DINAMIKA MASYARAKAT BALI
4.5 Sistem Pengetahuan
Kriteria ilmu pengetahuan merupakan salah satu hasil dari usaha manusia untuk memperadab dirinya. Ketika orang merenung tentang apa artinya menjadi seorang
manusia, lambat laun mereka sampai pada simpulan bahwa mengetahui kebenaran adalah tujuan yang paling utama manusia. Perkembangan ilmu pada waktu lampau dan sekarang merupakan jawaban dari rasa keinginan manusia untuk mengetahui kebenaran. Ilmu dapat dianggap sebagai suatu sistem yang menghasilkan kebenaran seperti juga sistem-sistem yang lainnya mempunyai komponen-komponen yang berhubungan satu sama lainnya.
Komponen utama sistem ilmu yakni (1) perumusan masalah, (2) pengamatan dan diskripsi, (3) penjelasan, (4) ramalan dan kontrol. Dalam pengetahuan modern dikenal pembagian ilmu atas kelompok ilmu aposteriori dan kelompok ilmu apriori. Kebenaran ilmu tidak dapat ditemukan dan dikembalikan kepada data empiris, tetapi dikembalikan kepada akal. Semua ilmu yang tidak tergantung kepada pengalaman dan eksperimen termasuk kepada kelompok ini, begitu juga logika. Filsafat membedakan dua sumber pengetahuan, yaitu indra dan budi.
Sehubungan dengan itu pengetahuan yang mungkin dimiliki oleh manusia, yakni pengetahuan indrawi dan pengetahuan intelektif. Kriteria kebenaran merupakan suatu hubungan tertentu antara suatu kepercayaan dan suatu fakta atau lebih di luar kepercayaan.
Bila hubungan ini tidak ada, maka kepercayaan itu salah. Suatu kalimat dapat disebut
“benar” atau “salah” meskipun tak seorang pun memercayainnya, asalkan kalimat itu dipercaya, benar atau salah kepercayaan itu terletak pada masalahnya. Ada dua cara berpikir yang dapat digunakan untuk mendapatkan pengetahuan baru yang benar, yaitu melalui metode induksi dan metode deduksi. Metode induksi adalah cara berpikir untuk menarik simpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual.
Penalaran ini dimulai dari kenyataan-kenyataan yang bersifat khusus dan terbatas diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. Cara penalaran ini mempunyai dua keuntungan.
Pertama, dapat berpikir secara ekonomis. Meskipun eksperimen terbatas pada beberapa kasus individual, bisa mendapat pengetahuan yang lebih umum tidak sekadar kasus yang menjadi dasar pemikiran.
Kedua, pernyataan yang dihasilkan melalui cara berpikir induksi memungkinkan proses penalaran selanjutnya, baik secara induktif maupun deduktif. Deduksi adalah kegiatan berpikir merupakan kebalikan dari penalaran induksi. Deduksi adalah cara berpikir dari pernyataan yang bersifat umum menuju simpulan yang bersifat khusus. Usaha untuk mendefinisikan atau memberikan batasan kebenaran mengalami banyak kesulitan untuk menghindari proyeksi posisi seorang filsuf kedalam suatu definisi prasangka seorang filsuf dapat dialekkan pencerminan bahwa kebenaran adalah suatu
pertimbangan yang sesuai dengan realitas pengetahuan mengenai realitas dan kenyataan sejajar secara harmonis sehingga sistem-sistem pendapat yang diintegrasikan dalam benak secara terperinci tepat dengan dunia realitas.
Kepercayaan tentang apa yang tidak pernah dialami, tidak berkenaan dengan manusia yang selalu dirangsang tentang kebenaran dan tidak berkenaan dengan individu yang tidak pernah mengalami, tetapi berkenaan dengan kelas di mana tidak seorang pun dari anggotanya pernah mengalami. Suatu kepercayaan harus selalu sanggup untuk dianalisis ke dalam unsur-unsur di mana pengalaman membuatnya dapat dipahami. Akan tetapi bila suatu kepercayaan diuraikan dalam bentuk logis, ia sering membawa pada analisis yang berbeda, yang agaknya akan menyangkut komponen-komponen yang tidak diketahui dari pengalaman.
Bila analisis psikologis yang menyesatkan dihindari, dapat dikatakan secara umum bahwa setiap kepercayaan yang tidak semata-mata merupakan dorongan untuk bertindak pada hakikatnya merupakan gambaran digabung dengan suatu perasaan yang mengiyakan atau meniadakan. Dalam perasaan yang mengiyakan hal ini benar bila terdapat fakta yang menggambarkan kesamaan dengan yang diberikan sebuah prototipe terhadap bayangan, sedangkan dalam perasaan yang meniadakan, ia benar bila tak terdapat fakta seperti itu.
Suatu kepercayaaan yang tidak benar disebut salah. Inilah suatu definisi tentang kebenaran. Manusia selalu dirangsang berbagai masalah tentang kebenaran. Tiga penafsiran utama telah timbul, yaitu (1) kebenaran sebagai sesuatu yang mutlak, (2) kebenaran sebagai sesuatu yang subyektif, sebagai masalah pendapat pribadi, dan (3) kebenaran sebagai sesuatu kesatuan yang tidak bisa dicapai, sesuatu yang tidak mungkin (ketidakmungkinan).
Pengetahuan yang lebih menekankan pengamatan dan pengalaman indrawi dikenal sebagai pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori. Pengetahuan bisa didapatkan dengan melakukan pengamatan dilakukan secara empiris dan rasional. Pengetahuan empiris juga dapat berkembang menjadi pengetahuan deskriptif bila masyarakat Bali dapat melukiskan dan menggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala yang ada pada objek empiris tersebut. Pengetahuan empiris juga bisa didapatkan melalui pengalaman pribadi masyarakat Bali terjadi berulang-ulang. Misalnya, individu yang sering dipilih untuk memimpin organisasi dengan sendirinya akan mendapatkan pengetahuan tentang manajemen organisasi. Selain pengetahuan empiris, ada pula pengetahuan yang
didapatkan melalui akal budi yang kemudian dikenal sebagai rasionalisme. Rasionalisme lebih menekankan pengetahuan yang bersifat apriori yaitu tidak menekankan pada pengalaman. Misalnya, pengetahuan tentang matematika. Dalam matematika hasil 3 x 3 = 9 bukan didapatkan melalui pengalaman atau pengamatan empiris, tetapi melalui sebuah pemikiran logis akal budi. Pengetahuan tentang keadaan sehat dan sakit adalah pengalaman masyarakat Bali tantang keadaan sehat dan sakit seseorang yang menyebabkan masyarakat tersebut bertindak untuk mengatasi masalah sakitnya dan bertindak untuk mempertahankan kesehatannya, bahkan meningkatkan status kesehatannya. Rasa sakit akan menyebabkan keluarga di Bali bertindak pasif dan atau aktif dengan tahapan-tahapannya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep, dan pemahaman yang dimiliki masyarakat Bali tentang dunia dan segala isinya, termasuk orang itu sendiri dan kehidupannya. Knowledge is power (Francis Bacon). Jika generasi muda tidak dibekali pengetahuan pada zaman modern ini, pada suatu saat mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa, kecuali sebagai penonton bagi saudaranya yang sukses meraih pengetahuan. Sementara sumber-sumber pengetahuan berasal dari tahu akan suatu peristiwa dan realitas objektif di alam semesta ini. Tahu adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti, dan pandai. Perbedaan antara pengetahuan dan ilmu pengetahuan terletak pada konsep dari keduanya. Pengetahuan lebih spontan sifatnya, sedangkan ilmu pengetahuan lebih sistematis dan reflektif, sesuai dengan pengertiannya bahwa ilmu pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan masyarakat yang telah dibakukan secara sistematis.Seiring dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan, telekomunikasi dan informasi pada era globalisasi ini telah terjadi pergeseran gaya hidup yang signifikan di Bali, yakni sebagian besar telah menggunakan sarana teknologi modern, seperti internet, computer, lap top, iPad, iPhone, camera digital, hand phone unroid, cctv, dan sebagainya. Bahkan semua kelihan banjar di Bali telah menggunakan handphone, bahkan e-mail. Jika ada undangan rapat, pemimpin tidak perlu mengirim surat kepada para kelihan banjar, tetapi cukup kirim sms (short message system), para kelihan banjar akan datang tepat waktu. Selain itu, waktu rapat juga dibatasi dalam satu sampai dua jam maksimal karena para kelihan mempunyai bisnis sampingan untuk menopang kehidupannya, terutama yang berhubungan dengan kegiatan industri pariwisata.
4.6 Bahasa
Bahasa sebagai komponen paham kebangsaan, tercantum dalam trilogi sumpah pemuda yang telah diinterpretasikan, antara lain dengan “satu bahasa”. Unsur bahasa dijadikan komponen yang penting di dalam trilogi tersebut sebab kedudukan dan peran bahasa sangat strategis untuk pembentukan bangsa Indonesia sebagaimana hal tersebut tampak dalam peran bahasa dalam konsep kebangsaan yang muncul pada abad ke -19 di Eropa. Pengaitan ini sangat penting dilihat, karena konsep kebangsaan yang muncul di Eropa Barat memiliki pengaruh di dalam konsep kebangsaan Indonesia, yaitu sebagai produk dari modernisasi (Ahmed dalam Tuner, 2000:201). Dalam kaitan dengan pelacakan inilah dapat dipahami bahwa penafsiran teks pada trilogi tentang bahasa itu terjadi sehingga tercermin juga di dalam politik bahasa yang pada dasarnya mengacu pada uniformitas. Jadi, konsep kebangsaan yang mengacu kepada makna “persatuan” yang ditafsirkan seperti itu telah menyebabkan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional memosisikan bahasa daerah sebagai bahasa pelengkap yang bersifat periferi. Reaksi terhadap keadaan seperti ini bukannya tidak ada yang telah dilakukan oleh berbagai kalangan termasuk para sarjana bahasa untuk memberikan kedudukan bahasa daerah sebagai lambang kebudayaan daerah atau budaya etnik. Banyak sarjana yang membicakan masalah ketimpangan yang menyinggung persoalan perkembangan bahasa Indonesia dan bahasa daerah sebagai akibat dari dominannya pengaruh kekuatan bahasa Indonesia (Latif dan Subandy, 2001 : 27).
Namun, dalam kenyataannya tak seorang pun mampu mengubah posisi tersebut, bahkan kemudian muncul tulisan-tulisan dari pelbagai kelompok kritis yang banyak diantaranya ahli bahasa telah mampu memberikan suatu cakrawala pemikiran tentang posisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Dengan adanya reformasi maka terjadilah pula gugatan terhadap ketimpangan kedudukan serta pengembangan bahasa Indonesia dan pengembangan bahasa daerah. Hal tersebut telah diuraikan oleh Foulcher (2000:36) yang telah menggambarkan bagaimana hubungan posisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang terkait dengan penafsiran trilogi sumpah pemuda, termasuk pula gugatan yang ditujukan tentang perubahan yang harus dilakukan.
Apabila dilacak secara historis, terutama perkembangan paham nasionalisme yang antara lain tersimpul di dalam trilogi sumpah pemuda sudah jelas dapat ditafsirkan keinginan para pemuda pada waktu itu untuk memiliki indentitas nasional dengan
menyatakan menjungjung bahasa persatuan bahasa Indonesia. Selain itu, pengakuan oleh para pemuda seperti itu sudah disadari bahwa betapa besar dan penting bahasa persatuan sebagai simbol identitas bersama yang harus diciptakan. Hal itu diperlukan sesudah identitas oleh suatu bangsa yang baru lahir merupakan suatu kewajaran, karena keberadaan bahasa Indonesia sebagai suatu perekat untuk seluruh suku bangsa. Pepatah menyatakan “bahasa menunjukkan bangsa”. Sebagaiman telah dijelaskan di atas bahwa konsep semacam ini telah mengalami perubahan ke arah pluralisme yang diakibatkan oleh arus pemikiran reformasi yang dialami oleh konsep pemikiran kritis, yakni postmodernitas.
Dalam konteks keindonesiaan pengkajiulangan terhadap “butir mutiara” itu akan tetap penting dan selalu relevan, terutama sehubungan dengan ciri keindonesiaan yang multietnis, multicultural dan berakibat pada multi-lingual (Alwi, 2001:38).Bahasa Bali termasuk keluarga bahasa Indonesia. Dilihat dari sudut perbendaharaan kata dan strukturnya, bahasa Bali tak jauh berbeda dari bahasa Indonesia lainnya. Peninggalan prasasti zaman kuno menunjukkan adanya bahasa Bali Kuno yang berbeda dari bahasa Bali sekarang. Bahasa Bali kuno tersebut di samping banyak mengandung bahasa Sanskerta, pada masa perkembangannya juga terpengaruh oleh bahasa Jawa Kuno dari jaman Majapahit, yaitu jaman pada waktu pengaruh Jawa besar sekali kepada kebudayaan Bali.
Bahasa Bali mengenal juga apa yang disebut "perbendaharaan kata-kata hormat", walaupun tidak sebanyak perbendaharaan dalam bahasa Jawa. Bahasa hormat (bahasa halus) dipakai kalau berbicara dengan orang-orang tua atau tinggi. Di Bali juga berkembang kesusasteraan lisan dan tertulis baik dalam bentuk puisi maupun prosa. Di samping itu sampai saat ini di Bali didapati juga sejumlah hasil kesusasteraan Jawa Kuno (kawi) baik dalam bentuk prosa maupun puisi yang dibawa ke Bali tatkala Bali di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit. Kedudukan politik bahasa daerah akan dikira memunculkan sifat kedaerahan atau kesukuan yang meretakkan rasa persatuan yang dibentuk oleh paham nasionalisme. Sehubungan dengan itu, bahasa daerah dikaitkan dengan paham kedaerahan yang mengacu pada suatu keadaan politik yang pernah terjadi di Indonesia, yakni gerakan federalisme, separatism, dan sebagainya yang didalangi oleh politik kolonial Belanda. Berdasarkan hal tersebut, maka paham kedaerahan bertentangan dengan paham persatuan yang dalam politik masa lalu dikatakan sebagai paham unitarisme. Zaman telah berubah, maka kini hal semacam itu tidak lagi menjadi persoalan
yang krusial. Dalam hal ini Aceh dan Riau sangat jelas mencantumkan bahasa daerahnya agar menjadi bahasa yang memiliki peran yang lebih besar, betul-betul sebagai lambang identitas daerahnya atau etniknya (LIPI, 2001:3).
Dengan digulirkannya otonomi daerah, maka pembicaraan mengenai bahasa daerah bukanlah hal yang dianggap tabu, seperti sebelum terjadi reformasi. Apabila pemahaman kebangsaan dalam asal usulnya tertera mendapat pengaruh dari modernisme, maka adanya multikulturalisme ini terkait juga dengan postmodernisme yang memang berseberangan dengan paham modernisme. Agaknya sejarawan, seperti Taufik Abdullah, belum sepenuhnya menaruh perhatian terhadap perubahan nasionalisme di Indonesia yang mengacu pada ideologi modernisme dan postmodernisme. Dari uraian tersebut, munculah permasalahan yaitu penyelesaian seperti apakah yang harus dicari dengan adanya perubahan tersebut di atas dikaitkan dengan apa yang dimaksud tentang keanekaan budaya. Jalan keluar yang harus dicari adalah bagaimana agar dapat memberikan kedudukan dan peran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Di samping itu, memberikan ruang gerak untuk hidup berdampingan antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah secara harmonis. Seperti yang pernah dikemukakan atau pernah diangankan bahwa keberagaman dalam petumbuhan beraneka ragam kaitannya dengan kebudayaan nasional dapat hidup berdampingan selaras dan saling menguntungkan. Pencapaian seperti ini memang ideal, tetapi harus diakui bahwa adanya lebih dari satu bahasa yang dipakai oleh daerah akan tetap memperlihatkan hubungan kekuatan yang memiliki akses yang paling kuat. Jika dikaitkan dengan masalah sosial, ekonomi, politik, maka bahasa seperti itulah yang akan berpengaruh dibandingkan dengan bahasa yang lainnya. Hal ini sangat jelas dengan adanya konsep ekologi bahasa yang dipolopori Haugen (1998:21).
Berdasarkan konsep multikulturalisme, harus dimaknai sebagai sesuatu yang tidak diartikan semata-mata sebagai pluralisme antara ras, keanekaan ras saja, tetapi juga seperti reaksi di atas meliputi budaya, bahasa yang ditinjau secara lebih terperinci, terutama yang berkaitan dengan munculnya kekuatan dominasi antara satu bahasa dan bahasa lainnya.
Sebagaimana yang ditegaskan di atas akan terdapat dalam bahasa yang dipakai dalam masyarakat multikultural dengan adanya kontak yang menyebabkan sebagaimana dikatakan, yaitu kompetisi bahasa atau persaingan pemakaian bahasa. Bahasa sebagai komoditas dalam pasar bahasa dan hanya hidup sepanjang bahasa tersebut ada pelanggannya atau pemakainya. Inilah salah satu ciri ekologi bahasa yang memandang
bahasa yang memiliki kekuatan pasar akan mempunyai pengaruh yang besar dalam masyarakat sehingga bahasa tersebut kebertahanannya dapat dijamin.
Masyarakat Bali sebagian besar menggunakan bahasa Bali dan bahasa Indonesia sebagai interaksi sosial antarmasyarakat Bali. Bahasa Bali dibagi menjadi dua, yaitu bahasa Bali Aga adalah bahasa Bali yang pengucapannya lebih kasar dan bahasa Bali Mojopahit adalah bahasa Bali yang pengucapannya lebih halus. Dapat disimak pada beberapa contoh berikut ini. Wěwangsalan, (1) Suba bawang buhin tambusin, suba tawang buin tandruhin (artinya sudah tahu tetapi pura-pura tidak kenal). (2) Celebingkah batan biyu, gumilinggah ajak liu (artinya bumi yang luas ini adalah untuk aneka kehidupan). Bahasa Bali juga banyak terpengaruh bahasa Jawa, terutama bahasa Jawa Kuno dan lewat bahasa Jawa ini, juga bahasa Sanskerta. Kemiripan dengan bahasa Jawa, terutama terlihat dari tingkat-tingkat bahasa yang terdapat dalam bahasa Bali yang mirip dengan bahasa Jawa.
Sehubungan dengan itu, tidak mengherankan jika bahasa Bali alus yang disebut basa Bali alus mider mirip dengan bahasa Jawa Krama. Digunakan bahasa Bali dan bahasa Indonesia sebagai rasa nasionalisme juga dilestarikannya bahasa ibu, tetapi kaum remaja Bali banyak juga menggunakan bahasa asing (Inggris, Perancis dan Itali) atau trilingual karena dipengaruhi oleh kebutuhan industri pariwisata. Namun, masih terdapat di kalangan kaum remaja Bali yang tidak bisa berbahasa Bali Mojopahit (alus) karena situasi pergaulan dan lingkungan mereka terbatas.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa yang digunakan masyarakat Bali sekarang terjadi pergeseran. Penggunaaan bahasa Bali, baik bahasa Bali alus maupun bahasa Bali pasaran (biasa), telah mengakar dari usia dini, anak sekolah, remaja, maupun dewasa merupakan alat untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya.
Akibat imbas pariwisata maka masih ada segelintir keluarga di Bali tidak bisa menggunaka sor singgih bahasa Bali sepantasnya karena gaya hidup mereka telah meniru wisatawan mancanegara akibat sentuhan pergaulan dan modernitas yang tak terbendung.
Globalisasi dan gaya hidup telah melanda semua sektor kehidupan keluarga di Bali tanpa disadari khususnya kaum remaja telah dapat berkomunikasi dengan bahasa asing seperti bahasa Inggris, Francis, Itali, Spanol dengan harapan dapat beriteraksi dengan turis mancanegara di tempat mereka bekerja. Akan tetapi eksistensi bahasa Indonesia dan bahasa Bali masih dominan menjadi kekayaan tersendiri bagi keluarga di Bali secara keseluruhan.
4.7 Teknologi dan Peralatan
Teknologi pada era modernisasi informasi semakin menunjukkan kemajuan dalam hal kemudahan akses informasi oleh setiap elemen masyarakat. Otomatis disebabkan oleh teknologi semakin sistematis dan terorganisasi. Apabila teknologi sudah baik maka tidak dipungkiri lagi bahwa karya berupa hasil olahan yang merupakan teknologi juga baik dalam segi bentuk real di lapangan. Bagaimanapun terdapat fenomena yang dapat diamati bersama sebagai bagian dari hasil olahan kemajuan sistem teknologi di Bali. Memang benar adanya bahwa kemajuan teknologi telah banyak mengurangi tingkat kesulitan hidup masyarakat.
Teknologi yang semakin canggih menyebabkan adanya beberapa kemudahan, tetapi dalam perkembangannya yang terlihat mencolok kemudahan dalam akses informasi dalam hal pengetahuan dan komunikasi, kemudahan akses masyarakat dalam beraktivitas.
Kemajuan teknologi tidak terhenti pada aspek fisik saja. Namun, hal-hal yang perlu diketahui lebih dalam lagi adalah kaitannya dengan kebudayaan yang disebabkan oleh adanya kemajuan teknologi tersebut.Teknologi merupakan salah satu komponen kebudayaan. Teknologi menyangkut cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul, dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, mengekspresikan rasa keindahan, atau diproduksinya hasil-hasil kesenian. Masyarakat Bali yang hidup dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional yang disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik.
Beberapa sistem peralatan hidup dan teknologi yang digunakan untuk memudahkan dalam proses produksi adalah sebagai berikut. Pertama, bidang pertanian, pada zaman dahulu masyarakat Bali mengolah sawah atau ladang menggunakan tenaga hewan, seperti sapi atau kerbau. Ketika memasuki masa perundagian mulai digunakan cangkul untuk bercocok tanam. Setelah memasuki masa modern mulai dibuat mesin berupa traktor yang memudahkan proses produksi lebih efisien dibandingkan dengan cara lama menggunakan sapi atau kerbau untuk membajak sawah sehingga hasil yang dicapai petani lebih maksimal. Kedua, bidang industri, sebelum revolusi industri, kegiatan industri digerakkan dengan menggunakan tenaga manusia. Namun seiring dengan berkembangnya teknologi mulai dikembangkan alat-alat atau mesin yang dapat memudahkan kegiatan masyarakat Balipemilik sehingga pemanfaatan tenaga manusia menjadi berkurang dan dialihkan pada
pemanfaatan tenaga mesin. Ketiga, senjata, senjata adalah semua jenis benda yang digunakan untuk berkelahi atau berperang, berburu, membela diri, atau melukai (membunuh). Perkembangan senjata dimulai dari masa prasejarah.
Pada zaman itu digunakan batu dan tulang untuk berburu. Setelah itu mulai ditemukan teknologi logam dan mulai dikembangkan menjadi senjata berupa keris, pedang, tombak, dan lain-lainnya. Revolusi senjata terjadi setelah ditemukannya bubuk mesiu di Cina.
Berdasarkan penemuan itu, diciptakanlah berlomba-lomba berbagai macam senjata, seperti senjata api dan peledak. Setelah berkembangnya ilmu pengetahuan tercipta senjata nuklir, bahkan virus yang mampu memusnahkan umat manusia atau yang dikenal dengan senjata pemusnah massal. Semua senjata yang diproduksi mempunyai dampak baik positif maupun negatif, tetapi dampak negatifnya agar dapat diminimalisasi. Keempat, wadah, secara umum wadah merupakan tempat untuk menaruh, menyimpan sesuatu. Bahannya bisa terbuat dari apa pun. Wadah paling banyak digunakan untuk peralatan dapur. Dahulu wadah dibuat dari tanah liat (gerabah) dan kayu. Setelah ditemukan logam, mulai beralih menggunakan logam sebagai wadah karena lebih kuat dan cepat panas bila digunakan untuk memasak. Dengan berbagai macam penelitian mampu mengolah logam untuk menciptakan wadah yang kuat, ringan, tahan panas, anti lengket, higienis, kedap udara, ramah lingkungan, dan serba guna. Kelima, alat-alat menyalakan api, pada masa prasejarah batu dan kayu digunakan sebagai pemantik api, yaitu dengan cara menggesekkan kedua batu atau kayu tersebut di dedaunan kering untuk menghasilkan percik api sehingga tercipta api. Setelah itu digunakan minyak hewan sebagai bahan bakar, kemudian mulai dilakukan penggalian barang tambang dan ditemukan serbuk belerang.
Dari serbuk belerang tercipta korek api. Pada perkembangannya, pemantik dapat dibuat dari berbagai macam bahan, seperti minyak, gas alam, bahkan listrik. Keenam, makanan, pada zaman prasejarah hanya dikumpulkan bahan makanan tanpa diolah terlebih dahulu.
Setelah ditemukan api makanan tersebut mulai diolah dengan menggunakan rempah-rempah untuk menambah rasa.
Sekarang masyarakat Bali mulai mengolah berbagai macam bahan makanan dengan teknologi modern. Selain itu, dikembangkan berbagai macam olahan makanan dalam bentuk junk food ataupun fast food. Makanan di Bali dijual dengan beraneka macam harga, yaitu mulai dari Rp 8.000,00, Rp 15.000,00, sampai dengan Rp 150.000,00. Selalu saja
ada lokasi makanan enak didapat di wilayah Bali. Misalnya, jika makan pagi tidak memungkinkan sehubungan dengan harus berangkat pagi-pagi ke kantor, sekolah, atau kuliah, solusinya makanan dibawa dari rumah atau dibeli di lokasi kegiatan. Untuk
ada lokasi makanan enak didapat di wilayah Bali. Misalnya, jika makan pagi tidak memungkinkan sehubungan dengan harus berangkat pagi-pagi ke kantor, sekolah, atau kuliah, solusinya makanan dibawa dari rumah atau dibeli di lokasi kegiatan. Untuk