• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sekulerisme

Dalam dokumen KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA (Halaman 159-162)

BAB VI PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA BAGI KEBIJAKAN

D. Sekulerisme

yang lemah dan tidak memiliki karakter yang kuat.11

Westernisasi dalam kurikulum adalah dengan cara mengurangi volume setiap pengajaran agama Islam di berbagai lembaga pendidikan.

Melakukan dengan cara mengurangi gaji dan honor dan tunjangan kesejahteraan bagi para ulama dan dosen yang mengajarkan mata kuliah pendidikan Islam. Sedangkan ketika sekolah umum didirikan dan mulai beroperasi, maka pelajaran bahasa Arab dan ilmu agama Islam di sekolah tersebut mulai di kurangi bahkan di singkirkan, digantikan denga pelajaran berbagai macam ilmu non Islam yang di bawa dari Barat.

Paradok dengan hal tersebut, berangsur-angsur kekayaan yang terkandung di dalam Islam dan kebudayaannya semakin menarik perhatian kaum pria dan wanita Barat, ketika perkembangan westernisasi itu sendiri sedang mengancam benteng pertahanan Islam. Karena situasi yang demikian, prinsip Islam perlu dipertegaskan kembali dan ajaran-ajarannya perlu diuraikan kembali dalam cabang-cabang tradisi yang bersumber pada al-Qur’an.

Upaya untuk terhindar dari arus globalisasi yang katanya serba moden yang akhinya berpola westernisasi, maka pendidikan turut berperan dalam pembinaan mental dan spritual anak atau generasi muda.

Agama mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan manusia pancasila sebab agama merupakan motivasi hidup dan kehidupan serta merupakan alat pengembangan dan pengendalian yang amat penting.

Agama membimbing dan mengarahkan manusia untuk menghindari dampak negatif daripada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama menghindarkan dari westrenisasi bagi generasi muda Islam di masa yang akan datang.

di Indonesia adalah pendudukan Indonesia yang bergaram agama.12 Hal ini membuat Indonesia tidak menerapkan konsep negara Islami.

Kemajuan IPTEK yang amat mengandalkan kecerdasan rasio, sampai- batas-batas tertentu dapat mengerosi benteng-benteng nilai idealisme-humanisme yang semakin menuju ke arah rasionalisme, pragmatisme dan relativisme. Berbagai akibat yang muncul kepermukaan antara lain ialah nilai-nilai kehidupan umat manusia lebih banyak didasarkan atas nilai kegunaan, kelimpahan hidup materialistis dan sekularistis yang menafikan aspek-aspek etika religius dan moralistik.

Kemajuan iptek dalam bidang industrial dan mekanikal, memberikan dampak kehidupan yang menghilangkan nilai ekonomis tenaga manusia dalam perusahaan-perusahaan raksasa, diganti dengan robot-robot yang lebih murah, sementara penghargaan terhadap nilai-nilai moral dan etik dalam pola kemunikasi interpersonal selaku umat manusia yang senasip semakin digantikan dengan nilai industri-komersial yang matrialistik dapat menguntungkan diri pribadinya. Dalam kaitannya dengan proses komunikasi sosial, kepedulian moral dan sosial juga makin lemah intensitasnya, sehingga manusia sebagai mahluk sosial dan moral, mengalami kesenjangan sikap mental dan sosial antara kepentingan kesejahteraan hidup pribadi dengan kesejahteraan sosialnya. Akibatnya muncullah berbagai ragam gejala demokralisasi, dekadensi, egoisme dan individualisme serta apatisme dengan sebagainya yang bersumber pada frustrasi yang semakin membengkak; juga stress-sosial (ketegangan batin masyarakat) semakin menumpuk dalam lapisan jiwa bawah sadar yang sewaktu-waktu dapat meletup dan meledak kepermukaan kehidupan masyarakat. Apalagi jika kekuatan atau daya pengendali mental psikologis mereka tak dapat bekerja dengn baik dalam tiap kelompok masyarakat itu.

Jika perbenturan antar nilai terus berkembang dalam masyarakat tanpa penyelesaian, maka timbullah apa yang diidentifikasi oleh para ilmuwan sosial sebagai krisis nilai. Krisis ini sangat menggangu harmonisasi kehidupan masyarakat, karena sendi-sendi normative dan tradisional mengalami pengeseran yang belum menemukan pemukiman

12 Abul Hasan Ali Al Husni An Nadwi. Pertarungan antara Alam Pikiran Islam dengan Alam Pikiran Barat (Bandung: Al Ma’arif, 1983), hal. 139.

yang pasti. Kondisi kebudayaan sosial demikian menjadi goyah dan resah, yang pada giliranya hidup kejiwaan manusia dalam masyarakat mengalami keguncangan-keguncangan.

Manusia mengalami krisis kepercayaan kepada kemampuan diri sendiri, yang menimbulkan gejala-gejala transisi yang sangat rentan (sensitif) terhadap penyulusupan nilai-nilai asing yang negatif; disamping itu rangsangan yang bersumber dari nafsu-nafsu negatif manusia mendapat kesempatan luas untuk muncul kepermukaan; penalaran yang sangat sehat dari manusia teknokrat kehilangan filosofi dan kebijakannya, sehingga langkah-langkahnya banyak yang tidak sejalan dengan tuntutan hati nurani manusia. Krisis nilai demikian mempunyai ruang lingkup yang menyentuh masalah kehidupan masyarakat yaitu menyangkut sikap nilai sesuatu perbuatan ’baik’ bermoral atau amoral, sosial atau asosial, pantas atau tak-pantas atau tak pantas dan bobot benar dan tidak benar serta prilaku lain yang di ukur atas dasar etika pribadi dan sosial. Krisis itu sebenarnya berpangkal pada perubahan pola pikir manusia yang cenderung kearah rasionalisme dari pada dogmatisme, kearah realisme dan pragmatisme dari pada ritualitas formalisme, kearah sekularisme dari pada pola pikir yang berpegang pada moralisme idealisme agama dan sebagainya.

Muncul trend yang mengarah kuat kepada globalisasi kebudayaan.

Globalisasi kebudayaan adalah pembauran budaya antar bangsa, meliputi tata cara hidup yang hampir sama dan kesenangan-kesenangan yang sama pula, Jhon Naisbitt menyebutnya sebagai “gaya hidup global”. Kecenderungan yang sama antara Barat dan Timur dalam hal makanan,pakaian, dan hiburan, yang disadari atau tidak di sadari,mengarah kepada masyarakat yang kehilangan kepribadian asli dan terpoles oleh budaya-budaya yang cenderung berkuasa. Budaya Barat telah mendominasi budaya-budaya dunia, meskipun dalam taraf permukaan. Hal itu terjadi karena, pertama, Barat telah jauh melangkah lebih dahulu di bidang industri, dan yang kedua, Barat telah mampu menguasai dunia informasi. Akibatnya, selama ini Barat menjadi standar bagi masyarakat Timur dalam ukuran kemordernan.padahal, kita tahu bahwa budaya Barat adalah produk Revolusi Industri yang telah menjatuhkan martabat manusia. Manusia dipandang tidak lebih dari pada hewan yang berpikir,atau tidak lebih dari pada robot-robot yang

menjadi budak mesin-mesin industri.13

Ada beberapa strategi yang diterapkan oleh para sarjana barat untuk melemahkan umat Islam sehingga mereka terjebak dalam perangkap mereka:14

1. Mereka memanfaatkan pertentangan yang ada dalam tubuh umat Islam dan mempertajam pertentangan itu serta tidak memberikan kesempatan bagi umat islam untuk bersatu.

2. Mengkritik dan menjelekkan hukum-hukum Islam serta menyebutkan bahwa hukum-hukum Islam itu penghambat kemajuan.

3. Mempertentangkan posisi wanita dalam Islam, menuduh islam menindas kaum wanita, dan menuduh jilbab sebagai lambang penindasan

4. Merusak moral generasi muda Islam dengan cara mempertontonkan kebebasan moral yang mereka anut yang mereka sebut sebagai lambang kemajuan.

5. Menumbuhkan semangat sekuralisme yang mempertentangkan kaum intelektual muslin dengan agamanya.

Dalam dokumen KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA (Halaman 159-162)