• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONTEKS WACANA DALAM NOVEL LONTARA RINDU KARYA S. GEGE MAPPANGEWA DISCOURSE CONTEXT IN THE NOVEL LONTARA RINDU BY S.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KONTEKS WACANA DALAM NOVEL LONTARA RINDU KARYA S. GEGE MAPPANGEWA DISCOURSE CONTEXT IN THE NOVEL LONTARA RINDU BY S."

Copied!
210
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS Oleh

ARISA

Nomor Induk Mahasiswa : 04. 08. 939. 2013

PROGRAM PASCASARJANA

MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR 2016

(2)

i

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Magister

Program Studi

Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Disusun dan Diajukan Oleh

ARISA

Nomor Induk Mahasiswa : 04. 08. 939. 2013

kepada

PROGRAM PASCASARJANA

MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR 2016

(3)

ii

Yang disusun dan diajukan oleh

ARISA

NIM. 04. 08. 939. 2013

Telah dipertahankan dihadapan Panitia Ujian Tesis pada tanggal, 14 April 2016

Menyetujui Komisi Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. H. M. Ide Said D. M., M.Pd. Prof. Dr. Anshari, M. Hum.

Mengetahui

Direktur Program Pascasarjana Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan

Sastra Indonesia

Prof. Dr. H. M. Ide Said D. M., M.Pd. Dr. Abd. Rahman Rahim. M. Hum.

NBM. 988. 463 NBM. 992. 699

(4)

iii

Nama : Arisa

NIM. : 04. 08. 939. 2013

Program Studi : Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Telah diseminarkan dan dipertahankan di depan Panitia Penguji Tesis pada tanggal 14 April 2016 dan dinyatakan telah memenuhi persyaratan dan dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar.

TIM PENGUJI

Prof. Dr. H. M. Ide Said D. M., M. Pd. ( ) (Pembimbing I)

Prof. Dr. Anshari, M. Hum. ( )

(Pembimbing II)

Dr. Sitti Aida Azis, M. Pd. ( )

(Penguji)

Dr. Munirah, M. Pd. ( )

(Penguji

(5)

iv

Nama : Arisa

NIM. : 04. 08. 939. 2013

Program Studi : Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Judul : Konteks Wacana dalam Novel Lontara Rindu Karya S. Gege Mappangewa

Menyatakan dengan sebenanyar bahwa tesis yang saya buat dan tulis ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan hasil ciplakan atau dibuatkan oleh orang lain. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan tesis ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Makassar, 14 April 2016 Yang Membuat Pernyataan

Arisa

(6)

v

tinggi adalah hak atasnya.

~Arisa~

Penyatuan sikap menerima atas kekurangan ,menjadi buah dalam pohon kebahagiaan yang

harus disyukuri Arisa

Kita hanyalah setitik noda kecil yang tinggal di planet bumi, sementara bumi, salah satu planet kecil di antara billion bintang di Galaksi Bima Sakti, sedangkan

Bimasakti satu galaksi di antara jutaan Galaksi yang ada di alam semesta, lalu, apa yamg mesti kita sombongkan?

-ARISA-

(7)

vi

dijunjung tinggi masyarakatnya, ditampilkan dengan menarik dan sarat makna dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Unsur-unsur konteks wacana yang terdapat dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa meliputi: 1) setting ’latar’ dan scene ’suasana’, 2) participants’ partisipasi’, 3) ends ’ hasil’, 4) act sequences ’pesan’, 5) keys ’cara’,6) Instrumentalities ’Sarana’,7) norm ’norma’, dan 8) genre’jenis’. Konsep yang berkaitan dengan konteks dalam menganalisis wacana dalam Novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa meliputi: 1) praanggapan. 2) implikatur, dan 3) inferensi serta pendidikan berkarakter dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa.

Berdasarkan karakteristik penelitian, maka penelitian ini dikategorikan ke dalam jenis penelitian kualitatif yang berarti studi yang mencakup penggunaan dan pengumpulan berbagai data empirik yang bisa dilakukan melalui studi kepustakaan, interview,fragmentasi dan interaksi, dalam hal ini ditegaskan bahwa pendekatan deskriptif kualitatif selalu mendasarkan hal-hal yang bersifat fenomena untuk dianalisis, dideskripsikan dan akhirnya disimpulkan berdasarkan temuan dan analisis yang telah dilakukan. Sumber data adalah novel Lontara Rindu karya S.

Gege Mappangewa. Terbit tahun 2012 dengan jumlah 342 halaman, diterbitkan oleh Republika, Jakarta

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam novel Lontara Rindu terdapat konteks nonverbal wacana yang terdiri atas, 1) setting

’latar’ dan scene ’suasana’, 2) participants’ partisipasi’, 3) ends ’ hasil’, 4) act sequences ’pesan’, 5) keys ’cara’,6) Instrumentalities ’Sarana’,7) norm

’norma’, dan 8) genre’jenis’. Unsur eksternal wacana dalam Novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa meliputi: 1) praanggapan, dalam praanggapan terdapat praanggapan eksistensial, praanggapan faktif, praanggapan nonfaktif, praanggapan leksikal, dan praanggapan konterfaktual. 2) implikatur, dalam implikatur terdapat, maksim kuantitas (the maxim of quantity), maksim kualitas (the maxim of quality), maksim hubungan atau relevansi (the maxim of relevance), dan maksim cara (the maxim of manner), dan 3) inferensi. Sedangkan pendidikan berkarakter yang ditemukan ada empat, yakni 1) jujur, 2) rasa ingin tahu, 3) peduli sosial, 4) bersahabat/komunikatif.

Kata kunci : Konteks, wacana, unsur eksternal wacana, unsur nonverbal wacana, pendidikan, dan karakter.

(8)

vii

(9)

viii

“Dan Allah telah mengajari Adam menyebutkan nama-nama (kemampuan berbahasa), lalu mencerdaskan manusia lewat perantaraan

kalam(wacana). Berkat penguasaan bahasa dan wacana inilah malaikat bersujud memuliakan Bani Adam, sementara setan dengki

menyesatkannya.” (Yudi latif dan Idi Subandi Ibrahim)

Segala puja dan puji pada Allah subhanahu wa Taala, yang telah melimpahkan cahaya segala maujud yang bergatung pada-Nya sehingga tesis ini dapat penulis selesaikan penuh dengan perjuangan.

Penulis menyadari bahwa perjuangan untuk menyelesaikan tesis ini tidak akan terealisasi dengan baik tanpa uluran tangan dari berbagai pihak. Penulis dengan kerendahan hati menyampaikan ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar, Prof. Dr. H. M. Ide Said D. M., M. Pd., pembimbing I yang telah meluangkan waktu untuk berbagi ilmu dan pengetahuan sejak awal penulisan hingga tesis ini selesai. Mudah- mudahan apa yang telah diberikan bernilai ibadah dan amal jariah di sisi- Nya, amin. Terima kasih dan penghargaan yang setulus-tulusnya disampaikan kepada pembimbing II, Prof. Dr. Anshari, M. Hum., Wakil Dekan 1 Universitas Negeri Makassar, atas segala arahan dan petunjuknya.

(10)

ix

butuhkan selama mengikuti Program Pascasarjana. Terima kasih kepada penguji Dr. Siti Aida Azis, M. Pd., dan Dr. Munirah, M. Pd., yang telah memberi arahan dan petunjuk sehingga penulis memperoleh percikan cahaya khususnya dalam bidang analisis wacana kritis, cara yang berbeda dalam berbagi ilmu pengetahuan, karakter yang menegangkan, diselingi oleh kelembutan sebagaimana kodrat seorang ibu, menggerakkan penulis untuk belajar dan terus belajar, mudah-mudahan ketulusan penguji bernilai ibadah di sisi Allah Subhanahu wataala, amin!

Terima kasih kepada Ketua Prodi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Dr. Abd.Rahman Rahim, M. Hum., yang secara tidak langsung memberi penulis kesempatan untuk terus menyelesaikan pendidikan hingga tahap akhir. Maha suci Engkau Ya Allah yang maha membalas setiap kebaikan yang ditorehkan oleh manusia kepada sesamanya.

Ucapan terima kasih yang mendalam disampaikan kepada Sekretaris Program Pascasarjana Dr. H. M. Darwis Muhdina, M. Ag., atas segala bantuannya. Tempat dan status sosial yang berbeda menyebabkan penulis baru mengetahui bahwa penulis memiliki hubungan keluarga yang dekat dengan beliau.

(11)

x

Makassar yang telah berjasa dalam mendidik dan memberi ilmu kepada penulis selama perkuliahan berlangsung hingga akhir penelitian.

Ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada penulis novel Lontara Rindu, S. Gege Mappangewa, karena melalui tangannya karya terbaik lahir dan digunakan oleh penulis sebagai objek penelitian.

Demikian pula kepada pemilik novel Lontara Rindu, Agier yang dengan ikhlas meminjamkan novelnya selama enam bulan kepada penulis.

Ucapan terima kasih sekalipun terbungkus emas tidak akan pernah menggantikan seluruh cinta dan kasih sayang Ibunda tercinta, Suminah dan ayahanda terkasih, Andi Untung Paddo. Cucuran keringat, air mata, untaian doa serta pengorbanan tiada henti menjadikan penulis pribadi yang kuat hingga bisa berada pada tahap ini. Maafkan jika Ananda sering menyusahkan bahkan melukai Ibunda dan Ayahanda. Keselamatan dunia akhirat semoga tercurah untuk kalian, amin.

Ucapan terima kasih teristimewa kepada kedua mertuaku, Ayahanda Drs. Andi Salahuddin Nonci, M. Si., dan Dra. Hj. Serley Sinar, M. Si., yang senantiasa membantu baik dari segi materi maupun nonmateri, menerima penulis apa adanya, penulis bersyukur menjadi bagian dari kehidupan kalian.

(12)

xi

kepada penulis menghantarkan penulis pada tahap penyelesaian tesis, saat penulis tidak bisa membagi waktu antara pendidikan dan mendidik anak, penulis selalu diingatkan agar tidak melupakan kewajiban utama sebagai seorang ibu sekaligus istri, saat penulis ingin berhenti kuliah, suami tercintalah yang memberi semangat bahwa selalu ada jalan dan kemudahan dalam menuntut ilmu pengetahuan. Terima kasih semoga ikatan suci ini akan tetap terjalin sampai maut memisahkan, amin!

Buah hati penulis Andi Ali Musthafa dan Andi Khadijah Arridha, terima kasih atas perjuangan kalian mendampingi penulis, perjalanan sulit kalian antara Wajo dan Makassar menjadi kekuatan untuk terus berjuang dalam pendidikan. Jadilah pribadi sederhana di mana pun kalian berada.

Terima kasih kepada Andi Istambul yang banyak membantu penulis dalam hal menjaga anak-anak, penulis menyadari tanpa bantuan Adinda penulis tidak akan berada pada tahap akhir pendidikan ini, maaf jika penulis sering marah dan kesal atas sikap Adinda, petiklah hikmah yang baik dan membuang yang buruk dari penulis.

Terima kasih kepada sepupu penulis Andi Burhanuddin, yang kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar, atas tumpangan kosnya, terima kasih juga kepada Dinda Andi Reski dan Dinda Jusna atas bantuannya sebagai tukang ojek yang siap mengantar penulis

(13)

xii

S.Pd yang sempat membantu penulis saat kesulitan mencari dana tambahan untuk pendidikan,terima kasih kepada seluruh teman mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar Angkatan 2013.

Selain itu, penulis juga mengucapkan permohonan maaf atas kesalahan dan kekhilafan, baik dalam bentuk ucapan maupun tingkah laku, semenjak penulis menginjakkan kaki pertama kali di Universitas Muhammadiyah hingga selesainya pendidikan penulis. Semua itu adalah keterbatasan penulis sebagai manusia biasa, kesempurnaan hanyalah milik Allah Subhanahu wa Taala. Akhirnya, penulis berharap bahwa apa yang disajikan dalam tesis ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya wacana. Semoga ini dapat bernilai ibadah di sisi- Nya, Amin!

Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Makassar, 14 April 2016

Penulis

(14)

xiii

HALAMAN PENGESAHAN ……… ii

HALAMAN PENERIMAAN PENGUJI………. iii

PERNYATAAN KEASLIAN TESIS………. . iv

MOTTO……… v

ABSTRAK……….... vi

ABSTRACT……… . vii

PRAKATA………...viii

DAFTAR ISI………. ix

DAFTAR GAMBAR……… xvi

DAFTAR LAMPIRAN……….xvii

DAFTAR ISTILAH………..xviii

BAB I PENDAHULUAN ………. 1

A. Latar Belakang Penelitian ……… 1

B. Fokus Penelitian ……… 9

C. Tujuan Penelitian ……….. 10

D. Manfaat Penelitian………... 10

E. Definisi Istilah………. 11

BAB II KAJIAN PUSTAKA ……… 14

A. Kajian Pustaka……… 14

1. Hakikat Novel………. 14

(15)

xiv

5. Hakikat Pendidikan Karakter………... 38

6. Nilai Pendidikan Karakter dalam Karya Sastra………. 40

7. Sejarah Singkat Tolotang………. 42

B. Penelitian Relevan……… 44

C. Kerangka Pikir ……… 47

BAB III METODE PENELITIAN………...… 49

A. Pendekatan Penelitian………. 49

B. Unit Analisis dan Penentuan Informan……….. 49

C. Data dan Sumber Data………. 50

D. Teknik Pengumpulan Data……….………. 51

E. Teknik Analisis Data ………. 52

F. Pengecekan Keabsahan Temuan……….. 54

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………. 56

A. Deskripsi Karakteristik Objek Penelitian……… 56

B. Penyajian Hasil Analisis Data………. 59

1. Konteks Nonverbal Wacana dalam Novel Lontara Rindu Karya S. Gege Mappangewa………..……….……….. 59

2. Unsur Eksternal Wacana dalam Novel Lontara Rindu Karya S. Gege Mappangewa………..……… 74

(16)

xv

BAB V SIMPULAN DAN SARAN……….… 139

A. Simpulan………. 139

B. Saran………... 145

DAFTAR PUSTAKA……….. 147

LAMPIRAN 1. Sinopsis Novel Lontara Rindu………. 150

2. Biografi S. Gege Mappangewa………... 153

3. Korpus Data Konteks Nonverbal Wacana, Unsur Eksternal Wacana dan Pendidikan Karakter dalam Novel Lontara Rindu Karya S. Gege Mappangewa………... 154

4. Riwayat Hidup………. 155

(17)

xvi

(18)

xvii

1. Sinopsis Novel Lontara Rindu……….. 150 2. Biografi S. Gege Mappangewa………... 153 3. Korpus Data Konteks Nonverbal Wacana, Unsur Eksternal

Wacana dan Pendidikan Karakter dalam Novel Lontara Rindu Karya S. Gege Mappangewa……….... 154 4. Riwayat Hidup……….. 155

(19)

xviii

2. Timpo : Bambu yang dipakai untuk menampung tuak

3. Tabbere Bajae : Dini hari

4. Lontara : Huruf tradisional masyarakat Bugis- Makassar

5. Pabbulu : Orang gunung

6. Maggore Kopi : Memanggang kopi dengan wajan dari tanah liat

7. Makkire-kire : Mengiris-iris daging hewan 8. Dewata Seuwae : Sang Hyang Widi

9. Mattapi were’ : Membersihkan beras 10. Keppang Cedde : Agak pincang

11. Pakkalipa Matu Leggai : Hanya linggis yang melepasnya;

kematian memisahkan 12. Golla-golla pese : Perment mint

13. Makkawi : Mengaitkan ujung sarung di pinggang, ujung satunya

14. Mabbaja laleng : Membersihkan jalan;penjajakan sebelum melamar

15. Rakkeang : Loteng

(20)

xix

18. Mappalili : Tradisi membajak sawah pertama di awal musim tanam

19. Peco’ bale : Ikan asin yang ditumbuk dengan garam dan cabai

20. Pammasetau : Kuburan leluhur Tolotang

21. Manu Gaga : Ayam ketawa yang diperlombakan

22. Massempe’ : Permainan saling tending dengan aturan yang ditentukan

23. Ambo : Ayah

24. Indo : Ibu

25. Lego-lego : Serambi depan rumah panggung 26. Ketinting : Perahu kayu menggunakan mesin

27. Sokko Patunrupa : Nasi ketan empat warna;merah, kuning, putih, dan hitam

28. Mappettu ada : Proses menentukan hari dan hal menyangkut pernikahan

29. Dui papenre : Uang belanja pesta pernikahan dibebankan pada pria

30. Bosara : Tatakan piring dengan pegangan di bawah dan punya tutup

(21)

xx

33. Jadde : Jenis kue Bugis terbuat dari singkong parut, yang ditengahnya diberi irisan pisang, dibungkus daun lalu direbus.

34. Silariang : Kawin lari

35. Ballo : Tuak yang dipermentasikan menjadi minuman keras

36. Uwwa : Pemimpin Tolotang 37. Pakka salo : Sungai bercabang

38. Mappaci : Proses mendoakan calon pengantin dengan meletakkan daun pacar di tangan mempelai

(22)
(23)
(24)
(25)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa dipahami dalam paradigma yang diatur dan dihidupkan oleh pernyataan-pernyataan yang bertujuan. Setiap pernyataan pada dasarnya adalah tindakan penciptaan makna, yakni tindakan pembentukan diri serta pengungkapan jati diri dari sang pembicara. Dengan demikian, bahasa merupakan suatu simbol yang memiliki makna, merupakan alat komunikasi manusia, penuangan emosi manusia serta merupakan sarana dalam menuangkan pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam mencari kebenaran dalam kehidupannya (Kaelan, 1998 : 7-8). Bahasa juga memiliki tataran yang terdiri atas fonologi, morfologi, sintaksis, dan wacana, istilah wacana mempunyai acuan yang lebih luas dari sekadar bacaan.Wacana merupakan satuan bahasa yang paling besar dan digunakan dalam komunikasi.

Wacana digunakan sebagai dasar pemahaman suatu teks sangat diperlukan oleh setiap orang berbahasa dalam berkomunikasi dan saling bertukar informasi. Wacana harus dipertimbangkan dari segi isi dan unsur- unsur pendukungnya sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam kegiatan berkomunikasi. Secara berurutan, rangkaian bunyi

(26)

membentuk kata, rangkaian kata membentuk frase, dan rangkaian frase membentuk kalimat. Akhirnya rangkaian kalimat membentuk wacana (Arifin dan Rani, 2006:3). Konteks merupakan acuan umum semua hal menyertai sebuah wacana. Istilah konteks tidak hanya terdapat dalam sebuah wacana, tetapi juga terjadi dalam kegiatan atau peristiwa tutur. Dalam menganalisis sebuah wacana harus dipertimbangkan konteks tempat terdapatnya bagian wacana agar lebih mudah dalam memahami isi sebuah wacana. Ada teks dan teks lain yang menyertainya, teks menyertai teks itu adalah konteks (Halliday dan Hasan, 1985:6).

Konteks memegang peranan penting dalam wacana karena konteks dapat mambantu pembaca untuk lebih mudah dalam memahami isi wacana.

Konteks dapat mengandung sebuah pesan atau informasi yang terkandung dalam sebuah wacana. Konteks wacana dibentuk oleh berbagai unsur, dan unsur-unsur dalam konteks itu berhubungan dengan unsur-unsur yang terdapat dalam setiap komunikasi bahasa.

Unsur-unsur dalam konteks dapat memberi tanda keterangan bagi eksistensi dalam hubungannya dengan pembicara yang memperkenalkan pada suatu percakapan (Djajasudarma, 2012:29&37). Analisis wacana merupakan cabang ilmu bahasa yang dikembangkan untuk menganalisis suatu unit bahasa yang lebih besar dari kalimat (Purwo,1984:21). Pada hakikatnya karya sastra adalah cerminan dan potret kehidupan nyata yang ada di masyarakat, dan sebagai wacana dan sarana komunikasi sosial,

(27)

(Cuming, 2005:5). Dengan kata lain, karya sastra memiliki standard ganda;

secara tekstual karya sastra merupakan wacana yang berdimensi estetika, dan secara kontekstual karya sastra merupakan miniatur potret struktur sosial budaya manusia dan segala yang melekat pada karya yang dimaksud. Untuk mendapatkan pemaknaan total, diperlukan telaah yang tidak saja berdimensi tekstual (mikro semata), tetapi seharusnya diintegrasikan dengan kontekstualitas fenomena kehidupan, agar terbangun pemaknaan yang lebih komprehensif dan natural yang meliputi, baik elemen mikro kesastraan dan kebahasaan maupun elemen makro kesastraan.

Pada zaman modern sekarang ini kedudukan sastra semakin meningkat dan semakin penting. Sastra tidak hanya memberikan kenikmatan dan kepuasan batin, tetapi juga sebagai sarana penyampaian pesan moral kepada masyarakat atas realitas sosial. Karya sastra tercipta dalam kurun waktu tertentu dapat terjadi penggerak tentang keadaan dan situasi yang terjadi pada masa penciptaan karya sastra itu, baik sosial budaya, agama, politik, ekonomi, dan pendidikan, selain itu karya sastra dapat digunakan sebagai dokumen sosial budaya yang menangkap realita dari masa tertentu, akan tetapi bukan menjadi keharusan bahwa karya sastra yang tercipta merupakan pencerminan situasi kondisi pada saat karya sastra ditulis. Salah satu bentuk “susastra” sebagai penuangan ide kreatif pengarang adalah novel. Karya sastra sebagai potret kehidupan bermasyarakat merupakan

(28)

suatu karya sastra yang dapat dinikmati, dipahami, dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Karya sastra tercipta karena adanya pengalaman batin pengarang berupa peristiwa atau problem dunia yang menarik sehingga muncul gagasan imajinasi yang dituangkan dalam bentuk tulisan dan karya sastra akan menyumbangkan tata nilai figur dan tatanan tuntutan masyarakat, hal ini merupakan ikatan timbal balik antara karya sastra dengan masyarakat, walaupun karya sastra tersebut berupa fiksi, namun pada kenyataannya, sastra juga mampu memberikan manfaat yang berupa nilai-nilai moral bagi pembacanya. Sastra selalu menampilkan gambaran hidup dan kehidupan itu sendiri, yang merupakan kenyataan sosial. Dalam hal ini, kehidupan tersebut akan mencakup hubungan antarmasyarakat dengan orang seorang, antarmanusia, manusia dengan Tuhan-Nya, dan antara peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Membahas karya sastra ada beberapa bagian yang muncul antara lain: kurangnya kemampuan pembaca dalam memahami karya sastra yang bersifat kompleks, unik dan tidak langsung dalam mengungkapkannya. Hal ini yang menyebabkan sulitnya pembaca dalam menafsirkan karya sastra. Hal ini sesuai dengan pandapat Nurgiyantoro (1995:323) yang menyatakan bahwa satu penyebab sulitnya dalam menafsirkan karya sastra yaitu dikarenakan novel merupakan sebuah struktur yang kompleks, unik, serta mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung, oleh karena itu, perlu dilakukan suatu usaha kritik terhadap karya sastra

(29)

untuk menjelaskannya dengan disertai bukti-bukti hasil kerja analisis. Sastra berperan sebagai penuntun hidup, hanya saja penuntun hidup itu tersublimasi sedemikian rupa sehingga tidak mungkin bersifat mendikte tentang apa sebaiknya tidak dilakukan di lapangan.

Sastra mampu membentuk watak pribadi secara personal, dan akhirnya dapat pula secara sosial. Sastra mampu berfungsi sebagai penyadar manusia akan kehadirannya yang bermakna bagi kehidupan bagi Sang Pencipta maupun di hadapan sesama manusia.Tidak jarang manusia mengalami kekosongan jiwa, kekacauan berpikir dan bahkan bisa mengalami stres karena tidak mampu mengatasi masalah yang sedang dihadapinya.

Karya sastra dapat berperan untuk membentuk sebagai alat penting bagi pemikir untuk menggerakkan pembaca kepada kenyataan dan menolongnya untuk mengambil keputusan bila mengalami masalah. Selain itu, dewasa ini banyak masyarakat jauh dari sifat-sifat kemanusiaan, lupa terhadap kewajiban hidupnya, bersikap masa bodoh terhadap permasalahan yang terjadi di sekelilingnya. Dalam hal ini melalui karya sastra (novel) diharapkan dapat digunakan untuk menyadarkan masyarakat (pembaca) untuk kembali pada fitrahnya, pada jalan yang benar. Sastra merupakan ekspresi masyarakat. Oleh sebab itu, kemunculan suatu karya sastra erat hubungannya dengan persoalan-persoalan yang muncul pada saat itu. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan sosial memang berpengaruh kuat terhadap

(30)

wujud sastra. Dengan kata lain, karya sastra tersebut adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat.

Di dalam era globalisasi ini, peran sastra sangat berarti. Mengenai hal ini Alwi, (2002: 235) mengemukakan sastra dapat berperan 3 dalam: (1) mendorong dan menumbuhkan nilai-nilai positif manusia, seperti suka menolong, berbuat baik, beriman dan bertakwa; (2) memberi pesan kepada pembaca, khususnya pemimpin, agar dapat berbuat sesuai dengan harapan masyarakat, mencintai keadilan, kebenaran, dan kejujuran; (3) mengajak orang untuk bekerja keras demi kepentingan dirinya, dan ; (4) merangsang munculnya watak-watak pribadi yang tangguh dan kuat.

Peristiwa atau persoalan itu sangat mempengaruhi kejiwaan. Adanya hal demikian, seorang pengarang dalam karyanya menggambarkan fenomena kehidupan yang ada sehingga muncul konflik atau ketegangan batin. Sastrawan, sastra, dan kehidupan sosial merupakan fenomena yang saling melengkapi dalam kedirian masing-masing sebagai sesuatu yang ektensial. Sebuah karya sastra tidak dapat dilepaskan dari pengarang dan kehidupan manusia sebagai produk kelahiran karya sastra, sastra bukan sekadar dari kekosongan sosial, melainkan hasil racikan perenungan dan pengalaman sastrawan dalam menghadapi problema dan nilai-nilai tentang hidup dan kehidupan (manusia dan kehidupan) pengalaman ini merupakan jawaban yang utuh dari jiwa manusia ketika kesadarannya bersentuhan dengan kenyataan.

(31)

Penelitian analisis ilmiah dan karya tulis pada karya sastra memang sudah banyak dilakukan, namun cenderung hanya ditelaah dari sisi struktur dan tekstual semata. Telaah yang demikian, menghasilkan telaah yang belum mencapai makna yang maksimal, dan kurang menyentuh. Dalam menganalisis konteks wacana yang terdapat dalam novel Lontara Rindu Karya S. Gege Mappangewa ini, peneliti mengkhususkan penelitian pada konsep yang berkaitan dengan konteks dalam menganalisis wacana dan unsur-unsur konteks wacana yang terdapat dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa.

Sejak awal 1970-an, para linguis sadar akan pentingnya konteks

dalam menafsirkan berbagai macam kalimat (Arifin dan Rani, 2006: 166).

Konteks merupakan situasi atau latar terjadinya suatu komunikasi (Mulyana, 2005: 21). Konteks sangat menentukan makna suatu ujaran. Bila konteks berubah, berubah juga makna suatu ujaran. Konteks dapat dianggap sebagai sebab dan alasan terjadinya suatu pembicaraan atau dialog. Segala sesuatu yang berhubungan dengan tuturan sangat bergantung pada konteks yang melatarbelakangi peristiwa tuturan itu. Beberapa unsur eksternal yang berkaitan dengan wacana yang diperlukan dalam analisis wacana yakni, praanggapan, implikatur, inferensi, dan unsur-unsur konteks nonverbal wacana terdiri atas setting ’latar’ dan scene ’suasana’, participants’

partisipasi’, ends ’ hasil’, act sequences ’pesan’, keys ’cara’, instrumentalities ’sarana’, norm ’norma’, dan genre’jenis’.

(32)

Secara garis besar, penelitian ini mengemukakan beberapa latar belakang dan alasan penting telaah analisis konteks wacana dalam novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa. Alasan-alasan tersebut meliputi beberapa pertimbangan: Dari sisi sumber data, karya sastra ini tergolong karya sastra yang unik karena alur cerita berupa cerita fiksi namun latar tempat, adat-istiadat, sosial, budaya dan, keyakinan yang berbeda adalah nyata berada di Kabupaten Sidenreng Rappang.

Selain itu, novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa merupakan novel peraih penghargaan terbaik pertama “Lomba Novel Republika 2011 ”, sehingga banyak memperoleh pujian dan komentar positif, sebagaimana yang dikatakan oleh Asma Nadia (penulis 46 buku best seller) bahwa ada kejernihan yang mengharukan, bergantian dengan kelucuan yang menggelitik saat membaca novel Lontara Rindu. Penulisnya berhasil menjalin kisah yang menarik dengan warna lokal yang kuat, dan teknik penceritaan yang nyaris tanpa cela. Novel Lontara Rindu karya S.

Gege Mappangewa ini bertutur tentang hubungan manusia di dalam keluarga dan lingkungannya yang kompleks, terutama karena ada latar belakang adat dan agama yang berbeda dalam novel ini.

Penulis menyadari bahwa warisan budaya nasional atau warisan budaya lokal adalah cermin tingginya peradaban bangsa. Dan salah satu ciri bangsa besar dan maju adalah bangsa yang mampu menghargai dan melestarikan warisan nenek moyang mereka dengan berbagai cara, salah

(33)

satunya adalah melakukan penelitian terhadap karya sastra lokal sekalipun hanya mengkaji sebuah novel yang sarat akan adat-istiadat, sosial dan budaya, hal ini menjadi pertimbangan peneliti untuk melakukan penelitian dengan menganalisis konteks wacana yang terdapat dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa.

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, fokus penelitian ini membahas tentang konteks wacana yang ada dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa.

1. Konteks nonverbal wacana yang terdapat dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa meliputi: (a) setting ’latar’ dan scene ’suasana’, (b) participants’ partisipasi’, (c) ends ’ hasil’, (d) act sequences ’pesan’, (e) keys ’cara’,(f) instrumentalities ’sarana’,(g) norm ’norma’, dan (h) genre’jenis’.

2. Unsur eksternal wacana dalam Novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa meliputi: (a) praanggapan. (b) implikatur, dan (c) inferensi.

3. Pendidikan karakter dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa.

(34)

C. Tujuan Penelitian

Bertolak dari fokus penelitian, tujuan penelitian ini diarahkan untuk mendapatkan penjelasan informasi yang layak dan akurat tentang konteks wacana dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa, yang mencakup:

1. Konteks nonverbal wacana yang meliputi: (a) setting ’latar’ dan scene ’suasana’, (b) participants’ partisipasi’, (c) ends ’ hasil’, (d) act sequences ’pesan’, (e) keys ’cara’,(f) instrumentalities ’sarana’,(g) norm ’norma’, dan (h) genre’jenis’.

2. Unsur eksternal wacana dalam Novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa meliputi: (a) praanggapan. (b) implikatur, dan (c) inferensi.

3. Pendidikan karakter dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis

a. Memperkaya kajian tentang linguistik khususnya pragmatik.

b. Memperkaya kajian tentang konteks wacana yang terdiri atas jenis dan unsur wacana.

c. Memperkaya kajian wacana tradisi dan kehidupan sosial masyarakat lokal khususnya penganut kepercayaan Tolotang yang berada di Sulawesi Selatan.

(35)

2. Manfaat Praktis

a. Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan dapat memotivasi dan memberi ilmu tambahan kepada pembaca agar mendalami sastra lebih mendalam karena dengan membaca saja tidak cukup untuk memahami makna suatu wacana dalam dunia sastra.

b. Bagi tenaga pendidik, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang tepat bagi pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah serta sebagai masukan dalam pengetahuan bahasa khususnya konteks wacana.

c. Bagi siswa, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pendidikan khususnya nilai kehidupan dalam bersikap dan berperilaku.

d. Bagi peneliti lanjut, penelitian ini diharapkan dapat memberi pemahaman tentang konteks wacana dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa dengan baik dan benar serta memberi stimulus bagi peneliti lain untuk mengkaji analisis konteks wacana untuk penelitian lebih lanjut.

E. Definisi Istilah

Istilah dalam penelitian ini akan didefinisikan secara operasional. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat berikut ini.

1. Konteks adalah benda atau hal yang berada bersama teks dan menjadi lingkungan atau situasi penggunaan bahasa.

(36)

2. Konteks wacana adalah teks yang menyertai teks lain. Pengertian hal yang menyertai teks itu meliputi tidak hanya yang dilisankan dan dituliskan, tetapi termasuk pula kejadian-kejadian nonverbal lainnya keseluruhan lingkungan teks itu.

3. Praanggapan merupakan asumsi yang dipikirkan oleh penutur sebelum ia menyampaikan pesan kepada mitratutur atau pendengar.

4. Implikatur berarti sesuatu yang terlibat atau menjadi bahan pembicaraan. Secara struktural, implikatur berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan sesuatu yang diucapkan dengan yang diimplikasikan.

5. Inferensi merupakan proses penarikan simpulan yang digunakan pendengar terhadap ujaran yang disampaikan penutur dan simpulan tersebut ditentukan oleh situasi dan konteks sehingga, pendengar menduga kemauan penutur dan meresponsnya

6. Setting ‘latar’ dan scene ‘suasana’, latar lebih bersifat fisik, meliputi tempat dan waktu terjadinya tuturan. Scene merupakan latar psikis yang mengacu pada suasana psikologis.

7. Participants ‘partisipan’, mengacu pada peserta yang terlibat dalam komunikasi, misalnya penutur dan petutur atau penulis dan pembaca 8. Ends ‘hasil’, yang mengacu pada tujuan dan hasil komunikasi.

9. Act sequences ‘pesan’, mengacu pada bentuk dan isi pesan.

(37)

10. Keys ‘cara’, mengacu pada cara ketika melakukan komunikasi, misalnya komunikasi dilakukan dengan cara yang serius, santai, dan lain-lain.

11. Instrumentalities ‘sarana’, yang mengacu pada sarana yang dipakai dalam menggunakan bahasa, yang meliputi (a) bentuk bahasa yaitu lisan atau tulisan dan (b) jenis tuturannya, yaitu dengan bahasa standar atau dengan dialek tertentu.

12. Norms ‘norma’, yang mengacu pada perilaku partisipan dalam berinteraksi.

13. Genre ‘jenis’, yang mengacu pada tipe-tipe teks seperti dongeng, iklan, dan lain-lain.

14. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang membentuk kepribadian para tokoh dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa melalui pendidikan budi pekerti yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata.

15. Konteks nonverbal yaitu hubungan yang berkaitan dengan hal-hal di luar bahasa.

(38)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Kajian Pustaka

1. Hakikat Novel

Dalam kesastraan dikenal berbagai macam jenis sastra (genre). Sejak Plato dan Aristoteles membagi karya sastra menjadi tiga kategori (Wellek dan Warren, 1989: 300) yakni, puisi, prosa, dan drama, kini ketiga genre sastra tersebut merupakan genre sastra secara garis besar. Menurut Nurgiyantoro (1995:1), dunia kesastraan mengenal prosa (Inggris:prose) sebagai salah satu genre sastra di samping genre-genre yang lain. Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut fiksi (fiction), teks naratif (narrative text) atau wacana naratif (narrative discourse). Istilah fiksi dalam pengertian ini berarti cerita rekaan (disingkat:cerkan) atau cerita khayalan. Bentuk karya fiksi yang berupa prosa adalah novel dan cerpen.

Kata novel berasal dari kata Latin novellas yang diturunkan pula dari kata novies yang berarti baru. Dikatakan “baru” karena jika dibandingkan dengan jenis-jenis sastra lainnya seperti puisi, drama, dan lain-lain, jenis novel ini muncul kemudian (Tarigan, 1987: 164). Dalam sastra Indonesia, pada Angkatan 45 dan seterusnya, jenis prosa fiksi yang disebut roman lazim dinyatakan sebagai novel (Waluyo, 2002: 2). Dengan demikian, untuk

(39)

selanjutnya penyebutan istilah novel di samping mewakili pengertian novel yang sebenarnya, juga mewakili roman.

Novel menurut Stanton (2007:90) mampu menghadirkan perkembangan satu karakter, situasi sosial yang rumit, hubungan yang melibatkan banyak atau sedikit karakter, dan bebagai peristiwa rumit yang terjadi beberapa waktu silam secara lebih merenik. Dengan demikian, dalam novel, pelukiskan tentang perkembangan watak tokoh digambarkan secara lebih lengkap.

Novel menawarkan sebuah dunia imajinatif, yang menampilkan rangkaian cerita kehidupan seseorang yang dilengkapi dengan peristiwa, permasalahan, dan penonjolan watak setiap tokohnya.

Novel (cerita rekaan) dapat dilihat dari beberapa sisi. Jika ditinjau dari panjangnya, novel pada umumnya terdiri atas lima belas ribu hingga empat puluh lima ribu kata. Berdasarkan sifatnya, novel (cerita rekaan) bersifat expands, ‘meluas’ yang menitikberatkan pada complexity. Sebuah novel tidak akan selesai dibaca sekali duduk, hal ini berbeda dengan cerita pendek.

Dalam novel (cerita rekaan) juga dimungkinkan adanya penyajian panjang lebar tentang tempat atau ruang. Sementara itu, menurut Tarigan (1987: 165), jika ditinjau dari segi jumlah kata, biasanya novel mengandung kata-kata yang berkisar antara 35.000 buah sampai tak terbatas. Novel yang paling pendek itu harus terdiri atas 100 halaman dan rata-rata waktu yang dipergunakan untuk membaca novel minimal 2 jam. Lebih lanjut dikemukakan oleh Nurgiyantoro (1995: 11), jika dilihat dari segi panjang cerita, novel (jauh)

(40)

lebih panjang daripada cerpen. Oleh karena itu, novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih rinci, dan lebih banyak melibatkan permasalahan yang lebih kompleks.

Cerita rekaan atau novel adalah salah satu genre sastra yang dibangun oleh beberapa unsur. Sesuai dengan pendapat Waluyo, (2002:

136) bahwa cerita rekaan (dalam hal ini novel) adalah wacana yang dibangun oleh beberapa unsur.

Unsur-unsur itu membangun suatu kesatuan, kebulatan, dan regulasi diri atau membangun sebuah struktur. Struktur dalam novel merupakan susunan unsur-unsur yang bersistem, yang antara unsur-unsurnya terjadi hubungan timbal balik, saling menentukan untuk membangun kesatuan makna.Unsur-unsur itu bersifat fungsional, artinya dicipta pengarang untuk mendukung maksud secara keseluruhan dan maknanya ditentukan oleh keseluruhan cerita itu.

a. Tokoh dan penokohan 1) Tokoh

Tokoh merupakan bagian intrinsik novel yang ikut membangun terwujudnya sebuah fiksi. Aminuddin (2002: 79), tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peritiwa itu mampu menjalin cerita. Berdasarkan funsinya atau penting tidaknya dibagi kehadiran tokoh dalam cerita dibedakan menjadi dua, yaitu tokoh sentral/utama dan tokoh bawahan. Tokoh utama merupakan tokoh yang memegang peranan

(41)

dalam sebuah ceita. Sedangkan tokoh bawahan adalah tokoh yang kurang begitu penting kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya diperlukan untuk menunjang dan mendukung tokoh utama.

2) Penokohan

Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang diambilkan dalam cerita (Nurgiyantoro, 1995:165). Setiap tokoh pasti memiliki watak atau karakter. Watak adalah sifat dan sikap tokoh dalam cerita. Tokoh cerita biasanya mengemban suatu perwatakan tertentu yang diberi bentuk dan isi oleh pengarang. Perwatakan dapat diperoleh melalui tindak tanduk, ucapan atau sejalan tidaknya antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan. Cara pengarang dalam menggambarkan atau memunculkan tokohnya dapat menggunakan berbagai macam cara dan karakter yang beragam.

Perwatakan/karakter dapat dilihat dari:

(a) Cakapan.

(b) Pikiran tokoh.

(c) Stream of consciousness.

(d) Lukisan perasaan tokoh.

(e) Perbuatan tokoh.

(f) Sikap tokoh.

(g) Pandangan tokoh satu kepada tokoh lain.

(h) Lukisan fisik, lukisan datar.

(42)

Stream of consciousness mencakup monolog soliloquy. Monolog adalah cakapan batin yang menjelaskan kejadian-kejadian yang sudah terjadi dan yang sedang terjadi. Soliloquy merupakan cakapan batin yang menjelaskan hal-hal yang akan terjadi.

b. Latar atau Setting.

Latar atau setting cerita mencakup unsur tempat atau ruang, unsur waktu serta unsur suasana. Setiap kejadian akan terjadi dalam suatu tempat dan waktu tertentu. Latar atau tempat sangat penting, yaitu untuk memberikan gambaran kepada pembaca dan menciptakan suasana tertentu yang membuat ceita tampak nyata. Yang termasuk dalam latar yaitu ruang atau tempat, dan waktu.

c.Tema

Tema merupakan gagasan ide, pikiran utama pokok pembicaraan di dalam karya sastra yang dapat dirumuskan dalam kalimat pernyataan. Tema adalah makna yang terkandung dari sebuah cerita, merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan terkandung di dalam teks sebagai struktur semantik dan yang menyangkut persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan (Nurgiyantoro, 1995:67).

Dalam sebuah karya sastra tema kadang tidak dengan mudah ditemukan, karena tak jarang harus melakukan kegiatan membaca dan memahami seluruh bacaan terlebih dahulu untuk menemukan sebuah tema.

Harus memulai pengamatan yang jeli, menghubungkan setiap persoalan

(43)

yang ada, mencari fakta-fakta yang terdapat dalam cerita dan menghubungkannya dengan persoalan, mempelajari karakter-karakter dan sikap para tokoh, dan kemudian baru menyimpulkan tema.

2. Konteks

a. Pengertian Konteks

Sesuai dengan namanya konteks berarti yang berkenaan dengan teks, yakni benda-benda atau hal-hal beserta canda bersama teks dan menjadi lingkungan itu. Menurut Brown dan Yule (1996:70), konteks adalah lingkungan (envirenment) atau keadaan (circum stances) tempat bahasa digunakan. Dapat pula dikatakan bahwa konteks adalah lingkungan teks. Di samping istilah konteks dalam khazanah istilah linguistik Indonesia juga digunakan istilah lingkungan, lingkupan yang sama mempunyai makna yang berbeda karena konteks yang berbeda.

Dardjowidjojo (1985:89) menyebutkan bahwa ada dua lingkungan atau konteks dalam penggunaan bahasa, yakni konteks linguistik dan konteks ekstra linguistik. Dalam wujud dan yang berupa konteks linguistik (berupa unsur bahasa) konteks adalah satuan bahasa (kata, frasa, kalimat atau untaian kalimat) yang mendahului atau yang mengikuti unsur bahasa dalam ujaran. Konteks linguistik tersebut juga diistilahkan dengan konteks, yakni bagian teks yang menjadi lingkungan sebuah teks dalam teks yang sama makna pronomina posesif.

(44)

Konteks sangat penting dalam penentuan makna kata. Sepanjang masalahnya menyangkut konteks verbal (konteks berupa ujaran atau bahasa), hal ini sudah diketahui oleh beberapa pionir di bidang semantik sebagai suatu hal yang fundamental. Misalnya, Darmesteter berbicara tentang berbagai unsur penyatu kalimat yang memodifikasikan makna setiap kata. Begitu pula kutipan-kutipan kalimat dalam perkamusan (leksikografi) diakui sebagai dasar tuntutan oleh penyusun kamus seperti Dr. Johnson, yang menyusun Oxford English Dictionary, dan juga para penyuntingnya yang kemudian menggantikannya. Tetapi, para linguis modern ternyata tidak hanya menempatkan tekanan yang besar terhadap konteks itu, tetapi sudah memperluas sekali ruang lingkupnya dan mempersoalkan lebih dalam lagi ke arah pengaruh konteks terhadap makna kata.

Di samping konteks verbal itu, linguis juga harus menaruh perhatian kepada apa yang disebut konteks situasi. Konteks ini diperkenalkan ke dalam linguistik oleh seorang antropolog Bronislaw Malinowski berdasarkan pengalaman lapangannya tentang bahasa dan kebudayaan penduduk Trobriand Island di Fasifik Selatan. Konteks situasi itu tidak hanya berarti situasi yang sebenarnya tempat ujaran terjadi, tetapi juga rnenyangkut keseluruhan latar belakang budaya di mana peristiwa tutur itu muncul.

Menurut Malinowski, “konsep tentang konteks itu harus menembus ikatan- ikatan yang hanya bersifat kebahasaan dan harus diteruskan kepada analisis terhadap kondisi-kondisi umum yang memayungi ketika hahasa itu

(45)

dituturkan. Studi tentang sesuatu bahasa, yang dipakai oleh orang yang hidup berbeda kondisinya dilakukan dalam hubungan dengan studi tentang kebudayaan dan lingkungan mereka”.

Prinsip ini sangat penting sekali bagi semantik historis. Makna sepenuhnya dan selengkapnya dari sebuah kata dapat ditangkap kembali hanya jika kita tempatkan kata itu dalam konteks budaya pada zaman kata itu hidup. Misalnya, kata Latin rex ‘raja’ tidaklah persis sama maknanya dengan king ‘raja’ dalam bahasa Inggris atau roi ‘raja’ dalam bahasa Prancis, karena rex itu, yang mengacu bentuk monarki pada awal sejarah Romawi, mempunyai konotasi mengerikan dan menjadi lambang tirani: “setelah pengusiran Tarquinius orang Romawi segan mendengar kata ‘raja’ itu, tulis Cicero dalam De Republica.

Konteks budaya itu bahkan lebih relevan untuk memahami sepenuhnya apa yang disebut “kata kunci” (key-word) yang mengikhtisarkan cita-cita suatu peradaban tertentu: misalnya kata cortegiano dari zaman Renaissans Italia, honnete homme dari zaman Prancis abad ke-17, dan kata Inggris gentelman (semua itu kira-kira berarti seorang laki-laki yang memang seharusnya begitu, ‘yaitu jantan’). Kata gentelman kemudian hidup terbesar dalam bahasa Eropa daratan, tetapi ada sedikit perubahan tekanan dan perubahan dalam implikasi nuansa.

Perluasan cakupan konteks ini, baik kebahasaan maupun nonkebahasaan, telah membuka cakrawala baru bagi studi makna. Apa yang

(46)

menjadi tujuan kita ialah “urutan kontekstualisasi atas fakta-fakta, konteks dalam konteks, masing-masingnya menjadi sebuah fungsi, suatu organ dalam konteks yang lebih besar dan semua konteks itu menyatu dalam wujud yang bisa disebut konteks budaya (Sumarsono, 2011:32).

Semantik modern juga mulai memperhatikan lebih cermat terhadap dampak konteks atas makna. Kini cukuplah dikatakan secara singkat beberapa bentuk utama dari dampak itu. Secara umum dapat dikatakan ada dua jenis pengaruh konteks terhadap kata, yaitu yang berpengaruh terhadap kata apa saja, dan yang lebih besar berpengaruhnya terhadap beberapa kata daripada kata yang lain. Tiap kata, tidak peduli betapa tepat dan pasti maknanya, akan menurunkan dari konteksnya suatu kepastian (makna) yang pada hakikatnya hanya dapat muncul dalam ujaran-ujaran yang spesifik. Ini pun berlaku bagi nama diri (proper name), jenis kata yang paling konkret di antara semua jenis kata yang ada.

Nama diri itu mempunyai berbagai aspek, tetapi hanya satu aspek saja yang paling relevan untuk sesuatu situasi tertentu. Misalnya, jika kita berbicara tentang Soekarno, hanya konteks yang akan menunjukkan apakah kita sedang berbicara tentang Presiden pertama RI atau tentang bekas Kepala Kepolisian RI tahun 1960-an, atau tentang Sukarno-Sukarno yang lain. Faktor lain yang sangat bergantung kepada konteks adalah segi emotif makna kata. Pendeknya, tiap kata praktis dapat memperoleh unsur emotif dalam suatu konteks; sebaliknya, ada kata-kata yang mempunyai visi

(47)

emosional yang kuat, kadang-kadang diperlakukan biasa-biasa saja.

Misalnya, dalam bahasa Inggris, kata home dianggap sebagai salah satu kata yang mempunyai nilai emotif tinggi, dipakai dalam banyak konteks, seperti “home sweet home”, “England home and beauty,” dst.; tetapi nilai emosi itu benar-benar dipreteli dalam konteks seperti Home Office, BBC Home Service.

Jenis kekaburan atau keambiguan lain yang kepastian maknanya hanya bisa ditentukan oleh konteks adalah kata-kata yang mempunyai berbagai kemungkinan untuk masuk ke berbagai jenis kata. Hal ini khususnya banyak terjadi pada bahasa Inggris, karena banyak kata yang bisa berpindah dari satu jenis kata ke jenis kata yang lain melalui proses yang disebut konversi.

Seperti yang pernah kita bicarakan di muka, kata down misalnya, bisa masuk ke dalam setidaknya lima jenis kata.

3. Unsur-Unsur Konteks

Konteks nonverbal yaitu hubungan yang berkaitan dengan hal-hal di luar bahasa. Konteks nonverbal meliputi situasi sosial,dan budaya.

Pemahaman konteks situasi dan budaya dalam wacana dapat dilakukan dengan berbagai prinsip penafsiran dan analogi. Prinsip-prinsip tersebut yaitu: prinsip penafsiran personal, prinsip penafsiran lokasional, prinsip penafsiran temporal, dan prinsip analogi (Sumarlam, 2005 : 47-54).

Prinsip penafsiran personal berkaitan dengan siapa sesuangguhnya yang menjadi partisipan di dalam suatu wacana. Dalam hal ini, siapa penutur

(48)

dan siapa mitratutur sangat menentukan makna sebuah tuturan. Prinsip penafsiran lokasional berkenaan dengan penafsiran tempat atau lokasi terjadinya suatu situasi (keadaan, peristiwa, dan proses) dalam rangka memahami wacana. Penafsiran temporal berkaitan dengan pemahaman mengenai waktu. Berdasarkan konteksnya kita dapat menafsirkan kapan atau berapa lama waktu terjadinya suatu situasi (peristiwa, keadaan, proses).

Prinsip analogi digunakan sebagai dasar, baik oleh penutur maupun mitratutur, untuk memahami makna dan mengidentifikasi maksud dari (bagian atau keseluruhan) sebuah wacana. Inferensi adalah proses yang harus dilakukan oleh komunikan (pembaca/pendengar/mitratutur) untuk memahami makna yang secara harfiah tidak terdapat dalam wacana yang diungkapkan oleh komunikator (pembicara/ penulis/ penutur).

Konteks wacana yang mendukung pemaknaan ujaran, tuturan, atau wacana adalah situasi kewacanaan. Situasi kewacanaan berkaitan erat dengan tindak tutur. Sejalan dengan pandangan Dell Hymes (1972) yang menyebut komponen tutur dengan singkatan SPEAKING.

a.Setting ‘latar’ dan scene ‘suasana’, latar lebih bersifat fisik, meliputi tempat dan waktu terjadinya tuturan. Scene merupakan latar psikis yang mengacu pada suasana psikologis.

b. Participants ‘partisipan’, mengacu pada peserta yang terlibat dalam komunikasi, misalnya penutur dan petutur atau penulis dan pembaca.

c. Ends ‘hasil’, yang mengacu pada tujuan dan hasil komunikasi.

(49)

d.Act sequences ‘pesan’, mengacu pada bentuk dan isi pesan.

e.Keys ‘cara’, mengacu pada cara ketika melakukan komunikasi, misalnya komunikasi dilakukan dengan cara yang serius, santai, dan lain-lain.

f.Instrumentalities ‘sarana’, yang mengacu pada sarana yang dipakai dalam menggunakan bahasa, yang meliputi (1) bentuk bahasa yaitu lisan atau tulisan dan (2) jenis tuturannya, yaitu dengan bahasa standar atau dengan dialek tertentu.

g. Norms ‘norma’, yang mengacu pada perilaku partisipan dalam berinteraksi.

h.Genre ‘jenis’, yang mengacu pada tipe-tipe teks seperti dongeng, iklan, dan lain-lain (dalam Mulyana, 2005: 23).

Berikut ini adalah contoh kedelapan unsur konteks wacana yang telah disebutkan di atas.

“Pukul enam sore, Desa Sukamaju sudah tampak sunyi seperti kuburan. Terpaksa aku menutup pintu rumah. Masuk, dan tiduran.

Aku terbangun jam tiga pagi dan mendengar suara gaduh di dapur. Ternyata aku melihat Ibu sudah sibuk mempersiapkan barang dagangan.

“Ibu masak apa untuk dijual hari ini?” tanyaku pada ibu.

“Masak sayur asem dan sayur lodeh, Nak” jawab ibu.

“Semoga dagangan ibu hari ini laku terjual habis, ya Bu!”

“Amin. Nak, kamu iarus belajar yang rajin ya agar jadi orang yang sukses.”

“Iya, saya akan belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat mewujudkan keinginan ibu. Doakan saya selalu ya, Bu”.

“Iya, Nak, di setiap doa ibu selalu teserta namamu”.

(50)

Pada contoh dating aspek setting tempat terlihat pada kata Desa Sukamaju dan dapur. Setting waktu terlihat pada jam tiga pagi. Kemudian partisipannya adalah ibu dan anak. Tujuan akhir pembicaraan ends ditujukan oleh perkataan ibu terhadap anaknya yang menginginkan anaknya itu sukses di masa depan.

Act atau bentuk pesan yang ada pada contoh tersebut adalah bentuk nasihat. Selanjutnya, cara (key) yang ditunjukkan adalah pembicaraan yang serius dengan sarana (instrumentalities) lisan. Pesan yang disampaikan si ibu adalah norma yang halus. Genre atau jenis contoh di atas adalah jenis fiksi prosa.

4. Unsur Eksternal Konteks Wacana

Unsur eksternal (unsur luar) wacana adalah sesuatu yang menjadi bagian wacana, namun tidak nampak secara implisit. Sesuatu itu berada di luar satuan lingual wacana atau sering disebut unsur ekstralinguistik wacana.

Kehadirannya berfungsi sebagai pelengkap keutuhan wacana.

Unsur-unsur eksternal ini terdiri atas praanggapan, implikatur, dan inferensi. Analisis dan pemahaman terhadap unsur-unsur tersebut dapat membantu pemahaman tentang suatu wacana.

a. Praanggapan

Brown dan Yule (1996:43) menyatakan bahwa praanggapan atau presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. Yang memiliki presupposisi

(51)

adalah penutur bukan kalimat. Cummings (2005:42) menyatakan bahwa praanggapan adalah asumsi-asumsi atau inferensi-inferensi yang tersirat dalam ungkapan-ungkapan linguistik tertentu.

Dari definisi praanggapan di atas dapat disimpulkan bahwa praanggapan adalah kesimpulan atau asumsi awal penutur sebelum melakukan tuturan bahwa apa yang akan disampaikan juga dipahami oleh mitratutur. Ada beberapa Jenis praanggapan yaitu; Praanggapan Eksistensial, Praanggapan Faktif, Praanggapan Nonfaktif, Praanggapan Leksikal, Praanggapan Struktural, dan Praanggapan Konterfaktual.

1). Praanggapan Eksistensial

Praanggapan eksistensial adalah praanggapan yang mengasosiasikan adanya suatu keberadaan. Penyebab praanggapan ini tidak hanya diasumsikan terdapat dalam susunan posesif.

Misalnya: “Mobil Anda berarti „Anda punya Mobil )

Tetapi juga lebih umum dalam frasa nomina tertentu. Dalam pemakaian pembicara diasumsikan terlibat dalam hal-hal yang disebutkan.

“ Yacht itu milik Anda, bukan?” (Liye, Tere, 2013 : 74)

Contoh tersebut mengandung praanggapan eksistensial yaitu ada sebuah Yacht. Frasa nomina „yacht itu mempraanggapan keberadaan sebuah yacht di suatu tempat.

(52)

2). Praanggapan Faktif (PF)

Praanggapan faktif merupakan praanggapan yang mengikuti kata kerja yang dapat dianggap sebagai suatu kenyataan. Sejumlah kata kerja seperti

„tahu , „menyadari , dan „sadar memiliki praanggapan faktif.

Contoh: Maggie : “Tidak selalu. Kami tidak hanya menulis berita sesuai fakta yang ada. Secara prinsip demikian, tapi kenyataannya, kami selalu bisa memasukkan opini di dalam berita tersebut.Thomas sudah memberikan opininya. Kita telah mendengarnya.

Pendapatnya jelas tidak relevan karena dia berkepentingan, tapi boleh jadi memiliki kebenaran. Aku juga berhak memiliki opini, dan aku memilih mempercayai Thomas. Terlalu naïf jika penangkapan ini tidak ada kaitannya dengan konvensi partai. Kita semua bebas- bebas saja memiliki pendapat yang berbeda.” (Liye, Tere, 2013, hlm. 142).

Tuturan tersebut mempraanggapan bahwa pada kenyataannya seorang wartawan selalu memasukkan opininya di dalam sebuah berita, dalam kasus ini, Maryam sebagai wartawan melakukan hal tersebut di atas.

3). Praanggapan Leksikal (PL)

Praanggapan leksikal merupakan praanggapan yang dalam pemakaian suatu bentuk dengan makna yang dinyatakan secara konvensional ditafsirkan dengan praanggapan lain (yang tidak dinyatakan) yang dipahami. Dalam Praanggapan leksikal, pemakaian ungkapan khusus oleh penutur diambil untuk mempraanggapkan sebuah konsep lain (tidak dinyatakan), sedangkan pada kasus praanggapan faktif, pemakaian ungkapan khusus diambil untuk mempraanggapkan kebenaran informasi yang dinyatakan setelah itu.

(53)

Contoh: Theo : “Dalam lima hal, empat di antaranya dia memiliki kesamaan denganmu, Thomas. Namanya Lee―aku tidak tahu nama lengkapnya. Dia juga tidak terkalahkan. Penerus salah satu konglomerasi terbesar di Hong Kong. Pemilik banyak gedung dan bisnis properti di kawasan Asia Pasifik, terutama Hong Kong dan Makau.” (Liye, Tere, 2013, hlm.16).

Maksud dari kalimat ini menyatakan bahwa Lee „lawan main Thomas adalah seorang petarung yang tidak pernah kalah ketika bertanding, artinya kejadian ini sudah terjadi di pertandingan-pertandingan sebelumnya karena Lee selalu memenangkan pertandingan dan tidak pernah terkalahkan. Jadi tuturan yang dituturkan Theo di atas merupakan bentuk praanggapan leksikal.

4). Praanggapan Struktural (PS).

Dalam praanggapan struktural, struktur kalimat telah dianalisis sebagai praanggapan secara tetap dan konvensional bahwa bagian struktur itu sudah diasumsikan kebenarannya. Penutur diasumsikan dapat menggunakan struktur-struktur yang sedemikian untuk memperlakukan informasi seperti yang diprasangkakan dan dari sinilah kebenarannya dapat diterima oleh penutur.

Contoh: Maggie : “Baik, akan kukatakan demikian. Satu lagi, dan ini

penting, Thomas, wartawan dari review mingguan politik itu kembali menghubungi, kapan kau ada waktu untuk wawancara?”

(Liye, Tere, 2013, hlm. 24).

Kata tanya ‘kapan’ dalam tuturan tersebut mengasumsikan bentuk jawaban yang mengiringi praanggapan. Praanggapan ini dapat menuntun

(54)

penutur untuk memercayai bahwa informasi yang diberikan itu benar, bukan sekadar praanggapan seseorang yang sedang bertanya. Jadi, tuturan di atas termasuk ke dalam jenis praanggapan struktural karena tuturan tersebut sudah diasumsikan kebenarannya.

5). Praanggapan NonFaktif (PNF)

Praanggapan nonfaktif merupakan suatu praanggapan yang diasumsikan tidak benar. Kata-kata kerja seperti „bermimpi, membayangkan, dan berpura-pura digunakan dengan praanggapan yang mengikutinya tidak benar.

Contoh: Thomas : “Kau bisa mengarang yang lebih baik lagi, Meg. Aku sedang terapi kesehatan. Kau bisa bilang ekor di pantatku tumbuh semakin panjang, misalnya.” (Liye, Tere 2013, hlm. 24).

Kata mengarang dalam kutipan tersebut dapat diartikan sebagai sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi atau hanya angan-angan penutur saja yakni angan-angan tokoh Thomas yang menyuruh Maggie mengarang cerita kepada orang lain jika ada yang bertanya tentang dirinya.

Jadi, tuturan di atas termasuk ke dalam jenis praanggapan nonfaktif karena tuturan tersebut merupakan asumsi yang tidak benar-benar terjadi.

6. Praanggapan Konterfaktual (PKF)

Praanggapan konterfaktual berarti bahwa apa yang dipraanggapkan bukan hanya tidak benar, melainkan kebaikan dari benar atau tidaknya dengan kenyataan.

(55)

Thomas : “Anda sepertinya lebih cocok menjadi motivator, atau guru, bahkan seorang juru selamat, bukan seorang politikus.”

Penanya (wartawan) : “Eh, tidak cocok? Maksud Anda, Tuan Thomas?” (Liye, Tere, 2013, hlm. 26).

Kata ‘sepertinya’ di atas bertolak belakang dari kenyataan, artinya apa yang diucapkan Thomas di atas kenyataannya bertolak belakang dengan kondisi yang sebenarnya. Kenyataannya penanya yang bertanya bukanlah seorang motivator, guru, ataupun juru selamat melainkan ia seorang politikus sebab konferensi itu merupakan konferensi politik sehingga peserta yang hadir pun pastinya adalah orangorang yang berkiprah dalam dunia politik.

Jadi, kalimat tersebut untuk mempraanggapkan sesuatu yang tidak benar atau bertolak belakang dari kenyataan.

b. Implikatur

Konsep implikatur pertama kali dikenalkan oleh Grice (1991) untuk memecahkan persoalan makna bahasa yang tidak dapat diselesaikan oleh teori semantik biasa. Implikatur dipakai untuk memperhitungkan apa yang dimaksud oleh penutur berbeda dari apa yang dinyatakan secara harfiah (Brown dan Yule, 1996:31).

Dalam lingkup analisis wacana, implikatur berarti sesuatu yang terlibat atau menjadi bahan pembicaraan. Secara struktural, implikatur berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan sesuatu yang diucapkan dengan yang diimplikasikan (Mulyana, 2005: 11).

(56)

Grice (dalam Mulyana, 2005: 12) menyatakan, ada dua macam implikatur, yaitu implikatur konvensional dan implikatur percakapan.

Implikatur konvensional ditentukan oleh arti konvensional kata-kata yang dipakai. Semua orang umumnya sudah mengetahui tentang maksud atau pengertian hal tertentu, misalnya:

“Dia orang Medan, oleh karena itu dia bicara lantang.”

Contoh tersebut tidak secara langsung menyatakan suatu ciri (bicara lantang) disebabkan oleh ciri lain (jadi orang Medan), tetapi bentuk ungkapan yang dipakai secara konvensional berimplikasi bahwa hubungan seperti itu ada. Kalau individu yang dimaksud itu orang Medan dan tidak bicara lantang, implikaturnya yang keliru, tetapi ujarannya tida salah. Sementara itu, implikatur percakapan muncul dalam satu tindak percakapan dan bersifat temporer (terjadi saat berlangsungnya tindak percakapan), berikut contohnya.

Ibu: Rani, adikmu belum pulang.

Rani: Ya, Bu. Saya ambil jaket dulu.

Percakapan Ibu dan Rani tersebut mengandung implikatur yang bermakna “perintah menjemput”. Tuturan itu berbentuk kalimat perintah. Ibu hanya memberitahukan “adik belum pulang”. Namun, Rani dapat memahami implikatur yang disampaikan ibunya, ia menjawab dan siap untuk melaksanakan perintah ibunya.

Implikatur percakapan mengutip prinsip kerja sama atau kesepakatan bersama untuk dapat menggunakan bahasa secara berhasil dan berdaya

(57)

guna. Dalam penerapannya, prinsip kerja sama ditopang oleh seperangkat asumsi yang disebut bidal-bidal kesepakatan atau maksim. Grice (1991:309) menyatakan bahwa percakapan akan mengarah pada penyamaan unsur- unsur pada transaksi kerja sama yang semula berbeda. Penyamaan tersebut dilakukan dengan jalan: (1) menyamakan jangka tujuan pendek, meskipun tujuan akhirnya berbeda atau bahkan bertentangan, (2) menyatukan sumbangan partisipasi sehingga penutur dan mitratutur saling membutuhkan, dan (3) mengusahakan agar penutur dan mitratutur mempunyai pengertian bahwa transaksi berlangsung dengan suatu pola tertentu yang cocok, kecuali bila bermaksud hendak mengakhiri kerja sama.

Dalam rangka memenuhi keperluan tersebut, Grice menyatakan teori tentang aturan percakapan atau maksim yang dipandang sebagai prinsip/dasar kerja sama. Prinsip kerja sama tersebut yakni berikanlah sumbangan Anda pada percakapan sebagaimana yang diperlukan sesuai dengan tujuan atau arah pertukaran pembicaraan yang Anda terlibat di dalamnya (Grice 1991:45). Prinsip tersebut mengharapkan para penutur untuk menyampaikan ujarannya sesuai dengan konteks terjadinya peristiwa tutur, tujuan tutur dan giliran tutur yang ada. Prinsip kerja sama tersebut, ditopang oleh maksim-maksim percakapan (maxim of conversation), yaitu : maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi,maksim cara.

1) Maksim Kuantitas (The Maxim of Quantity)

(58)

Di dalam maksim kuantitas, seorang penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup, relatif memadai, dan seinformatif mungkin sesuai yang dibutuhkan. Informasi demikian itu tidak boleh melebihi informasi yang sebenarnya dibutuhkan petutur. (Grice, 1991) Memberikan jumlah informasi yang tepat, yaitu :

a. Sumbangan informasi Anda harus seinformatif yang dibutuhkan.

b. Sumbangan informsi Anda jangan melebihi yang dibutuhkan.

Contoh [1]:

A : “Apa judul tugas analisis wacana kamu? (1)

B : “ Penggunaan bahasa Indonesia dalam Wacana Politik di Media Massa”.

Contoh (2)

B : “ Menggunakan analisis wacana kritis (AWK) siapa?” (3) A : “ Fairclough.” (4)

Pada wacana [1] B menyampaikan informasi sesuai yang diminta oleh A. Inisiasi A dengan tuturan (1) dan (3) direspons dengan informasi yang memadai oleh B dengan tuturan (2) dan (4). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dalam wacana [1] para peserta tutur telah menaati maksim kuantitas, yakni submaksim pertama. Para peserta tutur dalam sebuah interaksi menaati maksim kuantitas dengan tujuan agar informasi yang disampaikan dapat dipahami oleh mitratuturnya dengan jelas agar tidak terjadi salah paham.

2) Maksim Kualitas (The Maxim of Quality)

(59)

Dengan maksim kualitas peserta tutur diharapkan untuk tidak mengatakan sesuatu yang tidak benar dan tidak mengatakan sesuatu yang bukti kebenarannya kurang meyakinkan. (Grice, 1991).

Contoh [4] :

G : Andi, kamu sudah mengerjakan tugas? (9) A : Sudah, Pak! (10)

G : Apa kamu punya kesulitan? (11) A : (soal) Nomor 4, Pak. (12)

G : Coba, bapak lihat! (13) A : Ini, Pak. (14)

Pada wacana [4] di atas, Andi telah memberikan informasi yang benar kepada gurunya. Kebenaran informasi yang disampaikan Andi dapat dilihat dari koherensi tuturan-tuturannya. Pada tuturan (10) Andi menyatakan bahwa ia telah mengerjakan tugas. Hal ini didukung oleh pengetahuannya tentang soal yang sulit (tuturan 12) dan dibuktikan dengan hasil kerjanya (tuturan 14).

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Andi telah menaati maksim kualitas, submaksim pertama. Dalam komunikasi apabila seseorang tidak memberikan informasi yang benar, maka orang tersebut melanggar maksim kualitas, baik submaksim pertama (tidak memberikan informasi yang diyakini salah) maupun submaksim kedua (tidak memberikan informasi yang tidak didukung oleh bukti yang cukup).

3) Maksim Hubungan atau Relevansi (The Maxim of Relevance)

(60)

Di dalam maksim hubungan atau relevansi, dinyatakan bahwa agar terjalin kerja sama yang baik antara penutur dan petutur, masing-masing hendaknya dapat memberikan kontribusi yang relevan tentang sesuatu yang sedang dipertuturkan itu. (Grice, 1991).

Contoh: (6) H : Nama? (19) S : Suparmin. (20) H : Alamat? (21)

S : Sawojajar, Malang. (22) H : Pekerjaan? (23)

S : Swasta. (24)

Pada wacana [6] di atas, saksi (S) memberikan informasi yang relevan dengan inisiasi yang diberikan oleh hakim (H). tuturan S (20), (22), dan (24) selalu relevan dengan inisiasi H (19), (21), dan (23). Bertutur dengan tidak memberikan jawaban atas tuturan yang disampaikan dianggap tidak mematuhi dan melanggar prinsip kerja sama.

Contoh: (7)

A : Aku lapar sekali, lebih baik kita makan dahulu yuk! (25) B : Wah, kasihan sekali Nenek itu. (26)

B menentang maksim hubungan atau relevansi dengan menjawab pertanyaan yang tidak berhubungan dengan tentang ujaran A.

4) Maksim Cara (The Maxim of Manner)

Referensi

Dokumen terkait

data (11) menanyakan unsur inti atau predikat. Deskripsi Makna Kalimat Tanya dalam Wacana Novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Karya Muhidin M. Kalimat tanya mempunyai

Novel tidak hanya salah satu bentuk dari karya sastra yang dilihat dari segi keindahan ceritanya saja, tetapi juga sarat akan nilai kebaikan, kebenaran, dan makna

2) Lapisan Kelas Menengah Dalam novel Memang Jodoh karya Marah Rusli yang termasuk dalam lapisan kelas menengah adalah Burhan, sepupu Hamli. Golongan menengah

Sumber data yang mendasari dalam melakukan penelitian ini adalah teks cerita novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi.. Novel ini diterbitkan

Secara makna konotasi, long beaked mask dalam novel Inferno karya Dan Brown ini semaknai sebagai benda yang menakutkan yang berarti kematian yang selalu

Hasil penelitian ini menemukan delapan unsur konteks dalam novel Selembar Itu Berarti karya Suryaman Amipriono, yaitu (1) latar (setting dan scene) ditemukan sebanyak empat

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan mendeskripsikan formasi ideologi dalam novel terjemahan Yang Maha Kecil karya Arundhati Roy,serta melihat hubungannya dengan

2) Lapisan Kelas Menengah Dalam novel Memang Jodoh karya Marah Rusli yang termasuk dalam lapisan kelas menengah adalah Burhan, sepupu Hamli. Golongan menengah