gong, akan tetapi sepanjang jalan selalu memperhatikan bambu
pe-140
tung itu. Dalam perjalanan pulang ini hati Kemuduk Beran merasa
kesal, karena tidak membawa binatang buruan. Dia berharap
hanya kepada saudara-saudaranya yang lain saja yang juga masuk hutan dengan arah lain untuk berburu binatang.
Bilamana dia sampai di pondoknya hari sudah larut malam.
Yang ada di dalam pondok hanya saudaranya yang tertua Ke muduk Bengkong dan kedua kakaknya yang perempuan yakni Kemuduk Mandar dan Kemuduk Bulan. Mereka sudah tidur lelap, tidak mengetahui bahwa Kemuduk Beran sudah kembali dari hutan. Bambu petung itu diletakkannya di antara Mandar dan Bulan yang sedang tidur itu. Dia sendiri sesudah mencuci kaki dan tangannya membawa anjingnya bersama-sama tidur di ruangan lain dari pondoknya itu. Karena terlampau payah, maka dia terus tertidur sesaat setelah dia membaringkan badannya di samping anjingnya.
Pada waktu fajar pagi akan menyingsing Kemuduk Beran terkejut bangun mendengar adanya letusan. Belum sempat ber pikir lagi oari mana letusan itu datangnya, tiba-tiba dia mende ngar suara bayi yang sedang menangis, seperti baru dilahirkan. Suara tangis bayi itu datangnya dari ruangan di mana saudara saudaranya yang perempuan tidur. Dia segera meloncat bangkit
dan bergegas ke ruangan saudara-saudaranya itu rliiringi oleh
anjingnya. Dan apa yang dilihatnya? Mandar sedang memangku seorang bayi, yang tangan kirinya memegang sebiji telbr. Sedang kan Bulan mengamati-amati bambu petung yang sudah terbelah. Sementara itu Kemuduk Bengkong sudah berada pula di ruangan itu. Dia juga terbangun mendengar ribut-ribut di ruangan mana saudara-saudaranya yang perempuan itu tidur. Kemuduk Beran kini mulai dapat berpikir. Rupanya suara letusan itu ke luar dari bambu oetung itu sehingga pecah dan dari dalam bambu itulah ke luar bayi yang memegang telur itu. Rupanya anjingnya sudah mengetahui bahwa bambu petung yang dianggapnya biasa itu sebenarnya mengandung seorang bayi. Dan bayi itu sangat can tik parasnya, tidak dapat cJibandingkan dengan paras yang ada di
kampung Londong ini.
Beran menceritakan kepada Kemuduk Bengkong tentang apa yang dialaminya di dalam hutan, tentang anjingnya yang meng gonggong terus-menerus terhadap bambu petung itu, sehingga
akhirnya terpaksa dia 'mengambil keputusan untuk kembali
saja ke kampung dengan membawa bambu petung1 itu. Dicerita kannya juga bahwa bambu petung itu diletakkannya di tempat ketiduran Mandar dan Bulan sebelum dia pergi tidur. Dan temya ta bambu petung itu mengandung seorang bayi yang cantik pa rasnya ..
Fajar di luar pondok sudah menyingsing dan seorang demi
seorang saudara-saudaranya yang lain datang kembali dari berburu dengan membawa hasil perburuannya. Mereka semuanya heran mendengar adanya tangisan bayi di dalam rumah, tetapi kemudi an merasa bangga setelah mendengar cerita dari Kemuduk Beran. Ini berarti Sanghiyang menaruh kepercayaan kepada
mereka untuk menitipkan turunannya. lni berarti mereka merupa
kan orang-orang yang terpilih dari penduduk kampung Londong ini untuk memelihara turunan Sanghiyang.
Keberuntungan keluarga Kemuduk
ini
tersebar di kalanganpenduduk kampung Londong. Mereka berdatangan untuk melihat bayi itu dan semuanya memuji akan kebagusan paras dari bayi itu. Temyata dia seorang puteri yang tidak ada tandingannya di dalam hal kecantikan parasnya di kampung itu.
Setelah bayi itu dibersihkan dan dibalut dengan kain larnpin,
maka Kemuduk Bengkong yang arif itu berRata kepada sanak
saudaranya, bahwa bayi
ini
bukanlah bayi sembarangan. Dia adalah anak dari Nayuk Sanghiyang Dewata, yang dijelmakan ke
bumi untuk memimpin daerah Tunjung kelak di .kemudian hari
bilamana dia telah mendapatkan jodohnya.
Selanjutnya Bengkong berkata, "Bayi
mi
kita beri namaMuk Bandar Bulan. Muk artinya puteri, Bandar artinya negeri dan Bulan artinya menerangi. Tegasnya Muk Bandar Bulan berarti Puteri Menerangi Negeri. Apaka� saudara-saudaraku sepakat de
ngan nama ini ?"
"Kami serahkan kepada kehendak kakanda semata tentang nama itu, karena kakanda lebih bijak dari kami. Kami menurut
142
saja, mana yang baik menurut kakanda", demikian pendapat sau dara-saudara Bengkong. Dengan demil<ian resmilah bayi yang diketemukan dari dalam bambu petung itu diberi nama Muk Ban dar Bulan.
Telur yan� dibawa oleh bayi itu dieramkan dan bilamana sU.dah cukup bllangan waktunya menetaslah telur itu dengan sen dmnya. Anak ayarii itu cepaf besar sebagaimana juga Muk Ban
dar Bµ_lan yang menja8i seorang puteri yang cantik yang membawa
keberuritungan bagi Kemuduk bersaudara. Ayam itu ternyata be tina mempunyai bulu putih mulus, berjambul dan berjambing. Hanya selembar bulu pada ekomya yang berwarna hitam.
Sementara itu kehidupan penduduk di kampung Londong
. . itu kelihatan semakin baik ; padi menjadi, binatang perburuan ber
tambah banyak. Setiap orang bertambah hormat kepada Kemuduk Bengkong yang menjadi Ketua kampung Londong, dan setiap
orang mengagumi akan kecantikan Muk Bandar Bulan yang se
makin hari semakin besar. Malahan cepat besar daripada kebanyak
an anak kampung lainnya.
• • •
BAB XIV
MUK BANDAR BULAN MENJADI RAJA TUNJUNG S.etiap harinya Muk Bandar Bulan dipelihara oleh Kernuduk Mandar dan Kernuduk Bulan. Kedua bersaudara ini rnertjaga puteri itu dengan cerrnat, rnengasuhnya dengan kasih sayang, sehingga mereka rnerupakan ibu bagi Muk Bandl!f Bulan. Dan kini puteri
ini sudah bisa berbicara dan suka sekali rnengajukan berbagai per tanyaan kepada kedua ibu piaranya itu. Semakin puteri bertarn
bah fasih berbicara, sernakin terlihat kecerdasannya dan malah
sikapnya semakin berwibawa.
Pada sµatu hari sesudah Muk Bandar Bulan tahu rnerangkai kan kalirnat dengan baik, berkatalah dia kepada kedua ibu piara nya itu, ''Ya kedwi ibuku, cobalah perintahkan agar seluruh pen duduk karilpung Londong ini datang berkumpul di sini, karena ada hal-hal yang ingin anakda sarnpaikan kepada mereka'�� � '
.._..
Terkej_utlah Mandar dan Bulan rnendengar penntah yang berwibawa ini. Baru untuk pertarna )calinya sejak mereka rneng astih dan rnernbesarkan puteri itu, keluar suara yang rnengandung perin_tah dari anak. angkatnya itu. Mef'eka pun segera nienghubungi saudaranya yang tertua Kernuduk Bengkong rnenyarnpaikan rnak sud dari Muk Bandar Bulan. Kernuduk Bengkong yang sudah mengetahui bahwa puteri itu bukan orang sembarangan, maka segera memukul gong bertalu-talu untuk menghirnpun penduduk kampung Londong. Pada waktu itu semua penduduk sudah ber ada di kampungnya, sudah pulang dari l:>erburu di dalarn hutan. Sedangkan mereka yang masih berada di huma mendengar pukul an gong itu segera menghentikan pekerjaannya dan bergegas da tang ke Balai Adat.
Di Balai Adat Muk Bandar Bulan sudah menunggu dengan didampingi oleh Kemuduk Bengkong sebagai Petinggi dari karn pung Londong itu. Sedangkan Mandar dan Bulan berada sedikit jauh dari puteri itu. Setelah Bengkong memberitahukan keJ_:>ada penduduk yang sedang berkumpul itu, maksud dari ada pertemu an di Balai Adat ini, maka , dipersilakan Muk Bandar Bulan untuk 144
menyampaikan apa yang dikandungnya dalam hati. . Muk Bandar Bulan pun berbicaralah dengan lantang dan je las dengan sikap sebagai orang dewasa yang mempunyai banyak pengalaman, "Hai penduduk kampung Londong yang hadir seka rang ini. Saya hendak bertanya, siapakah di antara saudara-saudara pernah mendengar letusan bambu petung tempat saya turun men jelma turun ke dunia ini".
Maka menjawablah mereka yang hadir, bahwa sebagian mereka pernah mendengar letusan itu, sedangkan sebagian lain tidak mendengar sama sekali letusan itu, karena ada yang masih berada di dalam hutan untuk berburu dan belum kembali ke kam pung.
Muk Bandar Bulan pun menyahut, "Saudara-saudara yang mendengar letusan dari bambu petung itu kujadikan panakawan ku dan yang tidak mendengar letusan menjadi sahaya merdeka.
Alm umumkan pada hari ini kepada seluruh penduduk kampung
Londong ini, bahwa aku adalah anak dari Nayuk Sanghiyang Juata Tonoi yang diturunkannya ke dunia untuk memimpin ta
nah Tunjung dan orang-orang Tunjung. Alm sekarang menjadi
Raja dan Petinggi Kemuduk Bengkong merupakan pembantuku
terdekat untuk kampung Londong ini. Mulai saat
ini
segala titahperintahku harus diturut dan ditaati serta dilaksanakan".
Maka saling berpandanganlah penduduk yang hadir men dengar perintah yang tiba-tiba, di mana mereka sudah ctigo long-golongkan sebagai panakawan dan sebagai sahaya merdeka. Ju ga tidak diberikan pilihan kepada mereka untuk menentukan raja lain selain Muk Bandar Bulan yang masih mereka anggap ingusan. Hingar-bingarlah di Balai Adat memperbincangkan apa yang di kemukakan oleh puteri itu.
Salah seorang yang tertua kemudian berdiri dan meminta agar tenang, karena dia ingin menyampaikan sesuatu usul kepada Muk Bandar Bulan. Setelah keadaan reda kembali, maka berkata lah orang tua itu, ''Kami penduduk kampung Londong ini menu rut saja apa yang dikehendaki Muk Bandar Bulan. Akan tetapi
sebelumnya saya memajuka_n pertanyaan kepada Muk, jikalau