• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 47-56)

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS

2.3 Keperawatan Komunitas

2.3.5 Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas

Manajemen pelayanan keperawatan komunitas adalah suatu penyelenggaraan salah satu inti program spesialis keperawatan dengan aplikasi ilmu keperawatan komunitas yang mengintegrasikan fungsi manajemen pelayanan kesehatan dengan asuhan keperawatan komunitas dan keluarga.

2.3.5.1 Pengertian Manajemen

Manajemen merupakan bagian dari kepemimpinan yang menekankan pada pengendalian (Marquis & Huston, 2012). Manajemen keperawatan memiliki fungsi yaitu: mencakup fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Fungsi tersebut dioptimalkan dalam upaya pencapaian tujuan bersama yang telah ditetapkan sebelumnya dengan menggunakan sumber daya secara efektif, efisien dan rasional (Swansburg, 2000).

2.3.5.2 Fungsi Manajemen

a. Fungsi Perencanaan

Perencanaan adalah pandangan ke depan dan merupakan fungsi yang paling penting tentang suatu rencana kegiatan yang berisikan tujuan yang harus dicapai, bagaimana cara mencapainya, tempat kegiatan tersebut dilaksanakan, bagaimana indikator atau tolak ukur untuk mencapai tujuan, serta kegiatan apa yang harus dilakukan selanjutnya dan berkelanjutan (Asmuji, 2012). Selian itu, Ervin (2002) mendefinisikan perencanaan sebagai suatu rangkaian kegiatan yang terperinci dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang membutuhkan solusi melalui intervensi yang terstruktur.

Perencanaan organisasi merupakan suatu bentuk pembentukan keputusan manajerial. Perencanaan meliputi pengkajian lingkungan, gambaran sistem organisasi menyeluruh termasuk seluruh bagian-bagian sistem, memberikan kejelasan filosofi dan misi organisasi, prediksi sumber-sumber dan kemampuan organisasi, identifikasi langkah-langkah yang dapat dilakukan, prediksi efektifitas dari berbagai alternatif tindakan yang ditentukan, pilihan tindakan yang akan dilakukan, dan menyiapkan staf atau karyawan untuk melaksanakan berbagai tindakan yang perlu dilakukan (Gillies, 1994).

Berdasarkan teori yang telah disampaikan oleh para ahli, menunjukkan teori tentang perencanaan yang bervariasi, maka dapat disimpulkan bahwa perencanaan adalah suatu rangkaian rencana kegiatan yang terperinci, terstruktur dalam menyelesaikan masalah dengan menggunakan

langkah-langkah yang sistematis. Perencanaan juga menyiapkan staf atau karyawan untuk melaksanakan rencana kegiatan, sehingga dapat mencapai tujuan organisasi khususnya dalam mengatasi masalah kesehatan lansia dengan depresi.

Tahapan perencanaan sebuah organisasi mencakup memformulasikan perencanaan organisasi, menentukan visi, menentukan misi, menggali berbagai sumber dan kendala, mengidentifikasi metode dan aktivitas yang dilakukan untuk mencapai tujuan (Ervin, 2002). Perencanaan merupakan hal yang penting dan merupakan proses yang pertama dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan yang adekuat, maka proses manajemen akan menjadi gagal dan koordinasi serta tujuan tidak akan tercapai (Marquis & Huston, 2012).

Visi menggambarkan tujuan organisasi di masa yang akan datang atau tujuan jangka panjang organisasi dan menjadi bagian dari visi lembaga secara keseluruhan (Gillies, 1994; Marquis & Huston, 2012). Visi merupakan dasar untuk membuat suatu perencanaan dan merupakan nilai, aspirasi, dan tujuan yang mendasar yang digunakan dengan jelas untuk mengetahui arah sebuah organisasi yang bersifat terbuka serta menjadi motivasi dan stimulasi organisasi dalam menjalankan aktivitas di dalam organisasi atau instansi (Asmuji, 2012; Wijono, 1999).

Misi merupakan suatu strategi untuk mencapai visi yang telah ditetapkan (Wijono, 1999). Tujuan atau pernyataan misi adalah pernyataan singkat yang mengidentifikasi alasan keberadaan oraganisasi dan tujuan serta fungsi organisasi di masa depan. Pernyataan misi merupakan prioritas tertinggi dalam hierarki perencanaan karena hal tersebut mempengaruhi pembuatan filosofi, tujuan umum, tujuan khusus, kebijakan, prosedur dan ketentuan organisasi (Marquis & Huston, 2012). Misi berisikan pernyataan-pernyataan yang menunjukkan posisi etik, prinsip, dan standar praktik atau pelayanan yang diberikan kepada masyarakat atau konsumen (Marquis & Huston,

2012). Misi juga tentu memberikan kejelasan kepada staf dalam uraian tugas dari masing-masing instansi untuk menjalankan aktivitas sesuai dengan yang telah ditetapkan, karena jika terjadi masalah seperti kurang kejelasan dalam misi, sasaran, atau tujuan-tujuan menyebabkan kebingungan terhadap staf dan menjadi tidak teratur terhadap usaha atau upaya yang dilakukan untuk melayani konsumen yaitu masyarakat (Gillies, 1994).

Tujuan umum dan khusus adalah hasil dari perjalanan suatu organisasi. Tujuan umum diartikan sebagai hasil yang diharapkan melalui usaha terarah. Tujuan khusus lebih berfokus pada proses yang diharapkan, memiliki kerangka waktu pencapaian yang spesifik dan dinyatakan dalam istilah perilaku, dapat dievaluasi secara objektif dan mengidentifikasi hasil yang positif, bukan negatif (Marquis & Huston, 2012). Undang-Undang Nomor 36 tentang kesehatan pasal 138 menyatakan bahwa (1) upaya pemeliharaan kesehatan bagi usia lanjut ditujukan untuk menjaga agar tetap hidup sehat dan produktif secara sosial dan ekonomi sesuai dengan martabat kemanusiaan; (2) pemerintah wajib menjamin ketersediaan pelayanan kesehatan dan memfasilitasi kelompok usia lanjut untuk dapat tetap hidup mandiri dan produktif secara sosial dan ekonomi. Tujuan organisasi termasuk dalam rencana strategi, dimana menurut Martin (1998 dalam Marquis & Huston, 2012) menyatakan bahwa dalam rencana strategi dapat meramalkan keberhasilan pencapaian organisasi di masa depan dengan menyesuaikan dan menyelaraskan kapabilitas dengan kesempatan yang eksternal.

Perencanaan dalam suatu organisasi memerlukan sumber daya yang memadai dalam menunjang kegiatan, salah satunya adalah pengelolaan keuangan. Perencanaan anggaran membutuhkan visi, kreativitas dan seluruh pengetahuan politik, sosial, dan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat (Marquis & Huston, 2012). Kesejahteraan suatu instansi tergantung pada pengelolaan keuangan yang efektif (Gillies, 1994).

Langkah-langkah dalam perencanaan anggaran meliputi (Marquis & Huston, 2012) : langkah pertama yaitu mengkaji kebutuhan apa yang harus dipenuhi dalam penganggaran. Manajer membuat tujuan umum, tujuan khusus dan estimasi anggaran berdasarkan masukan dari rekan kerja dan bawahan. Penganggaran akan lebih efektif bila semua personil pengguna sumber daya dapat terlibat dalam proses tersebut. Langkah kedua yaitu membuat perencanaan. Siklus penganggaran sebagian besar disusun untuk dua belas bulan disebut anggaran fiskal tahunan, tetapi penganggaran berkelanjutan dapat dilakukan secara kontinu setiap bulan sehingga data anggaran 12 bulan ke depan selalui tersedia. Langkah ketiga adalah implementasi yaitu pemantauan berkelanjutan dan analisis dilakukan untuk mencegah pembiayaan yang tidak adekuat atau berlebihan pada akhir tahun pembukuan. Setiap manajer unit bertanggung gugat terhadap penyimpangan.

b. Fungsi Pengorganisasian

Pengorganisasian adalah pengelompokan aktivitas-aktivitas untuk mencapai tujuan objektif, penugasan suatu kelompok manajer dengan otoritas pengawasan setiap kelompok dan menentukan cara pengoordinasian aktivitas yang tepat dengan unit lainnya, baik secara vertikal maupun horizontal yang bertanggungjawab mencapai tujuan organisasi (Swansburg, 1993). Pengorganisasian juga merupakan fase yang kedua setelah perencanaan dalam proses manajemen dan dalam tahap pengorganisasian menjelaskan tentang hubungan, prosedur pelaksanaan, perlengkapan, dan pembagian tugas (Marquis & Huston, 2012). Struktur organisasi menentukan tingkah laku staf pegawai sebagai akibat dari peran, kekuatan, tanggung jawab, kekuasaan, pemusatan, dan komunikasi (Gillies, 1994).

Aktivitas dalam upaya kesehatan lansia terutama untuk lansia dengan depresi, dapat dilakukan dengan pembentukan dan pembinaan puskesmas santun lansia dimana puskesmas santun lansia adalah puskesmas yang melakukan pelayanan kepada lansia mengutamakan aspek promotif dan preventif disamping aspek kuratif dan rehabilitatif secara proaktif, baik dan

sopan serta memberikan kemudahan dan dukungan bagi lansia (Depkes RI, 2003).

Pembinaan kesehatan lansia dengan depresi diperlukan garis komando yang jelas, sehingga program kesehatan lansia dapat dilaksanakan dengan baik. Garis komando merupakan garis utuh vertikal antara posisi sebagai jalur formal komunikasi dan kewenangan, sehingga menyebabkan pegawai memiliki satu manajer tempat mereka memberikan laporan dan mempertanggungjawabkan pekerjaannya (Marquis & Huston, 2012).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi yang berkaitan pengorganisasian terutama pengorganisasian sumber daya manusia (SDM) perkesmas di Puskesmas Wilayah Jakarta Barat sebanyak 50,7% termasuk dalam kategori baik (Ratnasari, Setyowati & Kuntarti, 2012).

c. Fungsi Ketenagaan (Staffing)

Ketenagaan merupakan proses manajemen yang berkaitan dengan perekrutan, pemilihan, pemberian orientasi, dan peningkatan perkembangan individu untuk mencapai tujuan organisasi khususnya pelayanan kesehatan (Marquis & Huston, 2012). Salah satunya adalah pelayanan kesehatan lansia dengan depresi.

Perekrutan merupakan proses mencari atau menarik tenaga atau staf secara aktif untuk menempati posisi yang tersedia di dalam sebuah organisasi atau pelayanan kesehatan dengan cara wawancara; setelah dilakukan perekrutan maka selanjutnyan melakukan pemilihan atau seleksi yang merupakan proses pemilihan individu atau tenaga kesehatan untuk pekerjaan atau menempati posisi tertentu dari banyak pelamar (Marquis & Huston, 2012). Proses pemilihan staf memerlukan perhatian yang penuh untuk mendapatkan karyawan yang mempunyai kemampuan yang berkompeten dalam bidang pelayanan kesehatan (Gillies, 1994). Tahap selanjutnya setelah staf melewati proses seleksi yaitu orientasi (Marquis & Huston, 2012).

Orientasi merupakan proses penyesuaian seorang karyawan baru dengan lingkungan pekerjaan, sehingga karyawan tersebut dapat berinteraksi dengan cepat dan efektif dengan lingkungan baru tepat bekerja atau memberikan pelayanan kesehatan (Gillies, 1994). Proses orientasi yang adekuat akan meminimalkan kecenderungan pelanggaran peraturan, keluhan, dan kesalahpahaman; serta lebih menumbuhkan perasaan memiliki dan menerima serta meningkatkan antusiasme dalam bekerja pada institusi dan memberikan pelayanan kesehatan kepada klien atau masyarakat (Marquis & Huston, 2012).

Tahap selanjutnya setelah staf melalui proses orientasi maka dilanjutkan dengan melakukan pembinaan atau pengembangan staf. Pembinaan atau pengembangan staf merupakan metode yang efektif untuk meningkatkan produktivitas. Pembinaan atau pengembangan staf dapat dilakukan dengan pendidikan dan pelatihan. Proses pendidikan dan pelatihan bagi staf dapat meningkatkan produktifitas yang lebih baik dalam menjalankan suatu organisasi atau program (Marquis & Huston, 2003, 2012). Pelatihan merupakan suatu proses seorang individu disediakan dengan berbagai interaksi yang baik ditujukan untuk mengembangkan isu dan menerima umpan balik terhadap kekuatan dan kesempatan untuk terlibat atau menerima dukungan dan bimbingan selama transisi peran di dalam sebuah instansi (Karten & Baggot dalam (Marquis & Huston, 2012). Kurangnya pelatihan merupakan suatu kelemahan dalam sebuah manajemen, sehingga dapat berdampak pada kinerja staf pegawai kurang memuaskan (Swanburg, 2000).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanan dan pengaturan sumber daya manusia (SDM) perawatan kesehatan masyarakat (perkesmas) di Puskesmas Wilayah Jakarta Barat secara berurutan sebanyak 54% dan 52,1% baik dan juga ada hubungan perencanaan, pengorganisasian SDM dengan pelaksanaan perkesmas (Ratnasari, Setyowati, & Kuntarti, 2012).

d. Fungsi Pengarahan

Pengarahan merupakan hubungan manusia dalam kepemimpinan yang mengikat para bawahan agar bersedia mengerti dan menyumbangkan tenaganya secara efektif serta efisien dalam pencapaian tujuan suatu organisasi (Asmuji, 2012). Pengarahan yaitu proses interpersonal yang ditunjukkan dengan staf pegawai atau karyawan mencapai objektifitas dan merupakan proses penerapan rencana manajemen untuk mencapai visi dan misi (Swanburg, 2000). Fungsi pengarahan mencakup kegiatan motivasi, komunikasi organisasi, supervisi, pendelegasian dan manajemen konflik (Marquis & Huston, 2012).

Motivasi adalah merupakan tenaga dalam diri individu yang mempengaruhi kekuatan atau mengarah perilaku. Salah satu motivator terkuat yang dapat digunakan oleh manajer untuk menciptakan suasana memotivasi adalah penguatan atau reinforcement positif (Marquis & Huston, 2012). Motivasi merupakan proses emosional yang lebih cenderung bersifat psikologis daripada logika, terfokus pada kebutuhan di dalam diri individu yang kuat, langsung, terus-menerus, dan menghentikan perilaku (Swanburg, 2000).

Pengarahan harus menggunakan komunikasi yang efektif karena komunikasi yang efektif dapat mengurangi kesalahpahaman dan memberikan persamaan pandangan, arah dan pengertian yang disampaikan (Swanburg, 2000). Komunikasi dalam organisasi membentuk inti dan masuk di semua proses manajemen, dimana komunikasi adalah pertukaran pikiran, pesan, gagasan atau informasi melalui pembicaraan, tanda, tulisan dan perilaku (Marquis & Huston, 2012). Jadi komunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam pertukaran informasi oleh dua atau lebih orang dalam sebuah organisasi.

Supervisi merupakan suatu bentuk pengawasan pekerjaan atau kinerja orang lain secara langsung (Whitehead, Weiss & Tappen, 2010). Supervisi merupakan bentuk komunikasi yang bertujuan untuk memastikan kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan dengan cara melakukan pengawasan

terhadap pelaksanaan kegiatan. Supervisi dilakukan untuk memastikan kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan memungkinkan terjadinya pemberian penghargaan, diskusi dan juga bimbingan yang bertujuan untuk mencari jalan keluar jika terjadi kesulitan dalam tindakan (Asmuji, 2012).

Pendelegasian mengandung makna bahwa seseorang memberikan kepercayaan kepada orang lain untuk melakukan tugas yang sangat penting (Marquis & Huston, 2012). Pimpinan pun dalam menentukan wewenang yang didelegasikan melalui komunikasi dengan bawahan (Swanburg, 2000). Pendelegasian yang diberikan berupa kewajiban, tugas-tugas, dan tanggung jawab sehingga yang menerima delegasi harus dapat melaksanakannya dengan baik (Swanburg, 2000).

Elemen selanjutnya adalah manajemen konflik. Konflik adalah perselisihan internal dan eksternal yang disebabkan oleh perbedaan nilai, pendapat, atau perasaan antara dua orang atau lebih berupa konflik interpersonal, intra personal dan interkelompok (Marquis & Huston, 2012). Tujuan terbaik dalam menyelesaikan konflik adalah menciptakan penyelesaian menang-menang (win-win solution) untuk semua pihak yang terkait.

e. Fungsi Pengendalian

Pengendalian dalam manajemen adalah usaha sistematis untuk menetapkan standar prestasi kerja dengan tujuan perencanan, untuk mendesain sistem umpan balik informasi untuk membandingkan prestasi yang sesungguhnya dengan standar yang telah ditetapkan (Mockler, 1984 dalam Keliat, 2006). Pengawasan atau pengendalian mempunyai fungsi yang sangat besar dalam mempunyai manajemen pelayanan. Pengawasan atau pengendalian merupakan suatu bentuk koordinasi dalam mengidentifikasi berbagai kegiatan organisasi mulai dari perencanaan sampai dengan pengarahan berupa catatan, pelaporan, penggunaan berbagai sumber-sumber yang digunakan untuk mengamati tercapainya visi atau misi sebuah instansi (Swanburg, 2000).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengendalian atau pengawasan sumber daya manusia (SDM) perkesmas di Puskesmas Wilayah Jakarta Barat sebanyak 52,1% baik dan juga menunjukkan ada hubungan pengendalian atau pengawasan SDM dengan pelaksanaan perkesmas (Ratnasari, Setyowati, & Kuntarti, 2012).

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 47-56)