BAB I PENDAHULUAN
1.7 Manfaat Penelitian …
Dengan dilakukannya penelitian ini, diharapkan hasil penelitian dapat digunakan untuk :
1. menjelaskan variasi karakter fenotip (morfologi) dan kandungan metabolit sekunder yang menyebabkan keanekaragaman spesies pada C.
xanthorrhiza, C. domestica, C. heyneana, C. aeruginosa, dan C. mangga..
2. menjelaskan hubungan kekerabatan antara C. xanthorrhiza, C. domestica, C. heyneana, C. aeruginosa, dan C. mangga ditinjau dari karakter morfologi, kandungan metabolit sekunder dan karakter-karakter yang mempengaruhi pengelompokkan spesies pada C. xanthorrhiza, C.
domestica, C. heyneana, C. aeruginosa, dan C. mangga.
3. referensi dan bahan acuan untuk penelitian selanjutnya di bidang taksonomi dan konservasi.
4. referensi ilmiah bagi pembaca dari berbagai kalangan untuk keperluan inventarisasi dalam pemanfaatan hasil tanaman dari berbagai genus Curcuma dalam bidang industri, farmakologi maupun pangan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Tentang Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati atau biological diversity (Biodiversity) adalah istilah yang merujuk kepada keanekaragaman jumlah, varietas dan sebagainya dari mahluk hidup yang ada di bumi. Biodiversity mencakup hubungan gen, spesies, dan ekosistem dengan level hierarki dari organisasi biologis; ketiga level ini adalah keanekaragaman genetis, keanekaragaman spesies dan keanekaragam ekosistem, (Khrisnamurty, 2003). Menurut, Harper dan Hawksworth (1994), penggunaan istilah biological diversity pada tiga level organisasi biologi pertama kali dikemukakan oleh Norse et al., (1986). Menurut Khrisnamurty (2003) Keanekaragaman yang terdapat dalam spesies disebut keanekaragaman genetik, sementara keanekaragaman antar spesies disebut keanekaragaman spesies, sedangkan keanekaragaman ekologi atau tingkat habitat disebut keanekaragaman ekosistem.
Keanekaragaman spesies mencakup seluruh spesies yang ditemukan di bumi, termasuk bakteri dan protista serta spesies dari kingdom bersel banyak (tumbuhan, jamur, hewan, yang bersel banyak atau multiseluler). Spesies dapat diartikan sebagai sekelompok individu yang menunjukkan beberapa karakteristik penting berbeda dari kelompok-kelompok lain baik secara morfologi, fisiologi atau biokimia. Definisi spesies secara morfologis ini yang paling banyak digunakan oleh para taksonomis yang mengkhususkan diri untuk
mengklasifikasikan spesies dan mengidentifikasi spesimen yang belum diketahui (Indrawan et al., 2007).
Pada susunan taksonomi, spesies sangat umum digunakan dan telah diterima sebagai unit dasar dari kategori hierarki dalam penyusunan struktrur taksonomi. Spesies juga dinilai sangat penting untuk menentukan prioritas konservasi terhadap suatu spesies. Sampai saat ini pengertian spesies masih sulit untuk didefinisikan dan masih menjadi perdebatan mengenai definisi dari spesies yang belum disepakati secara universal (Khrisnamurty, 2003). Selain itu Jenkins (1992) menjelaskan bahwa sampai saat ini keanekaragaman spesies adalah satu-satunya informasi yang tersedia di sebagian besar ekosistem di dunia.
2.2 Tinjauan Tentang Biosistematika
Keanekaragaman hayati menunjukkan bahwa ada berbagai macam variasi mahluk hidup baik ditinjau dari sifat morfologi, anatomi, fisiologi dan sebagainya.
Diantara keanekaragaman tersebut pastilah terdapat beberapa kesamaan sifat.
Menurut Arrijani (2003), pola hubungan atau total kesamaan antara kelompok tumbuhan berdasarkan sifat atau ciri tertentu dari masing-masing kelompok tumbuhan disebut kekerabatan dalam biosistematika tumbuhan. Sistematika khususnya biosistematika adalah ilmu yang di dalamnya terdapat taksonomi, deskripsi, identifikasi, tata nama (nomenklatur), dan klasifikasi organisme dimana tujuan akhirnya adalah penyusunan pohon filogeni (Simpson, 2006).
Biosistematika digunakan dengan tujuan untuk memperoleh, menganalisis dan mengumpulkan informasi mengenai tumbuhan dan bagian-bagiannya,
kandungannya, dan metodenya. Biosistematika mempunyai empat komponen untuk mempelajari keanekaragaman, yaitu deskripsi, identifikasi, tata nama dan klasifikasi. Deskripsi adalah penjabaran karakter organisme ke dalam suatu takson.
Identifikasi adalah penemuan takson yang identik atau serupa kepada organisme lain yang sudah dikenal. Tata nama adalah penerapan teknik penamaan tumbuhan sesuai dengan peraturan berdasarkan Kode Internasional Tata nama Tumbuhan.
Klasifikasi adalah proses dan hasil penggolongan organism ke dalam takson berdasarkan kemiripan atau perbedaan karakter.
Menurut Lawrence (1964), karakter morfologi dan beberapa ilmu lain yang berhubungan sebagai pendukung merupakan dasar fundamental yang digunakan dalam mengenali obyek biologisnya sebagai syarat dalam proses penyusunan biosistematika. Keanekaragaman tumbuhan tidak hanya menyangkut bentuk luarnya saja tetap juga sifat-sifat yang lain. Secara genetik tidak ada dua individu dalam satu spesies yang sama. Faktor lingkungan juga ikut berpengaruh dalam timbulnya ciri-ciri yang muncul sebagai fenotip (Prabawanti, 2012).
Menurut Bhattacharyya (2009), sumber data taksonomi dapat berasal dari berbagai bidang ilmu – morfologi, anatomi, palinologi, embriologi, sitologi, genetika, kimia, dan ultrastuktur. Semua bagian tumbuhan memberikan karakter atau data taknonomis pada berbagai tahap perkembangannya dan karena itu, data harus dikumpulkan dari sebanyak mungkin bidang ilmu yang berbeda. Sneath dan Sokal (1973) menyatakan bahwa biosistematika telah mengalami perkembangan yang menakjubkan seiring dengan metode kimiawi, biologi molekuler serta
aplikasi komputer dalam sistem yang menggunakan data untuk merevisi dan mengembangkan sistem klasifikasi dan identifikasi.
Umumnya terdapat bias dalam penggunaan istilah biosistematik dan taksonomi. Padahal pengertian biosistematika berbeda dengan klasifikasi dan taksonomi (Lestari, 2015). Taksonomi sendiri merupakan salah satu komponen dasar biosistematika (Pasagi, 2015). Menurut Simpson (2006), Taksonomi adalah salah satu bidang ilmu (dan merupakan komponen utama dari sistematika) yang meliputi deskripsi, identifikasi, tata nama dan klasifikasi. Ada dua cara yang digunakan dalam klasifikasi, yaitu fenetik dan filogenetik. Klasifikasi fenetik didasarkan pada kesamaan sifat (overall similarities). Sementara klasifikasi filogenetik didasarkan pada asal usul evolusi atau sifat nenek moyang yang bisa jadi dapat berpengaruh pada kesamaan sifat. Menurut Martasari et al., (2009), kekerabatan antara dua individu atau populasi dapat diukur berdasarkan kesamaan sejumlah karakter. Sehingga Ashary (2010) mendefinisikan bahwa semakin banyak persamaan ciri-ciri yang dimiliki semakin dekat kekerabatannya.
Sebaliknya, semakin sedikit persamaan dalam ciri-ciri yang dimiliki semakin jauh kekerabatannya. Hasil analisis hubungan kekerabatan dapat divisualisasikan dengan suatu dendrogram yang disebut fenogram (Simpson, 2006).
2.3 Tinjauan tentang Metode Fenetik
Seperti yang dijelaskan di poin sebelumnya bahwa klasifikasi fenetik adalah klasifikasi yang didasarkan pada seluruh kesamaan sifat (overall similarities). Menurut Jones & Luchsinger (1986) saat ini klasifikasi filogenik
paling banyak digunakan dalam ilmu taksonomi. Studi filogeni paling banyak digunakan dalam ilmu taksonomi. Studi filogeni dimulai dengan menyeleksi taksa atau kelompok taksonomi yang akan dianalisis termasuk baik dalam satu kelompok maupun bukan kelompok dan tiap individu dalam taksa yang biasa disebut Satuan Taksonomi Operasional (STO) (Simpson, 2006).
Pengamatan morfologi dilakukan secara visual sedangkan pengamatan terhadap anatomi menyangkut struktur penyusun dilakukan dibawah mikroskop cahaya binokuler (Martasari et al., 2009). Semua data pengamatan yang diperoleh dikumpulan untuk dianalisis kekerabatannya dengan metode Sokal & Michener dalam Stuessy (1990) dengan tahapan sebagai berikut.
1. Penyusunan tabel data berdasarkan ciri-ciri yang diperoleh dari hasil pengamatan.
2. Setelah memperoleh ciri-ciri morfologi, kemudian diseleksi untuk menentukan karakter yang mantap utuk klasifikasi dan disusun dalam tabel satuan taksonomi operasional (STO). Ada 2 jenis karakter, yaitu karakter kualitatif dan karakter kuantitatif. Karakter kuantitatif adalah karakter yang dapat dihitung, sedangkan karakter kualitatif adalah karakter yang tidak dapat dihitung (Martasari et al, 2009).
3. Berdasarkan tabel STO dibuat matriks jumlah ciri-ciri taksonomi. Dalam penelitian ini adalah beberapa spesies dari genus Curcuma yang diamati.
4. Hasil perhitungan koefisien asosiasi spesies-spesies Curcuma berdasarkan karakter morfologi dan skrining fitokimia selanjutnya dianalisis dengan analisis pengelompokan (clustering analysis).
Pengelompokkan didasarkan pada tingkat kesamaan tertinggi. Hasil hubungan kekerabatan ditunjukkan dalam fenogram.
Menurut Sokal dan Michener (1958), secara umum metode kerja fenetik adalah memilih taksa (STO), memilih karakter yang sesuai, menghitung similaritas, membuat fenogram dan menginterpretasikan hasilnya.
2.4 Karakter Morfologi Sebagai Bukti Taksonomi
Bhattacharyya (2009) menyatakan bahwa karakter morfologi telah lama digunakan untuk tujuan klasifikasi dan karakter tersebut masih tetap diperlukan.
Secara khusus, ciri morfologi flora menyediakan banyak karakter penting untuk sistem klasifikasi Linnaeus, Bentham dan Hooker, Bessey, Engler dan Prantl, Hutchinson dan lainnya. Karena karakter morfologi dapat diamati dengan mudah, sehingga ciri-ciri ini teah digunakan dalam sistem klasifikasi, kunci idetifikasi, dan deskripsi umum. Karakter sendiri dapat didefinisikan segala kenampakan atau atribut yang ada pada tiap organisme yang dapat diukur, dibandingkan, dihitung, dideskripsikan atau mungkin juga dapat diperkirakan (Simpson, 2006). Jeffrey (1982) menyatakan bahwa karakter adalah ciri-ciri pembeda yang disusun berdasarkan kemunculannya pada tiap kelompok organisme dan digunakan dalam mengklasifikasikan organisme.
2.5 Tinjauan Kemotaksonomi
Kemotaksonomi yaitu telaah kimia dalam kelompok tumbuhan yang terbatas, terutama kandungan sekundernya dan juga makromolekul serta
penggunaan data yang diperoleh untuk menggolongkan tumbuhan, sering juga disebut sistematika biokimia. Tumbuh-tumbuhan yang mempunyai zat kandungan yang sejenis. Pada penelitian fitokimia mengenai suatu tumbuhan, informasi kemotaksonominya sangat penting untuk dijadikan pedoman karena dapat diperkirakan atau diharapkan zat-zat kandungan apa saja yang mungkin dapat ditemukan pada jenis tumbuhan yang sedang diteliti tersebut (Harbourne, 1973).
Meskipun karakter morfologis adalah hal penting yang berguna untuk menentukan spesies, karakter kimiawi dapat digunakan untuk menentukan hubungan antarspesies, genus dan famili. Pengetahuan kimia dapat menyediakan informasi sistematika penting yang tidak tersedia dari pendekatan lain dan sering kali dapat memecahkan masalah sistematika yang belum terpecahkan oleh teknik sitologi, anatomi, ataupun morfologi (Bhattacharyya, 2009).
2.6 Tinjauan Kemotaksonomi Genus Curcuma
Pada genus Curcuma, senyawa utamanya ialah kurkuminoid yang merupakan struktur bifenil dengan rantai alkil tak jenuh yang bertanggung jawab terhadap efek farmakologis (Itokawa et al., 2008). Tetapi pada penelitian ini, hanya diuji kekerabatannya melalui uji skrining fitokimia dari metabolit sekunder yang disinyalir terkandung dalam rimpang tanaman genus Curcuma. Menurut Murwani (2007) metabolit sekunder sendiri adalah senyawa yang dihasilkan oleh suatu spesies atau genus tertentu yang mungkin hanya diproduksi pada tingkat pertumbuhan dan perkembangan tertentu. Selain itu dalam beberapa kasus tertentu metabolit sekunder dapat diproduksi pada saat tanaman mengalami stress yang
disebabkan oleh adanya perlukaan atau serangan mikroorganisme. Kemungkinan lain metabolit sekunder dibentuk pada saat stress karena kekurangan air. Senyawa yang terbentuk pada saat stress di antaranya sesquiterpena bisiklik, steroida, resin dan lain-lain. Minyak atsiri juga merupakan salah satu metabolit sekunder yang dihasilkan tanaman. Dengan demikian, apabila tanaman yang diuji tidak dilukai, perlu dilakukan uji skrining fitokimia untuk mengetahui apa saja metabolit sekunder yang terkandung dalam genus Curcuma, kemudian dapat dianalisis kekerabatannya.
2.7 Tinjauan Metabolit Sekunder
Metabolit sekunder adalah produk sampingan metabolisme. Metabolisme sekunder biasanya menjalankan fungsi nonvital atau fungsi yang tidak universal, dan karenanya kurang tersebar luas di antara tumbuhan. Namun, sifat ini membuat metabolit sekunder memiliki arti taksonomis. Senyawa yang termasuk dalam kelompok ini adalah terpenoid, pigmen flavonoid, dan kompponen fenolik yang lain, asam amino, alkaloid, minyak dan lilin, asam lemak, senyawa sianogenik, dan glukosinolat. Produk sekunder ini sering disimpang, kadang dalam jumlah besar di dalam sel hidup atau mungkin terdeposisi dalam kelenjar, saluran resin, atau dalam jaringan, seperti kulit batang atau heartwood (Bhattacharyya, 2009).
A. Alkaloid
Alkaloid merupakan jenis metabolit sekunder terbesar dan terdapat sekitar 6.000 struktur berbeda yang telah dikarakterisasi (Harbourne dan Turner, 1984).
Alkaloid dari tanaman kebanyakan merupakan senyawa amina tersier dari yang
lainnya terdiri dari nitrogen primer, sekunder dan quartener (Poither, 2000) Semua alkaloid mengandung paling sedikit satu atom nitrogen yang biasanya bersifat basa dan sebagian besar atom nitrogen ini merupakan cincin aromatis (Achmad, 1986). Berdasarkan asam amino penyusunnya, alkaloid dibedakan menjadi alkaloid asiklis, alkaloid aromatis dan alkaloid indol. Alkaloid asiklis berasal dari asam amino ornitin dan lisin. Alkaloid aromatis jenis fenilalanin berasal dari fenilalanin, tirosin, dan 3,4-dihidrosifenilalanin. Sementara alkaloid indol berasal dari tritophan. Gambar 2.1, memperlihatkan contoh senyawa alkaloid berdasarkan penyusun asam aminonya.
Sebenarnya ada banyak prosedur yang bisa digunakan untuk mendeteksi alkaloid di jaringan tumbuhan. Salah satu metode yang bisa digunakan adalah menggunakan reagen Wagner (Mustarichie et al., 2011).
.
Gambar 2.1 Contoh senyawa alkaloid berdasarkan penyusun asam aminonya.
(Sumber : Mustarichie et al., 2011).
B. Flavonoid
Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar yang ditemukan di alam (Kristanti et al., 2008). Sebagai suatu kelompok flavonoid
Gambar 2.2 Contoh senyawa golongan flavonoid. (Sumber: Mustarichie et al., 2011).
dikarakterisasi dan digolongkan berdasarkan struktur kimianya (Bylka dan Plewski, 2004). Flavonoid menyusun hampir sebagian pigmen warna dari tumbuhan berpembuluh (Harbourne dan turner, 1984). Flavonoid memliki pengaruh fisiologis tertentu, sehingga tumbuhan yang mengandung senyawa flavonoid banyak digunakan sebagai pengobatan tradisional (Kristanti et al., 2008). Flavonoid adalah senyawa fenolat yang terhidroksilasi dan merupakan senyawa C6-C3-C6 dimana C6 diganti dengan cincin benzene dan C3 adalah rantai alifatik yang terdiri dari cincin piran. Ada 7 tipe flavonoid, yaitu flavon, flavonol, khalkon, xanton, isoflavon, dan biflavon seperti pada gambar 2.2. Uji flavonoid dilakukan dengan penambahan HCl untuk mendeteksi senyawa yang mengandung inti benzopiranon. Warna merah atau ungu yang terbentuk merupakan garam benzopirilium, yang disebut juga garam flavilium (Mustarichie et al., 2011;
Achmad 1986).
C. Tannin
Tannin merupakan gambaran umum untuk senyawa golongan polimer fenolik (Cowan, 1999). Tannin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh,
dalam angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Di dalam tumbuhan letak tannin terpisah dari protein dan enzim sitoplasma. Secara kimia terdapat dua jenis tannin yang tersebar tidak merata di dunia tumbuhan, yaitu tannin terkondensasi dan tannin terhidrolisiskan. Tannin terkondesasi tersebar luas di dalam angiospermae, paku-pakuan dan gymnospermae. (Harbone, 1996).
Senyawa-senyawa tannin ditemukan pada banyak jenis tumbuhan; berbagai senyawa ini berperan penting untuk melindungi tumbuhan dari pemangsaan oleh herbivora dan hama, serta dalam pengaturan pertumbuhan (Ferrel dan Thorington, 2006). Untuk menguji tannin dapat digunakan FeCl3 (Saxena dan Patil, 2012).
Contoh senyawa tannin dapat dilihat pada gambar 2.3.
Gambar 2.3 Contoh senyawa golongan tannin. (Sumber: Mustarichie et al., 2011).
D. Terpenoid
Menururt Harborne (1998), kelompok senyawa ini tersebar luas di antara tumbuhan. Semua substansinya memiliki asal-usul biosistematik yang sama dan berbasis molekul isoprena –CH2=C(CH3)-CH=CH2. Gabungan dua atau lebih unit
Terpenoid mengandung karbon dan hydrogen, atau karbon, hydrogen dan oksigen yang tidak bersifat aromatis. Terpenoid merupakan senyawa yang mudah menguap dan terdiri dari 10 atom C dan merupakan senyawa penyusun minyak atsiri (Mustarichie et al., 2011). Terpenoid tumbuhan dimanfaatkan dalam bentuk minyak atsiri dan dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Terpenoid berperan sebagai aroma Eucalyptus, rasa khas dari kayu manis, semanggi, dan jahe, warna kuning pada bunga matahari, dan warna merah pada tomat. Beberapa terpenoid lainnya seperti citral, menthol, camphor, salvinorin A pada tanaman Salvia divinorum, cannabinoids yang ditemukan di cannabis, ginkgolide dan bilobalide di Ginkgo biloba, dan kurkuminoid dalam kunyit dan mustard seed (Firn, 2010;
Specter, 2009). Pengujian terpenoid dilakukan dengan peraksi Liebermann-Burchard (Kristanti et al., 2008).
Gambar 2.4 Contoh senyawa terpenoid. (Sumber : Mustarichie et al., 2011).
E. Steroid
Steroid adalah kelompok senyawa bahan alam yang kebanyakan strukturnya terdiri atas 17 atom karbon dengan membentuk struktur dasar
1,2-siklopentenoperhidrofenantren (Kristanti et al., 2008). Lemak sterol adalah bentuk khusus dari steroid dengan rumus bangun diturunkan dari kolestana dilengkapi gugus hidroksil pada atom C-3, banyak ditemukan pada tanaman, hewan dan fungi. Semua steroid dibuat di dalam sel dengan bahan baku berupa lemak sterol, baik berupa lanosterol pada hewan atau fungsi, maupun berupa sikloartenol pada tumbuhan (Moss, 1989). Fitosterol, yang meliputi sterols dan stanols, adalah senyawa steroid yang mirip kolesterol pada tumbuhan dan bervariasi pada sisi rantai karbon ada atau tidaknya ikatan rangkap ganda. Stanol adalah sterol jenuh, tidak memiliki ikatan rangkap ganda di struktur cincin sterol. Lebih dari 200 sterol dan senyawa terkait telah diidentifikasi. Fitosterol diekstraksi dari minyak yang tidak larut dalam air, cenderung larut pada minyak dan larut dalam alkohol (Akhisa dan Kokke, 1991). Sama seperti terpenoid, pengujian steroid menggunakan peraksi Liebermann-Burchard (Kristanti et al., 2008).
F. Minyak Atsiri
Minyak atsiri pada dasarnya mengandung campuran senyawa kimia dan biasanya campuran tersebut sangat kompleks, tetapi biasanya tidak melebih 300 senyawa. Beberapa tipe senyawa organik mungkin terkandung dalam minyak atsiri, seperti hidrokarbon, alkohol, oksida, ester, aldehida, dan eter. Aoma minyak atsiri biasanya ditentukan oleh komponen yang persentasenya tinggi. Beberapa jenis minyak atsiri memiliki kandungan senyawa terpena dalam porsi sangat besar.
Minyak atsiri sebagai substansi mudah menguap dapat dijadikan sidik jari atau ciri khas dari suatu jenis tumbuhan karena setiap jenis tumbuhan menghasilkan minyak atsiri dengan aroma yang berbeda (Agusta, 2000).
2.8 Pengambilan sampel tumbuhan
Kristanti et al., (2008) menyatakan bahwa di dalam analisis fitokimia, terutama skrining fitokimia digunakan jaringan tumbuhan yang telah kering.
Metode pengeringan harus diawasi untuk mencegah terjadinya perubahan kimia akibat pertumbuhan organisme lain yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan kimia pada bahan. Bahan harus dikeringkan dengan cepat, tanpa menggunakan suhu tinggi, lebih baik dengan menggunakan aliran udara yang baik.
Setelah benar-benar kering, sampel kering tumbuhan (simplisia) atau jaringan tumbuhan yang dikeringkan (herbarium) dapat disimpan dalam jangka waktu tertentu sebelum digunakan untuk analisis.
Kemungkinan pencemaran oleh tumbuhan lain juga harus diperhatikan.
Hal paling penting adalah tumbuhan yang digunakan adalah yang bebas penyakit, tidak terinfeksi virus, bakteri dan jamur. Jika ditemukan adanya infeksi, hal tersebut akan mengubah hasil analisis tumbuhan, karena selain hasil metabolisme mikroba tersebut yang terdeteksi bisa jadi infeksi mikroba akan mengubah metabolisme tumbuhan dan metabolit sekunder yang dihasilkan juga berbeda.
Analisis ulangan pada bahan yang dibersihkan dengan hati-hati menunjukkan kalau senyawa itu tidak ada. Jadi dapat dipastikan bahwa telah terjadi pencemaran pada analisis pertama. Perlakuan yang hati-hati juga diperlukan pada analisis lumut. Lumut sering tumbuh bersekutu erat dengan tumbuhan tingkat tinggi dan kadang-kadang sukar membebaskannya dari pencemar. Pada tumbuhan tingkat tinggi, pencemaran mungkin terjadi pada saat pengumpulan bahan akibat kesalahan pengambilan karena kemiripan morfologi. Pencemaran juga bisa terjadi
jika suatu tumbuhan dikumpulkan tanpa disadari mengandung parasit (benalu) tercampur dengannya.
2.9 Pengeringan sampel tumbuhan
Pengeringan diartikan sebagai hilangnya air atau hilangnya pelarut organik.
Sebagai bahan pengering dapat udara yang mampu menyerap lembap sampai tercapai kondisi jenuhnya. Jumlah yang dapat diserap tergantung dari lembap udara relatif. Tergantung pada situasinya, lembap dapat terserap pada bahan pengering ataukah bersama uap air yang terdapat di udara. Dengan meningkatnya suhu, kemampuan penyerapan air dari udara dan kecepatan penguapan tampak meningkat, sehingga di dalam proses pengeringan dibutuhkan panas. Ini berlaku juga untuk mengkompensasi dingin akibat penguapan. Agar hasil pengeringan maksimal, sampel sebaiknya berada pada kondisi sedemikian sehingga memiliki luas permukaan yang tinggi, jadi sampel dikondisikan dalam bentuk lapisan tipis.
Tujuannya agar panas yang diberikan dapat merubah lembap menjadi uap yang kemudian berdifusi melalui bahan yang dikeringkan dan akhirnya bergerak menuju udara bebas. Sirkulasi udara yang baik dan menyebarnya panas yang diberikan memungkinkan tercapainya tingkat pengeringan yang tinggi.
Pengering sinar matahari dan teduh adalah cara pengeringan yang paling sederhana yaitu menggunakan pengering udara. Untuk tujuan kefarmasian tertentu memang digunakan cara pengeringan dimana bahan ditempatkan langsung di bawah sinar matahari. Tetapi mengingat bahan sampel analisis kimia, tanaman obat, mengandung senyawa metabolit yang dikhawatirkan tidak tahan panas,
sebaiknya digunakan cara pengering teduh dimana bahan disebarkan mendatar di atas nampan, lemari atau dalam kotak (Voigt, 1994).
2.10 Penghalusan sampel tumbuhan
Salah satu prosedur untuk mendapatkan ekstrak tumbuhan yang akan digunakan untuk analisis skrining fitokimia adalah menghaluskan sampel tumbuhan (simplisia) sebelum dimaserasi. Dengan meningkatnya kehalusan maka permukaan semakin besar dan bidang serbuan untuk cairan ekstraksi juga meningkat. Sejumlah sel-sel yang rusak dari proses penghalusan tersebut, membantu mempermudah kandungan tumbuhan untuk diambil langsung oleh pelarut. Tetapi penyerbukan yang terlalu halus, juga mengakibatkan larutan pengekstraksi sulit dipisahkan dari sisa yang tinggal setelah proses ekstraksi, karena bahan aktif benar-benar diikat secara sorptif (Voigt, 1994).
2.11 Prinsip Ekstraksi tumbuhan
Metode ektraksi yang digunakan dalam penelitian fitokimia tergantung pada tekstur dan kandungan air bahan tumbuhan yang diekstraksi dan pada jenis senyawa yang akan diisolasi. Umumnya yang perlu dilakukan dalam ekstraksi adalah ‘membunuh’ jaringan tumbuhan untuk mencegah terjadinya oksidasi atau hidrolisis oleh enzim. Metode ekstraksi juga bertujuan untuk melarutkan senyawa yang ada pada jaringan tanaman ke dalam pelarut dalam proses ekstraksi tersebut.
Alkohol merupakan pelarut universal yang baik untuk ekstraksi semua senyawa golongan metabolit sekunder. Untuk mengisolasi suatu senyawa dari bahan
tanaman segar, keberhasilan ekstraksi dengan alkohol tergantung seberapa kuat klorofil tertarik oleh pelarut tersebut. Selain menggunakan alkohol ekstraksi dapat dilakukan dengan pelarut metanol ataupun n-heksana. Ekstraksi sendiri adalah suatu proses pemisahan substansi dari campurannya menggunakan pelarut yang sesuai (Kristanti et al., 2008).
Menurut Kristanti et al., (2008) Berdasarkan bentuk campurannya, ekstraksi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :
1. Ekstraksi Padat-Cair
Substansi yang diekstrak terdapat di dalam campurannya yang berbentuk padat.
2. Ekstraksi Cair-Cair
Substansi yang diekstrak terdapat di dalam campurannya yang berbentuk cair.
Berdasarkan proses pelaksanaannya, ekstraksi terdapat dua metode, yaitu : 1. Ekstraksi Berkesinambungan (Continous extraction)
Ekstraksi menggunakan pelarut yang sama berulang kali sampai proses ekstraksi selesai.
2. Ekstraksi Bertahap (Bath Extraction)
Ekstraksi pada tiap tahap dengan pelarut sekali pakai dan mengganti dengan yang baru sampai ekstraksi selesai.
Pada penelitian ini, digunakan metode ekstrasi yaitu maserasi. Menurut Voigt (1994) maserasi (macerace = mengairi, melunakkan) adalah cara ekstraksi yang paling sederhana. Baham simplisia yang dihaluskan sesuai dengan syarat
farmakope (umumnya terpotong-potong atau diserbukkasarkan) disatukan dengan bahan ekstraksi. Deposisi tersebut disimpan di tempat yang tidak terkena cahaya matahari langsung (mencegah reaksi yang dikatalisis cahaya atau perubahan warna) dan dikocok kembali. Waktu maserasi berbeda-beda, masing-masing
farmakope (umumnya terpotong-potong atau diserbukkasarkan) disatukan dengan bahan ekstraksi. Deposisi tersebut disimpan di tempat yang tidak terkena cahaya matahari langsung (mencegah reaksi yang dikatalisis cahaya atau perubahan warna) dan dikocok kembali. Waktu maserasi berbeda-beda, masing-masing