BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Salah satu kegiatan penelitian adalah pengumpulan data. Kegiatan pengumpulan data dilakukan dengan teknik tertentu dan menggunakan alat tertentu yang sering disebut instrumen penelitian. Data yang diperoleh dari proses tersebut kemudian dihimpun, ditata, dianalisis untuk menjadi informasi yang dapat menjelaskan suatu fenomena atau keterkaitan antara fenomena. (Kuntjojo, 2009).
Teknik pengumpulan data adalah cara yang digunakan dalam suatu penelitian untuk mengumpulkan data. Pengumpulan data kualitatif menurut Lincoln & Guba (dalam Salim & Syahrum, 2012), menggunakan wawancara, observasi dan dokumen. Wawancara, observasi berperanserta (participant observation) dan kajian dokumen saling mendukung dan melengkapi dalam memenuhi data yang diperlukan sebagaimana fokus penelitian.
Teknik pengumpulan data dan instrumen pengumpulan data merupakan faktor penting demi keberhasilan penelitian. Hal ini berkaitan dengan bagaimana cara mengumpulkan data, siapa sumbernya dan apa alat yang digunakan. Metode pengumpulan data merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk megumpulkan data. Metode menunjuk suatu cara sehingga dapat diperlihatkan penggunaannya melalui angket, wawancara, pengamatan, tes, dokumentasi, dan sebagainya. Sedangkan instrumen pengumpulan data merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data. Karena berupa alat, maka instrumen dapat berupa lembar cek list, kuisioner (angket terbuka/tertutup), pedoman wawancara dan lainnya.
Menurut Sugiyono (2016) jika dilihat dari sumbernya maka data terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data Primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari hasil wawancara, observasi dan kuesioner yang disebarkan kepada sejumlah sampel responden yang sesuai dengan target sasaran dan dianggap mewakili seluruh populasi yang dalam penelitian ini yaitu masyarakat Desa Paya Bedi Kabupaten Aceh Tamiang.
Data primer menurut Sugiyono (2016) terdiri dari studi lapangan, observasi, wawancara, dan kuesioner. Studi lapangan adalah mencari dan memperoleh data dari konsumen sebagai responden yang penulis teliti. Observasi adalah melakukan
pengamatan langsung dan mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan peneletian secara lansung. Wawancara digunakan peneliti untuk melakukan studi pendahuluan untuk mengemukakan permasalahan yang harus diteliti, dan juga peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit dengan melakukan wawancara langsung. Kuesioner digunakan peneliti dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sudah disiapkan secara tertulis dengan menyebar angket dan disertai dengan alternatif jawaban yang akan diberikan kepada responden. Sedangkan data sekunder merupakan data yang diperoleh dari pihak lain secara tidak langsung, memiliki hubungan dengan penelitian yang dilakukan berupa sejarah perusahaan, ruang likup perusahaan, struktur organisasi, buku, literatur, artikel, serta situs di internet.
Data sekunder terdiri dari studi kepustakaan yang diperoleh melalui literatur-literatur yang digunakan sebagai bahan referensi untuk menyusun kajian pustaka atau teori-teori penelitian serta bisa diperoleh dari buku yang akan digunakan sesuai dengan kebutuhan peneliti.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara mendalam (indepth interview). Sementara instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini berupa pedoman wawancara. Penulis menggunakan pedoman wawancara untuk mengumpulkan data atau pun informasi yang dibutuhkan dalam penelitian.
Salim dan Syahrum (2012) juga menyebutkan bahwa pengumpulan data dengan menggunakan observasi berperanserta ditunjukkan untuk mengungkapkan makna suatu kejadian dari setting tertentu, yang merupakan perhatian essensial dalam penelitian kualitatif. Observasi dalam penelitan ini dilakukan oleh penulis dengan mengamati masyarakat Desa Paya Bedi Kabupaten Aceh Tamiang saat mengakses informasi terkait pandemi Covid-19 melalui smartphone mereka.
Teknik lainnya selain observasi berperanserta yang peneliti digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam. Wawancara terhadap informan sebagai sumber data dan informasi dilakukan dengan tujuan penggalian informasi tentang fokus penelitian. Menurut Bogdan dan Biklen (1982) wawancara adalah percakapan yang bertujuan, biasanya antara dua orang (tetapi kadang-kadang lebih
Menurut Moleong (2007) wawancara mendalam merupakan proses menggali informasi secara mendalam, terbuka, dan bebas dengan masalah dan fokus penelitian dan diarahkan pada pusat penelitian. Dalam hal ini metode wawancara mendalam yang dilakukan dengan adanya daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Wawancara juga dapat diklasifikasikan berdasarkan strukturnya yaitu wawancara tertutup dan terbuka. Wawancara tertutup dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang difokuskan pada topik tertentu, sedangkan wawancara terbuka peneliti memberikan kebebasan dan mendorong subjek untuk berbicara secara luas serta isi pembicaraan lebih banyak ditentukan oleh subjek. Wawancara tak terstruktur sering juga disebut wawancara mendalam, wawancara intensif, wawancara kualitatif, dan wawancara terbuka (opened interview), wawancara etnografis; sedangkan wawancara terstruktur sering juga disebut wawancara buku (standardized interview), yang susunan pertanyaannya sudah ditetapkan sebelumnya (biasanya tertulis) dengan pilihan-pilihan jawaban yang juga sudah disediakan (Salim dan Syahrum, 2012).
Wawancara dalam penelitian ini dilakukan bersama empat orang informan yang dimulai pada tanggal 11 Mei 2021. Empat orang informan tersebut terdiri dari mahasiswa, pelajar, pegawai swasta, dan ibu rumah tangga.
3.5.1. Penentuan Informan
Informan dalam penelitian ini memiliki kriteria yang khas, yaitu masyarakat Desa Paya Bedi Kabupaten Aceh Tamiang yang merupakan pengguna media sosial yang mengakses informasi Covid-19 melalui media sosial dan mewakili berbagai kalangan, sepert pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga dan pekerja swasta.
3.5.2. Keabsahan Data
Penelitian kualitatif harus mengungkapkan kebenaran yang objektif, karena itu keabsahan data dalam sebuah penelitian kualitatif sangatlah penting.
Keabsahan data dilakukan untuk membuktikan apakah penelitian yang dilakukan benar-benar merupakan penelitian ilmiah sekaligus untuk menguji data yang diperoleh.
Keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian (Moloeng, 2007). Triangulasi dapat dilakukan dengan menggunakan teknik yang berbeda (Nasution, 2003) yaitu wawancara, observasi, dan dokumen. Selain digunakan untuk mengecek kebenaran data, triangulasi juga dilakukan untuk memperkaya data. Menurut Nasution, triangulasi juga dapat berguna untuk menyelidiki validitas tafsiran peneliti terhadap data, karena itu triangulasi bersifat reflektif.