BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.21 Tinjauan Zingiber americana
Kingdom : Plantae
Division : Magnoliophyta Class : Liliopsida Order : Zingiberales Family : Zingiberaceae Genus : Zingiber
Species : Zingiber americana Bl (Plantamor, 2012)
Nama daerah : Lempuyang pahit (Jakarta dan Sunda); dan lempuyang emprit (Jawa).
2.21.2 Morfologi
Tanaman lempuyang emprit sekilas mirip dengan jahe. Lempuyang emprit merupakan herba rendah sampai tinggi dan perennial dengan batang asli berupa rimpang di bawah tanah. Tinggi dapat mencapai 1,75 m. Batang semu, hasil kumpulan pelepah daun yang berseling dan terletak di atas tanah. Beberapa batang berkoloni, berwarna hijau dengan rimpang merayap, dan bersifat aromatik.
Daun tunggal, berbentuk lanset sempit, berpelepah, letak berseling, pelepah membentuk batang semu, dan berambut di permukaan atasnya. Bunga majemuk
berbentuk bola atau memanjang, muncul di bagian atas tanah, tegak, berambut halus, bagian ujung agak membulat dan melebar, dan memiliki daun pelindung dengan ujung datar. Rimpang memiliki rasa tajam, sangat pahit, dan baunya tidak istimewa. Lempuyang emprit mempunyai kandungan kimia minyak atsiri, seperti limonan dan zerumbon. Lempuyang berkhasiat menambah nafsu makan, mengembalikan kondisi tubuh setelah melahirkan, sebagai obat bengkak (antiinflamasi), obat batuk rejan, influenza, kolera, rematik, dan obat alergi udang dan ikan laut (Anonim, 2008).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Taman Husada Graha Famili, Jl. Simpang Graha Famili III, Wiyung, Surabaya, Laboratorium Biosistematika dan Laboratorium Basic Science terpadu Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga selama lima bulan, mulai bulan Januari 2016 – Mei 2016.
3.2 Bahan dan Alat Penelitian 3.2.1 Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan adalah spesimen segar dari lima spesies Curcuma, yaitu Curcuma xanthorrhiza, Curcuma domestica, Curcuma heyneana, Curcuma aeruginosa, Curcuma mangga, dan Zingiber americana sebagai outgroup.
Spesimen tersebut di dapatkan dari Taman Husada Graha Famili, Jl. Simpang Graha Famili III, Wiyung, Surabaya. Untuk setiap spesimen dilakukan tiga kali pengulangan. Bagian tanaman yang akan diteliti diantaranya organ daun, batang, bunga, dan rimpang.
Bahan-bahan yang lain untuk penelitian ini adalah sebagai berikut :
(1) Pembuatan ekstrak = metanol dan n-heksana (Hasanah, et al., 2011; Sawant and Godghate, 2013), kertas saring kasar, dan vaselin (Hebert, 2015).
(2) Skrining fitokimia
a. Uji Flavonoid = logam Mg, HCL pekat (Kristanti et al., 2008).
b. Uji Tanin = 1% Ferric chloride (Saxena and Patil, 2012)
c. Uji Terpenoid dan steroid = anhidrat asetat (Ac2O) dan H2SO4 pekat (Kristanti et al., 2008).
d. Uji Alkaloid = HCl 2M, NaCl serbuk, pereaksi Wagner (Mustarichie et al., 2011).
e. Uji minyak atsiri = H2SO4 pekat (Hebert, 2015).
3.2.2 Alat Penelitian
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) Biosistematika morfologi : meteran, jangka sorong, gunting tanaman/pisau, kantong plastik berbagai ukuran, penggaris, kamera digital, kertas label, alat tulis, kain hitam, tabel warna, tabel karakter dan buku morfologi tumbuhan.
(2) Pembuatan ekstrak : toples kaca, labu Erlenmeyer 500 ml, gelas beaker ukuran 500 ml, rotary evaporator, sendok logam, neraca analitik, corong, tempat balsem bekas, dan label.
(3) Skrining fitokimia: tabung reaksi, sendok logam, tusuk gigi, spot test, pipet tetes, bunsen, kasa, kaki tiga, pinsetm gelas ukur, dan label.
(4) Pengukuran parameter fisikokimia : sling psikrometer, pH meter, GPS dan Altimeter (Hariyanto et al., 2008).
3.3 Prosedur Penelitian 3.3.1 Definisi Operasional
Pada genus Curcuma diantaranya terdapat 70 – 80 spesies, namun
penelitian ini terfokus pada lima spesies dari genus Curcuma, yaitu Curcuma xanthorrhiza, Curcuma heyneana, Curcuma domestica, Curcuma aeruginosa, dan Curcuma mangga. Variabel yang diamati adalah karakter morfologi dan kandungan metabolit sekunder melalui metode skrining fitokimia. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan morfologi yaitu sifat yang tampak pada permukaan organ dan dapat diamati secara makroskopis, sedangkan skrining fitokimia merupakan penelitian pendahuluan yang bertujuan untuk mengetahui gambaran secara garis besar golongan senyawa yang terkandung di dalam tanaman dengan metode reaksi pengujian warna (Kristanti et al., 2008). Hubungan kekerabatan, yaitu merupakan hubungan kedekatan berdasarkan persamaan ciri-ciri karakter yang dimiliki bersama.
3.3.2 Tahap-tahap prosedur penelitian
Penelitian yang dikerjakan merupakan penelitian deskriptif dan secara umum terbagi menjadi tahap persiapan penelitian, pengambilan atau pengumpulan spesimen, pendataan karakter morfologi , skrining fitokimia dan pengolahan data.
Adapun prosedur yang dilakukan pada setiap tahap akan diuraikan sebagai berikut :
3.3.2.1 Persiapan penelitian
Persiapan penelitian meliputi penentuan spesimen yang diteliti, koordinasi lokasi sampling, dan persiapan alat-alat yang dibutuhkan untuk pengambilan spesimen.
3.3.2.2 Pengumpulan spesimen
Pengumpulan spesimen dilakukan dengan mengambil sampel spesimen berupa bagian daun, batang, bunga dan rimpang di lokasi sampling.
3.3.2.3 Pendataan karakter
Pendataan karakter dilakukan berdasarkan pengamatan spesimen baik yang dilakukan secara langsung di lokasi asal spesimen maupun yang dilakukan di laboratorium. Dari hasil pengamatan tersebut kemudian di data karakter-karakter morfologi serta keterangan lainnya sesuai dengan parameter yang telah ditentukan dalam lampiran 1. Pengamatan karakter morfologi genus Curcuma.
3.3.2.4 Skrining Fitokimia
Pengambilan data diawali dengan tahap pengumpulan sampel dan ekstraksi. Sampel yang digunakan adalah rimpang yang diambil dari lokasi penelitian dan diolah terlebih dahulu untuk selanjutnya dilakukan tahap ekstraksi dengan cara maserasi. Hasil maserasi (maserat) yang baik akan dipekatkan dengan menggunakan rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kental metanol.
Selanjutnya, ekstrak kental metanol diuji komponen metabolit sekundernya atau diskrining. Skrining fitokimia yang dilakukan meliputi uji minyak atsiri, flavonoid, tanin, terpenoid, steroid dan alkaloid.
3.3.2.5 Analisis Data
Analisis data dilakukan dua tahap, yaitu analisis data dengan metode fenetik dan analisis data deskriptif. Analisis data dengan metode fenetik untuk
mengelompokkan spesies dari genusCurcuma berdasarkan kesamaan fenotip dan metabolit sekunder yang dimiliki menggunakan IBM SPSS 21. Progam ini digunakan untuk menghitung besar persamaan yang ada antar spesies dengan hasil akhir berupa dendrogram yang menunjukkan adanya karakter penting yang digunakan sebagai pembeda. Pengelompokan spesies dari genus Curcuma ini dilakukan dengan menggunakan analisis gugus, dan dilengkapi dengan analisis komponen utama. Analisis gugus berdasarkan pada pengukuran kesamaan antar Satuan Taksonomi Operasional (STO) dengan menggunakan classify hierarchial cluster untuk data interval. Pengukuran tersebut di dasarkan pada sebaran karakter yang diamati dari spesies dalam genus Curcuma dan telah dilakukan scoring, sehingga dapat dilakukan penghitungan indeks similaritas dengan koefisien simple matching, dan metode agglomerative, yaitu dengan cluster average linkage dilanjutkan analisis untuk membuat fenogram. Adapun langkah-langkah dalam memasukkan data ke dalam SPSS dapat dilihat pada lampiran 12.
Analisis data deskriptif di dapat dari data morfologi dan uji skrining fitokimia yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif analitik dan deskriptif diagnostik diferensial. Deskripsi analitik berisi keseluruhan karakter, sedangkan deskripsi diagnostik diferensial berisi karakter yang penting saja dan dibandingkan antara spesies dalam genus Curcuma satu dengan yanglainnya.
3.4 Parameter yang diamati 3.4.1 Karakter Morfologi
Pada penelitian karakter dan karakteristik morfologi, parameter yang diamati sebagai berikut :
a. Perawakan, meliputi habitus (herba), kepadatan daun (sedikit, sedang, atau banyak), ukuran tinggi tanaman (pendek, sedang, atau tinggi), habitus pseudostem (padat atau terbuka), dan sudut letak daun (tegak, semi-tegak, mendatar-rebah).
b. Batang, meliputi intensitas warna hijau pada batang light green, green atau dark green), panjang batang (pendek, sedang atau tinggi), diameter batang (sempit, sedang
atau lebar), dan pewarnaan anthocyanin di pseudostem (ada atau tidak ada).
c. Daun, meliputi bangun daun (memanjang, lanset atau jorong), ujung daun (runcing atau meruncing), pangkal daun (tumpul, runcing atau meruncing), tepi daun (rata atau bergelombang), lebar daun (sempit, sedang, atau lebar), panjang daun (pendek, sedang atau panjang), permukaan daun (licin atau berlilin), daging daun (tipis lunak atau seperti kertas), venasi (menyirip atau sejajar), pola venasi (dekat atau berjauhan) warna permukaan atas daun (green atau dark green), warna permukaan bawah daun (light green, green atau dark green), ada/tidaknya rambut pada daun, panjang tangkai daun (pendek, sedang atau panjang), ada/tidakya warna pada ibu tangkai daun dan warna ibu tangkai daun.
d. Rimpang, meliputi habitus rimpang (padat, sedang, atau jarang/longgar), bentuk rimpang (lurus, berlekuk, zigzag), panjang rimpang primer (pendek, sedang atau panjang), ketebalan rimpang (tipis, sedang, atau tebal), jumlah induk rimpang (0, 1, 2-3, atau lebih dari 3), ada/tidaknya rimpang tersier, warna inner core
(orange, lemon yellow, reddish yellow, blue gray, atau cream brown), warna daging rimpang (light yellowish grey, greyish yellow, yellow, blue gray, cream brown, atau orange), pola internodus (berdekatan atau berjauhan), permukaan rimpang (halus, sedang, atau kasar), aroma rimpang (aroma mangga, aroma seperti kamper, aroma kunyit, atau tidak beraroma), dan rasa (pahit, manis, hambar, atau rasa kunyit).
e. Bunga, meliputi bentuk bunga (bulir atau tandan), warna kaliks (white atau coloured), panjang kuncup bunga (pendek, sedang, atau panjang), warna ujung bractea (white, rose, purple, green, crimson, atau yellowish white tip ), warna coma bractea (white atau coloured), warna korola (white, yellowish white, yellow, atau purple), warna labellum (white, yellowish white, yellow, atau purple), warna pistilum (white atau coloured), (Sasikumar, 2005; PPV and FR, 2007; UPOV, 1996).
3.4.2 Skrining fitokimia
Pada penelitian deteksi kandungan metabolit sekunder dengan metode skrining fitokimia, pengujian yang dilakukan sebagai berikut :
Ekstrak metanol rimpang yang telah dipekatkan dengan rotary evaporator diuji komponen metabolit sekundernya atau diskrining. Penelitian ini akan menguji minyak atsiri, flavonoid, alkaloid, terpenoid, steroid dan tanin.
a. Uji Flavonoid
2 ml ekstrak metanol yang diperoleh, dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambah dengan 0.5 ml asam klorida pekat (HCL pekat) dan 3-4 pita logam
Mg. Adanya flavonoid ditandai dengan warna merah, orange, dan hijau (Kristanti et al., 2008).
b. Uji Tanin
Uji skrining fitokimia tanin dilakukan dengan cara mengambil 1 ml ekstrak dan ditetesi beberapa tetes ferric chloride 1%. Keberadaan tanin ditandai dengan adanya warna coklat kehijauan atau biru-kehitaman (Saxena and Patil, 2012).
c. Uji Terpenoid dan steroid
Uji skrining terpenoid dan steroid tak jenuh dilakukan dengan menggunakan pereaksi Liebermann-Burchard. Ekstrak yang diperoleh diambil sedikit dan dikeringkan di atas papan spot test, ditambahkan tiga tetes anhidrida asetat (Ac2O) dan kemudian satu tetes asam sulfat pekat (H2SO4 pekat). Adanya senyawa golongan terpenoid akan ditandai dengan timbulnya warna merah sedangkan adanya senyawa golongan steroid ditandai dengan munculnya warna biru (Kristanti et al., 2008).
d. Uji Alkaloid
Uji skrining fitokimia senyawa golongan alkaloid dilakukan dengan cara mengambil sedikit sampel dan menambahkan dengan HCl 2M dan dipanaskan diatas penangas air sambil diaduk, kemudian didinginkan hingga suhu kamar. Lalu tambahkan NaCl serbuk, aduk, dan disaring, kemudian filtrat ditambah HCl 2M hingga volume tertentu. Filtrat dibagi kedalam 2 tabung reaksi, tabung 1 ditambah
reagen Wagner dan tabung 2 sebagai blangko. Tabung 1 diamati terbentuknya endapan dan dibandingkan dengan tabung 2. Jika tidak terbentuk endapan, bahan tidak mengandung alkaloid dan jika terbentuk endapan bahan mengandung alkaloid (Pedrosa et al., 1978 dalam Mustarichie et al., 2011).
e. Uji Minyak Atsiri
Cara skrining minyak atsiri adalah ekstrak ditambah lima tetes asam sulfat akan berwarna coklat hitam yang artinya positif minyak atsiri (Indrayani dkk., 2006 dalam Hebert, 2015).
3.4.3 Penghitungan Parameter Fisikokimia
Keberadaan dan keadaan organisme di alam sangat dipengaruhi oleh faktor (1) nonbiotik selain faktor biotik. Faktor nonbiotik yang biasa diukur sebagai indikator kondisi lingkungan adalah faktor fisik dan faktor kimia, yang disingkat menjadi faktor fisikokimia. Pengukuran parameter fisikokimia penting sekali untuk dilakukan selama penelitian di lapangan (Hariyanto et al., 2008). Karena kondisi spesimen penelitian bisa berbeda hanya karena perbedaan habitat dan lingkungan. Dalam penelitian ini parameter fisikokimia yang diamati adalah : Kelembapan, yang diukur menggunakan sling psychrometer,
(2) pH tanah, yang diukur menggunakan pH meter,
(3) Posisi ketinggian dan lokasi tempat pengambilan specimen, yang diukur menggunakan Altimeter dan GPS.
3.5 Cara kerja pengambilan sampel
Pengambilan sampel dilakukan setelah pengambilan data morfologi daun, batang, bunga dan perawakan dimana masing-masing spesies yang diamati dipilih secara acak dan dilakukan pengamatan dengan tiga kali pengulangan. Pengambilan sampel dilakukan guna pengamatan morfologi rimpang dan selanjutnya diolah untuk proses uji skrining fitokimia. Pengambilan rimpang dilakukan dengan cara menggali tanah disekitar individu tanaman yang diamati data morfologinya sebelumnya. Kemudian rimpang tersebut diangkat dari tanah secara hati-hati agar didapat rimpang utuh. Selanjutnya, rimpang dicuci bersih dari tanah dan kotoran yang menempel agar mudah diamati morfologinya dan siap diolah untuk proses uji skrining fitokimia.
Setelah rimpang dicuci bersih, rimpang dirajang tipis dan dikering anginkan di atas nampan, dan diletakkan di tempat yang sejuk dan teduh (tidak terkena sinar matahari langsung). Pengeringan dilakukan selama kurang lebih 14 hari hingga didapatkan simplisia yang kering sempurna, untuk selanjutnya dihaluskan dengan mesin penghalus (blender) hingga simplisia berubah menjadi serbuk kasar.
Setelah didapatkan serbuk kasar, proses selanjutnya adalah maserasi. Proses ini adalah awalan untuk mendapatkan senyawa yang ada di bahan yang diteliti, yaitu serbuk rimpang. Proses maserasi memerlukan pelarut yaitu methanol dan n-heksana. Methanol berfungsi sebagai pelarut universal yang akan mengikat senyawa polar dan non-polar. Sedangkan n-heksana adalah pelarut yang mengikat senyawa non-polar. Proses maserasi memakan waktu sekitar 3-5 hari. Proses
maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk rimpang di dalam toples kaca hingga serbuk terendam sempurna oleh pelarut. Setelah waktu maserasi dirasa cukup, dilanjutkan dengan penyaringan filtrat menggunakan kertas saring kasar.
Filtrat disimpan didalam labu erlenmeyer sebelum dipekatkan dengan rotary evaporator. Setelah diproses dalam rotary evaporator, didapatkan ekstrak kental methanol/n-heksana yang akan diuji dengan skrining fitokimia sesuai metode yang ada pada sub-bab 3.4.2.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Pengamatan Faktor Lingkungan
Pada penelitian ini, faktor lingkungan dari habitat tumbuh spesies yang diamati juga diukur. Adapun faktor lingkungan yang diukur antara lain; temperatur udara, kelembapan udara kelembapan tanah dan pH tanah. Hasil pengukuran ini (Tabel 4.1) berguna sebagai data tambahan dan informasi bahwa pada kondisi (temperatur, kelembapan, dan pH tanah) tersebut tanaman Curcuma spp. dapat tumbuh dengan baik.
Tabel 4.1 Data pengamatan faktor lingkungan.
4.1.2 Analisis Hubungan Kekerabatan Curcuma spp Berdasarkan Karakter Morfologi dan Metabolit Sekunder dengan Deskripsi
Pada penelitian ini digunakan pendekatan morfologi dan metabolit sekunder terhadap 6 spesies yang berbeda, lima spesies dari genus Curcuma dan satu spesies sebagai outgrup berasal dari genus Zingiber. Dari ke enam spesies tersebut digunakan 52 karakter, mulai dari perawakan hingga bagian rimpang dan ditambah karakter keberadaan metabolit sekunder yang diuji menggunakan metode skrining fitokimia.
Karakterisasi dari karakter morfologi dan metabolit sekunder yang digunakan dalam Jenis faktor fisik lingkungan Rerata hasil pengukuran
Kelembapan udara 81.67%
Kelembapan tanah 5%
pH tanah 5.6
penelitian ini, tertera di lampiran 1. Seluruh spesimen dari penelitian ini diambil dari satu area lokasi pengamatan, yaitu Taman Husada Graha Famili Surabaya. Untuk pengamatan karakter morfologi, untuk bagian bunga, hanya ada tiga spesies yang dapat diamati langsung di lapangan, sedangkan ketiga jenis lainnya hanya dilakukan pengamatan melalui foto dan literatur dikarenakan kondisi tanaman yang tidak memungkinkan. Karena tanaman genus Curcuma adalah tanaman jenis long day plant.
Tanaman jenis ini sulit berbunga jika tumbuh di negara tropis. Sehingga karakterisasi bunga pada penelitian, lebih ditekankan kepada karakteristik warna kaliks, warna ujung bractea, warna coma bractea, warna korola, warna labellum, dan warna pistillum.
Untuk karakter metabolit sekunder, pengamatan yang dilakukan adalah uji skrining fitokimia. Dimana hasil pengamatan didapat dari reaksi perubahan warna melalui serangkaian uji berdasar acuan literatur.
Pada ke enam spesies yang diamati, didapatkan 48 karakter morfologi, antara lain perawakan, batang, daun, bunga, rimpang dan 6 karakter metabolit sekunder, yaitu keberadaan alkaloid, flavonoid, terpenoid, steroid, tanin, dan minyak atsiri. Secara lengkap data kualitatif dan kuantitatif dari ke enam spesies tertera di lampiran 1.
No Karakter No Karakter
1 Habitus 27 Bentuk rimpang
2 Kepadatan daun 28 Panjang rimpang (primer)
3 Tinggi 29 Ketebalan rimpang
4 Habitus pseudostem 30 Jumlah induk rimpang 5 Sudut letak daun 31 Ada/tidaknya rimpang tersier 6 Intensitas warna hijau pada
batang 32 Warna inner core
7 Panjang Batang 33 Warna daging rimpang 8 Diameter batang 34 Pola internodus
9 Pewarnaan anthocyanin di
pseudostem 35 Aroma rimpang
10 Bangun daun 36 Rasa rimpang
11 Ujung daun 37 Permukaan rimpang
12 Pangkal daun 38 Warna Permukaan rimpang
13 Tepi daun 39 Bentuk bunga
14 Lebar daun 40 Warna kaliks
15 Panjang daun 41 Panjang kuncup bunga 16 Permukaan daun 42 Warna ujung bractea 17 Daging daun 43 Warna coma bractea
18 Venasi 44 Warna korola
19 Pola venasi 45 Warna labellum
20 Warna permukaan atas 46 Warna pistillum 21 Warna permukaan bawah 47 Uji Flavonoid 22 Ada/tidak ada rambut daun 48 Uji Steroid 23 Panjang tangkai daun 49 Uji Terpenoid 24 ada/tidaknya Warna ibu
tangkai daun 50 Uji Minyak atsiri 25 Warna ibu tangkai daun 51 Uji alkaloid 26 Habitus rimpang 52 Uji tanin
Tabel 4.2 Daftar Karakter morfologi dan metabolit sekunder.
Secara umum, masing-masing karakter dari setiap spesimen mempunyai ciri khusus sebagai karakter pembeda yang menunjukkan keragaman dan karakter yang sama sebagai bukti kekerabatan. Dari perawakan, terlihat bahwa habitus pseudostemnya dapat digunakan sebagai karakter penanda. Secara umum, habitus, kepadatan daun, dan tinggi relatif sama antar spesies. Namun, pada beberapa spesies,
ada yang memiliki karakteristik pseudostem yang terbuka dan ada yang tertutup/padat (compact). Sudut letak daun juga menunjukkan perbedaan di beberapa spesies. Ada yang sudut letak daunnya lebar sekali ada yang ukuran sudutnya lebih sempit.
Sementara ditinjau dari bagian batang, hampir keseluruhan spesies tidak terdapat perbedaan terlalu besar. Perbedaan baru bisa terlihat pada bagian organ daun.
Memang pada karakter lainnya, terdapat kemiripan antar spesies, tetapi ada tiga karakter yang dapat diamati ciri khasnya sebagai pembeda dari masing-masing spesies tersebut. Tiga karakter tersebut antara lain, tepi daun, pola venasi dan pewarnaan pada ibu tangkai daun. Ada beberapa spesies yang mempunyai tepi daun bergelombang, sementara spesies lainnya bertepi daun rata. Pola venasi yang dimiliki beberapa spesies ada yang jarakya lebih berjauhan daripada spesies lain. Pewarnaan ibu tangkai daun yang dimaksud adalah, adanya warna merah kecoklatan yang timbul pada sepanjang garis ibu tangkai daun. Beberapa spesies mempunyai karakteristik demikian pada daun yang telah dewasa.
Ciri khas dari tanaman family Zingiberaceae terutama genus Curcuma, adalah rimpang. Masyarakat umumnya menyebutnya sebagai ‘buah’ dari tanaman temu-temuan, karena memang pada praktiknya bagian tumbuhan ini yang banyak dimanfaatkan. Padahal sesungguhnya ‘buah’ tersebut adalah rimpang, yaitu penjelmaan batang beserta daunnya yang berada di dalam tanah, tumbuh bercabang dan mendatar. Rimpang ini selain sebagai cadangan makanan, juga bisa digunakan sebagai organ reproduksi vegetatif. Jika diamati, beberapa rimpang mempunyai
khas rimpang yang dapat digunakan sebagai karakter pembeda, antara lain: pola internodus, warna daging dan inner core rimpang, aroma dan rasa rimpang. Umumnya memang ke empat karakter di atas sudah sering digunakan untuk membedakan rimpang Curcuma, tetapi dengan bantuan pola internodus, rimpang Curcuma dapat dibedakan tanpa harus mengupas rimpangnya terlebih dahulu.
Selama ini, di Indonesia keunikan dan keindahan bunga Curcuma kurang diekspos karena memang kemungkinan tanaman jenis long day plant ini berbunga di negara tropis cukup sulit. Tetapi jika dari berbagai literatur yang ada, salah satunya Backer dan Van Den Brink (1965), dapat diamati bahwa ternyata bunga Curcuma memiliki karakter warna yang unik dan beragam. Bagian ujung dan coma bractea dari bunga Curcuma dalam penelitian memilki beragam warna, putih, ungu, rose, dan crimson. Begitupun warna korola dan staminodia, rata-rata warnanya adalah kuning, namun ada beberapa spesies yang mempunyai karakteristik korola/labellumnya berwarna ungu. Data lengkap mengenai karakter dan karakteristik dari spesies dalam penelitian ini dapat dilihat pada lampiran 1.
4.1.2.1 Deskripsi Analitik A. Curcuma xanthorrhiza
Herba berimpang, tinggi 99-124 cm. Habitus pseudostem padat dan tidak memiliki pewarnaan anthocyanin. Batang berwarna hijau muda, panjang 33-51 cm;
diameter 1,6-1,9 cm. Setiap batang memiliki ± 5-6 helai daun, dengan sudut letak daun
10-15⁰. Daun jorong dengan ujung dan pangkal meruncing dan bertepi rata. Panjang daun 33-42 cm; lebar daun 14-15 cm. Permukaan berlilin tanpa rambut daun, daging daun seperti kertas; warna permukaan atas dan bawah, hijau. Venasi menyirip dan pola venasi berjauhan. Ibu tangkai daun berwarna ungu muda kecoklatan, sehingga memiliki pewarnaan khas. Panjang tangkai daun 6-15 cm. Habitus rimpang padat dengan bentuk rimpang berkelok. Panjang rimpang primer 7-8 cm dan diameter 1-2 cm. Jumlah induk rimpang 2-4 tanpa rimpang tersier. Daging rimpang berwarna kuning; inner core berwarna lemon yellow. Pola internodus >1 cm. Permukaannya kasar dan berwarna merah kecoklatan. Aroma segar seperti buah mangga dengan rasa asam –manis. Bunga tandan dengan kaliks berwarna. Panjang kuncup 11-14 cm. Warna ujung bractea crimson; coma bractea berwarna rose. Warna korola dan labellum kuning, dan pistilum berwarna gold 2. Hasil uji skrining fitokimia menunjukkan bahwa temulawak mengandung flavonoid, steroid, terpenoid, minyak atsiri dan alkaloid.
Gambaran morfologi temulawak selengkapnya dapat dilihat pada gambar 4.1.
Gambar 4.1 Morfologi temulawak. Keterangan : A= Irisan rimpang dan rimpang utuh, B= Bentuk rimpang, C= Batang/Pseudostem, D= Permukaan daun bagian bawah, E=
Permukaan daun bagian atas, F= Bunga (Sumber: Dokumentasi Pribadi dan Versteegh, 1933).
B. Curcuma domestica
Herba berimpang dengan tinggi 74-82 cm. Habitus pseudostem terbuka tanpa pewarnaan anthocyanin. Batang berwarna hijau, dengan panjang 25-26 cm; diameter 0,8-0,9 cm. Setiap batang memiliki 6-7 helai daun dengan sudut letak daun 5-10⁰.
Daun berbentuk memanjang dengan ujung dan pangkal meruncing. Tepi bergelombang.
Panjang 21-25 cm; lebar 7-9 cm. Permukaan berlilin tanpa rambut daun, berdaging
seperti kertas. Warna permukaan atas hijau; warna permukaan bawah hijau muda.
Venasi menyirip dengan pola venasi dekat. Ibu tangkai daun berwarna hijau, sehingga tidak memiliki warna khas. Panjang tangkai daun 10-13 cm. Rimpang padat berbentuk lurus dengan panjang 4-6 cm; ketebalan 1,17-1,42 cm. Jumlah induk rimpang 3-5.
Daging rimpang dan inner core berwarna orange. Pola internodus <1 cm. Permukaan rimpang tidak terlalu kasar ataupun halus (sedang), berwarna kuning kemerahan.
Aroma tumeric dengan rasa tumeric yang khas. Bunga tandan dengan kaliks berwarna.
Aroma tumeric dengan rasa tumeric yang khas. Bunga tandan dengan kaliks berwarna.