• Tidak ada hasil yang ditemukan

M-171 2.Berpikir Kreatif Matematik

Dalam dokumen 1 makalah pendidikan matematika (Halaman 171-175)

Tabel 4

Rangkuman Uji Anova Dua Jalur

Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematik Berdasarkan Faktor Pendekatan Pembelajaran dan TKAS

SUMBER JK dk RJK Fhit Sig

Pendekatan Pembelajaran

(A) 1,051 1 1,051 149,246 0,000

TKAS (B) 0,079 2 0,039 5,573 0,006

AxB 0,030 2 0,018 2,624 0,081

Inter 0,402 57 0,007

(Diambil dari output SPSS. 17)

a) Pendekatan Pembelajaran

H0 : e=k

HA : ek

Kriteria pengujian : Jika sig > 0,05 maka H0 diter

Dari Tabel 4 diperoleh nilai sig = 0,000; atau dengan kata lain sig < 0,05. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan berpikir kreatif matematik siswa yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran kooperatif TTW dengan yang pembelajarannya menggunakan cara konvensional pada taraf signifikansi 5%.

b) TKAS

H0 : t' s'  k'

HA : Paling tidak terdapat satu TKAS yang berbeda secara signifikan dengan TKAS lainnya

Kriteria pengujian : Jika sig > 0,05 maka H0 diterima

Dari Tabel 4 diperoleh nilai sig = 0,006; atau dengan kata lain sig < 0,05; hal tersebut dapat disimpulkan bahwa paling tidak terdapat satu kelompok siswa dengan TKAS tertentu yang kemampuan berpikir kreatif matematik siswanya berbeda secara signifikan dengan TKAS lainnya pada taraf signifikansi 5%. Untuk mengetahui TKAS mana yang berbeda secara signifikan dilakukan uji scheffe. Hasil perhitungannya disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5

Uji Scheffe Skor Rerata Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematik Berdasarkan TKAS

TKAS (I) TKAS(J) Sig H0

Tinggi Sedang 0,000 Ditolak

Sedang Kurang 0,359 Diterima

Tinggi Kurang 0,024 Ditolak

(Diambil dari output SPSS.17)

Dari Tabel 5 disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan berpikir kreatif matematik siswa pada TKAS tinggi dan kurang dibandingkan siswa dengan TKAS sedang pada taraf signifikansi 5%. Dalam hal ini kemampuan berpikir kreatif matematik siswa dengan TKAS tinggi dan kurang lebih baik daripada siswa dengan TKAS sedang. Implikasinya Kemampuan berpikir kreatif matematik siswa pada TKAS tinggi dan kurang lebih berkembang dari TKAS sedang.

M-172

c) Efek Interaksi antara Pendekatan Pembelajaran dan TKAS

H0: Tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan peringkat sekolah HA: Paling tidak ada satu selisih yang berbeda secara signifikan dari yang lainnya.

Dari Tabel 4 diperoleh nilai sig = 0,081 lebih besar dari 0,05; hal tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat efek interaksi yang signifikan antara pendekatan pembelajaran (TTW dan KONV) dengan TKAS dalam menghasilkan kemampuan berpikir kreatif matematik siswa pada taraf signifikansi 5%.

3. Asosiasi antara Kualifikasi Berpikir Kritis dan Kreatif Matematik

Untuk melihat ada tidaknya asosiasi antara kualifikasi kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematik siswa digunakan asosiasi kontingensi. Sebelumnya pada masing-masing variabel dibuat kriteria penggolongan kualifikasinya. Untuk kemampuan berpikir kritis matematik dengan skor maksimum idealnya (SMI) 60 maka penggolongannya adalah:

Skor > 42 : Baik 36

skor

42 : Sedang Skor < 36 : Kurang

Sedangkan untuk kemampuan berpikir kreatif matematik dengan skor maksimum ideal (SMI) 40 maka penggolongannya adalah:

Skor > 28 : Baik 24

skor

28 : Sedang Skor < 24 : Kurang

Hasil penggolongan tersebut disajikan dalam Tabel 6

Tabel 6

Banyaknya Siswa Berdasarkan Kualitas Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Matematik Siswa

KEMAMPUAN BERPIKIR

KRITIS MATEMATIK

JUMLAH Baik Sedang Kurang

KREATIF MATEMATIK Baik 13 10 2 25 Sedang 1 11 8 20 Kurang 1 6 11 18 JUMLAH 15 27 21 63

(Diambil dari output SPSS.17)

Berdasarkan data pada Tabel 6 di atas, terlihat bahwa frekuensi siswa yang termasuk ke dalam kategori kemampuan kurang dalam berpikir kritis dan termasuk kategori tinggi dalam berpikir kreatif lebih banyak dibandingkan dengan frekuensi siswa yang termasuk kategori kurang dalam kemampuan kreatif dan termasuk tinggi dalam kemampuan berpikir kritis. Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis matematik lebih sulit dibandingkan dengan kemampuan berpikir kreatif matematik.

Untuk mengetahui apakah terdapat asosiasi antara kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematik, dilakukan uji koefisien kontingensi dengan hasil pengujiannya disajikan dalam Tabel 7.

M-173

Tabel. 7

Hasil Uji Koefisien Kontingensi

Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Matematik Siswa

Value Approx. Sig. Nominal by Nominal Contingency Coefficient .527 .000 Ordinal by Ordinal Gamma .729 .000 Spearman Correlation .566 .000c Interval by Interval Pearson's R .560 .000c N of Valid Cases 63

(Diambil dari output SPSS.17) Rumusan hipotesisnya sebagai berikut :

H0: Tidak terdapat asosiasi antara kualitas kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematik siswa HA: Terdapat asosiasi antara kualitas kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematik siswa

Kriteria pengujian: jika sig > 0,05 maka terima H0

Dari hasil perhitungan yang diperoleh pada Tabel 7 diperoleh nilai sig = 0,000, sehingga sig < 0,05 dengan kata lain H0 ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat asosiasi yang signifikan

antara kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematik siswa pada taraf signifikansi 5% dengan ukuran asosiasi termasuk ke dalam kriteria cukup kuat.

KESIMPULAN

Berdasarkan analisis data diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Peningkatan kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematik siswa yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran kooperatif Think-Talk-Write (TTW) lebih baik daripada yang pembelajarannya menggunakan cara konvensional (KONV) berdasarkan kemampuan siswa tinggi, sedang, dan kurang. Peningkatan kemampuan berpikir kritis matematik siswa yang memperoleh pembelajaran TTW dan KONV dari semua aspek kemampuan tinggi, sedang, dan kurang berada dalam kualifikasi sedang. Sedangkan untuk kemampuan berpikir kreatif matematik siswa yang memperoleh pembelajaran TTW dan KONV pada aspek kemampuan tinggi dan sedang berada dalam kualifikasi tinggi, sedangkan pada aspek kemampuan kurang, berada dalam kualifikasi sedang.

2. Tidak terdapat efek interaksi antara pendekatan pembelajaran dan TKAS dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematik siswa. Berarti secara bersamaan faktor pendekatan pembelajaran dan TKAS tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematik siswa pada taraf signifikansi 5%.

3. Faktor Pendekatan Pembelajaran memiliki peran yang lebih besar dalam pencapaian kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematik siswa dibanding faktor TKAS.

4. Terdapat asosiasi yang signifikan antara kemampuan berpikir kritis matematik dengan kemampuan berpikir kreatif matematik pada taraf signifikansi 5%. Asosiasinya termasuk kategori cukup kuat. Hal ini menunjukkan bahwa: (1) Siswa yang kemampuan berpikir kritisnya baik, kemampuan berpikir kreatifnya cenderung baik; (2) Siswa yang kemampuan berpikir kritisnya

M-174

sedang, kemampuan berpikir kreatifnya cenderung baik dan sedang. Namun untuk siswa yang kemampuan kreatifnya sedang, kemampuan berpikir kritisnya cenderung sedang dan kurang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis lebih sukar bagi siswa daripada berpikir kreatif.

DAFTAR PUSTAKA

Ansari, B. I. (2003). Menumbuhkembangkan Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Matematik

Siswa Sekolah Menengah Umum (SMU) melalui Strategi Think Talk Write. Disertasi Sekolah

Pasca Sarjana UPI. Bandung : Tidak diterbitkan.

Harsanto, R. (2005). Melatih Anak Berpikir Analitis, Kritis, dan Kreatif. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Hassoubah, Z. I. (2004). Develoving Creative & Critical Thinking Skills (Cara Berpikir Kreatif dan

Kritis). Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia.

Hendriana, H. (2009). Pembelajaran Dengan Pendekatan Metaphorical Thinking Untuk Meningkatkan

Kemampuan Pemahaman Matematik, Komunikasi Matematik Dan Kepercayaan Diri Siswa Sekolah Menengah Pertama. Disertasi Sekolah Pasca Sarjana UPI. Bandung : Tidak diterbitkan.

Johnson, E. (2006). Contextual Teaching and Learning. Bandung : MLC.

Marzuki, A. (2006). Implementasi Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Dalam Upaya

Meningkatkan Kemampuan Koneksi dan Pemecahan Masalah Matematik Siswa. Tesis pada PPS

UPI. Bandung : Tidak diterbitkan.

Mulyana, T. (2008). Pembelajaran Analitik Sintetik untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis

dan Kreatif Matematik Siswa Sekolah Menengah Atas. Disertasi pada PPS UPI. Bandung : Tidak

diterbitkan.

Nurlaelah, E. (2009). Pencapaian Daya dan Kreativitas Matematik Mahasiswa Calon Guru Melalui

Pembelajaran Berdasarkan Teori APOS. Disertasi pada SPS UPI. Bandung : Tidak diterbitkan.

Rif’at, M. (2001). Pengaruh Pola-Pola Pembelajaran Visual dalam Rangka Meningkatkan

Kemampuan Menyelesaikan Masalah-Masalah Matematika. Disertasi PPS UPI. Bandung :

Tidak diterbitkan.

Rohaeti, E. E. (2008). Pembelajaran Dengan Pendekatan Eksplorasi Untuk Mengembangkan

Kemampuan Berpikir Kritis Dan Kreatif Matematik Siswa Sekolah Menengah Pertama.

Disertasi Sekolah Pasca Sarjana UPI. Bandung : Tidak Diterbitkan.

Ruseffendi, E. T. (2005). Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non-Eksakta Lainnya. Bandung : Tarsito

Sukmadinata, N.S (2004). Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi. Bandung: Yayasan Kesuma Karya.

Sumarmo,U. (2002). Alternatif Pembelajaran Matematika dalam Menerapkan Kurikulum Berbasis

Kompetensi. Makalah disajikan pada Seminar Nasional FPMIPA UPI: Tidak diterbitkan.

M-175

Dalam dokumen 1 makalah pendidikan matematika (Halaman 171-175)