BAB 1. PENDAHULUAN
1.5. Manfaat Penelitian
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi masyarakat, khususnya ibu menopause dalam menghadapi masa menopause.
2. Hasil penelitian ini diharapkan sebagai masukan bagi petugas kesehatan di Puskesmas Dewantara agar dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang menopause.
11 BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Diri Wanita
Konsep diri adalah perasaan seseorang tentang dirinya sebagai pribadi yang utuh dengan karakteristik yang unik, sehingga dia akan mudah dikenali sebagai sosok yang mempunyai ciri khas tersendiri. Seseorang akan mampu memahami apa yang menjadi kebutuhan, kelebihan dan kekurangannya. Akan mampu berpikir rasional obyektif (Lukaningsih, 2010).
Konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki oleh seorang wanita pada saat memasuki masa menopause, tentang bagaimana dirinya yang meliputi kondisi fisik, psikologis, sosial dan emosional, aspirasi dan prestasi. Konsep diri mencakup citra fisik dan psikologis diri pada masa menopause. Citra fisik diri biasanya terbentuk pertama-tama dan berkaitan dengan penampilan fisik, daya tariknya dan kesesuaian atau ketidaksesuaian dengan jenis kelamin pada saat memasuki masa menopause.
Sedangkan citra psikologis diri pada saat menopause didasarkan atas pikiran, perasaan dan emosi. Citra ini terdiri atas kualitas dan kemampuan yang mempengaruhi penyesuaian pada kehidupan (Simanjuntak, 2011).
Menurut Cooley dan Mead (dalam Lukaningsih, 2010), umpan balik (feed back), konsep ini merupakan persepsi seseorang terhadap tanggapan dan reaksi orang lain terhadap diri orang tersebut. Maka alternatif lain yang dapat dilakukan adalah dengan meminta masukan dan pendapat orang lain. Terkadang dalam kehidupan
12
dengan melihat perilaku orang lain, kita dapat memperoleh suatu penjelasan akan makna kehidupan. Pengenalan pada diri sendiri adalah salah satu panduan individu untuk mengembangkan kepribadiannya.
Diri adalah semua ciri, jenis kelamin, pengalaman, latar belakang budaya, pendidikan dan sebagainya yang melekat pada seseorang. Makin dewasa dan makin tinggi kecerdasan seseorang, makin mampu ia mengambarkan diri sendiri, makin baik konsep dirinya. Diri, yaitu ‘diri’ dan ‘aku’. Diri adalah aku sebagaimana dipersepsikan oleh orang lain atau diri sebagai objek (objective self), sedangkan Aku adalah inti dari diri aktif, mengamati, berpikir, dan berkehendak. Dalam perkembangan baik praktik maupun penelitian-penelitian sulit untuk membedakan kedua diri ini. Oleh karena itu, kedua konsep digabung ke dalam satu konsep yang lebih menyeluruh, yaitu kepribadian.
Kepribadian adalah sesuatu yang terdapat pada setiap orang yang dapat membedakan ciri orang satu dengan lainnya. Perkembangan kepribadian juga dapat menentukan bentuk perilaku seseorang (Machfoedz, 2013).
Hurlock (dalam Lukaningsih, 2010), mengemukakan bahwa konsep diri dapat dibagi menjadi dua, yaitu konsep diri sebenarnya merupakan konsep seseorang tentang dirinya yang sebagian besar ditentukan oleh peran dan hubungannya dengan orang lain serta persepsinya tentang penilaian orang lain terhadap dirinya dan konsep diri ideal, merupakan gambaran seseorang mengenai keterampilan dan kepribadian yang didambakan. Setiap macam konsep diri mempunyai aspek fisik dan psikologis.
Aspek fisik terdiri dari konsep yang dimiliki individu tentang penampilannya,
13
kesesuaian dengan seksnya, arti penting tubuhnya dalam hubungannya dengan perilakunya, dan gengsi yang diberikan tubuhnya dimata orang lain. Aspek psikologis terdiri dari konsep individu tentang kemampuan dan ketidakmampuannya, harga dirinya dan hubungannya dengan orang lain.
2.1.1. Jenis-jenis Konsep Diri
Menurut (Calhoun, 1990) dalam perkembangannya, konsep diri terbagi dua, yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif.
1) Konsep Diri Positif
Konsep diri positif lebih kepada penerimaan diri bukan sebagai suatu kebanggaan yang besar tentang diri. Konsep diri yang positif bersifat stabil dan bervariasi.
Individu yang memiliki konsep diri positif adalah individu yang tahu betul tentang dirinya, dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri, evaluasi terhadap dirinya sendiri menjadi positif dan dapat menerima keberadaan orang lain. Individu yang memiliki konsep diri positif akan merancang tujuan-tujuan yang sesuai dengan realitas, yaitu tujuan yang memiliki kemungkinan besar untuk dapat dicapai, mampu menghadapi kehidupan didepannya serta menganggap bahwa hidup adalah suatu proses penemuan.
Jadi seorang wanita menopause yang memiliki konsep diri yang positif adalah wanita yang tahu betul siapa dirinya sehingga dirinya menerima segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh dirinya.
14
2) Konsep Diri Negatif
Calhoun (1990) membagi konsep diri negatif menjadi dua tipe, yaitu :
a. Pandangan individu tentang dirinya sendiri benar-benar tidak teratur, tidak memiliki perasaan kestabilan dan keutuhan diri. Individu tersebut benar-benar tidak tahu siapa dirinya, kekuatan dan kelemahannya, atau yang dihargai dalam kehidupannya.
b. Pandangan tentang dirinya sendiri terlalu stabil dan terlalu teratur. Hal ini bisa terjadi karena individu dididik dengan cara yang sangat keras, sehingga menciptakan citra diri yang tidak mengizinkan adanya penyimpangan dari seperangkat hukum yang dalam pikirannya merupakan cara hidup yang tepat.
Jadi, wanita menopause yang memiliki konsep diri yang negatif memiliki dua tipe yaitu, wanita menopause yang tidak tahu siapa dirinya dan tidak tahu kekurangan dan kelebihannya, dan tipe yang kedua adalah wanita menopause yang memandang dirinya dengan teratur dan stabil.
2.2. Dukungan Suami
Dukungan suami merupakan bantuan yang diberikan suami sehingga mampu membuat ibu merasa nyaman baik secara fisik maupun psikis sebagai bukti bahwa mereka diperhatikan dan dicintai (Kaheksi, dkk, 2013).
Dukungan suami merupakan salah satu sumber dukungan sosial yang berasal dari lingkungan keluarga. Dukungan sosial memiliki empat jenis yang berbeda yang disesuaikan dengan situasi yang dibutuhkan
15
1. Dukungan Emosional
Mencakup ungkapan simpati, kepedulian, dan perhatian terhadap orang yang membutuhkan sehingga dukungan tersebut memberikan rasa aman dan rasa mengasihi.
2. Dukungan Penghargaan
Meliputi ungkapan hormat, dorongan untuk maju, serta membantu seseorang untuk melihat segi-segi positif yang ada dalam dirinya dengan keadaan orang lain, sehingga orang tersebut dapat merasakan penghargaan dirinya.
3. Dukungan Insrumental
Meliputi bantuan secara langsung sesuai dengan yang dibutuhkan oleh seseorang misalnya memberikan penyediaan sarana atau memberikan pernyataan yang bersifat memotivasi.
4. Dukungan Informatif
Mencakup pemberian nasihat secara langsung, saran-saran petunjuk dan umpan balik. Peran suami dalam menghidupkan kasih sayang dan harga diri pada ibu dapat dicurahkan melalui sikap perhatian serta pemberian dukungan kepada ibu.
Dukungan suami dapat diungkapkan dengan penghargaan terhadap ibu melalui rasa simpati, berminat terhadap ibu, bersikap toleran terhadap kelemahan-kelemahan ibu, menunjukkan kehangatan dan rasa tenang atau suka tanpa syarat dan juga mencoba untuk membantu ibu dalam menghadapi suatu permasalahan.
Bagi ibu, dukungan suami terhadap ibu merupakan sikap yang harus dikembangkan, karena pada hakikatnya ibu selalu dibayang-bayangi oleh
16
kebutuhan-kebutuhan, terutama kebutuhan untuk tetap mendapatkan kasih sayang atau dicintai.
Partisipasi suami yang dapat dilakukan oleh suami dalam memahami dan memberikan ketenangan kepada istri menopause antara lain adalah :
1. Memahami bahwa suatu saat istri akan berhenti haid dan tidak bisa hamil lagi.
2. Ketika penampilan fisik istri akan menurun karena mengalami menopause, misalnya kulit menjadi lebih kasar dan berkerut, maka suami harus membantu istri agar tidak kehilangan kepercayaan dirinya. Suami harus meyakinkan istri bahwa ia tetap menyayangi istrinya, sehingga istri merasa diterima.
3. Suami harus memberikan perhatian lebih pada kondisi kesehatan istri di saat istri mengalami ketidaknyamanan fisik, seperti rasa panas, tegang, pegal-pegal, jantung berdebar-debar dan lain sebagainya
4. Mengajak istri untuk berolah raga dan memperbaiki pola makan karena berat badan istri akan bertambah pada saat mulai menopause.
5. Akibat dari menurunnya fungsi sel telur, mungkin akan terjadi penonjolan pada persendiaan terutama pada jari dan akan terasa sakit. Suami harus menenangkan istri bahwa hal tersebut merupakan hal yang lumrah terjadi ketika menopause.
6. Istri akan mudah tersinggung, marah-marah, kecewa dan sebagainya. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya sikap yang tidak menyenangkan bagi suami dan anak-anaknya, untuk itu para suami harus bersikap sabar. Selain itu, pemahaman suami terhadap perubahan seksual yang muncul pada istrinya juga akan membantu perempuan menopause untuk tidak cemas. Perlu diketahui
17
bahwa sesungguhnya gairah seksual perempuan tidak menurun ketika menopause karena memang bukan hormon estrogen yang berperan dalam hal ini, melainkan androgen. Jadi berkurangnya estrogen saat perempuan menopause tidak serta merta menjadikan perempuan kehilangan hasrat seksualnya (Prabandani, 2009).
2.3. Penyesuaian Diri pada Masa Menopause
Penyesuaian diri adalah hubungan manusia dengan lingkungannya, di mana manusia, demi kelangsungan hidupnya, harus menyesuaikan diri. Penyesuaian diri ini tidak bisa berlangsung sewenang-wenang karena ada norma-norma. Norma tersebut bisa berupa aturan hukum yang tertulis maupun norma yang tidak formal seperti adat-istiadat, kebiasaan-kebiasaan di lingkungan kelompok atau masyarakat tertentu.
Dengan demikian, penyesuaian diri merupakan faktor yang penting dalam kehidupan manusia. Begitu pentingnya hal ini sampai kita sering menjumpai pernyataan-peryataan dalam literatur yang kira-kira berbunyi, “Hidup manusia sejak lahir sampai mati tidak lain adalah perjuangan untuk penyesuaian.
Dalam lapangan psikologi klinis juga terdapat pernyataan-pernyataan yang sangat ditonjolkan oleh para ahli yaitu, “kelainan-kelainan kepribadian tidak lain adalah kelainan-kelainan penyesuaian diri”. Tidaklah mengherankan jika untuk menunjukkan kelainan-kelainan kepribadian seseorang, sering dikemukakan istilah
“maladjustment”, yang berarti tidak ada penyesuaian (Gunarsa, 2012).
18
Kunci dari kepribadian yang sehat adalah penyesuaian diri (adjusment).
Hurlock (dalam Hidayat, 2009) menyebutkan karakteristik kepribadian yang sehat yaitu mampu menilai diri secara realistik, mampu menilai situasi secara realistik, mampu menilai prestasi yang diperolehnya secara rasional tidak angkuh/sombong, bertanggung jawab, mandiri, dapat mengontrol emosi, berorientasi kepada tujuan, peduli dan empati terhadap orang lain, mau terlibat dalam kegiatan sosial, memiliki falsafah hidup, merasa berbahagia.
Menurut Putri dkk, (2007) seorang wanita akan mengalami depresi karena keluhan menopause memuncak serta banyak terjadi perubahan kepada dirinya, sehingga ketika mereka tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi, mereka tidak bisa menerima itu, dan mereka menganggap bahwa menopause adalah peristiwa negatif dalam hidupnya, depresi bisa muncul. Salah satu fase menopause yang memiliki tingkat depresi yang tinggi berada pada fase perimenopause. Wanita yang berada pada fase perimenopause akan sangat dipengaruhi oleh penerimaan diri atas perubahan yang akan ia alami yang menyebabkan ia mengalami depresi.
Sampai sejauh ini penyesuaian diri yang paling sulit dilakukan pada usia dewasa madya adalah adanya perubahan fungsi seksual yaitu menopause pada wanita.
Seseorang akan dikatakan memiliki penerimaan diri yang baik, ketika mereka sudah dapat memahami dan menerima segala kelebihan serta kekurangan yang dimilikinya.
19
2.3.1. Karakteristik Penyesuaian Diri
Tidak selamanya individu berhasil melakukan penyesuaian diri, karena terkadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Ada individu-individu yang mampu melakukan penyesuaian diri secara positif, namun ada pula individu-individu yang melakukan penyesuaian diri yang salah (Sunarto & hartono dalam Agnatasia, 2009).
Karakteristik penyesuaian diri terbagi menjadi dua, yaitu : a. Penyesuaian diri secara positif
Individu yang mampu melakukan penyesuaian diri secara positif ditandai hal-hal sebagai berikut :
1. Tidak menunjukkan adanya ketegangan emosional
2. Tidak menunjukkan adanya mekanisme-mekanisme psikologis 3. Tidak menunjukkan adanya frustasi pribadi
4. Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri 5. Mampu dalam belajar
6. Menghargai pengalaman 7. Bersikap realistik dan objektif
Individu akan melakukan penyesuaian diri secara positif dalam berbagai bentuk, antara lain :
1. Penyesuaian dengan menghadapi masalah secara langsung, yaitu secara langsung menghadapi masalah dengan segala akibatnya dan melakukan segala tindakan sesuai dengan masalah yang dihadapi individu.
20
2. Penyesuaian dengan melakukan eksplorasi (penjelajahan), yaitu mencari berbagai bahan pengalaman untuk dapat menghadapi dan memecahkan masalah individu.
3. Penyesuaian dengan trial and error (coba-coba), yaitu melakukan tindakan coba-coba, dalam arti kalau menguntungkan diteruskan dan kalau gagal tidak diteruskan.
4. Penyesuaian dengan substitusi (mencari pengganti).
5. Penyesuaian dengan menggali kemampuan diri, yaitu individu menggali kemampuan-kemampuan khusus dalam diri, dan kemudian dikembangkan sehingga dapat membantu penyesuaian diri.
6. Penyesuaian dengan belajar, yaitu menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari belajar untuk membantu penyesuaian diri.
7. Penyesuaian dengan inhibisi dan pengendalian diri, yaitu memilih tindakan yang tepat dan mengendalikan diri secara tepat dalam melakukan tindakannya.
8. Penyesuaian dengan perencanaan yang cermat, yaitu mengambil keputusan setelah dipertimbangkan segi untung dan ruginya.
b. Penyesuaian diri yang salah
Kegagalan dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, dapat mengakibatkan individu melakukan penyesuaian yang salah, yang ditandai dengan berbagai bentuk tingkah laku yang serba salah, tidak terarah, emosional, sikap yang tidak realistik, agresif, dan sebagainya. Ada tiga bentuk reaksi dalam penyesuaian yang salah, yaitu :
21
1. Reaksi bertahan (Defence reaction), yaitu individu berusaha untuk mempertahankan dirinya, seolah-olah tidak menghadapi kegagalan dan selalu berusaha untuk menunjukkan dirinya tidak mengalami kegagalan.
2. Reaksi menyerang (Aggressive Reaction), yaitu menyerang untuk menutupi kesalahan dan tidak mau menyadari kegagalan, yang tampak dalam perilaku selalu membenarkan diri sendiri, mau berkuasa dalam setiap situasi, keras kepala dalam perbuatan, menggertak baik dengan ucapan dan perbuatan, menunjukkan sikap permusuhan secara terbuka, dan sebagainya.
3. Reaksi melarikan diri, yaitu melarikan diri dari situasi yang menimbulkan kegagalannya, yang tampak dalam perilaku berfantasi, banyak tidur, minum-minuman keras, bunuh diri, dan sebagainya.
Penerimaan diri pada masa menopause dipandang sebagai suatu keadaan dimana seseorang memiliki penghargaan yang tinggi pada dirinya sendiri. Untuk mencapai suatu konsep diri pada masa menopause, maka seseorang harus dapat menjalankan penyesuaian yang baik atas dirinya. jika seseorang memiliki konsep diri yang positif maka ia akan memiliki penerimaan diri yang positif, dan jika ia memiliki konsep diri yang negatif maka ia tidak akan memiliki penerimaan atas dirinya.
Berikut dua kelompok bentuk penyesuaian diri yang dikemukakan oleh Gunarsa (2012) :
1. Adaptif
Bentuk penyesuaian diri ini sering dikenal dengan istilah adaptasi dan lebih bersifat badani. Artinya, terjadi perubahan dalam proses badani untuk
22
menyesuaikan diri terhadap keadaan lingkungan. Misalnya, berkeringat adalah usaha tubuh untuk ”mendinginkan” tubuh dari suhu yang panas. Di tempat-tempat dingin, sebaliknya, kita harus berpakaian tebal agar tubuh menjadi
”hangat”. Berkeringat atau berpakaian tebal merupakan bentuk penyesuaian diri terhadap lingkungan.
2. Adjustif
Bentuk penyesuaian ini menyangkut kehidupan psikis kita. Misalnya, jika kita harus pergi mengunjungi tetangga atau teman yang tengah berdukacita karena kematian salah seorang anggota keluarganya, maka mungkin sekali wajah kita dapat diatur sedemikian rupa sehingga menampilkan suatu wajah duka, sebagai tanda menyesuaikan diri terhadap suasana sedih dalam keluarga tersebut.
Mungkin kita benar-benar ikut bersedih hati, tetapi mungkin juga oleh kemampuan kita membawakan diri, kita tampil sebagai orang yang benar-benar sedih sekalipun keadaan sebenarnya tidak demikian.
Karena kehidupan psikis berpengaruh dalam bentuk adjustif ini, dengan sendirinya penyesuaian ini berhubungan dengan perilaku. Sebagaimana kita ketahui, perilaku manusia sebagian besar dilatarbelakangi oleh hal-hal psikis, kecuali perilaku tertentu dalam bentuk gerakan-gerakan yang sudah menjadi kebiasaan atau refleks.
Untuk itu, penyesuaian perilaku terhadap lingkungan memiliki aturan atau norma.
Dengan kata lain, penyesuaian diri terhadap norma-norma.
23
2.3.2. Faktor-faktor yang Memengaruhi Penyesuaian Diri
Cara-cara penyesuaian diri ini adalah hasil dari latihan atau pelajaran yang telah dilakukan baik sengaja maupun tidak. Contoh ketika wanita menopause sedang dalam keadaan stress atau terlibat konflik, maka apakah bisa wanita menopause tersebut belajar menyesuaikan diri dengan baik atau tidak. Hasil latihan itu diperoleh dari luar dirinya atau lingkungannya, khususnya lingkungan sosial adalah :
1. Penyesuaian diri dipengaruhi oleh hal-hal yang diperoleh
Suatu kenyataan bahwa kesukaran-kesukaran dalam penyesuaian diri yang dikarenakan sikap pemalu, pendiam, tidak banyak bicara, sukar mengemukakan pendapat, dan lain-lain, adalah bagian dari sifat dasar seseorang. Sebaliknya, melalui latihan terus-menerus dan bimbingan yang teratur, sifat-sifat dasar ini dapat dipengaruhi sehingga memengaruhi juga cara-cara penyesuaian dirinya, sekalipun hal ini kadang-kadang sulit terjadi.
2. Penyesuaian diri dan kebutuhan-kebutuhan pribadi
Cara memperlihatkan perilaku atas dasar kebutuhan yang secara relatif sama mungkin akan berbeda-beda. Hal ini antara lain disebabkan oleh mekanisme persepsi seseorang terhadap kebutuhannya, dan itu memengaruhi caranya berperilaku dan menyesuaikan diri terhadap tujuan atau objeknya. Kebutuhan-kebutuhan pribadi ini tidak saja menyangkut hal-hal yang sifatnya psikis.
Kebutuhan akan rasa aman, diterima orang lain, dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat pribadi, juga memengaruhi cara-cara penyesuaian terhadap lingkungan.
3. Penyesuaian diri dan pembentukan kebiasaan
24
Pada hakikatnya, pembentukan kebiasaan dapat dimulai sejak masi bayi. Meskipun kebiasaan-kebiasaan yang hendak ditanamkan dapat terjadi secara tidak langsung, ia semakin lama dan kadang-kadang harus menyesuaikan diri terhadap hal-hal dari luar diri. Bukan sebaliknya, penyesuaian diri semata-mata atas dasar kepentingan dan kepuasaan pribadi.
Dari lingkungan motivasi dapat dilihat bahwa dorongan dan motif kebutuhan yang juga dapat disebut keinginan merupakan faktor individual. Dorongan dan keinginan bersifat pribadi, tetapi tingkah laku sebagai ekspresi keinginan tersebut ditujukan ke lingkungan. Walaupun keinginan bersifat pribadi, hasil pengalamannya dalam bentuk tingkah laku sering mengikutsertakan orang lain, sehingga hal ini juga bersifat sosial.
Dalam usaha penyesuaian, seseorang mengadakan perubahan tingkah laku dan sikap supaya ia mencapai kepuasaan dan sukses dalam aktivitasnya, penyesuaian ini disebut baik bila sikap-sikap yang membangun dan sehat serta tingkah laku yang timbul dalam hubungan dengan dorongan dan pengaruh faktor lingkungan telah tercapai.
Bentuk-bentuk Penyesuaian Diri adalah :
1. Perilaku Kompensatoris merupakan konsep umum yang meliputi berbagai macam bentuk khusus penyesuaian terhadap kegagalan dan ketidakcocokan. Penekanan diberikan pada berfungsinya suatu sifat atau ciri tertentu yang dipakai untuk mengalihkan perhatian orang lain dari defeknya/kerusakan. Perilaku pengganti atau kompensatoris ini mungkin dapat diterima dan mungkin juga ditolak.
25
2. Perilaku menarik perhatian orang (attention-seeking behavior) adalah keinginan untuk memperoleh perhatian. Penerimaan sosial biasanya paling memuaskan.
Bahkan masih lebih memuaskan apabila seseorang ditolak oleh umum daripada diacuhkan/diabaikan oleh beberapa orang. Ia akan melakukan tindakan yang menghebohkan untuk menarik perhatian orang.
3. Memperkuat diri melalui kritik. Merupakan cara untuk memperbaiki tingkah laku sendiri yang merupakan suatu bentuk tingkah laku penyesuaian.
4. Identifikasi. Pembentukan pola-pola identifikasi merupakan bentuk penyesuaian yang tidak merugikan. Pada umumnya, manusia merupakan bagian dari suatu kelompok. Sudah selayaknya kita mengidentifikasikan diri dengan mereka yang berhasil dan bangga dalam keberhasilan anggota kelompok yang menonjol tersebut.
5. Sikap proyeksi. Adalah sikap yang dipakai sebagai pembenaran suatu kesalahan.
Dalam hal ini, proyeksi melindungi individu terhadap perasaan sia-sia, sebagai akibat pengaruh kesalahannya.
6. Rasionalisasi. Merupakan usaha untuk memaafkan tingkah laku yang oleh pelaku dianggap sebagai tidak diinginkan, aneh, tetapi menimbulkan suatu kepuasan emosi tertentu.
7. Sublimasi. Seseorang dapat menyalurkan aktivitasnya dengan aktivitas pengganti (substitute) yang dapat diterima umum untuk menghindari stres emosi. Seseorang akan sungguh-sungguh yakin bahwa aktivitas pengganti telah digerakkan oleh sikap sosial yang baik.
26
8. Melamun dan mengkhayal sebagai cara penyesuaian. Seorang dewasa atau lanjut usia dengan penyesuaian diri yang baik dapat mengubah impiannya ke dalam aktivitas yang produktif. Orang lanjut usia yang pengalaman masa lalunya cukup memuaskan akan mengenang kembali keberhasilan yang telah diperolehnya pada masa lampau.
9. Represi (conscious forgetting). Pada umumnya, seseorang akan menghindari tempat, orang, atau hal yang berhubungan dengan pengalaman yang tidak menyenangkan. Demikian pula seseorang ingin melupakan segala hal yang berhubungan dengan suatu situasi penghinaan atau kekesalan. Dasar-dasar represi adalah lupa akan hal-hal yang tidak menyenangkan.
Cara penyesuaian diri yang wajar adalah prinsip realitas, menerima kecemasan, sedapat mungkin tidak memakai mekanisme pertahanan, mengerti motif-motif (Gunarsa, 2012).
2.4. Menopause
Menopause adalah penghentian permanen masa menstruasi (haid), berarti ini menjadi tanda akhir dari masa reproduktif. Beberapa wanita mempunyai siklus menstruasi tanpa penyulit. Tetapi kebanyakan wanita mengalami siklus anovulasi yang ditandai oleh mestruasi dengan perdarahan yang sedikit-sedikit atau perdarahan banyak yang berlangsung lama, atau bisa juga keduanya (Purwoastuti, 2012).
27
Secara biological, menopause didefinisikan sebagai pengakhiran masa menstruasi, ini pertanda hilangnya kemampuan seorang wanita untuk menhasilkan keturunan (Noviana, 2014).
Menopause memiliki banyak arti atau makna yang terdiri dari kata men dan pauseis yang berasal dari bahasa yunani, yang digunakan untuk menjelaskan gambaran berhentinya haid atau menstruasi. Ini merupakan akhir proses biologis dari siklus menstruasi, yang dikarenakan terjadinya perubahan hormon yaitu penurunan produksi hormon estrogen yang dihasilkan oleh ovarium.
Kenyataan yang ada di masyarakat menunjukkan banyak kaum ibu mengalami masalah dalam menghadapi menopause. Masalah-masalah yang sering dihadapi oleh kaum ibu antara lain adalah gangguan dalam kehidupan seksual suami istri, seperti keringat yang berlebihan dan rasa panas pada muka. Juga timbul perasaan-perasaan
Kenyataan yang ada di masyarakat menunjukkan banyak kaum ibu mengalami masalah dalam menghadapi menopause. Masalah-masalah yang sering dihadapi oleh kaum ibu antara lain adalah gangguan dalam kehidupan seksual suami istri, seperti keringat yang berlebihan dan rasa panas pada muka. Juga timbul perasaan-perasaan