HEAD TOGETHER) TERHADAP PROGRAM BELAJAR BERCERITA PADA ANAK USIA DIN
MATEMATIKA SISWA
(Studi pada Siswa Kelas V Tahun Pelajaran 2014/2015 di SDN Balonggemek 1 Kecamatan Megaluh Kabupaten Jombang)
Yoggy Febriawan, Subanji, Syamsul Hadi
Universitas Negeri Malang Email : [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bantuan media manipulatif dalam pembelajaran penjumlahan dan pengurangan pecahan yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang dilakukan dua siklus, dengan latar belakang kelas V SDN Balonggemek 1 Jombang. Tindakan pada siklus I yaitu pembelajaran inkuri terbimbing berbantuan media manipulatif dengan kompetensi penjumlahan pecahan dan pada siklus II yaitu pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bntuan media manipulatif dengan kompetensi pengurangan pecahan. Hasil penelitian menunjukkan penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bantuan media manipulatif dapat meningkatkan hasil belajar siswa dilakukan dengan langkah (1) melakukan tanya jawab, (2) merumuskan masalah, (3) membuat hipotesis, (4) siswa berkelompok masing-masing kelompok beranggotakan 2-3 siswa, (5) mendiskusikan LKS yang telah dibagikan, (6) menuliskan hasil kerja kelompok di papan tulis, (7) kelompok lain menanggapi kelompok yang menuliskan hasil kerja kelompoknya. Kegiatan dapat dilakukan dengan sangat baik, terpusat pada siswa. Siswa dapat terlibat langsung, menjadi lebih bersemangat, lebih aktif dan mudah memhami materi.
Kata kunci : inkuiri terbimbing dengan bntuan media manipulatif, hasil belajar Pendahulauan
Pembelajaran Matematika
merupakan suatu upaya untuk
memfasilitasi,
mendorong, dan mendukung siswa dalam belajar Matematika. Banyak orang yang tidak menyukai Matematika, termasuk siswa yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Mereka menganggap Matematika adalah pelajaran yang sulit dan menakutkan. Anggapan ini membuat mereka merasa malas untuk belajar Matematika.
Menurut Kline (dalam Pitadjeng, 2006:1) belajar akan efektif jika dilakukan
dalam suasana yang menyenangkan.
Sedangkan menurut Pitadjeng (2006: 3) orang yang belajar akan merasa senang jika memahami apa yang dipelajari. Pendapat keduanya juga berlaku bagi siswa Sekolah Dasar yang sedang belajar Matematika. Belajar anak diberi kesempatan untuk
merencanakan dan menggunakan cara
belajar yang mereka senangi. Guru dalam
mengajarkan Matematika harus
mengupayakan agar siswa dapat memahami dengan baik materi yang sedang dipelajari.
Penelitian yang dilakukan di SDN Balonggemek 1 Jombang diawali dengan
melakukan pengamatan dan didapat beberapa hal yang dialami oleh siswa kelas V SDN Balonggemek I selama mengikuti pelajaran matematika dikelas, diantaranya : 1) Sekitar 20 % pembelajaran di kelas
menggunakan media pembelajaran,
selebihnya menggunakan buku cetak.
Berdasarkan hal tersebut, penggunaan media di kelas untuk pembelajaran masih kurang dan sangat terbatas. Keterbatasan ini
sangat berpengaruh sekali terhadap
kelancaran guru dalam menyampaikan materi pelajaran matematika. Keterbatasan ini disebabkan karena faktor biaya untuk membeli media pembelajaran yang terlalu mahal. Studi pendahuluan terdapat 60% kurang aktif dalam mengikuti pelajaran matematika sebagian siswa merasa takut dengan pelajaran matematika, 2) Selama
pembelajaran matematika penggunaan
model pembelajaran hanya sekitar 40% dan dinilai sangat kurang hal ini disebabkan karena peralatan yang ada disekolah tidak menunjang untuk menggunaan model pembelajaran tertentu, 3) sebanyak 65%
siswa kurang berkonsentrasi dalam
mengikuti pelajaran matematika, sehingga banyak siswa tidak memahami materi yang diajarkan oleh guru.
Berdasarkan hasil tes diketahui bahwa hasil belajar Matematika pada kompetensi penjumlahan dan pengurangan pecahan sebagian besar siswa kelas V SDN
Balonggemek 1 belum memuaskan.
Indikatornya diketahui hanya 3 siswa (18%) mendapat nilai 75-100, 7 siswa (41%) mendapat nilai 50-74, 5 siswa (29%) mendapat nilai 25-50, dan 2 siswa (12%) mendapat nilai 0-24 dan. Ada 2 siswa yang telah memenuhi standar ketuntasan belajar dan ada 10 siswa yang belum tuntas. Artinya ketuntasan belajar secara klasikal belum tercapai, karena hanya 18% siswa tuntas belajar dan yang belum tuntas mencapai 82%. Hal ini membuktikan bahwa hasil belajar siswa belum memenuhi syarat ketuntasan kelas sesuai KTSP yaitu
hasil belajar siswa harus mencapai
persentase keberhasilan mendapat nilai ≥ 75 mencapai 75% dari banyaknya siswa.
Berdasarkan paparan masalah yang diungkapkan kemudian peneliti mengkaji dan didapatkan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut yaitu penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan
bantuan media manipulatif untuk
meningkatkan hasil belajar siswa.
Pembelajaran inkuiri dapat
dilaksanakan dengan cara inkuiri terbimbing dan inkuiri terbuka. Pembelajaran inkuiri terbuka dalam pelaksanaannya seluruh
kegiatan seperti pemilihan masalah,
merencanakan eksperimen, menganalisis data, dan menyimpulkan data dilakukan oleh siswa. Pembelajaran inkuiri terbimbing yaitu suatu pembelajaran penemuan yang dalam
pelaksanaannya guru menyediakan
siswa. Sebagian perencanaannya dibuat oleh guru, siswa tidak merumuskan problem atau masalah.
Dalam pembelajaran inkuiri
terbimbing guru tidak melepas begitu saja kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa. Guru harus memberikan pengarahan
dan bimbingan kepada siswa dalam
melakukan kegiatan-kegiatan sehingga
siswa yang berpikir lambat atau siswa yang mempunyai intelegensi rendah tetap mampu mengikuti kegiatan-kegiatan yang sedang
dilaksanakan dan siswa mempunyai
kemampuan berpikir tinggi tidak
memonopoli kegiatan, oleh sebab itu guru harus memiliki kemampuan mengelola kelas yang bagus.
Penjelasan di atas dalam penelitian ini, lebih dipilih penggunaan pembelajaran inkuiri terbimbing karena siswa sekolah dasar masih dalam perkembangan berfikir kongkrit maka dari itu kontribusi guru masih sangat dibutuhkan. Hal ini juga diperkuat oleh Djamarah (2011:125) yaitu, sampai kira-kira umur 11 tahun anak masih membutuhkan guru atau orang dewasa.
Hal ini juga didukung penelitian yang dilakukan oleh Mosik, dkk (2010), yang membuktikan bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing dapat mengatasi kesulitan
belajar siswa yang berdampak pada
peningkatan hasil belajar siswa. Selain itu penelitian yang dilakukan Wayan (2011) juga membuktikan bahwa pembelajaran
inkuiri terbimbing berbasis asesmen
portofolio lebih baik dari pada hasil belajar
kimia siswa yang mengikuti model
pembelajaran konvensional . Untuk
memaksimalkan proses pembelajaran,
peneliti juga menggunakan media
manipulatif.
Interaksi siswa dengan lingkungan
dapat tercipta suasana belajar yang
menyenangkan dan sesuai dengan tingkat kognitif siswa. Piaget berpendapat: bahwa ada 4 periode berpikir dari setiap individu, yaitu (1) periode sensori motor, (2) periode pra operasi, (3) periode operasi konkret, dan (4) periode operasi formal. Untuk siswa Sekolah Dasar usia mereka berada pada periode operasi konkret mereka didasarkan atas manipulasi fisik dari objek-objek (Piaget dalam Hudojo, 1988:46). Dienes (dalam Hujoyo, 1988:59) menyatakan bahwa untuk menyajikan konsep atau prinsip matematika pada siswa usia Sekolah
Dasar, pertama-tama disajikan dalam
bentuk konkret, sehingga hal yang abstrak didasarkan pada intuisi dan sesuai dengan
pengalaman-pengalaman konkret.
Pembelajaran matematika dapat dilakukan mulai dari hal-hal yang bersifat konkret menuju kepada hal-hal yang abstrak.
Untuk membantu siswa memahami materi abstrak, diperlukan alat bantu pembelajaran berupa media manipulatif.
Media manipulatif adalah media
sebagai alat peraga yang di manipulasi, dirubah dan dibuat sendiri untuk membantu siswa memahami materi yang diajarkan.
Penggunaan media manipulatif pada pecahan sangat membantu siswa dalam memahami penjumlahan dan pengurangan pecahan. Hal ini didukung oleh penelitian Resty, dkk (2013) yang membuktikan bahwa
media manipulatif jaring-jaring dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika. Penelitian serupa juga pernah dilakukan oleh Astiningsih, dkk (2014) yang membuktihkan bahwa model
pembelajaran core berbantuan media
manipulatif berpengaruh terhadap hasil belajar matematika.
Tujuan penelitian ini yaitu agar
siswa lebih mudah belajar tentang
matematika khusunya pada kompetensi penjumlahan dan pengurangan pecahan, dengan bagitu diikuti dengan hasil belajar siswa yng akan meningkat.
Metode Penelitian
Menurut pendekatan penelitian,
pendekatan penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Sedangkan menurut jenisnya, jenis penelitian ini adalah Penelitian
Tindakan Kelas (classroom action
research). PTK adalah salah satu jenis tindakan yang bertujuan untuk mengatasi masalah pembelajaran yang terjadi pada latar tindakan (Akbar, 2008:66). PTK dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan
masalah-masalah pembelajaran,
memperbaiki mutu, hasil pembelajaran, dan mencoba hal-hal yang baru dibidang pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran.
Penelitian ini menggunakan
rancangan penelitian tindakan kelas yang dilakukan dengan bersiklus (Suharsimi Arikunto, 2006:17). Tiap siklus dilakukan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan,
pengamatan, dan refleksi. Tindakan
dilaksanakan melalui dua siklus. Subjek penelitian dalam PTK ini yaitu siswa kelas V SDN balonggemek I Jombang tahun pelajaran 2014/2015 berjumlah 17 siswa. Dari 17 siswa tersebut terdiri 7 siswa laki dan 10 siswa perempuan.
Di dalam pelaksanaan penelitian, peneliti (guru kelas) bekerja sama dengan guru mitra yaitu bapak Darmin Safariadi. Peran guru tersebut yaitu melakukan
pengamatan dan pencatatan terhadap
kegiatan dalam pelaksanaan tindakan.
Kegiatan yang diamati yaitu kegiatan yang dilakukan oleh guru, siswa, maupun keterlaksanaan perbaikan sebagai sumber data. Informasi yang diterima selama proses
pembelajaran direkam dalam lembar
pedoman pengamatan, lembar catatan
lapangan, kamera, dan daftar rekap nilai tes. Selanjutnya dihimpun sebagai data yang akan diolah, dianalis, dan disimpulkan untuk memperoleh deskripsi yang jelas.