KEPARIWISATAAN BALI 8.1 Pengertian Kepariwisataan
8.3 Pengaruh Positif dan Negatif Pembangunan Pariwisata
Pembangunan sektor pariwisata di Bali berdampak pada berbagai dimensi kehidupan manusia, tidak hanya berdampak pada dimensi sosial ekonomi semata, tetapi juga menyetuh dimensi sosial budaya bahkan lingkungan fisik. Pengaruh terhadap berbagai dimensi tersebut tidak hanya bersifat positif, tetapi juga berdampak negatif. Pengaruh positif pariwisata terhadap pembangunan ekonomi, antara lain dampak terhadap penciptaan lapangan kerja, sumber devisa negara dan distribusi pembangunan secara spiritual (Spillane, 1994:33). Sebaliknya, pengaruh negatif pariwisata terhadap pembangunan ekonomi, antara lain vulnerability ekonomi, kebocoran pendapatan, polarisasi spasial, sifat pekerjaan yang musiman, dan alokasi sumber daya ekonomi.
Pengaruh terhadap lingkungan fisik bahwa pariwisata dapat menimbulkan pencemaran, kemacetan lalu lintas, kerusakan lingkungan, dan pengalihan fungsi tanah, terutama tanah pertanian yang dijadikan sebagai tempat pengembangan fasilitas dan sarana pariwisata, seperti hotel, restoran, objek wisata, dan lain-lain. Pengembangan pariwisata telah berkontribusi banyak terhadap kerusakan dan keseimbangan lingkungan, khususnya pembangunan pariwisata yang memanfaatkan tanah pertanian, baik tanah basah maupun kering (Spillane 1996:73).
Di kawasan wisata banyak tanah pertanian telah dialih fungsikan untuk pembangunan fasilitas pariwisata, seperti hotel, villa, bungalow, café, artshop, dan lain-lain. Masyarakat Bali sangat tertarik untuk menyewakan tanah kepada investor, baik asing maupun domestik, dengan harapan agar dapat mengikuti pola hidup modern dan mereka prihatin dengan kehidupan sebelumnya yang serba kekurangan. Jika kebutuhan masyarakat Bali ini tidak dipenuhi dalam keadaan yang sangat ekstrim (misalnya kelaparan),maka kehilangan kendali atas perilakunya sendiri karena seluruh kapasitas dikerahkan dan dipusatkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya (Maslow,2006:175). Dengan pembangunan fasilitas tersebut maka secara otomatis sistem penyaluran atau distribusi air terhalangi oleh beton-beton yang melintang dengan kokoh di wilayah tersebut yang mengakibatkan air tidak bisa mengalir dengan baik ke seluruh areal persawahan. Terhambatnya saluran air di daerah tersebut juga telah mengakibatkan masalah baru “banjir” khususnya pada musim hujan. Air meluap ke permukaan saluran-saluran air yang kecil dan tidak lancar dan tumpah ke jalan. Sistem distribusi air yang dikenal sebagai “subak” dan sawah yang dahulu merupakan sumber penghasilan utama masyarakat setempat akan punah ditelan zaman dan derasnya laju pembangunan pariwisata. Berdasarkan fakta ini, mungkinkah lingkungan, sawah, dan subak, bisa lestari? Dengan kerusakan ini pula, mungkinkah budaya luhur masyarakat Bali, khususnya pertanian bisa Ajeg. Peningkatan sistem teknologi, ilmu pengetahuan, dan ekonomi, terjadinya pergeseran struktur kekuasaan dari otokrasi menjadi oligarki, juga menimbulkan perubahan dalam gaya hidup, yang mengarah kepada masyarakat konsumerisme, terjadi kompetisi yang saling menghancurkan.
Oleh karena itu, diperlukan perencanaan untuk menekan sekecil mungkin pengaruh negatif yang ditimbulkan.Kemajuan teknologi dan informasi berpengaruh terhadap mudahnya promosi pariwisata dilakukan melalui internet ke berbagai negara calon wisatawan di seluruh dunia, untuk berkunjung ke Bali lewat slide-slide objek wisata terkenal. Hal itu juga dilampiri fasilitas hotel-hotel, harga kamar, makanan dan minuman yang dikemas elegant menarik wisatawan.
Pengaruh positif pariwisata, yakni pengeluaran sektor pariwisata akan menyebabkan perekonomian masyarakat lokal menggeliat dan menjadi stimulus berinvestasi dan menyebabkan sektor keuangan bertumbuh seiring dengan bertumbuhnya sektor ekonomi lainnya. Kedatangan wisatawan ke sebuah destinasi wisata juga menyebabkan bertumbuhnya bisnis valuta asing untuk memberikan pelayanan dan kemudahan bagi
wisatawan selama berwisata. Pengembangkan sektor pariwisata, membuktikan bahwa sektor pariwisata berkontribusi nyata terhadap penciptaan peluang kerja, penciptaan usaha-usaha terkait dengan pariwisata seperti usaha akomodasi, restoran, pub, taksi, dan usaha kerajinan seni suvenir. Kontribusi pariwisata terhadap pendapatan pemerintah langsung berasal dari pajak pendapatan yang dipungut dari para pekerja pariwisata dan pelaku bisnis pariwisata pada kawasan wisata yang diterima langsung oleh dinas pendapatan suatu destinasi.
Sebaliknya, kontribusi tidak langsung pariwisata terhadap pendapatan pemerintah berasal dari pajak atau bea cukai barang-barang yang diimport dan pajak yang dikenakan kepada wisatawan yang berkunjung, seperti visa on arrival. Pembangunan destinasi pariwisata agar diantisipasi pengaruh negatif yang ditimbulkan sebelum merembet ke hal lainnya seperti tour operator lokal memberikan sumbangan kepada petani yang mau memelihara sawah terasering agar tetap terjaga pemandangan alami sebagai tujuan tambahan kunjungan wisata di samping objek wisata yang telah ada lainnya. Terasering sawah penduduk dijadikan sebagai objek wisata.
Gambar : Terasering Sawah Ceking (Dok pribadi )
Sawah warga yang elok dan indah dijadikan pemandangan bagi sejumlah restoran, kafé dan hotel, tetapi petani yang memiliki sawah indah tersebut mestinya mendapatkan keuntungan sehubungan dengan pemanfaatan sawah dan aktivitas pertaniannya sebagai atraksi wisata. Timbul enclave tourism, yakni sebuah destinasi wisata dianggap hanya sebagai tempat persinggahan, sebagai contoh sebuah perjalanan wisata dari manajemen kapal pesiar, yaitu mereka hanya singgah pada sebuah destinasi tanpa melewatkan malam atau menginap di hotel-hotel yang telah disediakan industri lokal. Akibatnya dalam
kedatangan wisatawan kapal pesiar tersebut manfaatnya dianggap sangat rendah, atau bahkan tidak memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat di sebuah destinasi yang dikunjunginya. Kenyataan lain yang menyebabkan “enclave” adalah kedatangan wisatawan yang melakukan perjalan wisata yang dikelola oleh biro perjalanan wisata asing dari “origin country” sebagai contohnya.
Mereka menggunakan maskapai penerbangan milik perusahaan mereka sendiri.Kemudian mereka menginap di sebuah hotel yang dimiliki oleh manajemen chain dari negara mereka sendiri, berwisata dengan armada dari perusahaan chain milik pengusaha mereka sendiri, dan dipramuwisatakan oleh pramuwisata dari negerinya sendiri, dan sebagai akibatnya masyarakat lokal tidak memeroleh manfaat ekonomi secara optimal. Peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa dari wisatawan akan menyebabkan meningkatnya harga secara beruntun “inflasi” yang pasti akan berdampak negatif bagi masyarakat lokal yang dalam kenyataannya tidak mengalami peningkatan pendapatan secara proporsional artinya, jika pendapatan masyarakat lokal meningkat, tetapi tidak sebanding dengan peningkatan harga-harga akan menyebabkan daya beli masyarakat lokal menjadi rendah. Pembangunan pariwisata juga berhubungan dengan meningkatnya harga sewa rumah, harga tanah, dan harga-harga property lainnya sehingga sangat dimungkinkan masyarakat lokal tidak mampu membeli dan cenderung akan tergusur ke daerah pinggiran yang harganya masih terjangkau. Sebagai konsukuensi logis, pembangunan pariwisata juga berdampak pada meningkatnya harga-harga barang konsumtif, biaya pendidikan, dan harga-harga kebutuhan pokok lainnya sehingga pemenuhan akan kebutuhan pokok justru akan menjadi sulit bagi penduduk lokal. Tanpa disadari ternyata pembangunan sektor pariwisata yang berstandar internasional dapat menjadi beban biaya tersendiri bagi pemerintah dan akibatnya cenderung akan dibebankan pada sektor pajak dalam arti untuk membangun infratruktur tersebut, pendapatan sektor pajak ditingkatkan.
Pungutan pajak terhadap masyarakat harus dinaikkan. Pembangunan pariwisata juga mengharuskan pemerintah untuk meningkatkan kualitas bandara, jalan raya, dan infrastruktur pendukungnya, dan tentunya semua hal tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit dan sangat dimungkinkan pemerintah akan melakukan realokasi pada anggaran sektor lainnya, seperti pengurangan anggaran pendidikan dan kesehatan.
Kenyataan di atas menguatkan pendapat bahwa analisis terhadap dampak pariwisata
seharusnya menyertakan faktor standar klasifikasi industri untuk tiap aktivitas pada industri pariwisata yang sering dilupakan pada analisis dampak pariwisata (Harris, 1994:231).
World Tourism Organization telah menggariskan kebijakan pengembangan pariwisata berkelanjutan yang menitikberatkan pada tiga hal, yaitu keberlanjutan alam, sosial dan budaya, serta ekonomi. Konsep ini secara jelas menjabarkan bahwa pengembangan pariwisata tidak boleh merusak alam, lingkungan, dan tanah terutama tanah pertanian.
Agrotourism merupakan model pengembangan pariwisata memiliki keterkaitan yang erat antara pertanian dan pariwisata. Upaya mensinergikan pertanian dengan pariwisata.
Pengembangan agrotourism merupakan model pengembangan yang tepat dan melengkapi model pengembagan pariwisata budaya yang dikembangkan sekarang ini. Agrowisata merupakan pengembangan pariwisata yang berbasis pertanian, baik pemanfaatan aktivitas pertanian seperti membajak, menanam padi, dan memanen sebagai objek wisata, daya tarik wisata dan atraksi wisata, maupun pemanfaatan hasil-hasil pertanian, seperti beras, sayur, dan buah untuk keperluan industri pariwisata, seperti hotel dan restoran di suatu daerah tujuan wisata. Bagus Agrowisata di Plaga, Kabupaten Badung merupakan salah satu contoh objek agrowisata yang memanfaatkan kegiatan pertanian organik sebagai daya tarik wisata. Wisatawan secara langsung bisa melihat beraneka ragam tanaman, seperti sayuran, buah, dan aktivitas pertanian yang dilakukan oleh masyarakat lokal di tempat tersebut. Selain itu, wisatawan juga bisa memetik buah-buahan secara langsung di sekitar areal Bagus Agrowisata sambil melihat pemandangan perbukitan yang indah dan menakjubkan.
Di pihak lain hasil pertanian digunakan untuk kepentingan hotel dan restoran yang secara khusus menjual makanan organik yang merupakan makanan sehat dan menjadi trend bagi kalangan wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Masyarakat Bali memiliki nilai seni tinggi dan adat istiadat yang unik. Disamping itu, restoran-restoran di kawasan ini menyajikan menu beraneka ragam dengan harga bervariasi. Makanan khas Bali misalnya warung babi guling ibu Oka disebelah Puri Ubud, nasi ayam Kedewatan ibu Mangku, dan restoran Bebek Bengil dengan menu andalan bebek goreng crispy.