Lanjutan Lampiran 3. 1
A. Latar Belakang
Daya saing bangsa dan negara ditunjukan oleh kemampuan perekonomian dalam menghasilkan barang dan jasa, di samping mampu bersaing di pasar di dalam dan di luar negeri. Untuk itu, agar proses kemajuan tersebut diraih, maka perlu diciptakan kesempatan bagi semua jenis kegiatan dan skala usaha dari para pelakunya, di antaranya pemberdayaan usaha kecil dan pembentukan/pemupukan wirausahawan dalam meningkatkan produktivitas usahanya bagi pertumbuhan ekonomi atau pembentukan modal yang memberi manfaat bagi orang banyak.
(Hubeis, 2009)
Secara umum sektor Usaha Kecil Menengah (UKM) dinilai memiliki kontribusi cukup dominan dalam menunjang pertumbuhan ekonomi Indonesia, salah satu alasan dan yang menjadi kelebihannya adalah, sektor UKM mampu meningkatkan ekonomi kerakyatan/padat karya (lapangan usaha dan lapangan kerja) berorientasi ekspor dan substitusi impor (perkokoh struktur industri dan perolehan devisa). Kontribusi UKM terhadap pembentukan produk domestik bruto (PDB) yang menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang tahun 2009, berkontribusi 53,32% dan sisanya ditunjang oleh sektor-sektor usaha besar.
Kondisi demikian menyiratkan terdapat potensi besar atas kekuatan domestik, jika dikelola dan dikembangkan dengan baik, maka UKM akan dapat tumbuh dan menjadi usaha menengah yang tangguh. Di sisi yang
lain, UKM masih dihadapkan pada masalah mendasar (Hubeis, 2009)
seperti :
1. Masih sulitnya akses ke pasar untuk produk-produk yang dihasilkan
pelaku UKM.
2. Masih lemahnya SDM dalam kewirausahaan dan manajerial.
3. Keterbatasan keuangan dan akses terhadap sumber-sumber
pembiayaan dari lembaga-lembaga keuangan formal, khususnya dari perbankan.
Sejalan dengan semakin kondusifnya perubahan paradigma perbankan dalam memandang UKM dalam beberapa tahun terakhir, maka terlihat adanya kecenderungan perubahan perilaku bisnis perbankan yang lebih mengarah pada segmen UKM. Kondisi ini sangat berbeda dengan era masa lalu, dimana orientasi penyaluran kredit perbankan terlalu dipusatkan pada korporasi atau usaha besar yang dianggap lebih memberikan keuntungan lebih besar secara ekonomis.
Namun demikian, tetap saja porsi kredit untuk UKM dinilai masih
rendah. Dalam tahun 2006 – 2010, rataan pangsa kredit UKM 34,20%,
terhadap total kredit Perbankan yang disalurkan, sebagian besar berupa kredit untuk segmen besar atau korporasi (Gambar 1).
Keterangan : Tidak Termasuk Kredit Konsumtif (dalam Milyar Rupiah)
(
Bank Indonesia, 2011)Gambar 1. Perkembangan kredit perbankan dan kredit UMKM
Tugas pokok suatu bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dana tersebut kepada masyarakat yang memerlukannya, khususnya kredit sebagai sumber pendapatan paling diandalkan. Dengan pendapatan tersebut, bank dapat menutup berbagai biaya, baik biaya operasional maupun non operasional dalam tahun
akuntansi bersangkutan (Reksoprayitno, 1992). Terkait masih rendahnya
daya serap UKM terhadap kredit perbankan menyiratkan masih banyaknya
565,958 719,458 940,572 1.000,94 1.228,73 208,265 249,343 301,651 343,026 437,808 2006 2007 2008 2009 2010
TOTAL KRD KREDIT UMKM
36,80% 34,66% 32,07% 34,27% 35,63% TOTAL KREDIT
permasalahan dalam pembiayaan UKM yang perlu dicarikan benang merahnya.
PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, sebagai salah satu Bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan salah satu institusi perbankan yang mempunyai keseriusan dalam membantu pemerintah dalam memberdayakan usaha kecil sekaligus untuk meningkatkan porsi kredit BNI untuk segmen UKM. Pada Desember 2007, penyaluran kredit kecil BNI mencapai Rp 17,7 triliun dan pada Desember 2010 mencapai
Rp 29,32 triliun, dengan porsi 21% dari total kredit yang disalurkan
(Gambar 2).
(dalam milyar rupiah)
Gambar 2. Komposisi kredit BNI tahun 2010 ( BNI, 2011)
Dalam menyalurkan kredit kecil untuk para pelaku UKM sampai dengan Rp 500 juta, BNI memfokuskan pada Kredit Usaha Rakyat (KUR)
yang ditujukan untuk pengusaha layak namun belum bankable, yaitu
Usaha Mikro, Kecil Menengah dan Koperasi (UMKMK) yang belum dapat memenuhi persyaratan perkreditan dari bank, antara lain penyediaan agunan dan pemenuhan persyaratan perkreditan sesuai dengan ketentuan bank pelaksana.
Pada tahun 2009, baki debet BNI KUR Rp 1.532 Trilyun dengan jumlah debitur 11.567 orang dan pada akhir Desember 2010 mencapai Rp 3.01 trilyun dengan jumlah debitur sebanyak 26.020 orang, atau terjadi peningkatan baki debet 97% dan debitur meningkat 124%. Selain BNI KUR, BNI juga memiliki produk kredit lainnya yang ditujukan para usaha kecil, yaitu kredit BNI Wirausaha, kredit BNI Usaha Berkembang dan kredit
BNI Usaha Maju yang merupakan skim kredit lanjutan untuk Debitur BNI KUR yang berhasil meningkatkan volume usahnya dan membutuhkan kredit di atas Rp. 500 juta.
Dalam penyaluran kredit UKM, BNI telah didukung dengan jaringan yang cukup besar di pelosok tanah air, yaitu 51 Sentra Kredit Kecil (SKC), 106 Unit Kredit Kecil (UKC), 20 Sentra Kredit Menengah (SKM), 74 Kantor
Cabang Stand Alone (SA), dan didukung 1.150 outlet layanan. Untuk
meningkatkan layanan kepada debitur usaha kecil, BNI telah
mengimplementasikan teknologi secara online, sehingga memungkinkan
proses aplikasi kredit usaha kecil menjadi lebih cepat dan mudah
BNI bukan satu-satunya bank yang ditunjuk oleh pemerintah sebagai bank pelaksana penyalur KUR, berdasarkan Inpres Presiden No. 6 tahun 2007 tentang Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, KUR di salurkan oleh 6 bank pelaksana yaitu, Bank BNI, Mandiri, BRI, Bukopin, BTN dan Bank Syariah Mandiri (BSM). Pada tahun 2010 bank pelaksana bertambah 3 (tiga) bank yaitu Bank Jabar Banten, Bank Jateng dan Bank Jatim, sehingga pelaksana KUR menjadi 9 (sembilan) bank.
Tabel. 1. Realisasi penyaluran KUR bank pelaksana per April 2010.
Sumber Departemen Koperasi dan UKM, 2010
Walaupun telah mengalami pertumbuhan yang nyata, BNI KUR memiliki pangsa 9.86% bila dibandingkan dengan bank pelaksana lainnya
Plafon Outstanding Rataan
Kredit/Debitur
Rp. (juta) Rp. (juta) Rp. (juta) %
BNI 1,608,560 788,671 11,990 134.16 9.86 BRI KUR Ritel 3,556,579 2,507,899 28,859 123.24 31.36 BRI KUR Mikro 10,658,848 2,842,973 2,583,763 4.13 35.55 Mandiri 1,581,581 828,400 37,102 42.63 10.36 BTN 678,006 271,533 3,089 219.49 3.40 Bukopin 726,238 381,485 3,654 198.75 4.77 BSM 432,533 337,695 4,436 97.51 4.22 Bank Jabar Banten 24,469 24,214 262 93.39 0.30 Bank Jateng 10,735 10,735 167 64.28 0.13 Bank Jatim 3,189 3,189 41 77.78 0.04
JUMLAH 19,280,738 7,996,794 2,673,363 7.21 100.00
REALISASI PENYALURAN KUR
Pangsa Outstanding BANK
(Tabel 1). Untuk mampu bersaing dan mengoptimalkan pendapatan bunga
dari sektor lending (pinjaman), bank dituntut mampu meningkatkan
portofolio pinjaman, khususnya kredit mass product seperti BNI KUR yang
berpotensi menjadi usaha besar dan menjadi nasabah loyal dikemudian
hari, tetapi dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian (prudent).
Perencanaan dan pemilihan desain strategi efektif merupakan faktor kunci yang harus mendapat porsi perhatian lebih.