• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATEMATIKA SISWA

Dalam dokumen PENDIDIKAN KARAKTER ANAK USIA DINI MELAL (Halaman 197-200)

HEAD TOGETHER) TERHADAP PROGRAM BELAJAR BERCERITA PADA ANAK USIA DIN

MATEMATIKA SISWA

(Studi pada Siswa Kelas V Tahun Pelajaran 2014/2015 di SDN Balonggemek 1 Kecamatan Megaluh Kabupaten Jombang)

Yoggy Febriawan, Subanji, Syamsul Hadi

Universitas Negeri Malang Email : [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bantuan media manipulatif dalam pembelajaran penjumlahan dan pengurangan pecahan yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang dilakukan dua siklus, dengan latar belakang kelas V SDN Balonggemek 1 Jombang. Tindakan pada siklus I yaitu pembelajaran inkuri terbimbing berbantuan media manipulatif dengan kompetensi penjumlahan pecahan dan pada siklus II yaitu pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bntuan media manipulatif dengan kompetensi pengurangan pecahan. Hasil penelitian menunjukkan penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan bantuan media manipulatif dapat meningkatkan hasil belajar siswa dilakukan dengan langkah (1) melakukan tanya jawab, (2) merumuskan masalah, (3) membuat hipotesis, (4) siswa berkelompok masing-masing kelompok beranggotakan 2-3 siswa, (5) mendiskusikan LKS yang telah dibagikan, (6) menuliskan hasil kerja kelompok di papan tulis, (7) kelompok lain menanggapi kelompok yang menuliskan hasil kerja kelompoknya. Kegiatan dapat dilakukan dengan sangat baik, terpusat pada siswa. Siswa dapat terlibat langsung, menjadi lebih bersemangat, lebih aktif dan mudah memhami materi.

Kata kunci : inkuiri terbimbing dengan bntuan media manipulatif, hasil belajar Pendahulauan

Pembelajaran Matematika

merupakan suatu upaya untuk

memfasilitasi,

mendorong, dan mendukung siswa dalam belajar Matematika. Banyak orang yang tidak menyukai Matematika, termasuk siswa yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Mereka menganggap Matematika adalah pelajaran yang sulit dan menakutkan. Anggapan ini membuat mereka merasa malas untuk belajar Matematika.

Menurut Kline (dalam Pitadjeng, 2006:1) belajar akan efektif jika dilakukan

dalam suasana yang menyenangkan.

Sedangkan menurut Pitadjeng (2006: 3) orang yang belajar akan merasa senang jika memahami apa yang dipelajari. Pendapat keduanya juga berlaku bagi siswa Sekolah Dasar yang sedang belajar Matematika. Belajar anak diberi kesempatan untuk

merencanakan dan menggunakan cara

belajar yang mereka senangi. Guru dalam

mengajarkan Matematika harus

mengupayakan agar siswa dapat memahami dengan baik materi yang sedang dipelajari.

Penelitian yang dilakukan di SDN Balonggemek 1 Jombang diawali dengan

melakukan pengamatan dan didapat beberapa hal yang dialami oleh siswa kelas V SDN Balonggemek I selama mengikuti pelajaran matematika dikelas, diantaranya : 1) Sekitar 20 % pembelajaran di kelas

menggunakan media pembelajaran,

selebihnya menggunakan buku cetak.

Berdasarkan hal tersebut, penggunaan media di kelas untuk pembelajaran masih kurang dan sangat terbatas. Keterbatasan ini

sangat berpengaruh sekali terhadap

kelancaran guru dalam menyampaikan materi pelajaran matematika. Keterbatasan ini disebabkan karena faktor biaya untuk membeli media pembelajaran yang terlalu mahal. Studi pendahuluan terdapat 60% kurang aktif dalam mengikuti pelajaran matematika sebagian siswa merasa takut dengan pelajaran matematika, 2) Selama

pembelajaran matematika penggunaan

model pembelajaran hanya sekitar 40% dan dinilai sangat kurang hal ini disebabkan karena peralatan yang ada disekolah tidak menunjang untuk menggunaan model pembelajaran tertentu, 3) sebanyak 65%

siswa kurang berkonsentrasi dalam

mengikuti pelajaran matematika, sehingga banyak siswa tidak memahami materi yang diajarkan oleh guru.

Berdasarkan hasil tes diketahui bahwa hasil belajar Matematika pada kompetensi penjumlahan dan pengurangan pecahan sebagian besar siswa kelas V SDN

Balonggemek 1 belum memuaskan.

Indikatornya diketahui hanya 3 siswa (18%) mendapat nilai 75-100, 7 siswa (41%) mendapat nilai 50-74, 5 siswa (29%) mendapat nilai 25-50, dan 2 siswa (12%) mendapat nilai 0-24 dan. Ada 2 siswa yang telah memenuhi standar ketuntasan belajar dan ada 10 siswa yang belum tuntas. Artinya ketuntasan belajar secara klasikal belum tercapai, karena hanya 18% siswa tuntas belajar dan yang belum tuntas mencapai 82%. Hal ini membuktikan bahwa hasil belajar siswa belum memenuhi syarat ketuntasan kelas sesuai KTSP yaitu

hasil belajar siswa harus mencapai

persentase keberhasilan mendapat nilai ≥ 75 mencapai 75% dari banyaknya siswa.

Berdasarkan paparan masalah yang diungkapkan kemudian peneliti mengkaji dan didapatkan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut yaitu penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan

bantuan media manipulatif untuk

meningkatkan hasil belajar siswa.

Pembelajaran inkuiri dapat

dilaksanakan dengan cara inkuiri terbimbing dan inkuiri terbuka. Pembelajaran inkuiri terbuka dalam pelaksanaannya seluruh

kegiatan seperti pemilihan masalah,

merencanakan eksperimen, menganalisis data, dan menyimpulkan data dilakukan oleh siswa. Pembelajaran inkuiri terbimbing yaitu suatu pembelajaran penemuan yang dalam

pelaksanaannya guru menyediakan

siswa. Sebagian perencanaannya dibuat oleh guru, siswa tidak merumuskan problem atau masalah.

Dalam pembelajaran inkuiri

terbimbing guru tidak melepas begitu saja kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa. Guru harus memberikan pengarahan

dan bimbingan kepada siswa dalam

melakukan kegiatan-kegiatan sehingga

siswa yang berpikir lambat atau siswa yang mempunyai intelegensi rendah tetap mampu mengikuti kegiatan-kegiatan yang sedang

dilaksanakan dan siswa mempunyai

kemampuan berpikir tinggi tidak

memonopoli kegiatan, oleh sebab itu guru harus memiliki kemampuan mengelola kelas yang bagus.

Penjelasan di atas dalam penelitian ini, lebih dipilih penggunaan pembelajaran inkuiri terbimbing karena siswa sekolah dasar masih dalam perkembangan berfikir kongkrit maka dari itu kontribusi guru masih sangat dibutuhkan. Hal ini juga diperkuat oleh Djamarah (2011:125) yaitu, sampai kira-kira umur 11 tahun anak masih membutuhkan guru atau orang dewasa.

Hal ini juga didukung penelitian yang dilakukan oleh Mosik, dkk (2010), yang membuktikan bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing dapat mengatasi kesulitan

belajar siswa yang berdampak pada

peningkatan hasil belajar siswa. Selain itu penelitian yang dilakukan Wayan (2011) juga membuktikan bahwa pembelajaran

inkuiri terbimbing berbasis asesmen

portofolio lebih baik dari pada hasil belajar

kimia siswa yang mengikuti model

pembelajaran konvensional . Untuk

memaksimalkan proses pembelajaran,

peneliti juga menggunakan media

manipulatif.

Interaksi siswa dengan lingkungan

dapat tercipta suasana belajar yang

menyenangkan dan sesuai dengan tingkat kognitif siswa. Piaget berpendapat: bahwa ada 4 periode berpikir dari setiap individu, yaitu (1) periode sensori motor, (2) periode pra operasi, (3) periode operasi konkret, dan (4) periode operasi formal. Untuk siswa Sekolah Dasar usia mereka berada pada periode operasi konkret mereka didasarkan atas manipulasi fisik dari objek-objek (Piaget dalam Hudojo, 1988:46). Dienes (dalam Hujoyo, 1988:59) menyatakan bahwa untuk menyajikan konsep atau prinsip matematika pada siswa usia Sekolah

Dasar, pertama-tama disajikan dalam

bentuk konkret, sehingga hal yang abstrak didasarkan pada intuisi dan sesuai dengan

pengalaman-pengalaman konkret.

Pembelajaran matematika dapat dilakukan mulai dari hal-hal yang bersifat konkret menuju kepada hal-hal yang abstrak.

Untuk membantu siswa memahami materi abstrak, diperlukan alat bantu pembelajaran berupa media manipulatif.

Media manipulatif adalah media

sebagai alat peraga yang di manipulasi, dirubah dan dibuat sendiri untuk membantu siswa memahami materi yang diajarkan.

Penggunaan media manipulatif pada pecahan sangat membantu siswa dalam memahami penjumlahan dan pengurangan pecahan. Hal ini didukung oleh penelitian Resty, dkk (2013) yang membuktikan bahwa

media manipulatif jaring-jaring dapat

meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika. Penelitian serupa juga pernah dilakukan oleh Astiningsih, dkk (2014) yang membuktihkan bahwa model

pembelajaran core berbantuan media

manipulatif berpengaruh terhadap hasil belajar matematika.

Tujuan penelitian ini yaitu agar

siswa lebih mudah belajar tentang

matematika khusunya pada kompetensi penjumlahan dan pengurangan pecahan, dengan bagitu diikuti dengan hasil belajar siswa yng akan meningkat.

Metode Penelitian

Menurut pendekatan penelitian,

pendekatan penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Sedangkan menurut jenisnya, jenis penelitian ini adalah Penelitian

Tindakan Kelas (classroom action

research). PTK adalah salah satu jenis tindakan yang bertujuan untuk mengatasi masalah pembelajaran yang terjadi pada latar tindakan (Akbar, 2008:66). PTK dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan

masalah-masalah pembelajaran,

memperbaiki mutu, hasil pembelajaran, dan mencoba hal-hal yang baru dibidang pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran.

Penelitian ini menggunakan

rancangan penelitian tindakan kelas yang dilakukan dengan bersiklus (Suharsimi Arikunto, 2006:17). Tiap siklus dilakukan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan,

pengamatan, dan refleksi. Tindakan

dilaksanakan melalui dua siklus. Subjek penelitian dalam PTK ini yaitu siswa kelas V SDN balonggemek I Jombang tahun pelajaran 2014/2015 berjumlah 17 siswa. Dari 17 siswa tersebut terdiri 7 siswa laki dan 10 siswa perempuan.

Di dalam pelaksanaan penelitian, peneliti (guru kelas) bekerja sama dengan guru mitra yaitu bapak Darmin Safariadi. Peran guru tersebut yaitu melakukan

pengamatan dan pencatatan terhadap

kegiatan dalam pelaksanaan tindakan.

Kegiatan yang diamati yaitu kegiatan yang dilakukan oleh guru, siswa, maupun keterlaksanaan perbaikan sebagai sumber data. Informasi yang diterima selama proses

pembelajaran direkam dalam lembar

pedoman pengamatan, lembar catatan

lapangan, kamera, dan daftar rekap nilai tes. Selanjutnya dihimpun sebagai data yang akan diolah, dianalis, dan disimpulkan untuk memperoleh deskripsi yang jelas.

Dalam dokumen PENDIDIKAN KARAKTER ANAK USIA DINI MELAL (Halaman 197-200)