• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen

Dalam dokumen KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA (Halaman 103-107)

BAB IV ASPEK EKONOMI DALAM KEBIJAKAN

G. Manajemen

pendidikan Islam berpestasi, ada beberapa prinsip dasar yang harus mendapat perhatian berikut ini.

1. Siswa harus diperlakukan sebagai subjek dan bukan objek, sehingga harus didorong untuk berperan serta dalam perencanaan dan pengembilan keputusan yang terkait dengan kegiatan mereka.

2. Keadaan dan kondisi siswa sangat beragam, ditinjau dari kondisis fisik, kemampuan intelektual, sosial ekonomi, minat, dan sebagainya.

Oleh karena itu, diperlukan wahana kegiatan yang beragam sehingga setiap siswa memiliki wahana untuk berkembang secara optimal.

3. Pada dasarnya siswa hanya akan termotivasi belajar, jika mereka menyenangi apa yang diajarkan.

4. Pengembangan potensis siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif, tetapi juga ranah afektif dan psikomotorik.

prestasi kemanejeran, dan kalangan profesional senantiasa dituntun suatu kode etik.

Istilah manajemen Pendidikan Islam (MPI) memunculkan beberapa asumsi pemahaman antara lain: pertama, pendidikan Islam yang dalam proses penyelenggaraanya memakai prinsip-prinsip, konsep-konsep dan teori-teori manajemen yang berkembang dalam dunia bisnis. kedua, pendidikan Islam yang dalam proses penyelenggaraannya menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep manajemen yang digali dari sumber dan khazanah keislaman. Ketiga, pendidikan Islam yang dalam proses penyelenggaannya menggunakan prinsip, konsep, dan teori manajemen yang telah berkembang dalam dunia bisnis dengan menjadikan Islam sebagai nilai yang memandu dalam proses penyelenggaraanya.11

Dalam manajemen terdapat fungsi-fungsi yang berlaku secara universal. Dalam demikian, meskipun konsep manajemen yang dibangun atas dasar nilai dan budaya yang berbeda terapi memiliki fungsi-fungsi manajerial yang sama. Keberadaan itu terletak pada penerapan dalam penyelenggaraan sebuah organiasi karena perbedaan manajer, tipe dan sifat organisasi, tipe anggota, dan sebagainya. Dari sini dapat dipahami bahwa manejemen pendidikan Islam memiiki fungsi-fungsi manajerial yang sama dengan manajemen pada umumnya, tetapi dalam penerapnanya dipengaruhi oleh tipe, sifa dan jenis organisasi tersebut sebagai organisasi pendidikan Islam yang berusaha mengejawantahkan nilai-nilai Islam di dalam sistem pendidikannya.

Manajemen adalah seni memperoleh hasil melalui berbagai kegiatan yang dilakukan oleh orang lain. Maka menajemen dapat disoroti dari empat sudut pandangan:12 Pertama, betapapun hasilnya para ilmuwan mengembangkan teori tentang manajemen, penerapan berbagai teori manajemen itu tetap berdasarkan pendekatan situsional, artinya, penerapan berbagai teori tersebut masih harus dibarengi oleh

“ seni” mengerakkan orang lain agar mau dan mampu berkarya demi kepentingan organisasi. Kedua manajemen selalu berkaitan dengan kehidupan organisasional dimana terdapat sekelompok orang yang menduduki berbagai jenjang tingkat kepemimpinan dan sekelompok

11 Marno, Islam dan by Management and Leadership, (Jakarta: Lintas Pustaka, 2007), hal. 5 12 Sondang P. Siagian, Fungsi-Fungsi Manajerial, (Jakarta: Bina Aksara, 1989), hal. 2.

orang lain yang tanggung jawab utmatanya adalah menyelenggarakan berbagi kegiatan operasional. Pandangan ini sangat mendasar karena keberhasilan seseorang yang menduduki jabatan manajerial tidak lagi diukur dari keterampilannya menyelenggarakan kegiatan operasional, melainkan dari kemahirannya dan kemampuannya menggerakkan orang lain dalam organisasi. Ketiga, keberhasilan organisasi sesungguhnya merupakan gabungan antara kemahiran manajerial dan keterampilan teknis para pelaksana kegiatan operasional. Keempat, kedua kelompok utama dalam organisasi, yaitu kelompok manajerial dan kelompok pelaksana, mempunyai bidang tanggung jawab masing-masing yang secara konseptual dan teotitikal dapat dipisahkan, akan tetapi secara operasional menyatu dalam berbagai indakan nyata dalam rangkan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Keberhasilan organisasi mencapai tujuan dan berbagi sasarannya sangat tergantung pada faktor seperti: pertama, Mampu tidaknya kelompok manajerial dalam organisasi dalam menjalankan fungsi-fungsi manajerialnya. Kedua, Tersedia tidaknya tenaga operasional yang matang secara teknis dan mempunyai keterampilan sesuai dangan berbagai tuntutan tugas yang harus diselenggarkannya. Ketiga, tersedianya anggaran yang memadai untuk pembiayaan berbagai kegiatan yang telah ditetapkan untuk diselenggarakan. Keempat, tersedianya sarana dan prasarana kerja yang jenis, jumlah dan mutunya sesuai dengan kebutuhan organisasi. Kelima, mekanisme kerja yang tingkat formalitasnya disesuikan dengan kebutuhan organisasi. Keenam, iklim kerja dalam organisasi yang mendorong terwujudnya kerja sama yang harmonis antara berbagai satuan kerja dalam organisasi. Ketujuh, situasi lingkungan yang diharpkan mendukung pelaksana kegiatan operasional yang menjadi tanggung jawab organisasi.

Mortimore, mengemukakan beberapa faktor yang perlu dicermati agar kualitas pendidikan, termasuk pendidikan Islam dapat ditingkatkan dengan cara:

1. Kepemimpinan sekolah yang positif kuat. Tidak dapat dipungkiri bahwa faktor kepemimpinan yang diterapkan di sekolah sangat menentukan peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

2. Harapan yang tinggi, tantangan bagi berpikir siswa. Mutu pendidikan dapat diperoleh jika harapan yang diterapkan kepada peserta didik

memberikan tantangan kepada mereka untuk berkompetensi mencapai tujuan pendidikan. Harapan yang rendah hanya akan menunrunkan prestasi belajar peserta didik. Harapan tinggi di sini bukan berarti tujuan yang terlalu muluk yang sulit dicapai oleh siswa, tetapi harapan tinggi untuk meraih prestasi bagi peserta didik.

3. Monitor terhadap kemajuan siswa. Aspek monitor menjadi karena keberhasilan siswa di sekolah tak akan terekam dengan baik tanpa danya aktivitas monitoring secara kontinyu. Monitor bertahap dan pemberian balikan akan meningkatkan kualitas pendidikan anak. Di sini program perbaikan dan pengayaan bisa diterapkan.

4. Tanggung jawab siswa dan keterlibatannya dalam kehidupan sekolah. Pendidikan akan berkualitas jika keberhasilan lulusanya yang bertanggung jawab, disiplin, kreatif, dan terampil. Aktivitas organisasi siswa di sekolah perlu digalakkan. Siswa dilatih untuk bertanggungjawab atas tugasnya sebagai siswa, dan berani menanggung resiko atas perbuatannya.

5. Insentif dan hadiah. Penerapan pendidikan yang memberikan hadian dan insentif bagi keberhasilan pendidikan akan meningkatkan usaha kerja siswa denga begitu kualitas pendidikan akan turut meningkat oleh karenanya.

6. Keterlibatan orang tua dalam kehidupan sekolah. Faktor ini telah menjadi klasik sebagai realisasi tanggungjawab pendidikan. Namun faktor ini akan meningkatkan mutu pendidikian jika dirancang secara terstruktur dan peran aktifnya tampak secara nyata. Ini menuntut kedewasaan kedua belah pihak (sekolah di satu pihak dan orang tua dan masyarakat di lain pihak).

7. Perencanaan dan pendekatan yang konsisten. Kualitas pendidikan akan tertingkatkan jika semua aktivitas pendidikan direncanakan dengan baik dan menggunakan pendekatan yang tepat dalam merancang dan melaksanakan pendidikan. Perencanaan dan pendekatan dilakukan berdasarkan kajian heuriestik terhadap situasi dan kondisi yang ada di sekolah.13

13 Lihat dalam Hendyat Soetopo, Pendidikan dan Pembelajaran, (Malang: UMM, 2005), hal.

94-96

Dalam dokumen KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA (Halaman 103-107)