BAB I PENDAHULUAN
1.4 Manfaat Penelitian
Secara teoritis hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai penambah ilmu pengetahuan tentang upacara adat pasahat sulang-sulang pahompu serta dapat memperkaya dan menambah ilmu khususnya bidang tradisi lisan.
2) Manfaat Praktis
Secara praktis hasil penelitian ini dapat bermanfaat dan memberikan imformasi bagi masyarakat mengenai upacara adat pasahat sulang-sulang pahompu dan juga diharapkan dapat menjadi wadah yang bermanfaat dalam menerapkan pengetahuan penulis tentang kajian tradisi lisan, khususnya dibidang upacara adat pasahat sulang-sulang pahompu.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kepustakaan Yang Relevan
Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari buku-buku pendukung yang relevan dan beberapa jurnal skripsi yang berhubungan dengan objek penelitian penulis yang di gunakan sebagai pendukung dalam penulisan skripsi ini. Adapun buku-buku dan jurnal yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Tumbur Haryanto Naibaho, (2012) yang berjudul “ upacara sulang-sulang pahompu pada etnik Batak Toba: Kajian Semiotika sosial.’’ skripsi ini membahas tentang tahapan-tahapan upacara sulang-sulang pahompu bentuk, fungsi, dan makna tanda yang terdapat pada upacara sulang-sulang pahompu.
Kontribusi skripsi ini terhadap penulisan skripsi penulis adalah membantu penulis dalam melengkapi data-data dan untuk mengetahui bentuk tahap-tahap dan tanda/simbol yang digunakan dalam upacara adat pasahat sulang-sulang pahompu yang terdapat pada objek yang penulis teliti.
2. Roni Uli Sinaga, (2012) yang berjudul “ upacara adat sulang-sulang pahompu etnik Simalungun: Kajian Semiotik.” skripsi ini mendeskripsikan bentuk, fungsi, dan makna simbol yang terdapat pada upacara adat sulang-sulang pahompu yang ada di Simalungun. Kontribusi skripsi ini terhadap skripsi penulis adalah membantu penulis dalam melengkapi data-data sekaligus
mengetahui bagaimana bentuk, dan tahapan dalam upacara adat pasahat sulang-sulang pahompu dalam suku Simalungun.
3. Mega Lestari Simamora, (2012) yang berjudul tindak tutur ilokusi dalam upacara perkawinan adat na gok Batak Toba: Kajian Pragmatik yang membahas tentang tindak tutur ilokusi yang terdapat dalam perkawinan adat na gok Batak Toba. Kontribusi skripsi ini terhadap skripsi penulis yaitu membantu penulis untuk mengetahui apa saja tindak tutur yang dituturkan dan bagaimana proses penyampaian tuturannya dalam konteks yang digunakan dalam upacara adat pasahat sulang-sulang pahompu.
4. Menurut Robert Sibarani dalam bukunya berjudul “ Kearifan Lokal, Hakikat, Peran, Dan Metode Tradisi Lisan.” (Sibarani, 2014:47) yang menyatakantradisi lisan adalah kegiatan budaya tradisional suatu komunitas yang diwariskan secara turun-temurun dengan media lisan dari satu generasi ke generasi lain baik tradisi itu berupa susunan kata-kata lisan (verbal) maupun tradisi lain yang bukan lisan, tradisi lisan memiliki lingkup tradisi lisan yaitu; lisan, sebagian lisan, dan bukan lisan (non verbal).
5. Menurut Richard Sinaga dalam bukunya berjudul ‘‘Perkawinan Adat Dalihan Natolu.’’ (Sinaga, 2012:220) yang menyatakan upacara pasahat sulang-sulang pahompu adalah acara pengukuhan pesta perkawinan secara adat.
6. Menurut T.M Sihombing (1989)dalam bukunya berjudul‘‘ Jambar Hata Dongan Tu Ulaon Adat’’.
7. Menurut W.Hutagalung (1963) dalam bukunya berjudul ‘‘Adat Taringot Tu Ruhut-Ruhut Ni Pardongan Saripeon Di Halak Batak’’.
2.2 Teori yang digunakan
Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori tradisi lisan. Secara etimologis teori berasal dari bahasa latin ‘‘theoria” yang berarti kebetulan alam atau realita. Teori diartikan sebagai kumpulan konsep yang telah teruji keterandalannya, yaitu melalui kompetensi ilmiah yang dilakukan dalam penelitian. Penulis menggunakan teori tradisi lisan dalam penulisan skripsi ini menurut Robert Sibarani dalam bukunya berjudul ‘‘Kearifan Lokal, Hakikat, Peran, Dan Metode Tradisi Lisan.’’(Sibarani, 2014:47;254;266).
2.2.1 Teori Tradisi Lisan
Tradisi lisan adalah salah satu cara masyarakat untuk menyampaikan sejarah lisan melalui tutur lisan dari generasi ke generasi berikutnya. Tradisi lisan berusaha menggali, menjelaskan, dan menginterpretasi secara ilmiah warisan-warisan budaya leluhur pada masa lalu dan membentuk karakter generasi masa kini demi mempersiapkan kehidupan yang damai sejahtera untuk masa mendatang (Sibarani, 2014:2-3).
Tradisi mengacu pada adat atau kebiasaan yang turun-temurun, atau peraturan yang dijalankan masyarakat, tradisi merupakan sinonim dari kata
“budaya’’keduanya hasil karya masyarakat yang dapat membawa pengaruh tersebut karena kedua kata ini dapat dikatakan dari makna hukum tidak tertulis dan ini menjadi patokan dan norma yang baik dan benar adanya dalam masyarakat. Tradisi berasal dari bahasa latin traditio (diteruskan) atau kebiasaan yang telah dilakukan cukup lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu
kelompok masyarakat biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, dan agama yang sama.
Hal yang paling mendasar dari tradisi yaitu adanya imformasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun lisan atau dengan kata lain tradisi adalah adat/kebiasaan turun-temurun yang masih dijalankan masyarakat, ada tiga karakteristik tradisi yang pertama merupakan kebiasaan (lore) dan sekaligus proses (process) kegiatan yang dimiliki bersama komunitas pengertian inimengimplikasikan bahwa tradisi itu memiliki kontunuitas (keberlanjutan), materi, adat, dan ungkapan verbal sebagai milik bersama yang diteruskan dalam kelompok tertentu. Kedua tradisi merupakan sesuatu yang menciptakan dan mengukuhkan identitas memilih tradisi memperkuat nilai dan keyakinan pembentukan kelompok komunitas. Ketika terjadi proses kepemilikan tradisi pada saat itulah tradisi itu menciptakan dan mengukuhkan rasa identitas kelompok. Ketiga tradisi itu merupakan sesuatu yang dikenal dan diakui oleh kelompok itu sebagai tradisinya.
Pengertian lisan pada tradisi lisan mengacu pada proses penyampaian sebuah tradisi dengan media lisan. Tradisi lisan bukan berarti terdiri atas unsur-unsur verbal saja melainkan penyampaian tradisi itu secara turun-temurun secara lisan, dengan demikian tradisi lisan terdiri atas tradisi yang mengandung unsur-unsur verbal, sebagian verbal, atau nonverbal. Konsep tradisi lisan mengacu pada tradisi yang disampaikan secara turun-temurun dari suatu generasi ke generasi lain dengan media lisan melalui mulut ke telinga.
Berdasarkan tiga pusat perhatian (ferformansi, indesikalitas, partisipasi) dan tiga parameter antropolinguistik (keterhubungan, kebernilaian, keberlanjutan) tersebut diatas, tradisi lisan sebagai penggunaan bahasa yang memadukan keseluruhan ekspresi linguistik bersama dengan aspek-aspek sosio kultural merupakan objek kajian yang menarik dan bermanfaat dengan pendekatan antropolinguistik, kajian antropolinguistik tidak hanya menjelaskan proses penggunaan bahasa secara linguistik tetapi juga mengungkapkan nilai budaya tradisi lisan itu secara antropolog.
Nilai dan norma tradisi lisan dapat dimanfaatkan untuk mendidik anak-anak memperkuat identitas dan karakter mereka dalam menghadapi masa depan sebagai penerus bangsa. Tradisi lisan merupakan kegiatan masa lalu yang berkaitan dengan keadaan masa kini dan perlu diwariskan pada masa mendatang untuk mempersiapkan masa depan generasi mendatang.
Pesan atau amanat sebagai kandungan tradisi lisan dari sudut ilmu sastra menjadi sangat penting diungkapkan tetapi amanat atau pesan itu mesti dikaitkan dengan konteks tradisi ilmu sastra tidak hanya mengkaji kesastraan dari tradisi lisan tetapi lebih jauh mampu mengkaji keseluruhan tradisi lisan secara holistik dengan kekhasan kajian dari ilmu sastra. Penelitian tradisi lisan harus mampu mengungkapkan kebenaran bentuk dan isi suatu tradisi lisan, dengan demikian diperlukan kajian ilmu sastra yang mengkaji tradisi lisan dengan mempertimbangkan bentuk (teks, ko-teks, dan konteks), isi (makna atau fungsi, nilai atau norma, dan kearifan lokal), dan model revitalisasi atau pelestarian.
Nilai dan norma budaya tradisi lisan sebagai warisan masa lalu, bagaimana nilai dan norma itu dapat dilestarikan dan direalisasikan pada generasi masa kini untuk mempersiapkan generasi masa depan yang damai dan sejahtera, tradisi lisan memiliki bentuk dan isi.
Bentuk yang dimaksud terdiri atas:
a) Teks, merupakan unsur verbal baik berupa bahasa yang tersusun ketat seperti bahasa sastra maupun bahasa naratif yang mengantarkan tradisi
lisan nonverbal seperti teks pengantar sebuah ferformansi.
b) Ko-teks, merupakan keseluruhan unsur yang mendampingi teks seperti unsur para linguistik, proksemik, kinesik, dan unsur material lainnya yang terdapat dalam tradisi lisan.
c) Konteks, merupakan kondisi yang berkenaan dengan budaya, sosial, situasi, dan ideologi tradisi lisan.
Gambar 1. Objek Kajian Tradisi Lisan
Setiap tradisi lisan memiliki bentuk dan isi. Bentuk tradisi lisan terdiri dari teks, ko-teks, dan konteks, Teks memiliki struktur, ko-teks memiliki elemen, dan konteks memiliki kondisi, yang formulanya dapat diungkapkan dari kajian tradisi lisan. Teks merupakan unsur verbal baik berupa bahasa yang tersusun ketat seperti bahasa naratif yang mengantarkan tradisi lisan nonverbal seperti teks pengantar sebuah performansi. Isi tradisi lisan berupa nilai atau norma yang dikristalisasi
TRADISI LISAN
BENTUK ISI
TEKS, KO-TEKS, DAN KONTEKS PERFORMANSI (STRUKTUR, ELEMEN
, DAN KONDISI) ...
FORMULA
NILAI DAN NORMA (FUNGSI DAN MAKNA)
...
KEARIFAN LOKAL
dari makna, peran, dan fungsi. Nilai atau norma tradisi lisan yang dapat digunakan menata kehidupan sosial itu disebut dengan kearifan lokal.
Gambar 2. Lapisan pemaknaan
Tingkatan pertama tradisi isi adalah makna atau maksud dan fungsi atau peran. Tingkatan kedua nilai atau norma yang dapat diinferesikan dari makna atau maksud dan fungsi atau peran dengan adanya keyakinan terhadap nilai atau norma itu. Tingkatan ke tiga adalah Kearifan lokal yang dapat mengungkapkan kebenaran bentuk dan isi suatu tradisi lisan.
TRADISI LISAN/TRADISI
BUDAYA
MAKNA DAN FUNGSI (MEANING
&FUCTION)
NILAI DAN NORMA BUDAYA (CULTURAL NORM
& VALUE
KEARIFAN
LOKAL
2.2.2 Ciri-ciri Tradisi Lisan
Tradisi lisan juga memiliki ciri-ciri atau karakter yang menjadi suatu keunikan dari tradisi tersebut dalam (Sibarani, 2014:43-47) Ciri-ciri tradisi lisan sebagai berikut :
1. Merupakan kegiatan budaya
2. Memiliki ferformansi
3. Dapat diamati dan ditonton
4. Bersifat tradisional
5. Diwariskan secara turun-temurun
6. Proses penyampaian “ dari mulut ke telinga’’.
7. Mengandung nilai- nilai dan norma- norma budaya
8. Memiliki versi-versi
9. Milik bersama komunitas tertentu
10. Berpotensi di revitalisasi dan diangkat sebagai sumber industri budaya
2.2.3 Wujud Tradisi Lisan
Tradisi lisan juga memiliki wujud dalam Sibarani (2014 :49-50)
1. Tradisi berbahasa dan beraksara lokal seperti tradisi menggunakan bahasa suku yang menggunakan aksara lokal. Contohnya: aksara Batak, jawi, Bugis, dll
2. Tradisi berkesusastraan lisan seperti tradisi perumpamaan atau peribahasa rakyat
3. Tradisi pertunjukan dan permainan rakyat seperti kepercayaan rakyat, teater rakyat, permainan rakyat, dan pesta rakyat
4. Tradisi upacara adat dan ritual seperti upacara berkenaan dengan siklus kehidupan seperti kelahiran, pernikahan, dan kem atian
5. Tradisi teknologi tradisional seperti arsitektur rakyat, ukiran rakyat, keterampilan jahit pakaian dan obat-obatan tradisional
6. Tradisi pelambangan atau simbolisme seperti tradisi gerak isyarat tradisional, bunyi isyarat untuk komunikasi rakyat
7. Tradisi seni dan musik rakyat seperti tradisi mempertunjukkan permainan gendang, seruling, dan alat-alat musik lainnya
8. Tradisi seni dan musik rakyat seperti bercocok tanam tradisional, perladangan tradisional, dan peternakan tradisional
9. Tradisi kerajinan tangan seperti pembuatan alat-alat dapur dan alat-alat rumah tangga
10. Tradisi kuliner atau makanan seperti pembuatan makanan-makanan khas rakyat
11. Tradisi obat-obat atau pengobatan tradisional termasuk pengobatan khas lokal
12. Tradisi panorama dan kondisi alam seperti kebiasaan menikmati pemandangan alam dan kondisi alam
2. 2.4 Pengertian Upacara Adat Pasahat Sulang-Sulang Pahompu
Secara umum upacara adat pasahat sulang-sulang pahompu merupakan salah satu adat istiadat dalam suku Batak Toba yang diwariskan secara turun-temurun, upacara pasahat sulang-sulang pahompu adalah acara pengukuhan pesta perkawinan secara adat (Sinaga, 2012 : 220). Pengukuhan artinya melunasi semua utang adat yang sebelumnya utang adat tersebut belum dibayar lunas terhadap pihak hula-hula yang melaksanakan upacara adat tersebut.
Upacara adat pasahat sulang-sulang pahompu atau pesta pernikahan adat yang tertunda yang sifatnya hampir sama dengan acara adat marunjuk yaitu mengukuhkan pernikahan secara adat batak atas mempelai. Bedanya pesta marunjuk harus melewati beberapa tahapan yang cukup panjang, sedangkan yang mangadati hanya menjalani beberapa tahapan adat bersekala kecil. (Pasahat sulang-sulang pahompu batak shop.com) yang dimaksud bersekala kecil contohnya adalah acara doa syukur menyambut pengantin yang biasanya dilanjutkan dengan acara marhata sinamot atau permintaan maaf kepada keluarga istri karena putrinya sudah dibawa kawin lari tanpa prosedur adat. Orang dahulu menyebutnya patuduhon natinangko atau memperlihatkan hasil curian dengan membawa kurban adat oleh rombongan keluarga pengantin (pasahat sulang-sulang pahompu batak shop.com).
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu, metode penelitian merupakan cara yang digunakan untuk mendapatkan data sesuai dengan kebutuhan (Sugiyono, 2010 : 3).
3.1 Metode Dasar
Metode dasar yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. karena penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif adalah menguraikan data yang terkumpul, menganalisisnya, dan menginterpretasikannya dalam rangka menemukan kaidah, pola, nilai dan norma dari sebuah peristiwa yang diteliti. Menurut (Sibarani, 2014 : 279) penelitian kualitatif mencari makna dan menggali nilai dari objek penelitiannya.
3.2 Lokasi dan Sumber Data Penelitian
Lokasi adalah tempat dimana suatu penelitian atau kegiatan dilakukan (Swastha, 2002: 24). Dalam melakukan suatu penelitian maka terlebih dahulu harus menentukan tempat lokasi yang akan menjadi objek penelitian, penulis melakukan penelitian di Desa Simatupang Kecamatan Muara Kabupaten Tapanuli Utara.
Sumber data adalah subjek darimana suatu data di peroleh (Arikunto,1998:144). Sumber data penelitian yakni data primer dan data sekunder.
1. Data primer adalah data yang didapat dari berbagai peristiwa atau adegan pertunjukan yang terdapat pada kegiatan upacara adat pasahat sulang-sulang pahompu yang dilakukan.
2. Data sekunder adalah data yang didapat dari hasil wawancara atau tanya jawab antara penanya dengan imforman tentang segala sesuatu yang terkait dengan masalah upacara adat pasahat sulang-sulang pahompu yang dilakukan.
3.3 Instrumen Penelitian
Menurut Notoatmodjo, 2010 instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa kusioner, formulir, observasi, yang berkaitan dengan pencatatan data dan sebagainya.
1) Alat perekam suara (tape recorder) digunakan untuk merekam data lisan terkait mengenai data penelitian.
2) Kamera, penulis juga membutuhkan kamera sebagai alat untuk mendokumentasikan semua kegiatan atau peristiwa yang dilaksanakan.
Kamera juga dibutuhkan penulis sebagai bukti bahwasanya penulis telah melakukan penelitian.
3) Alat tulis berupa pena dan buku catatan yang digunakan penulis untuk mencatat tentang hasil dari penelitian yang dilakukan, catatan tersebut berupa catatan lapangan yang berhubungan dengan objek penelitian.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Menurut (Sibarani, 2014:285) sebagaimana halnya penelitian kualitatif ada beberapa jenis metode pengumpulan data yang dapat diterapkan dalam penelitian tradisi lisan yakni ;
1. Metode observasi partisipatoris langsung
Peneliti hanya berperan dan mengamati suatu kegiatan upacara adat yang berlangsung dengan menggunakan pancaindra untuk mengamati deskripsi kegiatan, tingkah laku, tindakan, interaksi sosial, dan proses sosial masyarakat setempat.
2. Metode wawancara
Peneliti juga menggunakan teknik metode wawancara dengan membawa pedoman pertanyaan untuk mengarahkan wawancara.
3. Metode Kepustakaan
Peneliti juga menggunakan teknik dokumen tertulis yang mencakup data audiovisual yang memberikan gambaran konteks ideologi, konteks situasi, konteks sosial, dan konteks budaya tradisi lisan.
3.5 Metode Analisis Data
Analisis data merupakan proses mencari data dan menyusun data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain secara sistematis sehingga dapat mudah dipahami `(Sugiyono, 2009:244).
Adapun metode analisis data yang digunakan penulis adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif yaitu data yang diperoleh dari hasil rekaman dan hasil wawancara yang dilakukan dengan imforman kemudian dideskripsikan secara menyeluruh.
1. Penulis Mengambil data berupa hasil rekaman/video tentang kegiatan upacara adat pasahat sulang-sulang pahompu dan/hasil wawancara dengan imforman.
2. Hasil wawancara disederhanakan menjadi susunan bahasa yang baik dalam bentuk sebuah catatan.
3. Menertejemahkan bahasa-bahasa daerah ke bahasa indonesia supaya dapat dipahami.
4. Melakukan penyajian data yang diperlukan dan mengabaikan data yang tidak diperlukan.
5. Setelah semua data tersaji, penulis menganalisis apa saja masalah yang terdapat dalam tahap, bentuk, fungsi, dan makna dalam upacara adat pasahat sulang-sulang pahompu.
6. Penulis menarik dan membuat kesimpulan dan saran dari hasil penelitian tentang kegiatan upacara adat pasahat sulang-sulang pahompu.
BAB IV PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian penulis pelaksanaan upacara adat pasahat sulang-sulang pahompu tentu tidak semua dapat melaksanakannya pada Suku Batak Toba karena ada beberapa latar belakang yang menjadi faktor terjadinya penyebab/penghambat pelaksanaan upacara adat pasahat sulang-sulang pahompu tersebut.
4.1 Faktor Penyebab Terjadinya Upacara Adat Pasahat Sulang-Sulang Pahompu
Adapun faktor penyebab terjadinya upacara adat pasahat sulang-sulang pahompu ialah:
4.1.1 Dari Segi Faktor Ekonomi
` Pada Zaman dahulu ketika pasangan kekasih mau menikah tentu membutuhkan biaya yang besar untuk pesta pernikahan dalam suku Batak Toba yang mana biaya tersebut di gunakan untuk membiayai seluruh keperluan pesta pernikahan. Pada suku Batak Toba tentu tidak cukup hanya melakukan pernikahan melalui pemberkatan gereja saja tetapi harus melaksanakan adat atau membayar adat na gok kepada pihak Dalihan Na Tolu (yang terdiri dari tiga tungku yaitu hula-hula, dongan tubu, dan boru). Hula-hula(sapaan terhadap orang tua dan saudara laki-laki dari ibu/istri), dongan tubu(sapaan terhadap kelompok orang yang semarga/saudara kandung laki-laki dari ayah), dan boru(sapaan terhadap saudara perempuan semarga dari ayah).
Namun kenyataannya tidak semua orang mampu sekaligus langsung melaksanakan adat tersebut atau dikenal dengan istilah pasahat adat na gok (menyampaikan adat secara keseluruhan). Hal itu terjadi dikarenakan faktor ekonomi yang belum cukup mampu untuk membayar adat oleh karena itu, pasangan kekasih tersebut hanya menikah melalui pemberkatan gereja atau juga dikenal dengan istilah pernikahan pasu-pasu raja.
Pernikahan tersebut dulunya hanya disetujui raja adat dan meminta berkat dan mempercayakannya pada tua-tua kampung atau tua-tua setempat, akan tetapi pernikahan tersebut secara adat pada suku Batak Toba belum diakui sah karena belum membayar kewajiban atau membayar adat kepada pihak hula-hula(sapaan terhadap orang tua dan saudara laki-laki dari ibu/istri). Apabila suatu hari nanti mereka telah berkecukupan secara ekonomi dan sudah memiliki keturunan maka mereka akan melaksanakan upacara adat pasahat sulang-sulang pahompu(acara pengukuhan pesta perkawinan secara adat) untuk membayar kewajiban mereka yang sebelumnya belum dilunasi kepada pihak hula-hula(sapaan terhadap orang tua dan saudara laki-laki dari ibu/istri).Karena hal tersebut merupakan suatu kewajiban dalam suku Batak Toba.
4.1.2 Faktor Tidak Mendapat Persetujuan Dari Orang Tua
Sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan ketika terjadi suatu perbedaan apalagi perbedaan tersebut dilihat dari latar belakang suatu keluarga dan hal itu sangat mempengaruhi beberapa pihak yang menyebabkan kesenjangan di antara beberapa pihak keluarga, misalkan perbedaan antara yang miskin dan yang kaya.
Dalam perencanaan suatu pernikahan maka sebelum pernikahan tersebut dilakukan alangkah baiknya pihak keluarga pasangan mengetahui latar belakang dari calon pasangannya masing-masing sebelum melanjutkan pernikahan.
Pada zaman dahulu karena sebuah perbedaan latar belakang ekonomi keluarga maka sering kali terjadi perbedaan antara yang kaya dan yang miskin yang tidak bisa bersatu, dimana apabila keluarga mengetahui bahwa salah satu dari pasangan tersebut berasal dari keluarga yang tidak mampu sering kali terjadi ketidaksetujuan keluarga kepada pasangan.
Namun karena pasangan kekasih tersebut saling mencintai dan tidak ingin dipisahkan oleh perbedaan latar belakang ekonomi keluarga mereka akhirnya, pasangan tersebut mengambil keputusan dan memilih cara dengan kawin lari (mangalua) tanpa mendapatkan persetujuan dari pihak keluarga/orang tua mereka.
4.1.3 Faktor Permintaan Orang Tua Yang Sedang Sakit
Pernikahan dalam suku Batak Toba dulu juga terjadi karena permintaan orang tua yang sedang sakit diakibatkan oleh faktor usia orang tua yang sudah tua dan ingin melihat anaknya melaksanakan pernikahan. Oleh karena itu, maka dilaksanakan pernikahan yang sederhana atau dikenal dengan istilah pasu-pasu raja walaupun belum bisa membayar adat sepenuhnya.
Bagi orang Batak walaupun secara ekonomi belum mampu tetapi setidaknya ingin melihat anak-anaknya menikah terlebih dahulu walaupun belum bisa langsung membayar adat na gok, karena bagi orang Batak dengan melihat anaknya menikah semua merupakan suatu kebahagiaan dan suka cita tersendiri bagi orang Batak.
4.1.4 Faktor Kecelakaan/berbadan dua
Kecelakaan yang dimaksud dalam hal ini maksudnya ialah laki-laki dan perempuan telah melakukan hubungan suami istri terlebih dahulu sebelum dinikahkan sampai si perempuan sudah berbadan dua/hamil demi harga diri orangtua adakalanya orangtua mendorong anaknya untuk menikah walaupun tidak melaksanakan adat/sekaligus membayar adat na gok (keseluruhan).
4.1.5 Melangkahi
Orang tua pada umumnya menginginkan anaknya yang lebih dahulu lahirlah yang lebih dulu menikah daripada yang dibawahnya. Karena itu, orang tua menyuruh sabar kepada anaknya yang minta dinikahkan duluan menunggu anaknya dapat jodoh. Karena adiknya yang paling kecil merasa takut kehilangan pasangannya akhirnya nekat menempuh kawin lari (mangalua) dengan pasangannya.
4.2Tahap-Tahap Upacara Adat Pasahat Sulang-Sulang Pahompu
Pada suku Batak Toba upacara adat pasahat sulang-sulang pahompu
Pada suku Batak Toba upacara adat pasahat sulang-sulang pahompu