DINAMIKA MASYARAKAT BALI
4.4 Mata Pencaharian Hidup
Mata pencaharian hidup masyarkat Bali terdiri atas pertanian, industri, dan jasa. Pola perkampungan pada umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor tata nilai ritual yang menempatkan zona sakral di bagian kangin (timur) sebagai arah terbitnya matahari sebagai zona yang diutamakan. Faktor kondisi dan potensi alam menempatkan nilia utama ke arah kaja(gunung) dan sebaliknya menganggap rendah arah kelod (laut). Menurut pendapat beberapa masyarakat bahwa faktor ekonomi menempatkan nilai utama pada tempat bekerja seperti desa nelayan menghadap ke laut, desa pertanian menghadap ke arah sawah atau perkebunan. Sumber mata pencaharian hidup masyarakat Bali sebagian besar dari sektor jasa pariwisata, seniman, pertanian, dan perkebunan. Pada abad 21 ini
kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan memudahkan orang bepergian ke mana-mana, sehingga sektor pariwisata mulai menjadi salah satu sektor unggulan yang menjadi mata pencaharian beberapa keluarga di destinasi pariwisata di Bali. Pada awal tahun 1980-an banyak bermunculan destinasi kunjungan wisatawan, seperti Ubud, Sanur, Nusa Dua, Kuta, dan sebagainya. Sektor ini menjadi andalan penyumbang devisa terbesar di daerah ini sehingga banyak masyarakat di tujuan wisata ini beralih profesi dari petani ke sektor pariwisata sebagai tumpuan untuk menggantungkan biaya penghidupannya. Mata pencaharian hidup masyarakat Bali yakni sebagai berikut.
Bertani
Luas wilayah Bali 5.632,86 Km2 terdiri dari tanah perkebunan dan tanah persawahan terkenal dengan organisasi yang disebut subak, yaitu organisasi yang mengatur pengairan di sawah. Dalam melakukan aktivitas di sawah petani memanfaatkan alat-alat tradisional yang paling populer disebut bajak. Pengolahan tanah dibagi dalam tahapan-tahapan kegiatan, yaitu untuk menggemburkan tanah memakai bajak tenggala, untuk membersihkan tanah dari gulma-gulma memakai bajak jangkar, untuk melumatkan tanah menjadi lumpur memakai bajak lampit slau, dan terakhir untuk menghaluskan tanah memakai bajak plasah. Seiring dengan kemajuan teknologi dan modernitas serta meningkatnya pendapatan masyarakat Bali digunakan traktor untuk mengolah tanah pertanian di samping lebih cepat proses pelaksanaan mengolah tanah persawahan juga lebih efisien. Akan tetapi, petani yang memelihara sapi masih membajak sawahnya secara tradisional dengan alasan sapi-sapi yang dipelihara dapat dimanfaatkan menghaluskan tanah memakai bajak plasah.
Setelah permukaan tanah lumpur tersebut halus baru ditanami padi bulih (tanaman batang pohon padi yang masih muda). Dalam proses aktivitas pertanian di sawah ini masyarakat menerapkan sistem kerja ngajakan (kerja gotong royong/bekerja saling membantu tanpa imbalan jasa). Selain menanam padi petani yang khususnya tinggal di daerah dataran tinggi menanam jagung, umbi-umbian, dan kedelai.
Berkebun
Selain bertani masyarakat Bali juga membuka lahan untuk berkebun. Tanaman perkebunan yang menjadi mata pencahariannya meliputi tanaman buah nangka, kates,
jeruk bali, vanili, kelapa, dan bambu. Biasanya yang mengerjakan proses penanaman di kebun adalah orang tua sedangkan kaum remajanya enggan berkebun karena mereka memilih bekerja di restoran, artshop dan tempat wisata lainnya. Orang tua berkebun di samping hobi juga dimanfaatkan sebagai hiburan yang bermanfaat walaupun tidak merupakan penghasilan pokok keluarga. Di sisi lain pelestarian alam perlu dijaga agar para remaja dapat melanjutkan hal-hal yang baik supaya lingkungan sekitarnya tetap asri dan berdaya guna. Jika para remaja telah tertarik berkebun diharapkan kedepan apa pun pengaruh budaya dapat diantisipasi dengan baik.
Perdagangan
Karena menyandang sebutan sebagai Ibu Kota Seni dan Budaya Asia, Bali memang merupakan tempat di mana hasil karya seni berbagai bentuk diciptakan dan dijual, mulai yang berupa cendera mata yang dijual di pasar sampai dengan mahakarya seniman terkenal yang dipajang di gallery‐gallery papan atas. Pulau Bali terkenal memiliki pemandangan alam yang sangat indah sehingga dapat menginspirasi seniman untuk berkarya secara maksimal. Hasil karya seniman Bali tampak seperti gambar dibawah ini.
Gambar : Kios Barang Hadiah (Dok: Pribadi)
Bukan hanya seniman-seniman Bali, melainkan sejumlah seniman mancanegara memilih Balisebagai rumah tempat berkarya. Mereka adalah pelukis, pematung, bahkan penulis buku dan koreografer. Sebagian karya seni tersebut dipajang di berbagai tempat di Bali sendiri, mulai dari pasar, kios-kios di sepanjang jalan dan lorong, dan di sejumlah galerry seni papan atas yang memajang karya-karya seniman terkenal. Menurut Ibu Desak Sarmi yang menjual hasil karya seniman Bali, sekarang keindahan alam Bali hanya bisa dinikmati di kawasan pinggiran, sementara pusat kota sendiri sudah menjadi kawasan
yang hiruk pikuk dengan wisatawan dan berbagai fasilitas penunjang pariwisata lain, mulai dari artshop, restaurant, cafe, spa, dan sebagainya.
Meskipun demikian, bahkan ketika berada di pusat kota Bali yang ramai, tetap dapat merasakan suasana yang berbeda. Beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi di Bali di antaranya adalah istana kerajaan Ubud. Meskipun tidak lagi memiliki kewenangan administratif, secara adat dan budaya kerajaan Ubud masih eksis. Istana Ubud masih merupakan tempat kediaman keluarga kerajaan. Kunjungan ke istana Ubud terasa seperti melongokkan kepala melalui jendela ke dalam kehidupan kerajaan masa lampau. Selain istana yang indah yang kental dengan elemen arsitektur Bali, setiap hari di sini juga digelar pementasan seni. Selain itu, dekat dengan istana terdapat pasar Ubud. Ada banyak hal yang bisa ditemukan di pasar ini, dari makanan khas Bali sampai dengan berbagai cendera mata dan karya seni.
Selain di pasar, juga dapat dilihat berbagai cendera mata menarik hasil karya seni lainnya di jajaran kios-kios yang menghiasi sepanjang kiri-kanan jalan-jalan dan lorong-lorong di Ubud, bersisipan dengan banyak restaurant dan hotel. Karya seni dalam berbagai bentuk dan ukuran bisa ditemukan di mana-mana, yaitu bisa memilih pasar, kios, atau gallery. Untuk memanjakan diri, Ubud menawarkan banyak spa, mulai dari yang murah meriah di pinggir jalan-jalan kecil, sampai spa-spa papan atas baik yang berdiri khusus sebagai spa maupun yang menjadi bagian dari resor-resor mewah. Banyak di antaranya mengantongi predikat spa terbaik dunia.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa mata pencaharian keluarga masyarakat Bali meningkat pesat. Mata pencaharian dari petani penggarap sawah dan ladang beralih ke sektor jasa, seperti usaha kios barang hadiah, rent car, art shop untuk wisatawan sehingga kemajuan dicapai sangat membanggakan. Aktivitas pasar desa di Bali yang dulu hanya pada pagi hari, tetapi sekarang telah berkembang hingga sore hari, bahkan beberapa toko yang ada di pasar itu tetap melayani transaksi sampai malam hari. Hal tersebut menyebabkan wajah Bali pada malam hari tidak jauh berbeda dengan kota lainnya.