BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Kinerja Guru
1. Pengertian Kinerja Guru
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kinerja memiliki arti tentang sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan dan kemampuan kerja, Purwadarminto,( 2002:156). Dalam Bahasa Inggris, padanan untuk makna kinerja adalah kata ferformance yang berarti kemampuan dan kemauan melakukan sesuatu pekerjaan, atau dapat disebut juga sebagai prestasi kerja, yaitu hasil yang diinginkan dari suatu perilaku. Dalam pengertian ini mencakup kemampuan mental dan fisik.
Prestasi bukan berarti banyaknya kejuaraan yag diperoleh guru tetapi suatu keberhasilan yang salah satunya nampak dari suatu proses belajar mengajar.
Untuk mencapai kinerja maksimal, guru harus berusaha mengembangkan seluruh kompetensi yang dimilikinya dan juga manfaatkan serta ciptakan situasi yang ada dilingkungan sekolah sesuai dengan aturan yang berlaku. Kemudian Anwar Prabu dalam Purwadarminto mendefinisikan kinerja ( prestasi kerja) sebagai hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan.
Secara terminologi, Fremont, Kast dan Rosenzweig yang diterjemahkan oleh M. Yasin, sebagaimana yang dikutip oleh Afnibar, dalam Mulyasa, (2012:55), menyatakan bahwa kinerja adalah proses kerja seseorang individu untuk mencapai tujuan yang relevan.
31
Dachniel menyatakan bahwa kinerja berarti kemauan dan kemampuan melakukan suatu pekerjaan. Artinya, kinerja merupakan semangat, intensitas, kemauan serta kemampuan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan. Dalam kata kinerja juga terkandung makna profesionalitas, sebab dalam mewujudkan kinerja, keterampilan seseorang dalam bidang yang ia kerjakan sangat menentukan.
Selanjutnya, menurut Tuckman dalam Achmad Sanusi, (1984: 101), mendefinisikan bahwa kinerja (performance) digunakan untuk menandai manifestasi pengetahuan, pemahaman, ide, konsep, keterampilan dan sebagainya yang dapat diamati. Ditinjau dari pandangan Islam, makna kinerja memiliki arti kesungguhan dan kemauan dalam melaksanakan tugas, dalam surat at-Taubah 105 dijelaskan :
Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".
( Depertemen agama RI., 2006:187)
Selanjutnya dalam surat Al-Maidah ayat 35 dijelaskan :
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah
pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat
keberuntungan.(Depertemen Agama RI., 2006:106)
Islam memberikan rambu-rambu bagi ummatnya, bahwa ketika melaksanakan suatu pekerjaan yang baik, maka tuntutan untuk bersungguh-sungguh menjadi sesuatu yang mutlak. Kesungguhan ini dinilai sebagai sebuah jihad. Orang yang bersungguh-sunguh dalam bekerja, bukan manusia saja yang akan melihat pekerjaan yang ia lakukan, bahkan Allah memberikan penghargaan sebagai orang yang mulia atas prestasi kerja yang dilakukan dengan kemuliaan pula.
Kemudian dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, dari umar Ra, Nabi SAW bersabda :
ا ﻰﻠﺻ ا ل وﺳر ل ﺎﻗ :ل ﺎﻗ ﮫﻧﻋ ا ﻲﺿر ب ﺎطﺧﻟ ا نﺑ ارﻣﻋ نﻋ
bahwa bagi setiap orang (mendapatkan apa yang diniatkan). Maka barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya kepada harta dunia yang dicarinya atau seorang wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dihijrahinya.”(Syarah Hadits Arba’in Annawawiyyah, 2008: 1)33
Pesan utama yang terkandung dalam hadits diatas adalah kesung-guhan, apapun aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang berdasarkan niat yang ia lahirkan dari dalam hatinya. Niat yang benar dan sungguh-sungguh akan melahirkan aktivitas yang penuh kesungguhan pula. Hasil dari aktivitas itu akan sesuai dengan apa yang telah menjadi niat dalam hatinya. Artinya kinerja yang memiliki makna kesungguhan itu akan berkaitan erat dengan niat yang menjadi awal seseorang melakukan aktivitas.
Guru adalah seorang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan ilmu pengetahuan. Menurut Departemen pendidikan dan kebudayaan, guru adalah seorang yang mempunyai gagasan yang harus di wujudkan untuk kepentingan anak didik, sehingga menunjang hubungan sebaik-baiknya dengan anak didik, sehingga menunjang tinggi, mengembangkan dan menerapkan keutamaan yang menyangkut agama, kebudayaan, keilmuan.
Kegiatan mengajar merupakan suatu keterampilan yang dengan sendirinya dapat dipelajari, sebagai suatu ilmu yang juga sebagai seni.
Seorang guru harus bersifat sebagai artis dan sebagai scientist. Sebagai seorang artis, guru harus dapat berperan dimuka kelas, sebagai mana seorang artis berperan di atas panggung.
Hanya bedanya seorang guru harus menumpahkan seluruh kebiasaan hidupnya sebagai guru, yang harus ditiru tidak memiliki cela di masyarakat. Bila seorang guru berasal dari tokoh-tokoh masyarakat,
seperti tokoh politik, seorang militer, seorang mantan pejabat, seorang pedagang, yang telah memperoleh dasar-dasar pengetahuan keguruan, maka dia harus memerankan lakon guru di depan kelas, tidak lagi sebagai mana profesinya semula, masih berlagak sebagai tokoh politik, masih seperti tentara, masih seperti pedagang dan sebagainya.
Kemudian sebagai scientist, dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul di depan kelas atau disekolah, maka guru dapat memecahkan permasalahan tersebut dengan cara-cara ilmiah, tidak lagi sebagai mana orang awam menghadapi masalah dengan cara emosional atau dengan mengambil jalan pintas, tampa disertai dengan pertimbangan yang matang. Oleh sebab itu, keterampilan mengajar dapat dipelajari, dilatih sehingga menjadi kebiasaan yang melekat pada diri.
Jadi yang paling penting dalam mengajar itu bukanlah bahan yang disampaikan oleh guru akan tetapi proses siswa dalam mempelajari bahan tersebut. Dari pandangan terakhir itu, maka peranan yang menonjol dalam kegiatan pengajaran ada pada siswa meskipun tidak berarti bahwa peranan guru disisihkan, hanya dirubah saja, guru bukan berperan sebagai penyampai informasi akan tetapi hanya bertindak sebagai pengarah dan pemberi fasilitas untuk mewujudkan terciptanya pro
Dalam dunia pendidikan, maka kinerja guru dapat dilihat dari berbagai tugas yang telah diamanahkan dalam Undang-undang. Pada hakikatnya, kinerja guru bukan hanya sebatas melaksanakan kurikulum sebagai beban kerja, tetapi justeru banyak tugas lain yang harus
35
dilaksanakan dan itu terwujud dalam bentuk kinerja seorang guru. Inilah hakikatnya tuntutan profesionalitas yang telah di sematkan kepada beban dan tanggung jawab kepada mereka.
Secara umum, dalam UU no 20 tahun 2003 dan UU no 14 tahun 2005 telah memberikan gambaran bahwa kinerja guru berada dalam rumusan melaksanakan tugas Utama dan menunaikan beban kerja, serta mewujudkan kompetensi dalam mengembang amanah pendidikan yang ada di pudaknya.
Sedangkan kinerja guru agama Islam telah memberikan gambaran bahwa tugasnya bukan hanya sekedar mentransformasikan ilmu kepada para peserta didik, tetapi juga harus berusaha memberikan srtategi pemaknaan dari materi pembalajaran yang ia laksanakan, sehingga pendidikan Agama Islam sebagai syarat pendidikan nilai tidak hanya sekedar berada dalam level keilmuan peserta didik saja, tetapi menjadi cermin dalam kehidupan sehari-hari
Sebagai pendidik, justru amanah kinerja dalam melaksanakan tugasnya lebih terfokus pada internalisasi nilai yang berada dalam makna tugas mendidik..
Agama senantiasa mendorong agar sesorang berpredikat muslim sejati, serta memberikan motivasi hidup sebagai pembangun dan pengendali diri manusia yang senantiasa harus diamalkan. Kesemuanya ini memberikan dorongan untuk berakhlak dan bermoral agar dapat menjamin kelestarian, keselarasan, dan keseimbangan dalam hidup
manusia baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat dalam mencapai ketentraman dunia dan akhirat.
Adanya berbagai usaha yang dilakukan oleh guru untuk membujuk siswa agar menjadi manusia yang “agamawan” dan tekun melakukan ibadah dan hal ini merupkan hasil usaha pendekatan dari jiwa kepribadian guru, karena dengan kepribadian melakukan proses belajar mengajar diharapakan tercapainya usaha belajar siswa yang diharapkan.
Zakiah Darajat (1994:16), merupakan seorang pakar psikologi dalam bukunya kepribadian Guru menjelaskan bahwa kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik atau pembina yang lebih baik bagi anak didiknya”. Dengan demikian dipahami bahwa bukan hanya profesi guru yang dituntut, melainkan kepribadian harus pula dimiliki sebagai bekal seorang pendidik. Hal yang satu ini menjadi kemutlakan karena
2. Pengertian Guru
Guru merupakan pembimbing dan pendidik yang sangat berpengaruh dalam memberikan pengajaran kepada siswa.
Sejalan dengan yang dijelaskan diatas, menurut UU SIKDIKNAS No.14 Tahun 2005:
guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, megajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jenjang pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan menengah .
37
Sedangkan menurut Tohirin, ( 2011:15 ) pengertian guru yaitu
“Suatu jabatan profesional, karena ia menuntut dimilikinya disiplin ilmu tertentu yang hanya bisa diperoleh melalui lembaga pendidikan profesi”.
Pendidikan agama pertama kali diberikan sejak kecil, karena orang tualah sebagai peletak dasar pertama dalam menumbuhkan jiwa keagamaan Sedangkan Guru PAI di sekolah merupakan pengembang potensi keagamaan yang telah diperoleh dari kedua orangtuanya sejak kecil. Kalau siswa tidak mempunyai potensi keagamaan, yang diterima dari kedua orang tuanya, maka di sinilah letak permasalahannya, sehingga siswa tersebut mengalami kebimbangan dalam mepelajari Agama Islam.
Adanya siswa seperti ini menyebabkan Guru harus mendekati siswanya untuk memotivasi agar siswa tersebut lepas dari kebimbangan yang dialaminya. sehingga secara tidak langsung siswa yang bersangkutan dapat meyakini akan kebenaran agama Islam sebagai agama yang dianutnya.
Menurut Arifin (1998:2), memaknai bahwa Agama Islam yang membawa nilai-nilai dan norma-norma kewahyuan bagi kepentingan hidup manusia di atas bumi, baru aktual dan fungsional bila diiternalisasikan ke-dalam pribadi melalui proses pendidikan yang konsisten terarah kepada tujuan.
Keterbatasan alam pikiran siswa ini tentu disadari dari perbuatan jasmaniah yang biasanya menimbulkan kegoncangan, kecemasan, emosi
dan kekhawatiran yang pada akhirnya kegoncangan tersebut menimbulkan kurang kepercayaan kepada keagamaaan. Pada segi ini dapat dilihat kecenderungan siswa dalam beragama yang sewaktu-waktu fanatik dan sewaktu-waktu lemah imannya. Sebagai contoh dalam hal ibadah (shalat) yang malas melaksanakan shalat. Sehingga perlu diperhatikan oleh seorang guru khususnya guru agama.
Bilamana ada siswanya yang malas beribadah, secara spontanitas guru harus mengatasi siswanya dengan jalan pendekatan terhadap siswa yang bersangkutan. Adanya hubungan yang harmonis menunjukkan mudahnya komunikasi komunikasi guru terhadap siswanya dalam memberikan pemahaman atau ransangan yang sedapat mungkin mampu menggugah hatinya dalam menerima segala saran-saran yang diberikan.
Mengingat bahwa siswa seperti itu sangat membutuhkan bantuan untuk diberikan pemahaman secara mendalam sampai mereka bisa menyakini kebenaran Islam, agar terhindar dari perbuatan dosa yang biasa dilakukan.
Guru harus senantiasa memerhatikan siswanya agar mereka dapat terbuka menyampaikan segala hambatannya yang ada pada diri mereka dan mereka senang untuk menerima segala nasehat dan bimbingan yang diberikan oleh gurunya.
Selanjutnya Arifin ( 1998:45) juga memaknai guru sebagai pengarah dan pembimbing berdasarkan tujuan yang telah ditentukan dalam proses belajar mengajar.
39
Agama memberikan pedoman yang senantiasa harus dipegangi dalam setiap kegiatan yang dilakukan. Agar tertanam jiwa keagamaan terhadap para siswa, maka penulis menganggap bahwa pendekatan individual sangat diharapkan dimana guru agama mendekati siswa secara perorangan dalam memberikan pengertian bahwa Agama adalah kebutuhan yang sangat mendesak dan harus dipenuhi. Dengan demikian Agama Islam merupakan pegangan hidup yang senantiasa dijadikan acuan dalam gerak langkah manusia.
3. Sifat- sifat Guru
Seorang pendidik dapat menjalankan fungsi sebagaimana yang telah dibebankan Allah kepada Rasul dan pengikutnya, maka seorang pendidik harus memiliki sifat-sifat berikut ini :
a. Seorang pendidik hendaknya mengajarkan ilmunya dengan sabar.
b. Ketika menyampaikan ilmunya kepada anak didik, seorang pendidik harus memiliki kejujuran dengan menerapkan apa yang dia ajarkan dalam kehidupan pribadinya.
c. Seorang guru harus senantiasa meningkatkan wawasan, pengetahuan dan kajiannya.
d. Seorang pendidik harus cerdik dan terampil dalam menciptakan metode pengajaran yang variatif serta sesuai dengan situasi dan materi pelajaran.
e. Seorang guru harus mampu bersikap tegas dan meletakkan sesuatu sesuai proporsinya sehingga dia akan mampu mengontrol dan menguasai siswa.
f. Seorang guru dituntut untuk memahami psikologi anak, psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan sehingga ketika dia mengajar, dia akan memahami dan memperlakukan anak didiknya sesuai kadar intelektual dan kesiapan psikologisnya.
g. Seorang guru dituntut untuk peka terhadap fenomena kehidupan sehingga dia mampu memahami berbagai kecenderungan dunia beserta dampak dan akibatnya terhadap anak didik, terutama dampak terhadap akidah dan pola pikir mereka.
h. Seorang guru dituntut memiliki sikap adil terhadap seluruh anak didiknya.