons, 2002).
2.1.3.4 Faktor Marjinalisasi
Populasi rentan terpinggirkan (marginalisasi) dengan populasi secara keseluruhan yaitu karena masalah yang dihadapi oleh populasi rentan merupakan masalah yang tidak terlihat oleh penduduk yang lebih besar serta populasi rentan tersebut memiliki keterbatasan dalam memperoleh sumber daya yang mereka butuhkan. Moccia dan Mason (1986, dalam Stanhope & Lancaster, 2010) menyatakan bahwa kemiskinan adalah masalah utama karena melibatkan kontrol atas sumber daya yang diperlukan sehingga dapat berfungsi efektif di dalam masyarakat.
Marjinalisasi merupakan pencabutan hak, ini mengacu pada perasaan terpisah dari masyarakat dimana tidak memiliki hubungan emosional dengan kelompok tertentu atau dengan tatanan sosial yang lebih besar, seperti kelompok orang miskin, tunawisma dan imigran yang pada dasarnya terlihat oleh masyarakat secara keseluruhan dan dilupakan dalam perencanaan kesehatan dan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa populasi rentan tidak memiliki dukungan sosial yang diperlukan untuk mengelola hidup sehat secara emosional dan fisik, sehingga rawan terhadap keterlantaran.
Berdasarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kerentangan populasi, maka populasi lansia yang rentan sangat memerlukan dukungan untuk dapat hidup tua, aktif dan produktif. Hal tersebut dapat didukung dengan pendekatan teori yang berhubungan dengan kesehatan lansia. Rose and Killien (1983 dalam Miller, 2012) menganalisis bahwa konsep risiko maupun rentan dapat diaplikasikan ke dalam teori konsekuensi fungsional yang terjadi pada lansia.
2.1.4 Konsekuensi Fungsional pada Aggregate Lansia
Konsekuensi fungsional adalah berbagai faktor perubahan yang berkaitan dengan usia, yang dapat mempengaruhi kualitas hidup lansia, dimana tingkat ketergantungan semakin tinggi (Miller, 2012). Menurut teori konsekuensi fungsional, kesehatan lansia adalah kemampuan lansia untuk berfungsi secara optimal meskipun dalam situasi perubahan yang berkaitan dengan penuaan dan faktor risiko. Proses penuaan yang terjadi pada lansia dapat mempengaruhi status
kesehatannya karena memiliki keterbatasan akibat kemunduran berbagai sistem dalam tubuh. (Miller, 2012).
Konsekuensi fungsional dapat bersifat positif maupun negatif, berdasarkan hasil observasi efek dari tindakan, faktor risiko, perubahan akibat penuaan yang mempengaruhi kualitas hidup lansia dan aktifitas lansia sehari-hari. Fokus pengkajian perawat adalah mengkaji perubahan lansia yang disebabkan oleh usia, konsekuensi fungsional negatif dan faktor risiko tambahan yang lain. Selanjutnya perawat melakukan intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mencapai konsekuensi fungsional positif bagi lansia (Miller, 2012).
Lansia yang mengalami depresi adalah salah satu bentuk konsekuensi fungsional negatif yaitu apabila lansia tidak dapat memkompensasikan perubahan yang terjadi akibat proses penuaan, baik secara fisik maupun psikologis. Selain itu dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kesehatan lansia berupa ekonomi yang kurang, ketidakmampuan bergerak, kurangnya dukungan sosial, dan kesalahpahaman tentang penuaan. Hal tersebut perlu diperhatikan untuk mencapai konsekuensi fungsional positif, terutama bagi lansia dengan depresi.
2.2 Lansia dengan Depresi
2.2.1 Perubahan akibat Proses Penuaan pada Lansia
2.2.1.1 Teori Psikososial
Teori perkembangan psikososial menurut Erikson adalah seseorang yang berusia lebih dari 65 tahun berada pada fase integrity vs despair yaitu seseorang akan melihat kembali (flash back) kehidupan yang telah mereka jalani dan berusaha untuk menyelesaikan permasalahan yang belum terselesaikan. Penerimaan terhadap prestasi, kegagalan dan keterbatasan adalah hal utaman yang membawa dalam sebuah kesadaran bahwa hidup seseorang adalah tanggung jawabnya sendiri. Orang yang berhasil melewati tahapan ini berarti ia dapat mencerminkan keberhasilan dan kegagalan yang pernah dialami. Individu ini akan mencapai kebijaksanaan meskipun saat menghadapi kematian. Keputusasaan dapat terjadi
pada orang-orang yang menyesali cara mereka dalam menjalani hidup atau bagaimana kehidupan mereka telah berubah (Shaffer, 2005)
Teori psikososial berasumsi bahwa munculnya masalah depresi pada masa tua adalah karena hilangnya harga diri, hilangnya peran yang berarti, hilangnya orang tertentu, dan kontal sosial yang kurang (Reker, 1997 dalam Miller, 2012). Faktor yang berkontribusi dalam munculnya masalah depresi pada lansia adalah meliputi: usia; kurangnya peran sosial dan rendahnya status sosial ekonomi; pengalaman masa lalu seperti trauma pada masa kecil; stres sosial yang berulang termasuk dalam kejadian hidup yang membuat stress; jaringan sosial yang tidak adekuat; kurangnya interaksi sosial; rendahnya intergrasi sosial misalnya ketidakmampuan lingkungan dan terbatasnya kekuatan keagamaan; serta kombinasi beberapa faktor-faktor.
Teori psikososial menggambarkan tentang masalah depresi sebagai suatu kondisi, dimana individu mengalami penurunan pada kognitif, motivasi, harga diri dan afektif-somatik (Seligman, 1981 dalam Miller, 2012). Blazer (2003) menyarankan bahwa strategi untuk meningkatkan kepuasan diri pada lansia akan mencegah depresi. Jika lansia terus menerus melakukan berbagai aktivitas, maka lansia akan memperoleh kepuasan dan kebahagiaan (Hikmawati & Purnama, 2008). Hal ini merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam perumusan tujuan intervensi keperawatan mencegah depresi terutama pada lansia.
2.2.1.2 Teori Gangguan Kognitif
Kognitif adalah kemampuan berpikir dan memberikan rasional termasuk proses mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan memperhatikan (Stuart & Sundeen, 2009). Gangguan kognitif akan mempengaruhi gambaran diri lansia, lingkungan dan pengalamannya serta pandangannya untuk masa depan. Orang dengan depresi kurang memikirkan masa depan yang dapat membuatnya bahagia. Lansia dengan depresi biasanya memiliki penilaian negatif terhadap kehidupannya dengan adanya perasaan tidak berharga, menganggap kejadian kehidupan adalah suatu hal
yang buruk, berpikir tidak realistis terhadap kondisi ketidakberdayaannya (Miller, 2012).
2.2.1.3 Teori Biologis
Teori biologi berhubungan dengan proses penuaan, depresi dan perubahan pada otak, sistem saraf dan neurotransmitter. Neurotransmitter seperti serotonin, dopamin, asetilkolin dan norefinephrin yang berkontribusi pada kondisi depresi pada lansia (Miller, 2012). Teori menunjukkan bahwa penyebab depresi sebenarnya tidak datang dari luar, melainkan dari dalam diri. Jika lansia dihadapkan pada suatu masalah, ia akan mudah menyerah dan terjadi penurunan kemampuan dalam memecahkan masalah, sehingga lansia akan cenderung mengalami keputuasaan. Penelitian membuktikan bahwa perubahan neuroendokrin seperti penurunan kadar serotonin berkontribusi terhadap peningkatan risiko bunuh diri (Mann, 2002 dalam Miller, 2012).
2.2.2 Depresi pada Lansia
2.2.2.1 Pengertian Depresi
Depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional yang mewarnai seluruh proses mental baik pikiran, perasaan dan aktivitasnya (Keliat dkk, 2011). Depresi merupakan respon emosional yang paling maladaptif yaitu dengan perubahan afektif, fisiologi, kognitif dan perilaku misalnya kesedihan, gelisah dan lambat dalam beraktifitas (Stuart, 2009). Depresi juga diartikan sebagai salah satu diagnosis mood (afektif) dengan kriteria terdapat 2 dari 3 gejala inti depresi ditemukan hampir setiap hari minimal 2 minggu yaitu penurunan mood (sedih, tertekan dan merasa tidak bahagia) atau afek depresif, kelelahan (merasa kelelahan atau energi berkurang) dan anhendonia atau tidak berminat dan kegembiraan berkurang untuk melakukan aktivitas (Townsend, 2009).
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa depresi adalah adanya gangguan kondisi emosional yang maladaptif baik pikiran, perasaan dan aktivitasnya yang ditandai dengan kesedihan, gelisah, kelelahan dan lambat dalam beraktifitas yang ditemukan hampir setiap hari minimal 2 minggu.
2.2.2.2 Penyebab Depresi
Penyebab depresi menurut Stuart (2009) adalah akumulasi ketidakpuasan, frustasi, kritikan pada diri sendiri tentang kejadian hidup sehari-hari tanpa adanya dukungan hal positif, stres dalam pekerjaan dan keluarga serta kehilangan. Depresi terjadi pada lansia tergantung banyaknya jumlah stressor (sumber stres) kehilangan yang dialami seperti pasangan, penghasilan, peran, kesehatan, fungsi seperti masih muda (Carson, 2010; Townsend, 2009). Penyebab depresi tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, akan tetapi dapat saling berinteraksi dengan faktor yang lain, sehingga munculnya depresi (Townsend, 2009). Selain itu ditambah dengan perubahan-perubahan akibat proses penuaan yang terjadi pada lansia.
2.2.2.3 Faktor risiko terjadinya depresi
Faktor risiko terjadinya depresi adalah sebagai berikut (Miller, 2012; WHO, 2009), meliputi : genetik atau keturunan; jenis kelamin wanita dua kali lebih besar berisiko menderita depresi dibandingkan laki-laki; lama tinggal di tempat khusus; dukungan sosial terbatas; kontrol tubuh yang kurang; kualitas tidur yang rendah; kejadian hidup yang membuat stres dan berulang; merasa tidak berdaya dan tidak ada harapan; merasa tidak ada alasan untuk melanjutkan hidup; gangguan fungsional menetap (misalnya: gangguan penglihatan); menderita penyakit serius (misalnya: kanker, kerusakan persyarafan).
2.2.2.4 Gejala Umum
Afek depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya energi, mudah lelah dan menurunnya aktivitas dan lamanya episode depresif yaitu selama 2 minggu (Kemenkes RI, 2012). Depresi pada lansia dengan usia lebih 65 tahun atau lebih sering terjadi karena efek dari masalah penyakit kronik, kerusakan kognitif dan kemampuan yang menurun (Alexopoulus, 2005; Carson, 2010).
Gejala umum yang terjadi pada lansia depresi (Miller, 2012; Stuart & Sundeen, 2009; Carson, 2010; Townsend, 2009, Keliat, 2011; Kemenkes RI, 2012) meliputi :
a. Gejala fisik berupa: gangguan pola tidur (sulit tidur, terlalu banyak atau terlalu sedikit), menurunnya tingkat aktifitas, efisiensi kerja, produktifitas kerja dan mudah merasa letih atau sakit.
b. Gejala psikis berupa: kehilangan kepercayaan diri, sering memandang peristiwa netral dipandang dari sudut pandang yang berbeda, bahkan disalah artikan akibatnya sehingga lansia mudah tersinggung, mudah marah, perasa, curiga, mudah sedih, murung dan lebih suka menyendiri, merasa dirinya tidak berguna, selalu gagal, merasa bersalah, merasa kehidupan ini sebagai hukuman, memiliki perasaan terbebani, dan menyalahkan orang lain.
c. Gejala Sosial berupa: adanya masalah interaksi sosial, konflik, minder, malu, cemas jika berada diantara kelompok dan merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi secara normal, merasa tidak mampu untuk bersikap terbuka dan secara aktif menjalani hubungan dengan lingkungan sekalipun ada kesempatan.
Tanda dan gejala depresi setiap lansia bervariasi. Penilaian tingkat depresi dapat diidentifikasi dengan penilaian menggunakan alat ukur yang tepat. Penilaian dilakukan untuk mendapatkan data yang akurat, sehingga dapat menentukan intervensi yang tepat.
2.2.2.5 Pengukuran tingkat depresi pada lansia
Pengukuran kondisi depresi pada lansia menggunakan kuesioner Geriatric Depression Scale (GDS) dengan 15 item pertanyaan yang sudah valid secara internasional (Sheikh, J. & Yesavage. JA, 1986 dalam Landefeld et al, 2004 & Ham et al, 2008). Penilaian depresi dengan menghitung total skor seluruh jawaban, kemudian diklasifikasikan dalam 4 kategori yaitu jika skor penilaian 0–4 maka kategori lansia normal (tidak depresi), skor 5–8 kategori lansia depresi ringan, skor 9–10 kategori lansia depresi sedang dan skor 12–15 kategori lansia depresi berat.
Lansia depresi memerlukan perhatian yang serius dengan pendekatan asuhan keperawatan untuk menurunkan faktor risiko, meningkatkan fungsi psikososial, memberikan latihan-latihan serta konseling oleh tenaga kesehatan yang didukung oleh lansia itu sendiri, keluarga maupun masyarakat di sekitarnya.
2.3 Keperawatan Komunitas
Praktik keperawatan kesehatan komunitas menurut WHO (1974) dalam Stanhope dan Lancaster (2010) adalah mencakup perawatan kesehatan keluarga dan juga meliputi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat yang luas dan membantu masyarakat mengidentifikasi masalah kesehatan sendiri serta memecahkan masalah kesehatan tersebut sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang ada pada komunitas sebelum mereka meminta bantuan kepada orang lain. Keperawatan kesehatan komunitas merupakan keperawatan yang berfokus pada perawatan kesehatan komunitas atau populasi dari individu, keluarga dan kelompok (Stanhope dan Lancaster, 2010).
2.3.1 Unsur-unsur Penting dalam Kesehatan Komunitas
Unsur penting dalam kesehatan masyarakat menurut Allender, Rector dan Warner (2014) adalah memprioritaskan upaya pencegahan, proteksi dan promosi kesehatan tanpa mengesampingkan upaya kuratif sebagai bentuk praktik profesional; mengukur dan menganalisis masalah kesehatan komunitas dengan konsep epidemiologi dan biostatistik; mempengaruhi faktor dari lingkungan untuk kesehatan aggregate atau kelompok; prinsip yang menjadi dasar dalam kesehatan masyarakat adalah manajemen dan pengorganisasian kesehatan komunitas melalui pengorganisasian masyarakat; analisis kebijakan dan pengembangan publik; advokasi kesehatan serta pemahaman terhadap proses politik. Unsur-unsur penting tersebut adalah sebagai upaya dalam mencapai kesehatan yang optimal khususnya bagi keperawatan kesehatan komunitas lansia depresi.
2.3.2 Karakteristik Keperawatan Komunitas
Menurut Clark, 2008 dalam Maglaya et.al.,(2009), karakteristik keperawatan komunitas meliputi promosi kesehatan dan pencegahan penyakit atau masalah
kesehatan sebagai bentuk praktik profesional yang dilakukan secara komprehensif, general dan berkelanjutan pada tiga level atau tingkatan klien yaitu individu, keluarga, kelompok dan masyarakat (populasi). Selain itu, perawat juga mengenal dampak dari faktor yang berbeda pada kesehatan dan mempunyai kesadaran yang lebih besar terhadap situasi dan kehidupan klien dengan menggunakan strategi keperawatan komunitas yang tepat.
2.3.3 Strategi Keperawatan Komunitas
2.3.3.1 Proses Kelompok (Group Process).
Proses kelompok merupakan proses pembentukan suatu kelompok untuk mencapai suatu tujuan bersama. Kelompok ini dapat membantu dalam program promosi kesehatan keperawatan komunitas dan dapat diwujudkan dalam kelompok lansia sebaya. Pengorganisasian masyarakat ini merupakan suatu proses perubahan komunitas yang memberdayakan individu dan kelompok berisiko dalam menyelesaikan masalah komunitas dan mencapai tujuan yang diinginkan bersama. Individu-individu dalam suatu kelompok dapat mempengaruhi pemikiran, perilaku, nilai dan interaksi sosial di masyarakat, maka diperlukan kekompakkan di dalam suatu kelompok (Stanhope & Lancaster, 2010).
Proses kelompok dilakukan dengan proses pembentukan kelompok khusus bagi lansia yang mengalami depresi yaitu kelompok lansia MaSa INDAH. Kelompok lansia merupakan salah satu sarana bentuk dukungan sosial yang dapat berkontribusi dalam promosi kesehatan. Kelompok swabantu adalah kumpulan dua orang atau lebih yang datang bersama untuk membuat kesepakatan saling berbagi masalah yang mereka hadapi, kadang disebut juga kelompok pemberi semangat (Pistrang, 2008).
Perawat dapat melibatkan lansia dalam kegiatan kelompok di masyarakat. Kegiatan kelompok dapat dilakukan dengan kegiatan yang dipadukan dengan kegiatan keagamaan. Kelompok dapat membantu lansia membangun integritas dan penghargaan atas diri sendiri. Situasi kelompok juga akan membimbing lansia keluar dari keterisolasian dan lansia akan menemukan makna dalam kehidupan
mereka, sehingga mereka dapat hidup sepenuhnya dengan fungsi sosial dan physiologis yang tinggi. Perawat sebagai pemberi pelayanan kesehatan memiliki kesempatan dalam memfasilitasi kelompok dalam meningkatkan perawatan therapeutik bagi lansia dengan masalah depresi (Pistrang, 2008)
2.3.3.2 Pendidikan Kesehatan (Health Promotion).
Pendidikan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan, mengurangi ketidakmampuan dan mengoptimalkan potensi kesehatan yang dimiliki oleh individu, kelompok dan masyarakat. Pendidikan kesehatan juga bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, perbaikan sikap dan peningkatan keterampilan, sehingga diharapkan ada perubahan gaya hidup yang lebih baik. Perubahan perilaku sehat masyarakat dapat mengubah penerimaan yang kondusif terhadap program promosi kesehatan yang dilakukan. Strategi pendidikan kesehatan merupakan suatu proses yang memfasilitasi pembelajaran yang mendukung perilaku sehat dan mengubah perilaku tidak sehat (Friedman, Bowden, & Jones, 2010).
Pendidikan kesehatan dilakukan untuk lansia yang mengalami depresi maupun lansia yang mengalami risiko depresi. Selain itu pendidikan kesehatan juga dilakukan dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat seperti kegiatan keagamaan. Pendidikan kesehatan adalah memberikan informasi kesehatan tentang masalah kesehatan lansia, depresi pada lansia, komunikasi yang efektif bagi lansia dan keluarga, harga diri rendah dan cara meningkatkannya.
Intervensi promosi kesehatan juga diberikan tentang faktor risiko yang mengkibatkan depresi dapat dilakukan melalui intervensi keperawatan. Diskusi tentang perubahan fungsional yang terjadi pada lansia yang merupakan konsekuensi proses penuaan dengan faktor risiko pada lansia. Diskusi tentang hubungan potensial dan identifikasi pemecahan masalah bersama dengan pemberi pelayanan keperawatan (Miller, 2012).