GLOBALISASI, GLOKALISASI DAN KONSUMERISME
4. Komunikasi dan Informasi
9.5 Pengaruh Globalisasi terhadap Budaya dan Kesenian
Arus globalisasi saat ini telah menimbulkan dampak terhadap perkembangan budaya Bali. Derasnya arus informasi dan telekomunikasi ternyata menimbulkan sebuah kecenderungan yang mengarah kepada memudarnya nilai-nilai pelestarian budaya.
Perkembangan tiga T (Teknologi, Transportasi,Telekomunikasi) mengkibatkan berkurangnya keinginan untuk melestarikan budaya negeri sendiri. Budaya masyarakat Bali yang dulunya ramah-tamah, gotong royong, dan sopan berganti dengan budaya barat, misalnya pergaulan bebas. Dahulu anak-anak remaja masih banyak yang berminat untuk belajar beberapa jenis tari Bali.
Saat ini ketika teknologi semakin maju, banyak remaja belajar tari modern. Jika tidak diantisipasi kebudayaan daerah ini akan lenyap di masyarakat, tetapi bila dikelola dengan baik selain dapat menjadi pariwisata budaya yang menghasilkan pendapatan untuk pemerintah juga dapat menjadi lahan pekerjaan yang menjanjikan bagi masyarakat sekitarnya. Hal lain yang merupakan pengaruh globalisasi yakni dalam pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sekarang ada kecenderungan di kalangan anak muda masyarakat Bali lebih suka menggunakan bahasa Indonesia dialek Jakarta, seperti penyebutan kata gue (saya) dan lu (kamu). Selain itu, sering didengar anak muda menggunakan bahasa Indonesia dengan dicampur-campur bahasa Inggris, seperti ok, no problem sure, dan yes, bahkan kata-kata makian (umpatan) sekalipun yang sering didengar di film-film barat sering diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata ini disebarkan melalui media televisi dalam film-film, iklan, dan sinetron bersamaan dengan disebarkannya gaya hidup dan fashion. Gaya berpakaian remaja masyarakat bali sebelumnya menjunjung tinggi norma kesopanan, sekarang telah berubah mengikuti mode masa kini. Ada kecenderungan bagi remaja putri memakai pakaian minim dan ketat yang
memamerkan bagian tubuh tertentu. Budaya berpakaian minim ini dianut dari film dan majalah luar negeri yang ditransformasikan ke dalam sinetron televise. Kemajuan teknologi dapat diproduksi kesenian melalui kaset, vcd, dan dvd hadir di tengah-tengah masyarakat modern. Peristiwa transkultural akan berpengaruh terhadap keberadaan kesenian lokal. Saat ini masyarakat disuguhi beragam tawaran alternatif yang lebih menarik jika dibandingkan dengan kesenian tradisional. Kehadiran parabola menyebabkan masyarakat Bali dapat menyaksikan berbagai tayangan hiburan yang bersifat mendunia yang berasal dari berbagai belahan dunia.
Kondisi yang demikian mau tidak mau membuat semakin tersisihnya kesenian tradisional dari kehidupan masyarakat Bali yang sarat akan pemaknaan dalam masyarakat. Misalnya saja bentuk-bentuk ekspresi kesenian etnis, baik yang merakyat maupun istana, selalu berkaitan erat dengan perilaku ritual masyarakat pertanian. Perubahan sosial yang hadir sebagai akibat proses industrialisasi dan sistem ekonomi pasar juga globalisasi informasi, menyebabkan kesenian pun mulai bergeser ke arah kesenian yang berdimensi komersial.
Kesenian-kesenian yang bersifat ritual mulai tersingkir dan kehilangan fungsinya.
Sekalipun demikian, tidak berarti bahwa semua kesenian tradisional lenyap begitu saja.
Ada berbagai kesenian yang masih menunjukkan eksistensinya, bahkan secara kreatif terus berkembang tanpa harus tertindas proses modernisasi.
Pesatnya laju teknologi informasi atau teknologi komunikasi telah menjadi sarana difusi budaya yang ampuh, sekaligus juga alternatif pilihan hiburan yang lebih beragam bagi masyarakat luas. Akibatnya, masyarakat tidak tertarik lagi menikmati berbagai seni pertunjukan tradisional yang sebelumnya akrab dengan kehidupan mereka. Misalnya saja kesenian tradisional wayang kulit, yang tampak sepi penonton seolah-olah tak ada pengunjungnya. Hal ini sangat disayangkan mengingat wayang merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional yang sarat dan kaya akan pesan-pesan moral. Selain itu, juga merupakan salah satu agen penanaman nilai-nilai moral yang baik. Hal itu merupakan contoh kecil dari mulai terdepaknya kesenian tradisional akibat globalisasi. Bisa jadi fenomena demikian tidak hanya dialami oleh kesenian tradisional, tetapi juga dalam berbagai ekspresi kesenian tradisional di berbagai tempat. Sekalipun demikian, tidak berarti bahwa semua kesenian tradisional mati begitu saja dengan merebaknya globalisasi.
Di sisi lain ada beberapa seni pertunjukan yang tetap eksis tetapi telah mengalami perubahan fungsi. Kesenian yang mampu beradaptasi dan mentransformasikan diri dengan
teknologi komunikasi yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat, misalnya saja kesenian tradisional wayang kulit Cenk Blonk yang dipopulerkan di layar kaca oleh dalang Wayan Nardayana. Kenyataan di atas menunjukkan bahwa kesenian wayang Cenk Blonk sesungguhnya memiliki penggemar tersendiri, terutama disajikan dalam bentuk siaran televisi. Keberanian stasiun Dewata Televisi dan Bali Televisi yang sejak beberapa tahun lalu menayangkan wayang kulit setiap malam purnama cukup sebagai bukti akan besarnya minat masyarakat terhadap salah satu khazanah kebudayaan lokal.
Pada sisi inilah globalisasi telah memasuki berbagai sistem nilai sosial dan budaya timur (termasuk Bali) sehingga terbuka pula konflik nilai antara teknologi dan nilai-nilai ketimuran. Peran kebijakan pemerintah yang lebih mengarah kepada pertimbangan-pertimbangan ekonomi daripada kultural atau budaya dapat dikatakan merugikan suatu perkembangan kebudayaan. Kebijakan kultural saat ini secara efektif mengubah dan merusak seni-seni pertunjukan tradisional, baik melalui campur tangan, penanganan yang berlebihan, kebijakan tanpa arah, maupun tidak ada perhatian yang diberikan pemerintah kepada kebijakan kultural atau konteks kultural (Jennifer 1995:243). Dilihat tingkah laku aparat pemerintah dalam menangani perkembangan kesenian rakyat, di mana banyaknya campur tangan dalam menentukan objek dan berusaha mengubah agar sesuai dengan tuntutan pembangunan. Dalam kondisi seperti ini arti kesenian rakyat itu sendiri menjadi hambar dan tidak ada rasa seninya lagi.
Berdasarkan kecenderungan tersebut, aparat pemerintah telah menjadikan para seniman sebagai objek pembangunan dan diminta untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan simbol-simbol pembangunan. Hal ini tentu saja mengabaikan masalah pemeliharaan dan pengembangan kesenian secara murni, dalam arti benar-benar didukung oleh nilai seni yang mendalam, bukan sekadar hanya dijadikan model dalam pembangunan. Kesenian rakyat semakin lama tidak dapat mempunyai ruang yang cukup memadai untuk perkembangan secara alami atau natural. Oleh karena itu, secara tidak langsung kesenian rakyat akhirnya menjadi sangat tergantung oleh model-model pembangunan yang cenderung lebih modern dan rasional. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak dikehendaki terhadap keaslian dan perkembangan yang murni bagi kesenian rakyat tersebut, maka pemerintah perlu mengembalikan fungsi pemerintah sebagai pelindung dan pengayom kesenian-kesenian tradisional tanpa harus turut campur dalam proses estetikanya. Memang diakui bahwa kesenian rakyat saat ini membutuhkan dana dan
bantuan pemerintah sehingga sulit untuk menghindari keterlibatan pemerintah dan bagi para seniman rakyat ini merupakan sesuatu yang sulit pula membuat keputusan sendiri untuk sesuai dengan keaslian (originalitas) yang diinginkan para seniman rakyat tersebut.
Oleh karena itu, pemerintah harus ‘melakoni’ dengan benar-benar peranannya sebagai pengayom yang melindungi keaslian dan perkembangan secara estetis kesenian rakyat tanpa harus mengubah dan menyesuaikan dengan kebijakan politik. Globalisasi informasi dan budaya yang terjadi dalam milenium baru seperti saat ini merupakan sesuatu yang tak dapat dielakkan.
Harus diakui bahwa teknologi komunikasi sebagai salah satu produk modernisasi yang bermanfaat besar bagi terciptanya dialog dan demokratisasi budaya secara massal dan merata. Globalisasi mempunyai dampak yang besar terhadap budaya. Kontak budaya melalui media massa menyadarkan dan memberikan informasi tentang keberadaan nilai-nilai budaya lain yang berbeda dari yang dimiliki dan dikenal selama ini. Kontak budaya ini memberikan masukan yang penting bagi perubahan-perubahan dan pengembangan-pengembangan nilai-nilai dan persepsi di kalangan masyarakat Bali yang terlibat dalam proses ini. Sehubungan dengan itu, untuk melakukan penyesuaian terhadap perubahan diperlukan pengembangan yang bersifat global, tetapi tetap bercirikan kekuatan lokal atau etnis. Globalisasi budaya yang begitu pesat harus diantisipasi dengan memperkuat identitas kebudayaan lokal masyarakat Bali.
Berbagai kesenian tradisional yang sesungguhnya menjadi aset kekayaan kebudayaan Bali jangan sampai hanya menjadi alat atau slogan para pemegang kebijakan, khususnya pemerintah dalam rangka keperluan turisme dan politik. Selama ini pembinaan dan pengembangan kesenian tradisional yang dilakukan lembaga pemerintah masih sebatas pada unsur formalitas belaka, tanpa menyentuh esensi kehidupan kesenian yang bersangkutan. Akibatnya, kesenian tradisional tersebut bukannya berkembang dan lestari, tetapi justru semakin dijauhi masyarakat. Tantangan yang dihadapi oleh kesenian rakyat cukup berat karena pada era teknologi dan komunikasi yang sangat canggih dan modern ini masyarakat dihadapkan kepada banyaknya alternatif sebagai pilihan, baik dalam menentukan kualitas maupun selera. Hal ini sangat memungkinkan keberadaan dan eksistensi kesenian rakyat dapat dipandang dengan sebelah mata oleh masyarakat jika dibandingkan dengan kesenian modern yang merupakan imbas dari budaya pop (Piliang, 2011:112). Untuk menghadapi hal-hal tersebut ada beberapa alternatif untuk
mengatasinya, yaitu meningkatkan sumber daya manusia bagi para seniman rakyat. Selain itu, mengembalikan peran aparat pemerintah sebagai pengayom dan pelindung. Bukan sebaliknya justru menghancurkannya demi kekuasaan dan pembangunan yang berorientasi pada dana proyek atau dana untuk pembangunan dalam bidang ekonomi saja.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengaruh globalisasi disatu sisi ternyata menimbulkan pengaruh negatif bagi kebudayaan Bali. Norma-norma yang terkandung dalam kebudayaan lokal perlahan-lahan mulai pudar. Gencarnya serbuan teknologi disertai nilai-nilai intrinsik yang diberlakukan di dalamnya telah menimbulkan isu mengenai globalisasi dan pada akhirnya menimbulkan nilai baru tentang kesatuan dunia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, kesadaran akan kesatuan dunia telah menghentakkan, entah suka atau tidak, timur dan Barat telah menyatu dan tidak pernah lagi terpisah. Artinya, antara barat dan timur tidak ada lagi perbedaan.
Kebudayaan lokal dilebur dengan kebudayaan asing. Sehubungan dengan itu, perlu dipertahankan aspek sosial budaya sebagai identitas dengan cara penyaringan budaya yang masuk dan pelestarian budaya daerah. Bagi masyarakat Bali dicoba dikembangkan seni tradisional menjadi bagian dari kehidupan modern, tentu akan terus berupaya memodifikasi bentuk-bentuk seni yang masih berpolakan masa lalu untuk dijadikan komoditas yang dapat dikonsumsi masyarakat modern. Globalisasi informasi dan budaya yang terjadi menjelang milenium baru seperti saat ini adalah sesuatu yang tak dapat dielakkan. Seni itu indah dan mahal. Kesenian rakyat merupakan kekayaan daerah yang tidak ternilai harganya dan tidak dimiliki daerah lainnya. Kesenian yang mampu beradaptasi dan mentransformasikan diri dengan teknologi komunikasi yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat, misalnya saja kesenian tradisional wayang kulit Cenk Blonk yang dipopulerkan di layar kaca oleh dalang Wayan Nardayana.
9.6Glokalisasi
Suatu konsep glokalisasi, yaitu penggabungkan antara yang global dan lokal, antara yang universal dan yang partikular (Roberstone, 1992). Bagaimanapun juga kebudayaan tidak mungkin diseragamkan karena merupakan hasil respons keluarga pemilik tanah sewa di Kelurahan Ubud terhadap lingkungan mereka masing-masing, yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi. Sebagai suatu sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya (Koentjaraningrat, 1996:89), atau sebagai suatu sistem konsepsi dan diekspresikan
dalam bentuk simbol, kebudayaan akan beraneka ragam (Geertz, 1964). Setiap masyarakat akan mengembangkan suatu budaya sebagai respons terhadap lingkungan sesuai dengan sistem pengetahuan mereka masing-masing. Sudah barang tentu tiap-tiap budaya mempunyai keunggulan yang juga harus ditawarkan ke masyarakat global. Pada era global percampuran antara berbagai budaya tampaknya sulit dihindari, sebagai akibat dari interaksi masyarakat antarbangsa yang berbeda budaya. Dalam interaksi tersebut, masing-masing akan berusaha mempertahankan budayanya dan berusaha memenetrasikan kepada bangsa lain. Hal ini bisa dimaklumi karena budaya merupakan suatu sistem nilai yang memperngaruhi cara bertindak dan berpikir masyarakat. Oleh karena itu, glokalisasi dipandang sebagai proses hibridisasi (Pieterse dalam Bahagijo, 2013:27). Dampak glokalisasi bagi masyarakat Bali sangat signifikan karena mereka telah terbius alusinasi tanpa batas. Selain itu, juga pengaruhnya sangat memprihatinkan.
Globalisasi hanya kedok para kapitalis yang akan semakin melebarnya ketimpangan distribusi pendapatan antara negara kaya dan negara berkembang dan miskin. Penguasaan kapital yang lebih besar dengan menciptakan pasar global, terutama di dunia ketiga yang diyakini tidak akan mampu memenuhi standar tinggi produk global akan membuka peluang terjadinya penumpukan kekayaan dan monopoli usaha dan kekuasaan politik pada segelintir orang. Hibridisasi sebagai suatu cara, di mana suatu bentuk dipisahkan dari kesatuannya (keberadaannya) untuk kemudian digabungkan dengan bentuk lain yang baru.
Dalam konsep ini, berarti ada unsur yang dianggap unggul, yang dipindahkan atau diambil dari asalnya, untuk kemudian digabungkan dengan unsur lain yang juga dianggap unggul.
Konsep hibridisasi Pieterse mengandung dua dimensi. Pertama, tentang percampuran atau penggabungan, baik yang berkaitan dengan ruang maupun waktu. Kedua, dimensi peningkatan (increasing). Dalam proses penggabungan pertama, disertai perubahan, sedangkan ada proses peningkatan, terutama peningkatan kualitas dan kuantitas.
Percampuran ini bisa terjadi dalam berbagai bidang dengan memadukan keunggulan tiap-tiap dimensi ruang dan waktu. Dari dimensi ruang bisa dlihat bahwa tiap-tiap-tiap-tiap bangsa mempunyai keunggulan yang bisa diambil dan kemudian dipadukan dengan keunggulan bangsa lain.
Dari dimensi waktu, budaya masa lalu pun tidak sepenuhnya buruk, masih ada nilai-nilai yang bisa dibawa ke depan. Sehubungan dengan itu, dalam kaitannya dengan dimensi waktu, perlu dilakukan evaluasi terhadap budaya, nilai-nilai apa yang bisa diambil untuk
dibawa ke depan dan nilai-nilai mana yang memang sudah tidak lagi relevan untuk menghadapi masa depan. Evaluasi itu juga terkait dengan konsep yang dipegang. Sebagai contoh, pada masyarakat Bali tradisional, power diidentikkan dengan laki-laki, sedangkan pada era modern diidentikkan dengan kekuatan produksi. Kemodernan suatu masyarakat diukur dari jumlah energi yang dikonsumsi karena energi merupakan sarana produksi.
Sebaliknya pada era global power diidentikkan dengan informasi. Siapa yang menguasai informasi, merekalah yang berkuasa. Di pihak lain informasi berkaitan dengan waktu.
Oleh karena itu, transformasi peradaban ditandai dengan pergeseran dari ruang ke waktu (Haris, 2012:17). Glokalisasi dimaknai sebagai munculnya interpretasi produk-produk global dalam konteks yang dilakukan masyarakat dalam berbagai wilayah budaya, interpretasi masyarakat lokal tersebut kemudian juga membuka kemungkinan adanya pergeseran makna atas nilai budaya.
Glokalisasi muncul ketika budaya lokal yang dipegang oleh kelompok masyarakat dengan budaya global yang dibawa oleh sapuan arus globalisasi. Budaya lokal merupakan identitas yang sangat dijunjung tinggi dalam suatu masyarakat, suatu tempat sesuai dengan nilai-nilai dan konteks yang berlaku di tempat itu dapat dikaji bahwa tidak dapat dimodifikasi dengan adat yang tidak ada di sekitar mereka. Mereka dipengaruhi oleh keadaan sekelilingnya sehingga budaya tersebut menjadi entitas dalam diri mereka.
Glokalisasi sebagai kemampuan sebuah budaya lokal ketika bertemu dengan budaya global, akan menyerap pengaruh-pengaruh tersebut dan secara alami masuk dan memperkaya budaya lokal tersebut, menolak hal-hal yang bersifat sangat asing, menyaring budaya tersebut, dan dinikmati dalam perayaan perbedaan (Yudistira, 2000:93). Konsep globalisasi dan glokalisasi erat kaitannya dengan percampuran pengaruh global yang masuk ke budaya lokal sehingga menjadi sesuatu yang baru, entah merugikan ataupun menguntungkan tergantung dari lokal itu sendiri untuk menyikapinya. Glokalisasi juga memiliki kaitan yang sangat erat dengan budaya global, karena banyak budaya global menggunakan strategi glokalisasi dengan memanfaatkan potensi budaya lokal untuk mendapat simpati masyarakat lokal (Yudistira, 2000:96).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa glokalisasi merupakan penggabungkan antara yang global dan lokal, antara yang universal dan yang partikular.
Glokalisasi merupakan kemampuan sebuah budaya lokal ketika bertemu dengan budaya global, akan menyerap pengaruh-pengaruh tersebut dan secara alami masuk dan
memperkaya budaya lokal, menolak hal-hal yang bersifat sangat asing, menyaring budaya tersebut, dan dinikmati dalam perayaan perbedaan. Bagaimanapun juga kebudayaan tidak mungkin diseragamkan karena merupakan hasil respon masyarakat Bali terhadap lingkungan mereka masing-masing, yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena budaya merupakan suatu sistem nilai yang memperngaruhi cara bertindak dan berpikir masyarakat, maka glokalisasi dipandang sebagai proses hibridisasi. Dari dimensi ruang bisa dilihat tiap-tiap bangsa mempunyai keunggulan yang bisa diambil dan kemudian dipadukan dengan keunggulan bangsa lain. Dari dimensi waktu, budaya masa lalu pun tidak sepenuhnya buruk, masih ada nilai-nilai yang bisa dibawa ke depan.
Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan dimensi waktu, perlu dilakukan evaluasi terhadap budaya, nilai-nilai apa yang bisa diambil untuk dibawa ke depan dan nilai-nilai mana yang memang sudah tidak lagi relevan untuk menghadapi masa depan. Banyak budaya global menggunakan strategi glokalisasi dengan memanfaatkan potensi budaya lokal untuk mendapat simpati masyarakat lokal.
9.7Konsumerisme
Konsumerisme diartikan sebagai gerakan yang memperjuangkan kedudukan yang seimbang antara konsumen, pelaku usaha, dan negara dan gerakan tidak sekadar hanya melingkupi isu kehidupan sehari-hari mengenai produk harga naik atau kualitas buruk, termasuk hak asasi manusia berikut dampaknya bagi konsumer (Salim, 1996:72).
Konsumerisme (consumerism) juga merupakan cara melindungi publik dengan memberitahukan kepada mereka tentang barang-barang yang berkualitas buruk, tidak mau dipakai, dan sebagainya. Konsumerisme bukan suatu hal yang baru, sebab pada dasarnya isme ini telah mengakar kuat di dalam masyarakat bali. Hal ini terlihat dari ekspresinya yang paling primitife hingga yang paling modern pada zaman global ini. Tendensi yang ada dalam masyarakat untuk selalu tak pernah puas (never-ending-discontentment) “mau ini-mau itu” dengan hal-hal yang telah dimiliki, ditambah dengan dorongan kuat ambisi pribadi dan semangat kompetisi untuk mencapai sesuatu yang lebih daripada lingkungan sekitarnya. Hal itu membuat pola hidup konsumerisme semakin subur dan berkembang amat cepat dilingkungan masyarakat Bali. Mengonsumsi barang dan jasa untuk kebutuhan hidup wajar dilaksanakan, tetapi jika telah terpengaruh konsumerisme dengan menggunakan produk berlebihan karena gengsi, perlu dipertimbangkan sebelum terlanjur.
Komoditas diproduksi tidak didasarkan pada kebutuhan masyarakat Bali. Akan tetapi, kebutuhanlah yang diciptakan agar masyarakat merasa butuh untuk mengonsumsi komoditas, seperti makanan cepat saji Mc.Donald dikonsumsi tidak berdasarkan kebutuhan, tetapi masyarakat dipaksa untuk merasa butuh untuk mengonsumsinya. Media sebagai alat untuk mengubah pencitraan, pola hidup, dan menjadi masyarakat konsumeris dan akumulasi kapitalisme tetap berlangsung. Komoditas barang dan jasa diproduksi dalam ranah masyarakat konsumer, sedangkan hasrat diproduksi lewat ide-ide yang terbentuk lewat proses sosial. Struktur nilai yang tercipta secara diskursif menentukan kehadiran hasrat. Struktur nilai dalam realitas masyarakat konsumer ini mengejawantahkan dalam kode-kode (Baudrillard, 1998). Produksi tidak lagi menciptakan materi sebagai objek eksternal, tetapi produksi materi sebagai kode-kode yang menstimulasi kebutuhan atau hasrat sebagai objek internal konsumsi. Dalam nalar Freudian hasrat untuk mengonsumsi secara mendasar, yakni sesuatu yang bersifat instingtual. Ia berada dalam fase perkembangan struktur psikis manusia. Pada fase ini semua tindakan mengacu atau didasarkan pada prinsip kesenangan yang bersifat spontan.
Tindakan untuk mencapai kepuasan dan kesenangan spontan ini disebut fase ide bersifat irasional.
Upaya mengonsumsi pada awalnya terkait dengan tindakan menggapai kepuasan secara irasional, spontan, dan temporal adalah fase ide struktur psikis masyarakat Bali, sebagai masyarakat konsumer dan masyarakat kapitalis modern dengan masyarakat komoditas. Ada empat aksioma penting yang menandai masyarakat komoditas atau masyarakat konsumer, yaitu sebagi berikut. Pertama, masyarakat yang di dalamnya berlangsung produksi barang-barang, bukan terutama bagi pemuasan keinginan dan kebutuhan melainkan demi keuntungan. Kedua, dalam masyarakat komoditas, muncul kecenderungan umum ke arah konsentrasi kapital yang masif dan luar biasa yang memungkinkan penyelubungan operasi pasar bebas demi keuntungan produksi massa dan monopoli dari barang-barang yang distandarisasi. Kecenderungan ini akan benar-benar terjadi, terutama terhadap industri komunikasi. Ketiga, hal yang lebih sulit dihadapi oleh masyarakat modern adalah meningkatnya tuntutan terus-menerus, sebagai kecenderungan dari kelompok yang lebih kuat untuk memelihara, melalui semua sarana yang tersedia, kondisi-kondisi relasi kekuasaan, dan kekayaan yang ada dalam menghadapi ancaman-ancaman yang sebenarnya disebarkan sendiri. Keempat, karena dalam masyarakat kekuatan produksi sangat maju, dan pada saat yang sama, hubungan produksi terus
membelenggu kekuatan produksi yang ada, hal ini membuat kelompok komoditas sarat dengan antagonisme (Adorno dalam Ibrahim, 1997:24). Antagonisme ini tentu saja tidak terbatas pada wilayah ekonomi (economic sphere) tetapi juga ke wilayah budaya (cultural sphere).
Dalam proses gaya hidup masyarakat komoditas atau konsumer terdapat suatu proses adopsi belajar menuju aktivitas konsumsi dan pengembangan suatu gaya hidup. Hal ini dilakukan melalui majalah, koran, buku, televisi dan radio, yang banyak menekankan peningkatan diri, pengembangan diri, transformasi personal, bagaimana mengelola kepemilikan, hubungan dan ambisi, serta bagaimana membangun gaya hidup. Mereka yang bekerja di media, desain, mode dan periklanan serta para intelektual informasi yang pekerjaannya memberikan pelayanan serta memproduksi, memasarkan, dan menyebarkan barang-barang simbolik sebagai perantara budaya baru (Bourdieu, 1984). Praktik konsumsi menjadi pola hidup masyarakat Bali. Konsumsi menjadi cara pandang baru
Dalam proses gaya hidup masyarakat komoditas atau konsumer terdapat suatu proses adopsi belajar menuju aktivitas konsumsi dan pengembangan suatu gaya hidup. Hal ini dilakukan melalui majalah, koran, buku, televisi dan radio, yang banyak menekankan peningkatan diri, pengembangan diri, transformasi personal, bagaimana mengelola kepemilikan, hubungan dan ambisi, serta bagaimana membangun gaya hidup. Mereka yang bekerja di media, desain, mode dan periklanan serta para intelektual informasi yang pekerjaannya memberikan pelayanan serta memproduksi, memasarkan, dan menyebarkan barang-barang simbolik sebagai perantara budaya baru (Bourdieu, 1984). Praktik konsumsi menjadi pola hidup masyarakat Bali. Konsumsi menjadi cara pandang baru