• Tidak ada hasil yang ditemukan

Materi Kegiatan Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an

BAB II KAJIAN TEORI

D. Materi Kegiatan Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an

Untuk memberikan hasil yang baik dalam Pendidikan maka materi pembelajaran merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan siswa. Dan sesuai dengan tujuannya maka materi pembelajaran BTQ dibedakan menjadi tua yaitu materi pokok dan materi tambahan.

1. Materi Pokok

Yang dimaksud materi pokok adalah materi yang harus dikuasai benar oleh siswa. Siswa yang sudah memiliki kemampuan dasar dalam membaca dan menulis dapat mempergunakan Al-Qur’an sebagai materi pokoknya. Sedangkan siswa yang belum bisa membaca Al-Qur’an maka mereka harus menggunakan buku-buku khusus sebagai materi pokoknya.

2. Materi Tambahan

Yang dimaksud materi tambahan adalah materi-materi yang penting yang juga harus dikuasai oleh siswa. materi tambahan itu antara lain:

a. Ilmu Tajwid

Yang dimaksud dengan ilmu tajwid adalah ilmu pengetahuan yang menjelaskan cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan tertib menurut makhrajnya, panjang pendeknya, tebal tipisnya, berdengung atau tidaknya, irama dan nadanya serta titik komanya sesuai dengan yang telah diajarkan oleh Rosulullah SAW. Kepada para sahabatnya dengan baik dan benar.67 Hal ini dimaksudkan agar siswa terkonsentrasi kepada kelancaran dan kebenaran bacaan Al-Qur’an.

b. Makharijul Khuruf

Makharij mempunyai akar kata dari fi’il madhi (اجرخ) yang berarti “keluar” . Akar kata tersebut selanjutnya dijadikan bentuk isim makan (yang menunjukkan tempat), sehingga menjadi (جرخم) yang artinya “tempat keluar”.

Sedang makhrij merupakan jamak dari makhraj. Jadi yang dimaksud dengan makharijul huruf adalah tempat-tempat keluar huruf dari huruf pembaca. Semua huruf mempunyai tempat asal yang dikeluarkan pembaca, sehingga membentuk bunyi tertentu.

Jika huruf itu tidak dikeluarkan dari tempat asalnya, maka menjadikan kekaburan bagi pembaca sendiri dan mendengarkan serta tidak dapat dibedakan antara huruf satu dengan huruf lainnya.68

67 Sie. H. Tombak Alam. Ilmu Tajwid Popular 17 Kali Pandai, (Jakarta: bumi aksara, 1995), h. 15

68 Abdul Mujib, Pedoman Ilmu Tajwid, (Gresik: Karya Abditama, 1994), h. 39

c. Hafalan

Materi hafalan ini meliputi hafalan surat-surat pendek, ayat-ayat pilihan dan doa doa yang digunakan sehari-hari. Dan dari materi ini nantinya dapat digunakan dan diamalkan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari.

d. Menulis Huruf Al-Qur’an

Untuk menulis ini siswa perlu diperkenalkan terlebih dahulu dengan huruf-huruf hijaiyah, kemudian siswa diperintahkan untuk menulisnya. Bentuk-bentuk tulisan dalam Al-Qur’an dibagi menjadi :

1) Bentuk tunggal, tidak dapat bersambung dari kanan dan kiri.

2) Bentuk akhir, dapat bersambung dari kanan saja, terletak diakhir rangkaian.

3) Bentuk awal, dapat bersambung kekiri saja, terletak diawal rangkaian.

4) Bentuk tengah, dapat bersambung kekanan dan kekiri, terletak ditengah-tengah rangkaian.

E. Hasil Penelitian yang Relevan

Dalam suatu penelitian, diperlukan hasil-hasil penelitian yang relevan untuk mendukung serta memperkuat pentingnya penelitian ini dilakukan. Penulis telah menelaah beberapa kajian atau hasil penelitian yang terkait dengan judul “Peran Guru dalam Meningkatkan Kemampuan Siswa Baca Tulis Al-Qur’an di SMPN 166 Jakarta”, yaitu sebagai berikut:

1. Jurnal Pendidikan Agama Islam, Vol. 2, No. 2, P-ISSN: 2477-8338 E-ISSN: 2548-1371, Juni 2017 yang ditulis oleh Ali Muhsin dengan judul “Peran Guru dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Baca Tulis Al-Qur’an di TPQ Miftahul Ulum Nglele Sumobito

Jombang”. Penelitian ini membahas tentang Peran guru dalam meningkatkan kualitas baca tulis Al-Qur`an di TPQ Miftahul Ulum Nglele Sumobito Jombang. Dalam baca tulis Al-Qur`an anak didik bukanlah suatu hal yang begitu saja berjalan tanpa proses. Tetapi memerlukan suatu upaya-upaya guru yang konkret.

Ada beberapa upaya yang harus dilakukan guru dalam upaya meningkatkan kualitas baca tulis Al-Qur`an anak didik.

2. Jurnal Ilmiah Pendidikan, Vol. 5, No. 2, 2016, ISSN: 2252-4975 yang ditulis oleh Nurhasanah dengan judul “Peran guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan motivasi hafalan Al-Qur’an di SMP Ar-Rahmah putri Malang” Penelitian ini membahas tentang Peran guru pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan motivasi hafalan Al-Qur’an siswa di SMP Ar-Rahmah Putri Malang sangatlah penting karena menjadi tanggung jawab sepenuhnya guru Pendidikan Agama Islam di lembaga sekolah tersebut.

3. Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 11, No. 1, 2015 yang ditulis oleh Sariah dengan judul “Implementasi pembelajaran baca tulis Al-Qur’an dengan metode iqro pada anak usia dini di RA Perwanida Slawi Kabupaten Tegal”. Penelitianan ini membahas tentang untuk mengetahui bagaimana penerapan baca tulis Al-Qur’an dengan metode Iqro pada anak usia dini dan faktor-faktor yang menunjang dan menghambat pembelajaran baca tulis Al-Qur’an.

4. Skripsi “Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Qur’an di SMP Muhammadiyah 7 Surakarta Tahun Ajaran 2016-2017” oleh Evilia Lingga Aryani mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif analisis kualitatif yang menjelaskan tentang lebih fokus meneliti untuk mengatasi kesulitan membaca

Al-Qur’an tidak terlepas dari peran guru PAI yaitu sebagai demonstrator, manajer/pengelola kelas, mediator/fasilitator, evaluator dalam mencapai tujuan pembelajaran al-Qur’an yang dilakukan secara bertahap.

5. Skripsi “Peranan Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mengatasi Kesulitan Baca Tulis Al-Qur’an Studi Kasus di SMP Islam Parung-Bogor” oleh Siti Tarwiyah mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah. Penelitian ini merupakan jenis penelitian jenis kualitatif yang menjelaskan tentang lebih fokus meneliti upaya yang dilakukan guru pendidikan agama Islam dalam mengatasi kesulitan baca tulis Qur’an agar siswa mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan fasih.

57

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Tempat yang dipilih sebagai lapangan penelitian adalah bertempat disekolah SMPN 166 Jakarta di Jalan Kedondong No. 5 RT.2/RW.5, Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan, Daerah khusus Ibukota Jakarta 12620.

Adapun waktu yang digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data yang berhubungan dengan objek penelitian yaitu dimulai pada bulan Oktober-Desember 2019.

B. Metode Penelitian

Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian untuk menjawab permasalahan yang memerlukan pemahaman secara mendalam dalam konteks waktu dan situasi yang bersangkutan, dilakukan secara wajar dan alami sesuai dengan kondisi objektif di lapangan tanpa adanya manipulasi, serta jenis data yang dikumpulkan terutama data kualitatif.

Proses penelitian yang dimaksud antara lain melakukan pengamatan terhadap orang dalam kehidupannya sehari-hari, berinteraksi dengan mereka, dan berupaya memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya. Untuk itu, peneliti harus terjun kelapangan dengan waktu yang cukup lama.69

C. Prosedur Pengumpulan Data Sumber data sebagai berikut:

1. Sumber data primer : Sumber data primer adalah sumber data utama dalam penelitian ini, yang peneliti dapatkan langsung dilapangan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

69 Zainal Arifin, Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2014), h. 29.

2. Sumber data sekunder : sumber sekunder adalah sumber data tambahan yang dapat diperoleh melalui buku-buku terkait penelitian, artikel, jurnal, dan lain sebagainya.

D. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian perlu melakukan pengumpalan data dengan teknik yang tepat. Penggunaan teknik pengumpulan data yang tepat memungkinkan peneliti mendapatkan data yang objektif. Berikut teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berikut.

1. Observasi

Observasi adalah suatu kegiatan observasi di mana observer terlihat atau berperan serta dalam lingkungan kehidupan orang yang diamati.70Peneliti menjadi pengamat sebagai partisipan, dengan cara melakukan penelitian dengan Kepala Sekolah, Guru mata pelajaran pendidikan agama Islam dan Siswa. Dalam pengambilan dan peneliti diketahui oleh responden, sampai peneliti mendapatkan segala informasi terkait tentang peran guru dalam mendidik siswa dalam membaca tulis Al-uran di SMPN166 Jakarta yang di dukung dengan dokumentasi yang ada tanpa ada rahasia dipergunakan untuk menilai hasil dan proses belajar mengajar seperti tingkah laku siswa, kemampuan siswa dan pada proses pembelajaran.

2. Wawancara

Wawancara adalah suatu metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan data, di mana peneliti mendapatkan keterangan secara lisan dengan seseorang sasaran penelitian (respondesn) atau bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut (face to face). Wawancara sebagai metode pengumpulan data kadang-kadang merupakan sebagai pembantu utama daripada metode observasi. Wawancara merupakan

70Ibid, h. 170

teknik pengumpulan data untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya.71

Peneliti menggunakan wawancara semi struktur dimana pelaksanaannya lebih bebas dibanding dengan wawancara terstruktur.

Karena dalam wawancara tersebut tujuan peneliti untuk mengkaji lebih dalam untuk menemukan data secara terbuka peran guru dalam mendidik siswa membaca tulis Al-Qur’an.Wawancara adalah pertanyaan yang peneliti tanyakan kepada guru sebelum penelitian dan siswa pada saat sebelum dan sesudah penelitian.

3. Dokumentasi

Sugiyono mengungkapkan bahwa dokumentasi adalah catatan peristiwa yang telah berlalu. Jadi dokumentasi dapat dipahami sebagai catatan tertulis yang berhubungan dengan peristiwa masa lalu baik yang dipersiapkan maupun yang tidak dipersiapkan untuk suatu penelitian.72 Dokumentasi diperlukan untuk melengkapi data yang belum ada pada saat melakukan observasi dan wawancara, selain itu untuk memperkuat data yang telah diperoleh oleh peneliti. Dokumentasi dapat berupa foto-foto kegiatan pembelajaran baca tulis Al-Qur’an, data-data lembaga dan staff pengajaran.

E. Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data

Triangulasi merupakan teknik pengumpulan data yang sekaligus menguji keabsahan data tersebut. Dalam hal ini peneliti menggunakan triangulasi dalam melakukan wawancara agar mengetahui lebih mendalam. Oleh karena itu, dengan menggunakan teknik triangulasi dalam pengumpulan data, maka data yang diperoleh akan lebih konsisten, tuntas dan pasti. Untuk melakukan pemeriksaan keabsahan data dalam penelitian

71 Sulistyaningsih, Metodologi Penelitian Kualitatif Kebidanan, (Yogyakarta: Graha Ilmu), h. 136

72 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D), (Bandung : Alfabeta, 2015), h. 329

ini, maka peneliti menggunakan uji kredibilatas. Uji kredibilitas ini digunakan untuk membuktikan apa yang diamati oleh peneliti sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan. Teknik yang digunakan diantaranya adalah:

1. Triangulasi Data

Triangulasi adalah pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, teknik, dan waktu.

a. Triangulasi sumber

Triangulasi sumber dilakukan untuk menguji kredibiltas data dengan mengecek data yang sudah diperoleh melalui beberapa sumber. Apabila mendapatkan data dari tiga sumber yang berbeda, maka tidak dapat diratakan seperti penelitian kuantitaif, tetapi dideskripsikan, dispesifikan, mana pandangan yang berbeda, mana yang spesifik dari tiga sumber data tersebut. Data yang telah dianalisis peneliti dan menhasilkan suatu kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan dengan sumber data tersebut.73

b. Triangulasi Teknik

Triangulasi teknik digunakan untuk menguji kredibilitas data dengan mengecek kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya diperoleh data melalui wawancara, lalu dicek melalui observasi atau dokumentasi. Bila menghasilkan data yang berbeda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lainnya. Hal itu dilakukan untuk memastikan data mana yang benar. Atau mungkin semuanya benar karena sudut pandang yang berbeda.74

73Ibid, h. 373

74Ibid, h. 373

c. Triangulasi Waktu

Waktu sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan wawancara pada pagi hari pada saat narasumber masih segar, akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam rangka menguji kredibelitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara atau obervasi kembali di waktu dan situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka lakukan secara berulang-ulang sehingga ditemukan kepastian datanya.75

2. Menggunakan bahan referensi

Maksud dari bahan referensi disini adalah adanya pendukung untuk membuktikan bahwa data yang diperoleh adalah valid. Contoh data hasil wawancara perlu didukung dengan adanya rekaman wawancara. Kemudian data yang diperoleh melalui observasi perlu didukung dengan adanya foto-foto. Hal ini dilakukan supaya data yang diperoleh dapat lebih dipercaya

3. Analisis Data

Analisis data dalam penelitian kualitatif merupakan upaya berlanjut, berulang dan sistematis. Analisis data akan dilakukan dalam 2 tahapyaitu pada saat, pengumpulan data dan setelah data terkumpul. Sejak awal data sudah mulai dianalisis, karena data akan terus bertambah dan berkembang.

Jika data yang diperoleh belum memadai atau masih kurang, maka dapat segera dilengkapi.76Dalam hal ini Nasution menyatakan bahwa analisis telah mulai merumuskan masalah, sebelum terjun kelapangan dan berlangsung sampai penulisan hasil penelitian. Penelitian kualitatif analisis data lebih difokuskan selama proses lapangan dengankumpulan data.

75Ibid, h. 374

76 Zainal Arifin, Opcit, h. 171

62

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum SMPN 166 Jakarta 1. Profil SMPN 166 Jakarta

a. Kepala Sekolah : Alidzar, S. Pd, M.M.

b. Nama Sekolah : SMPN 166 Jakarta c. Status Kepemilikan : Pemerintah Daerah

d. Alamat Sekolah : Jl. Kedondong No. 5 RT.2/RW.5, Jagakarsa, Jak-Sel.

e. Telepon : 021-7270219 f. Status Sekolah : Negeri

g. Nilai Akreditasi : Terakreditasi A h. Tahun Beroprasi : 1978

i. Website : http://smpn166.blogspot.com j. Email : [email protected]

2. Sejarah Singkat SMPN 166 Jakarta

SMP Negeri (SMPN) 166 Jakarta merupakan salah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri yang ada di Provinsi DKI Jakarta, Indonesia. Sama dengan SMP pada umumnya di Indonesia masa Pendidikan sekolah di SMPN 166 Jakarta di tempuh dalam waktu tiga tahun pelajaran, mulai dari kelas VII sampai kelas IX pada tahun 2007, sekolah ini menggunakan Kurikulum 2013 yang sebelumnya menggunakan Tingkat Satuan Pendidikan dan KBK.

SMPN 166 Jakarta berdiri tanggal 19 Juni 1978 atau tepatnya berusia 40 tahun pada bulan Juni 2018. Dilihat dari usianya yang sudah hampir setengah abad, SMPN 166 Jakarta muncul dengan liku-liku sejarahnya tersendiri.

Pada Agustus 2009 di kecamatan Jagakarsa, SMPN 166 termasuk 3 sekolah negeri yang berprestasi dibidang akademik. Akan tetapi pada saat itu gedung sekolah belum dilakukan perombakan, sehingga waktu belajar dilaksanakan pagi dan siang hari. Itulah sebabnya SMPN 166 Jakarta tidak memenuhi kriteria sekolah standard nasional.

Oleh sebab itu, SMPN 166 Jakarta melakukan pembangunan ulang gedung sekolah, yakni pada tanggal 19 September 2010. Semua tenaga pendidik dan kependidikan melakukan pengungsian sekolah secara sementara. Sempat muncul rasa cemas dalam benak tenaga pendidik dan kependidikan SMPN 166 Jakarta, akhirnya kecemasan pun berakhir ketika pembangunan gedung tersebut mulai dilakukan pada bulan September tahun 2010. Hingga tahun ini SMPN 166 Jakarta menjadi salah satu SMP yang diminati oleh banyak peserta didik, mereka berlomba-lomba menjadi bagian dari keluarga SMPN 166 Jakarta, bisa dilihat dari kemajuan rombongan belajar pada tahun 2018 ini mencapai 21 rombongan belajar dengan jumlah peserta didik + 756 peserta didik. Bukan hanya prestasi akademik, akan tetapi prestasi non akademik pun SMPN 166 Jakarta mampu bersaing di tingkat Nasional.

3. Visi, Misi dan Tujuan SMPN 166 Jakarta a) Visi

Kompetitif, bebrudi pekerti luhur, berwawasan lingkungan berdasarkan ipteks dan imtaq”. Dengan indikator sebagai berikut:

1) Mampu bersaing dengan sekolah lain dalam bidang akademik dan non akademik

2) Lulusan SMPN 166 Jakarta dapat diterima masuk pada sekolah lanjutan SMA/SMK Negeri

3) Terlaksananya penanaman dan pengamalan budi pekerti yang luhur dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari

4) Menciptakan warga sekolah yang berwawasan dan peduli pada lingkungan

5) Terlaksananya pengembangan masyarakat belajar yang berwawasan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang didasari oleh keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

b) Misi

1) Melaksanakan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

2) Meningkatkan standar kompetensi kelulusan, baik akademik maupun non akademik yang kompetitif.

3) Menumbuhkembangkan pribadi yang berbudi pekerti luhur 4) Mengembangkan wawasan lingkungan yang dapat dimanfaatkan

bagi kehidupan

5) Menciptakan sekolah sebagai lingkungan wawasan wiyata mandala yang aman, nyaman, bersih dan sehat

6) Membentuk warga sekolah yang menguasai ilmu pegetahuan dan teknologi

7) Membentuk perilaku peserta didik yang beriman dan bertaqwa

c) Tujuan

Tujuan yang akan dicapai oleh SMPN 166 Jakarta selama satu tahun mendatang adalah sebagai berikut:

1) Mampu menampilkan kebiasaan sopan santun dan berbudi pekerti sebagai cermin akhlak mulia, beriman, dan bertaqwa 2) Terciptanya pelayanan sesuai kebutuhan peserta didik, orang

tua peserta didik, masyarakat, dan pihak-pihak lain yang memadai dengan budaya senyum, salam, sapa, dan santun

3) Meningkatkan nilai rata-rata UN secara bertahap dari tahun ke tahun sehingga mampu bersaing untuk masuk di SMA/SMK negeri maupun unggulan.

4) Mempertahankan presentase kelulusan 100%

5) Prosentasi kelulusan yang bisa diterima di SMA dan SMK Negeri minimal 95% dan secara bertahap yang diterima di sekolah unggulan 25%

6) Tercapainya prestasi dalam setiap lomba minimal mencapai juara provinsi

7) Menghasilkan tamatan SMPN 166 Jakarta yang santun, berbudi pekerti luhur, dan berakhlak mulia

8) Tercapainya tenaga pendidik dan kependidikan yang kompetitif, professional, berkarakter, 20% guru berpendidikan S-2 dan tenaga usaha 80% S-1

9) Tersedianya sarana dan prasarana pendidikan yang memadai serta sarana pembelajaran yang berbasis IT sesuai kebutuhan dan mampu memberdayakannya

10) Terlaksananya pengelolaan Manajemen Berbasis Sekolah yang konsisten

11) Tercukupinya biaya kebutuhan sekolah sehingga bisa tercapai visi dan misi sekolah

12) Tercapainya sistem penilaian obyektif, dapat dipercaya dan transparan serta mudah diakses

Tujuan tersebut secara berkala akan dimonitor, dievaluasi, dan dikembangkan agar tujuan tercapai dan dapat meningkat terus dari tahun ke tahun.

B. Deskripsi Data 1. Data Observasi

a. Tempat Pelaksanaan Kegiatan BTQ di Kelas

Dalam tahap observasi ini, peneliti melakukan observasi dikelas VII (Tujuh) sampai IV (Sembilan) dimana kelas tersebut sudah difasilitasi dengan papan tulis, kursi, meja, madding, proyektor, gordyn, AC dan rak buku. Tiap-tiap peserta didik memiliki tempat duduk dan kursi terdiri dari 4 banjar horizontal, tiap banjar terdiri dari 4 atau 5 baris vertikal. Yang tiap kursi diisi oleh satu sampai dua peserta didik. System tempat duduk antara perempuan dan laki-laki itu berbeda dimana laki-laki sebelah kanan dan perempuan sebelah kirinya dan sebaliknya. Dengan ruang kelas 1-7 dilantai 3 dengan berbagai kelompok yang ada dilantai 3, yang terdiri dari 7 kelompok perkelasnya menjadi A1, A2, B1, B2, B3, C1, C2

b. Tempat Pelaksanaan Kegiatan BTQ di Luar Kelas

Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan di luar kelas ini biasanya pembimbing menggunakan masjid yang ada disekolah.

Pembelajaran dilaksanakan di luar kelas karena ingin menggabungkan kelompok belajar dari peserta didik yang telah dibagi menjadi beberapa kelompok dengan masing-masing guru pembimbing. Kondisi yang kurang kondusif dalam proses BTQ ini pun tidak emmungkinkan bagi para siswa untuk belajar dalam satu tempat atau ruangan. Suasana sebelum pembelajaran kurang kondusif, namun guru pembimbing mempersilahkan peserta didik untuk merapihkan masing-masing posisis duduknya.

Setelah peserta didik telah rapih denan duduk beserta Al-Qur’annya, lalu mereka sama-sama berdoa sebelum memulai

pembelajaran, guru pembimbing menanyakan kehadiran dan kesiapan peserta didik.

c. Pelaku Pelaksanaan Kegiatan BTQ 1) Peserta Didik atau Siswa

Peserta didik kelas VII berjumlah 525 peserta didik.

2) Guru/Pembimbing Baca Tulis Al-Qur’an

a) Guru pembimbing sekolah yakni guru-guru yang berasal dari guru SMPN 166 Jakarta

b) Mahasiswa LIPIA, ini merupakan guru pembimbing yang berasal dari LIPIA yang dimana telah melakukan kerjasama terhadap SMPN 166 Jakarta

2. Proses Pelaksanaan Kegiatan BTQ

Pada proses BTQ, sudah tentu selalu membuka kitab Al-Qur’an sebagai media. Diwajibkan kepada seluruh peserta didik untuk mempunyai Al-Qur’an agar kegiatan ini berjalan dengan baik.

Tujuan BTQ di SMPN 166 Jakarta ini pun ingin tercapainya generasi siswa-siswi yang cinta terhadap Qur’an. Cinta terhadap Al-Qur’an banyak memiliki hafalan Al-Al-Qur’an, mampu menulis ayat-ayat suci Al-Qur’an beserta Bahasa arab dan mampu memahami isi daripada Al-Qur’an tersebut. Dan semua itu kami coba untuk terus tingkatkan agar alumni siswa-siswi kami mempunyai bekas yang cukup ketika berhadapan dengan masyarakat luas.

SMPN 166 Jakarta memberikan alokasi waktu untuk kegiatan ini selama 3 jam dari jam 1-3 sore. Dan untuk pertemuan kegiatan BTQ itu ada tiga kali pertemuan, yaitu selasa, rabu dan kamis. Proses kegiatan ini hanya diikuti olehh siswa-siswi kelas VII saja yang dimana klasifikasi ditentuan dengan test di awal pertemuan lalu terbagi menjadi 3 tingkatan dengan 7 kelas. Tiga tingkatan

teserbut yaitu tingkatan A, B dan C yang terbagi perkelas A1, A2, B1, B2, B3, C1, C2.

Pada pembahasan ini akan dibahas tentang aktivitas pelaksanaan pembelajaran BTQ pada kelas VII. Sebelum dimulainya pembelajaran, guru pembimbing terlebih dahulu membuka pertemuan dengan salam dilanjutkan dengan doa dan mengecek kesiapan dari peserta didik.

Dalam mengecek kesiapan para peserta didik, guru pembimbing memberikan waktu untuk peserta didik berwudhu dan menaruh Al-Qur’an di atas meja tiap peserta didik. Setelah itu kelompok dimulai dengan membaca dan menghafal yang kemudia disetorkan kepada guru pembimbing. Jika terdapat peserta didik yang keliru atau tidak tepat dalam melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an, amak guru pembimbing itupun segera membenarkannya atau memberitahukannya. Setelah kurang lebih dua pulu menit peserta didik pun mempersiapkan diri untuk menyetor hafalannya kepada pembimbing. Peserta didik menyetorkannya secara bergantian, pembimbing menyimak, membenarkan jika terdapat bacaan ayat

Dalam mengecek kesiapan para peserta didik, guru pembimbing memberikan waktu untuk peserta didik berwudhu dan menaruh Al-Qur’an di atas meja tiap peserta didik. Setelah itu kelompok dimulai dengan membaca dan menghafal yang kemudia disetorkan kepada guru pembimbing. Jika terdapat peserta didik yang keliru atau tidak tepat dalam melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an, amak guru pembimbing itupun segera membenarkannya atau memberitahukannya. Setelah kurang lebih dua pulu menit peserta didik pun mempersiapkan diri untuk menyetor hafalannya kepada pembimbing. Peserta didik menyetorkannya secara bergantian, pembimbing menyimak, membenarkan jika terdapat bacaan ayat