• Tidak ada hasil yang ditemukan

HEAD TOGETHER ) TERHADAP PROGRAM BELAJAR BERCERITA PADA ANAK USIA DIN

MATEMATIKA SISWA

(Studi pada Siswa Kelas V Tahun Pelajaran 2014/2015 di SDN Balonggemek 1 Kecamatan Megaluh Kabupaten Jombang)

Yoggy Febriawan, Subanji, Syamsul Hadi

Universitas Negeri Malang

Email : [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bantuan media manipulatif dalam pembelajaran penjumlahan dan pengurangan pecahan yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang dilakukan dua siklus, dengan latar belakang kelas V SDN Balonggemek 1 Jombang. Tindakan pada siklus I yaitu pembelajaran inkuri terbimbing berbantuan media manipulatif dengan kompetensi penjumlahan pecahan dan pada siklus II yaitu pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bntuan media manipulatif dengan kompetensi pengurangan pecahan. Hasil penelitian menunjukkan penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bantuan media manipulatif dapat meningkatkan hasil belajar siswa dilakukan dengan langkah (1) melakukan tanya jawab, (2) merumuskan masalah, (3) membuat hipotesis, (4) siswa berkelompok masing-masing kelompok beranggotakan 2-3 siswa, (5) mendiskusikan LKS yang telah dibagikan, (6) menuliskan hasil kerja kelompok di papan tulis, (7) kelompok lain menanggapi kelompok yang menuliskan hasil kerja kelompoknya. Kegiatan dapat dilakukan dengan sangat baik, terpusat pada siswa. Siswa dapat terlibat langsung, menjadi lebih bersemangat, lebih aktif dan mudah memhami materi.

Kata kunci : inkuiri terbimbing dengan bntuan media manipulatif, hasil belajar Pendahulauan

Pembelajaran Matematika merupakan suatu upaya untuk memfasilitasi,

mendorong, dan mendukung siswa dalam belajar Matematika. Banyak orang yang tidak menyukai Matematika, termasuk siswa yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Mereka menganggap Matematika adalah pelajaran yang sulit dan menakutkan. Anggapan ini membuat mereka merasa malas untuk belajar Matematika.

Menurut Kline (dalam Pitadjeng, 2006:1) belajar akan efektif jika dilakukan

dalam suasana yang menyenangkan.

Sedangkan menurut Pitadjeng (2006: 3) orang yang belajar akan merasa senang jika memahami apa yang dipelajari. Pendapat keduanya juga berlaku bagi siswa Sekolah Dasar yang sedang belajar Matematika.

Belajar anak diberi kesempatan untuk

merencanakan dan menggunakan cara

belajar yang mereka senangi. Guru dalam

mengajarkan Matematika harus

mengupayakan agar siswa dapat memahami dengan baik materi yang sedang dipelajari.

Penelitian yang dilakukan di SDN Balonggemek 1 Jombang diawali dengan

melakukan pengamatan dan didapat

beberapa hal yang dialami oleh siswa kelas V SDN Balonggemek I selama mengikuti pelajaran matematika dikelas, diantaranya : 1) Sekitar 20 % pembelajaran di kelas

menggunakan media pembelajaran,

selebihnya menggunakan buku cetak.

Berdasarkan hal tersebut, penggunaan media di kelas untuk pembelajaran masih kurang dan sangat terbatas. Keterbatasan ini

sangat berpengaruh sekali terhadap

materi pelajaran matematika. Keterbatasan ini disebabkan karena faktor biaya untuk membeli media pembelajaran yang terlalu mahal. Studi pendahuluan terdapat 60% kurang aktif dalam mengikuti pelajaran matematika sebagian siswa merasa takut dengan pelajaran matematika, 2) Selama

pembelajaran matematika penggunaan

model pembelajaran hanya sekitar 40% dan dinilai sangat kurang hal ini disebabkan karena peralatan yang ada disekolah tidak

menunjang untuk menggunaan model

pembelajaran tertentu, 3) sebanyak 65%

siswa kurang berkonsentrasi dalam

mengikuti pelajaran matematika, sehingga banyak siswa tidak memahami materi yang diajarkan oleh guru.

Berdasarkan hasil tes diketahui bahwa hasil belajar Matematika pada kompetensi penjumlahan dan pengurangan pecahan sebagian besar siswa kelas V SDN

Balonggemek 1 belum memuaskan.

Indikatornya diketahui hanya 3 siswa (18%) mendapat nilai 75-100, 7 siswa (41%) mendapat nilai 50-74, 5 siswa (29%) mendapat nilai 25-50, dan 2 siswa (12%) mendapat nilai 0-24 dan. Ada 2 siswa yang telah memenuhi standar ketuntasan belajar dan ada 10 siswa yang belum tuntas. Artinya ketuntasan belajar secara klasikal belum tercapai, karena hanya 18% siswa tuntas belajar dan yang belum tuntas mencapai 82%. Hal ini membuktikan bahwa hasil belajar siswa belum memenuhi syarat ketuntasan kelas sesuai KTSP yaitu hasil belajar siswa harus mencapai persentase keberhasilan mendapat nilai ≥ 75 mencapai 75% dari banyaknya siswa.

Berdasarkan paparan masalah yang diungkapkan kemudian peneliti mengkaji

dan didapatkan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut yaitu penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan

bantuan media manipulatif untuk

meningkatkan hasil belajar siswa.

Pembelajaran inkuiri dapat

dilaksanakan dengan cara inkuiri terbimbing dan inkuiri terbuka. Pembelajaran inkuiri terbuka dalam pelaksanaannya seluruh

kegiatan seperti pemilihan masalah,

merencanakan eksperimen, menganalisis data, dan menyimpulkan data dilakukan oleh siswa. Pembelajaran inkuiri terbimbing yaitu suatu pembelajaran penemuan yang dalam

pelaksanaannya guru menyediakan

bimbingan atau petunjuk cukup luas kepada siswa. Sebagian perencanaannya dibuat oleh guru, siswa tidak merumuskan problem atau masalah.

Dalam pembelajaran inkuiri

terbimbing guru tidak melepas begitu saja kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa. Guru harus memberikan pengarahan

dan bimbingan kepada siswa dalam

melakukan kegiatan-kegiatan sehingga siswa yang berpikir lambat atau siswa yang mempunyai intelegensi rendah tetap mampu mengikuti kegiatan-kegiatan yang sedang

dilaksanakan dan siswa mempunyai

kemampuan berpikir tinggi tidak

memonopoli kegiatan, oleh sebab itu guru harus memiliki kemampuan mengelola kelas yang bagus.

Penjelasan di atas dalam penelitian ini, lebih dipilih penggunaan pembelajaran inkuiri terbimbing karena siswa sekolah dasar masih dalam perkembangan berfikir kongkrit maka dari itu kontribusi guru masih sangat dibutuhkan. Hal ini juga diperkuat oleh Djamarah (2011:125) yaitu, sampai

kira-kira umur 11 tahun anak masih membutuhkan guru atau orang dewasa.

Hal ini juga didukung penelitian yang dilakukan oleh Mosik, dkk (2010), yang membuktikan bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing dapat mengatasi kesulitan belajar siswa yang berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa. Selain itu penelitian yang dilakukan Wayan (2011) juga membuktikan bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis asesmen portofolio lebih baik dari pada hasil belajar kimia siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional

. Untuk memaksimalkan proses

pembelajaran, peneliti juga menggunakan media manipulatif.

Interaksi siswa dengan lingkungan

dapat tercipta suasana belajar yang

menyenangkan dan sesuai dengan tingkat kognitif siswa. Piaget berpendapat: bahwa ada 4 periode berpikir dari setiap individu, yaitu (1) periode sensori motor, (2) periode pra operasi, (3) periode operasi konkret, dan (4) periode operasi formal. Untuk siswa Sekolah Dasar usia mereka berada pada periode operasi konkret mereka didasarkan atas manipulasi fisik dari objek-objek (Piaget dalam Hudojo, 1988:46). Dienes (dalam Hujoyo, 1988:59) menyatakan bahwa untuk menyajikan konsep atau prinsip matematika pada siswa usia Sekolah

Dasar, pertama-tama disajikan dalam

bentuk konkret, sehingga hal yang abstrak didasarkan pada intuisi dan sesuai dengan

pengalaman-pengalaman konkret.

Pembelajaran matematika dapat dilakukan mulai dari hal-hal yang bersifat konkret menuju kepada hal-hal yang abstrak.

Untuk membantu siswa memahami materi abstrak, diperlukan alat bantu

pembelajaran berupa media manipulatif.

Media manipulatif adalah media

pembelajaran atau alat bantu yang berperan sebagai alat peraga yang di manipulasi, dirubah dan dibuat sendiri untuk membantu siswa memahami materi yang diajarkan.

Penggunaan media manipulatif pada pecahan sangat membantu siswa dalam memahami penjumlahan dan pengurangan pecahan. Hal ini didukung oleh penelitian Resty, dkk (2013) yang membuktikan bahwa

media manipulatif jaring-jaring dapat

meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika. Penelitian serupa juga pernah dilakukan oleh Astiningsih, dkk (2014) yang membuktihkan bahwa model

pembelajaran core berbantuan media

manipulatif berpengaruh terhadap hasil belajar matematika.

Tujuan penelitian ini yaitu agar siswa lebih mudah belajar tentang matematika khusunya pada kompetensi penjumlahan dan pengurangan pecahan, dengan bagitu diikuti dengan hasil belajar siswa yng akan meningkat.

Metode Penelitian

Menurut pendekatan penelitian,

pendekatan penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Sedangkan menurut jenisnya, jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research).

PTK adalah salah satu jenis tindakan yang

bertujuan untuk mengatasi masalah

pembelajaran yang terjadi pada latar

tindakan (Akbar, 2008:66). PTK

dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan

masalah-masalah pembelajaran,

memperbaiki mutu, hasil pembelajaran, dan mencoba hal-hal yang baru dibidang

pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran.

Penelitian ini menggunakan

rancangan penelitian tindakan kelas yang dilakukan dengan bersiklus (Suharsimi Arikunto, 2006:17). Tiap siklus dilakukan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan,

pengamatan, dan refleksi. Tindakan

dilaksanakan melalui dua siklus. Subjek penelitian dalam PTK ini yaitu siswa kelas V

SDN balonggemek I Jombang tahun

pelajaran 2014/2015 berjumlah 17 siswa. Dari 17 siswa tersebut terdiri 7 siswa laki dan 10 siswa perempuan.

Di dalam pelaksanaan penelitian, peneliti (guru kelas) bekerja sama dengan guru mitra yaitu bapak Darmin Safariadi. Peran guru tersebut yaitu melakukan

pengamatan dan pencatatan terhadap

kegiatan dalam pelaksanaan tindakan.

Kegiatan yang diamati yaitu kegiatan yang

dilakukan oleh guru, siswa, maupun

keterlaksanaan perbaikan sebagai sumber data. Informasi yang diterima selama proses

pembelajaran direkam dalam lembar

pedoman pengamatan, lembar catatan

lapangan, kamera, dan daftar rekap nilai tes. Selanjutnya dihimpun sebagai data yang akan diolah, dianalis, dan disimpulkan untuk memperoleh deskripsi yang jelas.

Hasil Penelitian

Siklus I

Beberapa hal yang akan dilakukan peneliti sebelum penelitian adalah (1) merencanakan perangkat pembelajaran yang

terdiri dari Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa,

Lembar Tes Soal Individu, (2)

merencanakan instrumen penelitian yang

terdiri dari lembar dan format wawancara, sedangkan kompetensi pembelajaran yang akan dilaksankan pada siklus I adalah

membandingkan pecahan, mengurutkan

pecahan, menyederhanaan pecahan,

penjumlahan pecahan dengan pembilang satu, penjumlahan pecahan berpenyebut

sama, dan penjumlahan pecahan

berpenyebut berbeda. RPP dibuat sesuai dengan tahapan-tahapan proses penerapan pembalajaran inkuiri terbimbing dengan bantuan media manipulatif, LKS dan tes individu dibuat sesederhana mungkin dan

tidak menyulitkan siswa, sedangkan

rancangan intrumen penelitian, peneliti menggunakan prinsip mudah dipahami dan diisi oleh observer pada saat mengamati setiap tindakan dalam proses pembelajaran.

Pelaksanaan dalam siklus I ini dibagi menjadi 3 kali pertemuan, dengan rincian pertemuan ke satu membahas tentang

kompetensi membandingkan dan

mengurutkan pecahan, pertemuan kedua

membahas tentang kompetensi

menyederhanakan pecahan dan

menjumlahkan pecahan dengan pembilang satu, dan pertemuan ketiga membahas

kompetensi penjumlahan pecahan

berpenyebut sama dan berpenyebut berbeda. Diakhir pertemuan dilanjutkan dengan tes akhir siklus I.

Penerapan pembelajaran inkuiri

terbimbing dengan bantuan media

manipulatif untuk meningkatkan hasil

belajar siswa siklus I ditemukan hal-hal sebagai berikut:

a. Aktifitas guru dalam keterlaksanaan

pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bantuan media manipulatif berjalan cukup baik. Persentase keterlaksanaan

pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bantuan media manipulatif memperoleh kategori aktif, yaitu mencapai skor rata- rata 87%. Kekurangan pada siklus I ini guru kurang memperhatikan efisiensi waktu terlihat ketika melakukan proses pembelajaran pertemuan pertama waktu tersita pada kegiatan awal. Penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bantuan media manipulatif yang anggota kelompok tidak terlalu banyak sehingga

siswa aktif mengikuti pelajaran.

Pernyataan ini didukung dari Silberman (2009: 151) mengemukakan bahwa

‖salah satu cara terbaik untuk

mengembangkan belajar yang aktif adalah memberikan tugas belajar yang diselesaikan dalam kelompok kecil

siswa.‖

b. Hasil wawancara dengan beberapa siswa

menunjukkan jawaban yang hampir 100% menjawab positif dan senang dengan proses pembelajaran yang sudah dilaksanakan. Senangnya siswa dapat dilihat dari aktivitas dia selama kegiatan proses pembalajran berlangsung dan pada saat diwawancara.

c. Hasil belajar siswa pada siklus I masih kurang, rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I diperoleh 56,6 (8 siswa yang masih di bawah KKM dan 7 siswa sudah memenuhi standart KKM) dengan kriteria ketuntasan klasikal sebesar 75, dengan demikian hasil belajar siklus I belum mencapai KKM matematika

kelas V SDN Balongegemek I

kecamatan Megaluh kabupaten Jombang Siklus II

Beberapa hal yang dilakukan peneliti pada siklus II sebelum melakukan penelitian

adalah (1) merancang perangkat

pembelajaran yang terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), lembar tes soal individu, (2) merancang intrumen penelitian yang terdiri dari lembar observasi dan format wawancara, (3) merancang pembelajaran yang dapat memperbaiki segala bentuk kelemahan dan kekurangan pada siklus I,

diantaranya menyangkut masalah cara

menyampaikan materi operasi penjumlahan pecahan agar lebih dimaksimalkan lagi cara

penyampaiannya, pengelolaan kelas,

memotivasi siswa agar lebih berani dan percaya diri, pengelolaan penggunaan media manipulatif pada saat proses pembelajaran,

konsentrasi siswa dalam proses

pembelajaran, sedangkan kompetensi

pembelajaran yang akan dilaksanakan pada siklus II yaitu pengurangan pecahan.

Pembelajaran pada siklus II disusun berdasarkan hasil observasi dan refleksi yang dilakukan pada tindakan siklus I. Masalah yang berhasil diidentifikasi sebagai bahan acuan untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tindakan siklus II. Hasil refleksi dari siklus I dijadikan rencana untuk perbaikan pada pelaksanaan pembelajaran tindakan siklus II. Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai yaitu siswa dapat melakukan operasi pengurangan pecahan. Waktu pembelajaran untuk siklus II dilakukan selam tiga kali pertemuan, termasuk tes.

Penerapan pembelajaran inkuiri

terbimbing dengan bantuan media

manipulatif pada siklus II dilakukan dengan

beberapa perubahan, terutama untuk

mengoptimalkan proses pembelajaran

dapat terpenuhi. Berikut ini temuan-temuan pada siklus II.

a. Aktifitas guru dalam keterlaksanaan

pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bantuan media manipulatif berjalan sangat baik. Persentase keterlaksanaan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bantuan media manipulatif memperoleh kategori sangat aktif, yaitu mencapai

skor rata-rata 92%. Guru sudah

menerapkan semua aspek yang terdapat pada lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bantuan media manipulatif. Hal ini menunjukkan terjadinya peningkatan dari kegiatan siklus I ke siklus II.

b. Hasil wawancara dengan beberapa siswa

menunjukkan jawaban yang hampir 100% menjawab positif dan senang dengan proses pembelajaran yang sudah dilaksanakan. Senangnya siswa dapat dilihat dari aktivitas dia selama kegiatan proses pembalajran berlangsung dan pada saat diwawancara.

c. Hasil belajar kognitif siswa sudah

sangat baik, hanya terdapat 4 siswa yang belum tuntas belajar. Ketuntasan hasil belajar kognitif mencapai skor rata-rata 88,4, sehingga pembelajaran dengan

penerapan pembelajaran inkuiri

terbimbing dengan bnatuan media manipulatif sudah dianggap berhasil.

Pembahasan

A. Keterlaksanaan Pembelajaran Inkuiri

Terbimbing dengan bantuan Media Manipulatif

Penerapan pembelajaran Inkuiri

terbimbing dengan bantuan media

manipulatif ini dilaksanakan mulai tanggal

13 April 2015 sampai dengan 25 April 2014 yang dibagi menjadi dua siklus. Skenario

pembelajaran dengan menggunakan

pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bantuan media manipulatif yang diterapkan guru di kelas V SDN Balonggemek 1 terlaksana sepenuhnya dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan

bantuan media manipulatif dengan

menggunakan cheklist.

Berdasarkan data yang diperoleh dari

instrumen tersebut, ditemukan bahwa

penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bantuan media manipulatif pada kedua siklus sudah berlangsung maksimal. Pada siklus I, ketercapaian pelaksanaan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bantuan media manipulatif adalah 87%.

Setelah beberapa perbaikan dalam

pelaksanaan, maka pada siklus II

pelaksanaan pembelajaran tersebut

mengalami peningkatan. Pelaksanaan

pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bantuan media manipulatif pada siklus II mencapai 92%.

Pembelajaran inkuiri terbimbing

dengan bantuan media manipulatif

dilaksanakan sebanyak dua siklus dan

dilaksanakan sebanyak enam kali

pertemuan. Pertemuan pertama membahas membandingkan dan mengurutkan pecahan,

pertemuan kedua membahas

menyederhanakan pecahan dan penjumlahan pecahan dengan pembilang satu, pertemuan ketiga membahas penjumlahan pecahan berpenyebut sama dan berpenyebut berbeda disertai dengan tes akhir siklus I, pertemuan keempat membahas mengurangkan pecahan

membahas mengurangkan pecahan berpenyebut sama sedangkan pertemuan keenam membahas mengurangkan pecahan berpenyebut berbeda dengan disertai tes akhir siklus II.

Setiap pertemuan dalam pembahasan materi terbagi menjadi tiga tahap bagian, yaitu: 1) kegitan awal, yang terdiri dari

kegiatan guru mengucapkan salam,

memimpin doa, memeriksa kehadiran siswa, melakukan apersepsi dan menyampaikan tujuan pembelajaran; 2) kegiatan inti,

kegiatan yang dilakukan meliputi tanya

jawab tentang penjumlahan dan

pengurangan pecahan, merumuskan

masalah, membuat hipotesis, dan diskusi dalam kelompok; 3) kegitan akhir, kegiatan yang dilakukan diantaranya penyimpulan, refleksi, dan menutup proses pembelajaran.

Pembelajaran dengan menggunakan media manipulatif sangat membantu dalam mengarahkan siswa dalam memahami dan

belajar kompetensi penjumlahan dan

pengurangan pecahan dan pada akhirnya siswa dapat menmukan konsep-konsep dasar matematika pada kompetensi penjumlahan dan pengurangan pecahan. Pemilihan bahan

manipulatif sangat berperan dalam

pencapaian kompetensi-kompetensi yang lainnya, akibatnya guru dituntut untuk lebih jeli dalam penerapannya. Ketertarikan yang ditimbulkan diharapkan menjadikan siswa menjadi lebih tertarik dengan materi yang diberikan guru dan pemahaman pun menjadi lebih tahan lama tertanam pada siswa. Sehingga kecil kemungkinan siswa lupa dengan pembelajaran di sekolah karena siswa tidak hanya hafal langkahnya saja namun juga pemahaman konsep.

Berdasarkan hal tersebut di atas,

seorang pendidik harus terampil dalam membuat dan merakit sebuah media manipulatif untuk proses pembelajaran matematika agar siswa-siswa tertarik pada kompetensi pelajaran yang sedang dipelajari.

Bentuk, warna, dan ukuran media

manipulatif dibuat sedemikian rupa agar siswa tertarik dan senang pada saat

mengaplikasikannya dalam proses

pembelajaran.

B. Penerapan Pembelajaran Inkuiri

Terbimbing dengan Bantuan Media Manipulatif terhadap hasil belajar

Penerapan pembelajaran inkuiri

terbimbing dengan bantuan media

manipulatif pada operasi hitung

penjumlahan dan pengurangan pecahan dalam penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam penelitian ini hasil belajar siswa diukur melalui tes. Tes ini dilakukan pada setiap akhir tindakan dari dua siklus yang dilaksanakan oleh peneliti.

Hasil tes akhir tindakan pada penelitian ini digambarkan dalam bentuk skor yang diperoleh siswa selama proses pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bantuan media manipulatif pada kompetensi

operasi hitung penjumlahan dan

pengurangan pecahan. Peningkatan hasil

belajar siswa dapat dilihat melalui

peningkatan persentase hasil belajar yang diperoleh siswa kelas V pada tes akhir siklus I dan tes akhir siklus II, yaitu pada tes akhir siklus I diperoleh hasil belajar siswa 56,6%, sedangkan pada tes akhir siklus II diperoleh presentase hasil belajar siswa 80,4%.

Berdasarkan analisis data tes akhir tindakan pada siklus I dan siklus II,

mengalami peningkatan. Peningkatan hasil belajar terjadi pada tingkat ketuntasan individu yang dapat dilihat dari rata-rata kelas ataupun dari persentase siswa yang tuntas pada kelas tersebut. Persentase

ketuntasan klasikal meningkat sebesar

23,8%. Berdasarkan hasil analisis tersebut

dapat diketahui bahwa penerapan

pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bantuan media manipulatif pada kompetensi operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan dapat meningkat.

Dalam pembelajaran yang dilakukan dalam siklus I, hasil belajar siswa masih kurang memuaskan, diantaranya siswa masih kesulitan dalam menghitung operasi penjumlahan pecahan, tingkat kepercayaan diri siswa rendah, masih ada siswa yang kurang teliti dalam menjawab soal yang diberikan oleh guru baik pada lembar LKS atau latihan individu, pengelolaan kelas yang belum maksimal, penjelasan materi yang tidak efektif dan efisien, pemberian motivasi yang masih rendah kepada diri siswa, dan pada saat kerja kelompok ada

sebagian siswa yang tidak ikut

berpartisipasi. Masalah-masalah tersebut berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, dan diperoleh persentase hasil belajar siswa pada siklus I yang belum memenuhi KKM yaitu 56,6%.

Pada siklus II, hasil belajr siswa terhadap kompetensi yang diberikan peneliti mengalami perubahan. Hal ini ditunjukkan dengan persentase siswa yang memenuhi KKM pada siklus II adalah 80,4%. Hal ini disebabkan karena siswa sudah memahami materi yang dierikan oleh peneliti sehingga siswa dapat memecahkan masalah yang ada dengan baik.

Hasil belajar siswa meningkat

disebabkan oleh pengalaman-pengalaman

yang diberikan melalui penerapan

pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bantuan media manipulatif. Pembelajaran yang disajikan dengan bantuan media manipulatif dapat disajikan lebih mudah, menarik dan mudah dicerna oleh siswa. Penyajian pembelajaran yang menarik dapat membuat semangat dan motivasi siswa dalam belajar lebih meningkat.

Hasil wawancara terhadap tujuh belas siswa subjek penelitian dapat diketahui bahwa siswa sudah memahami kompetensi yang dijelaskan oleh guru. Melalui hasil

wawancara dari jutuh belas subyek

penelitian, mereka sudah bisa menjelaskan soal operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan dengan benar.

C. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemapuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan

belajar sehingga tercapainya tujuan

pembelajaran. Untuk mengetahui tingkat

pencapaian hasil belajr siswa, guru

menggunakan tes hasil belajar.

Berdasarkan hasil observasi guru, hasil tes siswa, dan wawancara terhadap

tujuh belas subyek penelitian, dapat

diketahui bahwa siswa dapat memahami

operasi hitung penjumlahan dan

pengurangan pecahan. Hasil tes akhir tindakan yang diperoleh siswa dari Siklus I dan Siklus II mengalami peningkatan yang cukup baik. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman dan penguasaan siswa terhadap

kompetensi operasi penjumlahan dan

pengurangan pecahan telah meningkat. Standar Nilai Ketuntasan siswa yang di tetapkan oleh SDN Balonggemek 1 untuk

mata pelajaran matematika di kelas V adalah 75. Prosentase ketuntasan klasikal pada siklus I adalah 56,6%, sedangkan prosentase ketuntasan klasikal pada siklus II adalah

80,4%. Hal ini menunjukkan ada

peningkatan sebesar 23.8%.

Berdasarkan hasil wawancara, siswa

senang dengan pembelajaran inkuiri

terbimbing dengan bantuan media

manipulatif pada kompetensi operasi

penjumlahan dan pengurangan pecahan.

Kesimpulan

1. Penerapan Pembelajaran Inkuiri

terbimbing dengan bantuan media

manipulatif yang dilakukan terdiri dari langkah-langkah: siswa merumuskan masalah dengan didampingi oleh guru,

siswa membuat hipotesis dengan

didampingi oleh guru, mengumpulkan data dengan cara siswa mendiskusikan LKS, menganalisis data dengan cara siswa menuliskan hasil pekerjaannya di papan tulis setelah itu didiskusikan

secara bersama-sama, dan

menyimpulkan kegiatan pada hari itu.

2. Penerapan pembelajaran inkuiri

terbimbing dengan bantuan media

manipulatif dapat peningkatkan hasil