• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mendayagunakan Bacaan Anak Dalam Menyiapkan Peserta Didik

Dalam dokumen PENDIDIKAN KARAKTER ANAK USIA DINI MELAL (Halaman 182-187)

HEAD TOGETHER) TERHADAP PROGRAM BELAJAR BERCERITA PADA ANAK USIA DIN

BACAAN ANAK SEBAGAI MEDIA PEMBINAAN BAHASA INDONESIA DALAM MENYIAPKAN PESERTA DIDIK BERKARAKTER

4. Mendayagunakan Bacaan Anak Dalam Menyiapkan Peserta Didik

Berkarakter

Eksistensi suatu bangsa sangat

ditentukan oleh karakter yang dimiliki bangsa tersebut. Untuk membentuk bangsa yang maju dan memiliki daya saing di era

globalisasi sekarang ini diperlukan

pembinaan karakter bangsa. Ida Zusnani

(2012:147) berpendapat bahwa ―secara

filosofis, pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah kebutuhan asasi dalam proses berbangsa karena hanya bangsa yang memiliki karakter dan jari diri yang kuat

yang akan eksis‖.

Selain mempunyai sikap professional guru harus mampu mengembangkan dan memberikan pengalaman bagi peserta didik. Karena belajar tidak hanya interaksi antara guru dengan siswa, tetapi harus bisa memberikan karakter yang baik yang dapat dilakukan setiap hari. Roestiyah (1994:41) menyatakan bahwa bentuk-bentuk interaksi belajar mengajar sebagai berikut.

a. Pengajaran adalah transfer pengetahuan kepada siswa, dalam bentuk ini guru di sekolah hanya menyuapi makanan kepada anak. Siswa selalu menerima suapan itu tanpa komentar, tanpa mau aktif berfikir. Mereka mendengar tanpa kritik. Sehingga dapat dikatakan hubungan guru-siswa yang sepihak.

b. Pengajaran adalah mengajar siswa

bagaimana cara belajar. Dalam bentuk ini guru hanya sumber belajar yang tugasnya

sebagai fasilitator sehingga

c. Pengajaran adalah hubungan interaktif antara guru dan siswa. Dalam hal ini guru menciptakan situasi dan kondisi agar tiap individu dapat aktif belajar.

d. Mengajar adalah interaksi siswa dengan siswa dan konsultasi guru. Dalam hal ini

siswa memperoleh pengalamannya

sendiri.

Dari tugas guru di atas, sudah menjadi hal umum yang dilakukan oleh guru dalam membentuk kepribadian anak melalui pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia sebagai generasi bangsa sejak dini. Mengingat kontribusi bacaan anak dalam memberi perhatian akan kebutuhan anak, maka sangat relevan dilakukan pendayagunaan bacaan anak sebagai salah satu media pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Indonesia.

Mendayagunakan bacaan anak sebagai

media pembinaan bahasa dan sastra

Indonesia, sarana utama yang harus

disediakan adalah bacaan. Anak harus

diperkenalkan dan dibiasakan ‗bergaul‘

dengan bacaan, baik di rumah maupun di

perpustakaan sekolah sebagai basis

pendidikan anak. Pengadaan dan

penyebarluasan bacaan anak di

perpustakaan-perpustakan sekolah, terlebih di wilayah terpencil yang sangat terbatas untuk mendapatkan akses keluar, mutlak diperlukan. Hal ini mengingat di Indonesia tidak semua Sekolah Dasar mempunyai perpustakaan, kalau pun ada, sering tidak

dikelola secara baik. Selain itu penyeleksian bacaan anak penting dilakukan agar tidak menimbulkan peniruan yang buruk dan masuk dalam imajinasi anak. Bacaan anak

harus sesuai dengan tingkat usia,

perkembangan, minat, kecenderungan dn kebutuhan anak. Beberapa ciri buku atau bacaan yang baik, misalnya, memiliki tema yang sesuai kehidupan anak, tokohnya dapat dikenali dan dipercaya, struktur kalimatnya sederhana, alur cerita tidak berbelit-belit dan logis sehingga cerita mudah dimengerti dan berkesan, juga unsur ilustrasi, kemasan dan perwajahan harus menarik dan sesuai tema cerita (Thamrin, 2001).

Menggali dan mengembangkan

potensi anak serta meningkatkan

pemahaman anak akan nilai-nilai kehidupan, dapat tercapai dengan baik bila di sekolah maupun di perpustakaan, diadakan kegiatan rutin diskusi/kupas bacaan anak, misalnya, diskusi tentang buku-buku cerita rakyat yang ada di seluruh Indonesia. Anak didorong dan dibiasakan membaca buku dan memberikan tanggapan mengenai buku yang dibacanya, membandingkan ilustrasi buku,

mendiskusikan bahasa yang dipakai

pengarang, dan menggali pesan-pesan yang ada dalam bacaan akan membuat anak kreatif, eksploratif, dan inovatif. Selain itu siswa didorong untuk memahami hikmah dan pesan moral yang ada dalam bacaan anak. Pesan moral ditekankan untuk dilakukan sebagai teladan yang baik.

Pihak sekolah dan orangtua dapat pula mengajak anak untuk memanfaatkan peluang yang diberikan oleh pihak penerbit buku bacaan anak, majalah, dan surat kabar untuk aktif terlibat dengan mengirimkan naskah cerpen, dongeng, karikatur, cerita bergambar dan puisi. Anak dibimbing untuk mengmati lingkungan sekitar sebagai bahan untuk menulis atau menggambar. Dengan mengajak anak menulis, kreativitas anak dapat ditingkatkan. Ibarat membenamkan diri dalam proses kreatif, ketika menulis anak menciptakan sesuatu, yang juga berarti

melontarkan pertanyaan-pertanyaan,

mengalami keraguan dan kebingungan, sampai akhirnya menemukan pemecahan. Apabila proses kreatif tersebut semakin dilatih, maka anak akan semakin mudah untuk mengalihkan keahliannya kepada bidang lain yang juga membutuhkan solusi kreatif.

Selain itu, menggunakan kata-kata pujian adalah cara yang efektif untuk memotivasi anak dalam kegiatan membaca dan menulis. Seperti halnya membaca, selera menulis anak bisa berbeda-beda. Oleh karena itu, sebaiknya anak dibebaskan untuk membaca dan menulis sesuatu yang mereka senangi, tetapi tetap perlu didorong dan diarahkan untuk menggali dan mencintai khazanah budaya bangsa sendiri. Tidak menjadi masalah apa jenis bacaan dan jenis tulisan yang dibuat anak. Malahan, semakin banyak jenis bacaan dan jenis tulisan yang

dibuat, semakin terampil pula mereka dalam berbahasa dan bersastra. Namun, tetap

diusahakan untuk memberi semangat,

dorongan, saran dan kritik dengan cara hati- hati apabila bacaan mengarah pada hal-hal buruk.

Dengan mendayagunakan bacaan anak, maka budaya membaca dan menulis pada anak akan semakin meningkat. Semakin tinggi tingkat budaya membaca dan menulis pada anak, akan semakin meningkat pula keterampilan berbahasa dan mengapresiasi sastra pada anak. Karakter anak akan muncul dengan melihat bacaan yang disenangi, sehingga menjadikan tokoh sebagai bagian dari karakter yang perlu ditiru.

Bacaan yang disediakan harus

memiliki kontribusi dalam membangun karakter yang positif pada anak, artinya bacaan tersebut mengandung pesan moral yang baik. Tokoh-tokoh dalam bacaan anak dipilih sesuai karakteristik usia anak. Dengan demikian secara tidak langsung anak akan mudah mengidolakan tokoh

Penutup

Pendidikan diupayakan untuk

mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Pendidikan tersebut harus dilandasi oleh prinsip kepribadian sehingga menghasilkan kualitas peserta didik yang mampu dan berkompetensi. Tugas lembaga penyelenggara pendidikan tidak hanya

menyiapkan calon guru dalam bidang pengembangan dan intelektualnya saja, tetapi penerapan sikap yang nantinya akan diajarkan pada peserta didik melalui pendidikan karakter yang dintegrasikan dalam semua mata pelajaran dan tingkah lakunya.

Pendidikan karakter mengajarkan peserta didik bagaimana cara bertindak yang baik, tidak hanya dalil ataupun teori saja. Dalam pembelajaran pendidikan karakter terintegrasi dalam semua mata pelajaran. Untuk itu peran guru menjadi penting dengan segala sikapnya, karena guru harus membawa perubahan kearah yang lebih baik bagi peserta didik. Sehingga dalam

penerapannya peserta didik mampu

memecahkan masalah dan berfikir positif. Salah satu penerapannya dalam pelajaran bahasa Indonesia melalui bacaan anak.

Pemahaman, penghayatan, dan

penghargaan masyarakat Indonesia terhadap

bahasa dan sastra Indonesia belum

dilakukan secara maksimal dan

proporsional. Apalagi, di tengah derasnya arus globalisasi, kecintaan dan kebanggaan masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, terhadap bahasa dan sastra Indonesia semakin dipertanyakan. Oleh karena itu,

perlu dilakukan pembinaan dan

pengembangan bahasa dan sastra Indonesia pada anak sebagai generasi bangsa sejak dini. Mengingat kontribusi bacaan anak dalam memberi perhatian akan kebutuhan anak, maka sangat relevan dilakukan pendayagunaan bacaan anak sebagai salah satu media pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Indonesia.

Membina bahasa dan sastra

Indonesia diperlukan kemauan, disiplin, dan ketekunan. Peran bacaan anak hendaknya juga diimbangi pula dengan kepedulian pemerintah, guru, dan orangtua, agar tercipta suasana kondusif dalam mendayagunakan bacaan anak sebagai media pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Indonesia. Jika langkah di atas dapat terwujud, maka

tujuan pembinaan bahasa dan sastra

Indonesia bukan mustahil diraih, bahkan, mungkin pada gilirannya nanti bahasa Indonesia benar-benar akan menjadi bahasa budaya dan bahasa Iptek yang berwibawa dan mempunyai prestise tersendiri di era globalisasi, dan para penuturnya akan tetap bangga dan setia menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi yang efektif di tengah derap peradaban zaman.

Daftar Pustaka

Balitbang. 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional Balitbang Puskur

Enre, Fakhuruddin Ambo. 1963.

Perkembangan puisi Indonesia dalam masa dua puluhan. Jakarta: Gunung Agung

Isah Cahyani dan Hodijah. 2007.

Kemampuaan Berbahasa Indonesia Di SD. Bandung: UPI Press

Khotimah, Tarti Khusnul. 2008. ―Majalah

Anak: Media Pembelajaran dan Pembinaan Bahasa dan Sastra

Indonesia‖. Makalah yang disajikan

dalam Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia, 16-18 Mei 2008 di Yogyakarta.

Kundharu Saddono dan Slamet, St. Y. 2014.

Pembelajran Keterampilan Berbahasa Indonesia; Teori dan Aplikasi.

Yogyakarta: Graha Ilmu

Mansur Muslich. 2012. Bahasa Indonesia Pada Era Globalisasi. Jakarta: Bumi Aksara

Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak.

Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Naim,N. 2012. Character Building. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media Roestiyah. 1994. Masalah

Pengajaran.Jakarta: Rineka Cipta Santoso, Puji. 2008. Materi dan

Pembelajaran Bahasa Indonesia SD.

Jakarta : Universitas Terbuka

Thamrin. 2001. ―Buku Bacaan, Gizi Rohani, dan Suplemen Penting untuk Anak‖.

Dalam Kompas Cyber Media. Senin 12 November 2001, 11:01 WIB. Undang-undang Republik Indonesia nomor

20 tahun 2003

Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter (konsepsi dan aplikasinya dalam lembaga pendidikan). Jakarta: Kencana Prenada Media Group Zusnani, I. 2012. Manajemen Pendidikan

Berbasis Karakter Bangsa. Jakarta: Tugu Publisher

Prosiding Seminar Nasional Tahun 2016

―Pengembangan Profesionalisme Guru Dan Dosen Indonesia‖

Malang, 07 Mei 2016

PENDIDIKAN KARAKTER PADA MATEMATIKA MELALUI PERMAINAN ULAR

Dalam dokumen PENDIDIKAN KARAKTER ANAK USIA DINI MELAL (Halaman 182-187)