• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Kinerja Guru

4. Syarat – Syarat Guru

Dalam Undang-Undang RI No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab IV pasal 8 tersebut disebutkan ada 5 syarat bagi seorang guru , yaitu :

a. Memiliki Kualifikasi Akademik . Kualifikasi akademik adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang guru atau pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Dengan kata lain Kualifikasi akademik adalah ijazah jenjang pendidikan

41

akademik yang harus dimiliki oleh guru atau dosen sesuai dengan jenis, jenjang, dan satuan pendidikan formal di tempat penugasan.

Ijazah yang harus dimiliki guru adalah Ijazah jenjang Sarjana S1 atau Diploma IV yang sesuai dengan jenis,jenjang dan satuan pendidikan atau mata pelajaran yang diampunya sesuai dengan standar nasional pendidikan.

b. Memiliki Kompetensi. Kompetensi guru adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Kompetensi guru menurut Undang-undang RI No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dinyatakan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi kepribadian, pedagogik, professional, dan sosial. Mengenai Kompetensi guru akan penulis uraikan dalam sub bab tersendiri

c. Memiliki Sertifikat Pendidik. Sertifikat Pendidik adalah sertifikat yang ditandatangani oleh perguruan tinggi penyelenggara serifikasi sebagai bukti formal pengakuan guru yang diberikan kepada guru sebagai tenaga professional. Sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar profesi guru melalui proses sertifikasi. Guru yang telah mendapat sertifikat pendidik berarti telah mempunyai kualifikasi mengajar seperti yang dijelaskan di dalam sertifikasi tersebut.

d. Sehat Jasmani dan Rohani. Yang dimaksud dengan sehat jasmani dan rohani adalah kondisi kesehatan fisik dan mental yang memungkinkan guru dapat melaksanakan tugas dengan baik. Kondisi kesehatan fisik dan mental tersebut tidak ditujukan kepada penyandang cacat.

Seorang guru (pendidik) adalah merupakan petugas lapangan dalam pendidikan. Faktor kesehatan jasmani adalah faktor yang menentukan terhadap lancar dan tidaknya proses pendidikan yang ada, dan di samping itu kesehatan jasmani dari seorang guru banyak memberikan pengaruh terhadap anak didik terutama yang menyangkut kebanggaan mereka apabila memiliki guru yang berbadan sehat.

Guru yang mengidap penyakit menular sangat membahayakan anak didik. Disamping itu guru yang berpenyakit tidak akan bergairah dalam mengajar, dan kerap kali absen yang tentunya merugikan anak didik.

Sedangkan yang dimaksud sehat rohani menyangkut masalah keseluruhan bentuk rohaniah manusiawi hubungannya dengan masalah moral yang baik, moral yang luhur, moral tinggi, dimana seorang guru harus memiliki moral yang baik dan menjadi teladan bagi siswanya. Apa yang hendak disampaikan kepada murid untuk menuju tingkat martabat kemanusiaan yang luhur hendaklah lebih dahulu guru itu sendiri memiliki martabat tersebut, sebab nantinya menyangkut masalah kewibawaan bagi seorang guru.

43

Adapun sifat-sifat yang dapat digolongkan ke dalam moral atau budi yang luhur antara lain berlaku jujur, berlaku adil terhadap siapapun, lebih-lebih terhadap dirinya, cinta kepada kebenaran, bertindak bijaksana, suka memaafkan, tidak pembenci, mau mengakui kesalahan sendiri, ikhlas berkorban, tidak mementingkan diri sendiri, menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela.

e. Memiliki Kemampuan untuk Mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional Guru harus punya kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang disebutkan dalam Undang-undang RI No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3 :

“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusiayang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

44 A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dalam hal ini peneliti berusha memberikan gambaran tentang Peranan Supervisi Pengajaran Terhadap Peningkatan Kinerja Guru PAI di SMK Negeri 4 Jeneponto.

Suharsimi Arikunto Mengemukakan bahwa penelitian kualitatif dengan metode analisis deskriftif yakni penelitian yang di lakukan secara intensif, terinci dan memberikan gambaran mendalam terhadap suatu organisasi atau lembaga tertentu, yang akan di amati.

B. Lokasi dan Obyek Penelitian

Lokasi penelitiannya yaitu Sekolah SMK Negeri 4 Jeneponto.

Peneliti memilih tempat ini mengingat sekolah tersebut mudah dijangkau dan diakses oleh peneliti. Sedangkan obyek penelitian adalah Supervisor UPTD Diknas Jeneponto, Supervisor Kementerian Agama. Jeneponto ,kepala sekolah/ pengawas sebagai supervisor dan Guru Pendidikan Agama Islam di SMK Negeri 4 Jeneponto.

C. Variabel Penelitian

Menurut Hadi dalam Suharsimi Arikunto (2010:97), variabel adalah “gejala yang bervariasi yang menjadi objek penelitian”. Adapun variable dalam penelitian ini ada 2 variabel yaitu:

45

1. Supervisi Sekolah sebagai variable bebas (indevendent variabel) yaitu variable yang mempengaruhi intensitas variable terikat

2. Peningkatan Kinerja Guru Pendidikan Agama Islam sebagai variable terikat (devendent variabel) yaitu variabel yang dipengaruhi oleh intensitas variabel bebas.

D. Defenisi Operasional Variabel

Untuk memudahkan pemahaman kita dan menghindari kesalahpahaman dalam pembahasan penelitian ini, maka dilakukan defenisi operasional variabel, sebagai berikut :

1. Supervisi Sekolah adalah aktivitas pemibinaan yang direncanakan oleh supervisor untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan secara efektif.

2. Peningkatan Kinerja Guru Pendidikan Agama Islam adalah peningkatan kemampuan profesional Guru Pendidikan Agama Islam dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya yang tentunya sudah dapat mencermikan suatu pola kerja yang dapat meningkatkan mutu pendidikan kearah yang lebih baik.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa defenisi operasional dalam penelitian ini adalah bagaimana Peranan Supervisi Sekolah Terhadap Peningkatan Kinerja Guru Pendidikan Agama Islam Di SMK Negeri 4 Jeneponto dapat bekerja dengan baik sehingga melahirkan Guru-Guru Profesional.

E. Populasi Dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah sejumlah penduduk atau kelompok individu, benda, atau unsur yang diteliti, diselidiki dalam pelaksanaan penelitian, karena itu merupakan suatu bagian diperlukan untuk memecahkan suatu masalah itu menunjang keberhasilan penelitian itu sendiri yang merupakan manifestasi dari cara manusia dalam mencari dan menemukan pengetahuan yang di lakukan secara ilmiah (berdasarkan fakta, data secara empiris), sistematis atau mengikuti suatu aturan tertentu dan logis sesuai dengan daya analisis manusia

Untuk mengetahui pengertian dari populasi,berikut ini peneliti akan mengemukakan pendapat Suharsimi Arikunto (2007;102), sebagai berikut:

“Populasi yaitu keseluruhan gejala-gejala,peristiwa atau fakta-fakta yang menjadi objek penelitian.apabila sesorang ingin meneliti semua elemen yang ada diwilyah penelitian itu,merupakan penelitian populasi”.

Berpangkal dari defenisi tersebut,maka peneliti dapat menarik suatu kesimpulan dengan melihat unsur-unsur persamaan dan perbandingan (comparative) bahwa populasi adalah keseluruhan dari sumber daya yang menjadi objek penelitian baik benda,tempat,manusia dan sebagainya.

Untuk lebih memahami tentang populasi dalam penelitian ini,berikut disajikan data Kepala Sekolah/ pengawas sebagai Supervisi dan Guru PAI SMK Negeri 4 Jeneponto,.Lebih jelasnya lihat tabel berikut:

47

Tabel 1

Populasi Supervisor dan Guru Pendidikan Agama Islam SMK Negeri 4 Jeneponto

Sumber Data: Kepala Bagian Tata Usaha SMK Negeri 4 Jeneponto Tahun 2014.

2. Sampel

Sampel dalam penelitian atau keseluruhan populasi yang diteliti, karena populasinya kecil yakni sebanyaknya kurang dari 100 orang.

(Suharsimi Arikunto,2007: 104). Sampel penelitian ini adalah supervisor dan Guru PAI SMK Negeri 4 Jeneponto..

Suharsimi Arikunto (2007:106), menjelaskan bahwa: Apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi.

Dalam bukunya Cholid Narbuko dan Abu Ahmadi, mengutip pendapat Suharsimi Arikunto (2007:76), yang menjelaskan bahwa

sampel atau contoh adalah sebagian individu yang diselidiki keseluruhan individu (objek dan subyek). Sampel yang baik yaitu sampel yang memiliki populasi atau mencerminkan populasi secara maksimal tetapi walaupun mewakili sampel bukan merupakan duplikat dari populasi

F. Instrument Penelitian

Instrumen adalah alat bantu yang di gunakan oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian yang di sesuaikan dengan kondisi dan instrumen yang di gunakan. Dalam penelitian ini, instrument yang di gunakan bertujuan mendapatkan data dan informasi yang dapat di pertanggung jawabkan.

Instrumen ini harapkan dapat membantu peneliti dalam melaksanakan penelitian untuk mempermudah mendapatkan informasi guna melengkapi hasil penelitian. Adapun instrumen yang di maksudkan sebagai berikut :

1. Pedoman Observasi adalah instrumen yang digunakan dalam pengamatan ataupun observasi di lokasi penelitian.

2. Pedoman wawancara merupakan instrumen atau sebuah konsep pertanyaan tertulis yang akan dijadikan pedoman oleh peneliti dalam melakukan proses pengumpulan data dari para responden.

3. Pedoman angket merupakan pertanyaan tertulis dan memiliki alternatif pilihan jawaban sehingga terhindar dari jawaban spekulatif.

4. Pedoman dokumentasi adalah instrumen yang digunakan untuk

49

mencatat ataupun menyimpan data-data yang diperlukan dalam penelitian

G. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data terbagi atas empat yaitu:

a. Obsevasi

Observasi digunakan dalam rangka untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian, yang merupakan hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh untuk menyadari adanya sesuatu rangsangan tertentu yang diinginkan.

b. Wawancara

Wawancara adalah salah satu bentuk atau alat instrument yang sering digunakan dalam penelitian atau dalam pengumpulan data, yang tujuannya untuk memperoleh keterangan secara langsung dari responden. Oleh sebab itu jika teknik ini digunakan dalam penelitian maka perlu diketahui terlebih dahulu sasaran maksud dan masalah yang dibutuhkan oleh si Peneliti, sebab dalam suatu wawancara dapat diperoleh keterangan yang berkaitan dan ada kalanya tidak sesuai dengan maksud peneliti.

c. Angket

Angket yaitu sejumlah pertanyaan tertulis yang harus dijawab, secara tertulis oleh respoden. Angket merupakan intrumen dalam teknik komunikasi. Dengan demikian data yang dihimpun bersifat

informasi tanpa penjelasan berupa pendapat, buah fikiran, ungkapan dan lain-lain.

d. Dokumentasi

Dokumentasi yaitu data-data tertulis yang terhimpun dalam berbagai kegiatan atau kejadian yang terdiri dari segi waktu yang relatif belum terlalu lama. kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya.

H. Teknik Analisis Data

Pada tahapan ini data yang telah dikumpulkan baik melalui penelitian kepustakaan maupun penelitian lapangan terlebih dahulu diolah lalu kemudian dianalisis untuk memperoleh suatu kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh tanpa memberikan perlakuan khusus, akan tetapi dengan memperoleh apa adanya. Dalam pengolahan analisis data ini, digunakan beberapa metode yaitu :

1. Metode Induktif.

Metode induktif yaitu penelitian menganalisis data dengan melalui dari data yang bersifat khusus kemudian menarik kesimpulan yang bersifat umum.

2. Metode Deduktif

Metode deduktif yaitu penelitian menganalisis data dengan melalui dari yang bersifat umum kemudian diuraikan guna mendapatkan kesimpulan yang bersifat khusus.

3. Metode Komparatif.

51

Metode komparatif yaitu metode yang dipakai dalam menganalisis data dengan jalan membandingkan antara satu data dengan data yang lain, kemudian mencari persamaan dan perbedaan.

Dalam mengelola data, penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif, yaitu analisis yang bertujuan untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat individu, keadaan, gejala kelompok tertentu, atau menentukan frekuensi pengetahuan suatu gejala dan hubungan tertentu antara gejala yang satu dengan gejala yang lainnya.

52

A. Sejarah Berdirinya SMK Negeri 4 Jeneponto

Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Jeneponto adalah salah satu lembaga pendidikan yang didirikan pada tahun 2004 oleh pemerintah daerah pada tanggal 07 Mei 2004 dan disahkan pada tanggal 03 Mei 2005 oleh gubernur Sulawasi Selatan H.M Amin Syam.

a. Data sepervisi sekolah SMK Negeri 4 Jeneponto No Hari/ tgl/bln/tahun

Morra Bilu, S.Ag Guru PAI

4 Kamis, 10/9/2015 Pukul 11:11

Muh. Talib, S.Pd, M.Pd Kepsek

b. Visi dan Misi SMK Negeri 4 Jeneponto Visi

Menjadi lembaga pendidikan yang mampu menghasilkan tenaga kerja produktif, kreatif dan inovatif yang beriman dan bertaqwa serta berwawasan lingkungan.

53

Misi

 Mengembangkan kurikulum yang fleksibel dan berorientasi pada kebutuhan lapangan kerja.

 Mengembangkan semangat keunggulan dan kompotisi yang positif.

 Mengembangkan iklim belajar yang berakar pada nilai agama, norma dan budaya masyarakat sekitar serta berbudaya bangsa indunesia pada umumnya.

 Menanamkan budaya bersih dan cinta lingkungan c. Tujuan SMK Negeri 4 Jeneponto

 Menghasilkan tamatan yang cerdas, terampil, beriman, bertaqwa serta berakhlak mulia.

 Menyiapkan peserta didik untuk memasuki dunia kerja yang profesional dan berwawasan wirausaha.

 Memberikan pengalaman nyata agar peserta didik menguasai keahlian produktif, berstandar budaya industri yang berorientasi kepada standar mutu, etos kerja yang tinggi, produktif dan kompotitif.

 Mewujudkan sekolah menjadi SMK berwawasan lingkungan d. Fasilitas Sekolah SMK Negeri 4 Jeneponto

SMK Negeri 4 Jenepontoh memiliki fasilitas yang dapat dikategorikan sangat memadai yang dapat mendukung keberlangsungan

proses pembelajaran yang produktif. Adapun beberapa fasilitas yang terdapat di SMK Negeri 4 Jeneponto, yakni:

a. Ruang Kepala Sekolah b. Ruang Guru

c. Ruang BP

d. Ruang Belajar yang Cukup e. Perpustakaan

f. Lab IPA dan Komputer g. Lab pertanian

h. Lab listrik

i. Lapangan olahraga j. Lahan pertanian

k. Ruang Tata Usaha / Administrasi l. Mushollah

m. Toilet n. Kantin

o. Tempat Parkir

e. Keadaan Siswa

a. Penerimaan Siswa Baru

Penerimaan siswa baru di SMK Negeri 4 Jeneponto harus melalui prosedur berupa pengambilan formulir, kemudian di daftar pada buku jurusan, setelah itu melakukan pendaftaran secar manual setelah di tes,

55

masukkan berkas apabila dinyatakan lulus tahap selanjutnya mengikuti tes wawancara dan kesehatan. Terakhir pembagian kelas sesuai jurusan.

b. Proses Kenaikan Kelas

Untuk dapat naik ke kelas yang lebih tinggi,maka terdapat beberapa hal yang menjadi pertimbangan guru SMK Negeri 4 Jeneponto terutama guru kelas yang bersangkutan. Diantaranya yaitu:

a. Absensi kehadiran siswa dalam proses pembelajaran harus mencapai 80%

b. Perolehan nilaitugas-tugas, nilai ulangan harian, dan nilai ulangan semester harus mencapai KKM.

c. Sikap serta perilaku siswa baik dalam proses pembelajarn maupun diluar jam pelajaran.

d. Siswa harus ikut prakerin dan telah menyelesaikan laporan prakerin pada waktu yang telah ditentukan (khusus kelas XI) Dari ke 4 hal tersebut diputuskan dalam rapat guru yang diadakan menjelang penaikan kelas. Siswa yang nilainya tidak tuntas pada waktu yang telah ditentukan dinyatakan tidak naik kelas (mengulang pada kelas sebelumnya/pindah sekolah).

c. Waktu Belajar

SMK Muhammadiyah Bontoala yang padat akan siswanya membagi dua waktu belajar, diantaranya yaitu:

a. Belajar pagi mulai dari pukul 07.15–13.00 wita (kelas X dan kelas XI)

b. Belajar siang antara pukul 13.00 – 17.30 wita (kelas XII)

Sehingga dengan adanya pembagian waktu belajar tersebut, guru bisa mengimbangi kelas yang akan digunakan dalam proses pembelajaran

d. Jumlah Siswa

Berdasarkan data yang diperoleh pada bulan agustus 2015, diketahui bahwa kelompok ruang belajar untuk kelas X sebanyak 9 kelas dengan jumlah siswa 406 orang. Pada kelas XI, ruang belajarnya sebanyak 9 kelas dengan jumlah siswa 364. Dan pada kelas XII, ruang belajarnya sebanyak 6 kelas dengan jumlah siswa 213.

Jadi, jumlah siswa secara keseluruhan adalah 983 orang siswa.

f. Personil

a. Guru

NO NAMA JABATAN KET

1. Ahmad Rivai, S.Pd Wakasek

Kesiswaan PNS

2 Morra Bilu, S.Ag Wakasek Sarana

& Prasarana PNS

3 Rosdiana, S.Pd Guru Bidang

Studi PNS

4. Alamsyah, S.Pd M.Pd Guru Bidang

Studi PNS

5. Suhaeda, S.Pd Guru Bidang

Studi PNS

6. Hariyati, S.Ag Guru Bidang

Studi PNS

7. Supiati, SP Guru Bidang

Studi PNS

8. Suriati, S.Pd Guru Bidang

Studi PNS

57

12. Andi Marlina, ST Guru Bidang

Studi PNS

13. Rahmiati, S.Pd Guru Bidang

Studi PNS

14. Hasniar, S.Pd Guru Bidang

Studi PNS

15. Mantasiah, S.Pd Guru Bidang

Studi PNS

16 Wahidin, S.Pd Guru Bidang

Studi PNS

17 Darmiati Abbas, SP Guru Bidang

Studi PNS

18. Baharuddin, S.S Guru Bidang

Studi PNS

19 Syamsiah, S.Pt Guru Bidang

Studi PNS

20. Suherman, S.Pd Guru Bidang

Studi PNS

21. Muh. Syafri, S.Pd Guru Bidang

Studi Honorer

22. Syarif, S.Pd Guru Bidang

Studi Honorer

23. Mansyur, S. Hut. M.M Guru Bidang

Studi Honorer

24. Muzakkir, S.Ag Guru Bidang

Studi Honorer

25. Drs. Baharuddin, Y Guru Bidang

Studi Honorer

26. Zainal Abidin, S.Pd Guru Bidang

Studi Honorer

27. Supiati, S.Pd Guru Bidang

Studi Honorer

28 Sukandi Syamsuddin,

S.Pd Guru Bidang

Studi Honorer

29. Sukmawati, S.Pd Guru Bidang

Studi Honorer

30. Sulastri Mayang Sari.

S.P Guru Bidang

Studi Honorer

31. Muh Sabri Rahman,

S.Pd Guru Bidang

Studi Honorer

32. Samsudddin, S.Pd Guru Bidang

Studi Honorer

33. Hamzah, A. Md. TI Guru Bidang

Studi Honorer

34. Sri ulang Sari, S.Pd Guru Bidang

Studi Honorer

35. Arianti, S.Pd Guru Bidang

Studi Honorer

36. Arifuddin, S.Pd Guru Bidang

Studi Honorer

37. Datu Suppa, S.Pd Guru Bidang

Studi Honorer

38. Muliati, S.Pd Guru Bidang

Studi Honorer

b. Staf tata usaha

NO NAMA JABATAN KET

1 Remba, S. HI KTU & bendahara

gaji PNS

2. Musliana Musma kesiswaan PNS

3. Muliati, SE kepegawaian PNS

4. Rusli DM Sarana &Prasarana PNS

5. ST. Hasnawati Staf TU HONORER

6. Bustam Sarana &Prasarana HONORER

7. Patma Idrus, S.Pd Staf TU HONORER

8. Sitti Nurjia Kebo Staf Humas DU-DI HONORER

9. Nurjannah, SE Staf TU HONORER

10. Hasmawati, S. Si Staf TU HONORER

59

c. Petugas Keamanan

NO NAMA L/P PENDIDIKAN JABATAN

1 Abdul Kamal L SMP SATPAM

B. Peranan Supervisi Sekolah Terhadap Peningkatan Kinerja Guru Agama Islam di SMK Negeri 4 Jeneponto

Tentang kinerja guru Agama Islam di SMK Negeri 4 Jeneponto yang dikemukakan oleh Muh. Talib selaku kepala SMK Negeri 4 Jeneponto mengatakan bahwa kinerja guru agama sudah maksimal, karena sudah melaksanakan tugasnya dengan baik, termasuk tugasnya adalah pembinaan akhlak terhadap siswa dan pemberantasan buta Huruf BTQ pada tingkat satu semester satu.

Hal ini tidak terlepas dengan adanya Peranan supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru pada umumnya dan guru PAI pada khususnya. Sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya yang dikemukakan oleh Peter F Olivia, dalam Piet Sahertian (2010:25) peran supervisor adalah: Coordinator, Konsultan, Pemimpin kelompok dan evaluator, sehingga pada prinsipnya itu sangat penting bagi guru agama itu sendiri.

. Hal ini sejalan dengan pendapat salah seorang guru PAI di SMK Negeri 4 Jeneponto yaitu bapak Morrah Bilu S.Ag yang diwawancarai pada hari rabu 09 September 2015 mengatakan bahwa:

“Peranan supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru agama sangat penting bagi guru agama karena dengan adanya

supervisi, guru berusaha memperbaiki tentang kemampuan dalam hal merencanakan pembelajaran dalam kelas dan juga pelaksanaan pembelajaran di kelas serta evaluasinya dalam pembelajaran, itu semua harus diusahakan oleh guru untuk diperbaiki.”

C. Proses pelaksanaan supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI di SMK Negeri 4 Jeneponto

Setiap pelaksanaan supervisi sekolah tentu tidak terlepas dengan adanya proses, dan proses itu sendiri merupakan hal terpenting yang harus dilaksanakan oleh supervisor.

Adapun proses pelaksanaan supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI yang dikemukakan oleh bapak Larigau (pengawas dinas pendidikan) antara lain:

a.perencanaan b.pelaksanaan c. Evaluasi

Perencanaan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh supervisor pada permulaan pelaksanaan supervisi. tampa perencanaan, suatu kegiatan akan mengalami kesulitan dan bahkan kegagalan dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Pelaksanaan merupakan tujuan utama atau kegiatan inti yang harus dilaksanakan oleh supervisor, karena meskipun ada perencanaan tampa ada pelaksanaan maka tidak akan tercapai tujuan yang diinginkan. Evaluasi, setiap kegiatan yang dilakukan oleh supervisor sebagai pemimpin dalam sebuah lembaga pendidikan tentu memerlukan adanya evaluasi karena fungsi dari evaluasi adalah

61

untuk meneliti dan mengetahui sampai dimana pelaksanaan yang dilakukan dalam proses keseluruhan untuk mencapai hasil sesuai dengan rencana atau program yang telah ditetapkan dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan.

D. Faktor pendukung dan penghambat supervisi Sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI di SMK Negeri 4 jeneponto

Adapun fakfor pendukung dan penghambat supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI di SMK Negeri 4 jenepon yang dikemukakan oleh beberapa supervisor sebagai berikut:

Menurut ibu Hawa (pembina MGMP) faktor pendukung supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI adalah:

a.Guru ingin dibina

b.Menghadirkan pemateri dari provensi,

Sedangkan faktor penghambatnya yaitu tidak ada supervisi sekolah pada sekolah tingkat lanjut dari departemen agama, sehingga tidak bisa turun langsung ke Sekolah untuk melakukan supervisi.

Menurut bapak Larigau (pengawas dinas) salah satu faktor pendukung supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI adalah adanya kerja sama antara guru-guru dengan kepala sekolah.

Sedangkan faktor penghambatnya adalah pada saat proses pelaksanaan supervisi dilaksanakan biasa ada guru belum selesai RPPnya bahkan ada guru yang lupa bawa RPPnya.

hal ini sejalan yang dikemukakan oleh kepala SMK Negeri 4 Jeneponto bahwa salah satu faktor pendukung supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI adalah adanya kesadaran bagi guru akan tugasnya sebagai guru sehingga tampa mau disupervisi pun dia melaksanakan tugasnya dengan baik

63 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Peranan Supervisi Sekolah Terhadap Peningkatan Kinerja Guru Agama Islam di SMK Negeri 4 Jeneponto sangat penting bagi guru agama karena dengan adanya supervisi, guru berusaha memperbaiki tentang kemampuan dalam hal merencanakan pembelajaran dalam kelas dan juga pelaksanaan pembelajaran di kelas serta evaluasinya dalam pembelajaran.

2. Proses pelaksanaan supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI di SMK Negeri 4 Jeneponto diantaranya:

a. Perencanaan b. Pelaksanaan c. Evaluasi

3. Faktor pendukung dan penghambat supervisi Sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI di SMK Negeri 4 jeneponto.

Faktor pendukung supervisi sekolah terhadap peningkatan kinerja guru PAI adalah:

a. Guru ingin dibina

b. Menghadirkan pemateri dari provensi

b. Menghadirkan pemateri dari provensi