BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
Penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti mengenai literasi digital di era infodemi Covid-19 (Studi penggambaran Individual Competence Framework literasi digital di masa pandemi Covid-19 pada anggota masyarakat Desa Paya Bedi Kabupaten Aceh Tamiang), maka peneliti ingin memberikan saran yang dapat bermanfaat untuk berbagai pihak, yakni:
1. Saran teoritis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi pada pengembangan teori yang digunakan dalam literasi media khususnya dalam media sosial di masa pandemi Covid-19.
2. Saran akademis, mahasiswa Ilmu Komunikasi maupun kalangan yang lebih luas, diharapkan lebih mendalami isu literasi media dan mengembangkan teori-teori literasi media sehingga dapat menciptakan suatu pengukuran literasi media yang lebih akurat yang disesuaikan dengan situasi terkini.
3. Saran praktis, pemahaman masyarakat mengenai literasi media di masa pandemi Covid-19 perlu ditingkatkan melalui pengadaan kegiatan pengabdian masyarakat ataupun penyuluhan. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman literasi media masyarakat ke level medium hingga advance.
DAFTAR REFERENSI
Abdulsyani. (2002). Sosiologi Skematika, Teori, dan Terapan. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Andi Prastowo. (2010). Menguasai Teknik-teknik Koleksi Data Penelitian.
Kualitatif. Jogjakarta: DIVA Press.
Andres Kaplan & Michael HaenLein. (2010). User Of The World, Unite! The Challenges and Opportunities Of Social Media. Business Horizon Vol. 53 No. 1, pp. 59-68.
Baran, Stanley J, (2004). Introduction to Mass Communication: Media Literacy and Culture 3rd Edition. New York: McGraw-Hills.
Basrowi dan Sukidin. (2002). Metode Penelitian Kualitatif Perspektif Mikro.
Surabaya: Insan Cendikia.
Bogdan, Robert C. dan Sari Knop Biklen. (1982). Qualittaive Research for Education. London: Allyn and Bacon, Inc.
Chandra, Thiara Figlia. (2020). Kesadaran Bermedia Sosial Di Kalangan Remaja Kampung Nelayan Belawan. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Universitas Sumatera Utara.
Cinelli, M., et. al. (2020). The Covid-19 Social Media Infodemic. Diakses pada 8 April 2021, dari https://arxiv.org.
CNN Indonesia. (2020). Netflix Dulang 15,7 Juta Pelanggan Baru kala Pandemi.
diakses pada 25 Maret 2021 dari
https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20200422143905-220-496116/netflix-dulang-157-juta-pelanggan-baru-kala-pandemi.
CoMuNeLab. (2020). Covid-19 Infodemics Observatory. Diakses pada 25 Maret 2021, dari https://covid19obs.fbk.eu/#/.
Conney Stephanie. (2021). Hal yang Dicari Netizen Indonesia di Google Terkait Virus Corona. Kompas. Diakses pada 25 Maret 2021, dari https://tekno.kompas.com/read/2021/02/25/14390087/7-hal-yang-dicari-netizen-indonesia-di-google-terkait-virus-corona?page=all.
Dharma, Alexander Arie Sanata dan Azhar Kasim. 2021. Infodemi Covid-19 dalam Perspektif Open Government: Sebuah Tinjauan Literatur. Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan, 6(1): 105-125.
European Commission. (2009). Study on Asessment Criteria for Media Literacy Levels.
Fabianus, Fensi. (2018). Fenomena Hoax: Tantangan terhadap Idealisme Media dan Etika Bermedia. Bricolage, Jurnal Magister Ilmu Komunikasi, 8(2):
133-148.
Fahmi Anwar. (2017). Perubahan dan Permasalahan Media Sosial. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni, 1(1):137-144.
Ferry Andika. (2020). Pencarian Seputar Virus Corona Meningkat Sangat Tinggi di Google. Indozone. Diakses pada 25 Maret 2021, dari https://www.indozone.id/tech/DNsYqk/pencarian-seputar-virus-corona-meningkat-sangat-tinggi-di-google-saat-ini/read-all.
Handayani, Rina Tri., dkk. (2020). Pandemi Covid-19, Respon Imun Tubuh, Dan Herd Immunity. Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal, 10(3): 373 – 380.
Hardani, dkk. (2020). Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Yogyakarta:
Pustaka Ilmu.
Hobbs, R. (1996). Media Literacy, Media Activism. Telemedium, the Journal of Media Literacy, 42(3).
Holilah, Ilah. (2016). Dampak Media terhadap Perilaku Masyarakat. Jurnal Studi Gender dan Anak, 3(1): 103-114.
Iman Gunawan. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Teori dan Praktik. Jakarta:
PT Bumi Aksara.
Iriantara, Yosal. (2011). Hubungan Media: Konsep, Pendekatan dan Praktik.
Bandung: Remaja Rosdakarya
Islam, M. S., dkk. (2020). Covid-19 Related Infodemic and its Impact on Public Health: A Global Social Media Analysis. The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene, 103(4): 16-21.
Jan H. Kietzmann, Kristopher Hermkens, Ian McCarthy and Bruno S. Silvestre.
(2011). Social media? Get serious! Understanding the functional building blocks of social media. Business Horizons, 4(3), 241-251.
Kaplan, Andreas M dan Michael Haenlein. (2010). Users of the World Unite! The Challenges and Opportunites of Social Media. Bussiness Horizon.
Karo, Marni Br. 2020. ―Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Strategi Pencegahan Penyebaran Virus Covid-19‖. Prosiding dari Seminar Nasional Hardiknas: 1-4.
Kemendikbud. (2021). KBBI Daring Kemendikbud. Diakses pada 30 Juli 2021 dari https://kbbi.kemdikbud.go.id.
Kementrian Kominfo. (2021). Kominfo Mencatat Sebanyak 1.028 Hoaks Tersebar terkait COVID-19. Diakses pada 30 Juli 2021, dari https://kominfo.go.id/content/detail/28536/kominfo-mencatat-sebanyak-1028-hoaks-tersebar-terkait-covid-19/0/sorotan_media.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Kulkarni, P., Prabhu, S., D, S. K., & Ramraj, B. (2020). Covid-19-infodemic overtaking pandemic? Time to disseminate facts over fear. Indian Journal of Community Health, 32(2 Special Issue), 264–268.
Kuntjojo. (2009). Metodologi Penelitian. Kediri: Universitas Nusantara PGRI.
Kurniawati, Juliana dan Siti Baroroh. (2016). Literasi Digital Mahasiswa Universitas Bengkulu. Jurnal Komunikator, 8(2), 51-66.
Martinez, Agnes. (2020). Literasi Media Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Universitas Sumatera Utara.
Mazdalifah dan Yovita Sabarina Sitepu. (2019). Literasi Media Berbasis Kearifan Lokal di Sumatera Utara. Medan: Yayasan Al Hayat.
McMillan, J.H. and Schumacher, S.S. (1997). Research in Education: A Conceptual Introduction. Longman, New York.
Meilinda, Nurly, Krisna Murti dan Novaria Maulina. (2019). Literasi Media Digital Berbasis Individual Competence Framework pada Anggota Majelis Taklim Kota Palembang Pengguna Whatsapp. MetaCommunication;
Journal Of Communication Studies, 4(2), 169-181.
Merriam Webster. (2020). Infodemic: An Epidemic of Information | Merriam-Webster. Diakses pada 28 Februari 2021, dari https://www.merriam-webster.com/words-at-play/words-were-watchinginfodemic-meaning.
Moleong, Lexy J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Morens, D. M., Folkers, G. K. dan Fauci, A. S. (2009). What Is a Pandemic?. The Journal of Infectious Diseases, 200(7): 1018–1021.
Mulyana, Deddy. (2003). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nasrullah, Rulli. (2016). Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Nasution. (2003). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.
Natoatmodjo, Soekidjo. (2007). Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta:
Rineka Cipta.
Nazir, Moh. (2005). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Novianti, Dewi dan Siti Fatonah. (2018). Literasi Media Digital di Lingkungan Ibu-Ibu Rumah Tangga di Yogyakarta. Jurnal Ilmu Komunikasi, 16 (1): 1-14
Patton, Q. M. (1987). How to use qualitative methods in evaluation. New Dehli:
Sage Publications.
Potter, W. James. (2019). Media Literacy. United Kingdom: Sage Publication.
Priyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif. Sidoarjo: Zifatama Publishing.
Rahmi A, 2013. Pengenalan Literasi Media pada anak usia sekolah dasar. Jurnal Studi Gender, 8(2).
Retnowati, Yuni. (2015). Urgensi Literasi Media untuk Remaja sebagai Panduan Mengkritisi Media Sosial. Jurnal Perlindungan Anak dan Remaja, 314-331.
Rothkopf, D.J. (2003). When the Buzz Bites Back-The Washington Post. Diakses
pada 28 Februari 2021, dari
https://www.washingtonpost.com/archive/opinions/2003/05/11/when-the-buzz-bitesback/bc8cd84f-cab6-4648-bf58-0277261af6cd/.
Rubin, A. (1998). Media Literacy: Editor‘s Note. Journal of Communication, 48(1), 3–4.
Salim dan Syahrum. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:
Citapustaka Media.
Samsudin, S. (1977). Dasar Penyuluhan Pertanian dan Modernisasi. Bandung:
Banacipta.
Silverblatt, Art. (1995). Media literacy: Keys to Interpreting Media Messages.
London: Praeger.
Soerjono Soekanto. (1982). Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: Universitas.
Indonesia Press.
Sohrabi, C., dkk. (2020). World Health Organization Declares Global Emergency:
A Review of The 2019 Novel Coronavirus (Covid-19). International Journal of Surgery, 76, 71–76.
Soleman B. Taneko. (1984). Struktur Dan Proses Sosial; Suatu Pengantar.
Sosiologi Pembangunan. Jakarta: Rajawali.
Subagyo, P. Joko. (2015). Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek. Jakarta:
Rineka Cipta.
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sulaeman, S., & Supriadi, S. (2020). Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Desa Jelantik Dalam Menghadapi Pandemi Corona Virus Diseases–19 (Covid-19). Jurnal Pengabdian UNDIKMA, 1(1): 12-17.
Sutrisna, I Putu Gede. 2020. Gerakan Literasi Digital Pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal IKIP PGRI Bali, 8 (2): 268-283
Tim Peneliti PKKMB. (2013). Model-model Gerakan Literasi Media dan Pemantauan Media di Indonesia. Yogyakarta: Yayasan Tifa Foundation.Tripodi, Tony., Fellin, Phillip., Henry J. Meyer. (1996). The Assessment of Social Research. Illinois: F.E. Peacock Publishers.
Usman, Husaini. Akbar, Purnomo Setiady. (2009). Metode Penelitian Sosial.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
We Are Social. (2020). Global Digital 2020. Diakses pada 26 Maret 2021 dari www.wearesocial.com.
West, Richad dan Lynn H. Turner. 2013. Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika.
World Health Organization. (2020). Novel Coronavirus. In World Health Organization Situation Report 13. Diakses pada 26 Maret 2021 dari https://www.who.int/docs/defaultsource/coronaviruse/situationreports/2020 0202-sitrep-13-ncov-v3.pdf.
World Health Organization. (2020). WHO: What is A Pandemic?. Diakses pada 3
April 2021 dari
www.who.int/csr/disease/swineflu/frequently_asked_questions/pandemic/en /.
Wu, Z., & McGoogan, J. M. (2020). Characteristics of and Important Lessons From the Coronavirus (COVID-19) Outbreak in China: Summary of a Report of 72 314 Cases From the Chinese Center for Disease Control and Prevention. Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan, 6(1).
LAMPIRAN Lampiran 1 : Pedoman Wawancara
Lampiran 2 : Transkrip Wawancara
Lampiran 3 : Transkrip Wawancara Triangulasi Lampiran 4 : Dokumentasi Wawancara
Lampiran 5 : Biodata Penulis
Lampiran 6 : Lembar Bimbingan Skripsi
Lampiran 1 : Pedoman Wawancara
Pedoman Wawancara
Literasi Media Internet di Masa Pandemi Covid-19 A. Identitas Responden
Nama :
Usia :
Jenis Kelamin : Pekerjaan : Pendidikan : Merk Gadget : B. Pertanyaan
a. Umum
1. Apa saja media yang anda miliki saat ini?
2. Media apa saja yang anda gunakan sehari-hari untuk mengakses berita terkait virus Corona?
3. Apa alat yang anda gunakan dalam mengakses media sosial?
b. Penggunaan media (use skills)
1. Apakah anda memiliki akun media sosial?
2. Media sosial apa saja yang anda miliki saat ini?
3. Apakah anda paham akan fitur-fitur yang terdapat di media sosial yang anda gunakan?
4. Di antara semua fitur, mana yang paling sering anda gunakan?
5. Platform media sosial apa yang paling sering anda kunjungi dalam mengakses berita terkait virus Corona?
6. Berapa lama anda menghabiskan waktu mengakses media sosial untuk mengakses informasi mengenai virus Corona dalam sehari?
7. Kapan anda paling aktif mencari informasi mengenai virus Corona di media sosial?
8. Apa yang paling sering anda cari tentang virus Corona tiap kali mengakses media sosial?
9. Apakah berbeda media sosial, berbeda tujuan untuk mencari informasi mengenai virus Corona?
10. Media sosial apa yang paling sering anda gunakan dalam mengakses informasi terkait virus Corona?
c. Pemahaman kritis akan konten media sosial (critical understanding) 1. Banyak sekali informasi yang beredar di media sosial terkait virus
Corona, apakah anda memercayai semua informasi tersebut?
2. Apakah anda dapat membedakan informasi terkait virus Corona antara yang akurat dengan yang hoaks?
3. Apakah anda melakukan verifikasi ulang atau fact check untuk dapat memastikan informasi mengenai virus Corona yang anda terima akurat?
4. Bagaimana sikap anda ketika menerima berita hoax di media sosial?
d. Kemampuan komunikasi menggunakan media (communicative abbilities) 1. Apakah anda mengomentari kiriman orang lain mengenai virus
Corona di media sosial?
2. Apakah anda pernah membagikan kembali kiriman yang anda terima dari orang lain mengenai virus Corona di media sosial?
3. Apakah anda tergabung dalam grup di media sosial yang membahas tentang isu-isu kesehatan dunia dan virus Corona saat ini?
Lampiran 2 : Transkrip Wawancara Informan 1 Hari/Tanggal : Selasa, 11 Mei 2021
Waktu : 11.00 – 12.05 WIB Tempat : Rumah Informan
Informan pertama dalam penelitian ini bernama Husna atau yang akrab disapa Una. Una merupakan mahasiswi Universitas Syiah Kuala jurusan Pendidikan Fisika yang berada di tahun terakhir dunia perkuliahan. Una merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya merupakan kepala dinas pendidikan Kabupaten Aceh Tamiang, sementara ibunya merupakan seorang tenaga pendidik yang mengajar bidang studi fisika di SMP Negeri 3 Kejuruan Muda Aceh Tamiang.
Pertanyaan
Peneliti : Una pakai media sosial apa aja sekarang?
Una : Aku sekarang pakai Instagram, Whatsapp (WA), Twitter, YouTube, TikTok.
Peneliti : Dari semua media sosial tersebut, mana yang paling sering digunakan?
Una : Oh, kalau dari semuanya paling sering WhatsApp karena untuk ngechat kawan sama kuliah kan di situ semua.
Peneliti : Ada media sosial khusus nggak yang digunakan untuk mengakses berita tentang virus Corona?
Una : Kalau mengakses berita tentang Corona gitu biasanya dari Twitter sama Instagram, kadang-kadang ada juga lihat status orang di WA, ataupun dari grup-grup kayak grup keluarga.
Peneliti : Nah, itu apa alat yang biasa digunakan untuk mengakses media sosial?
Una : Biasanya dari HP aja sih, kalo dari laptop paling untuk browsing-browsing tugas aja.
Peneliti : Paham nggak sama fitur yang ada di media sosial? Terus sering pakai yang mana?
Una : Kalau masalah fitur di media sosial ya paham lah. Fitur like, komen, share, gitu-gitu kan. Kalau sering pakai yang mana, beda-beda tiap media sosial. Kalau di TikTok biasanya like sama share aja, kalau di Instagram fitur like, sama ada fitur story. Kalau kayak Twitter ya nge-tweet, kalau WA kebanyakan chat sama add story,”
Peneliti : Kapan waktu biasanya mengakses media sosial?
Una : Aku udah candu kali ya sama media sosial ini. Jadi hampir setiap waktu. Kalau Pagi biasanya bangun tidur di jam 10, Siang abis tidur siang sekitar jam 3, sama Malam sebelum tidur di jam 12 gitu.
Peneliti : Berapa lama biasanya mengakses media sosial dalam satu hari?
Una : Dalam 1 hari bisa sampai 5 jam biasanya. Kalau untuk berita tentang Corona nggak lama, kayak sekilas gitu aja kalau ada muncul di beranda atau timeline. Tapi kalau dulu pas awal-awal adalah lumayan sering cari tau tentang si virus itu, karena virusnya baru kan. Kalau sekarang udah biasa aja karena udah terbiasa sama keadaan. Udah nggak terlalu takut dan parnoan lagi.
Peneliti : Nah kalau awal-awal itu, lihat beritanya di mana?
Una : Ada di Google, kadang juga nyari di media online di Instagram.
Peneliti : Media online apa?
Una : Kumparan sama Tirto, kadang ada juga Narasi.
Peneliti : Apa yang paling sering dicari tentang virus Corona?
Una : Waktu awal-awal dulu lebih tentang cari tau sebenarnya Corona ini virus apa, siapa aja yang bisa terserang, apa gejalanya, obatnya udah ada atau belum, jumlah kasus perhari, gitu-gitu.
Peneliti : Di mana sering keliatan berita tentang virus Corona?
Una : Aku sering lihat di Twitter karena suka kepo sama trending topic apa yang muncul hari ini, nah pas baru-baru Corona tuh kan trending topic heboh sama Corona juga, dari situ cari taunya, kayak apa gejalanya, seberapa parah kalau kena, berapa kasus per-hari, kadang juga ada thread tetang penyintas Corona gitu kan, jadi bisa belajar dari situ. Instagram ada juga, cuma kalau IG lebih ke kasus perhari yang muncul sama berita-berita baru kayak varian baru Corona, gejala baru Corona, sama yang terbaru kemarin yang tentang India tu.
Peneliti : Tadi kan sering lihat berita di Twitter sama Instagram, nah itu apakah di dua media sosial itu beda berita yang dicari?
Una : Beda. Kayak tadi yang udah aku bilang, kalo Twitter lebih ke thread-thread orang gitu, jadi lebih ke pengalaman orang, penjelasan dari orang, kalau IG lebih ke akun-akun resmi kayak akun media online yang menampilkan jumlah kasus perhari, gejala baru Corona, gitu-gitu.
Peneliti : Di kedua media sosial tersebut kan banyak informasi, itu Una percaya semua nggak?
Una : Sampai sekarang masih percaya dan nggak percaya. Kalau yang nggak percaya itu kayak dari akun-akun bodong di Instagram yang dari postingannya aja kayaknya gak meyakinkan gitu, nah itu nggak bisa percaya. Tapi kalau artis yang masukin berita tentang Corona itu percaya karena kayaknya artis nggak mungkin nipu.
Atau, dari media-media online gitu, itu langsung percaya karena udah pasti kredibel beritanya. Jadi, lebih ke sumbernya sih, kalau sumbernya terpercaya ya percaya.
Peneliti : Gimana cara bedainnya tuh?
Una : Ya tadi, kalau berita yang kredibel itu kan pasti dari sumber yang kredibelnya, ada datanya, atau ada dari pernyataan ahli misalnya dari WHO gitu. kalau yang hoaks kan lebih ke nggak masuk akal kadang-kadang, kayak yang kalung pencegah Corona itu, darimanalah kalung bisa mencegah Corona, sementara Corona itu virus, nggak ada hubungannya sama kalung.
Peneliti : Jadi, kalau sumbernya terpercaya, tanpa cek ulang ke sumber lain pun langsung percaya?
Una : Iya, karena menurutku nggak mungkin salah media-media online itu.
Peneliti : Berarti selama ini nggak pernah melakukan fact check?
Una : Kalau fact check untuk informasi yang sumbernya nggak jelas aja, misanya nanya ke teman yang lebih paham soal Corona.
Peneliti : Tahu nggak ada website yang bisa nyari tau informasi yang kita terima palsu atau nggak?
Una : Nggak tahu, karena aku nggak begitu update kali soal Corona ini sih.
Peneliti : Pernah terima hoaks tentang Corona nggak?
Una : Pernah, tapi aku diamin aja biasanya.
Peneliti : Nah, biasanya apa yang dilakukan pas terima hoaks itu?
Una : Kalau tau informasi itu hoaks, yaudah berhenti di aku aja. Tapi kalau lihat misalnya kawan yang posting hoaks, biasanya aku langsung kasih tau kalau itu hoaks.
Peneliti : Una pernah komentar soal virus Corona di media sosial nggak?
Una : Pernah, tapi lebih ke postingan kawan-kawan, misalnya ada yang update tentang kasus meninggal perhari, itu langsung komentar kayak, ―Itu betulan tuh?‖ gitu. Tapi kalau komentar di akun orang yang nggak dikenal atau di akun media online gitu nggak pernah, karena aku nggak begitu paham sama isu Corona ini, jadi takut salah aja gitu.
Peneliti : Kalau membagikan kiriman?
Una : Kalau membagikan kiriman pas awal-awal dulu pernah, kayak himbauan prokes dulu, terus tentang-tentang vaksin, gejala, gitu-gitu. tapi biasanya juga membagikannya ke grup keluarga sama kawan-kawan terdekat aja, nggak pernah membagikan kiriman misalnya di story ngerepost gitu nggak pernah.
Peneliti : Kenapa nggak pernah?
Una : Nggak tau, malu, dan takut salah aja sih.
Peneliti : Kalau gabung di grup yang bahas tentang Corona pernah?
Una : Nggak pernah, karena nggak terlalu interested. Jadi sebatas cari tau sekedar gitu aja. Kalau yang sampe masuk grup itu kan tandanya pengen tau kali kan ya.
Peneliti : Kalau ikut projek sosial tentang virus Corona di media sosial pernah nggak?
Una : Nggak pernah. Aku nggak terlalu suka ikut-projek gitu, di dunia nyata aja nggak pernah apalagi di media sosial. Aku lebih nganggap media sosial ini sebagai media hiburan aja sih, jadi kalau yang aksi-aksi atau projek yang kayak kau bilang gitu nggak pernah ikut.
Informan II Hari/Tanggal : Minggu, 18 Mei 2021
Waktu : 16.30 – 17.30 WIB Tempat : Rumah Informan
Informan kedua dalam penelitian ini adalah Reza Fahlevi atau yang akrab disapa Reza. Reza merupakan pelajar di SMA Negeri 1 Kejuruan Muda jurusan Matematika dan Ilmu-Ilmu Alam (MIA) dan baru berusia 18 tahun. Saat ini Reza sudah lulus di program studi Agroteknologi Universitas Syah Kuala. Reza merupakan anak ke empat dari lima bersaudara, terdiri dari kakak perempuan, dua abang laki-laki dan satu adik laki-laki. Ayah dan ibunya merupakan tenaga pengajar mata pelajaran sejarah di SMAN 1 Kejuruan Muda.
Pertanyaan
Peneliti : Reza punya media sosial?
Reza : Punya, ada Instagram, Twitter tapi jarang aktif, WA, TikTok, sama YouTube.
Peneliti : Pernah mengakses berita tentang virus Corona?
Reza : Pernah, sering.
Peneliti : Media apa aja yang biasanya dipakai untuk mengakses berita tentang virus Corona itu?
Reza : Karena biasanya mengakses Instagram dan TikTok, ya dari situ biasanya dapat informasinya.
Peneliti : Kalau untuk mengakses media sosial secara umum, alat yang digunakan biasanya apa?
Reza : Ya dari handphone.
Peneliti : Reza paham nggak sama fitur-fitur yang ada di media sosial yang Reza gunakan? Kayak misalnya fitur like, komen, share, add story atau yang lainnya yang ada di media sosial?
Reza : Paham, tapi ya sekedar paham gitu aja. Standarnya aja. Kayak share itu tau gimana cara gunakannya, kayak like, add story, ya tapi paham-paham gitu ajalah.
Peneliti : Dalam satu hari, berapa lama Reza mengakses media sosial?
Reza :Dalam sehari mainin media sosial kalau dilihat dari pengingatnya rata-rata 4-5 jam.
Peneliti : Kalau untuk mengakses berita tentang virus Corona berapa lama dalam sehari?
Reza : Hmm.. mungkin sebagaian dari 4-5 jam itulah. Bisa jadi sejam.
Peneliti : Itu kira-kira kapan waktunya? Pagi? Siang, atau malam?
Reza : Biasanya kalau lagi nggak ada tugas dan nggak ngapa-ngapain jam 9 pagi bangun tidur sampai jam 11 pagi. Abis itu sore jam-jam setengah 3 sampai ashar jam-jam setengah 4. Abis itu malam, biasanya abis Isya.
Peneliti : Apa aja yang dicari tentang virus Corona?
Reza : Kalau biasanya yang dilihat jumlah kasusnya, jumlah yang meninggal dan sembuh, negara-negara mana aja yang meningkat signifikan dan sembuh, tentang vaksin, kayak gitu-gitu lah.
Reza : Kalau biasanya yang dilihat jumlah kasusnya, jumlah yang meninggal dan sembuh, negara-negara mana aja yang meningkat signifikan dan sembuh, tentang vaksin, kayak gitu-gitu lah.