KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
(Dahulu, Kini dan Masa Depan)
Hak cipta dilindungi oleh Undang - undang.
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari penerbit.
Isi diluar tanggung jawab percetakan.
Ketentuan pidana pasal 72 UU No. 19 tahun 2002
1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 1 atau pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah) atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipidana dengan pidana paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratur juta rupiah).
KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
(Dahulu, Kini dan Masa Depan)
Dr. H. Kasful Anwar Us., M.Pd Kompri, M.Pd.I
Editor:
Samsu, S.Ag., M.Pd.I., Ph.D Layout & Desain Kaver;
Murjoko, S.Kom
PUSAKA
2017
KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
(Dahulu, Kini dan Masa Depan)Dr. H. Kasful Anwar Us., M.Pd
Kompri, M.Pd.I
@September 2017
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang All right reserved
Editor:
Samsu, S.Ag., M.Pd.I., Ph.D
Proofreader, Layout & Desain Cover:
Murjoko, S.Kom
Diterbitkan oleh:
Pusat Studi Agama dan Kemasyarakatan (PUSAKA) email: [email protected]
Cetakan I, September 2017 x + 259 halaman; 15,5 x 23 cm.
ISBN:
#PERSEMBAHAN
Yang Mulia
Nabi Muhammad SAW dan Umatnya tersayang Keluarga Tercinta
KATA PENGANTAR
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Dengan mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, buku dengan judul ”Kebijakan Pendidikan Islam di Indonesia: Dahulu, Kini, dan Masa Depan” ini dapat diterbitkan tepat pada waktunya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw, yang telah mencerahkan kehidupan manusia dengan ilmu, iman, dan amal shaleh.
Selaku pimpinan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, kami menyatakan penghargaan yang setinggi- tingginya dan menyampaikan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada penulis yang telah menuangkan gagasan dan pemikirannya dalam buku ini, sehingga dapat menambah produktivitas, karya, serta buku referensi yang dapat digunakan oleh semua pihak, terutama mahasiswa di perguruan tinggi dalam melakukan tradisi keilmuan dengan kajian- kajian yang relevan dengan apa yang dituangkan dalam buku ini.
Buku ini hadir untuk melengkapi kurangnya referensi yang ada dan terkait dengan masalah yang diangkat dalam buku ini. Sudah barang tentu disadari mungkin masih jauh dari harapan karena kekhilafan dan kekurangan yang ada. Karena itu, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, saya mendorong kepada penulis untuk tetap menulis demi kemajuan dan pengembangan ilmu pengetahuan pada masa-masa yang akan datang.
Jambi, September 2017
Dekan,
Dr. H. Kasful Anwar Us, M.Pd
#KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji syukur penulis persembahkan kehadirat Allah SWT, Tuhan yang mengatur sekalian alam, yang telah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya, serta telah memberikan kekuatan kepada penulis dalam menyelesaikan buku ini. Allah SWT, Sang Pemberi Ilham dan Ilmu Pengetahuan. Shalawat beriringan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Tujuan pendidikan pada dasarnya hanya satu, yaitu memanusiakan manusia, atau mengangkat harkat dan martabat manusia atau human dignity, yaitu menjadi khalifah di muka bumi dengan tugas dan tanggung jawab memakmurkan kehidupan dan memelihara lingkungan. Tujuan pendidikan yang selama ini diorientasikan memang sangat ideal bahkan, lantaran terlalu ideal, tujuan tersebut tidak pernah terlaksana dengan baik. Orientasi pendidikan, sebagaimana yang dicita-citakan secara nasional, barangkali dalam konteks era sekarang ini menjadi tidak menentu, atau kabur kehilangan orientasi mengingat adalah tuntutan pola kehidupan pragmatis dalam masyarakat Indonesia. Hal ini patut untuk dikritisi bahwa globalisasi bukan semata mendatangkan efek positif, dengan kemudahan-kemudahan yang ada, akan tetapi berbagai tuntutan kehidupan yang disebabkan olehnya menjadikan disorientasi pendidikan. Pendidikan cenderung berpijak pada kebutuhan pragmatis,
atau kebutuhan pasar lapangan kerja, sehingga ruh pendidikan Islam sebagai pondasi budaya, moralitas, dan social movement (gerakan sosial) menjadi hilang.
Pendidikan Islam sebagai salah satu media strategis dalam menciptakan sumber daya manusia berkualitas perlu kontekstual terefleksi kepada format baru dalam rangka menyingkapi kondisi masyarakat yang harus direspon serius baik secara konseptual, strategis maupun praktis.
Sejalan dengan itu, masalah pendidikan menjadi prioritas utama untuk dilaksanakan, karena pada kenyataannya merupakan faktor penentu bagi perkembangan umat Islam.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan buku ini masih jauh dari sempurna, di sana sini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Untuk itu semua guna perbaikan ke depan, penulis mengharapkan kritik dan saran konstruktif dari semua pembaca. Semoga buku ini dapat menjadi amal jariah bagi penulis dan bernilai pahala di sisi Allah SWT. Amin Ya Rabbal’alamin!
Wassalamu’alikum Wr. Wb.
Jambi, 1 April 2016
Penulis
Hlm
Persembahan ... v
Kata Pengantar Dekan ... vi
Kata Pengantar ... vii
Daftar Isi ... ix
BAB I HAKEKAT KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM A. Kebijakan Pendidikan ... 1
B. Tujuan dan Karakteristik Kebijakan Pendidikan ... 4
C. Tahapan Kebijakan Pendidikan ... 6
D. Perumusan Masalah Kebijakan Pendidikan ... 11
E. Pembuat Kebijakan Pendidikan ... 13
BAB II KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA PADA MASA PENJAJAHAN A. Pendahuluan ... 15
B. Politik ... 16
C. Pendidikan dan Politik ... 17
D. Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam pada Masa Penjajahan... 17
E. Kebijakan Politik Penjajah Belanda Terhadap Umat Islam Indonesia ... 21
#DAFTAR ISI
F. Kebijakan Politik Kolonial Belanda Terhadap
Pendidikan Islam... 25
G. Pendidikan Dikotomik Warisan Penjajah ... 37
BAB III KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM YANG BELUM TERSELESAIKAN A. Pendahuluan ... 49
B. Anggaran Pendidikan Sebesar 20% Belum Maksimal ... 52
C. Keadilan Sertifikasi Guru ... 54
D. Pesantren yang Terpinggirkan ... 55
E. Keberpihakan Pemerintah Pada Sekolah Negeri ... 56
F. Otonomi Daerah yang Tidak Berpihak pada Pendidikan Islam... 56
G. Ketimpangan Pembangunan Pendidikan Tinggi Luar Jawa ... 57
H. Penutupan Sejumlah Perguruan Tinggi Umum/Agama ... 58
I. Prinsip Keadilan pada Anggaran Pendidikan Islam ... 59
J. Warisan Politik Kolonial pada Materi Pelajaran Sekarang ... 60
K. Eksistensi Islam Progresif di Kalangan Akademisi Islam Indonesia ... 63
L. Pembangunan Pendidikan yang Menentang Pancasila ... 64
M. Lulusan Pendidikan Islam yang Tidak Dibutuhkan Masyarakat ... 65
N. Pendiktean Kurikulum Pendidikan Islam di Indonesia ... 66
O. Elistis Sekolah/Madrasah Unggulan di Indonesia ... 68
BAB IV ASPEK EKONOMI DALAM KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM A. Pendahuluan ... 71
B. Sumber Daya Manusia ... 72
C. Sumber Daya Alam ... 75
D. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ... 80
E. Budaya ... 81
F. Sumber Daya Modal ... 86
G. Manajemen ... 90
H. Kewirausahaan ... 94
I. Informasi ... 96
BAB V PENETRASI KEBUDAYAAN DALAM KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM A. Hakikat Budaya ... 107
B. Hubungan Pendidikan dan Kebudayaan ... 110
C. Penetrasi Damai (Penetration Pasifique) ... 112
D. Penetrasi Kekerasan (Penetration Violante) ... 122
BAB VI PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA BAGI KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM A. Pendahuluan ... 135
B. Perubahan Sosial Budaya ... 136
C. Westernisasi ... 140
D. Sekulerisme ... 146
E. Konsumerisme ... 149
F. Konsumtivisme ... 153
G. Hedonisme ... 154
H. Kesenjangan Sosial dan Ekonomi ... 156
I. Munculnya Berbagai Perilaku Menyimpang ... 157
BAB VII KEBIJAKAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM DUNIA GLOBALISASI A. Pendahuluan ... 167
B. Hakekat Pendidikan Islam ... 168
C. Peran Pendidikan Islam di Indonesia ... 170
D. Problem Pendidikan Agama Islam dalam Dunia Globalisasi ... 172
E. Kebijakan Pendidikan Agama Islam Menghadapi Dunia Globalisasi ... 181
BAB VIII LINK AND MACTH DALAM PENDIDIKAN ISLAM A. Pendahuluan ... 191
B. Filosofi Link and Macth dalam Pendidikan ... 192
C. Kebijakan Pesantren Menghadapi Pasar Tenaga Kerja ... 197
D. Kebijakan Link and Macth bagi Peguruan Tinggi Islam ... 200
E. Kebijakan Pendidikan Sistem Ganda pada Sekolah/Madrasah Kejuruan ... 203
F. Kebijakan Link and Macth pada Pendidikan Madrasah ... 216
BAB IX KEBIJAKAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH DAN PENDIDIKAN PEMBEBASAN DALAM KONSEP ISLAM A. Pendidikan Luar Sekolah ... 221
B. Pendidikan Pembebasan ... 225
C. Kebijakan PLS dan Pendidikan Pembebasan dalam Islam ... 226
BAB X KEBIJAKAN MENGELIMINIR RADIKALISME DALAM PENDIDIKAN A. Pendahuluam ... 237
B. Makna Pendidikan ... 238
C. Radikalisme ... 240
D. Bentuk Radikalisme dalam Pendidikan ... 242
E. Mengeliminir Radikalisme ... 246
DAFTAR PUSTAKA... 249
BAB 1
HAKEKAT KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM
A. Kebijakan Pendidikan
Kebijakan merupakan terjemahan dari kata policy yang berasal dari bahasa Inggris. Kata policy diartikan sebagai sebuah rencana kegiatan atau pernyataan mengenai tujuan-tujuan, yang diajukan atau diadopsi oleh suatu pemerintahan, partai politik, dan lain-lain. Kebijakan juga diartikan sebagai pernyataan-pernyataan mengenai kontrak penjaminan atau pernyataan tertulis1. Pengertian ini mengandung arti bahwa yang disebut kebijakan adalah mengenai suatu rencana, pernyataan tujuan, kontrak penjaminan dan pernyataan tertulis baik yang dikeluarkan oleh pemerintah, partai politik, dan lain-lain. Dengan demikian siapapun dapat terkait dalam suatu kebijakan.
1 A.S. Hornby, Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English, (Oxford: Oxford University Press, 1995), cet. ke-5, hal. 893
James E. Anderson memberikan pengertian kebijakan sebagai serangkaian tindakan yang mempunyai tujuan tertentu yang diikuti dan dilaksanakan oleh seorang pelaku atau sekelompok pelaku guna memecahkan suatu masalah tertentu. Pengertian ini memberikan pemahaman bahwa kebijakan dapat berasal dari seorang pelaku atau sekelompok pelaku yang berisi serangkaian tindakan yang mempunyai tujuan tertentu. Kebjakan ini diikuti dan dilaksanakan oleh seorang pelaku atau sekelompok pelaku dalam rangka memecahkan suatu masalah tertentu.2
Dalam pengertian ini, James E. Anderson menyatakan bahwa kebijakan selalu terkait dengan apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah. Ia secara lebih jelas menyatakan bahwa yang dimaksud kebijakan adalah kebijakan yang dikembangkan oleh badan-badan dan pejabat-pejabat pemerintah. Pengertian ini, menurutnya, berimplikasi:
1. Bahwa kebijakan selalu mempunyai tujuan tertentu atau merupakan tindakan yang berorientasi pada tujuan,
2. Bahwa kebijakan itu berisi tindakan-tindakan atau pola-pola tindakan pejabat-pejabat pemerintah,
3. Bahwa kebijakan merupakan apa yang benar-benar dilakukan oleh pemerintah,
4. Bahwa kebijakan bisa bersifat positif dalam arti merupakan beberapa bentuk tindakan pemerintah mengenai suatu masalah tertentu atau bersifat negatif dalam arti merupakan keputusan pejabat pemerintah untuk tidak melakukan sesuatu.
5. Bahwa kebijakan, dalam arti positif, didasarkan pada peraturan perundang-undangan dan bersifat memaksa (otoritatif).
Pernyataan bahwa kebijakan terkait dengan pemerintah tidak hanya disampaikan oleh James E. Anderson. George C. Edwards III dan Ira Sharkansky mengemukakan pengertian kebijakan sebagai apa yang dinyatakan dan dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah.
Kebijakan itu dapat berupa sasaran atau tujuan dari program-program pemerintah Penetapan kebijakan tersebut dapat secara jelas diwujudkan dalam peraturan-peraturan perundang-undangan atau dalam pidato- pidato pejabat teras pemerintah serta program-program dan tindakan
2 James E. Anderson, Public Policy Making, (New York: Holt, Rinehart and Winston, 1984), cet. Ke-3, hal. 3-5.
tindakan yang dilakukan pemerintah3.
Kebijakan dalam pembangunan pendidikan harus merupakan pondasi untuk melaksanakan pembangunan dalam berbagai bidang lainnya, mengingat secara hakiki upaya pembangunan pendidikan adalah untuk membangun potensi manusianya yang kelak akan menjadi pelaku pembangunan di berbagai bidang pembangunan lainnya. Filosofis dalam kebijakan pendidikan pada dasarnya dijiwai oleh cita-cita luhur sebagaimana rumusan yang termaktub dalam amanah konstitusi.
Dalam konteks inilah filosofi tersebut harus menjadi pedoman dalam mengimplementasikan setiap kebijakan pembangunan dalam bidang pendidikan.4
H.A.R. Tilaar dan Riant Nugroho5 yang mengungkapkan bahwa kebijakan pendidikan tidak dapat dilepaskan dengan hakikat pendidikan dalam proses memanusiakan anak manusia menjadi manusia merdeka.
Manusia meredeka adalah manusia yang kreatif yang terwujud di dalam budayanya. Manusia dibesarkan di dalam habitusnya yang membudaya, dia hidup di dalam budayanya dan dia menciptakan atau merekonstruksi budayanya itu sendiri.
Kebijakan pendidikan merupakan pengejewantahan dari visi dan misi pendidikan bernuansa esensi manusia berdasarkan filsafat manusia dan politik dalam konteks situasi: Politik, Sosial,Ekonomi dan Budaya masyarakatnya.6
Dalam dunia pendidikan, persaingan adalah hal yang wajar.
Munculnya persaingan itu adalah untuk mendapatkan objek pendidikan (siswa/ mahasiswa) sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu, biasanya hanya pimpinan institusi pendidikan Islam bermental gigih dan kuatlah yang mampu menghadapi kerasnya persaingan ataupun krisis yang terjadi di dalam perjalanan sekolah atau universitas. Persaingan dalam memperbutkan objek pendidikan, sangat erat kaitannya dengan kecekatan seorang yang terjun dalam bidang pendidikan mengenali selera
3 George C. Edward III dan Ira Sharkansky, The Policy Predicament: Making and Implementing Public Policy, (San Francisco: W.H Freeman and Campany, 1978), hal. 2.
4 M. Hasbullah, Kebijakan Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2015), hal. 29-30.
5 Aminuddin Bakry, Kebijakan Pendidikan Sebagai Kebijakan Publik, (Jurnal Medtek, Volume 2, Nomor 1, April 2010), hal. 3.
6 Ibid., hal. 4.
pasar serta pemilihan pasar usaha yang tepat. Agar objek pendidikan loyal, maka harus mempunyai strategi guna mempertahankan mereka agar tidak lari ke pesaing-pesaing lain.
Strategi pendidikan itu bisa disusun dalam bentuk kebijakan- kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan lembaga. E.S. Quade, dikutip Dunn7, mendekripsikan analisis kebijakan adalah suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan menyajikan informasi sedemikian rupa sehingga dapat memberikan landasan dari para pembuat kebijakan dalam membuat kebijakan.
B. Tujuan dan Karakteristik Kebijakan Pendidikan
Kebijakan publik diperlukan dengan asumsi sebagai usaha organisasi menghadapi tantangan globalisasi. Lingkungan organisasi publik bukan hanya telah makin bergejolak dalam tahun-tahun belakangan ini tapi juga saling berhubungan lebih erat; sehingga, di mana-mana perubahan dalam sistem menggema tak terduga dan seringkali berbahaya.
Tujuan kebijakan publik adalah:
1. Untuk mendistribusikan (dan alokatif, distributif dan redistributif) serta untuk mengabsorbsi,
2. Untuk meregulasi dan meliberasi,
3. Untuk menstabilkan dan untuk membuat dinamika dan 4. Untuk memperkuat negara dan memperkuat pasar.8
Beberapa karakteristik atau ciri utama masalah kebijakan dapat dirumuskan dari pendapat Dunn yaitu:
1. Interdependensi (saling tergantung),
Interdependensi (saling tergantung), yaitu: masalah kebijakan dalam suatu bidang (misalnya, energi listrik) mempengaruhi masalah kebijakan lainnya (misalnya, perawatan kesehatan). Kondisi ini menunjukkan adanya sistem masalah, yang membutuhkan pendekatan holistik,
7 William N. Dunn, Pengantar Analisis Kebijakan Publik, Alih Bahasa: Samodra Wibawa, dkk., (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2003), hal. 95.
8 Riant Nugroho, Kebijakan Publik di Negara-Negara Berkembang, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), hal. 60.
yaitu pendekatan yang memandang satu masalah sebagai bagian dari keseluruhan masalah.
2. Subjektif
Subjektif, yaitu suatu kondisi eksternal yang dianalisis dengan menggunakan pendekatan atau disiplin ilmu tertentu, sehingga menghasilkan kesimpulan mengenai kondisi tersebut. Selanjutnya data informasi itu ditafsirkan dengan menggunakan berbagai pendekatan atau ilmu pengetahuan yang berbeda, sehingga menimbulkan kesimpulan lainnya yang berbeda.
Contoh, analisis kondisi ekonomi masyarakat di suatu daerah menghasilkan ukuran tingkat pendapatan rata-rata per bulan/kk (misalnya) Rp. 300.000/bulan. Tingkat penghasilan ini dinyatakan kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup yang utama sehari-hari pada 1 keluarga (4 orang). Kondisi ekonomi ini, selanjutnya dianalisis dengan menggunakan pendekatan ilmu kesehatan; dan menghasilkan tafsiran, seperti rendahnya kemampuan membayar pelayanan kesehatan, atau besarnya peluang gangguan gizi.
Dalam kasus ini yang dinyatakan sebagai masalah (objektif) adalah:
tingkat pendekatan yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup, ketika masalah ekonomi ini dikaitkan dengan kesehatan yang memunculkan masalah kesehatan, maka keterkaitkan itu disebut dengan situasi problematis. Setiap masalah merupakan elemen dari situasi problematik.
Masalah kebijakannya (subjektif) muncul ketika manusia memikirkan dan bertindak untuk mencari jalan keluar terhadap masalah dan situasi problematis tersebut.
3. Artifisial
Artifisial (buatan) yaitu: masalah kebijakan hanya mungkin ada jika manusia mempertimbangkan perlunya merubah situasi problematik.
Masalah kebijakan pada dasarnya merupakan buah pandangan subjektif manusia yang terkait dengan kondisi sosial yang objektif.
4. Dinamis
Dinamis, yaitu masalah dan pemecahannya berada pada suasana perubahan yang terus menerus. Pemecahan masalah justru dapat memunculkan masalah baru yang membutuhkan pemecahan masalah lanjutan.
5. Tidak terduga
Tidak terduga, yaitu masalah yang muncul di luar jangkauan kebijakan dan sistem masalah kebijakan.
C. Tahapan Kebijakan Pendidikan
Ada lima fase/tahapan dengan berbagai karakteristik yang mendukung tahapan itu dalam membuat sutau suatu kebijakan. Kategorisasi atas lima fase dan karekateristik yang disampaikan Dunn9 adalah sebagai berikut:
Tabel 1.1
Kategorisasi Atas Lima Fase dan Karekateristik Kebijakan
Fase Karakteristik
Penyusunan Agenda
Para pejabat yang dipilih dan diangkat menempatkan masalah pada agenda publik. Banyak masalah tidak disentuh sama sekali, sementara yang lainnya ditunda untuk waktu lama.
Formulasi Kebijakan
Para pejabat merumuskan alternatif kebijakan untuk mengatasi masalah. Alternatif kebijakan melihat perlunya membuat perintah eksekutif, keputusan paradilan, dan tindakan legislatif.
Adopsi Kebijakan
Alternatif kebijakan yang diadopsi dengan dukungan dari mayoritas legislatif, konsensus di antara direktur lembaga, atau keputusan peradilan.
9 William N. Dunn, Op. Cit., hal. 24.
Implementasi Kebijakan
Kebijakan yang telah diambil dilaksanakan oleh unit-unit administrasi yang memobilisasikan sumber daya finansial dan manusia
Penilaian Kebijakan
Unsur-unsur pemeriksaan dan akuntansi dalam pemerintah menentukan apakah badan-badan eksekutif, legislatif dan peradilan memenuhi persyarakat undang-undang dalam pembuatan kebijakan dan pencapaian tujuan
Berdasarkan tabel 1.1 di atas dapat diuraikan bahwa pada penyusunan agenda para pejabat yang dipilih dan diangkat menempatkan masalah pada agenda publik. Banyak masalah tidak disentuh sama sekali, sementara yang lainnya ditunda untuk waktu lama. Formulasi kebijakan ditandai dengan para pejabat merumuskan alternatif kebijakan untuk mengatasi masalah. Alternatif kebijakan melihat perlunya membuat perintah eksekutif, keputusan paradilan, dan tindakan legislatif. Adopsi kebijakan dilakukan dengan memperhitungkan alternatif kebijakan yang diadopsi dengan dukungan dari mayoritas legislatif, konsensus di antara direktur lembaga, atau keputusan peradilan. Implementasi kebijakan dimaknai dengan kebijakan yang telah diambil dilaksanakan oleh unit-unit administrasi yang memobilisasikan sumber daya finansial dan manusia. Penilaian kebijakan memiliki karakter yaitu unsur-unsur pemeriksaan dan akuntansi dalam pemerintah menentukan apakah badan-badan eksekutif, legislatif dan peradilan memenuhi persyarakat undang-undang dalam pembuatan kebijakan dan pencapaian tujuan.
Secara rinci kebijakan memiliki lima tahapan sebagai beirkut:
1. Penyusunan Agenda; Pada tahap awal pembuatan kebijakan, maka para pembuat kebijakan melakukan sejumlah perumusan masalah mengenai perlu atau tidaknya mengeluarkan kebijakan. Perumusan masalah tidak dilakukan serampangan, melainkan dengan terstruktur dan mendalam agar menemukan permasalahan yang masif ada dan berdampak baik dan tidaknya bagi individu dan kelompok sosial suatu negara.
2. Formulasi Kebijakan; Pembuatan kebijakan dalam pemerintahan termasuk aktivitas politik. Dalam konteks ini, aktivitas politik
dijelaskan sebagai proses pembuatan kebijakan yang divisualisasikan.
Aktivitas politik itu berisikan serangkaian tahap yang saling bergantung dan diatur menurut urutan waktu, penyusunan agenda, formulasi kebijakan, adopsi kebijakan, implementasi kebijakan dan penilaian kebijakan. Jadi, analisis kebijakan dapat menghasilkan informasi yang relevan dengan kebijakan pada suatu, beberapa atau seluruh tahap dari proses pembuatan kebijakan.
3. Adopsi Kebijakan; Kebijakan yang dibuat bisa mengadopsi kebijakan yang sudah ada di wilayah atau negara lain. Alternatif kebijakan yang diadopsi dengan dukungan dari mayoritas legislatif, konsensus di antara direktur lembaga, atau keputusan peradilan.
Tujuan rekomendasi kebijakan adalah memberi alternatif kebijakan yang paling unggul dibanding dengan alternatif kebijakan yang lain.
4. Implementasi Kebijakan; Implementasi kebijakan adalah cara yang dilaksanakan agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya.
Kebijakan yang telah direkomendasikan untuk dipilih oleh policy maker bukanlah jaminan bahwa kebijakan tersebut pasti berhasil dalam implementasinya. Ada banyak variabel yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan baik yang bersifat invidual maupun kelompok atau institusi.
Selain pembuat kebijakan merasa bahwa meskipun keputusan pelaksanaan terpusat penting, pelaksana kebijakan harus diberikan kesempatan untuk membuat keputusan. Pelaksana kebijakan merasa mereka memiliki kapasitas dan tahu bagaimana menerapkan kebijakan dan menyatakan perlunya bagi mereka untuk diberikan meningkat otoritas pengambilan keputusan untuk tujuan ini.
Faktor-faktor yang menyebabkan berhasil atau tidaknya suatu kebijakan antara lain kompleksitas kebijakan yang telah dirumuskan;
kejelasan rumusan masalah dan alternatif pemecahan masalah;
sumber-sumber potensial yang mendukung; keahlian pelaksanaan kebijakan; dukungan dari khalayak sasaran; dan efektivitas dan efisiensi birokrasi.
5. Evaluasi Kebijakan Pendidikan; Kebijakan yang telah dirumuskan dan dimplementasikan, perlu di evaluasi. Ruang lingkup evaluasi kebijakan meliputi evaluasi perumusan, implementasi, lingkungan dan evaluasi kinerja. Evaluasi perumusan formulasi kebijakan
berkenaan dengan yaitu:
1) Penggunaan pendekatan yang sesuai dengan masalah yang hendak diselesaikan,
2) Mengikuti prosedur yang diterima secara bersama, dan 3) Pendayagunaan sumberdaya yang optimal.
Teknik yang dipakai dalam evaluasi ini adalah model-model perumusan formulasi kebijakan seperti yang telah diuraikan di atas. Evaluasi implementasi kebijakan dimaksudkan untuk melihat kesesuaian antara jenis kebijakan yang harus diimplementasikan dan metode implementasi yang tepat. Untuk maksud tersebut maka evaluasi implementasi kebijakan dapat menggunakan panduan matriks ambiguitas-konflik.
Sebagai contoh, untuk konteks Indonesia, implementasi kebijakan kewargaan misalnya kartu penduduk dapat dilakukan dengan metode atau pendekatan administratif. Implementasi kebijakan biaya pendidikan dapat dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan politik. Kebijakan penanggulangan kemiskinan lebih tepat diimplementasikan metode eksperimen. Kebijakan gender lebih efektif diimplementasikan dengan metode simbolik.
Untuk menilai layak atau tidaknya suatu kebijakan, harus dilihat dari ukuran-ukurannya berikut:
a. Dari aspek formulasi kebijakan pendidikan:
1. filsafat pendidikan yang dipakai dasar penyelenggaraan pendidikan,
2. Teori dan ilmu yang dipakai rujukan untuk setiap komponen pendidikan (general theory, middle theory dan operasional theory), 3. Sistem nilai yang dijadikan dalam pengembangan asumsi-
asumsi yang melandasi praktik-praktik pendidikan.
b. Pada tatanan implementasi kebijakan ialah:
1. Prioritas permasalahan pada setiap aspek subtansi pendidikan, 2. Pendekatan, proses dan prosedur implementasi yang digunakan, 3. Peran-peran pelaku kebijakan dari policy maker, organizational
level, dan operasional level,
4. Setting lingkungan yang sangat memungkinkan berpengaruh terhadap keseluruhan aspek kebijakan, baik pada saat proses perumusan, implementasi maupun lingkungan itu sendiri.
3. Pada tatanan evaluasi kebijakan pendidikan berkenaan dengan norma, alat ukur dan prosedur yang digunakan. Terutama terhadap aspek:
1. Dampak terhadap efisiensi penggunaan sumber daya, 2. Kemanjuran terhadap pencapaian target and means,
3. Akuntabilitas para pelaku kebijakan pada semua tingkatan.
Untuk negara-negara berkembang, kebijakan publik sebaiknya tidak gagal dala perumusannnya atau pembuatan keputusannya, karena akan memperlemah kredibilitas pembuatan kebijakan, pemerintah yang berkuasa. Namun perumusan kebijakan tidak dapat dipisahkan dari implementasi kebijakan, oleh karenanya perumusan kebijakan di negara- negara berkembang dianggap gagal jika:10
a. Kebijakan berhasil dirumuskan, tetapi kebijakan tidak mampu untuk diimplementasikan. Hal ini dinamakan kegagalan manajemen, karena kebijakan kemudian undermanage atau tidak mampu di-manage.
b. Kebijakan berhasil dirumuskan, tetapi implementasinya mahal. Hal ini dinamakan kegagalan administratif.
c. Kebijakan berhasil dirumuskan dan implementasinya juga berhasil, tetapi hasilnya tidak seperti yang didesain. Kegagalan ini dinamakan kegagalan desain.
d. Kebijakan berhasil dirumuskan, diimplementasikan sama hasilnya seperti desain, tetapi tidak cocok dengan kearifan kebijakan dari hasil yang diharapkan. Kegagalan ini dinamakan kegagalan teori (Patton & Sawicki).
e. Kebijakan berhasil dirumuskan, tetapi implementasinya diambil alih oleh kepentingan politik lain dan/atau administrasi lain, oleh karenanya menciptakan hasil yang berbeda total. Kegagalan ini yang dinamakan kegagalan yang keluar rel.
Mendesain ulang dan membangun kembali proses kebijakan sekarang harus menjadi prioritas yang mendesak. Setidaknya lima prinsip dasar pengembangan kebijakan holistik atau kolaboratif, yaitu:11
10 Riant Nugroho, Kebijakan Publik di Negara-Negara Berkembang, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), hal. 251-252.
11 Don Lenihan, Rescuing Policy: The Case for Public Engagement, (Ottawa, Kanada: Public
a. Kebijakan yang baik adalah yang komprehensif: perencanaan dan kebijakan yang baik pembangunan di bidang kebijakan utama harus lengkap, dalam arti bahwa itu harus mengambil hubungan penting untuk bidang kebijakan lainnya.
b. Kemajuan nyata membutuhkan partisipasi masyarakat. Cita-cita masyarakat dan permasalahan membutuhkan usaha dan tindakan dari pihak pemangku kepentingan dan masyarakat itu juga.
c. Kebutuhan masyarakat memerlukan perencanaan jangka panjang.
Kebutuhan masyarakat seperti pembangunan berkelanjutan jangka panjang tujuan yang membutuhkan dialog yang berkelanjutan, tindakan dan penyesuaian. Tidak ada satu bagian dari undang-undang atau strategi untuk mewujudkannya tanpa perhatian pemerintah d. Setiap kelompok berbeda. Hal ini perlu diperhatikan oleh policy
maker dalam membuat kebijakan.
e. Masyarakat memiliki harapan yang baru. Terlihat bahwa harapan masyarakat sekitar transparansi dan akuntabilitas telah berubah.
D. Perumusan Masalah Kebijakan Pendidikan
Proses kebijakan dapat digambarkan sebagai suatu sistem yaitu ada input, proses dan output. Input proses kebijakan adalah isu kebijakan atau agenda pemerintah, sedangkan proses kebijakan berupa perumusan formulasi kebijakan dan implementasi kebijakan. Isu dan formulasi kebijakan merupakan proses politik yang dilakukan elit politik dan kelompok-kelompok penekan. Sementara output dari suatu proses kebijakan adalah kinerja kebijakan.
Prasyarat perumusan masalah kebijakan adalah “pengakuan atau dirasakannya keberadaan” suatu situasi masalah kebijakan. Perumusan masalah kebijakan dapat dipandang sebagai proses dengan 4 fase yang saling tergantung, yaitu:
1. Pencarian Masalah atau Problem Search
Masalah kebijakan harus dicari dari berbagai pelaku kebijakan. Biasanya, para analis akan menjumpai formulasiformulasi masalah yang saling
Policy Forum, 2012), p. 40-41.
terkait dan bersaing secara dinamis, yang terbentuk dari oleh situasi sosial, dan terdistribusi pada seluruh proses pembuatan kebijakan. Kondisi yang dihadapi oleh analis ini disebut dengan meta problem (kompleksitas masalah). Selanjutnya, analis harus menetapkan mana yang menjadi masalah substantif (masalah pokok yang menjadi pusat perhatian).
Contoh: krisis nasional (meta problem atau situasi problematik) sektor ekonomi dan moneter diikuti oleh krisis politik, telah menyebabkan terjadi krisis kesehatan masyarakat. Pilihan masalah substantif adalah bidang kesehatan, yang didukung oleh fakta menurunnya status kesehatan masyarakat secara drastis.
2. Pendefinisian Masalah atau Problem Definition
Meta masalah harus didefinisikan dengan jelas untuk mengetahui keterkaitan satu masalah dengan masalah lainnya, dan untuk mempermudah penemuan masalah substantif. Selanjutnya, masalah substantif harus didefinisikan secara mendasar dan umum. Contoh, apakah fenomena itu merupakan masalah kesehatan, jika ya, maka masalah tersebut harus dikonsepkan dan didefinisikan dengan jelas dan memperlakukannya dalam ketentuan faktor-faktor kesehatan.
Contoh: krisis ekonomi, moneter dan politik (meta problem) harus didefinisikan dengan jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Selanjutnya, krisis kesehatan (substantif) sebagai akibat dari meta problem, harus didefinisikan menurut ukuran kesehatan. Misalnya, menurunnya status kesehatan masyarakat ditandai oleh meningkatnya jumlah anak-anak dengan status gizi buruk sekian persen.
3. Spesifikasi Masalah atau Problem Specification
Jika masalah substantif sudah didefinisikan, maka masalah yang lebih rinci dan spesifik dapat dirumuskan; dan menghasilkan masalah formal.
Rumusan masalah formal ini yang akan menjadi pusat perhatian analis.
Contoh, Masalah formal bidang kesehatan sektor gizi pada situasi krisis nasional, yang meliputi sediaan bahan pangan, daya beli masyarakat, program pelayanan gizi di sarana pelayanan kesehatan.
4. Pengenalan Masalah atau Problem Sensing
Masalah formal harus disampaikan kepada para pelaku kebijakan, untuk mendapat umpan balik, yaitu apakah sesuatu itu sudah benar-benar menjadi masalah kebijakan. Jika para pelaku kebijakan menyatakan bahwa masalah formal tersebut benar-benar dapat menjadi masalah kebijakan;
maka seorang analis dapat melanjutkan tugasnya untuk melakukan analisis dengan benar, dalam rangka menghasilkan informasi dan argumen sebagai input pembuatan kebijakan publik sektor pendidikan.
E. Pembuat Kebijakan Pendidikan
Pendidikan merupakan urusan dan masalah publik. Artinya tidak hanya pemerintah sebagai pemegang kendali negara bertanggung jawab sehingga semua orang harus terlibat dalam memikirkan kemajuannya.
Namun, masyarakat sering ditingkatkan karena model pemerintahannya bersifat sentralistik. Ketika pemerintahan bersifat sentralistik, masyarakat didominasi oleh negara dan organ di bawahnya sehingga muncullah penyeragaman di sana-sini, termasuk pendidikan. Penerapan otonomi daerah mengubah kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi desentralistik. Artinya sistem pemerintahan yang mengharuskan semua keputusan harus didasarkan pada keputusan secara demokratis dengan melibatkan partisipasi masyarakat.
Pembuat kebijakan secara aktif terlibat baik dalam membuat kebijakan atau mempengaruhi kebijakan. Pembuat kebijakan adalah orang yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi atau menentukan kebijakan dan praktek pada tingkat internasional, nasional, regional atau lokal. Pembuatan kebijakan publik ditandai oleh besar mengatur aktor.
Pelaku dapat politisi, pegawai negeri sipil, pelobi, penasehat, auditor, dalam lain-lain. Mereka dapat merancang kebijakan, menyusun dan merumuskan kebijakan dan menilai atau menyetujui kebijakan.
Para pembuat kebijakan publik berdasarkan kewenangan dan kekuasaan yang diberikan negara disesuaikan dengan distribusi kekuasaan dan level kewenangan yang diemban baik legislatif, eskekutif dan yudikatif. Hal ini berlaku baik pada tingkat nasional/pusat sampai ke daerah. Untuk jelasnya lihat tabel di bawah ini:
Tingkatan, Pejabat dan Produk Kebijakan Tingkatan
Kebijakan Pejabat/Penyelenggara Produk Kebijakan
Nasional/Pusat
MPR, Presiden, DPR, BPK, MA, MK, KY, Menteri dan Pejabat Lainnya setingkat Menteri, dan Badan-badan atau komisi lainnya
UUD, TAP MPR, UU, Perppu, PP, Keppres, Inpres, Permen, Kepmen, Instruksi Menteri, dan lain-lain Daerah
(Provinsi)
Gubernur, DPRD, Dinas dan Badan Tingkat Provinsi
Perda, Keputusan Gubernur, dan lain- lain
Daerah (kabupaten/
Kota)
Bupati/Walikota, DPRD, Dinas dan Badan Tingkat Kabupaten/Kota
Perda, Keputusan Bupati/Walikota, dan lain-lain
Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa policy maker dapat berada pada setiap jenjang struktur pemerintah, mulai dari nasional/
pusat seperti MPR, Presiden, DPR, BPK, MA dan lain-lain, pada tingkat daerah seperti provinsi dalam dilakukan oleh Gubernur, DPRD dan lain sebagainya, dan pada tingkat kabupaten/kota seperti bupati/wali kota, DPRD dan lain lain.
A. Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah satu hak asasi manusia, kunci pembangunan berkelanjutan, dan perdamaian dan stabilitas dalam suatu negeri.
Pendidikan merupakan hak asasi manusia yang harus dipenuhi dan dilindungi negara. Pendidikan dan politik termasuk bidang kajian yang melibatkan banyak ilmu sosial. Kedua bidang ini saling membutuhkan dalam mewujudkan cita-cita masyarakat demokratis, adil, maju, sejahtera, dan cerdas. Dalam tataran penataan sistem pendidikan, ternyata kontribusi politik sangat signifikan dalam merumuskan undang-undang dan peraturan bidang pendidikan untuk memenuhi amanat kemerdekaan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dalam teori sistem sosial, politik dan pendidikan berada pada satu sistem yang saling berhubungan. Apalagi dari kiprahnya, para pendidik selalu memelihara politik karena proses pendidikan yang memberikan sumber nilai dan memberikan kontribusi terhadap politik. Pendidikan memberikan kontribusi signifikan terhadap politik, terutama stabilitas dan transformasi sistem politik.1 Hanya saja keadaan politik dan pendidikan tidak selalu demikian, justru pendidikan dijadikan alat/media berpolitik bagi penguasa atau pemiliki kewenangan. Pendidikan menjadikan alasan
1 John Thomas Thomson, Policy Making in American Education, (New Jersey: Englewood Cliff, 1976), hal. 1.
BAB 2
KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA PADA MASA
PENJAJAHAN
melaksanakan suatu kebijakan politik sesuai selera penguasa.
Politik pendidikan sudah dimulai sejak penjajah Belanda berada di Indonesia. Politik kolonial yang mendahulukan pendidikan anak- anak penjajah dan priyai Jawa, namun mengesampingkan pendidikan pribumi kebanyakan, termasuk pendidikan Islam. Sejarah membuktikan adanya dikotomi yang jelas antara pendidikan konsep penjajah dengan pendidikan konsep pribumi yang notabene sebagaian besar beragama Islam. Hingga masa kemerdekaan, penguasa Indonesia masih menganut gaya-gaya kebijakan Belanda terhadap pendidikan Islam.
B. Politik
Kata politik berasal dari kata politic (Inggris) yang menunjukkan sifat pribadi atau perbuatan. Kata asal tersebut berarti acting or judging wisely, well judged, prudent.2 Secara etimologi, Politic berasal dari kata Prancis abad pertengahan Politique, yang diambil dari kata Latin Politicus, atau dari kata Greek Politikos (Marriam-Webster’s Unabridged Dictionary). Dijelaskan bahwa political science adalah ilmu sosial yang berkenaan dengan deskripsi kekuasaan dan analisis politik, khususnya institusi pemerintahan yang memproses dan membuat penggunaan fakta dan metode dari ilmu sosial.
Politic kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan tiga arti, yaitu segala urusan dan tindakan (kebijaksanaan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan sesuatu negara atau terhadap negara lain, tipu muslihat atau kelicikan, dan juga digunakan sebagai nama sebuah disiplin pengetahuan, yaitu ilmu politik.3 Menurut Deliar Noer, politik adalah segala aktivitas atau sikap yang berhubungan dengan kekuasaan dan yang bermaksud untuk mempengaruhi, dengan jalan mengubah atau mempertahankan suatu macam bentuk susunan masyarakat.4 Secara sederhana politik kekuasaan adalah menentukan siapa memperoleh apa, di mana, dan kapan. Politik sebagai jenis khusus usaha seseorang dalam memperjuangan kekuasaan politik.5
2 A.S Hornbory A.P. Cowic, (ed) Oxford Advanced Leaner’s Distionary of Current English, (London: Oxford Universitry Press, 1974), hal. 645
3 W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1983), hal. 763.
4 Deliar Noer, Pengantar ke Pemikiran Politik, (Jakarta: Rajawali, 1983), hal. 6.
5 Anthony James Catanese, The Politics of Planning and Development, (London: Sage Publications, Beverly Hill, 1884, 1984), hal. 57.
C. Pendidikan dan Politik
Sementara Eston mendefinisikan politik dalam pendidikan sebagai kewenangan mengalokasikan nilai bagi masyarakat. Defenisi ini menunjukkan ada beberapa nilai yang berbeda dialokasikan dalam sekolah, yaitu:
1. Mobilitas Sosial. Sekolah memberikan hak krusial dan pengalaman pembelajaran yang memberikan lebih dari mobilitas social bagi pelajarnya daripada sekolah lainnya.
2. Norma. Sekolah memindahkan norma yang berkenaan dengan ras, seks, warga negara, kerja sama, usaha individu dan berbagai bidang lain.
3. Alokasi Bisnis. Sekolah adalah sesuatu yang bersifat bisnis besar, mengalokasikan uang atau dana jutaan bahkan milyaran rupiah setiap tahun. Dalam proses alokasi sumber daya ini melibakan banyak pilihan nilai.
Secara teoritis, pendidikan Islam sebagai disiplin ilmu merupakan konsepsi pendidikan yang mengandung berbagai teori yang dikembangkan dari hipotesis-hipotesis atau wawasan yang bersumber dari kitab suci Al-Qur’an atau hadits, baik dilihat dari segi sistem, proses dan produk yang diharapkan maupun dari segi tugas pokoknya untuk membudayakan umat manusia agar bahagia dan sejahtera. Sementara pendidikan umum menciptakan out put pendidikan untuk patut pada logika-logika modernisasi, misalnya penguasan ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan, efisiensi, rasionalitas dan sebagainya.
Dalam proses penguasaannya hal-hal yang bersifat transenden, moral maupun nilai (yang manjadi wilayah agama) senderung dinafikan. Suatu alasan mendasar, karena pendidikan yang sarat nilai diasumsikan tidak akan mampu mengembangkan suatu yang berguna bagi kebangunan paradaban modern.
D. Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam pada Masa Penjajahan Lembaga-lembaga pendidikan Islam yang berkembangan pada masa kolonial Belanda-Jepang adalah:
1. Pesantren
Pesantren sendiri menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri. Sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana yang terbuat dari bambu. Di samping itu kata “pondok”
mungkin juga berasal dari bahasa Arab funduq yang berarti hotel atau asrama.6 Pesantren adalah sebuah pondok pendidikan yang terdiri dari seorang guru pemimpin umumnya seorang Kyai dan kelompok murid yang berjumlah tiga sampai ratusan orang yang disebut santri. Secara tradiosional, sampai ketingkat tertentu, para santri tinggal dalam pondok yang menyerupai asrama biara, mereka mengurusi diri sendiri mulai dari memasak hingga mencuci pakaian sendiri.
Sejarah awal munculnya pesantren dalam kenyataan tidak diketahui pasti karena minimnya informasi yang merinci kapan lembaga tersebut pertama kali muncul. Dalam berbagai babak walaupun pesantren dijelaskan seperti dalam cerita centini, namun kurang akurat sebagai sumber karena tidak menyebutkan pesantren secara langsung. Lembaga pendidikan di sana yang terdapat hanya dinamakan paguron atau padepokan.
Beberapa pakar justru melihat pesantren sebagai hasil adopsi dari sistem pendidikan kuttab yang berkembang dalam tradisi Islam klasik, mulai dari Dinasti Umayyah hingga selanjutnya di mana model pendidikan kutab yang terdapat dalam tradisi Islam Indonesia kemudian dipopulerkan dengan nama ”Pondok Pesantren” yaitu lembaga pendidikan Islam didalamnya terdapat seorang kyai yang mengajar dan mendidik para santri melalui sarana mesjid digunakan sebagai tempat penyelenggara pendidikan tersebut.dilengkapi pula dengan fasilitas pemondokan bagi para santri yang kebanyakan berasal dari luar dari daerah. Ciri utama pesantren adalah:
a. Adanya kyai sebagai pengajar.
b. Adanya sebagai pelajar.
c. Adanya mesjid sebagai sarana untuk pelajar.
d. Adanya tempat pemondokan santri.7
6 Zamaksyari Dofier, Tradisi Pesantren, (Jakarta: LP3ES, 1983), hal. 18.
7 Kareel. A. Stenbrink, Pesantren, Madrasah dan Sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, (Jakarta: LP3ES 1986), hal. 152.
2. Masjid
Masjid fungsi utamanya adalah sebagai tempat sholat yang lima waktu ditambah dengan sekali seminggu dilaksanakan sholat Jum’at dan dua kali setahun dilaksanakan sholat Idul Fitri dan Idul Adha. Selain dari pada masjid ada juga tempat ibadah yang disebut langgar, bentuknya lebih kecil dari masjid dan digunakan hanya untum sholat lima waktu, bukan untuk tempat sholat Jum’at. Selain dari fungsi utama masjid dan langgar juga difungsikan juga untuk tempat pendidikan. Ditempatkan dilakukan pendidikan buat orang dewasa maupun anak-anak. Pengajian–pengajian yang dilakukan untuk orang dewasa adalah penyampaian-penyampaian ajaran-ajaran oleh mubaligh (al-ustadz, guru, kiai) kepada para jamaah dalam bidang yang berkenaan dengan akidah, ibadah dan akhlak.8 3. Meunasah
Secara etimologi meunasah berasal dari perkataan madrasah, tempat belajar atau sekolah. Bagi masyarakat aceh meunasah tidak hanya semata- mata tempat belajar, bagi mereka meunasah memiliki multifungsi, meunasah di samping tempat belajar, juga berfungsi sebagai tempat ibadah (sholat), tempat pertemuan, musyawarah, pusat informasi, tempat tidur dan tempat menginap bagi musafir.9
4. Surau
Christine Dobbon memberikan pengertian bahwa surau adalah rumah yang didiami para pemuda setelah akil baligh, terpisah dari rumah keluarganya yang menjadi tempat tinggal wanita dan anak-anak.10 Perkataan surau menyebar luar di Indonesia dan Malaysia, yang dalam kehidupan keseharian adalah suatu bangunan kecil yang penggunaan utamanya untuk shalat berjamaah bagi masyarakat sekitar. Di Sumatera Barat, surau tidak hanya mempunyai fungsi pendidikan dan ibadah, tetapi
8 Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuan dan Pembaharuan Islam di Indosia, (Jakarta:
Kencana, 2007), hal. 20-21.
9 Ibid., hal. 23.
10 Cristine Dobbin, Kebangkitan Islam dalam Ekonomi Petani yang Sedang Berubah, Terj. Lilian D. Tedjasudana, (Jakarta: INIS, 1992), hal. 142.
hanya juga mempunya fungsi budaya. Surau diperkiran telah ada sebelum Islam datang ke Sumatera Barat. Hanya berfungsi sebagai aplikasi dari budaya mereka. Surau dalam sistem adat budaya masyarakat kepunyaan kaum, suku. Selanjutnya setelah Islam masuk, maka dilaksanakan proses Islamisasi dalam segala aspek, termasuk lembaga-lembaga budaya. Hal yang serupa juga diberlakukan terhadap pesantren.11
Surau menurut istilah Melayu,12 arti kata surau sangat luas penggunaanya di Asia tenggara. karena banyak digunakan di daerah Minangkabau, Sumatra Selatan, semenanjung Malaysia, Sumatera Tengah, dan Pattani (Thailand Selatan). Surau tersebut merupakan kebudayaan perdesaan yang perkembangannya lebih akhir dan dapat ditemukan di daerah urban. Surau dalam perkembangannya setelah datang Islam, mengalami perubahaan yang mendasar tanpa perubahan nama seperti surau Hindu-Budha, yang berada di puncak bukit cepat hilang di bawah pengaruh Islam.
Perkembangan istilah surau setelah masuknya Islam mengacu pada
“Masjid kecil”13yang biasanya digunakan untuk shalat Jum’at. Perbedaan penggunaan surau dan mesjid cukup kabur, contohnya di Malaysia khususnya kegiatan surau adalah pusat ritual keagamaan di pedesaan dan pusat kegiatan keagamaan lainya termasuk pendidikan keagamaan di Malaysia ada dua istilah surau kecil umumnya tempat pengajian Al- Qur’an dan pendidikan agama dasar, dan surau besar sama fungsinya di Indonesia seperti mesjid dan tempat pendidikan agama yang arti sebenarnya.
Fungsi sama dengan langgar di Jawa sama kedudukanya seperti surau di daerah Minangkabau sama dengan pesantren di daerah Jawa atau pondok di Malaysia. Dengan demikian surau dalam arti sebenarnya adalah pusat pengajaran Islam Tinggi bagi pelajaran tingkat lanjutan.
Surau dalam sejarah Minangkabau14 di mana sejarah pendidikan Islam di Minangkabau mulai tahun 1900 M yang mengalami perubahan semenjak pertempuran paderi. Tetapi pada sebelumnya kita melihat pendidikan Islam sebelum tahun 1900 M. Menurut pendapat setengah
11 Haidar Putra Daulay, Op. Cit., hal. 26.
12 Omar Amir Husin, Kultur Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1981), hal. 59.
13 Zamaksyari Dofier, Op. Cit., hal.18.
14 Tadjab, Perbandingan Pendidikan, (Surabaya: Karya Abditama, 1994), hal. 77.
para ahli bahwa agama Islam masuk ke Minangkabau kira kira tahun 1250 M. Maka tentulah waktu itu mulai sejarah pendidikan agama Islam.
Selain itu menurut para ahli berdirinya sejarah kerajaan Islam berdiri di Minangkabau pada tahun 1500 M atau 1650 M, bahwa sesungguhnya kerajaan Melayu Islamlah yang baru berdiri. Pada kenyataanya Islam telah masuk ke daerah Minangkabau sebelum tahun 1500 M.
E. Kebijakan Politik Penjajah Belanda Terhadap Umat Islam Indonesia
Dua Dasawarsa terakhir abad ke-19 dan dua dasawarsa pertama abad ke-20 dikenal sebagai puncak abad imperialisme, yang merupakan masa keemasan bagi bangsa-bangsa yang bernafsu membentuk kekaisaran.
Pada masa itu, Inggris, Perancis, dan lain-lainnya merajalela di Afrika dan Asia, mengancam negara-negara merdeka untuk dijadikan propinsi Eropa. Sedangkan Belanda sudah memulai politik ekspansinya jauh sebelum itu. Di Indonesia, Belanda menghadapi kenyataan bahwa sebagian besar penduduk yang dijajahnya di Kepulauan Nusantara ini adalah beragama Islam. Timbulnya aneka perlawanan seperti perang Paderi (1821-1827), perang Diponegoro (1825-1830), perang Aceh (1873-1903) dan lain-lainnya, betapapun tidak terlepas dari kaitan ajaran agama ini. Namun karena kurangnya pengetahuan yang tepat mengenai Islam, mula-mula Belanda tidak berani mencampuri agama ini secara langsung. Sikap Belanda dalam masalah ini “dibentuk oleh kombinasi kontradiktif antara rasa takut dan harapan yang berlebihan.”
Kebijakan politik pemerintah Hindia Belanda tentang Islam, tidaklah mungkin lepas dari situasi kondisi pada masa itu. Pemerintah Hindia Belanda dan umat Islam di Indonesia, masing-masing mempunyai kepentingan yang berbeda. Di satu pihak, pemerintah Hindia Belanda dengan segala daya berusaha memperkuat dan mempertahankan kekuasaannya, sementara di pihak lain umat Islam Indonesia berdaya upaya pula untuk melepaskan diri dari cengkeraman kekuasaannya, setiap pemerintah kolonial selalu berusaha memahami hal ihwal penduduk pribumi yang dikuasainya, sehingga kebijakannya mengenai pribumi (Inlandsch Politiek) sangat besar artinya dalam menjamin kelestarian
kekuasaan tersebut.15
Kebijakan pemerintah Hindia Belanda dalam menangani masalah Islam, sering disebut dengan istilah Islam Politiek, di mana Prof. Snouck Horgronje dipandang sebagai peletak dasarnya. Sebelum itu, kebijakan pemerintah Hindia Belanda terhadap Islam hanya berdasarkan rasa takut dan tidak mau ikut campur, karena Belanda belum banyak menguasai masalah Islam.
Di satu pihak, Belanda sangat khawatir akan timbulnya pemberontakan orang-orang Islam fanatik. Sementara di pihak lain Belanda sangat optimis bahwa keberhasilan kristenisasi akan segera menyelesaikan semua persoalan. Dalam hal ini Islam sangat ditakuti, karena dianggap mirip dengan Katolik. Hubungan antara umat Islam di kepulauan ini –terutama pada ulamanya- dengan Khalifah Turki, semula dianggap sama dengan hubungan antara umat Katolik dengan Paus di Roma. Tetapi pada waktu itu pemerintah Hindia Belanda belum berani mencampuri masalah Islam, dan belum mempunyai Kebijakan yang jelas mengenai masalah ini. Di samping karena belum memiliki pengetahuan mengenai Islam dan bahasa Arab, pada waktu itu pemerintah Belanda juga belum mengetahui sistem sosial Islam. Keenganan mencampuri masalah Islam ini, tercermin dalam undang-undang Hindia Belanda,16 sehingga pada tahun 1865 pemerintah Belanda tidak sudi memberi bantuan bagi pembangunan masjid, kecuali kalau ada alasan istimewa.
Kepentingan pemerintah kolonial dalam hal ini terbatas pada usaha memelihara agar penduduk tidak terpaksa memberikan uang, baik untuk pembangunan maupun perbaikan masjid.17
Tetapi kebijakan untuk tidak mencampuri urusan agama ini nampak tidak konsisten, karena tidak adanya garis yang jelas. Dalam masalah haji misalnya, ternyata pemerintah kolonial tidak bisa menahan diri untuk tidak campur turun tangan; justru para haji sering dicurigai, dianggap
15 Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 1985), hal. 1.
16 Ayat 119 RR: “Setiap warga negara bebas menganut pendapat agamanya, tidak kehilangan perlindungan masyarakat dan anggotanya atas pelanggaran peraturan umum hukum agama.”
17 Di sini terlihat bahwa karena enggan membantu masjid, maka digunakan ketentuan:
tidak boleh mencampuri masalah agama; sedangkan dalam masalah haji ketentuan tersebut dikesampingkan justru karena alasan ketertiban keamanan.
fanatik dan tukang memberontak.18 Pada tahun 1959, Gubernur Jenderal dibenarkan mencampuri masalah agama bahkan harus mengawasi setiap gerak-gerik para ulama, bila dipandang perlu demi kepentingan ketertiban keamanan.19 Di sini terlihat bahwa kebijakan tidak mencampuri urusan agama hanyalah bersifat sementara, karena belum dikuasainya masalah Islam sepenuhnya. Kebijakan ini pun masih harus tunduk kepada kepentingan rust en orde.
Setelah kedatangan Shouck Hurgronje pada tahun 1889, barulah pemerintah Hindia Belanda mempunyai Kebijakan yang jelas mengenai masalah Islam, di mana ia melawan ketakutan Belanda selama ini terhadap Islam. Ditegaskannya bahwa dalam Islam tidak dikenal lapisan kependetaan semacam dalam Kristen. Kyai tidak apriori fanatik. Penghulu merupakan bawahan pemerintah pribumi, dan bukan atasannya. Ulama independen bukanlah komplotan jahat, sebab mereka hanya menginginkan ibadah. Pergi haji ke Mekah pun bukan berarti fanatik berjiwa pemberontak.
Sebagai kolonialis, pemerintah Belanda memerlukan inlandsch politiek, yakni Kebijakan mengenai pribumi.20 Agaknya dengan menampilkan politik Islamnya, Snouck Hurgronje berhasil menemukan seni memahami dan menguasai penduduk yang sebagian besar muslim itu.
Dialah “arsitek keberhasilan politik Islam yang paling legendaris,” yang telah melengkapi pengetahuan Belanda tentang Islam, terutama bidang sosial dan politik, di samping berhasil meneliti mentalitas ketimuran dan Islam.
Sekalipun Snouck Hurgronje menegaskan bahwa pada hakekatnya orang Islam di Indonesia itu penuh damai, namun dia pun tidak buta terhadap kemampuan politik fanatisme Islam. Bagi Snouck Hurgronje, musuh
18 Hal ini terlihat jelas pada aneka peraturan tentang haji yang dikeluarkan antara tahun 1825 – 1859, yang bertujuan untuk membatasi dan mempersulit ibadah haji ke Mekah.
(Ibid).
19 Keputusan Raja tanggal 4 Februari 1859 no. 78 memberikan instruksi rahasia kepada Gubernur Jenderal. Ayat 78 berbunyi: “Gubernur Jenderal yang memegang prinsip bahwa pemerintah tidak boleh mencampuri urusan agama, boleh mencampurinya bila dipandang perlu untuk memelihara ketenangan dan ketertiban umum.”
20 Penulis terkenal Perancis Joseph Chailley, dosen perbandingan sistem kolonial, pernah menyatakan bahwa aktivitas kolonial harus berdasarkan politik pribumi, yaitu seni memahami dan menguasai penduduk pribumi. Lihat: ADA de Kat Angelino, Colonial Policy I, (The Hague, 1931), hal. 3.
kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama, melainkan Islam sebagai doktrin politik. Ia tidak menutup mata terhadap kenyataan bahwa Islam sering kali menimbulkan bahaya terhadap kekuasaan Belanda. Walaupun Islam di Indonesia banyak bercampur dengan kepercayaan animisme dan Hindu, namun ia tahu bahwa orang Islam di negeri ini pada waktu itu memandang agamanya sebagai alat pengikat kuat yang membedakan dirinya dari orang lain. Dalam kenyataannya memang Islam di Indonesia berfungsi sebagai titik pusat identitas yang melambangkan perlawanan terhadap pemerintah Kristen dan asing.
Menghadapi medan seperti itu, Snouck Hurgrunje membedakan Islam dalam arti “Ibadah” dengan Islam sebagai “kekuatan sosial politik”.
Dalam hal ini dia membagi masalah Islam atas tiga kategori, yakni: 1.
Bidang agama murni atau ibadah; 2. Bidang sosial kemasyarakatan; dan 3. Bidang politik; di mana masing-masing bidang menuntut alternatif pemecahan yang berbeda. Resep inilah yang kemudian dikenal dengan Islam Politiek, atau Kebijakan pemerintah kolonial dalam menangani masalah Islam di Indonesia.
Prinsip politik Islam Snouck Hurgronje dibidang kemasyarakatan adalah menggalakkan pribumi agar menyesuaikan diri dengan kebudayaan Belanda. Prinsip ini sebenarnya tidak lepas dari kaitan upaya merebut kemenangan dalam persaingannya dengan Islam, demi kelestarian penjajahannya. Oleh karena itu, mereka menerapkan politik asosiasi dan pemanfaatan adat. Politik asosiasi ini bertujuan untuk mempererat ikatan antara negeri jajahan dengan Negara penjajahnya melalui kebudayaan, di mana lapangan pendidikan menjadi garapan utama. Dengan adanya asosiasi21 ini maka Indonesia bisa memanfaatkan kebudayaan Belanda tanpa mengabaikan kebudayaannya sendiri.
Sasaran akhir politik asosiasi adalah memperkuat kedudukan pemerintah kolonial, oleh karena itu kehadiran Islam diperhitungkan sebagai factor penghalang. Dimata pemerintah kolonial, Islam sering
21 Gagasan Snouck Hurgronje mengenai politik asosiasinya meyakini bahwa pendidikan Barat yang diberikan kepada rakyat jajahan akan mengalahkan Islam. Karena, menurut pandangannya, lapisan pribumi yang berkebudayaan lebih tinggi akan relatif jauh dari pengaruh Islam, sedangkan pengaruh yang akan mereka miliki akan lebih mempermudah mempertemukannya dengan pemerintahan Eropa. Pendidikan Barat, dalam analisanya, merupakan sarana yang paling meyakinkan untuk mengurangi dan akhirnya menaklukkan pengaruh Islam di Indonesia. Lihat, Husnul Aqib Suminto, Op. Cit., hal. 43.
dinilai sebagai “negara dalam negara” (staat in den staat) yang harus dihadapi, karena agama ini juga mengatur dimensi horizontal hubungan antar manusia. Snouck Hurgonje sendiri telah memperhitungkan bahwa Islam Indonesia akan mengalami kekalahan melalui asosiasi pemeluk agama ini dalam kebudayaan Belanda. Snouck Hurgonje selama di Hindia Belanda telah berjuang untuk menwujudkan ide tersebut. Ia menerima beberapa putra dari kaum ningrat dan pegawai sipil yang berkedudukan tinggi untuk tinggal di rumahnya, menjadi murid The Batavian Grammar School.22
Mengenai pendidikan bangsa Indonesia, Belanda merasa berkewajiban moral untuk mengajar para bangsawan, dan menjadikannya sebagai partner dalam kehidupan budaya dan sosial. Partner semacam ini diharapkan akan menutup jurang pemisah antara pemerintah dan rakyat. Snouck Horgronje mendambakan kesatuan antara Indonesia dan Belanda dalam suatu ikatan Belanda Raya.
F. Kebijakan Politik Kolonial Belanda Terhadap Pendidikan Islam
1. Asosiasi Pendidikan
Ada tiga fase dalam perkembangan pendidikan di Hindia Belanda pada abad ke-20. Sampai tahun 1915, pendidikan Barat dianggap sangat penting bagi pribumi; kemudian timbul suatu reaksi yang menghendaki agar pendidikan bagi pribumi tidak melepaskan mereka dari kebudayaan aslinya. Selanjutnya timbul fase pengurangan pendidikan Barat yang menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar, sejalan dengan keinginan mengadakan penghematan dalam bidang pendidikan.23
22 Karel A. Steenbrink, Kawan dalam Pertikaian Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1942). Penj. Suryan A. Jamrah. (Jakarta. Mizan. 1995), hal. 122.
23 Perkembangan pendidikan pada abad ke-20: 1900-1915: Percaya akan arti nilai pendidikan Barat bagi pribumi. Walaupun ada sekolah desa yang didirikan oleh Van Heutz, pendidikan Barat sangat menarik perhatian. 1915-1927: Timbul reaksi yang menghendaki pendidikan yang lebih cocok bagi pribumi, agar mereka tidak terlepas dari kebudayaan aslinya; meskipun pada masa Direktur Pendidikan dan Agama Creutzberg masih terdapat optimisme bahwa pendidikan Barat akan segera tersebar. 1927-1942:
Yakni sejak berdirinya panitia Pendidikan Belanda Indonesia oleh G.J. de Graeff tahun 1927. Panitia ini bekerja sampai tahun 1930, diketuai oleh Dr. B.J.O. Schrieke.
Seiring dengan merosotnya ekonomi, maka pada awal tahun tiga puluhan pemerintah Belanda bermaksud meninjau kembali Kebijakan pendidikannya untuk membatasinya, atas dasar pertimbangan sosio- ekonomi. Dalam kongres pendidikan yang diselenggarakan oleh Budi Utomo pada tanggal 31 Desember 1930 di Solo, gagasan pemerintah untuk meninjau kembali pendidikan ini ditolak secara aklamasi. Pada penglihatan mereka, peninjauan ini berlatar belakang faktor ekonomis dan politis. Dikatakan ekonomis karena pendidikan Barat memberikan kemungkinan bagi pribumi untuk menyaingi Eropa; dan dikatakan politis karena umumnya masyarakat Eropa mendukung pendidikan Barat bagi pribumi, bila pendidikan tersebut menolong kepentingan mereka.
Ternyata usaha penghematan tersebut tidak dapat ditunda, berhubung situasi ekonomi keuangan pemerintah kolonial waktu itu.
Agaknya yang ditolak pihak pribumi adalah gagasan untuk membatasi pendidikannya, bukan semata-mata difat Baratnya pendidikan tersebut.
Hal ini terlihat pada banyaknya sekolah-sekolah swasta yang mereka dirikan, yang di mata pemerintah kolonial kemudian disebut sebagai
“sekolah liar”. Besarnya minat mereka untuk menyelenggarakan Barat ini bisa dimaksudkan, sebab aneka jabatan di lingkungan pemerintah kolonial justru menghendaki pendidikan Barat. Di samping itu, pendidikan Barat juga memungkinkan seseorang untuk memperluas pergaulannya dengan Belanda sebagai kelas penguasa.
Memang mereka tidak menolak sifat Baratnya pendidikan semata, tapi yang mereka inginkan adalah tertanamnya jiwa Indonesia pada pendidikan tersebut. Hal ini terlihat jelasa pada aneka usaha pendidikan Muhammadiyah, berupa pendidikan Barat yang disesuaikan dengan kebutuhan Islam dan Indonesia.24 Organisasi ini bahkan pada tahun 1937 mendirikan MULO pribumi di Yogyakarta, suatu sekolah menengah pertama dengan sistem pendidikan sebagai MULO biasa tapi menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar. Jiwa Indonesia ini
Pemerintah mengakui secara terbuka bahwa karena kekurangan biaya dan tenaga guru, maka pendidikan harus dibatasi.
24 Sekitar tahun 1939 Muhammadiyah memiliki 1744 sekolah. Sekitar separuh dari padanya merupakan sekolah model pemerintah, dan separuh lainnya model madrasah. Model pertama pada umumnya dinilai baik oleh pemerintah kolonial, dan diberi subsidi olehnya. Meskipun model ini sejalan dengan sekolah sekuler pemerintah, namun tidak terlepas dari jiwa al-Qur’an.
pula agaknya yang melatarbelakangi sikap keras Taman Siswa,25 dalam menolak sistem pendidikan resmi dan menolak subsidi pemerintah kolonial. Organisasi ini tidak menginginkan tujuan pendidikan hanya sekedar menyiapkan calon pegawai pemerintahan kolonial, sementara itu merenggut mereka dari kecintaan terhadap bahasa dan kebudayaannya sendiri.
Pada tahun 1914, atas inisiatif Dr. Hazeu sekolah pribumi kelas satu dikembangkan menjadi HIS tujuh tahun, dengan menggunakan bahasa Belanda sebagi pengantar. Hal ini kemudian dinilai sebagai kebelanda- belandaan, karena sejak tahun 1848 telah ditetapkan bahwa bahasa daerah harus menjadi bahasa pengantar bagi sekolah pribumi. Sampai- sampai pada tahun tiga puluhan timbul keinginan yang disuarakan oleh Van der Plas, agar sistem pendidikan lebih menekankan kepentingan pribumi. Pada tahun 1934, C.C. Berg juga menganjurkan agar kebudayaan Indonesia memperoleh perlindungan.26 Namun betapapun arah pendidikan ini tetap tidak berubah, dan HIS pun tetap menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar, sampai akhir masa penjajahan Belanda.
Sejalan dengan pola pendidikan Snouck Hurgronje yang memimpikan pengubahan bangsawan tradisional pribumi menjadi elit berpendidikan barat, maka sekolah HIS semula hanya diperuntukkan bagi keluarga bangsawan pribumi.27 Agaknya pemerintah kolonial sedikit sekali berbuat bagi pendidikan rakyat biasa, sehingga 93 persen dari 60 juta rakyat Indonesia pada akhir tahun 1930 masih dalam keadaan buat huruf. Pada waktu itu hanya sekitar 200 orang Indonesia yang lulus dari sekolah menengah atas per tahun. Pada tahun 1940 hanya 40 persen anak
25 Taman Siswa adalah perguruan swasta nasional yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Perguruan ini menentang sistem pendidikan kolonial, yang dinilainya hanya mengutamakan mendidik pegawai. Dalam kongres pertamanya bulan Agustus 1930, Taman Siswa telah memiliki 58 cabang di seluruh Indonesia, yang seluruhnya didukung swadaya masyarakat.
26 Pada tahun itu, C.C. Berg memberikan prasaran tentang pengaruh kebudayaan Barat dan tugasnya di Indonesia, dalam suatu diskusi yang diselenggarakan oleh Indisch Genootschap. Ketika ditanya pendapatnya tentang penambahan pelajaran al-Qur’an bagi sekolah desa, dia menyetujuinya dengan alasan agar pribumi tidak terlepas dari kebudayaannya.
27 Ternyata kemudian mereka yang menyekolahkan anaknya ke HIS hanya 28 persen yang berpenghasilan di atas f.100, - per bulan.
usia enam sampai delapan tahun yang telah memperoleh pendidikan dasar.
Keengganan pemerintah kolonial Belanda dalam memajukan pendidikan rakyat Indonesia ini bisa dimaklumi, karena masih mendambakan kelestarian penjajahannya. Pemerintah kolonial menyadari, bahwa, “pendidikan akan merupakan dinamit bagi sistem pemerintahan kolonial yang berlaku.” Kebijakannya dalam bidang pendidikan, tidak terlepas dari pola politik kolonialnya. Alasan penyelenggaraan pendidikan pengajaran, lebih ditekankan pada kepentingan pemerintah kolonial daripada kepentingan rakyat jajahannya sendiri, sebagaimana terlihat jelas dalam Kebijakannya yang menyangkut agama mayoritas pribumi, dalam ordonansi guru maupun dalam ordonansi sekolah liar.
2. Kebijakan Pendidikan dan Islam
Kelestarian penjajahan, betapapun merupakan impian politik pemerintah kolonial, sejalan dengan pola ini, maka Kebijakan di bidang pendidikan menempatkan Islam sebagai saingan yang harus dihadapi. Pendidikan barat diformulasikan sebagai faktor yang akan menghancurkan kekuatan Islam di Indonesia. Pada akhir abad ke-19 Snouck Hurgronje telah begitu optimis bahwa Islam tidak akan sanggup bersaing dengan pendidikan Barat.28 Agama ini dinilai sebagai beku dan penghalang kemajuan, sehingga harus diimbangi dengan meningkatkan taraf kemajuan pribumi.29
Agaknya ramalan tersebut belum memperhitungkan faktor kemampuan Islam untuk mempertahankan diri di negeri ini, juga belum memperhitungkan faktor kesanggupan Islam menyerap kekuatan dari luar untuk meningkatkan diri. Memang cukup alasan agaknya untuk merasa optimis. Kondisi obyektif pendidikan Islam pada waktu itu
28 Tapi dalam kenyataannya, penetrasi Belanda keluar Jawa segera diikuti oleh kedatangan para mahasiswa dari Al-Azhar di Mesir, dan modernisasi Islam menjalar bagaikan api liar.
29 R.A. Kern pernah menyatakan bahwa Islam tidak pernah mengenal usaha ke arah kemajuan, justru beku. Harus diperingatkan bahwa peraturan agama Islam merupakan rintangan paling besar. Pribumi pada dasarnya mengenal dorongan kepada kemajuan, walaupun mereka beragama Islam. ”Jadi dalam memerangi Islam, kita harus berusaha membawa pribumi ke tingkat lebih tinggi”.