BAB I PENDAHULUAN
1.4 Manfaat Penelitian
a. Penelitian ini diharapkan memberikan gambaran tentang literasi digital di masa pandemi Covid-19 dan konsep Individual Competence Framework.
b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang positif dalam mengembangkan teori literasi digital di era pandemi Covid-19.
c. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi di bidang ilmu komunikasi untuk penelitian dan pengembangan lebih lanjut dalam rangka meningkatkan literasi digital di masa pandemi Covid-19.
1.4.2. Manfaat praktis
a. Sebagai bahan masukan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang untuk mengetahui serta meningkatkan literasi digital masyarakat serta mengadakan pelatihan literasi digital dalam menangkal infodemi Covid-19.
b. Bagi penulis, dapat menambah pengetahuan dan pemahaman peneliti tentang literasi digital, terkhusus di era pandemi Covid-19.
c. Bagi peneliti selanjutnya, dengan subjek yang sama hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai rujukan dalam melakukan penelitian.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA 2.1. Perspektif/Paradigma Kajian
Paradigma adalah suatu cara pandang untuk memahami kompleksitas dunia nyata. Paradigma tertanam kuat dalam sosialisasi para penganut dan praktisinya.
Paradigma menunjukkan pada mereka apa yang penting, absah, dan masuk akal.
Paradigma juga bersifat normatif, menunjukkan kepada praktisinya apa yang harus dilakukan tanpa perlu melakukan pertimbangan eksistensial atau epitemologis yang panjang (Mulyana, 2003:9).
Paradigma adalah seperangkat kepercayaan dasar (atau metafisik) yang bermuara kepada tujuan akhir atau keyakinan utama. Paradigma juga merupakan hal normatif yang menjelaskan apa yang harus dilakukan para ilmuwan dan praktisi-praktisi. Paradigma diartikan sebagai “the way we look at the world”, yang menjadi pegangan para ilmuwan dalam melakukan studi-studinya.
Paradigma yang berubah akan turut mempengaruhi realitas yang dipelajari, karena paradigma menentukan observasi (Chandra, 2020).
Penelitian ini menggunakan paradigma positivistik. Positivistik menempatkan teori sebagai titik tolak utama dalam kegiatan penelitiannya. Teori menjadi sumber jawaban utama atas rasa ingin tahu peneliti. Dalam penelitian kuantitatif/positivistik, yang dilandasi pada suatu asumsi bahwa suatu gejala itu dapat diklasifikasikan, dan hubungan gejala bersifat kausal (sebab akibat) (Sugiyono, 2016).
Paradigma positivistik ini merupakan paradigma yang memiliki suatu keyakinan dasar yang berakar dari paham ontologi realisme yang menyatakan bahwa realitas itu ada dalam kenyataan yang berjalan sesuai dengan hukum alam (Gunawan, 2013). Sejalan dengan itu, dengan paradigma ini akan menunjukkan adanya suatu fenomena yang berjalan sesuai dengan realitas.
2.2. Penelitian Terdahulu
Studi tentang literasi media dengan Menggunakan Individual Competence Framework sudah banyak dilakukan di Indonesia, salah satu studi tentang literasi media yang menggunakan Individual Competence Framework adalah penelitian yang dilakukan oleh Juliana Kurniawati dan Siti Baroroh dengan judul Literasi Media Digital Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bengkulu pada tahun 2016. Penelitian tersebut membahas mengenai literasi media digital mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bengkulu yang bertujuan untuk mengetahui pemahaman mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bengkulu mengenai media digital, dan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat individual competence mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bengkulu dalam meliterasi media digital, serta untuk mengetahui faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi tingkat individual competence terkait literasi media digital. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei deskriptif dan mempergunakan teknik analisis data statistik deskriptif untuk menganalisis data penelitian. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa: 1). Pemahaman mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bengkulu mengenai media digital berada pada kategori sedang, 2). Tingkat individual competence mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bengkulu dalam meliterasi media digital berada dalam level basic, 3). Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat individual competence terkait literasi media digital terutama adalah faktor lingkungan keluarga.
Studi selanjutnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Nurly Meilinda, Krisna Murti, dan Novaria Maulina dengan judul Literasi Media Digital Berbasis Individual Competence Framework Pada Anggota Majelis Taklim Kota Palembang Pengguna Whatsapp pada tahun 2019. Penelitian ini bertujuan untuk megetahui tingkat literasi media digital berdasarkan Individual Competence Framework pada anggota Majelis Taklim Kota Palembang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei berdasarkan kerangka Individual Competence Framework dari Europian Commision. Penelitian ini melibatkan 80 responden penelitian dari anggota Majelis Taklim di Kota Palembang. Individual competence anggota Majelis Taklim dalam menggunakan aplikasi WhatsApp berada pada kategori advance, dengan rincian sebagai berikut :
use skill berada pada kategori advance, critical understanding berada pada kategori advance, communicative abilities berada pada kategori advance. Kategori advance berarti anggota Majelis Taklim Kota Palembang sudah sangat aktif dalam penggunaan media, mereka juga sadar dan tertarik dalam berbagai regulasi yang mempengaruhi penggunaan media digital khususnya WhatsApp. Responden telah memiliki pengetahuan yang mendalam tentang teknik dan bahasa serta dapat melakukan hubungan komunikasi dan penciptaan pesan. Di bidang sosial, responden sudah mampu mengaktifkan kerjasama kelompok yang memungkinkan dia untuk memecahkan masalah. Adapun Faktor yang mendorong responden untuk menggunakan WhatsApp yaitu faktor lingkungan dan faktor individu.
Faktor lingkungan adalah dorongan dari anggota keluarga dan orang disekeliling responden, sedangkan faktor individu adalah rasa motivasi untuk dapat bersosialisasi dan menambah informasi bagi diri sendiri.
Penelitian sejenis juga dilakukan oleh Agnes Martines pada tahun 2020 dengan judul Literasi Media Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan literasi media Mahasiswa Ilmu Budaya (FIB) USU dengan menggunakan Individual Competence Framework yang dikeluarkan oleh European Commission. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan mewawancarai delapan orang mahasiswa FIB USU. Teknik penentuan informan yang digunakan adalah teknik purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu. Hasil dari penelitian ini menunjukkan untuk 1) Literasi media dilihat dari Personal Competence (kompetensi personal): (a) Kemampuan teknis mahasiswa FIB USU sudah baikmulai dari kemampuan menggunakan media elektronik dan media online (b) Kemampuan untuk pemahaman kritis belum dilakukan secara kritis dalam hal menganalisis informasi yang ada pada media, sedangkan kemampuan mengevaluasi konten media belum dilakukan secara mendalam karena tidak ada mahasiswa yang membandingkan sumber informasi yang didapat di berbagai media. 2) Literasi media dilihat dari Social Competence (kompetensi Sosial). Mahasiswa FIB USU kurang mampu menciptakan konten media karena belum dilakukan secara rutin hanya untuk memenuhi tugas kuliah yang diberikan oleh dosen, dan mahasiswa cukup aktif
dalam mengkomunikasikan konten media tersebut di media sosial.3) Dari segi Media Availability (ketersediaan media), mahasiswa FIB USU mampu mendistribusikan dan mengakses informasi di media dan dapat berpartisipasi secara aktif dalam urusan publik. 4) Dari segi Media Literacy Context (konteks media literasi) masih kurang baik karena rata-rata mahasiswa FIB USU tidak pernah mengikuti kegiatan pendidikan dan pernah menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya.
Penelitian tentang literasi media dengan menggunakan Individual Competence Framework juga pernah dilakukan oleh Thiara Figlia Chandra pada tahun 2020. Penelitian tersebut berjudul Kesadaran Bermedia Sosial di Kalangan Remaja Kampung Nelayan Belawan. Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk menggambarkan kesadaran bermedia sosial khususnya media sosial Facebook, WhatsApp, dan Instagram di kalangan remaja Kampung Nelayan Belawan.
Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam yang tidak terstruktur. Penelitian ini melibatkan lima orang informan dengan karakteristik remaja berusia 10-24 tahun dan belum menikah yang memiliki media sosial Facebook, WhatsApp dan Instagram dan bertempat tinggal di Kampung Nelayan Belawan. Penelitian ini menggunakan tiga indikator dari Individual Competence Framework, yaitu use skill, critical understanding, dan communication abilities. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial di kalangan remaja Kampung Nelayan Belawan berada di level basic dalam menggunakan ketiga media sosial tersebut. Tiga informan penelitian tidak dapat memahami fitur-fitur yang terdapat dalam media sosial Instagram. Empat informan penelitian tidak melakukan verifikasi ulang (fact check) saat menemukan hoaks sehingga pemahaman kritis remaja akan penanganan konten hoaks masih perlu ditingkatkan. WhatsApp merupakan media sosial yang paling diminati remaja untuk berkomunikasi dengan teman maupun keluarga sedangkan dalam menggunakan media sosial Facebook dan Instagram remaja Kampung Nelayan dapat dikategorikan sebagai pengguna pasif yang hanya senang menikmati konten-konten yang ada di beranda mereka dibandingkan turut membagikan kiriman di media sosial mereka.
Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan tingkat literasi media di Indonesia yang diukur menggunakan tingkat Individual Competence Framework, namun dari penelitian-penelitian tersebut penulis belum menemukan penelitian literasi digital menggunakan Individual Competence Framework yang membahas tentang infodemi di masa pandemi Covid-19. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk meneliti literasi digital di masa pandemi Covid-19 pada masyarakat Desa Paya Bedi Kabupaten Aceh Tamiang.
2.3. Kajian Pustaka
Pengkajian teori tidak akan terlepas dari kajian pustaka atau studi pustaka, karena teori secara nyata dapat diperoleh melalui studi atau kajian kepustakaan.
Nazir (2005: 93) menyatakan bahwa studi kepustakaan atau studi literatur, selain dari mencari sumber data sekunder yang akan mendukung penelitian, juga diperlukan untuk mengetahui sampai ke mana ilmu yang berhubungan dengan penelitian telah berkembang, sampai ke mana terdapat kesimpulan dan generalisasi yang pernah dibuat sehingga situasi yang diperlukan diperoleh.
Kajian pustaka juga merupakan acuan atau landasan berpikir peneliti dengan berbasis pada bahan pustaka yang membahas tentang teori atau hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang akan dijalankan. Dalam hal ini, kajian pustaka bersumber pada buku, jurnal ilmiah, serta informasi yang bersumber dari internet.
2.3.1. Pengertian Literasi Media
Literasi media belakangan menjadi objek kajian yang ramai dan mulai diminati oleh peneliti di bidang komunikasi, literasi, dan media. Literasi media berasal dari bahasa Inggris yaitu ―Media Literacy” yang terdiri dari dua suku kata, yakni “media” yang berarti media tempat bertukar pesan dan ―literacy” yang berarti melek, kemudian dikenal dalam istilah literasi media. Dalam hal ini literasi media merujuk kemampuan khalayak yang melek terhadap media dan pesan media massa dalam konteks komunikasi massa. (West dan Turner, 2013).
Potter (2019) mengatakan bahwa media literacy is a set of perspectives that we actively use to expose ourselves to the media and interpret the meaning of the messages we encounter. (Literasi media adalah sekumpulan perspektif yang kita gunakan secara aktif untuk mengekspos diri kita ke media dan menafsirkan makna pesan yang kita temui). Potter menekankan bahwa literasi media dapat dibangun dari personal locus, struktur pengetahuan dan skill. Personal locus merupakan tujuan dan kendali kita akan informasi. Ketika kita sadar akan informasi yang dibutuhkan, maka kesadaran untuk melakukan proses pemilihan informasi akan dilakukan secara lebih tepat. Struktur pengetahuan merupakan seperangkat informasi yang terorganisasi dalam pikiran. Struktur pengetahuan yang kuat diperlukan untuk mengenali efek media, isi mediaa, industri media, dunia nyata, dan diri sendiri. sementara skill adalah alat yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan literasi media.
Baran (2004) mendefenisikan literasi media sebagai ―media literacy, then, is about understanding the sources and technologies of communication, the codes that are used, the message that are produced, and the selection, interpretation, and impact of those message‖, yang berarti literasi media adalah tentang bagaimana memahami isi, sumber dan segala teknologi komunikasi, dan segala kode yang digunakan, serta proses pemilihan dan cara menginterpretasikan suatu pesan secara merata sehingga dapat dipahami oleh khalayak bagaimana dampak dari informasi terhadap dirinya. Sementara, menurut Komisi Eropa (European Commision) literasi media adalah kemampuan untuk mengakses, memahami dan mengevaluasi secara kritis beragam aspek yang berbeda dari media dan konteks media serta mengkomunikasikannya di dalam konteks yang beragam. Ini terkait dengan seluruh media, termasuk televisi dan film, radio dan musik rekaman, media cetak, internet dan teknologi digital lainnya (dalam Mazdalifah, 2019).
Mazdalifah (2019) juga menyebutkan bahwa beberapa ahli lain mengedepankan bentuk pemberdayaan (empowerment) dalam literasi media, seperti Devito karena dapat membantu masyarakat untuk menggunakan media dengan lebih cerdas; kita bisa memahami, menganalisis dan mengevaluasi pesan-pesan media dengan lebih efektif; kita bisa mempengaruhi pesan-pesan-pesan-pesan yang akan disampaikan oleh media; dan kita bisa menciptakan pesan-pesan yang akan
disampaikan oleh media; dan kita bisa menciptakan pesan-pesan yang dimediasi oleh kita sendiri.
Potter (2019) menyebutkan bahwa untuk memperjelas gagasan tentang literasi media lebih jauh, ada dua karakteristik terpentingnya. Pertama, literasi media merupakan konsep multidimensi dengan banyak segi yang menarik. Kedua, literasi media adalah sebuah kontinum, bukan kategori. Literasi media bersifat multidimensi diterjemahkan sebagai kumpulan perspektif yang terdiri dari empat dimensi yang sangat berbeda, yakni kognitif, emosional, estetika, dan moral.
Masing-masing dari empat dimensi ini berfokus pada domain pemahaman yang berbeda. Dimensi kognitif memusatkan perhatian kita pada informasi faktual — tanggal, nama, definisi, dan sejenisnya. Dimensi emosional memfokuskan perhatian kita pada bagaimana kita memandang perasaan orang dalam pesan media dan bagaimana kita membaca perasaan kita sendiri itu. Dimensi estetika memfokuskan perhatian kita pada seni dan kerajinan yang dipamerkan dalam produksi pesan media, dan dimensi moral memusatkan perhatian kita pada nilai-nilai.
Konsep yang kedua menjelaskan bahwa literasi media adalah sebuah kontinum, bukan kategori. Literasi media paling baik dianggap sebagai sebuah kontinum, seperti termometer, yang memiliki derajat. Kita semua menempati posisi tertentu dalam kontinum literasi media. Tidak ada poin di bawah ini yang dapat kami katakan bahwa seseorang tidak dapat membaca, dan tidak ada poin di ujung atas kontinum di mana kami dapat mengatakan bahwa seseorang benar-benar melek huruf; selalu ada ruang untuk perbaikan. Orang-orang diposisikan di sepanjang kontinum itu berdasarkan kekuatan perspektif mereka terhadap media.
Kekuatan seperangkat perspektif seseorang tercermin dari jumlah dan kualitas struktur pengetahuan. Dan kualitas struktur pengetahuan didasarkan pada tingkat keterampilan dan pengalaman seseorang. Karena orang sangat bervariasi dalam hal keterampilan dan pengalaman, mereka akan bervariasi dalam jumlah dan kualitas struktur pengetahuan mereka. Karenanya, akan ada variasi besar literasi media di antara orang-orang. Orang yang beroperasi pada tingkat literasi media yang lebih rendah memiliki lebih sedikit perspektif tentang media, dan perspektif tersebut didukung oleh struktur pengetahuan yang berisi sedikit informasi dan
kurang terorganisir. Dengan demikian, orang-orang di tingkat melek media yang lebih rendah memiliki kemampuan yang lebih rendah untuk memahami media, untuk menghargai kelebihan mereka yang luar biasa, dan untuk melindungi diri dari risiko berbahaya. Orang-orang ini juga biasanya enggan atau tidak mau menggunakan keterampilan mereka, yang tetap terbelakang dan oleh karena itu lebih sulit untuk berhasil dipekerjakan.
Pakar komunikasi Art Silverblatt (1995), mengemukakan upaya sistematis untuk menjadikan literasi media sebagai bagian dari orientasi terhadap budaya khalayak. Silverblatt, mengidentifikasi lima elemen literasi media, yaitu:
a. Kesadaran akan dampak media pada individu dan masyarakat.
b. Pemahaman atas proses komunikasi massa.
c. Pengembangan strategi untuk menganalisis dan mendiskusikan pesan media.
d. Kesadaran atas konten media sebagai sebuah teks yang memberikan pemahaman kepada budaya kita dan diri kita sendiri.
e. Pemahaman kesenangan, pemahaman dan apresiasi yang ditingkatkan terhadap konten media.
2.3.2. Tujuan Literasi media
Tujuan dari literasi media menurut Rahmi (2013) adalah:
1. Membantu pengguna media untuk mengembangkan pemahamannya dalam menggunakan media dengan baik.
2. Membantu pengguna media untuk mengendalikan pengaruh media dalam kehidupan sehari-hari.
3. Pengendalian dimulai dengan kemampuan untuk mengetahui perbedaan antara pesan media yang dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang dengan pesan media yang merusak.
Literasi media akan membantu pengguna dalam menggunakan media dengan baik, apalagi di tengah derasnya informasi di masa pandemi. Seseorang juga harus mengetahui perbedaan antara pesan media yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya dengan pesan media yang merusak, terkhusus informasi yang berisi seputar pandemi. Derasnya informasi seputar pandemi membuat masyarakat bingung apakah informasi yang diterimanya sudah terverifikasi atau tidak sehingga terkadang mereka menyebarkannya begitu saja kepada orang lain.
Fenomena ini, jika tidak diikuti dengan kemampuan literasi media yang baik akan
merusak masyarakat karena seseorang yang sudah terpapar infodemi yang tidak terverifikasi bisa saja terdoktrin bahwa virus Corona merupakan virus konspirasi yang sebenarnya tidak bahaya, sehingga mengabaikan protokol kesehatan, hingga mengakibatkan seseorang tersebut tidak ingin divaksin dan kemudian merugikan sekitarnya karena dapat dirinya menularkan virus kepada orang lain.
Menurut Potter (2010) tujuan dari literasi media adalah untuk membantu orang-orang melindungi diri mereka dari efek yang berpotensi negatif bagi kehidupannya. Tujuan literasi media tersebut adalah untuk mendapatkan pengendalian yang lebih besar atas pengaruh dalam kehidupan seseorang, khususnya yang konstan pengaruh dari media massa. Pengaruh media yang lemah dan halus pun penting di pertimbangkan, mengingat sifat pengaruh media yang luas di seluruh budaya, seiring dengan tingginya tingkat penggunaan media oleh semua orang dengan berbagai bentuk media selama hidup seseorang.
Maka dari beberapa tujuan literasi media diatas dapat disederhanakan yakni untuk perbaikan dan peningkatan individu-individu dalam kehidupan bermedia, literasi media juga dapat dijadikan sebagai gerakan sosial untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang.
2.3.3. Elemen Literasi Media
Kata elemen menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring berarti bagian (yang penting, yang dibutuhkan) dari keseluruhan yang lebih besar (KBBI Daring, 2021). Berbicara mengenai elemen maka kita akan melihat beberapa bagian dasar yang mendasari sebuah aktifitas literasi media.
Mazdalifah dan Yovita (2019) menyebutkan bahwa terdapat delapan elemen literasi media menurut Baran (2004), yakni:
1. Kesadaran akan pengaruh media terhadap individu dan sosial (a critical thinking skill enabling audience members to develop independent judgement about media content)
2. Pemahaman akan proses komunikasi massa (an understanding of the process of mass communication)
3. Kesadaran terhadap dampak media terhadap individu dan sosial (An awareness of the impact of the media on the individual and society).
4. Pengembangan strategi untuk menganalisis dan mendiskusikan pesan media (strategies for analyzing and discussing media messages).
5. Kesadaran bahwa isi media adalah teks yang menggambarkan kebudayaan dan diri kita sendiri pada saat ini (an understanding of media content as a text that provides insight into our culture and our lives).
6. Kemampuan untuk menikmati, memahami dan mengapresiasi isi media (the ability to enjoy, understand, and appreciate media content).
7. Pengembangan kemampuan produksi yang tepat dan efektif (development of effective and responsible production skills).
8. Pemahaman akan etika dan kewajiban moral dari praktisi media (an understanding of ethical and moral obligations of media practitioners).
Elemen literasi media yang dijelaskan oleh Silverblatt di atas menunjukkan bahwa: pertama, keterampilan berpikir kritis tentu akan membantu individu dalam memilah konten yang disajikan oleh media, terkhusus konten yang menyajikan informasi Covid-19. Konten-konten tentang infodemi Covid-19 yang beredar di media sosial membuat masyarakat resah dan ketakutan sehingga apabila tidak dibarengi dengan kemampuan literasi media yang baik masyarakat akan kesulitan untuk memilah informasi yang mereka terima seputar pandemi sehingga mereka akan mudah termakan hoaks tentang pandemi. Elemen pertama ini juga penting diterapkan agar masyarakat dapat mengenal dengan baik setiap informasi yang mereka terima seputar Covid-19, sehingga mereka dapat mengkatagorikan informasi-informasi yang mereka terima ke dalam informasi yang kredibel dan tidak kredibel. Keterampilan berpikir kritis ini juga membantu individu dalam memberi penilaian terhadap media. Berpikir secara kritis merupakan salah satu elemen penting yang harus dimiliki agar seseorang dapat memberikan penilaian terhadap media dan konten media yang dikonsumsinya.
Kedua, individu yang memiliki pemahaman terhadap komponen-komponen dari komunikasi massa dan keterkaitan dari setiap komponennya, akan membentuk keyakinan individu kepada media dalam memberikan pelayanan kepada penggunanya. Sebaliknya, individu yang mengabaikan dampak dari media cenderung tidak memiliki kemampuan untuk memilah informasi yang diterimanya. Hal tersebut akan menjadikan dirinya dengan mudah termakan isu-isu yang ditampilkan oleh media.
Ketiga, individu harus memiliki kesadaran terhadap dampak media yang akan menerpa diri dan kehidupan sosialnya. Jika individu mengabaikan dampak dari media, maka ia akan cenderung dengan mudah mempercayai semua isu yang
dipaparkan oleh media sehingga sulit untuk mengenali suatu informasi yang diterimanya. Hal tersebut akan menjadikan individu dengan mudah terpapar hoaks.
Keempat, individu harus mengembangkan strategi dalam menganalisis dan mendiskusikan pesan media. Pemahaman terhadap dampak dari informasi, terkhusus mengenai Covid-19 (seperti gejala dan vaksin) harus dimiliki agar individu dapat dengan mudah memilah pesan-pesan yang diterimanya.
Kelima, mengetahui sebuah sosial budaya sesorang berarti turut memahami sikap serta nilai-nilai seseorang melalui komunikasi. Dalam budaya modern, pesan-pesan media telah mendominasi aktivitas komunikasi, membentuk pemahaman dan pandangan dalam budaya.
Keenam, mengembangkan kemampuan literasi media harus diikuti dengan kemampuan memahami dan menghargai konten media. Individu yang memiliki pemahaman tersebut akan mudah mengenali dampak dari informasi yang diterimanya.
Ketujuh, literasi tidak hanya terkait dengan pemahaman tentang isi media yang efektif dan efisien, tetapi juga penggunaan yang efektif dan efisien pula, oleh
Ketujuh, literasi tidak hanya terkait dengan pemahaman tentang isi media yang efektif dan efisien, tetapi juga penggunaan yang efektif dan efisien pula, oleh