• Tidak ada hasil yang ditemukan

MELALUI WIRAUSAHA

-START WITH THE "WHY", AND WILL

BE ALWAYS ANOTHER "WHY"-

Yang menjadi tantangan utama saat ini adalah banyak diantara usaha yang dir- intis oleh mahasiswa akan lulus (baca : tutup) seiring dengan lulusnya mahasiswa ter- sebut dari kampus. Ada berbagai macam faktor yang mendasari, dan dari kesemuanya mengerucut kepada kekuatan aspek "why" yang menjadi landasan dalam memulai dan mengembangkan usaha.

Akses permodalan bagi mahasiswa yang ingin merintis usaha pada saat ini san- gat terbuka lebar. Salah satu yang menjadi primadona adalah akses permodalan dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKMK) yang didanai secara hibah oleh DIKTI hingga maksimal 12 juta rupiah setiap unit usaha. Syarat yang diaju- kan pun sangat mudah, yaitu membuat proposal pengajuan sesuai jadwal yang telah ditentukan (biasanya berlangsung satu tahun sekali setiap bulan september) yang ke- mudian tinggal menunggu pengumuman dari seleksi berkas yang dilakukan oleh re- viewer DIKTI. Melalui program tersebut, para mahasiswa tidak hanya sekedar menda- patkan akses modal gratis, tetapi juga sarana untuk mendapatkan monitoring dan evaluasi baik dari internal stake holder ITS maupun pihak DIKTI yang bermuara pada kompetisi antar mahasiswa di seluruh penjuru Indonesia dalam even Pekan Ilmiah Mahasiswa Tingkat Nasional (PIMNAS) bersama dengan PKM bidang lain seperti pe- nelitian, penerapan teknologi, karsa cipta, pengabdian masyarakat, dan gagasan tertu- lis. Bisa mendapat akses modal gratis sekaligus berpeluang berprestasi mengharum- kan nama ITS tentu menjadi hal yang sangat menarik untuk dilakukan, bisa dibilang mahasiswa pada masa sekarang sangat beruntung oleh karena hal tersebut.

Selain itu DIKTI juga memiliki program lain bernama Program Mahasiswa Wi- rausaha (PMW), yang memiliki besaran permodalan lebih besar hingga puluhan juta rupiah yang pada prosesnya mahasiswa juga hanya tinggal mengirim proposal ide usaha yang akan diseleksi secara internal oleh ITS kemudian melalui proses interview dan survey. Ditambah lagi dengan maraknya berbagai kompetisi bisnis plan yang juga memberikan akses permodalan dan juga akses publisitas melalui media masa se- bagai hadiah dan imbas dari kemenangan dalam kompetisi tersebut.

Dengan terbuka lebarnya peluang akses permodalan bagi mahasiswa tersebut, tentu semestinya bisa memacu para mahasiswa untuk segera "action" merintis usaha sedini mungkin selagi status mahasiswa masih melekat. Sudah semestinya pula, maha- siswa dengan segala kapasitas intelektual yang dimiliki tidak bersikap "apatis" dengan menyianyiakan peluang akses permodalan yang utamanya dari DIKTI yang seperti dik- etahui bersama adalah bersumber dari uang rakyat yang semestinya dipergunakan se- baik baiknya demi kemakmuran rakyat.

Sejatinya hal tersebut dapat menjadi salah satu aspek "why" yang cukup kuat bagi mahasiswa dalam menyegerakan action merintis usaha. Akan tetapi seperti yang sudah jamak terjadi menjadi tantangan bagi para mahasiswa akan resiko besar lu- lusnya (baca : tutup) usaha yang dirintis seiring dengan lulusnya mahasiswa tersebut dari kampus. Diperlukan upaya lebih keras ketika usaha sudah dirintis dan mulai berkembang agar dapat bertahan dan memberikan kebermanfaatan selama mungkin, dan biasanya seiring dengan kerasnya upaya yang dilakukan juga dibarengi oleh mun- culnya "why" baru yang berpeluang memperkuat konsistensi dalam mempertahankan performa usaha.

Bagaimanapun juga, aspek "why" eksternal dan internal haruslah balance. Maha- siswa perlu melakukan perencanaan yang matang, agar usaha dapat bertahan selama mungkin, salah satunya adalah menentukan aspek "why" internal yang ideal untuk mereka secara pribadi. Saat merintis usaha, sudah sewajarnya diantara mahasiswa yang memiliki aspek "why" internal berupa bagaimana usaha yang dirintis dapat menghasilkan income sebagai tambahan uang saku sehari hari saat kuliah. Akan tetapi jika usaha telah berjalan dan mulai dapat memenuhi ekspektasi "why" yang te- lah ditetapkan di awal dan kemudian tidak ada upgrade "why", maka potensi keberlan- jutan usaha akan semakin kecil saat mahasiswa tersebut hendak lulus kuliah, karena seperti yang diketahui bahwasannya banyak diantara tawaran penghasilan yang diberi- kan oleh perusahaan yang menjadi jujukan para jobseeker biasanya jauh melebihi dari apa yang mereka dapatkan dari usaha yang masih dirintis. Sehingga peluang mereka untuk meninggalkan usaha yang dirintis dan memilih fokus bekerja di perusahaan menjadi besar, padahal usaha tersebut masih belum bisa sepenuhnya ditinggalkan un- tuk bisa bertahan. Disini dibutuhkan aspek "why" internal tambahan agar usaha yang dirintis dapat bertahan setelah mereka lulus, yaitu tidak hanya sekedar menghasilkan income sebagai uang saku tambahan, akan tetapi bagaimana caranya agar sebelum lu- lus kuliah usaha yang dirintis dapat menghasilkan income yang lebih besar daripada yang ditawarkan oleh perusahaan yang menjadi jujukan jobseeker agar mahasiswa ter- sebut memiliki pilihan, meneruskan sendiri usaha tersebut atau membangun sistem dengan menggunakan alokasi income tersebut untuk diserahkan pengelolaanya ke- pada SDM yang berkompeten sehingga resiko "lulus"nya (baca : tutup) usaha yang te- lah dirintis seiring dengan lulusnya mahasiswa tersebut menjadi lebih kecil.

Terkait dengan aspek why internal terkait mengapa mahasiswa perlu merintis usaha sedini mungkin selagi masih berstatus mahasiswa juga dapat diperkuat dengan menjawab kegalauan yang sering terjadi pada kalangan mahasiswa tentang bagai- mana jalan yang dipilih setelah lulus, menjadi profesional, wirausahawan, akademisi,

atau pekerja sosial (volunteering). Seringkali diantara mereka tidak punya pilihan lain yang sesuai dengan passion dikarenakan tuntutan ekonomi. Dengan merintis usaha sedini mungkin, peluang untuk bisa menjadi fleksibel dalam menentukan jalan yang dipilih setelah lulus semakin besar. Karena jika di asumsikan ketika mahasiswa terse- but lulus, mereka ada dalam kondisi finansial yang cukup dari hasil usaha yang telah lama dirintis sejak mahasiswa.

Melihat fenomena yang jamak terjadi seperti itu, sebenarnya mahasiswa dapat lebih mengasah kepekaannya dalam menggali lagi aspek "why" lain yang muncul seir- ing waktu berkembangnya usaha agar menjadi lebih powerfull. Saat usaha mulai berkembang, tentunya perlu dibangun sistem dengan merekrut SDM kunci yang mana sebenarnya bisa menjadi salah satu aspek "why", bagaimana nasib mereka jika usaha ini tutup begitu saja? Padahal sudah banyak yang bergantung dari aktivitas usaha ini untuk menghidupi keluarganya. Kemudian dari suplai bahan baku yang dibutuhkan, semakin berkembangnya usaha tentunya juga semakin membuat kebutu- han suplai bahan baku yang meningkat, misalnya pada usaha makanan olahan jamur, yang mana seperti yang sudah diketahui bahwasannya akan ada banyak petani jamur yang bergantung pada aktivitas usaha tersebut agar panen jamur mereka dapat terus terserap sehingga keluarga mereka dapat tetap tercukupi kebutuhan hidupnya dan bu- didaya jamur dapat menjadi pilihan mata pencaharian yang tetap menjanjikan bagi mereka. Sekali lagi, bagaimana nasib mereka jika usaha yang dirintis oleh mahasiswa tersebut tutup begitu saja?

Ketika usaha yang dirintis mahasiswa tersebut semakin berkembang, tentunya akan semakin sering bersentuhan langsung dengan permasalahan - permasahalan yang dihadapi oleh pihak lain yang berhubungan dengan usaha tersebut. Sebagai con- toh lagi adalah kelompok masyarakat yang biasa menjadi suplier tetap pada unit usaha tersebut ternyata sering memiliki beberapa masalah terkait kestabilan produksi yang memerlukan beberapa bantuan teknologi dan beberapa riset tambahan untuk da- pat menyelesaikan permasalahannya. Sebagai mahasiswa yang memiliki bekal kapasi- tas intelektual tentunya dapat memiliki kepekaan yang lebih untuk dapat membantu menyelesaikan permasalahan tersebut baik secara langsung maupun melalui bantuan rekan mahasiswa lain yang lebih kompeten atau bahkan dapat menjadi usulan topik riset yang langsung menyasar pada permasalahan riil yang dialami oleh mereka. Hal ini pun dapat menjadi aspek "why" berikutnya yang dapat memperkuat aspek "why" sebelumnya. Usaha ini harus terus berjalan, agar dapat terus bersentuhan langsung dengan masyarakat sehingga permasalahan yang dihadapi dapat diidentifikasi secara langsung dan diusahakan solusinya, apa jadinya jika usaha ini tutup begitu saja? pro-

duktivitas kelompok masyarakat tersebut akan stagnan karena ketidaktahuan mereka dalam mengidentifikasi permasalahan dan mencari solusi secara mandiri.

Menghadapi Era Masyarakat Ekonomi ASEAN dan persaingan global yang su- dah dekat, mahasiswa perlu mempersiapkan diri agar dapat bersaing dengan baik. Se- bagai mahasiswa juga semestinya memiliki solidaritas yang tinggi pada masyarakat agar dapat membantu mereka dalam mempersiapkan diri, baik secara langsung mau- pun tak langsung untuk memperkuat diri. Melalui wirausaha, besar harapannya peran dan fungsi mahasiswa kepada masyarakat dapat dioptimalkan. Jika telah menemukan aspek "why" yang tepat dan kuat, maka hambatan apapun akan selalu diusahakan so- lusinya sekuat tenaga. Tentu masih terngiang perkataan khas mahasiswa ITS yang te- lah ditanamkan semenjak masih mahasiswa baru, "mbuh piye carane, pokoke kudu iso", tentunya dengan kapasitas intelektual yang dimiliki mahasiswa sudah semesti- nya memiliki kemampuan untuk memilih cara yang benar dan efektif dalam mencapai tujuan.

So, there is always another "why".

Tentang penulis

Mahendra Ega Higuitta (F43) adalah pendiri waralaba Sego Njamoer. Lulus S1 dari Teknik Fisika ITS dan saat ini sedang menempuh program S2 di tempat yang sama. Beliau penerima berbagai penghargaan antara lain Winner of Greenpreneurship Chal- lenge, by UNESCO Youth Desk 2012.

Sebagai anak bangsa yang terlahir di sebuah pulau kecil di jazirah tenggara Pulau Su- lawesi, tepatnya di Ibu Kota Pulau Muna (Raha – Provinsi Sulawesi Tenggara) ikut mempengaruhi cara pandang saya terhadap kondisi Indonesia sebagai Negara Kepu- lauan. Kondisi Negara Indonesia yang banyak memiliki wilayah pesisir dan pulau- pulau kecil sampai saat ini mencerminkan masih adanya ketimpangan dimana kondisi kemiskinan masyarakat yang bermukim di wilayah kepulauan dan wilayah pesisir ma- sih cukup tinggi. Kondisi kemiskinan pada wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil meru- pakan masalah utama pembangunan yang sifatnya kompleks dan multi dimensional.

Persoalan kemiskinan bukan hanya berdimensi ekonomi tetapi juga sosial, bu- daya, politik bahkan juga ideologi. Berbagai fenomena yang ada terlihat bahwa keti- dakberdayaan masyarakat pesisir disebabkan oleh tiga hal yaitu (1) kemiskinan struk- tural, (2) kemiskinan super-struktural, dan (3) kemiskinan kultural. Kemiskinan struk- tural berkaitan dengan pengaruh faktor-faktor luar (ekternal) seperti sosial ekonomi masyarakat dan ketersediaan insentif, fasilitas pembangunan dan teknologi. Kemiski- nan super struktural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh kebijakan makro yang tidak pro pembangunan masyarakat pesisir seperti kebijakan pemerintahan yang be- rupa proyek dan program pembangunan. Sementara itu kemiskinan kultural meru- pakan kemiskinan yang berkaitan dengan keadaan yang melekat pada masyarakat pe- sisir seperti gaya hidup, tingkat pendidikan, budaya, adat, serta kepercayaan.

Ketiga corak kemiskinan masyarakat pesisir ini merupakan persoalan yang hingga saat ini masih menjadi ”pekerjaan” besar yang harus menjadi perhatian. Ten- tunya dibutuhkan komitmen yang tinggi dari para stakeholders mulai tingkat pusat sampai daerah untuk bersama-sama mengatasi masalah ini. Untuk itu keterlibatan ak- tif dunia akademik menjadi harapan utama dalam merumuskan format yang dapat

MEMBANGUN DESA PESISIR DAN