“BPK BERSAMA KPK, KEMENTERIAN/
LEMBAGA, LEMBAGA SWADAYA
MASYARAKAT (LSM) DAN BEBERAPA
LEMBAGA INTERNASIONAL
MELAKUKAN KAMPANYE
ANTIKORUPSI DENGAN TEMA
“BERANI JUJUR, HEBAT! .”
2011
2011
Hotel Shangrilla, Jakarta. Selain dari BPK,narasumber dalam seminar tersebut terdiri dari kalangan politisi, pengamat, akademisi, dan tokoh pemuda.
Latar belakang diadakan seminar ini adalah tuntutan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Termasuk diantaranya alokasi dana untuk parpol yang bersumber dari APBN dan APBD.
BPK juga menyelenggarakan seminar nasional dengan mengambil tema: “Kinerja Bank Pembangunan Daerah di Indonesia:
Kontribusi Untuk Pembangunan Daerah”. Seminar ini diselenggarakan pada 12 Desember 2011.
Selain dari BPK narasumber acara ini terdiri dari Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah, Direktur Investasi PT Jamsostek Evelyn G. Masassya, dan Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Achsanul Qosasi. Sementara peserta seminar meliputi Pimpinan Komisi II DPR, Pimpinan dan Anggota Komisi XI DPR, Wakil Ketua dan para Anggota BPK, Ketua DPRD se-Indonesia, para Kepala Daerah, Direktur Utama BPD se-Indonesia, pimpinan Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (ASBANDA),
Asosiasi Pemerintahan Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), dan pengamat perbankan.
Seminar ini bertujuan untuk
mengindentifikasi permasalahan-permasalahan yang terjadi pada pengelolaan dana oleh BPD. Di sisi lain, memberikan pemahaman yang memadai terhadap pengelolaan dana oleh BPD yang transparan dan akuntabel. Dan, mencari bentuk pengelolaan dana BPD yang baik sesuai dengan prinsip-prinsip akuntabilitas demi terciptanya kemakmuran masyarakat di daerah.
Melalui kegiatan ini, BPK berharap permasalahan mengenai pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan BPD mendapat perhatian dari seluruh stakeholder. Sehingga BPD berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, dan efektif sehingga keberadaannya dapat berkontribusi secara optimal bagi pembangunan di daerah.
Selain seminar, BPK juga mengadakan pertemuan dengan entitas untuk
mengupayakan pemecahan masalah. Seperti pertemuan dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada 7 Maret 2011 di Kantor Pusat BPK.
Pertemuan ini dilaksanakan dalam rangka Penyerahan Laporan Pelaksanaan Rencana Aksi Menuju Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Tahun 2010 oleh Mendagri Gamawan Fauzi kepada BPK. Penyerahan Laporan Rencana Aksi Kemendagri ini dimaksudkan untuk melaporkan progress pencapaian rencana aksi. Dari progress tersebut, Kemendagri bisa memperoleh masukan dari BPK untuk mencapai perolehan Opini WTP dari BPK.
Selain menerima Laporan Pelaksanaan Rencana Aksi dari Kemendagri, BPK juga menyerahkan Laporan Pemantauan Tindak Lanjut hasil pemeriksaan BPK tahun 2010 kepada Mendagri. Dalam kesempatan tersebut,
2011
2011
BPK meminta agar laporan pemantauan tindaklanjut dapat dipelajari dengan baik. Selain itu, BPK meminta agar rekomendasi BPK yang belum ditindaklanjuti segera dilakukan tindak lanjutnya oleh Kemendagri.
Pada 13-14 Juli 2011, di Kantor Pusat, BPK melakukan rapat pembahasan tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK atas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan Kementerian Lingkungan Hidup.
Pertemuan pembahasan ini merupakan langkah untuk mengkonsolidasikan informasi yang belum seragam antara BPK dengan pihak
auditee sehingga tidak terjadi kesimpang
siuran dalam informasi antara BPK dengan pihak auditee.
Seiring dengan hal itu, pertemuan ini diharapkan dapat menjadi jembatan dan melancarkan saluran komunikasi antara BPK dengan Kementerian ESDM dan Kementerian Lingkungan Hidup serta instansi terkait lainnya. Dalam rangka memenuhi tuntutan masyarakat terhadap pemerintah untuk segera mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang baik, akuntabel dan transparan, bebas dari praktik- praktik korupsi dan kolusi.
BPK juga mengadakan Pertemuan Tindaklanjut Hasil Pemeriksaan BPK atas Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga dan Strategi Perbaikan Opini LKKL di Hotel Bidakara, Jakarta, pada 22 September 2011.
Pertemuan ini bertujuan untuk
memperbaiki Laporan Keuangan Kementerian/ Lembaga, sehingga pada tahun 2011
Kementerian/Lembaga sudah mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK. Salah satu cara untuk memperbaikinya
dengan menindaklanjuti temuan pemeriksaan BPK atas Laporan Keuangan Kementerian Lembaga.
Pada 15 Agustus 2011, Panja Sektor Hulu Listrik Komisi VII DPR dan BPK melakukan pertemuan konsultasi di Kantor Pusat BPK, Jakarta. Pertemuan konsultasi ini merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya, dimana Panja Sektor Hulu Listrik meminta BPK RI untuk melakukan audit kepada PLN termasuk didalamnya penggunaan energi di sektor Hulu.
Pada pertemuan kali ini Panja ingin mengetahui sejauh mana hasil audit yang dilakukan oleh BPK terhadap hipotesa di Panja terhadap carut marutnya pengelolaan energi primer yang dikelola oleh PLN.
BPK sendiri telah melakukan Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu terhadap PLN dan anak perusahaannya, BP MIGAS, ESDM, dan Instansi yang terkait. Hasil audit ini secara resmi akan diserahkan kepada DPR pada 20 September 2011.
Pada 18 Agustus 2011, BPK mengikuti Rapat Konsultasi dengan Tim Pengawas Century DPR RI, pada kamis 18 Agustus 2011 di Kantor BPK. Rapat konsultasi ini dilakukan dalam rangka pelaksanaan audit
forensik (Pemeriksaan Investigasi Lanjutan)
serta mengetahui sejauh mana perkembangan pekerjaan atas Pemeriksaan Investigasi Lanjutan atas kasus PT Bank Century, Tbk yang dilakukan oleh BPK sesuai dengan permintaan DPR.
2011
2011
BAKN DPR dengan BPK pada 27 Oktober2011. Pertemuan yang berlangsung di Kantor Pusat BPK ini dilakukan untuk membahas hasil pemeriksaan BPK semester I tahun 2011. Khususnya tentang temuan yang krusial di Kementerian/Lembaga.
Agenda pertemuan sendiri mencakup tiga pokok pembahasan. Pertama, membahas proses telaahan BAKN atas laporan hasil pemeriksaan BPK. Kedua, rencana BAKN akan melakukan investigasi terhadap masalah yang signifikan dan krusial. Ketiga, klarifikasi temuan BPK atas laporan hasil pemeriksaan semester I tahun 2010.
Pertemuan Konsultasi atas penelaahan terhadap temuan hasil pemeriksaan BPK ini akan disampaikan kepada komisi-komisi DPR RI sebagai bahan rapat komisi dengan mitra kerjanya. Selain itu, BAKN memberikan masukan kepada BPK dalam hal rencana kerja pemeriksaan tahunan, hambatan pemeriksaan, serta penyajian dan kualitas laporan.
Pada 14-16 Desember 2011, BPK dan Kepolisian Negara RI (Polri) membahas tindak lanjut hasil pemeriksaan atas laporan keuangan Polri sampai dengan semester II tahun 2011. Pembahasan tindak lanjut hasil pemeriksaan atas laporan keuangan Polriini dilaksanakan di Auditorium BPK Perwakilan DKI Jakarta.
Dalam rangka meningkatkan penerimaan perpajakan dan akuntabilitas pelaporannya, BPK menyelenggarakan briefing Peningkatan Penerimaan Perpajakan dan Akuntabilitas Pelaporan Perpajakan. Kegiatan ini
diselenggarakan di Kantor Pusat BPK. Selain dari BPK, sebagai narasumber dalam kegiatan
ini adalah Dirjen Pajak Fuad Rahmany dan Kepala Dinas Pajak BP Migas, Sukri Usman.
Kegiatan briefing ini dilakukan sebagai persiapan pemeriksaan laporan keuangan pemerintah pusat dan laporan keuangan Kementerian Keuangan dalam rangka meningkatkan opini dari laporan keuangan Kementerian Keuangan dan Pemerintah Pusat. Oleh karena itu BPK berkepentingan turut serta membantu dalam penggalian potensi penerimaan pajak untuk mengungkapkan celah permasalahan tidak optimalnya penerimaan negara.
Setelah merampungkan Pemeriksaan
Investigasi Lanjutan atas Kasus Bank Century, pada 23 Desember 2011, BPK menyerahkan laporan Hasil Pemeriksaan Investigasi Lanjutan tersebut kepada DPR. Pemeriksaan Investigasi Lanjutan atas kasus Bank Century ini sendiri dilakukan untuk memenuhi permintaan DPR yang meminta BPK RI untuk melakukan Audit Forensik terhadap Kasus Bank Century.
Menindaklanjuti hasil pemeriksaan Investigasi Lanjutan atas Kasus Bank Century yang telah diserahkan kepada DPR, BPK kemudian menyelenggarakan pertemuan dengan entitas penegak hukum dan yang terkait: Kejaksaan Agung, Polri, KPK, dan PPATK. Pertemuan tersebut dilaksanakan pada 29 Desember 2011, di Kantor Pusat BPK. Pertemuan ini sendiri bertujuan agar hasil pemeriksaan BPK tersebut bisa ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum. Sementara BPK akan membantu jika diminta oleh aparat penegak hukum.
kegiatan-kegiatan lainnya yang melibatkan entitas ataupun stakeholder, dalam tahun 2011, BPK juga ikut serta dalam momen-momen tertentu yang diselenggarakan entitas.
Pada 24 Agustus 2011, misalnya, BPK menghadiri acara Deklarasi Zona Anti Korupsi dan Mempertahankan Opini Wajar Tanpa Pengecualian, kegiatan peluncuran e-audit dan penandatanganan MoU Penerapan Program Pengendalian Gratifikasi di Kantor Mahkamah Konstitusi, Jakarta. BPK juga menghadiri
peringatan Hari Anti Korupsi Internasional di Kantor KPK pada 9 Desember 2011.
BPK bersama KPK, Kementerian/Lembaga, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan beberapa lembaga internasional melakukan kampanye antikorupsi dengan tema “Berani Jujur, Hebat!”. Kampanye ini bertujuan untuk menyalakan kembali semangat kejujuran sebagai langkah awal pemberantasan korupsi.
2011
2011
"
PADA TAHUN ANGGARAN 2011, BPK MENDAPAT ALOKASI ANGGARAN SEBESAR RP2.820.097.896.000,00. SEMENTARA, PENGGUNAAN ALOKASI ANGGARAN TERSEBUT MENGHABISKAN RP2.087.267.029.049,00. SECARA PERSENTASE, REALISASI DARI ALOKASI ANGGARAN TERSEBUT ATAU DAYA SERAPNYA MENCAPAI 74,01%.
.