ja Sultan di paseban agung memberitahukan tentang mimpi itu
kepada sang Raja dan saudara-saudaranya yang lain.
.... w 0
Kelengkang Besi
( x)
koleksi Museum Negara di Tenggarong. Konon di atas kelengkang besi iniBAB XII
All TULUR DDANGKAT TURUN DENGAN SEBUAH KELENGKANG
Dalam zaman dahulu tersebutlah sebuah kisah tentang dua orang bersaudara, masing-masing bemama Suma dan Gah Bogan. Pada waktu orang tuanya yang bernama Hirong Sorga Tanah masih hidup mereka masih beigaul bersama, hidup bersama dengan baha
gia. Sesudah mereka menginjak dewasa dan kemudian kedua
orang tuanya meninggal dunia, kedua bersaudara inipun berpisah masing-masing men.ca.ti peruntungannya sendiri. Mereka mengem bara untuk kemudian menetap masing-masing di suatu tempat yang berjauhan. Suma memilih tempat kediamannya di kampung Londong, sebelah kanan mudik sungai Mahakam, sedangkan Gah Bogan tinggal di kampung Linggang Sungai Bengkalang, sebelah kiri mudik Sungai Mahakam. Demikianlah mereka masing-masing telah berpisah dan masing-masing sibuk dengan pekerjaannya sendiri, sehingga pada akhimya mereka saling melupakan.
Pada suatu hari yang cerah sebagaimana biasa Gah Bogan memasang ala� perangkap ikan di sungai Maranaf, yang merupakan anak sungai Bengkalang, dan membiarkannya sampai besok pagi dengan pengharapan beberapa ekor ikan akan masuk perangkap ikan itu. Namun pada keesokan harinya pada waktu Gah Bogan mengangkat alat perangkapnya itu dengan heran dia melihat di
dalamnya ,hanya tulang-tulang ikan belaka. Hal ini merupakan luar
biasa, karena belum pemah dia menangkap ttilang-tulang ikan, akan tetapi biasanya yang masuk perangkap adalah ikan-ikan yang segar yang masih hidup dan bilamana ditangkap masih menggele par-gelepar.
Tulang-tulang ikan ' itu dikeluarkannya dari alat perangkap
ikan itu, kemudian dilabuhnya kembali alat itu untuk dibiarkan nya sampai besok pagi. Akan tetapi bilamana Gah Bogan pada besok paginya mengangkat alat perangkap ikan itu yang didapati nya tidaklah lain daripada tulang-tulang ikan. Dia makin heran memikirkan hal ini, namun dia kembali membuang tulang-tulang itu dan kemudian melabuh kembali alat perangkap ikan itu untuk
kemudian besok pagi kembali melihat hasilnya. Akan tetapi pada besok paginya Gah Bogan tetap mehdapati tulang-tulang ikan di dalam alat perangkap ikan itu. Setelah berpikir panjang akhirnya dia mengambil suatu keputusan untuk inengintip siapa gerangan yang memakan ikan-ikan yang ada di dalam alat perangkap itu yang kemudian membiarkan tulang-tulangnya berserakan di dalam nya.
Gah Bogan melemparkan kembali tulang-tulang ikan itu, kemudian melabuh alat perangkap ikannya ke dalam sungai dan sesudah itu dia pun terus pulang. Akan tetapi bilamana hari mulai petang Gah Bogan kembali ke ternpat dia memasang alat perang kap ikan itu dan mengambil tempat di dalam semak-semak yang tumbuh di pinggir sungai tidak berjauhan dari alat perangkap ikan itu diletakkan. Dari tempat ini dia dapat mengintip mengawasi alat perangkap ikan yang dilabuhnya di sungai Maranaf itu. Dengan sabar dia menanti dan mengawasi dengan mata tajam me nem bus kelam ke arah alat perangkap ikannya. Tubuhnya menja di mangsa nyamuk, namun dia berusaha keras agar tidak keluar suara berisik yang dibuatnya, agar tidak ada perhatian makhluk lain di mana dia bersembunyi itu. Gah Bogan berilsaha keras agar tidak tertidur, meskipun sudah berjam-jam lamanya dia menanti dengan penuh godaan nyamuk.
Dengan sabar dia menanti dan berharap untuk menangkap basah siapa biang keladinya yang memakan ikan-ikan segar di dalam alat perangkapnya. Dari kejauhan terdengar kokok ayam bersahut-sahutan sebagai pertanda fajar akan timbul. · Gah Bogan menjadi gelisah, karena pekerjaannya akan sia-sia, sedangkan dia sudah mengorbankan waktu tidumya dan tubuhnya untuk dihisap darahnya oleh nyamuk. Dia menjadi geram dan akan mengakhiri pekerjaan mengintip ini. Akan tetapi tiba-tiba dia mendengar
bunyi ranting kayu yang patah dan.daun-daun kayu yang diinjak.
Dengan tajam dia mengawasi ke arah dia mendengar bunyi itu. Gah Bogan mengamat-amati tempat itu dengan seksama dari kejauhan dan samar-samar terlihat bayangan sesosok tubuh. Tubuh itu makin lama makin mendekat' dan berjalan menuju ke arah sungai Maranaf.
Hati Gah Bogan makin berdetak kencang, karena tubuh yang dilihatnya itu adalah tubuh seorang perempuan yang hanya mema kai cawat dari kulit kayu.
"Perempuan muda," desis Gah Bogan sambil melihatnya terjun ke sungai dan menuju alat perangkap ikan. Alat perangkap ikan itu diangkatnya dan semua ikan yang ada di dalamnya dima kannya mentah-mentah, kemudian tulang-tulangnya dimasukkan nya kembali dalam perangkap itu. Kini jelaslah sudah bagi Gah Bogan siapa sebenarnya yang mencuri ikannya itu. Hatinya menja di panas! Dengan mengeluarkan berisik sekecil mungkin Gah Bogan keluar dari semak-semak, perlahan-lahan menuju ke arah sungai dan mengarunginya dengan diam-diam menuju perempuan muda itu dengan mengambil jurusan belakangnya. Sedang perem puan itu dengan asyiknya menikmati ikan segar itu, tiba-tiba dia disergap oleh Gah Bogan. Perempuan itu terkejut dan kemudian berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Gah Bogan. Terjadi lah pergumulan antara dua jenis makhluk yang berbeda kelamin ini, namun sama-sama kuat dan tangkas. Pergelutan yang sangat hebat antara ke duanya menyebabkan terjadinya gelombang gelombang besar di anak sungai Maranaf itu, bahkan sungai Beng kalang turut berombak.
Samphl matahari terbit pergelutan itu baru mereda, karena perempuan muda itu nampaknya letih. Gah Bogan segera meng angkat tubuh perempuan itu, meskipun dia masih meronta-ronta dan membawanya ke tepi sungai. Akhirnya perempuan itu keha bisan tenaga dan menyerah kepada Gah Bogan yang membawa nya pulang ke pondoknya. Dalam keadaan telanjang bulat perem puan itu digendong oleh Gah Bogan, karena pada waktu pergumul an yang hebat di dalam sungai tadi cawatnya terlepas ikatannya dan menari-nari dimainkan gelombang untuk kemudian tenggelam ke dasar sungai. Bilamana perempuan itu kehabisan tenaga, maka Gah Bogan mendapatkan tenaga baru karena menggendong perem puan itu, apapula kedua payudaranya menempel di dadanya yang bidang. Di dalam pondoknya perempuan itu dibaringkannya de ngan hati-hati di lantai dan barulah Gah Bogan menyadari bahwa perempuan itu di dalam keadaan telanjang bulat. Nafasnya turun
naik dengan cepat melihat tubuh telanjang yang ramping di lantai. Ditatapnya dari ujung rambut perempuan itu dan ditelusurinya dengan matanya terus ke bawah, mampir untuk beberapa lama di tengah untuk kemudian meneruskan penelitiannya sampai ke ujung kaki.
Akhirnya timbul rasa kasihannya terhadap perempuan yang terbaring tidak berdaya di lantai pondoknya itu. Diambilnya kain ikat kepalanya untuk kemudian dililitkannya ke pfaggang perem puan itu. Karena kain ikat kepalanya pendek, maka masih terselak pada paha bagian belakang perempuan itu .. Gah Bogan kemudian membiarkan perempuan itu terbaring, sedangkan dia pergi ke dapur untuk memasak sarapan pagi. Selama dia memasak tenaga perem puan itu berangsur-angsur pulih kembali. Segera dia bangun, mem betulkan ikatan kain yang membelit tubuhnya bagian bawah dan
kemudian duduk membisu di ambang pintu dapur melihat Gah . .
Bogan menanak nasi. Gah Bogan melirik kepada perempuan itu sambil tersenyum, akan tetapi perempuan itu tidak mengambil reaksi apa-apa.
Setelah selesai memasak makanan, Gah Bogan mengajak perempuan itu makan. Tetapi perempuan itu tidak punya selera sama sekali untuk makan, bahkan berbicara pun dia tidak mau. Dia tinggal diam seperti orang bisu, sambil menatap Gah Bogan rhakan dengan lahapnya. Maklum saja satu malam suntuk berjaga
dan menjelang fajar · menyingsing bergulat pula dengan hebatnya
dengan perempuan muda ·yang sekarang duduk di hadapannya.
Selesai makan Gah Bogan menatap mata perempuan itu dengan sungguh-sungguh. Baru kemudian Gah Bogan menyadari bahwa perempuan itu sedang kena tenung. Segera dia memanggil orang
Belian yang dapat .mengobati perempuan . itu. Maka ramailah
pondok dari Gah Bogan didatangi oleh orang-orang kampung Linggang yang ingin melihat perempuan yang asing bagi penduduk kampung itu.
Berbelian dilakukan untuk beberapa hari lamanya sampai perempuan itu bisa kembali: mengucapkan kata-kata dengan sem purna. Kalimat yang pertama melunc\lr dari rimlutnya ialah,
"Minta makan!" Maka segeralah Gah Bogan menghidangkan 1 34
makanan yang memang sudah disediakan. Dengan lahapnya pe
rempuan itu · menghabiskan makanan yang tersedia di hadapannya
sehingga kikis habis. Melihat dia masih lapar, ma Gah Bogan me nanak lagi nasi dan memasak sayuran. Segera makanan ini dihi dangkan dan secepat kilat pula _habis dimakan perempuan itu. Selesai makan, perempuan itu pun memberitahukan bahwa dia ber nama Gah Bongek, akan tetapi tidak memberitahukan asal ·usulnya dan di mana dia semula bertempat tingg�I .
Karena dia sebatang kara, maka Gah Bogan mengarr.bilnya
. sebagai isteri dan upacara perkawinan dilaksanakanlah menurut
tatacara di kampung Linggang itu. Mttreka hidup bahagia, siang mereka berhuma dan malam mereka bersanggama.
Selang beberapa bulan lamanya Gah Bogan dengan Gah Bongek berkedudukan sebagai dua laki isteri, maka tampaklah bahwa Gah Bongek mulai hamil. Perutnya semakin lama semakin buncit lebih besar daripada biasa. Bilamana cukup bilang�nnya maka Gah Bongek pun melahirkan anak kembar delapan. Kede
lapan orang anak ini · dibuang oieh orang tuanya ke sungai Maha
kam dan jadilah anak-anak itu Hantu Perempahan. Gah Bo�n d�n
Gah Bongek tetap hidup berbahagiaj siang mereka . berhuma,
malam mereka bersanggama. Beberapa bulan kemudian Gah
Bongek kembali .hamil, perutnya buncit luar biasa. Bilamana
cukup bilangannya Gah Bongek pun melahirkan anak . yang j�g;i kembar delapan. Anak-anak ini oleh kedua orang tuanya dibuang ke dalam hutan dan jadilah anak-anak itu Hantu penunggu Pinang Sendawar. Selanjutnya mereka tetap hidup bahagia, siang berhu ma, malam bersanggama, sampai pada suatu saat Gah Bon_gek melahirkan anak kembar delapan kembali. Anak-anak ini tidak mengalami nasib seperti saudara-saudaranya yang terdahulu, yakni masing-masing dibuang ke sungai dan ke darat. Anak-anak ini dipelihara dengan sungguh-sungguh dan diberi nama masing-masing sebagai berikut:
1. S angkariak !gas
2. Sangkariak Laca
3. Sangkariak Lani
5.
Sangkariak Injung6. Sangkariak Kebon
7.
Sangkariak Lanan8 . Sangkariak Daka.
Gah Bogan dua laki isteri memelihara anak-anaknya ini de ngan penuh kasih sayang. Tidak membedakan satu sama lainnya, baik di dalam soal makanan, maupun di dalam soal pakaian. Mereka hidup sederhana, tiada berkelebihan, namun mereka gem
bira menghadapi hidup ini. Dari hari ke hari, dari bulan ke bulan,
dari tahun ke tahun Sangkariak yang delapan orang ini dipelihara
dan diasuh serta dibesarkan oleh kedua ibu-bapaknya. Tiada hal hal yang aneh terjadi pada mereka sekeluarga, demikian juga tidak ada peristiwa-peristiwa yang penting yang dapat dicatat mengenai kampung · Linggang "di mana mereka tinggal. Pencfuduk tetap tenang melakukan pekerjaannya sehari-hari, yakni berhuma di ladang, berburu binatang di hutan, menangkap ikan di sungai. Gah Bongek sejak melahirkan untuk ketiga kalinya itu, tidak lagi kelihatan bunting, meskipun Gah Bogan hampir setiap malam kerjaannya tidaklah lain mengga.uli isterinya.
Demikianlah waktu berjalan dengan cepatnya, dari tahun ke tahun penghidupan ·di desa Linggang tidak terlihat adanya peru
bahan-perubahan, 1 kecuali pertumbuhan dari penghuninya saja;
sang bayi mertjadi kanitk-kanak, kanak-kanak menjadi remaja dan
selanjutnya remaja ini berkeluarga, beranak dan dia sendiri akhir
nya menjadi tua.
Sangkariak bersaudara pun demikian juga halnya. Mereka yang jumlahnya delapan orang itu sudah menjadi pemuda remaja dan tidak tinggal berkumpul bersama-sama dengan orang tuanya
lagi. Sangkariak yang delapan orang ini membuat pondok untuk
tempat kediaman mereka di pinggir sungai Bengkalang. Sebagai mana juga penduduk lainnya, mereka membuka huma, mencari ikan di sungai dan sewaktu-waktu memburu binatang ke dalam hutaff, bilamana mereka mengingini makan daging.
Sekali peristiwa, pada siang hari · yang cerah pada waktu
Sangkariak yang delapan orang itu semuanya berada di pondok untuk makan siang sesudah pulang dari pehumaan mereka,