• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN

1.5 Ruang Lingkup

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan, maka ruang lingkup dalam penelitian ini yaitu persepsi pemustaka terhadap online public access catalogue (OPAC) berdasarkan Analisi PIECES yang terdiri

dari enam aspek diantaranya: perpormance, information, economic, control, efesiency, dan service. Aspek yang pertama, Peformance (kinerja

sistem), Analisis ini dilakukan untuk mengetahui kinerja sebuah sistem apakah berjalan dengan baik atau tidak, yang ke dua Economy, Analisis ini dilakukan untuk mengetahui apakah suatu sistem itu tepat diterapkan pada suatu lembaga informasi dilihat dari segi financial dan biaya yang dikeluarkan, aspek yang ke tiga Control, Dalam suatu sistem perlu diadakan sebuah kontrol atau pengawasan agar sistem itu berjalan dengan baik, aspek ke empat Efficiency, Ekfektifitas sebuah sistem perlu dipertanyakan dalam kinerja dan alasan mengapa sistem itu dibuat. Sebuah

permasalahan khususnya dalam hal otomasi, aspek selanjutnya Service, Dalam hal pemanfaat suatu sistem, sebuah pelayanan masih menjadi suatu hal yang penting dan perlu dierhatikan. Suatu sistem yang diterapkan akan berjalan dengan baik dan seimbang bila diimbangi dengan pelayanan yang baik juga.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi

2.1.1 Pengertian Persepsi

Menurut Slameto (2010, 102) persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi kedalam otak manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini dilakukan lewat indrannya, yaitu indera pengelihatan, pendengaran, peraba, perasa, dan pencium. Robbins (2003,97) yang mendeskripsikan bahwa persepsi merupakan kesan yang diperoleh oleh individu melalui panca indera kemudian dievaluasi, sehinggan individu tersebut memperoleh makna. Ruch (1967, 300) persepsi adalah suatu proses tentang petunjuk-petunjukinderawi(sensory) dan pengalaman masa lampau yang relevan diorganisasikan untukmemberikan kepada kita gambaran yang terstruktur dan bermakna pada suatu situasi tertentu.Senada dengan hal tersebut Atkinson dan Hilgard (1991, 201) mengemukakan bahwa persepsia dalah proses dimana kita menafsirkan dan mengorganisasikan pola stimulus dalam lingkungan. Gibson dan Donely (1994, 53) menjelaskan bahwa persepsi adalah proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seresponden individu.

Berdasarkan uraian tersebut bisa dikatakan persepsi adalah tanggapan seresponden atau sekelompok responden terhadap sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya. Persepsi seresponden atau kelompok responden dapat bersifat positif, netral dan negatif. Persepsi yang bersifat positif apabila objek tersebut ditanggapi

secara tidak baik, dan persepsi yang bersifat netral apabila objek tersebut tidak memihak kepada salah satu pihak.

2.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

Pengamatan (orang yang memiliki persepsi). Penginterpretasian dari apa yang seseorang lihat bergantung pada karakteristik pribadi orang tersebut. Antara lain, Sikap atau attitude seseorang mempengaruhi persepsi yang dibentuknya akan hal-hal disekitarnya.

Menurud Kretch et.al. Crutchfield (1977)

a. Faktor Fungsional, adalah faktor yang berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal yang termasuk apa yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal.

b. Faktor Stuktural, adalah faktor yang berasal semata-mata dari sifat. Stimulasi fisik efek-efek saraf yang ditimbulkan pada sistem saraf individu.

Menurut Toha (2003, 154), faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang adalah sebagai berikut :

a. Faktor internal: perasaan, sikap dan kepribadian individu, prasangka, keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar, keadaan fisik, gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat, dan motivasi.

b. Faktor eksternal: latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh, pengetahuan dan kebutuhan sekitar, intensitas, ukuran, keberlawanan, pengulangan gerak, hal-hal baru dan familiar atau ketidak asingan suatu objek.

Menurut Walgito (2004, 70) faktor-faktor yang berperan dalam persepsi dapat dikemukakan beberapa faktor, yaitu:

a. Objek yang dipersepsi

Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor.

Stimulus dapat datang dari luar individu yang mempersepsi, tetapi juga dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan yang langsung mengenai syaraf penerima yang bekerja sebagai reseptor.

b. Alat indera, syaraf dan susunan syaraf

Alat indera atau reseptor merupakan alat untuk menerima stimulus, disamping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf, yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Sebagai alat untuk mengadakan respon diperlukan motoris yang dapat membentuk persepsi seseorang.

c. Perhatian

Untuk menyadari atau dalam mengadakan persepsi diperlukan adanya perhatian, yaitu merupakan langkah utama sebagai suatu persiapan dalam rangka mengadakan persepsi. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada sesuatu sekumpulan objek.

Faktor-faktor tersebut menjadikan persepsi individu berbeda satu sama lain dan akan berpengaruh pada individu dalam mempersepsi suatu objek, stimulus, meskipun objek tersebut benar-benar sama. Persepsi seseorang atau

situasinya sama. Perbedaan persepsi dapat ditelusuri pada adanya perbedaan-perbedaan individu, perbedaan-perbedaan-perbedaan-perbedaan dalam kepribadian, perbedaan-perbedaan dalam sikap atau perbedaan dalam motivasi. Pada dasarnya proses terbentuknya persepsi ini terjadi dalam diri seseorang, namun persepsi juga dipengaruhi oleh pengalaman, proses belajar, dan pengetahuannya.

2.1.3 Syarat Terjadinya Persepsi

Menurut Sunaryo (2004, 98) syarat-syarat terjadinya persepsi adalah sebagai berikut:

a. Adanya objek yang dipersepsi

b. Adanya perhatian yang merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan persepsi.

c. Adanya alat indera/reseptor yaitu alat untuk menerima stimulus Saraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus ke otak, yang kemudian sebagai alat untuk mengadakan respon.

2.1.4. Proses Persepsi

Menurut Toha (2003, 145), proses terbentuknya persepsi didasari pada beberapa tahapan, yaitu:

a. Stimulus atau Rangsangan

Terjadinya persepsi diawali ketika seseorang dihadapkan pada suatu stimulus/rangsangan yang hadir dari lingkungannya.

b. Registrasi

Dalam proses registrasi, suatu gejala yang nampak adalah mekanisme fisik yang berupa penginderaan dan syarat seseorang berpengaruh melalui alat

indera yang dimilikinya. Seseorang dapat mendengarkan atau melihat informasi yang terkirim kepadanya, kemudian mendaftar semua informasi yang terkirim kepadanya tersebut.

c. Interpretasi

Interpretasi merupakan suatu aspek kognitif dari persepsi yang sangat penting yaitu proses memberikan arti kepada stimulus yang diterimanya. Proses interpretasi tersebut bergantung pada cara pendalaman, motivasi,dan kepribadian seseorang.

2.2 Sistem Informasi Perpustakaan Berbasis Web

Istilah Sistem Informasi didefinisikan Oetomo (2002, 11) sebagai kumpulan elemen yang saling berhubungan satu sama lain yang membentuk satu kesatuan untuk mengintegrasikan data, memproses dan menyimpan serta mendistribusikan informasi. Definisi ini menggambarkan adanya interaksi diantara elemen yang sistematis dan teratur untuk menciptakan dan membentuk aliran informasi yang mendukung pembuatan keputusan dan melakukan kontrol terhadap jalannya perusahaan (perpustakaan). Sistem Informasi Perpustakaan (SIPERPUS) merupakan perangkat lunak yang didesain khusus untuk mempermudah pendataan koleksi perpustakaan, katalog, data anggota/peminjam, transaksi dan sirkulasi koleksi perpustakaan. Keseluruhannya bekerja secara sistematis sehingga dapat memperbaiki administrasi dan operasional perpustakaan serta dapat menghasilkan bentuk-bentuk laporan yang efektif dan berguna bagi manajemen perpustakaan (Lutfian.Sofware, 2009, 1). Di dalam sistem

perpustakaan terdapat modul-modul yang terintegrasi dari sistem yang satu ke sistem yang lain. Adapun modul-modul yang dapat terintegrasi yaitu:

1. Modul Pengadaan

Pengadaan merupakan kegiatan pokok dari perpustakaan atau puast dokumentasi karena kegiatan ini mengusahakan buku-buku yang dibutuhkan ada dalam koleksi. Modul pengadaan ini berfungsi untuk membuat daftar usulan buku dan daftar pengadaan buku.

2. Modul Pengatalogan

Katalog adalah daftar barang yang berada pada suatu tempat, sedangkan katalog perpustakaan adalah daftar bahan pustaka yang ada dalam perpustakaan. Berdasarkan tujuannya adalah untuk memudahkan para anggota perpustakaan untuk mengetahui koleksi perpustakaan dengan cepat. Adapun fungsi modul pengatalogan adalah untuk mengelola data koleksi buku maupun koleksi berkala.

3. Modul keanggotaan

Keanggotaan perpustakaan sagat perlu untuk mempermudah pengguna dalam meminjam koleksi perpustakaan. Untuk pengurusan keanggotaan setiap perpustakaan memiliki kebijakan sendiri. Modul keanggotaan berfungsi untuk mengelola data anggota seperti penambahan, pengeditan dan penghapusan data anggota.

4. Modul sirkulasi dalam kalimat yang sederhana adalah proses edar suatu benda. Jika koleksi yang dimaksud adalah buku maka arti sirkulasi adalah

proses peredaran buku dengan berbagai jenis kegiatan transaksi antara pengguna dengan petugas perpustakaan.

5. OPAC otomasi perpustakaan akan memudahkan pustakawan dalam menelusuri informasi khususnya katalog melalui OPAC. Pustakawan dapat menelusur suatu judul buku secara bersamaan. Disamping itu, mereka juga dapat menelusur buku dari berbagai pendekatan. Misalnya melalui judul, kata kunci, pengarang, kata kunci pengarang, subyek, kata kunci subyek dan sebagainya. Sedangkan apabila menggunakan katalog manual, pustakawan hanya dapat akses melalui tiga pendekatan yaitu judul, pengarang, dan subyek.

2.3 Online Public Access Catalog (OPAC)

2.3.1 Pengertian Online Public Access Catalog(OPAC)

Pengorganisasian koleksi di perpustakaan akan berhubungan langsung dengan alat bantu penelusur koleksi. Alat penelusuran koleksi yang sudah lazim digunakan di perpustakaan adalah katalog perpustakaan, baik dalam bentuk buku atau dalam bentuk kartu maupun dalam bentuk database elektronik (katalog online). Katalog perpustakaan adalah suatu daftar yang sistematis dari buku atau

bahan-bahan lain dalam suatu perpustakaan dengan informasi deskriptif mengenai pengarang, judul buku, tahun terbit, bentuk fisik, ciri khas bahan, dan tempatnya (Gates, 2001).

OPAC merupakan sarana sistem temu balik yang berbasis komputer. Pada saat sekarang ini Katalog Akses Umum Talian (KAUT) atau yang lebih dikenal dengan Online Public Access Catalog (OPAC) sudah sangat berkembang pada

perpustakaan perguruan tinggi. OPAC lebih banyak diminati dalam penelusuran informasi oleh pengguna perpustakaan.

2.3.2 Fungsi OPAC

Fungsi dari OPAC sebagai sarana temu balik informasi. Selain sebagai alat bantu penelusuran, OPAC dapat juga digunakan sebagai sarana untuk memeriksa status suatu bahan pustaka serta fitur lain di dalam OPAC seperti menu untuk kritik dan saran, menu absensi pengunjung untuk statistik pengunjung, menu tanya jawab (user interface), menu pengumuman, dan juga menu untuk menampilkan koleksi bahan pustaka terbaru. Melalui OPAC, pengguna dapat mengetahui lokasi atau tempat penyimpanan bahan pustaka/koleksi tersebut berada. Oleh karena itu, OPAC merupakan sistem temu balik informasi yang merupakan bagian dari sistem automasi perpustakaan (Resthiningsih, 2012).

2.3.3 Tujuan OPAC

OPAC merupakan sebuah database yang terdiri dari catatan bibliografi dengan menggambarkan buku-buku dan bahan-bahan lain yang dimiliki oleh sistem perpustakaan atau perpustakaan, diakses melalui terminal umum atau workstation biasanya terkonsentrasi di dekat meja referensi untuk memudahkan

bagi pengguna dalam meminta bantuan dari pustakawan referensi. Katalog online kebanyakan ditelusur melalui pengarang, judul, subjek, kata kunci dan memungkinkan pengguna untuk mencetak, mendownload, atau ekspor catatan ke account e-mail. Adapun Tujuan OPAC adalah sebagai berikut:

a. Pengguna dapat mengakses secara langsung ke dalam pangkalan data yang dimiliki perpustakaan.

b. Mengurangi beban biaya dan waktu yang diperlukan dan harus dikeluarkan oleh pengguna dalam mencari informasi.

c. Mengurangi beban pekerjaan dalam pengelolaan pangkalan data sehingga dapat meningkatkan efisiensi tenaga kerja.

d. Mempercepat pencarian informasi.

e. Dapat melayani kebutuhan informasi masyarakat dalam jangkauan luas.

Eka Kusmayadi (2006, 53)

Melalui OPAC, pemustaka dimungkinkan juga dapat mengetahui lokasi atau tempat penyimpanannya. Melalui OPAC pengguna dapat melakukan proses temu balik informasi dengan cara memasukkan pertanyaan atau permintaan (query) pada OPAC dengan menggunakan titik akses (access point) bisa melalui

pengarang, judul, subjek, maupun kata kunci. Melakukan penelusuran informasi biasanya menggunakan suatu terminal yang telah tersambung ke komputer.

Disamping itu OPAC menawarkan akses secara online ke koleksi perpustakaan melalui terminal komputer. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dimensi untuk mengukur tingkat kepuasan pemustaka pada layanan OPAC (Online Access Public Catalogue) seperti yang dikembangkan oleh (Islam, 2011, 143) meliputi:

a. Kejelasan istilah, meliputi kata atau istilah yang digunakan, kemudian bahasa pada tampilan OPAC apakah mudah dipahami, sehingga pemustaka mengerti petunjuk yang disediakan.

b. Desain layar, meliputi : penggunaan warna, latar belakang, ukuran huruf, judul, dan tata letak teks.

Menurut (Wiradani, 2013, 622) syarat dalam suatu desain layar yang baik, yaitu:

a. Memiliki tampilan layar yang menarik b. Isi dari layar yang mudah untuk dipahami c. Halaman pada layar yang tidak terlalu panjang d. Isi dari layar memberikan manfaat bagi pemustaka

e. Tidak mengadung unsur SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar-Golongan) a. Navigasi, membahas bagaimana membimbing pemakai OPAC (Online Access

Public Catalogue) berpindah-pindah dari informasi yang satu ke yang lain

tanpa kehilangan orientasi dan penataan ikon di laman OPAC yang tepat.

b. Pembelajaran, proses dari aktifitas dan interaksi edukatif antara pemustaka dengan OPAC (Online Access Public Catalogue) yang didasari oleh adanya tujuan, baik berupa pengetahuan mengenai katalog online salah satunya dengan cara bagaimana pemustaka mengoperasiakan OPAC.

c. Performa umum OPAC

1. Penelusuran OPAC sangat hebat dan mengagumkan, artinya dengan menggunakan OPAC pemustaka mendapatakan hasil temuan yang akurat dan jelas.

2. Penelusuran menggunakan OPAC sangat mengesankan, dengan sekali mengetikkan kata kunci pemustaka sudah mendapatkan hasil yang diinginkan.

3. OPAC itu mudah untuk digunakan oleh pemustaka, dalam mengoperasikan computer tidak perlu belajar terlalu lama untuk dapat memahami penggunaan OPAC.

4. OPAC sangat bermanfaat bagi pemustaka, selain dapat menghemat waktu juga dapat dengan mudah mencari temuan yang relevan.

5. OPAC merupakan sebuah program yang ramah pengguna, keseluruhan komponen OPAC mudah digunakan dan nyaman apabila digunakan pemustaka.

6. Sangat memuaskan apabila pemustaka menggunakan OPAC dibanding penelusuran menggunakan katalog manual. Menggunakan OPAC dalam penelusuran informasi lebih efektif, dibanding dengan menggunkana katalog manual penelusuran dengan OPAC lebih menghemat waktu.

7. Tampilan OPAC sangat menarik, sehingga pemustaka tidak merasa bosan jika menggunakan OPAC, karena tampilannya yang bagus.

8. OPAC yang baik harus fleksibel artinya dapat digunakan dan dibuka lewat komputer lain selain yang disediakan di perpustakaan.

2.3.4 User (Pemustaka)

Pemustaka merupakan hal yang paling utama dalam sistem temu balik informasi Tujuan dari database dalam suatu sistem yaitu memberikan kebutuhan informasi kepada pengguna. Pada dasarnya pengguna membutuhkan data, informasi, atau pengetahuan. Dalam memenuhi kebutuhan informasi, penggun dapat mengekspresikan kebutuhan informasinya dengan menggunakan bantuan

pustakawan dan sarana penelusuran seperti OPAC yang akan membantu pengguna untuk memenuhi kebutuhannya.

Untuk mendapatkan informasi yang relevan maka pemustaka harus merumuskan secara rinci informasi apa yang diperlukan. Pemustaka (user) juga merupakan mekanisme komunikasi antara pengguna dengan sistem. Meadow (1992 : 17) antarmuka pemakai (User Interface) dapat menerima informasi dari pemustaka dan memberikan informasi kepada pemustaka untuk membantu mengarahkan alur penelusuran masalah sampai ditemukan suatu solusi. user interface, berfungsi untuk menginputkan pengetahuan baru ke dalam basis

pengetahuan sistem pakar (ES), menampilkan penjelasan sistem dan memberikan panduan pemakaian sistem secara menyeluruh step by step sehingga user mengerti apa yang akan dilakukan terhadap suatu sistem. Yang terpenting dalam membangun user interface adalah kemudahan dalam memakai/ menjalankan sistem, interaktif, komunikatif, sedangkan kesulitan dalam mengembangkan/

membangun suatu program jangan terlalu diperlihatkan. Pemustaka juga mereka yang melakukan penelusuran atau pencarian informasi pada sistem informasi (end user).

Selain itu, mereka yang mengoperasikan sistem bukan untuk keperluan pencarian/penelusuran informasi juga disebut pemustaka sistem (operator system, administrator system dan sebagainya). Dilihat dari sisi kemampuannya, pengguna sistem dapat dikategorikan sebagai pengguna pemula (novice) dan pengguna terampil (expert).

Novice adalah pemula / pemustaka tahap awal merupakan pengguna yang

kemampuannya menggunakan STBI masih dalam kategori pemula, belum menguasai teknik-teknik sistem penelusuran informasi, belum mengenal karakteristik database yang diakses secara lengkap. Pengguna pemula ini masih membutuhkan bantuan dari pustakawan atau penelusur lainnya, artinya dirinya masih belum dapat mandiri dalam melakukan penelusuran.

2.3.5 Jenis Penelusuran OPAC

Menurut Hasugian (2004, 6) mengemukakan ada beberapa jenis penelusuran yang dapat dilakukan melalui OPAC, yaitu :

1. Penelurusan dengan browsing (browse searching). Penelurusan dengan teknik browse, yaitu menelusuri dengan memeriksa satu persatu cantuman dari

dokumen yang ada, proses ini memang akurat, akan tetapi membutuhkan waktu yang lama sehingga kurang efisien untuk dilakukan.

2. Penelusuran kata kunci (keyword searching). Penelurusan dengan menggunakan kata kunci (keyword) tertentu sebagai query. Kata kunci bisa beruba istilah/kata yang dirumuskan secara bebas atau kata/istilah baku/standar.

3. Penelusuran terbatas (limited searching). Penelusuran dengan melakukan pembatasan kepada ruas data tertentu, pembatasan database tertentu, pembatasan tahun, tertentu, pembatasan bahasa, negara, dan sebagainya.

Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami bahwa, terdapat tiga tiga jenis penelusuran yang dapat dilakukan pada OPAC.

Dalam menganalisa suatu sistem terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan dan lihat yaitu dari aspek kinerja, ekonomi, keamanan, efisiensi dan pelayanan. Dalam hal ini analisa yang digunakan adalah analisa PIECES ( Performance, Information, Economic, Control, Eficiency, Service ), analisis

PIECES digunakan untuk mengetahui permasalahan – permasalahan yang ada untuk digunakan sebagai bahan refrensi dan kontrol untuk perubahan sistem itu sendiri. Teknik analisa ini digunakan oleh J.L Whitten, L.D Bentley, dan K.C Dittman dalam buku yang berjudul “System Analysis and Method, 2004” (buku ini terdiri dari berbagai edisi) untuk membuat sebuah system yang dibuat secara prototyping dengan melakukan analisa terlebih dahulu untuk mengetahui permasalahan dan kebutuhan untuk membuat system itu sendiri. Sebuah sistem perlu ditemukan permasalahan yang ada agar suatu sistem dapat berjalan dengan baik dan bisa mencapai tujuan yang diharapkan. Adapun beberapa aspek yang dapat dilihat dari analisa ini adalah sebagai berikut :

1. Peformance (kinerja sistem), Analisis ini dilakukan untuk mengetahui kinerja sebuah sistem, apakah berjalan dengan baik atau tidak. Kinerja ini dapat diukur dari jumlah temuan data yang dihasilkan dan seberapa cepat suatu data dapat ditemukan.

2. Information, Dalam sebuah temuan data pasti akan dihasilkan sebuah informasi yang akan ditampilkan, analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa banyak dan seberapa jelas informasi yang akan dihasilkan untuk satu pencarian.

3. Economy, Analisis ini dilakukan untuk mengetahui apakah suatu sistem itu tepat diterapkan pada suatu lembaga informasi dilihat dari segi financial dan biaya yang dikeluarkan. Hal ini sangat penting karena suatu sistem juga dipengaruhi oleh besarnya biaya yang dikeluarkan.

4. Control, Dalam suatu sistem perlu diadakan sebuah kontrol atau pengawasan agar sistem itu berjalan dengan baik. Analisa ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana ngawasan dan kontrol yang dilakukan agar sistem tersebut berjalan dengan baik.

5. Efficiency, Ekfektifitas sebuah sistem perlu dipertanyakan dalam kinerja dan alasan mengapa sistem itu dibuat. Sebuah sistem harus bisa secara efisien menjawab dan membantu suatu permasalahan khususnya dalam hal otomasi. Analisa ini dilakukan untuk mengetahui apakah suatu sistem itu efisien atau tidak, dengan input yang sedikit bisa menghasilkan sebuah output yang memuaskan.

6. Service, Dalam hal pemanfaat suatu sistem, sebuah pelayanan masih menjadi suatu hal yang penting dan perlu dierhatikan. Suatu sistem yang diterapkan akan berjalan dengan baik dan seimbang bila diimbangi dengan pelayanan yang baik juga. Analisis ini digunakan untuk mengetahui bagaimana pelayanan yang dilakukan dan mengetahui permasalahan–

permasalahan yang ada terkait tentang pelayananan.

Dalam penelitian terdahulu oleh Ragil Bayu Respati. “Persepsi Pengguna Terhdap Kinerja Online public Access Catalogue (OPAC) Badan Perpustakaan

OPAC Badan Perpustakaan dan Kearsipan Propinsi Jawa Timur Dengan Menggunakan Analisis PIECES) Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif, dengan para pengunjung Mengambil populasi adalah Perpustakaan Perpustakaan dan Arsip Jawa Timur pada khususnya, Kunjungan perpustakaan minimal 3 kali dalam rentang waktu satu bulan. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan 100 responden. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keseluruhan kinerja sistem dari 6 aspek potongan analisis yang dimiliki oleh, dimulainya kinerja, Informasi, Ekonomi, Kontrol, Efisiensi, dan Pelayanan. Output yang diharapkan adalah permasalahan dan solusi untuk perbaikan sistem yang sedang dipelajari. Berdasarkan hasil penelitian yang ada mencatat bahwa semua aspek analisis potongan mendapatkan hasil yang baik, itu hanya aspek pelayanan dan kontrol yang masih mengalami masalah dan kendala.

2.5 Penelitian Terdahulu

Eka Kusmayadi dan Etty Andriaty .2006. “Kajian Online Public Access Catalogue (OPAC) Dalam Pelayanan Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi

Pertanian”. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil pengkajian menunjukkan, jumlah pengguna OPAC dari kalangan peneliti lebih rendah dibandingkan mahasiswa. OPAC sangat membantu pengguna mempercepat dan mempermudah menemukan literatur yang diperlukan. Subjek tanaman pangan menempati peringkat permintaan tertinggi. Pengguna merasa nyaman menggunakan fasilitas OPAC di Pustaka dan tampilan aplikasi di monitor cukup

menarik dan jelas. Selain itu, pengguna menyatakan puas menggunakan OPAC di Pustaka.

Dian Safitriyaningsih.2015. “Kepuasan Pemustaka Pada Layanan OPAC (Online Public Access Catalogue) di Perpustakaan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung Semarang”. Universitas Diponegoro. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif frekuensi. Hasil penelitian berdasarkan dari 5 dimensi layanan OPAC disimpulkan bahwa urutan skor dari yang paling tinggi adalah: kejelasan istilah (skor 4,73 / puas), performa umum OPAC (skor 4,65 / puas), desain layar (skor 4,54 / puas), navigasi (skor 4,53 / puas), dan pembelajaran (skor 4,36 / netral). Sehingga, didapat nilai rata-rata kepuasan secara keseluruhan adalah 4,46, yang menujukkan bahwa pemustaka

“Puas” (rentang skor 4,44-5,29) dengan layanan OPAC Perpustakaan FK Unissula. kemudian hasil pengujian hipotesis menggunakan tes mannwhitney dan kruskal-wallis menunjukkan tidak ada perbedaan tingkat kepuasan pengguna pada layanan OPAC dilihat dari perbedaan jenis kelamin, angkatan, pengalaman menggunakan komputer, frekuensi penggunaan internet dan frekuensi penggunaan OPAC.

Martina Monisa .2008.”Persepsi Kemudahan dan Kegunaan OPAC Perpustakaan UNAIR (Study Deskriptif Menilai Persepsi Kemudahan dan Persepsi Kegunaan OPAC oleh Pengguna di Perpustakaan Universitas Airlangga)”. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerimaan pengguna

Martina Monisa .2008.”Persepsi Kemudahan dan Kegunaan OPAC Perpustakaan UNAIR (Study Deskriptif Menilai Persepsi Kemudahan dan Persepsi Kegunaan OPAC oleh Pengguna di Perpustakaan Universitas Airlangga)”. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerimaan pengguna