• Tidak ada hasil yang ditemukan

Unsur Eksternal Wacana dalam Novel Lontara Rindu Karya S. Gege Mappangewa

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Penyajian Hasil Analisis Data

2. Unsur Eksternal Wacana dalam Novel Lontara Rindu Karya S. Gege Mappangewa

a. Praanggapan

1). Praanggapan Eksistensial Data 11

“Hei, mau kau bawa ke mana kerbau-kerbauku?”

(LR, 2012:217)

Situasi percakapan:

Percakapan di atas terjadi menjelang sore hari, saat Pak Amin masih kecil dan ibunya mau menggiring kerbau-kerbau itu pulang ke kandang, ternyata dari arah yang juga tidak jauh dari tempatnya duduk berteduh di

bawah pohon, seseorang datang menegurnya, Pak Amin dan ibunya salah mengambil kerbau. Yang mereka ambil adalah kerbau orang lain.

Analisis:

Praanggapan eksistensial adalah praanggapan yang mengasosiasikan adanya suatu keberadaan dan wacana di atas adalah wacana eksistensial yaitu ada seekor ‘kerbau’. ‘kerbau’ mempraanggapan keberadaan seekor

‘kerbau’ di suatu tempat, yakni di Tonronge. Tonronge adalah tanah yang sudah tidak ditanami padi, hanya kerbau-kerbau warga yang dipelihara di Tonronge.

Data 12

“Ayahku juga bugis?”

(LR, 2012:118) Situasi percakapan:

Percakapan itu terjadi antara Vito dengan kakeknya. Kakek terus menasehati Vito agar kuat dan jangan bersedih, kakek mengatakan pada Vito bahwa lelaki Bugis tak berpantang menangis, tetapi saat menangis tidak boleh ada yang berubah. Harus tetap tegar. Mendengar ungkapan kakeknya, Vito bertanya balik “Ayahku juga Bugis?”

Analisis:

Praanggapan tidak hanya mengasosiasikan keberadaan, akan tetapi lebih umum dalam frasa nomina tertentu. Dalam pemakaian pembicara diasumsikan terlibat dalam hal-hal yang disebutkan. Ketika kakek

mengatakan lelaki Bugis berpantang menyerah, Vito pun langsung mengatakan “Ayahku lelaki Bugis?”. Jika Vito Bugis artinya ayahnya adalah Bugis. Itu termaksud dalam praanggapan eksistensial. Hal itu termasuk cara Vito mencari informasi akan siapa dan di mana keberadaan ayah kandungnya.

Data 13

“Bu Maulindah berhenti mengajar.”

(LR, 2012:125) Situasi percakapan:

Kutipan percakapan tersebut terjadi antara Irfan dan Pak Amin, ibu Maulindah berhenti mengajar karena akan melanjutkan pendidikannya di Jepang. Alif yang tidak mengetahui informasi tersebut ditarik tangannya oleh Pak Amin menaiki motor dan melintasi jalan berbatuan menuju Kota Kecamatan, berharap dapat bertemu dengan ibu Maulindah yang telah meninggalkan sekolah.

Analisis:

Kutipan wacana tersebut mengandung wacana eksistensial umum, jika ibu Maulindah “berhenti mengajar” maka praanggapan eksistensialnya adalah ibu Maulindah adalah seorang guru, seorang guru yang berhenti mengajar.

Data 14

“Itu sana sawah ayahmu, cepat patok! Jangan sampai ada yang mengakui sebagai tanahnya.”

(LR, 2012:204) Situasi percakapan:

Kutipan wacana terjadi di Tonronge, tempat sawah keluarga Pak Amin, setelah isu adanya emas beredar,Tonronge yang gersang dan tidak pernah diperhatikan oleh pemilikya ramai bagaikan pasar. Warga bergantian datang untuk memberi tanda, dipatok bahkan diberi kawat berduri agar orang lain tidak mengambil lahan mereka. Pak Amin berada di tempat itu karena tidak ingin mengecewakan ayahnya yang juga percaya akan keberadaan emas di Tonronge.

Analisis:

Pada kutipan wacana tersebut dikandung praanggapan eksistensial, yang mengasosiasikan adanya keberadaan. “Itu sana sawah ayahmu, cepat patok” keberadaan sawah tersebut di Tonronge, dan menunjukkan hak milik dari ayahnya Pak Amin dan bukan orang lain.

2). Praanggapan Faktif (PF) Data 15

“Saya juga tak tahu. Mungkin saya akan ke tempat pertama kita bertemu. Berdiam diri di sana sampai orang mengenalku sebagai orang gila. Saya rela, daripada harus menerima tawaranmu…”

(LR, 2012:186)

Situasi percakapan:

Halimah terluka bukan karena Ilham tidak mencintainya melainkan, karena dari awal pertemuan Ilham menyembunyikan statusnya yang menganut kepercayaan Tolotang sehingga Halimah beranggapan mereka menganut kepercayaan yang sama. Pesan cinta yang damai saling menghargai, dan menyayangi dalam mengarungi hidup dan kehidupan ini ternyata begitu sulit tercapai. Hakikat cinta yang semestinya dirasakan manusia sebagai karunia Tuhan justru menjadi malapetaka ketika manusia merusak nilai cinta itu sendiri. Terlebih jika mereka berpandangan bahwa mencintai berarti harus memiliki. Mencintai harus menodai kesucian diri maupun orang yang dicintai. Kejujuran adalah modal utama dalam menjalani sebuah hubungan, hal inilah yang tidak dimiliki oleh Ilham sehingga saat Halimah mengambil keputusan yang besar, bukan kebahagiaan yang didapatnya melainkan penyesalan.

Hakikat cinta yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai agama, mengangkat harkat kemanusiaan, dan mengedepankan akhlak terpuji, seringkali ternoda oleh nafsu berlumur dosa. Akhirnya, cinta dan nafsu pun berjalan seiring, tanpa ada pembatas. Cinta yang begitu dalam membuat Ilham mengambil keputusan salah yakni mengajak Halimah kawin lari.

Cinta yang semacam itulah yang harus dihindari dari para remaja, pelajar dan mahasiswa saat ini. Agar tidak terpuruk masa depannya. Cinta itu karunia, fitrah. Berbahagialah orang yang telah dirahmati cinta. Sengsaralah

orang yang tidak memiliki cinta. Dan celakalah orang yang mempermainkan cinta dengan sesuatu yang berbau maksiat.

Analisis:

Tuturan tersebut mempraanggapan bahwa Halimah menebak bagaimana masa depannya jika harus meninggalkan kepercayaannya selaku pemeluk agama Islam. Halimah memilih gila daripada mengikuti tawaran Ilham untuk menganut Tolotang. Apa yang dikatakan oleh Halimah berpotensi menjadi kenyataan sebab Halimah baru mengetahui bahwa Ilham berasal dari keluarga Tolotang, tetapi untuk kembali ke rumahnya itu hal yang mustahil. Hal ini pula yang akan menjadi jurang pemisah di antara keduanya, karena Ilham tidak akan diakui sebagai anak dan keluarga Tolotang jika tetap bersama Halimah. Dalam novel ini diceritakan banyaknya ajaran agama yang menyimpang dengan ajaran Islam di antaranya ritual yang masih menganggap bahwa upacara di makam mendatangkan sesuatu berkah.

Data 16

“Sebetulnya tidak dicuri tetapi dirusak! Nilainya pun tak seberapa, tapi cara mencurinya yang profesional, membuat saya yakin bahwa ada orang yang mem-back up aksi ini”.

(LR, 2012:260) Situasi percakapan:

Kutipan cerita tersebut terjadi saat Pak Saleng datang ke sekolah menemui Pak Bahtiar selaku kepala sekolah. Pak Saleng marah dan telah mengetahui bahwa siswa-siswa Pak Aminlah yang telah merusak ballonya.

Analisis:

Tuturan tersebut mempraanggapan bahwa ada beberapa anak yang telah merusak ballonya dan ada yang mendalangi semua itu. praanggapan tersebut mengikuti kata kerja yang dianggap sebagai suatu kenyataan. Meski tidak mencuri, beberapa anak yang dicurigai Pak Saleng telah merusak ballo miliknya.

Data 17

“Awas kena parang, jangan duduk di depan ayah!”

(LR, 2012:112)

Situasi percakapan:

Percakapan tersebut terjadi pada saat Vito masih kecil. Ayahnya membuat gasing agar Vito bisa bermain dengan adiknya Vino. Vito berusaha mengingat kembali kenangan masa kecilnya dengan sang ayah.

Analisis:

Kutipan di atas merupakan praanggapan faktif yang dianggap sebagai suatu kenyataan. Kata “awas” dan “jangan” menegaskan bahwa pekerjaan yang dilakukan ayah Vito berbahaya dan anak kecil tidak boleh mendekat.

Meski belum terkena dampak dari larangan tersebut, Vito sangat berpeluang terkena parang jika duduk di depan ayahnya yang sedang membuat gasing.

Sebelum hal itu terjadi, Vito telah mendapat peringatan dari ayahnya.

3). Praanggapan Leksikal (PL) Data 18

“Bu Maulindah sebenarnya kagum dengan kepintaran Vito bercerita. Paling jago ngarang cerita. Selalu punya alasan yang membuat temannya terpesona sekaligus membuat Bu Maulindah menyembunyikan senyum karena tak ingin dianggap luluh di depan Vito”

(LR, 2012:14) Situasi percakapan:

Situasi di atas terjadi saat Vito lagi-lagi terlambat padahal rumahnya dekat dengan sekolah. Ibu Maulindah sebenarnya kagum dengan kepintaran Vito bercerita, apalagi mengarang cerita jika terlambat, karena itu ibu Maulindah selalu menghukum Vito dengan menyuruhnya bercerita sebelum duduk mengikuti pelajaran.

Analisis:

Maksud dari kalimat ini menyatakan bahwa, Vito paling pandai mengarang cerita dalam kelas. Vito selalu punya alasan agar selamat dari hukuman ibu Maulindah. Artinya kejadian seperti yang dialami Vito sudah terjadi pada pertemuan-pertemuan pembelajaran lainnya. Ketika terlambat Vito selalu bisa menarik perhatian guru dan teman-temannya sehingga tuturan di atas adalah bentuk praanggapan leksikal karena merupakan praanggapan yang dalam pemakaiannya dinyatakan secara konvensional dan ditafsirkan dengan praanggapan lain yang dipahami.

Data 19

“Saya sudah puluhan tahun jual-beli kambing, sapi, dan kerbau. Tinggal unta saja yang belum pernah saya beli. Baru kali ini saya mendapatkan kerbau yang susah sekali dinaikkan ke truk.”

(LR, 2012:33) Situasi percakapan:

Dalam novel Lontara Rindu, meskipun Pakka Salo merupakan kampung yang akses jalannya belum diaspal, PLN belum beroperasi akan tetapi, mata pencaharian masyarakat Pakka Sallo sangat beragam. Pak Amin dan ibu Maulindah berprofesi sebagai guru, ada petani, ada yang bertani jambu mete, ada yang menjual dan membeli kerbau dan ada pula menjual ballo untuk menutupi biaya hidup yang semakin bertambah.

Analisis:

Pernyataan pertama, Pak Saleng sudah puluhan tahun jual-beli kambing, sapi, dan kerbau, praanggapan pertama, unta saja yang belum ia beli, praanggapan kedua, baru kali ini ada kerbau susah dinaikkan ke dalam truk. Praanggapan Pak Saleng adalah kalaupun Pak Saleng harus membeli unta meski sekali tentu akan mudah baginya memasukkan ke dalam truk apalagi dengan kerbau yang bertahun-tahun telah dilakoninya. Padahal saat membeli unta tidak bisa ditarik simpulan apakah akan mudah untuk memasukkannya dalam truk. Praanggapan tersebut merupakan praanggapan leksikal yang bentuk dan maknanya dinyatakan secara konvensional

ditafsirkan dengan praanggapan lain yang dipahami. Pemakaian ungkapan khusus diambil untuk mempraanggapankan sebuah konsep lain.

4). Praanggapan NonFaktif (PNF) Data 20

“Pokoknya kita harus bersatu! Jangan sampai ada yang diberi iming-iming harga tinggi lalu menjualnya. Akan lebih menguntungkan kalau kita sendiri yang mengelolanya. Ndak usah takut! Saya akan mengajari kalian cara menambang. Saya pernah ikut menambang di Sulawesi Tenggara beberapa bulan yang lalu,waktu terdengar kabar ada tambang emas ditemukan di sana. Bayangkan dalam satu hari saya bisa dapat dua kilogram emas.”

(LR, 2012:206)

Situasi percakapan:

Kutipan cerita di atas terjadi di pematang sawah. Pak Amin pun berada di sawah itu dan mendengarkan pembicaraan warga. Setiap hari Tonronge ramai bak pasar. Petakan sawah yang dulunya gersang dan tak dilirik pemiliknya, kini telah dibatasi dengan patok bahkan dipagari kawat berduri.

Warga berkumpul untuk bersatu agar warga lain tidak menjual tanahnya dengan harga murah. Mereka bahkan sepakat akan melawan pemerintah jika dipersulit dalam hal pembuktian adanya emas di Tonronge.

Analisis:

Maksud kalimat tersebut menyatakan bahwa Tonronge adalah tanah yang kemungkinan besar ada kadar emasnya. Karena adanya kandungan emas itulah warga tidak boleh menerima iming-iming dari orang lain,

praanggapan lainnya adalah daripada orang lain yang mengelola tanah tersebut sebaiknya warga setempat yang mengelolanya. Untuk bisa mengelola tanah Tonronge dibutuhkan keahlian karena itu ada salah satu warga yang pernah menjadi penambang akan mengajari warga lainnya.

Dalam praanggapan leksikal pemakaian ungkapan khusus oleh penutur diambil untuk mempraanggapkan sebuah konsep lain.

Data 21

“Ini situasinya darurat. Bayangkan kalau gurunya tahu dia bohong, bukan hanya dia, tetapi saya sebagai kakeknya dan kamu sebagai mamanya akan ikut dipermalukan.”

(LR, 2012:23)

Situasi percakapan:

Kakek Vito sangat mengenal karakter Pak Amin yang merupakan guru penjaskes Vito. Setiap Pak Amin marah, dia selalu mengancam siswanya seperti itu. Lari keliling sekolah, lompati tembok sekolah, terus lempari pohon kelapa yang ada di belakang sekolah sampai buahnya berjatuhan.

Analisis:

Praanggapan pertama, ‘Jika gurunya tahu Vito berbohong’, sedangkankan praanggapan kedua, ‘Bukan hanya Vito, melainkan Kakek dan Ibunya pun akan dipermalukan’. Kata berbohong memberi arti bahwa Vito tidak akan dipermalukan karena kebenarannya tidak diketahui oleh Pak Amin. Kakek berpraanggapan demikian kepada Pak Amin dan itu sesuai

dengan apa yang diyakini Vito. Kalimat yang dipakai oleh kakek Vito bukannya tidak wajar atau sesuai, hanya saja apa yang dilakukan oleh kakek tidak sesuai dengan tindakan Pak Amin saat mengetahui Vito berbohong.

Jujur merupakan harga yang tidak bisa ditawar. Jujur berarti pantang untuk berbohong apa pun resikonya. Kejujuran inilah yang harus ditanamkan ke dalam dunia pendidikan agar menjadi pegangan dalam mengolah pendidikan itu sendiri yang merupakan jantung berbangsa dan bernegara. Sehingga benarlah bahwa praanggapan leksikal adalah pemakaian ungkapan khusus oleh penutur diambil untuk mempraanggapkan sebuah konsep lain.

Data 22

”Bagaimana kalau kita ketuk pintu rumahnya Pak Amin?”

”Pak Amin bisa saja tak setuju dengan aksi kita, bahkan malah menyerahkan kita ke warga untuk diadili.”

(LR, 2012:231)

Situasi percakapan:

Saat Vito dan Irfan kebingungan dan tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa, mereka memutuskan untuk ke rumah Pak Amin untuk bersembunyi setelah merusak ballo yang dibuat oleh Pak Japareng. Saat Vito bermaksud mengetuk pintu rumah Pak Amin, Irfan jutru ragu dan khawatir Pak Amin bisa saja tidak setuju dengan aksi mereka dan bahkan malah menyerahkan mereka ke warga untuk diadili.

Analisis:

Praanggapan pertama, yang dijadikan dasar pemikiran oleh Irfan adalah benar dan praanggapan kedua, juga benar. Sehingga dapat ditarik praanggapan umum bahwa Pak Amin bisa saja tidak setuju bahkan akan menyerahkan mereka ke warga untuk diadili. Dari praanggapan itu Vito dan Irfan memutuskan untuk tetap mengetuk pintu rumah Pak Amin tetapi bukan sebagai pelaku yang telah menggagalkan ballo Pak Japareng tetapi sebagai warga yang memberi tahu Pak Amin bahwa telah terjadi pengrusakan yang menyebabkan Pak Japareng mengalami kerugian besar dan segera membutuhkan pertolongan. Sehingga benarlah bahwa praanggapan leksikal adalah pemakaian ungkapan khusus oleh penutur diambil untuk mempraanggapkan sebuah konsep lain.

5). Praanggapan Konterfaktual (PKF) Data 23

”Waduh, kalo mau ceramah, jangan di depan saya deh!

Sekalian di masjid hari Jumat, gantikan katte (khatib) Lolo baca khutbah.”

(LR, 2012:52)

Situasi percakapan:

Percakapan terjadi dalam kelas, Vito merasa bersalah karena telah berbohong pada Pak Amin bahwa kakeknya telah meninggal. Vito yang malas sekolah selalu mencari alasan agar tidak dimarahi oleh guru-gurunya.

Akan tetapi, kebohongan Vito kali ini tidak bisa dimaafkan. Irfan selaku sahabat memberi nasihat kepada Vito agar minta maaf pada Pak Amin..

Mendengar nasihat tersebut Vito menegur Alif karena telah menceramahi dirinya.

Analisis:

Kutipan cerita di atas bertolak belakang dari kenyataan, artinya apa yang diucapkan oleh Vito bertolak belakang dengan kenyataan yang sebenarnya. Alif yang memberi nasihat bukanlah seorang penceramah, tetapi pelajar, Vito menegur Alif seperti itu karena kesal dengan sikap Alif yang banyak bicara layaknya orang tua bicara pada anaknya. Jadi, kalimat tersebut untuk mempranggapkan sesuatu yang tidak benar atau bertolak belakang dari kenyataan.

b. Implikatur

1). Maksim Kuantitas (The Maxim of Quantity) Data 24

“Sebelum masuk ceritakan dulu alasan keterlambatan!”

“Saat mau berangkat ke sekolah tadi, warga kampung dihebohkan dengan seekor ular hitam yang tiba-tiba muncul dari semak.”

“Panjangnya lebih dari dua meter…”

(LR, 2012:14)

Situasi Percakapan:

Percakapan di atas terjadi saat Vito lagi-lagi terlambat padahal rumahnya dekat dengan sekolah. Ibu Maulindah sebenarnya kagum dengan

kepintaran Vito bercerita, apalagi mengarang cerita jika terlambat karena itu ibu Maulindah selalu menghukum Vito dengan menyuruhnya bercerita sebelum duduk mengikuti pelajaran.

Analisis :

Pada data (24), inisiasi Bu Maulindah dengan tuturannya direspons dengan informasi yang memadai oleh Vito. Inisiasi berupa perintah ‘Sebelum masuk ceritakan dulu alasan keterlambatan!’, maka respons yang diberikan lebih panjang dibanding respons terhadap inisiasi perintah. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pada data (24), para peserta tutur telah menaati maksim kuantitas, submaksim pertama.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penaatan maksim kuantitas dalam sebuah interaksi berfungsi untuk (1) meminta informasi yang jelas, (2) menyampaikan informasi yang jelas (3) menghindari kesalahpahaman. Singkatnya, penaatan maksim kuantitas dilakukan peserta tutur agar interaksi yang diikuti berlangsung dengan lancar dan sampai pada tujuannya. Tujuannya adalah agar Vito bisa belajar dengan teman-temannya.

Data 25

”Saya atau Vino yang sulung,Ma?”

”Kamu yang sulung.”

”Berarti adik Vino sekarang sudah sebesar saya ya, Ma!”

(LR, 2012:239)

Situasi Percakapan:

Percakapan itu terjadi saat Halimah menunggu Vito di kamarnya, pada hari ulang tahun Vito, Ia berniat menceritakan segalanya pada Vito, bahwa benar Vito memiliki saudara kembar yakni Vino.

Analisis:

Pada data (25) Halimah menyampaikan informasi sesuai yang diminta oleh Vito. Inisiasi Vito dengan tuturan pertama direspons dengan informasi yang memadai oleh Halimah dengan tuturan kedua. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa data (25) para peserta tutur telah menaati maksim kuantitas, yakni submaksim (1) meminta informasi yang jelas, (2) menyampaikan informasi yang jelas (3) menghindari kesalahpahaman. Para peserta tutur dalam sebuah interaksi menaati maksim kuantitas dengan tujuan agar informasi yang disampaikan dapat dipahami oleh mitra tuturnya dengan jelas agar tidak terjadi salah paham. Vito pun mengetahui jika Vino sebesar dirinya sebab mereka adalah saudara kembar.

Data 26

“Boleh saya tahu siapa yang kamu tunggu? Laki- laki,perempuan?”

”Teman saya,laki-laki.”

”Enam hari berturut-turut ada seorang lelaki yang duduk di sini.

Katanya menunggu seseorang. Menunggu dari pagi dan pulang malam dengan angkot terakhir.”

”Pulang ke mana?”

”Katanya dia orang Amparita. Dia sempat memperkenalkan nama pada saya….”

”Namanya Ilham?”.

(LR, 2012:179)

Situasi percakapan:

Percakapan data (26) terjadi saat Halimah berada di terminal Pangkajene, Halimah melarikan diri dari rumah dan meninggalkan Azis yang yang hanya hitungan jam akan menikah dengan dirinya. Halimah telah berjanji diam-diam dengan Ilham bahwa sebelum pernikahan dimulai mereka akan bertemu di Pangkajene. Namun, kenyataannya berbeda Halimah tidak bertemu dengan Ilham, sampai akhirnya seorang sopir datang dan menjelaskan tentang Ilham yang juga berhari-hari menunggu kedatangan Halimah.

Analisis:

Di dalam maksim kuantitas, seorang penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup, relatif memadai, dan seinformatif mungkin sesuai yang dibutuhkan. Informasi demikian itu tidak boleh melebihi informasi yang sebenarnya dibutuhkan petutur. Selain itu, ujaran Pak Sopir juga melanggar maksim kualitas, Pak Sopir sebenarnya tidak mengetahui bahwa Halimah adalah wanita yang selalu ditunggu oleh Ilham, karena itu Pak Sopir bertanya pada Halimah dan Halimah menjawab dengan singkat ‘pulang kemana’ sehingga Pak Sopir seharusnya tidak panjang lebar menjelaskan tetapi cukup menjawab Amparita, bahkan Pak Sopir tidak langsung menyebut nama Ilham sehingga mendorong mitratutur menyebutkan nama dengan nada bertanya kembali pada Pak Sopir. Maka itu, ujaran Pak Sopir tersebut dapat dikatakan melanggar maksim kualitas. Dari pelanggaran maksim

kuantitas dan kualitas, ada implikatur yang timbul adalah Pak Sopir ingin memberikan informasi kepada Halimah tentang seorang lelaki yang menunggunya.

Data 27

”Mau ke mana?”

”Co-Corawali!”

”Saya mau ke Amparita. Tapi, sepertinya tak ada lagi mobil malam ini.”

(LR, 2012:46) Situasi percakapan:

Pada percakapan data (27), seorang lelaki menghampiri Halimah dan langsung bertanya padanya. Halimah sangat gugup karena sebelumnya tidak pernah berbicara dengan orang asing apalagi di tempat umum. itulah pertemuan pertama antara keduanya.

Analisis:

Ujaran Ilham di atas dapat dikatakan melanggar maksim kuantitas serta relevansi, karena ujaran tersebut selain dapat dikatakan berlebihan, juga keterkaitannya dengan pertanyaan Ilham pada tuturan pertama. Ilham dan Halimah bercakap tetapi, masih dalam tahap perkenalan, tetapi Ilham justru merespons jawaban Halimah dengan bercerita panjang lebar tentang tempat yang akan didatanginya.

Oleh karena pelanggaran maksim tersebut, maka ujaran tersebut mengandung implikatur percakapan yakni, Ilham ingin menjelaskan pada Halimah agar Halimah tidak salah paham terhadapnya bahwa dia laki-laki

baik yang hanya ingin berkenalan saja dengan Halimah. Meski melanggar maksim kuantitas, Ilham hanya ingin menyakinkan Halimah bahwa niatnya baik. Percakapan juga akan mengurangi rasa jenuh akibat menunggu mobil yang tidak kunjung tiba.

Data 28

”Sekali lagi, saya akan datang. Kamu jangan pernah menerima lamaran lelaki mana pun.”

”Sampai kapan?”

”Begitu kuliahku selesai, itu paling lama setahun dari sekarang, saya akan datang menghilangkan keraguanmu sekaligus menghapus kerinduanku.”

(LR, 2012:84) Situasi percakapan:

Percakapan data (28) terjadi saat Ilham akan meninggalkan Pakka Sallo karena KKN yang dijalaninya telah berakhir. Halimah merasa penantiannya akan menyisakan lara, Halimah bertanya “sampai kapan” pada Ilham karena ia tahu hubungannya dengan Ilham belum mendapatkan restu dari ayahnya.

Analisis:

Pada wacana (28) Halimah menyampaikan informasi tidak sesuai yang diminta oleh Ilham. Inisiasi Ilham dengan tuturan pertama direspons dengan informasi yang tidak memadai oleh Halimah dengan tuturan kedua, seharusnya Halimah menjawab apa yang ditanyakan, akan tetapi justru bertanya kembali pada Ilham ‘Sampai kapan?’. Selain itu, Ilham menjawab kembali tuturan Halimah dengan jawaban yang melebihi apa yang dibutuhkan

oleh Halimah. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dalam wacana (28) para peserta tutur tidak menaati maksim kuantitas, yakni submaksim pertama dan kedua.

Ilham tidak mendapat informasi yang cukup karena Halimah tidak menjawab dengan tepat pertanyaannya, pada percakapan kedua, saat percakapan seinformatif justru Ilham yang memberikan informasi yang melebihi apa yang dibutuhkan. Para peserta tutur dalam sebuah interaksi tidak menaati maksim kuantitas khususnya Ilham karena berusaha untuk menyakinkan Halimah bahwa ia pasti akan datang untuk melamar. Halimah

Ilham tidak mendapat informasi yang cukup karena Halimah tidak menjawab dengan tepat pertanyaannya, pada percakapan kedua, saat percakapan seinformatif justru Ilham yang memberikan informasi yang melebihi apa yang dibutuhkan. Para peserta tutur dalam sebuah interaksi tidak menaati maksim kuantitas khususnya Ilham karena berusaha untuk menyakinkan Halimah bahwa ia pasti akan datang untuk melamar. Halimah