HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Penyajian Hasil Analisis Data
3. Pendidikan Karakter dalam Novel Lontara Rindu Karya S. Gege Mappangewa
a. Jujur
Jika membicarakan sosok guru di dalam novel Lontara Rindu karya S. Gegge Mappangewa. Tokoh Pak Amin dan Ibu Maulindah bukanlah sentra penting dalam novel ini, melainkan kehadiran keduanya tetap menjadi warna tersendiri dalam hal pendidikan. Cara pandang yang khas dari Pak Amin adalah menganggap semua muridnya sebagai juara dan memiliki potensi luar biasa. Meskipun siswa-siswanya terlahir di dusun yang terpencil dengan
fasilitas pendidikan yang sangat minim, Pak Amin tetap yakin mereka memiliki potensi untuk maju dan senantiasa memotivasi mereka.
Pak Amin juga merepresentasikan paradigma pendidikan yang terintegritas antara ilmu umum dan nilai-nilai agama serta nilai-nilai kearifan lokal untuk membangun karakter budi pekerti siswa-siswanya. Hal ini tercermin misalnya dalam percakapan mereka ketika melakukan perjalanan ke sumur Citta peninggalan Nenek Mallomo, tokoh dalam sejarah Bugis yang konon pada masanya terjadi kemarau panjang akibat seseorang yang berlaku tidak jujur. Ketika itu dusun Pakka Salo juga dilanda kemarau berkepanjangan. Pak Amin dengan apik menghubungkan antara hikmah dari cerita tersebut tentang azab yang turun jika manusia tidak jujur, perintah agama untuk berlaku jujur dan keadaan aktual kini yang penuh dengan ketidakjujuran seperti korupsi.
Data 47
“Koruptor itu di atasnya pencuri, mereka itu penyamun-penyamun berdasi.”. Namun Pak Amin tidak sekadar mengutuk keadaan tetapi juga mengajak siswa-siswanya berefleksi, “Kita tanya hati kita masing-masing dan kita jawab masing-masing. Pernahkan kita tidak jujur selama ini?
Pernahkan kita mencuri selama ini? Ingat putra Nenek Mallomo yang membawa petaka kemarau hanya mencuri sebatang kayu.” Efek dari refeleksi Pak Amin diceritakan bahwa Sarah, Alaudin dan Adnan siswa-siswanya menjadi menyadari kesalahan mereka
(LR, 2012:140).
Pak Amin tidak memandang profesi guru sebagai subjek yang bertugas “mengisi” siswa-siswanya dengan ilmu-ilmu yang diketahuinya.
Paradigma pengajaran Pak Amin adalah guru sebagai fasilitator dalam mengembangkan kecerdasan siswa-siswanya yang beragam. Ketika menghadapi suatu masalah Pak Amin tidak langsung menginstruksikan pemecahan sendiri tetapi menfasilitasi siswa-siswanya untuk berdiskusi mencari pemecahan. Pak Amin juga berparadigma bahwa pada dasarnya tidak ada anak yang nakal, jika ada anak yang berkelakuan buruk bisa saja karena mereka sedang tertimpa masalah tertentu. Kisah Vito yang berubah sikapnya karena sangat merindukan sosok ayah bisa dirasakan oleh Pak Amin dan menjadi pendamping bagi siswanya tersebut.
Kesabaran seorang guru dan orang tua dalam mendidik anak akan membuahkan hasil yang baik, terkadang seorang anak mengharapkan perhatian lebih dari orang tuanya.
Data 48
“La Palaga, apa yang terjadi dengan negeri ini?
Sepanjang sejarah, baru kali ini negeri ini dilanda kemarau berkempanjangan,” ungkap Raja La Patiroi, saat Nenek Mallamo datang menghadap.
“Begini Puang (panggilan ningrat)! Kemarau panjang ini diakibatkan oleh salah seorang rakyat bahkan penghuni Sao Raja (istana) ini tidak jujur,” tegas Nenek Mallomo setelah memberi hormat pada Sang Raja.
“Tidak jujur? Maksud kamu?” Raja mengerutkan kening.
“Tidak jujur itu bukan hanya berdusta, Puang, mencuri juga termasuk dalam ketegori tidak jujur.”
(LR, 2012: 94 -95)
Kutipan tersebut di atas menunjukkan bahwa betapa perilaku tidak jujur itu sangat memberi nilai buruk bagi kehidupan. Kutipan dialog antara Raja La Patiroi dengan Nenek Mallomo mengisyaraktan bahwa tindakan atau sikap tidak jujur dapat menjadi awal munculnya malapetaka dalam kehidupan ini. Bagi kehidupan masyarakat Bugis kondisi telah disadari bahwa kejujuran itu sangat tinggi nilainya dalam hidup dan kehidupan bermasyarakat.
Masyarakat Bugis percaya bahwa dengan bersikap tidak jujur maka akan berdampak buruk bagi kehidupan mereka. Dampak buruk itu tidak hanya dapat merugikan orang lain, akan tetapi jauh dari masyarakat Bugis percaya bahwa dengan bersikap tidak jujur maka yang timbul hanyalah rasa malu terhadap masyarakat atau orang lain yang hidup di sekitarnya. Dengan demikian konsep kejujuran dalam kehidupan pergaulan masyarakat Bugis sangat dijunjung tinggi karena dengan bersikap jujurlah harkat dan martabat sebagai orang Bugis dapat terlindungi.
Pada sisi yang lain, kejujuran bagi masyarakat atau orang Bugis selalu diikuti dengan perilaku adil. Perilaku adil juga merupakan salah satu bagian yang dapat dilakukan oleh masyarakat dalam menjaga siri’nya.
Perilaku adil ini terpatri dengan jelas pada hukum adat yang diberlakukan oleh masyarakat Bugis. Seperti yang terungkap pada kutipan berikut ini.
Data 49
“Puang, ade’ temmakkeana’ nennia temmakeappo (adat tak mengenal anak dan tak mengenal cucu)
Nenek Mallomo sebagai hakim yang bijak lagi adil kemudian menjatuhkan vonis mati kepada putra tercintanya.
“Apa itu tidak terlalu berlebihan, Pagala?”
“Puang, saya menghukumnya bukan karena kayu yang dicurinya, tapi karena perbuatannya itu. Karenanya negeri ini telah dilanda kemarau berkepanjangan. Dia telah menyengsarakan rakyat.”
(LR, 2012: 95-96).
Berdasarkan kutipan tersebut, mengisyaratkan bahwa sikap adil merupakan salah satu bagian kehidupan orang Bugis dalam menjaga nama baiknya. Sikap tidak jujur yang dilakukan oleh anak Nenek Mallomo telah membuatnya kehilangan nyawa. Pada sisi yan lain, keadilan tetap harus ditegakan oleh Nenek Mallomo sekalipun ia mendapati bahwa pelaku dari ketidakjujuran dalam hal pencuri itu adalah anaknya sendiri. Demi menjujung tinggi harkat dan martabatnya lebih baik ia kehilangan anaknya daripada harus mananggung rasa malu sepanjang hidupnya akibat perbuatan anaknya yang telah menyengsarakan orang banyak. Bahkan pada kutipan yang lain terungkap sebagai berikut.
Data 50
“Aku berpesan kepada tiga golongan: kepada raja, hakim, dan pelayan masyarakat. Jangan sekali-kali engkau meremahkan kejujuran itu. Berlaku jujurlah serta peliharalah tutur katamu, engkau harus tegas. Sebab kejujuran dan tutur kata yang baik itu memanjangkan usia. Oleh karena itu takkan mati kejujuran itu,
Dalam kenyataannya masyarakat Bugis menempatkan sikap jujur di atas segala tindakan mereka dalam rangka berupaya keras menjaga harkat dan martabatnya tetap dalam koridor nilai-nilai kebaikan dan terhindar dari perbuatan yang dapat membuat mereka menjadi malu atau membuat harga diri mereka menjadi tercoreng.
Masyarakat Bugis percaya bahwa dengan mengamalkan keempat pesan yang dikatakan oleh Nenek Malamo akan menciptakan keteraturan dalam hidup. Pesan tentang ‘takkan mati kejujuran itu’ dimaknai bahwa kejujuran itu akan selalu dikenang. Dengan bersikap jujur seseorang akan dapat dikenang dan ingat sifat sifat baiknya melalui perilaku jujurnya. Dengan perilaku jujur itu secara tidak langsung akan membangkitkan sikap tegas dalam diri seseorang. Hal itu dalam kehidupan orang Bugis menjadi sesuatu yang sangat penting.
Makna ‘takkan runtuh yang datar’ bagi kalangan orang Bugis adalah jika orang yang selalu membusungkan dada dan bertingkah sombong juga angkuh, maka orang tersebut akan cepat tersingkir dari pergaulan dalam masyarakat. sebaliknya orang yang sederhana seperti tidak menyombongkan kedudukan akan menjadi lebih baik dan akan semakin dihargai keberadaanya oleh orang lain. Sementara makna dari ‘takkan putus yang kendur’ adalah lebih kepada sifat mengalah. Dalam pengertian bahwa mengalah tersebut untuk menang, aman, dan damai.
Filosofi tersebut mengajarkan kepada orang Bugis bahwa dalam kehidupan ini tidak boleh ada sikap terburu-buru dalam bekerja ataupun dalam mengambil suatu keputusan. Selain itu, pula bermakna bahwa kita harus dapat mengontrol emosi dalam suasana apa saja dari yang kita hadapi serta selalu membangun hubungan harmonis dengan sesama manusia yang lain. Sedangkan makna dari ‘takkan patah yang lentur’ adalah kepandaian seseorang dalam menempatkan diri di masyarakat. Dalam masyarakat yang penuh dengan berbagai macam kepentingan diwajibkan bagi orang-orang Bugis untuk dapat menyesuaikan diri dengan orang lain atau seseorang yang dihadapinya. Keberadaannya tidak boleh memihak kepada sesuatu yang lain akan tetapi selalu berusaha untuk dapat bersikap adil ketika ada sesuatu permasalahan dalam kehidupan yang dihadapinya.
b. Peduli sosial dan bersahabat
Kepedulian sosial terbangun karena bermukim dalam satu kampung, sekalipun dalam kelompok ini terdapat orang-orang yang sama sekali tidak ada hubungan darahnya/keluarga. Perasaan akrab dan saling menganggap saudara/ keluarga muncul karena mereka sama-sama bermukim dalam satu kampung memunculkan kepedulian sosial. Biasanya, mereka saling topang-menopang, bantu-membantu dalam segala karena mereka saling menganggap saudara senasib dan sepenaggungan. Perhatikan kutipan berikut ini
Data 51
“Vito memeluk temannya satu per satu dan mengucapkan terima kasih atas perjuangannya yang telah berhasil menyelamatkan lebih dari seperempat kebun mete…”
(LR, 2012:256)
Saat kebun mete terbakar, semua warga yang mengetahuinya turun dari rumah dan berusaha membantu, termasuk Vito dan kawan-kawannya.
Mereka bergotong-royong membantu tetangga yang membutuhkan pertolongan. Saat Vito diculik oleh orang yang tak dikenal, rumah Halimah telah disesaki warga, demi menghibur dan dan mencari solusi bagaimana cara menemukan Vito.
Data 52
“Saya sudah melapor ke kantor polisi. Kita berdoa saja, karena polisi sedang mengejar mereka dan merazia kendaraan sepanjang jalan menuju Makassar. Besok pagi, akan ada polisi yang datang ke sini untuk melaporkan hasilnya.”
(LR, 2012:304)
Kepedulian sosial dan bersahabat pada kutipan wacana di atas terjalin antarsatu dengan yang lain. Mereka merasa senasib dan sepenanggungan. Oleh karena jika seorang membutuhkan yang lain, bantuan dan harapannya akan terpenuhi, bahkan mereka bersedia untuk tidur melantai di lantai papan rumah panggung untuk menghibur hati tetangga yang sedang kehilangan.
c. Rasa ingin tahu
Bentuk rasa ingin tahu, yakni cara berpikir, sikap, dan perilaku yang mencerminkan penasaran dan keingintahuan terhadap segala hal yang dilihat, didengar, dan dipelajari secara mendalam. Rasa ingin tahu siswa Pak Amin dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa cukup besar.
Hal tersebut terungkap ketika Pak Amin berniat mengajak siswanya untuk field trip ke salah satu tempat bersejarah di Sidrap.
Rasa ingin tahu merupakan salah satu pendidikan karakter yang telah ditetapkan oleh Kemendiknas, yang tentu saja harus dimiliki oleh peserta didik. Rasa ingin tahu tumbuh karena adanya rasa penasaran yang berkecamuk dalam diri seseorang sehingga membuatnya mencari jawaban, salah satu cara mencari jawaban adalah dengan bertanya.
Anugrah adalah salah satu siswa Pak Amin yang di kepalanya tumbuh rasa ingin tahu mengenai field trip. Anugrah bertanya kepada Pak Amin meski dengan pengucapan yang salah, karena diucapkan dengan bahasa Indonesia. Sementara Irfan merasa aneh karena yang akan dikunjungi hanya sungai, padahal di kampungnya, Pakka Sallo terdapat pula banyak sungai.
Irfan kemudian mengungkapkan keanehan itu dengan cara bertanya kepada Pak Amin. Untuk lebih jelasnya mengenai rasa ingin tahu Anugrah dan Irfan, berikut kutipan datanya:
Data 53
“Piltrip? Pil apa tuh, Pak? Tanya Anugrah sambil mencolek sambal dengan ubi goreng langsung dari ulekan.
“Field Trip! Itu sama dengan darmawisata. Saya akan mengajak kalian ke sebuah sumur di Allaukang.”
“Sumur? Di sungai sini juga banyak sumur, Pak,” sela Irfan”
(LR, 2012:91)
Berdasarkan kutipan tersebut, terungkap bahwa rasa ingin tahu Anugrah tentang arti Pil. Cara pengucapan Anugrah tentang field trip tidak benar, tetapi bukan berarti Anugrah berhenti pada ketidak tahuannya tersebut. Ia (Anugrah) justru dengan berani bertanya kepada gurunya (Pak Amin) arti dari kata field trip tersebut. Hal ini menunjukkan rasa ingin tahu Anugrah sangat besar. Sedangkan rasa ingin tahu Vito, bukan pada sungai yang akan dikunjungi, tetapi kampung yang bernama Amparita. Oleh karena itu, tanpa sungkan Vito bertanya kepada Pak Amin mengenai Amparita.
‘Apakah Allaukang berdekatan dengan Amparita?’ cara bertanya Vito seolah ada yang disembunyikan, itu terlihat dari tatapannya dan nada suaranya yang serius.
Rasa ingin tahu Vito dijawab dengan tenang oleh Pak Amin tanpa curiga jika ada maksud tertentu.
Data 54
“Oh iya, Pak! Allaukang yang akan kita kunjungi dekat dengan Amparita ya, Pak?” Vito bertanya dengan tatapan penuh harapan dan suara yang serius.
“Berbatasan! Kalau dari sini, Amparita dulu baru Allaukang, setelah itu Pangkajene Ibu Kota Kabupaten. Memang kenapa, To?
(LR, 2012:92)
Berdasarkan kutipan tersebut, terungkap bahwa Vito merupakan anak yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa Vito memiliki salah satu ciri karakter yang baik. Bertanya merupakan gerbang utama untuk mengetahui apa yang tidak diketahui atau memperjelas apa yang telah diketahui, dengan kata lain untuk menambah pengetahuan.
C. Pembahasan
Hasil analisis novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa melalui kajian konteks nonverbal wacana ditemukan Setting ’Latar’ dan Scene
’Suasana’, Participants’ Partisipasi, ‘Ends’ Hasil’, Act Sequences’ Pesan’, Keys’ Cara’, Instrumentalities’ Sarana’, ‘Norm’ Norma’, dan‘Genre’ Jenis’.
Konteks wacana yang mendukung pemaknaan ujaran, tuturan, atau wacana adalah situasi kewacanaan. Situasi kewacanaan berkaitan erat dengan tindak tutur. Sejalan dengan pandangan Dell Hymes (1972) yang menyebut komponen tutur dengan singkatan SPEAKING.
Setting and scene (latar tempat dan waktu serta suasana tutur) dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa ditemukan latar tempat yakni di Desa Pakka Sallo, Kecamatan Corawali, Amparita, jalan poros Pangkajene, sumur Citta, Rumah Sakit Nenek Mallomo, dan Danau Sidenreng. Setting tempat tersebut secara umum berada di Kabupaten Sidenreng Rappang (SIDRAP). Akhir cerita pertemuan antara Vito dengan ayahnya terjadi di Kota Samarinda Kalimantan Timur. Setting waktu terjadi
pagi, malam, dan siang hari. Ada pun suasana psikologi yang dialami partisipan dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa adalah sedih, bahagia, kecewa, marah, sabar, hal ini dijelaskan secara umum dalam penyajian analisis data.
Participants (peserta) yang telibat adalah Vito tokoh utama, Vino adik Vito sebagai tokoh pendukung, Halimah ibu dari Vito, Kakek, ayah Halimah sekaligus kakeknya Vito, Ilham ayah Vito, Azis sepupu Halimah, Pak Amin guru penjaskes vito, Ibu Maulindah guru IPS, Pak Bahtiar sebagai kepala sekolah, Irfan, Adnan, Alif, Bimo, Sarah, Waddah, Allauddin yang merupakan sahabat Vito, Jihang teman bermain Vino sewaktu kecil, Pak Saleng sahabat Ilham, Pak Japareng penjual ballo, ayah Irfan, ibu Irfan, ayah Pak Amin, Nadia istri kedua Ilham yang tinggal di Kota Samarinda.
Ends (hasil) merupakan tujuan akhir dari pembicaraan dalam setiap kutipan data yang dianalisis. Tujuan akhir pembicaraan sangat beragam dan berhubungan dengan Act atau bentuk pesan yang ada dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa. Bentuk pesan tersebut meliputi nasihat, teguran, perkenalan, pelarian, pencarian, dan kemarahan.
Key (nada tutur) atau cara yang digunakan oleh partisipan dalam berinteraksi dan komunikasi dengan lawan tuturnya adalah santai dan serius.
Ada pun Instrumentalities (sarana) yang digunakan dalam berbahasa adalah lisan, bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan bahasa Bugis, bahasa merupakan kebudayaan utama dan telah lama berkembang dalam
masyarakat Bugis yang disebut bahasa Ugi. Penggunaan bahasa daerah setempat , yakni bahasa Bugis menunjukkan nilai budaya yang tinggi dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa dan menjadi identitas daerah yang tetap digunakan dengan bangga oleh masyarakat setempat.
Petuah-petuah Bugis banyak diungkapkan dengan menggunakan bahasa Bugis dan istilah-istilah yang biasa digunakan masyarakat dalam mengungkapkan sesuatu dan menamai sesuatu yang ada dalam masyarakat.
Misalnya petuah Bugis yang terkenal hingga sekarang ini adalah Ade’t emmakeana’ nennia temmakeappo’ yang memiliki arti adat tidak mengenal adat dan tidak mengenal cucu. Ungkapan tersebut terdapat dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa yang menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Bugis yang terkenal hingga sekarang ini mengandung pesan moral yang tinggi akan terasa lebih komunikatif jika menggunakan bahasa setempat, di mana setting sebuah novel berada.
Norms (norma) mengacu pada perilaku partisipan dalam berinteraksi.
Dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa, partisipan berinteraksi dengan perilaku marah, baik, sopan, jengkel, kecewa. Genre (jenis) percakapan yang digunakan dalam novel Lontara Rindu karya S.
Gege Mappangewa adalah prosa fiksi.
Menurut George Yule (2006: 43) bahwa praanggapan atau presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. Yang memiliki presuposisi adalah penutur bukan
kalimat. George Yule mengemukakan praanggapan terdiri atas enam jenis, yaitu1) Praanggapan Eksistensial, 2) Praanggapan Faktif, 3) Praanggapan Leksikal, 4) Praanggapan Struktural (PS), 5) Praanggapan NonFaktif (PNF), 6) Praanggapan Konterfaktual (PKF). Namun, dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa hanya ditemukan lima jenis praanggapan.
Praanggapan yang tidak ditemukan adalah Praanggapan Struktural (PS).
Praanggapan eksistensial adalah praanggapan yang mengasosiasikan adanya suatu keberadaan. Selain itu, lebih umum dalam frasa nomina tertentu. Dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa terdapat empat jenis praanggapan eksistensial yaitu ada sebuah ‘kerbau’. ‘kerbau’
mempraanggapan keberadaan sebuah ‘kerbau’ di suatu tempat, yakni di Tonronge. “Itu sana sawah ayahmu, cepat patok” keberadaan sawah tersebut di Tonronge, dan menunjukkan hak milik dari ayahnya Pak Amin dan bukan orang lain.
Selain itu, Kutipan wacana dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa mengandung wacana eksistensial umum, jika Ibu Maulindah
“berhenti mengajar” maka praanggapan eksistensialnya adalah Ibu Maulindah adalah seorang guru, seorang guru yang berhenti mengajar.
Praanggapan faktif mempraanggapan bahwa Halimah menebak bagaimana masa depannya jika harus meninggalkan kepercayaannya selaku pemeluk agama Islam. Halimah memilih gila daripada mengikuti tawaran Ilham untuk menganut Tolotang. Apa yang dikatakan oleh Halimah
berpotensi menjadi kenyataan sebab Halimah baru mengetahui bahwa Ilham berasal dari keluarga Tolotang tetapi, untuk kembali ke rumahnya itu hal yang mustahil.
Praaanggapan leksikal, praanggapan nonfaktif dan praanggapan konterfaktual juga terdapat dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa. Praanggapan struktural tidak ditemukan dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa, alur cerita tidak menampilkan informasi yang dapat memunculkan praanggapan yang tepat dan dapat diasumsikan kebenarannya. Dari pembahasan terkait praanggapan menurut George Yule (2006: 43) yang menyatakan bahwa praanggapan atau presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan adalah sejalan, selain itu, ditemukan teori yang dapat bersinergi dengan pendapat George dan Yule bahwa penutur dalam mengasumsikan sesuatu tidak hanya mencermati dari yang disampaikan oleh lawan tutur, tetapi termasuk gerak-geri dan ekspresi wajah lawan tutur.
Grice (1991:309) menyatakan bahwa percakapan akan mengarah pada penyamaan unsur-unsur pada transaksi kerja sama yang semula berbeda.
Penyamaan tersebut dilakukan dengan jalan: (1) menyamakan jangka tujuan pendek, meskipun tujuan akhirnya berbeda atau bahkan bertentangan, (2) menyatukan sumbangan partisipasi sehingga penutur dan mitratutur saling membutuhkan, dan (3) mengusahan agar penutur dan mitratutur mempunyai
pengertian bahwa transaksi berlangsung dengan suatu pola tertentu yang cocok, kecuali bila bermaksud hendak mengakhiri kerja sama.
Dalam rangka memenuhi keperluan tersebut, Grice menyatakan teori tentang aturan percakapan atau maksim yang dipandang sebagai prinsip/dasar kerja sama. Prinsip kerja sama tersebut yakni berikanlah sumbangan Anda pada percakapan sebagaimana yang diperlukan sesuai dengan tujuan atau arah pertukaran pembicaraan yang Anda terlibat di dalamnya (Grice 1975:45). Prinsip tersebut mengharapkan para penutur untuk menyampaikan ujarannya sesuai dengan konteks terjadinya peristiwa tutur, tujuan tutur dan giliran tutur yang ada. Prinsip kerja sama tersebut, ditopang oleh maksim-maksim percakapan (maxim of conversation), yaitu : maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi,maksim cara.
Maksim kualitas, kuantitas, relevansi, dan cara yang ditemukan dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa hanya sedikit yang sejalan dengan prinsip Grice karena partisipan lebih banyak diperankan oleh anak-anak yang tidak memahami bahwa seorang penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup, relatif memadai, dan seinformatif mungkin sesuai yang dibutuhkan. Partisipan kebanyakan menyela percakapan dengan senda gurau sehingga terkadang melebihi bahkan tidak terkait dengan apa yang dibutuhkan oleh penutur pertama. Ungkapan yang kabur, tidak jelas dan tidak teratur kadang mempengaruhi makna sehingga muncullah implikasi dalam percakapan. Oleh karena itu, penengah dalam percakapan sangat
penting. Dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa Pak Amin menjadi sosok yang sangat penting. Sebab, menjadi penengah dalam percakapan yang melibatkan dirinya dengan siswa-siswinya.
Cummings (2007: 105) menyatakan, proses inferensi merupakan proses yang dapat digunakan oleh lawan bicara untuk memperoleh implikatur-implikatur dari ujaran penutur yang dikombinasikan dengan ciri-ciri konteks.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa inferensi merupakan proses penarikan simpulan yang digunakan pendengar terhadap ujaran yang disampaikan penutur dan simpulan tersebut ditentukan oleh situasi dan konteks.
Dalam novel Lontara Rindu karya S. Gege Mappangewa, hanya terdapat tiga inferensi. Penarikan simpulan pertama adalah pengamatan melalui tindakan partisipan yang menyebabkan kecurigaan pada partisipan lainnya. Kedua ada penarikan simpulan yang salah disebabkan oleh kesalahan penutur pertama. Penarikan simpulan oleh lawan tutur tidak tepat disebabkan lawan tutur memanfaatkan situasi lawan tutur yang kurang berpendidikan.
Kemendiknas tahun 2010 mengeluarkan 18 nilai pendidikan karakter, yakni religius, jujur, , toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai
Kemendiknas tahun 2010 mengeluarkan 18 nilai pendidikan karakter, yakni religius, jujur, , toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai