The SEA’s program (2004) menyebutkan bahwa gejala mahasiswa yang memiliki self-
efficacy rendah, tampak kurang percaya diri, meragukan kemampuan akademisnya, tidak berusaha
mencapai nilai tinggi di bidang akademik antara lain: (1) meragukan kemampuannya (self-doubt); (2) malu dan menghindari tugas-tugas sulit; (3) kurang memiliki aspirasi, komitmennya rendah dalam mencapai tujuan; (4) menghindar, melihat tugas-tugas sebagai rintangan, dan merasa rugi menyelesaikannya; (5) usaha kurang optimal dan cepat menganggap sulit; (6) lambat memperbaiki
self-efficacy apabila mengalami kegagalan; (7) merasa tidak memiliki cukup kemampuan dan
bersikap defensif serta tidak belajar dari banyak kegagalan yang dialaminya; (8) mudah menyerah, malas, stres, dan depresi; (9) meragukan kemampuan ini mendorong mereka percaya pada hal-hal
M-80
yang tidak rasional dan yang tidak mendasar pada kenyataan; (10) cenderung takut, tidak aman dan manipulatif; (11) cepat menyerah, merasa tidak akan pernah berhasil; dan (12) meyakini seakan-akan segalanya "telah gagal''. Pikiran tidak rasional ini berkembang menjadi pikiran negatif
(self–scripts) yang terus dipelihara oleh orang yang rendah diri.
Mereka yang memiliki rasa keberhasilan lebih tinggi tentang kemampuan mengatur dengan efektif, dan kemampuan menangani gangguan lingkungan ini diperkirakan akan memiliki kemungkinan sukses yang lebih tinggi.Beberapa reaksi psikologis menyarankan bahwa sekolah harus mengajarkan dan mencipta self-efficacy yang “menjamin” atau merubah pada prestasi akademik. Investigasi yang dilakukan oleh Schunk (dalam Zimmerman, 1994)memperlihatkan bahwa tiga indikasi prestasi akademik berkaitan dengan rasa keberhasilan mahasiswa. Ketiga hal tersebut meliputi keterampilan kognitif dasar, perfomansi pada kerja akademik, dan tes prestasi yang distandarkan. Keyakinan efikasi terbukti mempengaruhi semua tiga bentuk performansi akademik tersebut.
Kecemasan berbicara di depan umum merupakan salah satu ketakutan terbesar yang dialami oleh manusia. Kecemasan ini menghasilkan pengaruh yang negatif terhadap berbagai aspek kehidupan, salah satunya aspek akademis. Hal tersebut diungkapkan oleh Indi (2009) dalam penelitiannya yang menunjukkan terdapat hubungan negatif antara self-efficacydengan kecemasan berbicara di depan umum. Maksdunya semakin tinggi self-efficacymahasiswa maka akan semakin rendah tingat kecemasannya berbicara di depan umum, dan sebaliknya semakin rendah self-
efficacymahasiswa maka tingkat kecemasan berbicara di depan umum akan semakin tinggi.
Pada umumnya, selama ini pembelajaran matematika lebih difokuskan pada aspek perhitungan yang bersifat algoritmik. Sehingga tidak sedikit banyak siswa atau mahasiswa yang pada umumnya dapat melakukan berbagai perhitungan matematik, tetapi kurang menunjukkan hasil yang menggembirakan terkait penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran matematika hendaknya tidak hanya mencakup berbagai penguasaan konsep matematika yang algoritmik. Kemampuan matematika aplikatif seperti menyajikan, menganalisis, dan menginterpretasikan data, serta mengkomunikasikannya sangat perlu untuk dikuasai.
Matematika umumnya identik dengan perhitungan angka-angka dan rumus-rumus, sehingga muncullah anggapan bahwa skill komunikasi tidak dapat dibangun oleh pembelajaran matematika. padahal, pengembangan komunikasi merupakan salah satu tujuan pembelajaran matematika. Permen Nomor 23 Tahun 2006 menyebutkan bahwa melalui pembelajaran matematika, siswa diharapkan dapat mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
Menurut Greenes dan Schulman (dalam Aryan, 2008) menyebutkan bahwa, komunikasi matematik memiliki peran: (1) kekuatan sentral bagi siswa dalam merumuskan konsep dan strategi matematik; (2) modal keberhasilan bagi siswa terhadap pendekatan dan penyelesaian dalam eksplorasi dan investigasi matematika; (3) wadah bagi siswa dalam berkomunikasi dengan temannya untuk memperoleh informasi, membagi pikiran dan penemuan, curah pendapat, menilai dan mempertajam ide untuk meyakinkan yang lain. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan komunikasi matematik merupakan hal yang penting dalam membantu seseorang menyusun proses berpikirnya.
Herdian (2010) menyebutkan bahwa komunikasi secara umum dapat diartikan sebagai suatu cara untuk menyampaikan suatu pesan dari pembawa pesan ke penerima pesan untuk memberitahu, pendapat, atau perilaku baik langsung secara lisan, maupun tak langsung melalui media. Selanjutnya, kemampuan komunikasi matematis dapat diartikan sebagai suatu kemampuan siswa dalam menyampaikan sesuatu yang diketahuinya melalui peristiwa dialog atau saling berhubungan yang terjadi di lingkungan kelas, dimana terjadi pengalihan pesan. Pesan yang dialihkan berisi tentang materi matematika yang dipelajari siswa. Misalnya berupa konsep, rumus, atau strategi penyelesaian suatu masalah.
Secara umum tulisan ini akan menelaah pengaruh self-efficacyterhadap kemampuan komunikasi matematik. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah self-efficacy yang tinggi seseorang menyebabkan tinggi pula kemampuan komunikasi matematiknya atau malah sebaliknya.
M-81
Permasalahan
Permasalahan yang muncul dalam tulisan ini adalah bagaimana pengaruh self-
efficacyterhadap kemampuan komunikasi matematik?
PEMBAHASAN
Menurut Bandura (2003), self-efficacy adalah belief atau keyakinan seseorang bahwa ia dapat menguasai situasi dan menghasilkan hasil (outcomes) yang positif. Self-efficacyjuga merupakan suatu keadaan dimana seseorang yakin dan percaya bahwa mereka dapat mengontrol hasil dari usaha yang telah dilakukan.Menurut Schunk (1995), self-efficacy mempengaruhi siswa dalam memilih kegiatannya. Siswa dengan self-efficacyyang rendah mungkin menghindari pelajaran yang banyak tugasnya, khususnya untuk tugas-tugas yang menantang, sedangkan siswa dengan self-efficacyyang tinggi mempunyai keinginan yang besar untuk mengerjakan tugas- tugasnya.
Bandura (2003) menyatakan bahwa ada dua proses belajar yang terpenting. Pertama, proses belajar learning by observation yaitu manusia belajar melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain dan kedua, proses belajar vicarious learning yaitu manusia belajar mengamati konsekuensi perilaku orang lain. Kedua jenis
Faktor-faktor yang mempengaruhi self-efficacymenurut Bandura (1997) dalam Tesis yang berjudul Goal Orientantion, Self-Efficacy dan Prestasi Belajar pada Siswa Peserta dan Non Peserta Program Pengajaran Intensif di Sekolah oleh Retno Wulansari tahun 2001, ada beberapa faktor yang mempengaruhi self-efficacyyaitu:
a. Pengalaman Keberhasilan (mastery experiences)
Keberhasilan yang sering didapatkan akan meningkatkan self-efficacyyang dimiliki seseorang sedangkan kegagalan akan menurunkan self-efficacynya. Apabila keberhasilan yang didapat seseorang lebih banyak karena faktor-faktor di luar dirinya, biasanya tidak akan membawa pengaruh terhadap peningkatan self-efficacy. Akan tetapi, jika keberhasilan tersebut didapatkan dengan melalui hambatan yang besar dan merupakan hasil perjuangannya sendiri, maka hal itu akan membawa pengaruh pada peningkatan self-efficacynya.
b. Pengalaman Orang Lain (vicarious experiences)
Pengalaman keberhasilan orang lain yang memiliki kemiripan dengan individu dalam mengerjakan suatu tugas biasanya akan meningkatkan self-efficacyseseorang dalam mengerjakan tugas yang sama. Self-efficacytersebut didapat melalui social models yang biasanya terjadi pada diri seseorang yang kurang pengetahuan tentang kemampuan dirinya sehingga mendorong seseorang untuk melakukan modeling. Namun self-efficacyyang didapat tidak akan terlalu berpengaruh bila model yang diamati tidak memiliki kemiripan atau berbeda dengan model.
c. Persuasi Sosial (Social Persuation)
Informasi tentang kemampuan yang disampaikan secara verbal oleh seseorang yang berpengaruh biasanya digunakan untuk meyakinkan seseorang bahwa ia cukup mampu melakukan suatu tugas.
d. Keadaan fisiologis dan emosional (physiological and emotional states)
Kecemasan dan stress yang terjadi dalam diri seseorang ketika melakukan tugas sering diartikan sebagai suatu kegagalan. Pada umumnya seseorang cenderung akan mengharapkan keberhasilan dalam kondisi yang tidak diwarnai oleh ketegangan dan tidak merasakan adanya keluhan atau gangguan somatik lainnya. Self-efficacy biasanya ditandai oleh rendahnya tingkat stress dan kecemasan sebaliknya self-efficacy yang rendah ditandai oleh tingkat stress dan kecemasan yang tinggi pula.
Bandura (1997) juga menyebutkan bahwa ada beberapa manfaat dari self-efficacyyaitu: a. Pilihan perilaku
Dengan adanya self-efficacyyang dimiliki, individu akan menetapkan tindakan apa yang akan ia lakukan dalam menghadapi suatu tugas untuk mencapai tujuan yang diiinginkannya.
b. Pilihan karir
Self-efficacy merupakan mediator yang cukup berpengaruh terhadap pemilihan karir
seseorang. Bila seseorang merasa mampu melaksanakan tugas-tugas dalam karir tertentu maka biasanya ia akan memilih karir tesebut.
M-82
c. Kuantitas usaha dan keinginan untuk bertahan pada suatu tugas
Individu yang memiliki self-efficacyyang tinggi biasanya akan berusaha keras untuk menghadapi kesulitan dan bertahan dalam mengerjakan suatu tugas bila mereka telah mempunyai keterampilan prasyarat. Sedangkan individu yang mempunyai self-efficacyyang rendah akan terganggu oleh keraguan terhadap kemampuan diri dan mudah menyerah bila menghadapi kesulitan dalam mengerjakan tugas.
d. Kualitas usaha
Penggunaan strategi dalam memproses suatu tugas secara lebih mendalam dan keterlibatan kognitif dalam belajar memiliki hubungan yang erat dengan self-efficacy yang tinggi. Suatu penelitian dari Pintrich dan De Groot menemukan bahwa siswa yang memiliki self-efficacy tinggi cenderung akan memperlihatkan penggunaan kognitif dan strategi belajar yang lebih bervariasi.
Sebuah penelitian telah menemukan bahwa ada hubungan yang erat antara self-efficacydan orientasi sasaran (goal orientasi). Self-efficacy dan achievement siswa meningkat saat mereka menetapkan tujuan yang spesifik, untuk jangka pendek, dan menantang. Meminta siswa untuk menetapkan tujuan jangka panjang adalah hal yang baik seperti: “Saya ingin malanjutkan ke perguruan tinggi”, tetapi akan sangat lebih baik kalau mereka juga membuat tujuan jangka pendek tentang apa yang harus dilakukan seperti: “Saya harus mendapatka nilai A untuk tes matematika yang akan datang”.
McCroskey (dalam Byers & Weber, 1995) pada penelitiannya mengindikasikan bahwa seseorang yang memiliki tingkat kecemasan berbicara yang tinggi biasanya tidak dianggap secara positif oleh orang lain. Mereka dianggap tidak responsif, tidak komunikatif, sulit untuk mengerti, tidak memiliki ketertarikan sosial dan seksual, tidak homogen, tidak dapat dipercaya, tidak berorientasi pada tugas, tidak suka bergaul, tidak suka menjadi pemimpin dan tidak produktif dalam kehidupan profesionalnya. Hal ini jelas menunjukkan bahwa tingkat kecemasan berbicara memberi pengaruh yang besar terhadap keberhasilan seseorang.
Tingkat kecemasan berbicara ini sangat berkaitan dengan self-efficacy seseoang sekaligus berkaitan dengan kemampuan komunikasi matematik. Seseorang yang memiliki self-efficacyyang tinggi cenderung mampu mengurangi tingkat kecemasannya berbicaranya. Lebih lanjut berdampak terhadap kemampuan seseorang tersebut dalam berdiskusi secara aktif dan kreatif, responsif,dan komunikatif dalam menyampaikan ide-ide nya terkhusus dalam bidang akademis. Hal ini senada dengan hasil penelitian Indi (2009) yang menyebutkan bahwa semain tinggi self-efficacymahasiswa maka akan semakin rendah tingkat kecemasannya berbicara di depan umum, dan sebaliknya semakin rendah self-efficacymahasiswa maka tingkat kecemasan berbicara di depan umum akan semakin tinggi.
NCTM (2000) menyebutkan bahwa standar kemampuan yang seharusnya dikuasai oleh siswa adalah sebagai berikut:
1. Mengorganisasi dan mengkonsilidasi pemikiran matematika dan mengkomunikasikan kepada siswa lain.
2. Mengekspresikan ide-ide matematika secara koheren dan jelas kepada siswa lain, guru, dan lainnya.
3. Meningkatkan atau memperluas pengetahuan matematika siswa dengan cara memikirkan pemikiran dan strategi siswa lain.
4. Menggunakan bahasa matematika secara tepat dalam berbagai ekspresi matematika.
Komunikasi matematik mencakup komunikasi tertulis maupun lisan atau verbal (LACOE, 2004). Komunikasi tertulis dapat berupa penggunaan kata-kata, gambar, tabel, dan sebagainya yang menggambarkan proses berpikir siswa. Komunikasi lisan dapat berupa pengungkapan dan penjelasan verbal suatu gagasan matematika.Di sisi lain, proses komunikasi yang terjalin dengan baik dapat membantu siswa membangun pemahamannya terhadap ide-ide matematika dan membuatnya lebih mudah dipahami. Hal ini menunjukkan bahwa proses komunikasi akan bermanfaat bagi siswa untuk meningkatkan pemahamannya mengenai konsep-konsep matematika.
Dalam meningkatkan kemampuan komunikasi matematik seseorang, seseorang tersebut harus mampu memunculkan self-efficacydalam dirinya. Dengan self-efficacyyang tinggi seseorang akan mampu mengatasi kecemasan berbicaranya dalam menyampaikan ide-ide matematik, mampu menguasai situasi dan menghasilkan hasil (outcomes) yang positif, yakin dan percaya bahwa mereka dapat mengontrol hasil dari usaha yang telah dilakukannya. Lebih lanjut, dengan self-
M-83
efficacy yang tinggimengurangi kemungkinan seseorang menghindari pelajaran yang banyak
tugasnya, khususnya untuk tugas-tugas yang menantang seperti matematika. Menurut Goetz (2004), mengembangkan komunikasi matematik tidak berbeda jauh dengan mengembangkan kemampuan komunikasi pada umumnya.
Schunck(1995) menyebutkan bahwa ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan self-efficacy, diantaranya:
1. Mengajarkan siswa suatu strategi khusus sehingga dapat meningkatkan kemampuannya untuk fokus pada tugas-tugasnya.
2. Memandu siswa dalam menetapkan tujuan, khususnya dalam membuat tujuan jangka pendek setelah mereka mebuat tujuan jangka panjang.
3. Memberikan reward untuk performa siswa.
4. Mengkombinasikan strategi training dengan menekankan pada tujuan dan memberi feedback pada siswa tentang hasil pembelajarannya.
5. Memberikan support atau dukungan pada siswa. Dukungan yang positif dapat berasal dari guru seperti pernyataan “kamu dapat melakukan ini”, orang tua dan peers.
6. Meyakinkan bahwa siswa tidak terlalu aroused dan cemas karena hal itu justru akan menurunkan self-efficacy siswa.
7. Menyediakan siswa model yang bersifat positif seperti adult dan peer. Karakteristik tertentu dari model dapat meningkatkan self-efficacy siswa. Modelling efektif untuk meningkatkan
self-efficacykhususnya ketika siswa mengobservasi keberhasilan teman peer nya yang
sebenarnya mempunyai kemampuan yang sama dengan mereka.