• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam pada Masa Penjajahan

Dalam dokumen KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA (Halaman 30-34)

BAB II KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

D. Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam pada Masa Penjajahan

kolonial Belanda-Jepang adalah:

1. Pesantren

Pesantren sendiri menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri. Sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana yang terbuat dari bambu. Di samping itu kata “pondok”

mungkin juga berasal dari bahasa Arab funduq yang berarti hotel atau asrama.6 Pesantren adalah sebuah pondok pendidikan yang terdiri dari seorang guru pemimpin umumnya seorang Kyai dan kelompok murid yang berjumlah tiga sampai ratusan orang yang disebut santri. Secara tradiosional, sampai ketingkat tertentu, para santri tinggal dalam pondok yang menyerupai asrama biara, mereka mengurusi diri sendiri mulai dari memasak hingga mencuci pakaian sendiri.

Sejarah awal munculnya pesantren dalam kenyataan tidak diketahui pasti karena minimnya informasi yang merinci kapan lembaga tersebut pertama kali muncul. Dalam berbagai babak walaupun pesantren dijelaskan seperti dalam cerita centini, namun kurang akurat sebagai sumber karena tidak menyebutkan pesantren secara langsung. Lembaga pendidikan di sana yang terdapat hanya dinamakan paguron atau padepokan.

Beberapa pakar justru melihat pesantren sebagai hasil adopsi dari sistem pendidikan kuttab yang berkembang dalam tradisi Islam klasik, mulai dari Dinasti Umayyah hingga selanjutnya di mana model pendidikan kutab yang terdapat dalam tradisi Islam Indonesia kemudian dipopulerkan dengan nama ”Pondok Pesantren” yaitu lembaga pendidikan Islam didalamnya terdapat seorang kyai yang mengajar dan mendidik para santri melalui sarana mesjid digunakan sebagai tempat penyelenggara pendidikan tersebut.dilengkapi pula dengan fasilitas pemondokan bagi para santri yang kebanyakan berasal dari luar dari daerah. Ciri utama pesantren adalah:

a. Adanya kyai sebagai pengajar.

b. Adanya sebagai pelajar.

c. Adanya mesjid sebagai sarana untuk pelajar.

d. Adanya tempat pemondokan santri.7

6 Zamaksyari Dofier, Tradisi Pesantren, (Jakarta: LP3ES, 1983), hal. 18.

7 Kareel. A. Stenbrink, Pesantren, Madrasah dan Sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, (Jakarta: LP3ES 1986), hal. 152.

2. Masjid

Masjid fungsi utamanya adalah sebagai tempat sholat yang lima waktu ditambah dengan sekali seminggu dilaksanakan sholat Jum’at dan dua kali setahun dilaksanakan sholat Idul Fitri dan Idul Adha. Selain dari pada masjid ada juga tempat ibadah yang disebut langgar, bentuknya lebih kecil dari masjid dan digunakan hanya untum sholat lima waktu, bukan untuk tempat sholat Jum’at. Selain dari fungsi utama masjid dan langgar juga difungsikan juga untuk tempat pendidikan. Ditempatkan dilakukan pendidikan buat orang dewasa maupun anak-anak. Pengajian–pengajian yang dilakukan untuk orang dewasa adalah penyampaian-penyampaian ajaran-ajaran oleh mubaligh (al-ustadz, guru, kiai) kepada para jamaah dalam bidang yang berkenaan dengan akidah, ibadah dan akhlak.8 3. Meunasah

Secara etimologi meunasah berasal dari perkataan madrasah, tempat belajar atau sekolah. Bagi masyarakat aceh meunasah tidak hanya semata-mata tempat belajar, bagi mereka meunasah memiliki multifungsi, meunasah di samping tempat belajar, juga berfungsi sebagai tempat ibadah (sholat), tempat pertemuan, musyawarah, pusat informasi, tempat tidur dan tempat menginap bagi musafir.9

4. Surau

Christine Dobbon memberikan pengertian bahwa surau adalah rumah yang didiami para pemuda setelah akil baligh, terpisah dari rumah keluarganya yang menjadi tempat tinggal wanita dan anak-anak.10 Perkataan surau menyebar luar di Indonesia dan Malaysia, yang dalam kehidupan keseharian adalah suatu bangunan kecil yang penggunaan utamanya untuk shalat berjamaah bagi masyarakat sekitar. Di Sumatera Barat, surau tidak hanya mempunyai fungsi pendidikan dan ibadah, tetapi

8 Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuan dan Pembaharuan Islam di Indosia, (Jakarta:

Kencana, 2007), hal. 20-21.

9 Ibid., hal. 23.

10 Cristine Dobbin, Kebangkitan Islam dalam Ekonomi Petani yang Sedang Berubah, Terj. Lilian D. Tedjasudana, (Jakarta: INIS, 1992), hal. 142.

hanya juga mempunya fungsi budaya. Surau diperkiran telah ada sebelum Islam datang ke Sumatera Barat. Hanya berfungsi sebagai aplikasi dari budaya mereka. Surau dalam sistem adat budaya masyarakat kepunyaan kaum, suku. Selanjutnya setelah Islam masuk, maka dilaksanakan proses Islamisasi dalam segala aspek, termasuk lembaga-lembaga budaya. Hal yang serupa juga diberlakukan terhadap pesantren.11

Surau menurut istilah Melayu,12 arti kata surau sangat luas penggunaanya di Asia tenggara. karena banyak digunakan di daerah Minangkabau, Sumatra Selatan, semenanjung Malaysia, Sumatera Tengah, dan Pattani (Thailand Selatan). Surau tersebut merupakan kebudayaan perdesaan yang perkembangannya lebih akhir dan dapat ditemukan di daerah urban. Surau dalam perkembangannya setelah datang Islam, mengalami perubahaan yang mendasar tanpa perubahan nama seperti surau Hindu-Budha, yang berada di puncak bukit cepat hilang di bawah pengaruh Islam.

Perkembangan istilah surau setelah masuknya Islam mengacu pada

“Masjid kecil”13yang biasanya digunakan untuk shalat Jum’at. Perbedaan penggunaan surau dan mesjid cukup kabur, contohnya di Malaysia khususnya kegiatan surau adalah pusat ritual keagamaan di pedesaan dan pusat kegiatan keagamaan lainya termasuk pendidikan keagamaan di Malaysia ada dua istilah surau kecil umumnya tempat pengajian Al-Qur’an dan pendidikan agama dasar, dan surau besar sama fungsinya di Indonesia seperti mesjid dan tempat pendidikan agama yang arti sebenarnya.

Fungsi sama dengan langgar di Jawa sama kedudukanya seperti surau di daerah Minangkabau sama dengan pesantren di daerah Jawa atau pondok di Malaysia. Dengan demikian surau dalam arti sebenarnya adalah pusat pengajaran Islam Tinggi bagi pelajaran tingkat lanjutan.

Surau dalam sejarah Minangkabau14 di mana sejarah pendidikan Islam di Minangkabau mulai tahun 1900 M yang mengalami perubahan semenjak pertempuran paderi. Tetapi pada sebelumnya kita melihat pendidikan Islam sebelum tahun 1900 M. Menurut pendapat setengah

11 Haidar Putra Daulay, Op. Cit., hal. 26.

12 Omar Amir Husin, Kultur Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1981), hal. 59.

13 Zamaksyari Dofier, Op. Cit., hal.18.

14 Tadjab, Perbandingan Pendidikan, (Surabaya: Karya Abditama, 1994), hal. 77.

para ahli bahwa agama Islam masuk ke Minangkabau kira kira tahun 1250 M. Maka tentulah waktu itu mulai sejarah pendidikan agama Islam.

Selain itu menurut para ahli berdirinya sejarah kerajaan Islam berdiri di Minangkabau pada tahun 1500 M atau 1650 M, bahwa sesungguhnya kerajaan Melayu Islamlah yang baru berdiri. Pada kenyataanya Islam telah masuk ke daerah Minangkabau sebelum tahun 1500 M.

E. Kebijakan Politik Penjajah Belanda Terhadap Umat Islam

Dalam dokumen KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA (Halaman 30-34)