• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Era reformasi telah membawa perubahan-perubahan mendasar dalam berbagai kehidupan termasuk kehidupan pendidikan. ST. Ramlah, (2013:94). Sesuai dengan perkembangan masyarakat dan perkembangan pendidikan di Negara kita Indonesia, sejak zaman penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan sampai sekarang, maka kewajiban dan tanggung jawab para pemimpin pendidikan umumnya dan kepala sekolah khususnya mengalami perkembangan dan perubahan pula.

Perubahan-perubahan tersebut dapat berupa perubahan dalam tujuan, perubahan dalam scope (luasnya tanggung jawab/ kewajiban, serta perubahan dalam sifatnya). Ketiga aspek tersebut sangat berhubungan erat dan sukar untuk dipisahkan satu dari yang lain.

Pendidikan Agama Islam peru dikembangkan dengan tetap melihat kemampuan siswa dalam proses belajar mengajar dengan pendekatan persuasif, mengingat kondisi, situasi, sarana, dan prasarana serta beragamnya kemampuan guru dalam menerapkan metode mengajar, terutama dalam proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam.

Pada dasarnya, perkembangan merujuk kepada perubahan sistematiktentang fungsi fisik dan psikis. Perubahan fisik meliputi perkembangan biologis dasar sebagai hasil dari konsepsi dan hasil dari

interaksi proses biologis dan genetika dengan lingkungan. Sementara perubahan psikis menyangkut keseluruhan karakteristik keseluruhan karakteristik psikologis individu, seperti perkembangan kognitif, emosi, sosial, dan moral. Kreativitas guru fiqih sangat penting dalam mengembangkan potensi kognitif, afektif, dan psikomotorik tujuannya untuk memberikan pemahaman dan pematangan tentang perlunya Agama Islam sebagai upaya pembentukan sikap.

Perkembangan dapat diartikan sebagai proses perubahan kuantitatif dan kualitatif individu dalam rentang kehidupannya, mulai dari masa konsepsi, masa bayi, masa kanak-kanak, masa anak, masa remaja sampai masa dewasa.

Perkembangan individu merupakan pola gerakan atau perubahan yang secara dinamis di mulai dari perubahan atau konsepsi dan terus berlanjut sepanjang siklus kehidupan manusia yang terjadi akibat kematangan dan pengalaman.

Perkembangan individu disamping dipengaruhi oleh faktor bawaan , kualitas individu juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain, seperti faktor lingkungan yang tidak lepas dari pengaruh faktor psikososial. Baik faktor bawaan atau sering juga disebut faktor keturunan dan faktor lingkungan yang berbeda-beda antara individu yang satu dengan individu yang lain menyebabkan perbedaan yang disebut dengan instilah individual differences.

3

Berdasarkan hal ini, masing-masing individu memiliki keunggulan atau kekhasan sendiri baik dari ranah perkembangan fisik, intelektual, kognitif dan bahasa, serta emosi dan sosialnya yang terlihat dalam sikap dan perilakunya sehari-hari.

Setiap aspek perkembangan individu, baik fisik, intelektual, emosi, sosial, maupun moral-spritual, satu sama lainya saling mempengaruhi.

Pada umumnya terdapat hubungan antara korelasi yang positif antara aspek-aspek tersebut.

Perkembangan berlangsung dari out-control ke inner-control, yang berarti bahwa pada awalnya anak sangat tergantung kepada pengawasan atau bantuan orang lain dalam memenuhi kebutuhan atau untuk melakukan sesuatu kegiatan yang terkait dengan kedisiplinan. Seiring dengan bertambahnya pengalaman atau belajar dari pergaulan sosial tentang norma atau nilai-nilai, baik dilingkungan keluarga, sekolah, teman sebaya, maupun masyarakat, anak dapat mengembangkan

kemampuanya untuk mengontrol tindakan atau perilakunya oleh dirinya sendiri (inner-control).

Sekolah sebagai lembaga pendidikan perlu membangun budaya akademik di kalangan siswa. Dalam hal ini, pimpinan sekolah dan guru-guru perlu menampilkan dirinya sebagai figur atau panutan yang memberi suri tauladan kepada para siswa dalam membangun budaya akademik ini yang dimaksud dengan budaya akademik disini adalah merujuk pada sikap mental, kebiasaan, dan perilaku yang terkait dengan proses

pengembangan intelektual, dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebagaimana rumusan tujuan pendidikan nasional dalam Undang-undang sistem pendidikan nasional Nomor 20 tahun 2003 yaitu:

“Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.

Sejalan dengan kemajuan dalam berbagai bidang sebagai hasil pembangunan, bidang pendidikan pun mengalami perkembangan. Jika pada zaman penjajahan dulu tugas guru dan kepala sekolah hanya melaksanakan petunjuk dan perintah dari atasan saja, kini tugas mereka, terutama tugas guru sudah lebih berat.

Adanya perubahan dalam tujuan pendidikan mengubah pola scope atau luasnya tanggung jawab yang harus di pikul dan dilaksanakan oleh para pemimpin pendidikan. Hal ini mengubah pula bagaimana sifat-sifat kepemimpinan yang harus dijalankan sehingga dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Pendidikan merupakan bagian yang integral dalam kehidupan manusia, dimana manusia dapat membina kepribadiannya dengan jalan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dengan demikian dari nilai-nilai yang ada berlangsung suatu proses yang selaras dengan tujuan utama

5

pendidikan yaitu mengembangkan kemampuan pengetahuan keterampilan dan sikap anak didik secara optimal. Proses pendidikan sangat menentukan kepribadian, skill serta budi pekerti manusia tersebut.

Pendidikan merupakan salah satu pilar kehidupan bangsa. Masa depan suatu bangsa bisa diketahui melalui sejauh mana komitmen masyarakat, bangsa atau pun negara dalam menyelenggarakan pendidikan nasional. Oleh karena itu, pendidikan menjadi faktor utama atau penentu bagi masa depan bangsa.

Dalam rangka perwujudan fungsi idealnya untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut, sistem pendidikan di Indonesia haruslah senantiasa mengorientasikan diri menjawab kebutuhan dan tantangan yang muncul dalam masyarakat Indonesia sebagai konsekuensi logis dari perubahan.

Pendidikan agama merupakan usaha untuk memperkuat iman dan ketakwaan tarhadap Tuhan yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianut oleh peserta didik yang bersangkutan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerunan antara umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasioal.

Muhaimin, (2012:75).

Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan formal yang menyelenggarakan kegiatan proses belajar mengajar sebagai upaya untuk tercapainya tujuan pendidikan. Penanggung jawab dalam proses

belajar mengajar yang dilakukan di sekolah ditentukan pula bagaimana akhlak dan kinerja guru.

Tinggi rendahnya mutu pendidikan banyak dipengaruhi oleh kualitas proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru, karena guru secara langsung memberikan bimbingan dan bantuan kepada siswa dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Agus Prasetyo, dalam Muslihani (2012:47).

Dalam dunia pendidikan di Indonesia guru dan kepala sekolah adalah salah satu supervisi atau supervisor yang merupakan center leader yang memenage aktivitas program kerja sekolah menjadi terarah, terfokus, dan mengalami peningkatan yang signifikan. Oleh karena itu, kepala sekolah atau supervisor berperan penting bagi peningkatan kinerja guru untuk lebih semangat dan professional dalam mengajar mengembangkan diri dalam mentransfer ilmu kepada peserta didik.

Oleh karena itu harus memikirkan dan membuat perencanaan secara seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar siswa dengan memperbaiki kualitas pengajar. Hal ini menunjukkan bahwa guru diharapkan mampu berperan aktif sebagai pengelola proses belajar mengajar, bertindak sebagai fasilitator yang berusaha menciptakan organisasi kelas, penggunaan metode mengajar maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola belajar mengajar.

Perangkat sekolah seperti kepala sekolah, dewan guru, siswa, pegawai/karyawan harus saling mendukung untuk bekerja sama

7

mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa sukses atau tidaknya suatu organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan sangat tergantung atas kemampuan pimpinannya untuk menumbuhkan iklim kerja sama agar dengan mudah dapat menggerakkan sumber manusia yang ada, sehingga pendayagunaannya dapat berjalan dengan efektif dan efisien.

Menurut Sergiovani dan Starrat yang dikutip oleh E. Mulyasa dalam Sugiono, (2000:23), mengatakan bahwa supervisi merupakan suatu proses yang dirancang secara khusus untuk membantu para guru dan supervisor dalam mempelajari tugas-tugasnya sehari-hari di sekolah, agar dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk memberikan layanan yang lebih baik pada orang tua peserta didik dan sekolah sebagai masyarakat belajar yang lebih efektif.

Ada kecenderungan yang kuat bahwa untuk meningkatkan kualitas layanan dalam kualifikasi profesional guru yang perlu dibina dan ditata kembali kemampuannya sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk mengarahkan program guru agar menjadi sosok professional dalam pendidikan. Hal ini tidak lepas dari bantuan dan bimbingan dari supervisor.

Dalam melaksanakan tugasnya pengawas berkewajiban membantu guru memberi dukungan yang dapat melaksanakan tugas dengan baik sebagai pendidik maupun pengajar. Sebagai guru yang profesional mereka harus memiliki keahlian khusus dan dapat menguasai seluk beluk pendidikan

dan pengajaran dengan berbagai ilmu pengetahuan yang perlu dibina dan dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu.

Dalam penelitian ini supervisor efektif dalam lembaga pendidikan adalah kepala sekolah yang baik. Kepala sekolah yang merupakan center of leader dalam membantu efektivitas belajar mengajar. Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan tingkat operasional memiliki sentral dalam membawa keberhasilan lembaga pendidikan.

Kepala sekolah berperan memandu, menuntun, membimbing, membangun, memberi dan memotivasi kerja, mengemudikan organisasi, menjalin jaringan komunikasi yang baik, memberi supervisi atau pengawasan yang efisien dengan ketentuan waktu dan perencanaan.

Keterlibatan kepala sekolah dan guru pendidikan agama Islam dalam pengembangan efektivitas pembelajaran di sekolah juga mendorong rasa kepemilikan yang lebih tinggi terhadap sekolahnya yang pada akhirnya mendorong mereka untuk menggunakan sumber daya yang ada dengan seefisien mungkin untuk mencapai hasil yang maksimal.

Kemampuan sekolah untuk menciptakan situasi yang kondusif bagi siswa untuk belajar.

Kepemimpinan kepala sekolah merupakan hal yang sangat menarik untuk dikaji dan dipelajari sebagai upaya mendapatkan sekolah yang baik dan berkualitas.

9

Kepemimpinan kepala sekolah meliputi kepemimpinan intern dan ekstern, sebagai wujud pengakuan legitimasi lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Tentunya kepemimpinan yang efektif dimulai dari perbaikan kualitas sumber daya manusia.

Kesadaran terhadap pentingnya kehidupan agama bagi bangsa Indonesia diwujudkan dalam pemberian materi agama sejak TK hingga perguruan tinggi. Hal ini dilakukan karena pembangunan bangsa akan menuai keberhasilan jika para pelakunya memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, dimana salah satu indikatornya adalah siswa harus memiliki kesadaran beragama yang baik.

Namun dilihat dari kenyataannya justru indikatornya siswa kurang memiliki kesadaran beragama yang baik.Ini disebabkan kinerja guru pendidikan agama Islam yang belum optimal.

Oleh karena itu, peneliti menganalisis dan mendeskripsikan secara kritis tugas dan aplikasi kegiatan supervisi sebagai upaya peningkatan kinerja guru pendidikan agama Islam di salah satu sekolah kejuruan di Jeneponto.

Kekurang berhasilan guru pendidikan agama Islam menjadi pokok penting pembahasan penelitian dimana peran supervisi sekolah dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja guru pendidikan agama Islam dalam menjalankan tugas belajar mengajar. Dengan latar belakang tersebut peneliti memberi judul proposal ini "Peranan Supervisi Sekolah

Terhadap Peningkatan Kinerja Guru Pendidikan Agama Islam Di Smk Negeri 4 Jeneponto"