A. Simpulan
Hasil temuan dan pembahasan unsur, jenis konteks wacana, dan pendidikan karakter yang terdapat dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Unsur konteks meliputi Setting ’Latar’ dan Scene ’Suasana’, Participants’
Partisipas‘Ends’ Hasil’, Act Sequences’ Pesan’, Keys’ Cara’, Instrumentalities’ Sarana’, ‘Norm’ Norma’, dan‘Genre’ Jenis’. Setting and scene (Latar Tempat dan Waktu serta Suasana Tutur) dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa ditemukan latar tempat yakni di Desa Pakka Sallo, Kecamatan Corawali, Amparita, jalan poros Pangkajene, sumur Citta, Rumah Sakit Nenek Mallomo, dan Danau Sidenreng. Setting tempat tersebut secara umum berada di Kabupaten Sidenreng Rappang (SIDRAP). Akhir cerita pertemuan antara Vito dengan ayahnya terjadi di Kota Samarinda Kalimantan Timur. Setting waktu terjadi pagi, malam, dan siang hari. Adapun suasana psikologi yang dialami partisipan dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa adalah sedih, bahagia, kecewa, marah, sabar, hal ini dijelaskan secara umum dalam penyajian analisis data.
Participants (peserta) yang telibat adalah Vito tokoh utama, Vino adik Vito sebagai tokoh pendukung, Halimah Ibu dari Vito, Kakek, ayah Halimah sekaligus kakeknya Vito, Ilham ayah Vito, Azis sepupu Halimah, Pak Amin guru penjaskes Vito, Ibu Maulindah guru IPS, Pak Bahtiar sebagai kepala sekolah, Irfan, Adnan, Alif, Bimo, Sarah, Waddah, Allauddin yang merupakan sahabat Vito, Jihang teman bermain Vino sewaktu kecil, Pak Saleng sahabat Ilham, Pak Japareng penjual ballo, ayah Irfan, ibu Irfan, ayah Pak Amin, Nadia istri kedua Ilham yang tinggal di Kota Samarinda.
Ends (hasil) merupakan tujuan akhir dari pembicaraan dalam setiap kutipan data yang dianalisis. Tujuan akhir pembicaraan sangat beragam dan berhubungan dengan Act atau bentuk pesan yang ada dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa. Bentuk pesan tersebut meliputi nasihat, teguran, perkenalan, pelarian, pencarian, dan kemarahan.
Key (nada tutur) atau cara yang digunakan oleh partisipan dalam berinteraksi dan komunikasi dengan lawan tuturnya adalah santai dan serius. Adapun Instrumentalities (sarana) yang digunakan dalam berbahasa adalah lisan, bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan bahasa Bugis. Norms (norma) mengacu pada perilaku partisipan dalam berinteraksi. Dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa, partisipan berinteraksi dengan perilaku marah, baik, sopan,
jengkel, kecewa. Genre (jenis) percakapan yang digunakan dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa adalah prosa fiksi.
2. Jenis eksternal konteks meliputi, praanggapan, implikatur, dan inferensi.
praanggapan yang terdapat dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa terdiri atas lima jenis, yaitu1) Praanggapan Eksistensial, 2) Praanggapan Faktif, 3) Praanggapan Leksikal, 4) Praanggapan NonFaktif (PNF), 5) Praanggapan Konterfaktual (PKF).
Sedangkan implikatur meliputi maksim kualitas, kuantitas, relevansi dan cara yang ditemukan dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa hanya sedikit yang sejalan dengan prinsip Grice karena partisipan lebih banyak diperankan oleh anak-anak yang tidak memahami bahwa seorang penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup, relatif memadai, dan seinformatif mungkin sesuai yang dibutuhkan.
Partisipan kebanyakan menyela percakapan dengan senda gurau sehingga terkadang melebihi bahkan tidak terkait dengan apa yang dibutuhkan oleh penutur pertama. Ungkapan yang kabur, tidak jelas dan tidak teratur kadang mempengaruhi makna sehingga muncullah implikasi dalam percakapan. Oleh karena itu, penengah dalam percakapan sangat penting. Dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa Pak Amin menjadi sosok yang sangat penting. Sebab, menjadi penegah dalam percakapan yang melibatkan dirinya dengan siswa-siswinya.
Dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa, hanya terdapat tiga inferensi. Penarikan simpulan pertama adalah pengamatan melalui tindakan partisipan yang menyebabkan kecurigaan pada partisipan lainnya. Kedua ada penarikan simpulan yang salah disebabkan oleh kesalahan penutur pertama. Penarikan simpulan oleh lawan tutur tidak tepat disebabkan lawan tutur memanfaatkan situasi lawan tutur yang kurang berpendidikan.
Pendidikan karakter yang ditemukan dalam penelitian ini hanya empat nilai pendidikan karakter, yakni jujur, rasa ingin tahu, bersahabat/komunikatif, dan rasa peduli sosial. Masyarakat Bugis percaya bahwa dengan bersikap tidak jujur maka akan berdampak buruk bagi kehidupan mereka. Dampak buruk itu tidak hanya dapat merugikan orang lain, akan tetapi jauh dari masyarakat Bugis percaya bahwa dengan bersikap tidak jujur maka yang timbul hanyalah rasa malu terhadap masyarakat atau orang lain yang hidup di sekitarnya. Dengan demikian konsep kejujuran dalam kehidupan pergaulan masyarakat Bugis sangat dijunjung tinggi karena dengan bersikap jujurlah harkat dan martabat sebagai orang Bugis dapat terlindungi.
Pada sisi yang lain, kejujuran bagi masyarakat atau orang Bugis selalu diikuti dengan perilaku adil. Perilaku adil juga merupakan salah satu bagian yang dapat dilakukan oleh masyarakat dalam menjaga siri’nya.
Perilaku adil ini terpatri dengan jelas pada hukum adat yang diberlakukan
oleh masyarakat Bugis. Seperti yang terungkap pada kutipan berikut ini.
Masyarakat Bugis percaya bahwa dengan mengamalkan keempat pesan yang dikatakan oleh Nenek Malamo akan menciptakan keteraturan dalam hidup. Pesan tentang ‘takkan mati kejujuran itu’ dimaknai bahwa kejujuran itu akan selalu dikenang. Dengan bersikap jujur seseorang akan dapat dikenang dan ingat sifat sifat baiknya melalui perilaku jujurnya. Dengan perilaku jujur itu, secara tidak langsung akan membangkitkan sikap tegas dalam diri seseorang. Hal itu dalamkehidupan orang Bugis menjadi sesuatu yang sangat penting.
Makna ‘takkan runtuh yang datar’ bagi kalangan orang Bugis adalah jika orang yang selalu membusungkan dada dan bertingkah sombong juga angkuh, maka orang tersebut akan cepat tersingkir dari pergaulan dalam masyarakat. Sebaliknya, orang yang sederhana seperti tidak menyombongkan kedudukan akan menjadi lebih baik dan akan semakin dihargai keberadaannya oleh orang lain. Sementara makna dari ‘takkan putus yang kendur’ adalah lebih kepada sifat mengalah. Dalam pengertian bahwa mengalah tersebut adalah untuk menang, aman, dan damai.
Filosofi tersebut mengajarkan kepada orang Bugis bahwa dalam kehidupan ini tidak boleh ada sikap terburu-buru dalam bekerja ataupun dalam mengambil suatu keputusan. Selain itu, pula bermakna bahwa kita harus dapat mengontrol emosi dalam suasana apa saja dari yang kita hadapi serta selalu membangun hubungan harmonis dengan sesama
manusia yang lain. Sedangkan makna dari ‘takkan patah yang lentur’
adalah kepandaian seseorang dalam menempatkan diri di masyarakat.
Dalam masyarakat yang penuh dengan berbagai macam kepentingan diwajibkan bagi orang-orang Bugis untuk dapat menyesuaikan diri dengan orang lain atau seseorang yang dihadapinya. Keberadaannya tidak boleh memihak kepada sesuatu yang lain, akan tetapi selalu berusaha untuk dapat bersikap adil ketika ada sesuatu permasalahan dalam kehidupan yang dihadapinya.
Kepedulian sosial karena sikap bersahabat hal ini terbangun karena bermukim dalam satu kampung, sekalipun dalam kelompok ini terdapat orang-orang yang sama sekali tidak ada hubungan darahnya/keluarga.
Perasaan akrab dan saling menganggap saudara/ keluarga muncul karena mereka sama-sama bermukim dalam satu kampung memunculkan kepedulian sosial. Biasanya, mereka saling topang-menopang, bantu-membantu dalam segala karena mereka saling menganggap saudara senasib dan sepenaggungan. Saat kebun mete terbakar, semua warga yang mengetahuinya turun dari rumah dan berusaha membantu, termasuk Vito dan kawan-kawannya. Mereka bergotong-royong membantu tetangga yang membutuhkan pertolongan. Saat Vito diculik oleh orang yang tak dikenal, rumah Halimah telah disesaki warga, demi menghibur dan mencari solusi bagaimana cara menemukan Vito.
Bentuk rasa ingin tahu, yakni cara berpikir, sikap, dan perilaku yang mencerminkan penasaran dan keingintahuan terhadap segala hal yang dilihat, didengar, dan dipelajari secara mendalam. Rasa ingin tahu siswa Pak Amin dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa cukup besar. Hal tersebut terungkap ketika Pak Amin berniat mengajak siswanya untuk field trip ke salah satu tempat bersejarah di Sidrap. Rasa ingin tahu merupakan salah satu pendidikan karakter yang telah ditetapkan oleh Kemendiknas, yang tentu saja harus dimiliki oleh peserta didik. Rasa ingin tahu tumbuh karena adanya rasa penasaran yang berkecamuk dalam diri seseorang sehingga membuatnya mencari jawaban, salah satu cara mencari jawaban adalah dengan bertanya.
B. Saran
Berkenaan dengan pembahasan dan simpulan di atas, maka penulis juga akan memberikan beberapa saran yang diharapkan dapat memberikan manfaat kepada dunia pendidikan khususnya bahasa Indonesia yakni :
1. Kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari lingkungan sosial, untuk dapat bersosialisasi dengan baik khususnya dengan sesama. Manusia di- tuntut untuk memahami budaya dan karakter lainnya yakni mempelajari dengan seksama dan melestarikan perayaan yang bernilai positif dari adat- istiadat dan kebudayaan secara umum yang baik dari lingkungannya.
1. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia mengenai sarana komunikasi yang menjadikan novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa sebagai
medianya, diharapkan guru dapat memberikan penjelasan yang lebih dalam mengenai makna-makna secara implisit yang terkandung di dalam novel tersebut. Dengan penjelasan yang dalam dan memadai, siswa diharapkan memiliki pengertian yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran dan siswa dapat mencontoh bagaimana adat budaya yang baik, tindak percakapan yang sopan terhadap orang tua, dan lebih mengenal budaya lokalnya pada novel tersebut.
2. Dalam peranannya sebagai fasilitator, guru hendaknya mengacu pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sehingga tidak terbawa oleh keinginan siswa untuk membahas hal-hal yang tidak ada relevansinya