BAB 5 PEMBAHASAN
5.1.1 Manajemen Pelayanan Keperawatan Kesehatan
5.1.1.1 Belum optimalnya pengembangan staf (tenaga kesehatan maupun kader kesehatan) untuk meningkatkan kemampuan pelayanan kesehatan bagi lansia dengan depresi.
Hasil evaluasi terhadap pengembangan staf (tenaga kesehatan mapun kader kesehatan) menunjukkan bahwa kegiatan penyegaran kader dan pelatihan bagi tenaga kesehatan memberikan kontribusi yang baik. Hasil dari penyegaran kader yaitu dengan hasil peningkatan pengetahuan kader sebesar 25% dan kemampuan kader dalam melakukan kunjungan rumah lansia dengan depresi. Demikian pula hasil kegiatan dari pelatihan tenaga kesehatan yang bertugas di wilayah kerja Puskesmas Cimanggis sebanyak 10 orang mengalami peningkatan pengetahuan sebesar 19,28%; peningkatan sikap sebesar 26,45%; peningkatan keterampilan tenaga kesehatan dalam melakukan intervensi keperawatan meningkatkan harga diri sebesar 29,03%; manajemen stres sebesar 9,07%; latihan ROM sebesar 29,5%; senam kaki sebesar 21,99%; pencatatan dan pelaporan status kesehatan dan status mental emosioonal lansia sebesar 26,6% dan melakukan supervisi kader dalam melakukan pendataan dan pencatatan status mental emosional lansia sebesar 15,15%.
Hasil penelitian yang dilakukan di ruang rawat inap RSUD Indramayu terhadap perawat pelaksana menunjukkan bahwa setelah dilakukan pelatihan dan kemudian perawat pelaksana disupervisi oleh kepala ruang mengalami peningkatan secara
bermakna motivasi dari perawat pelaksana (Saefulloh, Keliat, & Haryati, 2009). Hal yang senada juga dikemukakan oleh Karten & Baggot dalam Marquis & Huston (2012) bahwa pelatihan merupakan suatu proses seorang individu disediakan dengan berbagai interaksi yang baik ditujukan untuk mengembangkan isu dan menerima umpan balik terhadap kekuatan dan kesempatan untuk terlibat atau menerima dukungan dan bimbingan selama transisi peran di dalam sebuah instansi. Kurangnya pelatihan merupakan suatu kelemahan dalam sebuah manajemen sehingga dapat berdampak pada kinerja staf pegawai kurang memuaskan (Swanburg, 2000). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fatmah juga menunjukkan bahwa pelatihan yang dilakukan bagi kader kesehatan dapat berpengaruh pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader dalam kegiatan posbindu di kota Depok.
Menurut analisis penulis bahwa dalam pengembangan staf diperlukan suatu perencanaan yang matang dan didukung pula dengan sistem pembiayaan yang tepat. Kondisi saat ini, perawat masih belum memiliki kesempatan besar untuk mengembangkan diri akibat dari keterikatan dengan institusi tempat ia bekerja. Hal ini sangat berpengaruh dan berdampak pada kurang optimalnya kinerja staf pegawai Dinkes Kota Depok untuk meningkatkan status kesehatan bagi lansia serta membuat petugas puskesmas kurang mendapat isu-isu terbaru dalam pelayanan terhadap kesehatan lansia.
Kondisi di masyarakat juga mengalami hal yang sama, terutama bagi kader kesehatan. Kader yang berperan sebagai orang yang mendukung program kesehatan di masyarakat, memerlukan sistem dan perencanaan dalam pengembangan dirinya untuk dapat melayani masyarakat terutama lansia dengan depresi. Kader posbindu yang terdapat di Kelurahan Curug memerlukan suatu kegiatan untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuannya dalam perannya sebagai kader melalui pelatihan bagi kader. Peningkatan perilaku kesehatan kader kesehatan akan berkontribusi bagi kader dalam meningkatkan kemampuan lansia depresi melakukan intervensi MaSa INDAH secara optimal.
5.1.1.2 Wadah yang mendukung masyarakat dalam pembinaan lansia depresi belum tersedia
Hasil evaluasi dalam pembentukan wadah bagi masyarakat untuk kesehatan lansia depresi menunjukkan adanya Intervensi MaSa INDAH yang disosialisasikan bagi Dinas Kesehatan Kota Depok dan Puskesmas Cimanggis maupun masyarakat, serta terbentuknya kelompok pendukung sebanyak 15 orang sebagai pondasi awal penentuan kebijakan program kesehatan lansia di masyarakat. Keterlibatan tenaga kesehatan dalam pembinaan dilakukan oleh bidan selaku pemegang program lansia dan pembina wilayah Curug. Kelompok Pendukung yang diberikan pembinaan oleh tenaga kesehatan mengalami peningkatan pengetahuan dengan topik kesehatan lansia sebesar 28,24%; deteksi dini depresi dan cara pencegahannya sebesar 25%, teknik pendidikan kesehatan sebesar 34,12%, komunikasi efektif sevebsar 33,9%, manajemen stress sebesar 25%; dan cara meningkatkan harga diri sebesar 25%.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Puskesmas Wilayah Kotamadya Jakarta Barat menunjukkan bahwa kondisi yang berkaitan dengan pengorganisasian terutama adanya sumber daya manusia di dalam sebuah organisasi termasuk dalam kategori baik yaitu sebanyak 50,7% dan juga menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara pengorganisasian terhadap pelaksanaan perkesmas dengan nilai p= 0,024 (Ratnasari, Setyowati, & Kuntarti, 2012). Teori juga menunjukkan bahwa terbentuknya struktur sebuah organisasi yang ditempati oleh masing-masing SDM yaitu dengan pembagian tugas masing-masing setiap SDM yang terdapat di dalam struktur kepengurusan tersebut (Gillies, 1994; Marquis & Huston, 2012). Hubungan baik formal maupun informal dalam sebuah organisasi dapat memberikan dampak yang positif atau mempengaruhi efektifitas dari pekerjaan (Marquis & Huston, 2012).
Menurut analisis penulis, kelompok kerja dapat digunakan sebagai cara untuk meningkatkan produktifitas sebuah organisasi. Kader atau kelompok pendukung memiliki peran yang diharapkan produktif dalam membantu mengatasi masalah
kesehatan lansia dengan depresi di masyarakat. Pembentukan kelompok dan dengan struktur organisasi yang jelas akan membantu kelompok untuk menentukan tingkah laku dalam berperan, menjadi sumber kekuatan dalam pelaksanaan tugas di organisasi. Namun tenaga kesehatan akan menghadapi masalah dengan terbatasnya jumlah dan waktu kader untuk membantu mengatasi masalah depresi pada lansia. Pembinaan kelompok pendukung sebagai bagian dari tim harus tetap dipertahankan, walaupun dengan keterbatasan sumber daya, sarana dan prasarana seperti alat pemeriksaan fisik lansia, media penyuluhan kesehatan dan KMS lansia, namun hal tersebut tetap menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi lansia dengan depresi.
Pembentukan kelompok menjadi sebuah proses interaktif yang membentuk, membangun antara anggota kelompok melalui kerjasama dan saling membantu dan memungkinkan untuk berbagi kepuasan terhadap kemampuan yang telah dicapainya. Kelompok pendukung mempunyai pengetahuan dan keterampilan serta sikap yang baik tentang intervensi MaSa INDAH akan memberikan kontribusi yang positif bagi kelancaran pelaksanaan program kesehatan bagi lansia dengan depresi.
5.1.2 Asuhan Keperawatan Komunitas
Hasil menunjukkan bahwa terjadinya penurunan tingkat depresi melalui pembinaan kelompok lansia dengan depresi sebanyak 19 orang. Pembinaan dilaksanakan 8 kali pertemuan dengan durasi waktu sekitar 45-60 menit yaitu dengan topik kesehatan lansia, depresi pada lansia, komunikasi yang baik dan praktik kelompok, manajemen stres dan praktik dalam kelompok serta harga diri rendah dan cara meningkatkannya dalam praktik kelompok. Pembinaan disertai pula dengan pendidikan kesehatan tentang penggunaan kartu tilik diri (KTD) bagi lansia yang menggambarkan perasaan hatinya setiap hari dan mengingatkan untuk melakukan intervensi MaSa INDAH dalam kehidupannya sehari-hari. Perubahan tingkat depresi terjadi setelah dilakukannya pembinaan kelompok setelah 8 kali pertemuan.
Intervensi MaSa INDAH didasari oleh pendapat para ahli bahwa penyebab depresi tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, akan tetapi dapat saling berinteraksi dengan faktor yang lain, sehingga munculnya depresi (Townsend, 2009). Berdasarkan hal tersebut maka, intervensi MaSa INDAH merupakan perpaduan dari berbagai intervensi yang berdasarkan hasil penelitian dibuktikan telah terbukti dapat mengatasi masalah depresi pada lansia.
Hasil intervensi MaSa INDAH menunjukkan adanya penurunan tingkat depresi pada kelompok lansia berdasarkan hasil sebelum dan sesudah dilakukannya intervensi MaSa INDAH yaitu sebesar 31,58%. Tingkat depresi lansia yang mendapatkan intervensi MaSa INDAH mengalami penurunan yaitu dari 6 lansia (sedang ke ringan), 2 lansia masih dalam tingkat depresi ringan, 6 lansia (ringan ke risiko) dan 5 lansia masih berada pada tingkat risiko. Hal ini dilakukan dengan intervensi meningkatkan koping dan peningkatan pemeliharaan kesehatan kelompok lansia dengan depresi.
Hasil intervensi MaSa INDAH sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Trivedi (2006) yang menyatakan bahwa aktivitas pekerjaan dan rekreasi sangat membantu dalam meningkatkan kondisi fisik lansia, menurunkan emosi dan tekanan serta berdampak pada antidepresan. Aktifitas yang dapat dilakukan adalah seperti jogging, berjalan, berenang, bersepeda dan berolahraga (Trivedi, 2006). Hasil penelitian yang dipresentasikan pada konferensi dari British Nutrition Foundation (2008) juga menyatakan bahwa individu dengan aktifitas fisik yang rendah memiliki risiko depresi dua kali dibanding individu yang memiliki aktivitas teratur (David, 2008). Aktivitas-aktivitas spiritual juga akan memberikan nilai tertinggi bagi lansia untuk menemukan kebermaknaan, harapan dan rasa harga dirinya dengan banyak berdzikir dan melaksanakan ibadah sehari-hari, lansia akan menjadi lebih tenang dalam hidupnya, menurunkan gejala depresi dan kecemasan akan kematian serta meningkatkan kesehatan mental lansia (Kemensos, 2008; Bjorklop, 2013; Hill, 2006; Meisenhelder, 2002).
Menurut analisa penulis, bahwa aktivitas yang dilakukan oleh lansia secara rutin dapat membuat lansia tetap aktif dalam melakukan kegiatan, terutama yang disukainya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Lansia yang melakukan aktifitas di rumah atau di masyarakat akan terus berinteraksi dengan orang lain, sehingga lansia tidak akan merasa sendirian dan akan semakin memperbaiki moodnya menjadi lebih baik. Kegiatan yang banyak dilakukan oleh lansia adalah seperti memasak, menyapu, membersihkan sayuran, mencuci piring atau pakaian. Kegiatan tersebut akan merangsang lansia untuk berkomunikasi dengan orang lain, bercerita dan berdiskusi tentang keinginannya, keluhannya serta harapannya. Hal ini dapat melegakan hati lansia, sehingga perasaan sedih dan kesepian akan menurun.
Hasil intervensi MaSa INDAH ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Piven & Buckwalter, 2001 dalam Miller, 2012) yang mengungkapkan bahwa kegiatan intervensi yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah depresi pada lansia adalah dengan meningkatkan harga dirinya melalui teknik meningkatkan hubungan terapeutik; memfasilitasi dalam mengungkapkan perasaan; mendemonstrasikan empaty, kehangatan dan perhatian; meningkatkan kemampuan keterampilan baru jika dibutuhkan; penyediaan informasi yang tepat dan baru jika dibutuhkan; membimbing lansia dalam mengidentifikasi kekuatan dan memberikan dukungan bagi lansia.
Selain itu intervensi MaSa INDAH sejalan pula dengan penelitian yang dilakukan oleh MacInnes, (2006) yang menyatakan bahwa harga diri berhubungan dengan afek lansia. Jika lansia dengan harga diri tinggi, maka akan menurunkan tingkat depresinya. Hal ini sesuai dengan teori psikososial yang menggambarkan tentang masalah depresi adalah sebagai suatu kondisi, dimana individu mengalami penurunan pada kognitif, motivasi, harga diri dan afektif-somatik (Seligman, 1981 dalam Miller, 2012).
Blazer (2002) juga menyarankan bahwa strategi untuk meningkatkan kepuasan diri pada lansia akan mencegah depresi. Kepuasan diri lansia dapat difasilitasi
melalui kelompok lansia sebaya. Kelompok lansia sebaya adalah kumpulan dua orang atau lebih yang datang bersama untuk membuat kesepakatan saling berbagi masalah yang mereka hadapi, kadang disebut juga kelompok pemberi semangat (Steward, 2009). Ketika lansia memahami dan memadukan individu, maka lansia akan belajar memperbaiki diri, berubah untuk hidup lebih baik lagi dengan harga diri yang tinggi.
Menurut analisa penulis, lansia mengalami proses penuaan yang harus dijalaninya dengan segala perubahan yang terjadi pada dirinya. Perubahan tersebut membuat lansia juga merasa perubahan akan penilaian terhadap dirinya baik dari kemampuan, penampilan maupun gaya hidupnya. Penilaian lansia tersebut mempengaruhi perilaku kopingnya, terutama bila lansia tidak mendapatkan dukungan sosial yang kuat dari lingkungan di sekitarnya. Lansia merasa dirinya tidak berharga, tidak mampu dan tidak bisa lagi seperti masa mudanya dulu karena keterbatasan dan ketidakmampuannya. Melalui intervensi meningkatkan harga diri, lansia belajar untuk menghargai dirinya sendiri dengan menggali persepsi yang positif terhadap dirinya untuk dapat melihat kemampuan dan kelebihan yang tersisa dalam hidupnya. Lansia belajar untuk menerima tantangan baru, mengenal tanggapan positif dari orang lain, serta melakukan kegiatan-kegiatan sesuai dengan kemampuannya baik di dalam rumah bersama keluarga maupun dalam kelompok lansia.
Kelompok lansia sebaya memfasilitasi lansia dalam mengekpresikan diri sebagai lansia yang masih dihargai serta diakui oleh orang lain. Kegiatan kelompok yang menekankan pada penggalian informasi tentang kemampuan yang dimiliki lansia dan lansia belajar untuk menunjukkan kebolehannya kepada orang lain. Hal tersebut membuat lansia semakin percaya diri dan menghargai diri sebagai pribadi yang unik dan istimewa. Untuk pencapaian tujuan yang maksimal, bagi lansia yang mengalami gangguan mobilisasi dan gangguan penglihatan, mahasiswa mengusahakan untuk menjemput lansia dengan menggunakan kendaraan sehingga lansia dapat dimudahkan mengikuti kegiatan. Intervensi tersebut diharapkan juga
dapat membangun kepercayaan diri lansia dan semangat lansia untuk bisa mengikuti kegiatan walaupun dengan keterbatasannya.
Peningkatan kemampuan lansia dalam memiliki dan menggunakan minimal satu cara pemecahan masalah depresi secara tepat dan efektif dilakukan melalui intervensi MaSa INDAH yang dipilih oleh lansia yaitu ikut kegiatan, nerima kondisi, doa, diskusi, atasi stress dan harga diri positif. Intervensi yang dipilih didokumentasikan dalam Kartu Tilik Diri (KTD) oleh lansia yang diintervensi. Lansia memilih untuk ikut kegiatan di dalam rumah atau di luar sebanyak 89,47%; nerima kondisi sebanyak 94,74%; doa sebanyak 100%; diskusi bersama anggota keluarga yang lain sebanyak 78,95%; atasi stres sebanyak 78,95% dan memiliki harga diri positif sebanyak 89,47%. Peningkatan kemampuan dalam memilih dan menggunakan minimal satu cara pemecahan masalah depresi secara tepat dan efektif melalui intervensi lansia MaSa INDAH dengan intervensi yang banyak dipilih adalah dengan meningkatkan harga diri positif dengan peningkatan penggunaan koping setelah intervensi MaSa INDAH sebesar 52,9%.
Perubahan kemampuan lansia dalam intervensi MaSa INDAH berdampak pada penurunan tingkat depresi pada lansia yaitu 6 lansia yang berisiko depresi, setelah intervensi tetap pada kategori risiko namun dengan penurunan skor depresi, kemudian 6 orang lansia yang sebelum intervensi mengalami depresi ringan, setelah intervensi masuk dalam kategori risiko, 2 lansia setelah intervensi tetap dalam kategori ringan dan 2 lansia setelah intervensi masuk ke dalam kategori ringan. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok lansia secara mandiri dapat melakukan intervensi MaSa INDAH dalam mengatasi masalah depresinya.
Blazer (2002b) menyatakan bahwa hal yang sangat penting dalam pencegahan primer dari depresi adalah melalui intervensi keperawatan yang meningkatkan kepuasan hidup lansia dan menurunkan kesedihan dan kesendirian. Perawat dapat mengidentifikasi intervensi yang dapat meningkatkan dukungan sosial. Hal ini didukung pula dengan pendapat para ahli bahwa kelompok lansia sebaya
merupakan salah satu bentuk dukungan sosial yang diberikan kepada seseorang dengan tujuan untuk promosi kesehatan.
Analisis dari penulis adalah bahwa intervensi keperawatan yang langsung dan tepat dalam mengatasi masalah kesehatan lansia merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan dalam memberikan asuhan keperawatan khususnya kepada lansia, karena lansia merupakan bagian dari populasi rentan yang memiliki banyak faktor mempengaruhinya. Asuhan keperawatan pada populasi lansia lebih efektif dilakukan dalam bentuk kelompok, sehingga dapat memberikan kekuatan satu sama lain dengan intervensi yang dapat menurunkan kesedihan lansia dan membuat mereka semakin bahagia. Kemampuan perawat kesehatan komunitas dalam melakukan pendekatan dengan teknik komunikasi yang efektif dan terapeutik sangat penting untuk mendapatkan kepercayaan lansia dalam mengatasi masalah depresi. Keterbukaan lansia dalam mengungkapkan masalahnya merupakan awal keberhasilan dalam mengatasi masalah depresi pada lansia.
5.1.3 Asuhan Keperawatan Keluarga
Asuhan keperawatan pada keluarga membutuhkan intervensi keperawatan secara langsung, karena keluarga dengan lansia depresi termasuk dalam kelompok yang rentan. Masalah depresi pada lansia ditemukan masalah koping keluarga tidak efektif, regimen therapeutik tidak efektif, ketidakefektifan manajemen kesehatan diri, hambatan interaksi sosial, proses berduka, risiko ketidakberdayaan, risiko ketidakefektifan penampilan peran, harga diri rendah, keputusasaan, komunikasi keluarga difungsional. Keluarga lansia depresi mendapatkan pendidikan kesehatan untuk dapat mengenal masalah, mampu mengambil keputusan dalam mengatasi masalah, mampu dalam merawat lansia depresi, mampu memodifikasi lingkungan yang menunjang pencapaian kesehatan hingga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia di masyarakat. Hasil menunjukkan terjadi peningkatan kemandirian keluarga pada 10 keluarga yang dibina selama 9 bulan. Pengetahuan dari 10 keluarga yang dibina meningkat sebesar 39,4%; sikap keluarga semakin meningkat menjadi kategori baik sebesar 60% dan keterampilan yang dapat dilakukan oleh keluarga adalah melakukan komunikasi efektif, meningkatkan
harga diri lansia, memotivasi lansia dalam beraktivitas dalam kegiatan rumah dan masyarakat. Peningkatan sikap keluarga seiring dengan peningkatan kemandirian keluarga pada keluarga binaan sebesar 55,88% dalam mengatasi masalah depresi pada lansia sehingga terjadi penurunan tingkat depresi pada lansia dalam waktu 4-5 bulan dalam 8 kali pertemuan kelompok lansia sebaya MaSa INDAH.
Hasil juga menunjukkan bahwa ada perbedaan antara tingkat depresi sebelum dan sesudah intervensi MaSa INDAH Intervensi yang dilakukan sesuai dengan masalah yang ditemukan pada lansia depresi. Semua keluarga lansia diberikan intervensi berupa pendidikan kesehatan tentang kondisi kesehatan di masa lansia, pendidikan kesehatan tentang depresi, latihan aktivitas di rumah, latihan komunikasi efektif, latihan manajemen stres, latihan memberikan dukungan spiritual serta latihan dalam meningkatkan harga diri lansia. semua intervensi melibatkan keluarga sebagai sumber dukungan utama bagi lansia.
Koping yang dilakukan lansia dan keluarga merupakan upaya untuk beradaptasi terhadap stimulus yang mengharuskan sistem keluarga merubah perilakunya. Pelaksanaan adaptasi, keluarga dan unsur-unsur didalamnya akan menerapkan koping individu dan koping keluarga yang saling mempengaruhi satu sama lain untuk mencapai keseimbangan keluarga (Friedman, Bowden, & Jones, 2003). Hasil dari pelaksanaan asuhan keperawatan ini telah sesuai dengan hasil penelitian hasil penelitian yang dilakukan oleh Ozlem Bozo tahun 2009 pada lansia di Turki yaitu mengungkapkan bahwa dengan penurunan aktivitas sehari-hari dapat meningkatkan depresi pada lansia dan dengan dukungan sosial yang tinggi dapat menurunkan tingkat depresi pada lansia (Bozo,2009). Hal tersebut membuktikan bahwa dukungan keluarga dan masyarakat dalam asuhan keperawatan komunitas sangat berpengaruhi dalam meningkatkan derajat kesehatan lansia dengan depresi.
Analisis penulis adalah karena lansia merupakan bagian dalam keluarga. Depresi yang terjadi dapat diatasi oleh lansia dan dengan dukungan lingkungan di sekitarnya terutama adalah keluarga. Sebagai orang terdekat dari lansia, keluarga
perlu memahami konsep lansia dalam tugas perkembangannya, sehingga koping dalam keluarga akan menjadi lebih efektif. Kemampuan keluarga dalam merawat lansia dengan depresi dapat dinilai melalui tingkat kemandirian keluarga yang meliputi penerimaan petugas kesehatan saat kunjungan pertama; menerima asuhan keperawatan dari tenaga kesehatan yang direncanakan bersama keluarga sesuai dengan kondisi lansia depresi; keluarga mengerti dan tahu keadaan lansia depresi dan mengungkannya dengan benar; keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia untuk mendapatkan pelayanan kesehatan bagi lansia depresi; keluarga turut serta dalam melakukan perawatan bagi lansia depresi dengan mendukung intervensi MaSa INDAH dan melakukan promosi pengalaman kepada orang lain disekitarnya dalam perawatan kesehatan lansia depresi