BAB II KAJIAN TEORI
2. Tujuan dan Manfaat Kegiatan Pembinaan Baca Tulis Al-Qur’an
secara pribadi dan kelompok sehingga mampu membaca dan menulis Al-Qur’an serta mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya guna membangun dunia sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh Al-Qur’an.
Tujuan yang akan dicapai dalam bidang pengajaran Baca Tulis Al-Qur’an serta mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah swt, atau sekurang-kurangnya mempersiapkan diri ke jalan yang mengacu kepada tujuan akhir manusia, yaitu beriman kepada Allah tunduk dan patuh secara total kepada-Nya, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’n surat adz-Dzariyat/51 ayat 56:
ِن ْوُدُبْعَيِل َّلَِا َسْنِ ْلَا َو َّن ِجْلا ُتْقَلَخ اَم َو
25 M. Nur Kholis Setiawan, Al-Qur’an Kitab Sastra Terbesar, (Yogyakarta: ELSAQ Press, 2005), h. 51.
Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Qs. Adh-Adzariyat [51] 56)26
Bedasarkan surat adz-dzariyat ayat 56 tersebut di atas, dapatlah disimpulkan bahwa tujuan penciptaan manusia menurut Al-Qur’an adalah beribadah kepada Allah dalam arti seluas-luasnya yang tercermin dalam akhlak mulia dalam berbagai dasar, yang selanjutnya dapat dikembangkan sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.
Tujuan utama dalam membaca adalah mencari serta memperoleh informasi, menangkap isi dan memahami bacaan.27 Maka tujuan dari membaca Al-Qur’an sendiri disini adalah untuk mendekatkan diri pada Allah, karena Al-Qur’an sendiri dikalangan Islam merupakan bacaan nomor pertama dikala susah maupun senang. Karena keutamaan membaca Al-Qur’an sendiri menurut Rasulullah memberikan apresiasi, motivasi, dan sugesti untuk giat membacanya.
Untuk dapat mengetahui kegiatan pembelajaran itu berhasil atau tidak maka diperlukan tujuan yang ingin dicapai. Tujuan kegiatan pembelajaran secara umum adalah :
a. Meningkatkan pengetahuan siswa pada aspek kognitif, afektif maupun psikomotor.
b. Mengembangkan bakat dan minat siswa dalam rangka membina pribadi menuju manusia seutuhnya.
c. Mengetahui mengenal serta membedakan hubungan antara satu pelajaran dengan pelajaran yang lain.
d. Untuk menjaga suatu kebenaran dari ilmu pengetahuan.28
Harus dipahami bahwa menulis adalah proses eksistensi yang hanya bisa dilalui dengan jalan hobi membaca, karena yang akan dituliskan, hakikatnya adalah pengetahuan. Selain mengasah ketajaman
26 Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementrian Agama Republik Indonesia, Syaamil Quran, (Jawa Timur: An-Nahdliyah Pondok Pesantren Langitan, 2018), Cet ke-3, h. 522
27 Hernowo, Quantum Reading, (Bandung: MLC, 2005), h. 33.
28 Moh. Uzer Usman dan Dra. Lilis Setiawati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993), h. 22.
imajinasi, dalam hubungannya dengan menulis, membaca mempunyai banyak manfaat, antara lain:
1) Menambah ilmu pengetahuan, dalam hubungannya dengan menulis, pengetahuan mempunyai peran yang penting.
2) Membaca bisa menjadi sumber ide, seringkali ide untuk menulis datang setelah kita selesai membaca.
3) Membaca sebagai media untuk proses pencarian gaya (style) dalam menulis, apa yang dimaksud dengan gaya ini adalah teknik dan cara bercerita.
4) Menjaga motivasi menulis, seperti pengalaman saya, yang sudah saya ceritakan di atas, saya yakin mahasiswa itu habis niatnya untuk menulis karena sudah tidak punya niat membaca.29
Tujuan pembelajaran ini merupakan suatu aktivitas pembelajaran yang memiliki tujuan agar seseorang mampu dalam membaca dan menulis Al-Qur’an. Dimana orang tersebut dapat melihat, melafalkan serta memahami Al-Qur’an secara baik dan juga membuat huruf-huruf dan tulisan-tulisan yang tertera dalam kitab suci Al-Qur’an.
Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an pula merupakan salah satu ekstrakulikuler yang di selenggarakan oleh lembaga Pendidikan khususnya Pendidikan bernuansa islami. Hal ini didasari karena manfaat daripada mempelajari isi kandungan Al-Qur’an itu sangat besar.
Mempelajari Al-Qur’an memang sudah kewajiban bagi seluruh umat muslim yang ada diseluruh dunia, karena dia merupakan pedoman hidup bagi umat Islam. Manfaat dan kandungan yang ada didalam Al-Qur’an memang sangatlah dahsyat, sehingga kita sebagai umat Islam
29 Heru Kurniawan, Satra Anak Dalam Kajian Strukturalisme, Sosiologi, Semiotika, hingga Penulisan Kreatif, h. 145-147.
sudah sepantasnya untuk terus membaca, memahami, mengajarkan dan mengamalkan Al-Qur’an.
Kegiatan pelaksanaan pemebalajaran baca tulis qur’an yang diselenggarakan di SMPN 166 Jakarta ini adalah salah satu kegiatan tambahan yang masuk pada penilaian akhir sekolah. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca dan mampu menulis Al-Qu’ran. Jadi kemampuan baca dan tulis Al-Qur’an adalah kemampuan yang dilakukan secara berurutan yaitu membaca dan menulis. Dimana seseorang itu mempunyai suatu keterampilan dalam membaca dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah bacaan dan tajwidnya. Serta dapat menulis dengan cara menyalin rangkaian huruf-huruf hijaiyyah dengan benar, rapi dan berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur’an.
Pembinaan berasal dari kata “bina” yaitu proses, cara, perbuatan membina, usaha, tindakan dengan tambahan awalan “pe” dan akhiran
“an” yang mengandung arti kegiatan yg dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yg lebih baik.
Sedangkan Baca Tulis Qur’an (BTQ) adalah pelajaran muatan lokal yang mempelajari tentang bagaimana cara membaca dan menulis Al-Qur’an sesuai dengan kaidah yang baik dan benar yang diterapkan pada siswa kelas rendah yaitu siswa kelas 7. Tujuan pembinaan ditekankan pada interaksi guru kepada siswa secara langsung dengan beberapa metode yang ada.Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan pembinaan adalah gambaran dalam membangun siswa dalam mencapai target pembelajaran dibidang mata pelajaran bacatulis Al-Qur’an.
Pada dasarnya tujuan pengajaran Al-Quran adalah agar sebagai umat islam bisa memahami dan mengamalkan isi kandungan dalam Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, menjaga dan memelihara baik itu dengan mempelajari dan mengajarkan kepada orang lain sehingga
pengajaran dan pendidikan dapat terlaksana terus menerus dari generasi ke generasi sampai akhir zaman kelak. Karena Al-Qur’an adalah pedoman dan petunjuk bagi umat islam di dunia ini.
Mendidik bukan sekedar transfer ilmu saja, tapi lebih dari itu yaitu memberikan nilai-nilai terpuji pada orang lain dalam hal ini adalah peserta didik untuk berakhlak Al-Qur’an. Pendidikan yang paling mulai di berikan orang tua adalah pendidikan Al-Qur’an yang merupakan lambang agama islam yang paling hakiki sehingga dapat menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual islam. Pembinaan baca tulis Al-Qur’an di lakukan agar setiap orang yang mempelajarinya mengerti akan kebenaran isi di dalam kandungan Al-Qur’an belajar Al-Qur’an harus dimulai.
Didalam ilmu pendidikan yang sudah modern Al-Qur’an bisa dipelajari dengan cara meluhat tata bahasa yang berada didalamnya dengan cara menafsirkan satu persatu dengan kamus bahasa arab.Menurut ibnu kaldun dalam kitabnya muqaddimah menyatakan bahwa “Al-Qur’an itu perlu di pelajari dan di baca oleh anak-anak pada peringkat awal karena membaca Al-Qur’an akan menanamkan benih-benih keimanan ke dalam jiwa anak-anak”. Al-Qur’an di turunkan untuk kepentingan seluruh umat manusia tanpa mengira bangsa, tempat dan masa. Isi Al-Qur’an menjadi sumber asas kepada manusia untuk di jadikan panduan dalam menjalani kehidupan dunia apalagi akhirat.
Untuk mencapai hasrat tersebut manusia perlu menyelami Al-Qur’an melalui belajar membaca, menghafal, memahami serta mengamalkannya.
Kepentingan mempelajari serta mengajarkan Al-Qur’an suatu yang tidak dapat di pertikaikan lagi karena ia merupakan sumber asas dalam pembinaan manusia. Membaca Al-Qur’an sangat di anjurkan kepada setiap individu muslim karena Al-Qur’an akan mendatangkan
berbagai manfaat terhadap pembacanya. Namun mempelajari kaedah dan tata cara dalam pembacaannya merupakan tuntutan yang mesti dipenuhi, disamping hukuman mendapat ganjaran dosa, kesalahan dalam membaca Al-Qur’an akan menentukan sah atau tidak sahnya ibadah yang di lakukan oleh seseorang tersebut:
Tujuan pembinaan Al-Qur’an yaitu :
1. Agar yang mempelajari Al-qur’an dapat mengerti apa isi kandungan dalam Al-Qur’an.
2. Pembinaan di lakukan dengan orang yang sudah mengerti tata cara baca tulis Al-Qur’an dengan benar.
3. Mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci Allah yang sudah terbukti kebenarannya.
Dalam keseluruhan proses pendidikan di madrasah, kegiatan belajarmengajar serta pembinaan secara rutin merupakan kegiatan palingpokok. Ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai peserta didik serta tingkat pembinaan yang dilakukan guru terhadap hasil dari pembelajaran itu sendiri.
Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.30
Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan peserta didik atras dasar hubungan timbal balik, yang berlangsung dalam suasana edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dengan
30Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1995) h.2
peserta didik itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar. Interaksi pada peristiwa belajar mengajar mempunyai arti yang lebih luas, tidak hanya sekedar hubungan antara guru dengan peserta didik, tetapi berupa interaksi edukatif. Proses belajar mengajar ini bukan hanya penyampaian pesan berupa materi pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai diri peserta didik yang sedang belajar. Dari proses belajar mengajar tersebut guna menjamin hasil belajar yang maksimal maka dibutuhkan pola pembinaan yang baik pula. Pola pembinaan dalam pembelajaran BTQ harusnya tidak lepas dari strategi mengajar. Menurut Drs. Nana Sudjana menjelaskan ada tiga tahapan pokok dalam strategi mengajar. Pertama adalah tahapan mengajar, ada tiga tahapan dalam strategi mengajar yakni tahap pemula (Prainstruksional), tahap pengajaran (Intruksional) dan tahap pengajaran atau tindak lanjut, kedua adalah penggunaan model atau pendekatan mengajar, pendekatan yang digunakan dalam pendekatan yang berorientasi pada guru (teacher centered) dan pendekatan yang berorientasi pada siswa (student centered) dan ketiga penggunaan prinsip mengajar.31
Dalam pola pembinaan BTQ biasanya masih bersifat teoritis dengan menggunakan metode ceramah sebagai dominan. Hal ini menyebabkan peserta didik kurang aktif serta kurang tertarik terhadap pembelajaran BTQ. Karena peserta didik dituntut dapat mempraktekkan baca tulis Al-Qur’an dengan baik dan benar.
31Nana Sudjana, Dasar-dasar proses belajar mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2009), h. 147
B. Peran Guru
1. Pengertian Guru
Guru diartikan sebagai seseorang yang harus digugu (ditaati) dan ditiru (diteladani) hal ini memberikan implikasi terhadap tinggi dan beratnya menjadi guru, ia adalah sosok mulia yang harus dipatuhi, diteladani pola hidupnya, gaya bicaranya, kelakuan dan penerapan nilai agama bagi murid-muridnya karena baik buruknya peserta didik sangat ditentukan oleh bagaimana nilai positif yang dapat digugu dan ditiru dari sang guru. Di zaman sekarang jabatan guru nampaknya sudah menjadi profesi yang menjadi mata pencaharian. Guru bukan hanya pewaris amanat pendidikan, melainkan juga orang yang menyediakan dirinya sebagai pendidik professional.
Guru dalam KBBI adalah pengajar suatu ilmu. Sedangkan, dalam bahasa Indonesia, guru lebih merujuk pada tugas utamanya, yaitu mendidik, mengajar, membimbing, mengarah, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Secara umum, guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan mulai dari tingkat PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), Pendidikan Dasar, hingga Menengah. Dalam hal ini untuk mendapat melakukan peranan dan melaksanakan tugas, guru harus memiliki kualifikasi formal yang dipersyaratkan.32
Menurut Syafruddin Nurdin, Profesi guru telah hadir cukup lama di Negara kita tercinta ini, meskipun hakikat fungsi, latar tugas, dan kedudukan sosiologisnya telah banyak mengalami perubahan. Bahkan, ada yang secara lugas mengatakan bahwa sosok guru telah berubah dari tokoh yang digugu dan ditiru, dipercaya dan dijadikan panutan, diteladani, agaknya menurun dari tradisi latar padepokan menjadi oknum yang wagu lan kuru, kurang pantas dan kurus, di tengah-tengah
32 Nini Subini, Awas Jangan Jadi Guru Karbitan, (Jogjakarta: PT. Buku Kita, 2012), h. 9.
selbagai bidang pekerjaan dalam masyarakat yang semakin terspesialisasikan.33
Pandangan tradisional yang dikutip oleh Syafruddin Nurdin dalam bukunya menyebutkan “guru adalah seorang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan ilmu pengetahuan”. 2 Guru adalah Profesi yang mulia, tidak hanya mulia di mata manusia, tetapi juga di mata Allah swt. Sesuai Undang-undang No. 14 Pasal 1 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang di maksud guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasipeserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.34
Menutur Pupuh Fathurrohman dkk, Guru professional adalah guru yang menguasai ilmu pengetahuan yang diajarkan dan ahli dalam mengajarkannya (menyampaikannya). Dengan kata lain, guru professional adalah guru yang mampu mengajarkan peserta didiknya tentang pengetahuan yang dikuasainya dengan baik.35
Menurut Pupuh Fathurrohman dkk dalam bukunya menyebutkan,
“Karena gurulah yang berinteraksi langsung dengan siswa di dalam kelas. Guru lah yang memegang peranan yang sangat penting dalam membuat siswa mengerti dan paham mengenai mata pelajaran yang diajarkan”
Menurut Kunandar dalam bukunya menyataan, “Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi
33 Syafruddin Nurdin, Guru Profesional & Implementasi Kurikulum, (Jakarta : Quantum Teaching, 2005)Cet ke-3, h. 1
34 Undang-undang No. 14 Pasal 1Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, h. 2
35 Pupuh Fathurrohman dkk, Guru Profesional, (Bandung : PT Refika Kurniawan, Juni 2012), Cet ke 1, h. 6
peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”36
Guru sebagai pendidik professional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan atau teladan masyarakat sekelilingnya.
Masyarakat terutama akan melihat bagaimana sikap dan perbuatan guru itu sehari-hari, apakah memang ia patut diteladani atau tidak.
Bagaimana guru meningatkan pelayanannya, meningkatkan pengetahuannya, memberi arahan dan dorongan kepada anak didiknya, dan bagaimana cara guru berpakaian dan berbicara serta bergaul baik dengan siswanya, teman-temannya serta anggota masyarakat, sering menjadi perhatian masyarakat luas.
Dari beberapa pengertian guru di atas dapat dikatagorikan sebagai tugas guru secara umum, sedangkan tugas guru terutama guru agama adalah mengajarkan ilmu pengetahuan agama islam, menanamkan keimanan dalam jiwa anak, mendidik anak agar taat menjalankan agama, dan mendidik anak agar berbudi pekerti yang mulia.
2. Pengertian Peran Guru
Peran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti perangkat tingkah laku yang dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat. Setelah mendapat akhiran “an”, kata peran memiliki arti yang berbeda, di antaranya:
a. Peranan adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa.
b. Peranan adalah kosekuensi atau akibat kedudukan atau status seseorang .
c. Peranan adalah lakon yang dimainkan oleh seorang pemain.
36 Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru, (Jakarta : Rajawali Pres, 2011), h. 54
Peranan juga memiliki makna “Suatu bagian memegang pimpinan yang terutama (terjadinya suatu hal atau peristiwa) misalnya tenaga ahli dan buruh yang memegang peranan penting dalam pembangunan Negara”37
Kalau ditelusuri konsep peranan secara lebih detail, maka kita akan menemukan konsep fungsi. Kenapa demikian? Setiap orang memiliki suatu posisi dalam ruang sosial seperti kelompok, keluarga, komunitas atau masyarakat. Posisi merupakan kedudukan seseorang dalam suatu kelompok atau kedudukan dalam hubungannya dengan kelompok lain, misalnya posisi sebagai guru. Posisi sebagai guru memiliki hak dan kewajiban yang diembannya, dikenal sebagai status adapun perilaku yang diharapkan dari orang yang memiliki suatu status disebut sebagai peranan.38Seorang guru mempunyai tiga tugas pokok, yaitu tugas professional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan (sivic mission). Jika dikaitkan pembahasan tentang kebudayaan maka tugas pertama berkaitan dengan logika dan estetika, tugas kedua dan ketiga berkaitan dengan etika.Tugas seorang guru adalah meneruskan atau transmisi ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai lain yang sejenis yang belum diketahui anak dan seharusnya diketahui oleh anak39
Guru adalah salah satu faktor pendidikan yang memiliki peranan yang paling strategis, sebab guru sebetulnya pemain yang paling menentukan di dalam terjadinya proses belajar mengajar. Di tangan guru yang cekatan fasilitas sarana yang kurang memadai dapat teratasi, tetapi sebaliknya di tangan guru yang kurang cakap, sarana dan fasilitas yang canggih tidak banyak memberi manfaat. Selanjutnya, di bidang keguruan ada tiga persyaratan pokok seseorang itu menjadi
37 Adi Gunawan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Surabaya: Kartika, 2003), hlm. 640
38 Damsar, Pengantar Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), h. 155.
39 Nini Subini, Awas Jangan Jadi Guru Karbitan.h. 14
tenaga profesional di bidang keguruan. Pertama, memiliki ilmu pengetahuan di bidang yang diajukan isinya sesuai dengan kualifikasi dimana ia mengajar.40
Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (suporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor), serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat.41
Wrightman dalam Usman menyatakan, “Peranan guru adalah terciptanya serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertenu serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa yang menjadi tujuannya.42 Penyataan tersebut menegaskan peran guru adalah untuk menciptakan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa.
Terhadap beberapa peran guru sebagaimana dikemukakan oleh Djiwandono, yaitu: “1) guru sebagai ahli instruksional, 2) guru sebagai motivator, 3) guru manajer, 4) guru sebagai konselor , dan 5) guru sebagai model”.43Sebagai ahli instuksional, guru berperan membuat keputusan tentang materi dan metode pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa. Sebagai motivator guru harus memiliki keterampilan menyelenggarakan pembelajaran yang menarik agar siswa termotivasi.
Sebagai manajer seorang guru melakukan aktivitasnya guru mengelola kelas agar pembelajaran berlangsung dengan efektif. Selanjutnya peran
40 Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam (Medan : IAIN Press, 2002), h. 70-71.
41Ibid, h. 16.
42Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), h. 4.
43Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT Grasindo, 2006), h.
27.
guru sebagai konselor berkaitan dengan kemampuan guru membantu siswa mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Sedangkan peran guru sebagai model adalah guru merupakan tokoh panutan para siswa.
Sementara itu, C Asri Budiningsih dalam menjelaskan peranan guru menyatakan peranan kunci guru dalam interaksi pendidikan adalah pengendalian, yang meliputi:
1) Menumbuhkan kemandirian dengan menyediakan kesempatan untuk mengambil keputusan dan bertindak.
2) Menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan dan bertindak, dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa.
3) Menyediakan system dukungan yang memberikan kemudahakan belajar agar siswa mempunya peluang optimal untuk berlatih.44
Peran guru sangat menentukan keberhasilan belajar peserta didik baik pada aspek prestasi akademik maupun dalam hal pembentukan kepribadiannya. Keterkaitan antara peran guru dengan keberhasilan peserta didik tersebut menunjukkan bahwa tugas yang diemban guru merupakan tugas yang mulia. Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.45
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa tugas guru dapat dibagi menjadi dua yaitu tugas umum dan tugas khusus. Secara umum tugas guru adalah sebagai waratsat al-anbiya yang artinya tugas
44C. Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005), h.
59.
45Mulyasa, Menjadi Guru Profesional (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), h. 37
yang diemban seorang guru hamper sama dengan tugas seorang nabi, yaitu kewajiban mengajak manusia melaksanakan perintah Allah SWT dan menjahui segala laranganNya. Sebenarnya tugas inbi merupakan tugas setiap individu muslim yaitu melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Dari tugas umum ini, seorang guru kemudia menjabarkannya dalam tugas-tugas khusus yaitu sebagai pengajar (intruksional), pendidik (educator) dan sebagai pemimpin (managerial). Sebagai pengajar seorang guru bertugas menyelenggarakan pembelajaran yang me;iputi penyusunan rencana program pengajaran, melaksanakan dan melakukan penilaian atau evaluasi terhadap kemajuag peserta didik.
Penjelasan tersebut menunjukkan pentingnya peran guru yaitu mendidik siswa agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.
Keimana dan ketaqwaan ini hanya bisa tercapai melalui pelaksanaan syariat-syariat yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadits.
Guru sebagai pengasuh, teladan moral dan pembimbing etis apabila:
a. Tidak bersikap pilih kasih, kasar, atau perilaku lainnya yang meremehkan harga diri dan kebanggaan siswa.
b. Memperlakukan siswa dengan hormat dan kasih sayang dengan cara: membangun hubungan baik yang menuntun siswa untuk terbuka terhadap pengaruh positif guru, membantu mereka berhasil dalam pekerjaan sekolah, menghargai pandangan siswa yang menyediakan forum khusus untuk menyampaikan pikiran dan masalah mereka.
c. Memadukan contoh baik dan pengajaran moral langsung.
d. Membimbing satu demi satu dengan cara: mencoba menemukan, menguatkan dan membangun bakat khusus dan kelebihan siswa, memuji siswa dengan memberi catatan menulis, menggunakan pertemuan pribadi untuk memberi umpan balik korektif kepada siswa ketika mereka membutuhkan siswa.
Sejauh ini kita sudah berbicara tentang bagaimana seorang guru
Sejauh ini kita sudah berbicara tentang bagaimana seorang guru