Bahasa dipahami dalam paradigma yang diatur dan dihidupkan oleh pernyataan-pernyataan yang bertujuan. Setiap pernyataan pada dasarnya adalah tindakan penciptaan makna, yakni tindakan pembentukan diri serta pengungkapan jati diri dari sang pembicara. Dengan demikian, bahasa merupakan suatu simbol yang memiliki makna, merupakan alat komunikasi manusia, penuangan emosi manusia serta merupakan sarana dalam menuangkan pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam mencari kebenaran dalam kehidupannya (Kaelan, 1998 : 7-8). Bahasa juga memiliki tataran yang terdiri atas fonologi, morfologi, sintaksis, dan wacana, istilah wacana mempunyai acuan yang lebih luas dari sekadar bacaan.Wacana merupakan satuan bahasa yang paling besar dan digunakan dalam komunikasi.
Wacana digunakan sebagai dasar pemahaman suatu teks sangat diperlukan oleh setiap orang berbahasa dalam berkomunikasi dan saling bertukar informasi. Wacana harus dipertimbangkan dari segi isi dan unsur-unsur pendukungnya sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam kegiatan berkomunikasi. Secara berurutan, rangkaian bunyi
membentuk kata, rangkaian kata membentuk frase, dan rangkaian frase membentuk kalimat. Akhirnya rangkaian kalimat membentuk wacana (Arifin dan Rani, 2006:3). Konteks merupakan acuan umum semua hal menyertai sebuah wacana. Istilah konteks tidak hanya terdapat dalam sebuah wacana, tetapi juga terjadi dalam kegiatan atau peristiwa tutur. Dalam menganalisis sebuah wacana harus dipertimbangkan konteks tempat terdapatnya bagian wacana agar lebih mudah dalam memahami isi sebuah wacana. Ada teks dan teks lain yang menyertainya, teks menyertai teks itu adalah konteks (Halliday dan Hasan, 1985:6).
Konteks memegang peranan penting dalam wacana karena konteks dapat mambantu pembaca untuk lebih mudah dalam memahami isi wacana.
Konteks dapat mengandung sebuah pesan atau informasi yang terkandung dalam sebuah wacana. Konteks wacana dibentuk oleh berbagai unsur, dan unsur-unsur dalam konteks itu berhubungan dengan unsur-unsur yang terdapat dalam setiap komunikasi bahasa.
Unsur-unsur dalam konteks dapat memberi tanda keterangan bagi eksistensi dalam hubungannya dengan pembicara yang memperkenalkan pada suatu percakapan (Djajasudarma, 2012:29&37). Analisis wacana merupakan cabang ilmu bahasa yang dikembangkan untuk menganalisis suatu unit bahasa yang lebih besar dari kalimat (Purwo,1984:21). Pada hakikatnya karya sastra adalah cerminan dan potret kehidupan nyata yang ada di masyarakat, dan sebagai wacana dan sarana komunikasi sosial,
(Cuming, 2005:5). Dengan kata lain, karya sastra memiliki standard ganda;
secara tekstual karya sastra merupakan wacana yang berdimensi estetika, dan secara kontekstual karya sastra merupakan miniatur potret struktur sosial budaya manusia dan segala yang melekat pada karya yang dimaksud. Untuk mendapatkan pemaknaan total, diperlukan telaah yang tidak saja berdimensi tekstual (mikro semata), tetapi seharusnya diintegrasikan dengan kontekstualitas fenomena kehidupan, agar terbangun pemaknaan yang lebih komprehensif dan natural yang meliputi, baik elemen mikro kesastraan dan kebahasaan maupun elemen makro kesastraan.
Pada zaman modern sekarang ini kedudukan sastra semakin meningkat dan semakin penting. Sastra tidak hanya memberikan kenikmatan dan kepuasan batin, tetapi juga sebagai sarana penyampaian pesan moral kepada masyarakat atas realitas sosial. Karya sastra tercipta dalam kurun waktu tertentu dapat terjadi penggerak tentang keadaan dan situasi yang terjadi pada masa penciptaan karya sastra itu, baik sosial budaya, agama, politik, ekonomi, dan pendidikan, selain itu karya sastra dapat digunakan sebagai dokumen sosial budaya yang menangkap realita dari masa tertentu, akan tetapi bukan menjadi keharusan bahwa karya sastra yang tercipta merupakan pencerminan situasi kondisi pada saat karya sastra ditulis. Salah satu bentuk “susastra” sebagai penuangan ide kreatif pengarang adalah novel. Karya sastra sebagai potret kehidupan bermasyarakat merupakan
suatu karya sastra yang dapat dinikmati, dipahami, dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Karya sastra tercipta karena adanya pengalaman batin pengarang berupa peristiwa atau problem dunia yang menarik sehingga muncul gagasan imajinasi yang dituangkan dalam bentuk tulisan dan karya sastra akan menyumbangkan tata nilai figur dan tatanan tuntutan masyarakat, hal ini merupakan ikatan timbal balik antara karya sastra dengan masyarakat, walaupun karya sastra tersebut berupa fiksi, namun pada kenyataannya, sastra juga mampu memberikan manfaat yang berupa nilai-nilai moral bagi pembacanya. Sastra selalu menampilkan gambaran hidup dan kehidupan itu sendiri, yang merupakan kenyataan sosial. Dalam hal ini, kehidupan tersebut akan mencakup hubungan antarmasyarakat dengan orang seorang, antarmanusia, manusia dengan Tuhan-Nya, dan antara peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Membahas karya sastra ada beberapa bagian yang muncul antara lain: kurangnya kemampuan pembaca dalam memahami karya sastra yang bersifat kompleks, unik dan tidak langsung dalam mengungkapkannya. Hal ini yang menyebabkan sulitnya pembaca dalam menafsirkan karya sastra. Hal ini sesuai dengan pandapat Nurgiyantoro (1995:323) yang menyatakan bahwa satu penyebab sulitnya dalam menafsirkan karya sastra yaitu dikarenakan novel merupakan sebuah struktur yang kompleks, unik, serta mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung, oleh karena itu, perlu dilakukan suatu usaha kritik terhadap karya sastra
untuk menjelaskannya dengan disertai bukti-bukti hasil kerja analisis. Sastra berperan sebagai penuntun hidup, hanya saja penuntun hidup itu tersublimasi sedemikian rupa sehingga tidak mungkin bersifat mendikte tentang apa sebaiknya tidak dilakukan di lapangan.
Sastra mampu membentuk watak pribadi secara personal, dan akhirnya dapat pula secara sosial. Sastra mampu berfungsi sebagai penyadar manusia akan kehadirannya yang bermakna bagi kehidupan bagi Sang Pencipta maupun di hadapan sesama manusia.Tidak jarang manusia mengalami kekosongan jiwa, kekacauan berpikir dan bahkan bisa mengalami stres karena tidak mampu mengatasi masalah yang sedang dihadapinya.
Karya sastra dapat berperan untuk membentuk sebagai alat penting bagi pemikir untuk menggerakkan pembaca kepada kenyataan dan menolongnya untuk mengambil keputusan bila mengalami masalah. Selain itu, dewasa ini banyak masyarakat jauh dari sifat-sifat kemanusiaan, lupa terhadap kewajiban hidupnya, bersikap masa bodoh terhadap permasalahan yang terjadi di sekelilingnya. Dalam hal ini melalui karya sastra (novel) diharapkan dapat digunakan untuk menyadarkan masyarakat (pembaca) untuk kembali pada fitrahnya, pada jalan yang benar. Sastra merupakan ekspresi masyarakat. Oleh sebab itu, kemunculan suatu karya sastra erat hubungannya dengan persoalan-persoalan yang muncul pada saat itu. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan sosial memang berpengaruh kuat terhadap
wujud sastra. Dengan kata lain, karya sastra tersebut adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat.
Di dalam era globalisasi ini, peran sastra sangat berarti. Mengenai hal ini Alwi, (2002: 235) mengemukakan sastra dapat berperan 3 dalam: (1) mendorong dan menumbuhkan nilai-nilai positif manusia, seperti suka menolong, berbuat baik, beriman dan bertakwa; (2) memberi pesan kepada pembaca, khususnya pemimpin, agar dapat berbuat sesuai dengan harapan masyarakat, mencintai keadilan, kebenaran, dan kejujuran; (3) mengajak orang untuk bekerja keras demi kepentingan dirinya, dan ; (4) merangsang munculnya watak-watak pribadi yang tangguh dan kuat.
Peristiwa atau persoalan itu sangat mempengaruhi kejiwaan. Adanya hal demikian, seorang pengarang dalam karyanya menggambarkan fenomena kehidupan yang ada sehingga muncul konflik atau ketegangan batin. Sastrawan, sastra, dan kehidupan sosial merupakan fenomena yang saling melengkapi dalam kedirian masing-masing sebagai sesuatu yang ektensial. Sebuah karya sastra tidak dapat dilepaskan dari pengarang dan kehidupan manusia sebagai produk kelahiran karya sastra, sastra bukan sekadar dari kekosongan sosial, melainkan hasil racikan perenungan dan pengalaman sastrawan dalam menghadapi problema dan nilai-nilai tentang hidup dan kehidupan (manusia dan kehidupan) pengalaman ini merupakan jawaban yang utuh dari jiwa manusia ketika kesadarannya bersentuhan dengan kenyataan.
Penelitian analisis ilmiah dan karya tulis pada karya sastra memang sudah banyak dilakukan, namun cenderung hanya ditelaah dari sisi struktur dan tekstual semata. Telaah yang demikian, menghasilkan telaah yang belum mencapai makna yang maksimal, dan kurang menyentuh. Dalam menganalisis konteks wacana yang terdapat dalam novel Lontara Rindu Karya S. Gege Mappangewa ini, peneliti mengkhususkan penelitian pada konsep yang berkaitan dengan konteks dalam menganalisis wacana dan unsur-unsur konteks wacana yang terdapat dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa.
Sejak awal 1970-an, para linguis sadar akan pentingnya konteks
dalam menafsirkan berbagai macam kalimat (Arifin dan Rani, 2006: 166).
Konteks merupakan situasi atau latar terjadinya suatu komunikasi (Mulyana, 2005: 21). Konteks sangat menentukan makna suatu ujaran. Bila konteks berubah, berubah juga makna suatu ujaran. Konteks dapat dianggap sebagai sebab dan alasan terjadinya suatu pembicaraan atau dialog. Segala sesuatu yang berhubungan dengan tuturan sangat bergantung pada konteks yang melatarbelakangi peristiwa tuturan itu. Beberapa unsur eksternal yang berkaitan dengan wacana yang diperlukan dalam analisis wacana yakni, praanggapan, implikatur, inferensi, dan unsur-unsur konteks nonverbal wacana terdiri atas setting ’latar’ dan scene ’suasana’, participants’
partisipasi’, ends ’ hasil’, act sequences ’pesan’, keys ’cara’, instrumentalities ’sarana’, norm ’norma’, dan genre’jenis’.
Secara garis besar, penelitian ini mengemukakan beberapa latar belakang dan alasan penting telaah analisis konteks wacana dalam novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa. Alasan-alasan tersebut meliputi beberapa pertimbangan: Dari sisi sumber data, karya sastra ini tergolong karya sastra yang unik karena alur cerita berupa cerita fiksi namun latar tempat, adat-istiadat, sosial, budaya dan, keyakinan yang berbeda adalah nyata berada di Kabupaten Sidenreng Rappang.
Selain itu, novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa merupakan novel peraih penghargaan terbaik pertama “Lomba Novel Republika 2011 ”, sehingga banyak memperoleh pujian dan komentar positif, sebagaimana yang dikatakan oleh Asma Nadia (penulis 46 buku best seller) bahwa ada kejernihan yang mengharukan, bergantian dengan kelucuan yang menggelitik saat membaca novel Lontara Rindu. Penulisnya berhasil menjalin kisah yang menarik dengan warna lokal yang kuat, dan teknik penceritaan yang nyaris tanpa cela. Novel Lontara Rindu karya S.
Gege Mappangewa ini bertutur tentang hubungan manusia di dalam keluarga dan lingkungannya yang kompleks, terutama karena ada latar belakang adat dan agama yang berbeda dalam novel ini.
Penulis menyadari bahwa warisan budaya nasional atau warisan budaya lokal adalah cermin tingginya peradaban bangsa. Dan salah satu ciri bangsa besar dan maju adalah bangsa yang mampu menghargai dan melestarikan warisan nenek moyang mereka dengan berbagai cara, salah
satunya adalah melakukan penelitian terhadap karya sastra lokal sekalipun hanya mengkaji sebuah novel yang sarat akan adat-istiadat, sosial dan budaya, hal ini menjadi pertimbangan peneliti untuk melakukan penelitian dengan menganalisis konteks wacana yang terdapat dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa.