selamatan Puncan Karna. Bilamana jamuan
iniselesai maka dipa
lulah Gong Golong, sebagai tanda bahwa pekerjaan berbelian se
lama seminggu itu ditutup. Dan pulanglah semua hamba rakyat
ke rumahnya masing-masing dengan rasa puas. Puas karena men
dapat makanan yang lezat-lezat, juga puas melihat ketampanan
wajah Puncan Karna serta keelokan raut muka Aji Dewa Puteri.
1 88BAB XXI
PUNCAN KARNA MENYATAKAN ISi HATINYA
UNTUK MELAMAR
AJI DEWA
PUTRIWaldu berjalan terus dari hari ke hari, dari minggu ke minggu dan dari bulan ke bulan. Pengiring Puncan Karna mendapatkan beberapa bidang tanah yang luas untuk bertani dan kini tanaman di atas tanah itu sudah mulai menghijau. Sedangkan Puncan Karna tetap tinggal di purl, belajar adat-istiadat di kalangan keraton, se
hingga sering bertemu dengan Aji,Dewa Putri. Akan tetapi mereka
tidak dapat leluasa untuk bercakap-cakap, paling-paJing sepatah dua patah kata. Hal ini menimbulkan ra8a rindu dendam yang sa
ngat-bagi kedua remaja itu. ·
Aji Puncan Kama sudah bulat tekadnya untuk meminta diri Aji Dewa Putri dari Maharaja Sultan, untuk dipersunting sebagai istrinya. Dia menu,1ggu waktu yang tepat untuk mengemukakan hal ini kepada sang Raja. Dia sudah yakin melihat dari sikap dan cahaya mata Aji Dewa Putri bilamana memandangnya, sang putri itu juga mengingini agar mereka di dalam waktu yang tidak lama sudah bisa terikat sebagai dua laki-bini.
Pada suatu hari hujan sedang turun dengan lebatnya, Maha raja Sultan sedang berada di Paseban Agung didampingi oleh ke empat Menteri Kerajaan. Puncan Karna pada waktu itu berada ju
ga di Paseban Agung. Karena hujan lebat, maka tiada rakyat yang
datang menghadap untuk mengadukan hal-ihwalnya sebagaimana biasa. Beberapa punggawa dan beduanda menambah jumlah tubuh
yang berada di Balai
ini.
Puncan Karna berpendapat, bahwa waktunyalah sekarang dia dapat mencurahkan apa yang dikandung oleh isi hatinya sela ma dia berada di Kutai ini. Bunyi hujan di luar Balai, seolah-olah suara dari Aji Dewa Putri yang mendorongnya untuk saat ini me nyampaikan isi hatinya kepada sang Raja.
Tiba-tiba dia bangkit lalu menyembah Maharaja Sultan, ke mudian sujud berturut-turut pada Maharaja Sakti, Maharaja Sura diwangsa, Maharaja lndrawangsa dan Maharaja Darmawangsa. Ke mudian dia menghadap sang Raja kembali dan berkata, "Harap
beribu-ribu ampun. Pada ini hari patik menyerahkan diri patik serta jiwa, jasmani dan rokhani patik ke bawah dull tuanku dan ke bawah dull keempat saudara-saudara tuanku. Sebelum patik me ngemukakan isi hati yang terkandung di dalam hati patik ini, maka jika ada tersalah tutur atau kata-kata patik yang kurang sedap di dengar, mohon kiranya diampuni. Sri Paduka terlebih maklum, bahwa patik tidak mempunyai orang tua di sini buat memper sembahkan hasrat patik. Hanya terdesak oleh dorongan hati yang penuh kasih dan rindu ini, maka kiranya dapat patik membangun mahligai penghidupan dengan isinya penuh kebahagiaan. Begitu lah cita-cita patik yang terkandung di dalam sanubari dan kiranya Sri Baginda memaklumi apa yang patik persembahkan ini''.
Mendengar tutur kata Puncan Karna ini, Sultan dan saudara saudaranya yang berempat memaklumi apa yang tersirat di dalam nya. Sang Raja tersenyum lalu memalingkan mukanya kepada Ma haraja Sakti untuk minta pendapat. Maka berkatalah Maharaja Sakti, "Kami berempat ini menyerahkan pertimbangannya kepa da adinda saja. Kami menurut saja! "
Setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Maharaja Sakti, maka Maharaja Sultan menoleh kembali kepada Puncan Karna serta berkata, "Angkatlah kepala adinda. Permohonan adinda ka mi telah bersetuju imtuk mengabulkannya".
. Tampak berseri-seri wajah Puncan Karna mendengar sabda sang Raja. Dia pun tunduk dan rnenyernbah Maharaja Sultan sera ya berkata, ''Patik junjung beribu-ribu di atas batok kepala patik atas kernurahan duli tuanku, yang sudah sudi rnengabulkan per mohonan patik".
I<.ernudian sunyi sejenak masing-masing dengan pikirannya. Puncan Karna dengan khayalnya yang indah-indah, sang Raja ter ingat kepada ayahandanya Aji Batara Agung Paduka Nira dan ke ernpat saudaranya memikirkan pekerjaan-pekerjaan yang patut di laksanakan pada waktu perkawinan Aji Dewa Putri nanti.
Tiba-tiba terdengar sabda Maharaja Sultan rnemecah kesunyi an, "Adapun tentang waktu untuk melaksanakan hajat adinda itu akan kakanda muf akatkan dengan saudara-saudaraku berempat · ini. Oleh sebab itu baiklah adinda bersabar dahulu sementara me-1 90
nanti pennusyawaratan kami".
Puncan Karna mendengar sabda sang Raja itu lalu berdatang sembah kemudian mohon diri. Dengan penuh rasa bahagia dan dengan terus-terusan mulutnya memperlihatkan senyum, dia me nuju purl, meskipun masih hujan namun tidak lebat lagi. Tidak
dirasa lagi, b�hwa pakaiannya menjadi basah kena air hujan,
bahkan
air
hujan itu dirasakannya menambah kesegaran hatinya.Tiba-tiba tering�t olehnya awak-awak perahu dan para nakhoda
nya yang mengikutinya ke daerah Kutai ini. Dia pun merasakan
betapa perlunya untuk memberitahukan kepada mereka tentang persetujuan Maharaja Sultan mengenai perkawinannya dengan Aji Dewa Putri. Puncan Karna mengurungkan perjalanannya me nuju ke puri, lalu mengambil jalan lain untuk menuju ke tempat pemukiman orang-orang Tmtjung.
Sampai di sana didapatinya nakhoda tua yang keheranan me lihat kedatangan Puncan Kama dengan pakaian basah kuyup. Ke pada nakhoda tua yang merupakan pengimpunya, Puncan Kama
menceritakan segala hal ihwalnya yang sudah pieminang Aji
Dewa Puteri, pinangan mana telah diterima oleh Maharaja Sultan dan keempat saudara-saudaranya yang lain. Perkawinan akan di langsungkan pada waktu yang ditentukan oleh Maharaja Sultan. Kini sang Raja sedang bennusyawarah dengan saudara-saudaranya untuk menentukan hari yang baik guna melangsungkan P,erkawin an itu.
Sang pengimpu tennenung mendengar penuturan Puncan Karna mengenai rencana perkawin�nnya dengan Aji Dewa Putri. Setelah mengunyah sirih beberapa kali kemudian meludah mem buang sepah, berkatalah orang tua itu, "Harap beribu-ribu ampun apabila patik tersalah tutur. Menurut hemat patik, hendaknya tuanku memberitahukan hal ini kepada orang tua serta saudara saudara tuanku, bahkan kepada sekalian hamba rakyat di negeri Pinang Sendawar. Pemberitahuan inipatik anggap penting karena, pertama untuk mendapatkan persetujuan ayah-bi.mda tuanku dan kedua agar terlihat baik pada pandangan umum. Patik berada di
Kutai ini sebagai pengimpu tuanku sebagaimana dipesankan oleh ·
dan kehormatan tuanku. Patik bersedia untuk diutus kembali ke Pinang Sendawar memberitahukan tentang rencana perkawinan tuanku dengan Aji Dewa �tri".
Puncan Karna mendengat ucapan dari pengimpunya itu, tun duk tepekur dan hatinya membenarkan segala keterangan pengim
pu itu. Di dalam hati , · dia memuji kearifan pengimpu itu. Dengan
tidak terasa keluarlah
air
matanya membasahi pipinya, teringatkepada ayah-bunda yang jauh dari sisinya. Dia teringat kepada ibunya Muk Bandar Bulan yang mengasihinya lebih daripada sau dara-saudaranya yang lain. Teringat kembali Puncan Kama kepada kampung halamannya, kepada Pinang Sendawar tanah tumpah darahnya. Hatinya tambah gundah. Pengimpunya membiarkan dia melampiaskan tangisnya.
Setelah Puncan Kama mulai dapat meneiiangkan dirinya dari goncangan kenangan indah di masa silam, maka berkatalah dia kepada pengimpunya, "Ya bapakku, anakanda menurut apa yang bapakku sampaikan kepadaku. Anakanda tidak mungkin untuk kembali ke negeri Pinang Sendawar, karena anakanda telah bersumpah untuk tidak kembali lagi. Bapak kuutus untuk mene mui ayah-bundaku dan membentangkan maksud anakanda yang sudah mendapatkan persetujuan dari Maharaja Sultan. Bilamana bapak nanti kembali ke _negef! Kutai ini, maka harap dibawa ba rang-barang yang/dipa_!!�ang perlu, yang menurut adat diperlukan di dalam perkawinan ini''.
Sang pengimpu menyatakan menjunjung perintah Puncan Kama dan memberitahukan, bahwa besok dia akan berangkat mudik menuju negeri Pinang Sendawar .
192
• •• •
BAB XXII
AJI TULUR DIJANGKAT DAN MUK BANDAR BULAN DIPERINTAffKAN OLEH NA YUK SANGHIY ANG
JUATA TONOI KEMBALI KE KAY ANGAN
Aji Tulur Dijangkat dengan isterinya Mule Bandar Bulan, se lama ditinggalkan oleh pulera-puteranya Jeliban Bena dan Puncan Karna, selalu berada di dalam dukacita. Yang sangat menyedih kan hati mereka, ialah tidak ada kabar berita dari anaknya yang tersayang Puncan Karna. Mengenai Jeliban Bena, mereka telah mengetahui, bahwa anaknya itu beserta dengan orang-orang Tun jung yang disuruh mengejarnya telah menetap di suatu kampung
yang bernama Sirau dan menjadi raja di sana atas orang. Bahau.
Pada suatu hari, ketika Aji Tulur Dijangkat sedang dudule ber sama-sama isterinya di Balai Penghadapan dalam Lamin, maka berkatalah Muk Bandar Bulan, "Ya kakandaku, sampai sekarang masih tidak ada kabar berita dari Puncan Karna. Apakah dia sudah sampai di tanah Kutai, apakah dia masih hidup atau mati, sama sekali tidaklah kita ketahui. Setiap hari wajahnya selalu memba yang di m�aku, sehingga aku menanggung rindu yang sangat
ter-, hadapnya". Sehabis berkata demikian Mule Bandar Bulan terisak
. isak menangis.
Aji Tulur Dijangkat turut meneteskan
air
mata. Dia merasa kan kesedihan hati isterinya itu dan menaruh belas-kasihan meli �_keadaannya yang kurang makan dan kurang tidur, sehil}gga terganggu kesehatannya. Dibelai-belainya rambut Mule Bandar Bulan sambil berkata dengan lemah lembut, "Ya adindaku, jangan lah adinda terlalu bersedih hati mengingatkart putera kita Puncan Karna. Semuanya yang terjadi adalah atas perintah dari Nayule Sanghiyang Juata Tonai. Kita tidak bisa mengelakkannya. Dan kini kakanda hendak mengajak adinda untule kembali ke kayang an mendapatkan ayah-bunda kita di sana. Dari kayangan nanti kita akan dapat melihat Puncan Karna setiap waktu �an setiap saat. Negeri Pinang Sendawar ini kita serahkan kepada Sualas Guna, putera kita yang sulung. Kepada dia, kita percayakan untule memirnpm' dan menggantikan kakanda menjadi Raja dita-nah Tunjung ini''.
Mendengar perkataan Aji Tulur Dijangkat itu, Muk Ban dar Bulan menengadahkan mukanya dan sambil menghapus air mata menyahutlah dia dengan tersendat-sendat, "Bila apa yang kakanda kemukakan itu adalah merupakan perintah dari Nayuk Sanghiyang Juata Tonoi, maka adinda akan menurut saja. Adin da sudah tidak kuasa lagi hidup di mayapada ini dengan selalu di rundung sedih. Pulang ke kayangan adalah lebih baik untuk meli pur Iara".
Aji Tulur Dijangkat setelah mendengar persetujuan dari iste rinya itu, segera memanggil Demang dan memberikan perintah untuk mengumpulkan sekalian penduduk negeri Pinang Sendawar di Balai Penghadapan. Juga disuruh panggil kedua puteranya, yak ni Sualas Guna dan Nara Guna serta nenek-nenek mereka Sang kariak dan Kemuduk. dalam waktu yang tidak terlampau lama penuhlah Balai Penghadapan, bahkan seluruh ruangan Lamin. Me reka yang tidak mendapat tempat di dalam Lamin, hanya berdiri di pekarangan saja.
Setelah .semua penduduk terkumpul, baik tua maupun muda, baik lelaki maupun perempuan, maka berdirilah Aji Tulur Dijang kat sambil memandang semua yang hadir. Suasana hening di Balai Penghadapan, tiada yang berani memandang Aji Tulur
,D
ijangkat. Di dalam hati mereka bertanya-tanya, perintah apa yang akan di sampaikan oleh Rajanya itu, atau soal apa yang ingin dikemuka kan sang Raja.Setelah menarik napas panjang beberapa kali, mulailah Aji Tulur Dijangkat berkata, ''Wahai orang tuaku Sangkariak dan Kemuduk, ya anak-anakku Sualas 'Guna dan Nara Guna dan se luruh rakyatku. Kami dua laki-istri mendapat perintah dari Nayuk Sanghiyang Juata Tonoi untuk kembali pulang ke kayangan. Dan mulai ini hari, negeri Pinang Sendawar diserahkan kepada anakan da Sualas Guna dengan dibantu oleh anakanda Nara Guna. Kepada sekalian rakyat Pinang Sendawar hendaklah menurut segala perin tah Rajamu yang baru, yakni Sualas Guna. Berat dan ringan hen daklah dikerjakan dengan hati yang putih bersih.
Selain daripada itu kami dua laki-istri banyak-banyak memin-1 94
ta ampun dan maaf kepada sekalian rakyat Pinang Sendawar, ji kalau ada tersalah dalam titah perintahku. Tutur bahasaku yang kurang menyenangkan haraplah diampuni dan dimaafkan".
Mendengar sabda Raja dari sekalian orang Tunjung ini, maka menangislah semua yang hadir di dalam dan di luar Lamin. Setelah terdiam sejenak, Aji Tulur Dijangkat menoleh kepada kedua anak nya sambil berkata, "Wahai anakku Sualas Guna dan Nara Guna. Sekarang anakku berdua kupercayakan untuk menjadi pimpinan di negeri Sendawar ini. Ayahanda nasihatkan, hendaklah anakanda berlaku adil dan pemurah. Bilamana ada penduduk yang bersalah, maka hendaknya dihukum setimpal dengan kesalahannya. Segala tegi..r sapa anakanda, hendaknya jangan dibedakan antara si kaya dengan si miskin. J angan memandang hina kepada si miskin dan memandang mulia kepada si kaya. Hendaknya selalu berlaku. ·rumah dan peramah kepada sekalian hamba rakyat.
Selanjutnya kami berpesan kepada kedua anakku, bilamana nanti ada sesuatu permintaan dari adikmu Puncan Karna, maka hendaklah dikabulkan permintaannya itu. Jikalau barang yang di minta tidak ada dimiliki oleh kedua anakku, supaya dicarikan pada orang lain sampai barang yang dihajati itu diperoleh. Martabat dari Puncan Karna dilebihkan daripada anak-anakku sekalian oleh Nayuk Sanghiyang Juata Tonoi. Turunannya nanti akan memerin tah di tanah Tunjung ini, bahkan sampai ke tanah Benuaq dan ke tanah Ben tian".
Setelah Sualas Guna dan Nara Guna mendengar segala nasi hat dan pesan Aji Tulur Dijangkat, maka mereka pun lalu berda tang sembah. Berkatalah Sualas Guna, "Harap beribu-ribu ampun, ya ayah-bundaku. Segala nasihat ayahanda, akan anakanda ber dua perhatikan dan diikat erat di dalam hati. Segala pesan ayahan da, tidak akan anakanda berdua lupakan, dijunjung di atas kepala selagi hayat dikandung badan dan akan dikerjakan. Selain dari pada itu, anakanda berdua bermohon jua keredaan ayah-bunda yang selama ini mengasuh dan membesarkan kami. Betapa penat lelah ayah dan bunda yang sudah memelihara kami dari kecil sam pai menjadi dewasa. Kedua anakanda pun memohon kepada bun da agar meredakan air susu bunda yang sudah kami minum yang