• Tidak ada hasil yang ditemukan

Media Publikasi

Dalam dokumen Sastra Yogya PERIODE (Halaman 51-69)

LINGKUNGAN PENDUKUNG TAHUN 1945

2.2 Lingkungan Pendukung .1 Kepengarangan

2.2.2 Media Publikasi

Media amat penting bagi penyair Yogyakarta untuk “menghadirkan” diri masing-masing. Hal itu disadari oleh masyarakat jurnalis di Yogyakarta, yang dibuktikan dengan cukup banyaknya media masa, baik berupa harian/koran maupun majalah di Yogyakarta. Harian yang pertama kali terbit ialah Kedaulatan

Rakyat (27 September 1945 sampai sekarang), disusul terbitan

mingguannya, yaitu Minggu Pagi (1948 sampai sekarang), Masa

Kini, Bernas, dan Api Merdika (16 Novemder 1945), Arena (April,

1946), Gadjah Mada (April, 1950, sekarang berganti nama

Balairung), Mingguan Pelopor Yogya (Januari, 1950), Basis

(Agustus 1951 sampai sekarang), Medan Sastra (sebelum 1954) yang berganti nama Seriosa (1954), dan Budaya (Februari 1953). Namun, sebelum kemerdekaan, sebenarnya di Yogyakarta media publikasi sudah ada, seperti Suara Muhammadiyah (1915 sampai sekarang), kemudian Pusara (1933), dan Pesat (Maret 1945). Pentingnya media massa di Yogyakarta terbukti bahwa hingga akhir tahun 1970-an media massa masih menjadi media utama bagi penyebaran puisi di Yogyakarta karena situasi ekonomi di daerah pada waktu itu belum berjalan stabil.

Baru pada akhir dekade 1980-an kehidupan rumah penerbitan di Yogyakarta menggeliat. Publikasi puisi dan cerpen Yogyakarta sebelum itu baru berupa penerbitan sederhana, seperti dapat dilhat pada antologi puisi karya tiga penyair Yogyakarta (Darmadji Sosropuro, Darmanto Jt., dan Djadjak MD.) berjudul Sajak-sajak

Putih (1965) terbitan Tri Karya Yogya; antologi puisi Rachmat

Djoko Pradopo yang berjudul Matahari Pagi di Tanah Air, terbitan oleh PKPI Yogyakarta pada tahun 1967, dan antologi puisi karya beberapa penyair Yogyakarta berjudul Sajak-sajak Manifes (1968). Selanjutnya, pada tahun 1970-an muncul lagi antologi bersama yang masih sederhana, yaitu Bulak Sumur--Malioboro (1975). Hingga awal tahun 1980-an penerbitan buku antologi puisi beberapa penyair Yogyakarta seperti Kirdjomuljo, W.S Rendra, dan Kuntowijaya,

karena di Jakarta banyak komunitas sastra, kritikus sastra sehingga melalui penerbitan antologi di pusat dapat sekaligus dapat berfungsi melegitimasi atau “memberi pengakuan” seseorang sebagai penyair Indonesia, dibanding dengan bila penerbitan dilakukan di daerah.14

Seperti telah disebutkan dalam subbab 3.3 bahwa jenis puisi dalam cetakan bermacam-macam, yaitu (1) antologi karya per-orangan (mandiri) dan (2) antologi karya bersama. Antologi jenis pertama jumlahnya lebih banyak ditemui karena biaya penerbitan memang lebih murah karena dipikul bersama, atau karena terbitan perorangan menuntut penyair populer dan atau berkualitas. Penyair yang memiliki terbitan antologi tunggal (perorangan) itu biasanya sudah pernah terbit dalam antologi bersama.

Walaupun tercatat bahwa baru pada tahun 1980-an, antologi puisi karya mandiri, sudah mendahului muncul sebelum tahun 1981, sebetulnya sudah muncul antologi bernama Tugu: Antologi Puisi 32

Penyair Yogyakarta (1986), terbitan Jembatan bersama Dewan

Kesenian Yogyakarta. Hingga tahun 1980 tercatat sejumlah antologi puisi karya mandiri, misalnya karya Emha Ainun Nadjib M Frustasi! (1976), karya Mira Sato (Sena Gumira Ajidarma) yaitu “Mati Mati

Mati: Kumpulan Puisi”, beberapa antologi Darmanto Jatman, dan

tahun 1980 terbit antologi mandiri dari Laode Pesu Affarudin berjudul Doa Sebatang Lilin, terbitan Nur Cahaya.

Sejak tahun 1981, antologi karya mandiri berlanjut muncul, dan jauh lebih banyak. Namun, di sisi lain --karena berbagai alas an--penerbitan antologi bersama tetap hadir dan hidup berdampingan dengan antologi puisi mandiri. Antologi bersama yang terbit pada awal dekade 1980-an ialah Antologi Puisi Religius: Syair Istirah (1982), yang diterbitkan oleh Masyarakat Poetika Indonesia. Setelah

14Sebaliknya, sejak tahun 2000, yaqng terjadi justru sebaliknya karena ada beberapa karya dari luar yang diterbitkan di daerah seperti karya Afrizal Malna, Suparto Brata, dan Sapardi Djoko Damono (Widati-Pradopo, 2004:2).

itu, sejumlah antologi bersama muncul lagi setelah antologi Tugu:

Antologi Puisi Karya 32 Penyair Yogyakarta (1986).

Setahun kemudian terbit antologi puisi bersama dengan judul

Biarkan Kami Bermain: Antologi Puisi Sosial Mahasiswa (1987).

Antologi ini dieditori oleh Emha Ainun Nadjib, dan diterbitkan oleh Majalah Mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Pada tahun 1989 terbit dua buah antologi puisi bersama yaitu (1) Antologi Puisi dan

Cerper: Pemenang Lomba Penulisan Puisi & Cerpen Se-DIY 1989

(berisi karya 7 orang penyair), dan (2) terbitan stensil “Sang Persadawan: Antologi Puisi” (berisi 125 buah puisi dari 17 penyair), dengan editor Ragil Suwarna Pragolapati.

Pada dekade 1990-an terbit sejumlah antologi bersama, diawali pada tahun 1990, dengan antologi puisi 5 penyair Yogyakarta (Bambang Suryanto, Bambang Widiatmoko, Untoro S. Ignatius, dan Ari Basuki) berjudul Srigunting diterbitkan oleh Bengkel Kerja Budaya Yogyakarta, dicetak oleh C.V. Mahenoko.

Pada tahun 1991 terbit sejumlah antologi puisi bersama. Adapun antologi pertama ialah antologi puisi yang dilombakan untuk baca puisi, berjudul Melodia Rumah Cinta, dengan editor Jabrohim, Suminto A. Sayuti, dan Kuswahyo SS Raharjo, terbit “Swadaya” Yogyakarta. Kedua, pada tahun pada tahun itu juga terbit antologi sederhana berjudul Aku Ini , berisi puisi 11 penyair, diterbitkan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ketiga, sebuah antologi karya 10 penyair Yogya berjudul Kadar yang diisi oleh puisi-puisi Abidah El Khalieqy, Abdul Wachid B.S., Adi Wicaksono, Afnan Malay, Aly D. Musrifa, Hamdy Salad, Mathori A Elwa, Omi Intan Naomi, Ulfatin Ch, dan Yayan Sopyan. Pada tahun itu juga terbit antologi pemenang puisi Nusantara, berjudul Zamrud

Khatulistiwa yang diterbitkan oleh gabungan Taman Budaya dan

Balai Bahasa Yogyakarta. Di dalamnya terdapat puisi-puisi 45 penyair dari 18 propinsi di Nusantara, yang lolos dari 282 puisi karya 63 penyair asal 19 propinsi.

Pada tahun-tahun berikutnya, tahun 1992--2000 terbit sejumlah antologi bersama yang lebih beraneka, seperti Catatan

Tanah Merah (1992) karya tiga penyair mahasiswa IKIP

Puisi Indonesia (1994) diterbitkan oleh Taman Budaya Yogyakarta.

Antologi ini berisi 60 buah puisi karya 13 orang penyair pemenang Lomba Penciptaan Puisi Tahun 1994 yang diadakan oleh Taman Budaya Yogyakarta. Pada tahun 1993 terbit antologi puisi bersama berjudul Cap Jempol terbitan Dapur Sastra Musi. Di dalam antologi ini dimuat puisi-puisi 3 orang penyair dari tiga kota, mereka ialah Koko Bae, Isbedy Stiawan Zs, dan Ismet N. M. Haris. Setahun berikutnya muncul antologi Risalah Badai: Antologi Puisi Bersama (1995) merupakan suntingan Mathory A. Elwa, diterbitkan ITTAQA Press (Kelompok BIGRAF).

Kemudian, setahun berikutnya (tahun 1996) muncul antologi “Fasisme”: Antologi Puisi Jelek Yogyakarta, dengan pengantar Amien Wangsitalaja dan Darmanto Jatman, diterbitkan oleh Kalam Elkama. Antologi bersama puisi di Yogyakarta ialah Kampung

Indonesia Pasca Kerusuhan., Antologi ini diterbitkan tahun 2000

oleh Pustaka Pelajar dan diberi kata pengantar oleh Kuswaidi Syafi’ie, dari Lesbumi (Lembaga Seni Budayua Muslim Indonesia). Di dalamn antologi ini terdapat puisi-puisi Akhmad Nurhadi Moekri, Hidayat Raharja, Ibnu Hajar, En. Hidayat, dan Rusly KM. Berbeda dengan antologi-antologi bersama puisi Yogya sebelumnya, dalam antologi ini tidak terdapat nama-nama penyair yang terkenal, tetapi yang ada ialah nama-nama baru, yaitu Akhmad Nurhadi Moekri, Hidayat Raharja (atau Hida R. Saraswatie), Ibnu Hajar, EN. Hidayat, dan Rusly KM..

Dari uraian tentang pengelompokan penyair di Yogyakarta tersebut di depan, yang dapat dikelompokkan ke dalam puisi Indonesia di Yogyakarta itu adalah puisi-puisi karya penyair Yogyakarta yang proses kreatifnya dilakukan di Yogyakarta, dan disebarkan oleh media massa dan penerbit di Yogyakarta. Maka, puisi-puisi yang beredar di Yogyakarta, tetapi proses kreatifnya di luar Yogyakarta tidak dapat dikategorikan sebagai “puisi Yogya-karta”.

Sejak tahun 1980, sejumlah antologi puisi karya penyair Yogyakarta sudah terbit di Yogyakarta, diawali dengan antologi puisi karya bersama, dikumpulkan oleh mahasiswa di kampus-kampus. Beberapa antologi bersama, dari mahasiswa, yang patut

dicatat ialah antologi Lingkaran Kosong: Antologi Puisi (1980) karya Keluarga Penulis S1 Bahasa Indonesia FKSS IKIP Yogyakarta/UNJ, dengan editornya Ahmadun Y. Herfanda; Antologi Tonggak-tonggak

Insani (1980), dengan editor Mustofa W.Hasyim; Tugu: Antologi Puisi 32 Penyair Yogya (1986), dengan editor Linus Suryadi Ag.; Tanah Airmata: Prasasti Lomba Baca Puisi (1994), dengan editor

Jabrohim, dan Suminto A.Sayuti. Selain itu, masih ada beberapa antologi serupa yang lain.

Seperti sudah disebutkan di depan, pada tahun 1950-an--tahun 1970-an, tempat itu merupakan tempat paling strategis untuk berkumpul anak-anak muda dari berbagai disiplin ilmu, daerah asal, dan status sosial. Di situlah anak-anak muda pecinta seni dan kebudayaan, terutama sastra, drama, dan seni lukis berkumpul.15 Komunitas Malioboro itu, selanjutnya bernama “Persada Studi Klub”, disingkat PSK, berdiri tanggal 5 Maret 1969, oleh sejumlah anak muda dari berbagai daerah dan berbagai disiplin ilmu. Mereka itu, antara lain, Umbu Landu Paranggi, Teguh Ranusastro Asmara, Ragil Suwarno Pragolapati, Iman Budi Santosa, Soeparno S. Adhy, Sugianto Sugito, dan Mugiyono Gitowarsono. Kelompok PSK ini tumbuh pesat karena hubungan baik lembaga ini dengan Mingguan

Pelopor Minggu pimpinan Jusac MR. Hampir semua anak muda dan

budayawan di Yogyakarta waktu itu mengenal PSK pimpinan Umbu Landu Paranggi. Sebagian besar pengarang yang pernah singgah di Yogyakarta ingá tahun 1970-an mengenal grup PSK, bahkan pernah menjadi anggotanya. Sejumlah pengarang yang pernah bergabung dengan grup sastra tersebut, antara lain, Motinggo Boesje, Suripto Harsah, Sujarwanto, Fauzi Absal, Emha Ainun Najib, Linus Suryadi Ag., Korrie Layun Rampan, Darwis Kudhori, Iman Budi Santosa, Ragil Suwarno Pragolapati.

Di samping kelompok sastra PSK itu, pada tahun 1970-an itu ada juga kelompok-kelompok studi sastra lainnya yang berpusat di kampus-kampus, atau bernaung di bawah naungan agama, atau partai politik, seperti Lesbumi (Lembaga Studi Budaya Muslim Indonesia),

15 Hal itu diceritakan pula oleh A.Y. Suharyono bahwa di antara para anggota Persada Studi Klub itu terdapat sejumlah pengarang sastra Jawa, misalnya dia sendiri, Ragil Suwarno Pragolapati.

Strarka (Studi Teater Katholik), dan Stemka (Studi Teater Mahasiswa Kristen). Beberapa partai politik juga memiliki kelompok budayawan, seperti LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional), dan LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat, milik PKI).16 Namun, pada umumnya, dalam berdiskusi dan berkarya, para penyair di Yogya-karta selalu berkomunikasi antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Penyair Djadjak M.D., Taufik Abdullah, dan Kuntowijoyo juga, misalnya, adalah anggota Lesbumi, tetapi juga bergabung dalam kelompok PSK (bdk. Farida-Sumargono, 2004:252). Demi-kian juga halnya dengan Adi Wicaksono (mahasiswa UII Yogya-karta) yang juga menjadi anggota SAS di IAIN (UIN) Sunan Kalijaga.

Tempat pertemuan yang sifatnya khusus ialah kampus. Di samping UGM, di Yogyakarta terdapat akademi-akademi dengan kurikulum khusus seni, seperti ASRI khusus seni rupa (sekarang menjadi ISI), dan ASDRAFI. Sebagian kampus yang memiliki kepedulian kepada sastra, biasanya terdiri atas berbagai disiplin ilmu, tetapi di dalamnya terdapat jurusan yang bersinggungan dengan bahasa dan humaniora, seperti halnya UIN (atau IAIN) Sunan Kalijaga, UNJ (semula IKIP Negeri), Universitas Sanata Dharma (dulu IKIP Sanata Dharma), Universitas Sarjana Wiyata (dulu IKIP Sarjana Wiyata), dan UII. Di setiap kampus yang bersifat pendidikan umum tersebut dapat dikatakan hampir selalu memiliki kegiatan ekstrakulikuler, di antaranya kegiatan sastra. Misalnya, sejak awal berdiri, kampus UGM sudah menjadi penggerak bagi kegiatan sastra di lingkungan kampus. Di kampus yang terdiri atas berbagai disiplin ilmu itu para mahasiswa dari berbagai bidang studi, seperti Umar Kayam (Fakultas Ilmu Pendidikan), W.S. Rendra, Budi Darma, Bakdi Sumanto, dan Sapardi Djoko Damono (Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya), Soebagio Sastrowardojo, Rachmat Djoko Pradopo (Jurusan Sastra Indonesia Fakuttas Ilmu Budaya), Sukarno Hadian, Kuntowijoyo, Sudarmono (Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya), Satyagraha Hoerip, Ashadi Siregar (Fakultas Ilmu Sosial

16

Sebagai lembaga kebudayaan milik PKI, LEKRA dilarang hidup setelah G.30 S./PKI.

dan Politik), dan Motinggo Busje, Putu Wijaya, Arifin C. Noor (Fakultas Hukum).

Kehadiran Soebagio Sastrowardojo dan kawan-kawannya di kampus UGM, Teater Gadjah Mada berdiri --bahkan hingga sekarang-- dengan anggotanya para mahasiswa UGM dari berbagai bidang studi. Demikian juga halnya dengan perguruan tinggi lainnya di Yogyakarta. IAIN (UIN) Sunan Kalijaga, misalnya, memiliki grup teater ESKA, di samping kelompok sastra yang lebih luas yaitu SAS (Studi Apresiasi Sastra). Demikian juga halnya dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi lainnya di Yogyakarta, terutama yang mempunyai Jurusan Bahasa Indonesia, biasanya memiliki kelompok studi sastra, seperti IKIP Negeri Yogyakarta (sekarang bernama UNY), IKIP Sarjana Wiyata (sekarang bernama Universitas Sarjana Wiyata), dan IKIP Sanata Dharma (sekarang Universitas Sanata Dharma), ASDRAFI, ISI Jurusan Teater. Pada umumnya, kampus-kampus seperti itu kampus-kampus seni, atau kampus-kampus yang memiliki Jurusan Bahasa dan Sastra sehingga mempunyai perhatian terhadap sastra. Kelompok studi mahasiswa itu biasanya lebih aktif di kampus karena setidaknya, melalui Senat Mahasiswa, mereka mendapat perhatian dan dukungan biaya operasional, seperti lomba baca puisi, lomba mencipta puisi, dan untuk berdiskusi.

Selain aktif dalam kelompok, para mahasiswa di Yogyakarta juga mengembangkan karya-karyanya secara individual dan menye-barkan karya-karya mereka di harian umum dan majalah, seperti harian Kedaulatan Rakyat, Mercu Suar(selanjutnya menjadi Masa

Kini), dan Bernas; mingguan Minggu Pagi, dan Pelopor Djogja.

Majalah-majalah di Yogyakarta hingga tahun 1965 cukup banyak, yaitu Budaya (berhenti tahun 1964), Medan Sastra, Arena, Seriosa (hanya sampai tahun 1950-an). Adapun majalah Suara

Muham-madiyah Pusara, Basis, Suara MuhamMuham-madiyah hingga sekarang

masih ada, tetapi pada Basis, Suara Muhammadiyah, dan Arena terjadi perubahan visi atau missi karena perubahan situasi.

Di luar kampus, ada sejumlah lembaga penting di Yogyakarta yang mempunyai program untuk kegiatan sastra. Pertama, ada bebe-rapa lembaga pemerintah yang memiliki kegiatan yang berkaitan dengan sastra, yaitu Dinas Kesenian Propinsi DIY (Semarang

melebar menjadi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata), Taman Budaya, Balai Bahasa, dan lembaga semipemerintah Dewan Kesenian (seka-rang Dewan Kebudayaan).17 Namun, sejak tahun 1990-an beberapa lembaga swasta terlibat dalam pelestarian dan pengembangan kebu-dayaan di Yogyakarta, seperti LIP (Lembaga Indonesia Prancis), Karta Pustaka (Lembaga Indonesia Belanda), dan Bentara Budaya yang dikelola oleh KOMPAS.

Pada masa periode 1971—2000 masih terdapat pengarang-pengarang lama atau sebelumnya, misalnya Darmanto Yatman, Mohammad Diponegara, Kirdjomuljo, Sapardi Djoko Damono, Bakdi Sumanto, W.S. Rendra, Rachmat Djoko Pradopo, Umbu Landu Paranggi, Motinggo Boesje, dan Sitor Situmorang. Pada umumnya, mereka itu datang dari lingkungan akademik yang waktu itu mmasih kuliah atau sudah bekerja sebagai dosen. Mereka yang duduk sebagai mahasiswa antara lain Putu Wijaya, Bakdi Sumanto, Umbu Landu Paranggi, Arifin C. Noor, Jasso Winarto, Kuntowijayo. Selang beberapa lama nama seperti Sapardi Djoko Damono, Budi Darma, Sudjarwo tidak lagi berada di Yogyakarta karena harus mengikuti pekerjaanya.

Munculnya pengarang pada periode 1971—1980 tidak lepas dari peran serta majalah Basis. Pada periode itu muncul nama-nama pengarang seperti Abdul Hadi W.M., Arwan Tuti Artha, Darwis Khudori, Djajanto Supra, Eka Budianta, Emha Ainun najib, Korrie Layun Rampan, Landung Simatupang, Linus Suryadi Ag., Munawar Syamsudin, Suwarno Pragolapati, Teguh Ranuasmara, Junus Mukri Adi, Waluja DS, dan Yoko S. Pasandaran.

Dalam majalah Taman Siswa Pusara muncul sejumlah nama penyair baru sepeti Agnes Yani Sardjoko, Mustofa W.Hasim, Munawar Syamsudin, Jabrohim, Korrie Layun Rampan, Fauzie Absal, M.H.Ainun Najib, Suwarno Pragolapati, Munawar Syam-sudin, Joko Pasandaran, Umbu Landu Paranggi dan sebagainya. Adapun dunia perpuisian di Suara Muhammadiyah tampak sangat sedikit karena sejak tahun 1974, majalah ini banyak memuat puitisasi terjemahan Alquran yang diprakarsai oleh Muhammad Diponegoro.

17

Lembaga yang disebutkan terakhir itu hanya aktif pada kegiatan Ulang Tahun Yogyakarta, pada bulan Juni.

Karena itu, penyairnya pun sangat sedikit. Meskipun demikian, sejak tahun 1982 majalah itu memuat kembali puisi umum (bukan puitisasi Alquran).

Pengarang di harian Mercu Suar terdiri atas pengarang-pengarang baru yang hanya menulis sekali atau dua kali. Mereka itu adalah A.M. Fauzi Hasby, Djihad Hisjam, Masrury Noor, Sabirin Jamil, dan sebagainya. Di samping itu nama seperti Iman Budi Santosa, Suryanto Sastroatmaja, Teguh Ranuasmara, dan M. Mustofa Bisri juga aktif menulis di harian itu. Sementara itu, dalam hariaan

Masa Kini juga muncul nama-nama baru seperti Candra Budiman,

Ganang Aswie, Bambang Widodo, M. Yusuf D, Suparno S.Andy, dan sebagainya. Mereka juga menulis sekali atau dua kali. Hal yang menarik dari harian itu ialah munculnya rubrik puisi bbernama “Kulminasi”. Dari rubrik ini ditemukan penyair yang cukup pro-duktif, yaitu Rachmat Djoko Padopo.

Selanjutnya, nama-nama seperti Suminto A Sayuti (Probo-linggo), Arwan Tuti Arta (Tegal), Emha Ainun Najib (Jombang), Achmadun Y. Herfanda (Kendal) adalah nama-nama baru yang muncul dalam rubrik “Puisi Remaja” tabloid Minggu Pagi, tahun 1979. Bersamaan dengan mereka itu muncul sejumlah penyair muda seperti Bambang Widiatmoko (Yogya), Fauzi Absal (Yogya), Diah Hadaning (Jepara), Krisna Mihardja (Yogyakarta), Sunardian Wirodono (Yogyakarta). Selain itu, muncul pengarang baru baik dari Yogyakarta maupun luar Yogyakarta, seperti Andrik Purwanto (dari Trenggalek), Linus Suryadi (Sleman), Ari Basuki (Jepara), Bambang Darto (Nganjuk), Darwis Khudori (Kotagede), Dhenok Kristianti (Yogyakarta), Ida Ayu Galuh Petak (Yogyakarta), Joko Pinurba Jawa Barat), dan nama-nama lainnya. Di samping itu, juga bergabung pengarang senior seperti Darmadji Sosropura, Darmanto Jatman, Jasso Winarso, Bakdi Sumanto, Mohammad Diponegoro, Iman Budi Santosa, Teguh Ranuasmoro, Iman Sutrisno, dan Jussac Mr, yang juga redaktur Pelopor Minggu Yogya dan penulis cerita detektif.

Pada tahun 1981—2000 dunia kepenyairan di Yogyakarta terus berlanjut. Mereka (penyair berikutnya) memiliki variasi pedidikan, mulai dari sekolah lanjutan atas hingga perguruan tinggi. Para penyair itu menulis puisi di beberapa surat kabar yang terbit di

Yogyakarta. Mereka itu adalah Abidah El Khalieqy, Acep Zamzam Noor, Achid Bs., Adi Wicaksono, Agoes Noor, Agus Yuniawan, Ahmad Syubbanuddin Aly, Ali Akbari, Andrik Purwasita, Anna D, Anwar Suqie, Ari Basuki, Bambang Darto, Arwan Tuty Artha, Bambang Widiatmoko, Beno Siang Pamungkas, Boedi Ismanto SA, Budi Nugroho, Choen Supriyati, Edi Ramadhon, Erwe Djati, Fauzi Absal, Hamdy Salad, Heida Elmatsany, Herien Priyono, Heru Priyatno, I Made Agung, Ikun Eska, Indra Tranggono, Joko Kartono, Kuswahyo SS Raharja, Kuswara DS, Lestantya R. Baskoro, Lucianus Bambang Suryanto, Lukas Ap., Mathori A. Elwa, Munawar Syamsudin, Mustofa W Hasim, Niesby Sabakingkin, Pariyo Hadi, Ph Joko Pinurba, Puspita Pirenaning Emka, Redi Panuju, Risby Suro, Sigit Sugito, Soni Farid Maulana, Sri Harjanto Sahid, Sri Pujiono, Sucisilahati, Sudiro Harjomulyo, Sufad Farida, Sujarwanto, Syam Candra Mth., Suryanto Sastroatmojo, Ulfatin Ch., Wedha Asmara, Whani Darmawan, Widi Maharief, Widjati, dan sebagainya.

Mereka yang memiliki pendidikan di perguruan tinggi, misalnya Abdul wachid BS, Hamdy salad, M.Haryadi Hadipprnoto, Asa Jatmiko, Otto Sukatno CR, Suhindriya, Sutardi Hardjosudarmo, Sutrimo Edy Noor. Para penyair yang memiliki latar belakang pendidikan di SMU (kuliah tetapi tidak lulus) ternyata jauh lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan di perguruan tinggi. Mereka itu, misalnya, Triman Laksono, Sri Wiontolo Ahmad, Rahadi Noor, Haryanto Sukiran, Ibnu Hajar, dan sebagainya. Di tengah maraknya kehadiran penyair-penyair baru yang muncul, penyair –penyair yang lama tetap bertahan dan terus berkarya para era 1980—2000. Mereka itu Suwarno pragolapati, Iman Budi Santosa, Suminto A Sayuti, Suryanto Sastroatmojo, Arwan Tuti Arta, Munawar Samsyudin, Bambang Darto, Mustofa W Hasim, dan sebaginya. Keberadaan mereka selanjutnya disusul oleh generasi baru seperti Bambang Widiatmoko, Boedi Ismanto, Luci-anus Bambang Suryanto, Mathori A Elwa, Ph. Joko Pinurba, dan sebagainya.

Pengarang periode sebelumnya seperti Kori Layun Rampan, Suwarno Pragolapati, Munawar Syamsudin, Joko Pasandaran, dan

sebagainya. Mereka aktif meulis di majaah Basis dan Pusara. Pengarang yang lain yang aktif menulis di kedua majalah itu adalah Alois A Nugroho, Dorothea Rosa Herliany, Linus Suryadi Ag., Nyoman Tusthi Edi, Beni Setia, Cunong Nunuk Surojo, Joko Pinurba, Rusli A Malem, Rusyanto Landung Simatupang, Sunardia Wirodono, JS Kandhi, Ahmadun Y Herfanda, Iman Budi Santosa, Andrik Purwasita, Bambang Widiatmoko, Munawar Syamsudin, Wahyu Prasetya, Goprak Harsono, Badar Sulaiman, dan Darwis Khudori.

Selanjutnya, dalam dekade 1981--2000, nama-nama penyair yang ikut andil dalam buku cetakan cukup banyak. Menurut catatan dalam antologi Tugu: Antologi Puisi 32 Penyair Yogya (1986), hingga tahun 1986 setidaknya terdapat 32 penyair yang masih tinggal di Yogyakarta dan mereka aaaktif menulis. Ketiga puluh dua penyair itu ternyata yang lahir di Yogyakarta sangat sedikit. Mereka umumnya lahir di luar Yogyakarta dan menjadi pendatang. Meski-pun banyak penyair Yogyakarta yang pindah kota, penyair baru Meski-pun berdatangan. Hal itu disebabkan oleh kondisi kota Yogyakarta yang memiliki daya tarik tersendiri. Mereka itu adalah generasi yang rata-rata lahir tahun 50-an sampai akhir 60-an. Mereka itu antra lain Sujarwanto, Abidah El Khalieqy, Dorothea Rosa Herliany, Faisal Ismail, Bambang Set, Abdul Wachid BS, Matori Elwa, Soni Farid Maulana, Puntung Pujadi, Aming Wangsitalaya, Otto Sukatno Cr, dan Kuswaidi Syafii.

Selain nama-nama penyair yang tercatat dalam antologi Tugu, masih banyak penyair yang terekam dalam antologi bersama lainnya. Antologi Biarkan Kami Bermain (1987) editor Emha Ainun Najib, penerbit Balairung, menghadirkan nama-nama penyair baru seperti Afnan Malay, Agung Mabruri Ansori, Agus Jamil, Ahmad Rafani, Bambang Paningron Astiaji, Bambang Sulistyono, Bambang Triwah-yono, Catur Margono, Darwono, Eko Kusbiantoro, Hananto Kusuma, R.A.Yani Tri Handayani, Siti Nurbaiti, Sunaryo Broto, Titi Yulianti, Wandi, dan yayan Sofyan. Nama-nama penyair ini tergolong nama-nama baru kecuali Emha Ainun Najib sebagai editor.

Antologi Puisi dan Cerpen (1989) terbitan Taman Budaya

“Lomba Penulisan Puisi dan Cerpen se-DIY 1989”. Nama-nama itu ialah Mustofa W. Hasyim, Indra Tranggono, Bambang Darto, Iman Budhi Santosa, Suminto A. Sayuti, dan F.X Kusworo.

Nama-nama penyair yang tercatat dalam Antologi puisi

Pagelaran, sebuah antologi terbitan sederhana dari Himpunan

Remaja Swadesi Yogyakarta (1990), adalah Kuswahyo SS Raharjo, Bambang Widiatmoko, Aming Aminudin, Soekoso DM, Nurgani Asyik, Roesdizaki, dan Maskun Artha. Sementara itu, antologi puisi

Dalam dokumen Sastra Yogya PERIODE (Halaman 51-69)

Dokumen terkait