BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.4. Menopause
2.4.3. Penyebab Terjadinya Menopause
Tubuh wanita mempunyai persediaan sel telur atau ovum dengan jumlah yang terbatas dan masa menopause itu terjadi ketika ovarium atau indung telur telah kehabisan sel telur atau ovum, hal ini menyebabkan produksi hormon dalam tubuh terganggu yaitu berhentinya produksi hormon seks wanita yang tidak lain adalah hormon estrogen dan progesteron.
Penurunan fungsi hormon dalam tubuh akan menyebabkan terjadinya penurunan fungsi tubuh dan gejala-gejala menopause akan mulai timbul dan terasa
31
meskipun mestruasi masih datang. Saat itu akan mulai terlihat adanya perubahan pada haid yang mungkin menjadi lebih lama atau lebih singkat dan untuk jumlah darah menstruasi yang dikeluarkan menjadi tidak konsisten yaitu relatif menjadi lebih banyak dari sebelumnya (Mulyani, 2013).
Usia 45-55 tahun menandakan berakhirnya masa subur dan berkurangnya kadar hormon estrogen serta progesteron. Penurunan kadar hormon ini menyebabkan beberapa perubahan pada tubuh yaitu wajah kemerahan, keringat di malam hari, rasa sakit dan nyeri, kekeringan di daerah vagina, masalah kandung kemih, hubungan seksual yang menimbulkan rasa nyeri, kulit kering, gangguan tidur, emosi yang mudah berubah-ubah, perdarahan menstruasi yang tidak teratur. Sedangkan jangka panjang akan meningkatkan resiko terkena penyakit jantung dan osteoporosis/rapuh tulang (Kesuma, 2009).
Menurut Manuaba dkk (2009), keluhan akibat penurunan hormon terbagi dua yaitu :
1. Keluhan Psikologis
Menurunnya kemampuan berpikir dan ingatan sehingga menimbulkan penyakit
”pikun” atau Alzheimer. Gangguan emosi berupa rasa takut bila disebut tua, rasa takut menjadi tua dan tidak menarik, sukar tidur atau cepat bangun, mudah tersinggung dan mudah marah, sangat emosional dan spontan, merasa tertekan dan sedih tanpa diketahui sebabnya. Rasa takut kehilangan suami, anak, dan ditinggalkan sendiri. Keinginan seks menurun dan sulit untuk dirangsang. Situasi
32
demikian dapat terjadi bila individu belum siap untuk menghadapi klimakterium, menopause, dan senium.
2. Keluhan Fisik
Tidak semua keluhan fisik dapat terjadi pada seseorang, dan tidak semuanya pula dapat dijabarkan secara rinci, tetapi keluhan yang dominan dan sering dijumpai dapat dijelaskan berikut ini :
a. Jantung dan pembuluh darah
Keluhan yang memengaruhi fungsi jantung dan pembuluh darah meliputi kulit terasa kering, keriput, dan longgar. Oleh karena turunnya sirkulasi menuju kulit, badan terasa panas termasuk wajah, terjadi perubahan sirkulasi pada wajah yang dapat melebar ke tengkuk bewarna merah (hot flushes), mudah berdebar-debar, terjadi tekanan darah tinggi yang berlanjut ke penyakit jantung koroner.
b. Genitalia
Keluhan yang dirasakan mengenai alat kelamin meliputi liang senggama terasa kering, sulit menerima rangsangan karena sensitivitasnya sudah menurun, epitel liang senggama dan sekitarnya menipis, sehingga mudah terjadi infeksi, dalam melakukan hubungan seks kering terasa sakit (dispareunia), elastisitas sudah menurun sehingga terasa longgar.
c. Sistem hormonal
Secara menyeluruh sistem hormonal sudah menurun fungsinya sehingga memengaruhi metabolisme tubuh yang cenderung menurun. Oleh karena itu diperlukan perhatian terhadap pola makan yang sebaiknya vegetarian. Penyakit
33
metabolisme yang dapat terjadi pada masa klimakterium dan menopause adalah cepat menjadi gemuk, kelebihan bahan makanan disimpan dalam bentuk lemak di bokong, payudara, dan perut.
d. Fungsi saraf
Pada lansia, keluhan saraf disebabkan oleh degenerasi sel saraf dan sel otak sehingga menimbulkan manifestasi klinis. Panca indera mengalami kemunduran fungsi sehingga perlu perhatian, penglihatan dan pendengaran kurang berfungsi sehingga memerlukan bantuan alat untuk meningkatkan fungsi.
e. Fungsi motorik
Keluhan fungsi motorik meliputi otot mulai lemah untuk memegang atau mengambil barang, koordinasi sudah kurang tepat dan pegangan sering lepas, gerakan otot mulai sulit dikendalikan sehingga sering gemetar (tremor).
f. Fungsi sensoris
Keluhan saraf sensoris yang sering muncul adalah kram atau sakit. Gejala ini timbul saat berdiam diri dan akan menghilang bila digerakkan. Kemunduran fungsi saraf menyebabkan gangguan sirkulasi darah dan menimbulkan gangguan rasa perabaan, karena saraf peraba mengalami kemunduran fungsi.
g. Fungsi tulang
Tulang sebagai penyangga utama tubuh, karena proses penuaan, dapat terjadi pengurasan kalsium tulang, sehingga menjadi keropos dan mudah patah.
Tempat yang paling banyak terjadi patah tulang adalah pada persendian tulang paha, sekalipun jatuh tidak terlalu keras. Metabolisme kalsium, sebagai bahan
34
tulang, dipengaruhi oleh hormon paratiroid, estrogen, vitamin E dan D. lansia perlu berhati-hati agar tidak terjadi patah tulang, yang pengobatannya sulit dilaksanakan.
Gejala-gejala yang ditemukan pada wanita menopause menurut Prayitno (2014) adalah sebagai berikut :
1. Hot Flushes yang terjadi akibat peningkatan aliran darah di dalam pembuluh darah wajah, leher, dada, dan punggung. Kulit menjadi merah dan hangat disertai keringat yang berlebihan. Hot flushes dialami oleh sekitar 75%
wanita menopause. Kebanyakan hot flushes dialami selama lebih dari 1 tahun dan 25%-50% wanita mengalaminya sampai lebih dari 5 tahun. Hot flushes berlangsung selama 30 detik sampai 5 menit.
2. Vagina menjadi kering lantaran penipisan jaringan pada dinding vagina sehingga sering menimbulkan rasa nyeri ketika melakukan hubungan seksual.
3. Gejala psikis dan emosional, seperti kelelahan, mudah tersinggung, susah tidur dan gelisah bisa disebabkan oleh berkurangnya kadar estrogen.
Berkeringat pada malam hari menyebabkan gangguan tidur sehingga kelelahan semakin memburuk dan yang bersangkutan menjadi semakin mudah tersinggung.
4. Pusing, kesemutan, palpitasi (jantung berdebar).
5. Hilangnya kendali terhadap kandung kemih (sering buang air kecil) 6. Peradangan kandung kemih atau vagina
35
7. Osteoporosis
8. Penyakit jantung dan pembuluh darah
2.4.4. Faktor yang Memengaruhi Menopause
Faktor yang memengaruhi menopause adalah sebagai berikut : 1. Usia saat haid pertama kali (Menarche)
Ada hubungan antara usia pertama kali mendapat haid dengan usia seorang wanita memasuki menopause. Semakin muda seorang wanita mendapatkan haid maka semakin tua atau lama wanita tersebut memasuki menopause.
2. Faktor psikis
Wanita yang tidak menikah dan bekerja akan mempengaruhi perkembangan psikis seorang wanita karena mereka akan mengalami menopause lebih muda dibandingkan dengan wanita yang telah menikah dan bekerja.
3. Jumlah anak
Semakin sering seorang wanita melahirkan maka semakin tua atau lama mereka memasuki masa menopause.
4. Usia melahirkan
Penelitian yang dilakukan oleh Beth Israel Deaconess Medcal Center in Boston mengungkapkan bahwa wanita yang masih melahirkan diatas usia 40 tahun akan mengalami usia menopause yang lebih tua atau lama. Hal ini disebabkan karena kehamilan dan persalinan akan memperlambat sistem kerja organ reproduksi.
Bahkan akan memperlambat sistem penuaan organ tubuh.
36
5. Merokok
Wanita perokok akan lebih cepat memasuki masa menopause karena hal ini berkaitan dengan kandungan yang ada di dalam rokok yang sangat berpengaruh terhadap menopause.
6. Pemakaian kontrasepsi
Kontrasepsi dalam hal ini yaitu kontrasepsi hormonal. Hal ini dikarenakan cara kerja kontrasepsi yang menekan kerja ovarium atau indung telur. Pada wanita yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal akan lebih lama atau tua memasuki masa menopause.
7. Sosial ekonomi
Keadaan sosial ekonomi seseorang akan mempengaruhi faktor fisik, kesehatan dan pendidikan. Bila faktor tersebut cukup baik, akan mempengaruhi beban fisiologis.
8. Cemas
Kecemasan yang dirasakan wanita akan sangat menentukan waktu kecepatan atau bahkan keterlambatan masa-masa menopause. Faktor yang mempengaruhi kecemasan diantaranya faktor keluarga dan lingkungan sosial.
9. Stres
Jika seorang wanita sering stres, maka sama juga dengan cemas, yang menyebabkan lebih dini mengalami masa menopause (Astutik, 2013).
37
2.5. Konsep Diri terhadap Penyesuaian Selama Masa Menopause
Konsep diri dalam penyesuaian di masa menopause menurut Mulyani (2013) adalah :
1. Bersikap positif
Meskipun menopause dapat mengakibatkan gejala-gejala yang tidak menyenangkan akan tetapi hal tersebut bukan penyakit. Menopause adalah hal yang alami dan akan dilalui oleh setiap wanita. Berfikirlah positif bahwa telah bebas dari haid dan tidak membutuhkan lagi kontrasepsi. Wanita menopause akan mengalami perubahan dalam otaknya yaitu karena adanya penurunan tingkat estrogen dan progesteron yang akan mempengaruhi cara wanita untuk berfikir sebelumnya, selama dan setelah menopause. Adanya tingkat hormon yang tidak teratur pada perimenopause akan menyebabkan fluktuasi yang berkaitan dengan suasana hati, libido, pola tidur, hot flush, kegelisahan dan cepat marah.
2. Mengatasi Blues
Jika memandang menopause secara negatif maka depresi akan timbul. Depresi sering berhubungan dengan kemarahan, kadang juga depresi berasal dari ketidakbahagiaan dengan situasi dalam hidup. Untuk mengatasinya dengan cara memperlakukan diri dengan lebih baik dan hal yang perlu diingat bahwa tidak ada seorang pun yang bahagia sepanjang waktu.
38
3. Mencari bantuan orang lain
Sangat penting menambah jaringan sosial yaitu bisa meluangkan waktu rutin untuk menengok keluarga dan teman-teman. Hal ini dikarenakan jaringan sosial yang baik maka memiliki kesehatan mental yang lebih baik.
4. Mengelola tingkat stres
Stres dan kecemasan selama dan setelah menopause dapat meningkatkan serangan panas (flushing), insomnia, depresi, dan gejala lainnya. Hal ini menganggu kemampuan kelenjar adrenal untuk memproduksi adrostenedion. Mengelola tingkat stres akan membantu mengontrol gejala-gejala menopause dan akan mengurangi risiko yang membahayakan jiwa.
5. Meditasi
Jika meditasi rutin dilakukan, dapat menurunkan tingkat hormon stres, menghilangkan kecemasan, mengurangi kelelahan, meningkatkan energi dan membersihkan pikiran. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan duduk nyaman sambil menutup mata. Bernafaslah dari hidung pelan dan dalam, kempiskan perut dan pilihlah kata yang memberikan ketenangan misalnya tenang, damai, harmonis, atau santai.
6. Tertawa
Tertawa dapat mengurangi hormon stres kortisol dan meningkatkan serotonin yang dapat meningkatkan suasana hati.
7. Melatih kesadaran
Yaitu kita tidak dapat mengubah masa lalu atau memprediksi masa depan.
39
2.6. Dukungan Suami terhadap Penyesuaian dalam Masa Menopause
Pola kehidupan keluarga mengalami perubahan seiring meningkatnya usia seseorang. Keluarga merupakan sumber utama terpenuhinya kebutuhan emosional, semakin besar dukungan emosional dalam keluarga semakin menimbulkan rasa senang dan bahagia dalam keluarga sebaliknya semakin miskin dukungan emosional semakin menimbulkan perasaan tidak senang dalam keluarga. Penyesuaian dalam keluarga yang dianggap penting menurut Hurlock (1993:42) adalah hubungan dengan pasangan hidupnya, perubahan perilaku seksual, hubungan dengan anak, ketergantungan orangtua, hubungan dengan cucu (Suardiman, 2011).
Sebagian besar wanita mengalami masa menopause bersamaan dengan pencapaian karir suaminya, sehingga suami sangat disibukkan dengan pekerjaannya dan waktu untuk istri semakin berkurang. Anak menginjak dewasa dan mulai disibukkan dengan kegiatannya. Hal ini akan menimbulkan kesan bahwa anak tidak lagi membutuhkan ibunya. Perasaan tidak berharga lagi akan menurunkan keinginan wanita untuk melakukan aktivitasnya. Wanita yang sudah mengalami menopause akan kehilangan daya tarik seksualnya dan menurun aktivitas seksualnya. Ada beberapa wanita beranggapan bahwa sesudah menopause tidak bisa memberikan kepuasan seksual bagi suaminya (Mulyani, 2013).
Selain itu, pemahaman suami terhadap perubahan seksual yang muncul pada istrinya juga akan membantu perempuan menopause untuk tidak cemas. Perlu diketahui bahwa sesungguhnya gairah seksual perempuan tidak menurun ketika menopause karena memang bukan hormon estrogen yang berperan dalam hal ini,
40
melainkan androgen. Jadi berkurangnya estrogen saat perempuan menopause tidak serta merta menjadikan perempuan kehilangan hasrat seksualnya (Prabandani, 2009).
Dukungan suami termasuk dalam dukungan sosial yang sangat penting bagi seorang istri untuk bisa menghadapi menopause ini dengan lebih baik karena menurut Saparinah Sadli (dalam Wawan, 2011) membagi individu dengan lingkungan sosial yang saling mempengaruhi sebagai berikut :
a) Perilaku kesehatan individu; sikap dan kebiasaan individu yang erat kaitannya dengan lingkungan.
b) Lingkungan keluarga; kebiasaan-kebiasaan tiap anggota keluarga mengenai kesehatan
c) Lingkungan terbatas; tradisi, adat- istiadat dan kepercayaan masyarakat sehubungan dengan kesehatan
d) Lingkungan umum; kebijakan-kebijakan pemerintah dibidang kesehatan, undang-undang kesehatan, program-program kesehatan.
2.7. Landasan Teori
Menurut Robert dan Jack (dalam Tyastuti, 2009) konsep diri adalah pandangan kita mengenai siapa diri kita yang kita dapat dari informasi orang lain kepada kita. Konsep diri kita yang paling awal biasa dipengaruhi oleh keluarga dan orang-orang dekat disekitar kita yang disebut significant others.
Aspek-aspek konsep diri seperti agama, jenis kelamin, pendidikan, pengalaman, rupa fisik dll diinternalisasi lewat pernyataan orang lain yang
41
menegaskan aspek-aspek tersebut kepada kita. Identitas etnik merupakan unsur penting dalam konsep diri. George Herbert Mead mengatakan setiap manusia mengembangkan konsep dirinya melalui interaksi dengan orang lain dalam masyarakat. Dan dilakukan dengan komunikasi. Proses konsep diri berlangsung sepanjang hidup, dan dapat berubah-ubah dan bergantung pada respon orang terhadap kita. Kesan orang lain tentang diri kita dan cara mereka bereaksi dipengaruhi oleh komunikasi kita dengan mereka (Tyastuti, 2009).
Timbulnya rasa rendah diri, tidak menarik, tidak bugar, dan tidak cantik, terancam, dan tidak berdaya pada manusia yang mangalami menopause adalah tergantung dari bagaimana individu tersebut mempersepsikan masa menopause melalui penyesuaian diri yang dilakukannya (Sibero, 2010).
Dukungan suami merupakan salah satu sumber dukungan sosial yang berasal dari lingkungan keluarga yang dapat memengaruhi konsep diri wanita menopause tersebut. Menurut Kaheksi, dkk (2013) Dukungan sosial memiliki empat jenis yaitu dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dan dukungan informatif.
42
2.8. Kerangka Konsep
Berdasarkan tujuan penelitian dan landasan teori yang dikemukakan di atas, maka penulis dapat merumuskan kerangka konsep penelitian sebagai berikut :
Variabel Independen Variabel Dependen
Gambar 2.2. Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan kerangka konsep tersebut bahwa konsep diri yang dialami wanita pada masa menopause serta adanya dukungan suami pada istri yang mengalami masa menopause diharapakan dapat menimbulkan reaksi atau dapat memengaruhi perubahan penyesuaian diri yang baik terhadap wanita yang sedang menghadapi masa menopause tersebut.
Penyesuaian Diri Pada Masa Menopause Konsep Diri
Dukungan Suami
43 BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan Cross sectional, yaitu rancangan penelitian dengan melakukan pengukuran dan pengamatan pada saat bersamaan (Hidayat, 2010). Pengumpulan data menggunakan kuesioner tanpa memberikan perlakuan dan pengukuran subjek dilakukan dengan sekali pengukuran.
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Gampong Paloh Lada Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara. Adapun memilih lokasi tempat penelitian di Gampong Paloh Lada ini karena ibu menopause yang tidak bisa menyesuaikan diri ketika sedang dalam menghadapi masa menopause yang menyebabkan mereka sering menceritakan apa yang sedang mereka alami pada teman-teman mereka. Di tambah lagi kurangnya dukungan suami kepada ibu dalam menghadapi ganguan-gangguan yang terjadi pada masa menopause.
3.2.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dimulai dengan melakukan survei awal pada bulan Januari sampai bulan Juli 2015.
44
3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu menopause yang berada di Gampong Paloh Lada Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara yang berusia 45-59 tahun sebanyak 420 orang.
3.3.2. Sampel
Sampel merupakan sebagian populasi yang akan diteliti. Adapun kriteria inklusi sampel ini adalah bersedia menjadi responden, ibu menopause usia 45-59 tahun, masih memiliki suami dan berdomisili di Gampong Paloh Lada Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara. Dalam menentukan jumlah sampel pada penelitian ini penulis menggunakan rumus (Lemeshow, 1997) :
Z2ı-α/2P (1- P) N d2 ( N -1) + Z1-α/2 P (1-P) Keterangan :
n : Besar sampel N : Jumlah populasi
Z1-α/2 : Nilai deviasi normal pada tingkat kemaknaan α = 0,05 Z1-α/2 = 1,96 P : Perkiraan proporsi wanita menopause terhadap wanita usia 45 – 59 tahun,
digunakan perkiraan proporsi terbesar yaitu 0,5
d : Derajat penyimpangan terhadap populasi yang di inginkan. Untuk nilai d digunakan 0,1
n =
45
Berdasarkan rumus diatas maka jumlah sampel yang diperoleh adalah sebanyak :
(1,96)² (0,5) (1-0,5)420 (0,1)2 (420-1) + (1,96)² (0,5)(1- 0,5) n = 78,29 sampel, dibulatkan menjadi 79 orang.
Berdasarkan rumus diatas jumlah sampel adalah 78,29 dibulatkan menjadi = 79 orang. Untuk mengambil besar sampel di Gampong Paloh Lada Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara dengan teknik Simple Random Sampling. Yaitu dengan cara lotere. Memasukkan nomor-nomor responden yang telah digulung ke dalam kotak lalu dikocok dan dikeluarkan satu per satu. Nomor yang telah keluar dimasukkan kembali karena nomor tersebut memiliki perlakuan dan kesempatan yang sama. Bisa juga menugaskan orang untuk mengambil kertas bernomor yang telah digulung di dalam kotak tersebut (Machfoedz, 2010).
3.4. Metode Pengumpulan Data 3.4.1. Data Primer
Data primer diperoleh langsung dari responden dengan menggunakan alat bantu kuesioner yang terdiri dari beberapa pertanyaan serta pilihan jawaban mengenai konsep diri, dukungan suami, dan penyesuaian diri yang disusun sendiri oleh peneliti.
3.4.2. Data Sekunder
Data Sekunder yaitu data yang mendukung data primer yang diperoleh dari Puskesmas Dewantara dan dari kepala desa Gampong Paloh Lada yaitu data mengenai jumlah ibu menopause yang berada di Gampong Paloh Lada.
n =
46
3.4.3. Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas dan reliabilitas kuesioner dilakukan di Gampong Tambon Baroh terhadap 30 orang ibu menopause karena lokasi memiliki karakteristik yang sama dan relatif dekat. Uji validitas dan reliabilitas dilakukan untuk melihat sejauh mana skor atau nilai yang diperoleh benar-benar menyatakan hasil pengukuran atau pengamatan yang valid sehingga kuesioner tersebut layak dipakai sebagai alat penelitian. Uji validitas bertujuan untuk mengukur sejauh mana ketetapan atau kecermatan suatu alat ukur dalam mengukur suatu data.
Uji reliabilitas dilakukan untuk menunjukkan sejauh mana satu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Bila satu alat pengukur dipakai dua kali untuk mengukur gejala yang sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relative konsisten, maka alat pengukur tersebut reliabel. Reliabilitas menyangkut ketepatan alat ukur.
Dalam penelitian ini untuk uji validitasnya diambil 30 responden dengan nilai r tabel untuk df = n-2 = 30-2 = 28 adalah 0,361 pada α= 0,05. Jika nilai Corrected item total correlation > 0,361 maka dinyatakan valid, sedangkan jika nilai Corrected item total correlation < 0,361 dinyatakan tidak valid. Pertanyaan yang tidak valid harus dikeluarkan (dibuang) dalam pengukuran. Jika pertanyaan yang tidak valid dikeluarkan, maka reliabilitas akan meningkat. Dengan kata lain, kita akan melakukan reliability analysis sekali lagi, namun dengan tidak mengikutsertakan pertanyaan yang nilainya < 0,361 (Sufren, 2014).
Uji reliabilitas dilakukan setelah semua data dinyatakan valid, analisis dilanjutkan dengan uji reliabilitas. Reliabilitas data merupakan indeks yang bertujuan
47
untuk menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat menunjukkan ketepatan dan dapat dipercaya dengan menggunakan metode Cronbach alpha yaitu menganalisis reliabilitas alat ukur dari satu kali pengukuran, dengan ketentuan jika Cronbach alpha
> 0,60 maka dinyatakan reliabel dan jika nilai uji Cronbach alpha < 0,60 maka dinyatakan tidak reliabel (Hidayat, 2010).
a. Hasil validitas dan reliabilitas pada instrument penelitian variabel konsep diri wanita
Variabel konsep diri wanita di ukur dengan 25 item pertanyaan. Dari 25 pertanyaan ternyata ada 2 pertanyaan yang tidak valid karena nilainya <
0,361yaitu saya menjalani menopause dengan santai dan saya sangat takut, pada saat menopause ini saya akan menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Kedua pertanyaan ini dikeluarkan dalam pengukuran. Setelah dikeluarkan kemudian ujikan kembali. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa uji validitas variabel konsep diri wanita mempunyai nilai Cronbach alpha 0,931, maka dapat disimpulkan bahwa 23 pertanyaan dari 25 pertanyaan konsep diri wanita telah valid dan reliabel.
b. Hasil validitas dan reliabilitas pada instrument penelitian variabel dukungan suami
Variabel dukungan suami di ukur dengan 25 item pertanyaan. Dari 25 pertanyaan ternyata ada 1 pertanyaan yang tidak valid karena nilainya <
0,361yaitu suami saya akan marah jika saya makan tidak teratur dan sembarangan. Pertanyaan ini dikeluarkan dalam pengukuran. Setelah
48
dikeluarkan kemudian ujikan kembali. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa uji validitas variabel dukungan suami mempunyai nilai cronbach alpha 0,959 maka dapat disimpulkan bahwa 24 dari 25 pertanyaan dukungan suami telah valid dan reliabel.
c. Hasil validitas dan reliabilitas pada instrument penelitian variabel penyesuaian diri
Variabel penyesuaian diri di ukur dengan 25 item pertanyaan. Dari 25 pertanyaan ternyata ada 1 pertanyaan yang tidak valid karena nilainya <
0,361yaitu menopause yang saya alami membuat saya tidak bisa berbuat apa-apa. Pertanyaan ini dikeluarkan dalam pengukuran. Setelah dikeluarkan kemudian ujikan kembali. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa uji validitas variabel penyesuaian diri mempunyai nilai cronbach alpha 0,934, maka dapat disimpulkan bahwa 24 pertanyaan dari 25 pertanyaan penyesuaian diri telah valid dan reliabel.
3.5. Variabel dan Definisi Operasional
Defenisi operasional berisi uraian-uraian indikator variabel sedangkan indikator variabel adalah fakta-fakta kejadian yang digunakan untuk mengukur suatu variabel. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen dan variabel dependen.
3.5.1. Variabel Independen
Variabel independen dalam penelitian ini adalah :
49
1. Konsep diri wanita adalah gambaran mental yang ada dalam diri wanita menopause yang diperoleh dari belajar dari lingkungan sekitar mengenai dirinya yang ingin dicapai baik secara fisik, emosi, intelektual, sosial, dan spiritual dan harapan.
2. Dukungan suami yaitu tindakan yang diberikan suami kepada ibu yang menghadapi masa menopause berupa bantuan yang diberikan suami kepada ibu saat menghadapi masa menopause. Seperti kasih sayang, perhatian.
3.5.2. Variabel Dependen
Penyesuaian diri adalah suatu proses interaksi yang mampu menerima kondisi yang baru yang merupakan usaha ibu untuk memperoleh kesiapan pada saat menghadapi masa menopause yang diharapkan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan dan tidak melakukan penyesuaian yang salah ketika menghadapi kegagalan.
3.6. Metode Pengukuran
Pengukuran terhadap variabel independen yaitu konsep diri wanita meliputi sikap positif, sikap negatif dan dukungan suami meliputi dukungan yang tinggi dan rendah. Variabel dependen yaitu penyesuaian diri ibu dalam menghadapi masa menopause meliputi penyesuaian diri baik dan buruk dilakukan dengan menggunakan
Pengukuran terhadap variabel independen yaitu konsep diri wanita meliputi sikap positif, sikap negatif dan dukungan suami meliputi dukungan yang tinggi dan rendah. Variabel dependen yaitu penyesuaian diri ibu dalam menghadapi masa menopause meliputi penyesuaian diri baik dan buruk dilakukan dengan menggunakan