Tantangan
Di sektor hilir, kebutuhan BBM yang semakin meningkat tanpa dimbangi den- gan kapasitas kilang yang memadai, mengharuskan impor BBM yang cenderung men- ingkat, sehingga dapat mengakibatkan adanya ketergantungan pada produksi BBM im- por. Peremajaan dan peningkatan efisiensi kilang yang ada dan sudah tua serta pem- bangunan kilang baru di lokasi yang strategis merupakan hal yang perlu dipertimbang- kan dengan seksama. Selain itu kurangnya pasokan minyak mentah domistik (dan / atau yang cocok spesikasinya) untuk bahan baku kilang dalam negeri, mengakibatkan ketergantungan ini tidak hanya kepada BBM impor, tetapi juga kepada minyak men- tah impor, Beberapa tantangan yang di hadapi :
1. Tantangan Penyediaan BBM
Tantangan penyediaan BBM meliputi beberapa hal , mulai dari infrastuktur dan tan- tangan global diantaranya sebagai berikut :
- Keterbatasan Kapasitas Kilang Minyak
Kemampuan kapasitas pengolahan minyak mentah seluruh kilang minyak dalam negeri pada saat ini mencapai 1.057 MBSD. Dalam waktu 10 tahun terakhir ini nam- pak bahwa tidak ada penambahan kapasitas kilang yang signifikan, dimana pada ta- hun 1995 kapasitas pengolahan minyak mentah sebesar 991,1 MBSD. Total kemam- puan produksi BBM pada saat ini sebesar 268,53 juta barrel (42,7 juta KL), sementara itu pertumbuhan kebutuhan BBM Nasional terus meningkat yang pada saat ini baru dapat dipenuhi sekitar 65,3% dari hasil produksi BBM dalam negeri.
- Ketersediaan Bahan Baku Minyak Mentah
Ketersediaan bahan baku minyak mentah adalah faktor utama dalam menjamin kelangsungan operasi kilang minyak. Pada saat kilang-kilang minyak di Indonesia di- bangun pada era 1970an, terletak di lokasi yang mendekati sumber-sumber bahan ba- kunya (lapangan produksi minyak bumi), sehingga desain kilangpun menyesuaikan dengan spesifikasi minyak bumi yang tersedia di sekitar lokasi kilang minyak. Namun secara alamiah produksi minyak bumi dari sumur-sumur minyak tersebut mengalami penurunan, sehingga semua kilang minyak harus mengolah berbagai jenis dan spesifi- kasi minyak mentah (cocktail crude) yang dapat disediakan baik yang berasal dari da- lam negeri maupun impor. Pada saat ini penyediaan minyak mentah untuk diolah diki- lang minyak berasal dari produksi dalam negeri sebesar 63 % san sisanya 37 % dari im- por. Hal ini tentu berpengaruh pada kehandalan operasi kilang minyak yang dapat ber- dampak pada menurunnya efesiensi dan kemampuan produksi serta kualitas BBM yang dihasilkan.
Semua desain kilang minyak dalam negeri yang dibangun pada era 1970an lebih mempertimbangkan pada kemampuan untuk memproduksi BBM semaksimal mung- kin untuk dapat memenuhi seluruh kebutuhan BBM dalam negeri,tanpa memperhati- kan atau mengatisipasi perkembangan kualitas BBM dimasa depan. Nampak bahwa konfigurasi kilang minyak cukup sederhana dengan kapasitas secondary proses yang cukup kecil. Dewasa ini ketika dampak pembakaran BBM terutama pada sector trans- portasi semakin merusak kelestarian lingkungan hidup dan kesehatan manusia, maka dunia secara bertahap segera mengupayakan penyediaan BBM yang lebih ramah ling- kungan. Karena itu dibutuhkan impor HOMC dalam jumlah besar yang tentunya akan sangat berpengaruh pada keuangan Negara disamping menimbulkan ketergantungan pada Negara lain. Hal-hal yang sangat berpengaruh terhadap kualitas BBM yang ra- mah lingkungan pada saat ini adalah pembatasan pada kandungan Aromatik, Olefin, Benzene, Sulfur dan Oxygenate.
- Tingginya Biaya Impor
Untuk menunjang pasokan BBM dalam negeri PT Pertamina (Persero) mengim- por 300 juta barel minyak mentah dan produk bahan bakar minyak (BBM) sepanjang tahun 2015. Impor tersebut terdiri dari produk kilang pertamax, premium, avtur dan solar 200 juta barel, sedangkan minyak mentah sekitar 100 juta barel. Dengan fluk-
tuasi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah yang terus melemah , tentunya akan mempengaruhi besaran biaya impor.
2. Tantangan Distribusi BBM
Selain tantangan penyediaan BBM juga terdapat tantangan distribusi BBM , hal ini karena distribusi BBM di Indonesia adalah yang paling rumit di seluruh dunia karena indonesia terdiri dari ribuan pulau dengan sarana& fasilitas distribusi yang minim serta perkembangan industry dan domisili penduduk yang tidak merata. Den- gan kerumitan dan tantangan distribusi BBM ini, maka dilakukan pendekatan sebagai berikut:
Kompetisi: Regulasi baru dan era persaingan perdagangan bebas menjadi tantangan untuk penyediaan dan distribusi BBM
Demand: Besarnya konsumsi bahan bakar yang tinggi.
Supply: Kemampuan menyediakan BBM yang di tuntut untuk:
Reliability: Meningkatkan kehandalan kilang, mode transportasi dan sarana distri- busi. Efficiency: Effisiensi dalam biaya supply dan operational cost. Safety: Selalu mengutamakan keamanan dan keselamatan dalam distribusi. Security: Kemaanan pa- sokan untuk meminimalisir kritus stock BBM. Customer focus: Selalu focus pada ke- butuhan masyarakat dan industry.
Strategi
Untuk menjawab tantangan akan supply & distribusi BBM maka perlu strategi dan so- lusi , diantaranya :
1 Pembangunan Kilang Minyak Baru
Total kapasitas kilang minyak dalam negeri saat ini sekitar 1 juta barel per hari. ke- mampuan produksi BBM 42,7 juta KL, sementara konsumsi BBM mencapai 65,34 juta KL, sehingga defisit BBM sekitar 22,64 juta KL yang selama ini dipenuhi dari im- por. Berdasarkan angka-angka tersebut diatas, seyogianya dibutuhkan tambahan ki- lang minyak baru dengan kapasitas sekitar 540 MBSD. Dengan demikian diperlukan penambahan kapasitas kilang minyak minyak baru dengan kapasitas 970 MBCD.
Undang-undang No.22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi memberikan kesempatan kepada badan usaha untuk melakukan kegiatan usaha hilir migas yang meliputi pengolahan, pengangkutan,penyimpanan dan niaga minyak dan dan gas bumi. Oleh karena itu pemerintah harus mendorong partisipasi badan usaha untuk pembangunan kilang minyak di dalam negeri.
Pencanangan era kebangkitan energi dimulai sejak tahun 1966 yaitu dengan melaku- kan eksplorasi dan produksi energi fosil secara besar-besaran, dimana pada saat itu kontribusi sektor migas pada APBN mencapai 70%. Saat ini dicanangkan kebangkitan energi kedua, yaitu meningkatkan penggunaan biofuel, energi gas, dan batubara. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan penggunaan BBM sebagai sum- ber energi.Program diversifikasi dan subtitusi BBM dilakukan dengan cara subtitusi solar dengan biodiesel, subtitusi minyak tanah dengan briket batubara, briket fragmnetal dan LPG, subtitusi premium dengan CNG, subtitusi BBM dengan batu bara cair, dan pengembangan pembangkit listrik non-BBM. Dengan adanya diversifi- kasi energi maka dapat meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan energi alternatif,mendorong adanya investasi swasta, menjaga cadangan minyak bumi nasional, dan mengurangi ketergantungan akan impor BBM dari luar negeri.
3. Meningkatkan Kehandalan Pola Distribusi
Perlu dilakukan beberapa strategi untuk meningkatkan kehandalan pola distribusi BBM dan menjaga ketahanan stock , dan perancangan distribusi yang efisien dapat di- lakukan langkah sebagai berikut:
• Perencanaan / forecast yang realistis dan berdasarkan data statistik
• Security of Supply Vs Safety stock. Berikut ini gambaran perencanaan supply dan safety stock dalam kebijakan stock nasional :
• Tidak ada Terminal BBM yang kritis dengan penetapan safety stock
• Perhitungan energy balance yang tepat untuk menghitung BBM import, perhitungan ini dapat dilakukan dengan mekanisme :
1. Menghitung kapasitas produksi dari kilang (STS- Short Term Schedule). 2. Menghitung DOT – Daily Objective Throughput.
3. Bila ada selisih (tidak balance) dapat dilakukan export atau import. 4. Perhitungan dilakukan secara menyeluruh
• Menentukan efektif supply dan moda transportasi yang di gunakan
• Menekan serendah- rendahnya demurrage ( denda keterlambatan supply /bongkar) untuk produk impor
• Zero Losess program : Berupaya menekan kehilangan produk baik di kilang, trans- port (Kapal tanker & Mobil Tangki) , maupun saat penerimaan
Diharapkan dari berbagai strategi diatas dapat menjawab tantangan supply & distri- busi BBM yang tentunya membutuhkan dukungan dari pemerintah khususnya dari sisi reformasi kebijakan, dan alternatif kebijakan sehingga dapat berdampak positif bagi pembangunan nasional dan percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Tentang Penulis
Hardika Adiyagsa (F39) adalah supervisor operation di Pertamina Bitument Plant Gresik-Bitumen Trading, Petrochemical Trading.
Salah satu tantangan terbesar umat manusia sekarang ini adalah perubahan iklim dan semakin memburuknya kualitas lingkungan. Hal ini mulai disadari secara global oleh pemimpin-pemimpin dunia sejak Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi pertama di dunia yang diselenggarakan di Rio de Janeiro pada bulan Juni 1992 yang kemudian melahirkan kebijakan global sustainable development atau pembangunan berkelanju- tan.
Isu semakin memburuknya kualitas lingkungan dan pembangunan semena- mena ini kemudian diperparah dengan semakin nyatanya dampak perubahan iklim yang terjadi secara global. Perubahan iklim ini justru kemudian menjadi isu yang pal- ing panas dan menjadi bahan pertimbangan bahkan kewajiban bagi semua negara di dunia untuk merancang dan melakukan implementasi low carbon development atau pembangunan rendah karbon. Dalam implementasinya, pembangunan rendah karbon ini diimplementasikan secara terintegrasi dengan konsep pembangunan berkelanju- tan, atau dengan kata lain membangun tapi tanpa merusak lingkungan. Inilah yang kemudian popular disebut sebagai green economy atau ekonomi hijau.
Pada Gambar berikut dapat dilihat kenaikan gas rumah kaca atau GRK (green house gases/GHG) secara global yang terus meningkat. Peningkatan itu bahkan di- proyeksikan dapat meningkatkan suhu rerata bumi lebih dari 6 derajat celcius apabila kita tidak melakukan tindakan apa-apa. Bercermin dari semakin banyaknya dan parahnya bencana iklim yang terjadi seperti kekeringan, banjir, tanah longsor, badai salju, tornado, pergeseran musim, dan berbagai bencana iklim yang lain, kenaikan suhu muka bumi yang diakibatkan oleh efek pemanasan global, maka peningkatan ketebalan lapisan GRK di atmosfer mutlak harus dicegah. Karena itu mutlak pula selu- ruh negara di dunia harus mengubah seluruh paradigma pembangunannya dari
brown economy yang berbasis bahan bakar fosil ke arah green economy yang lebih ra-
mah lingkungan dan berkelanjutan. Target kewajiban penurunan emisi untuk tiap ne-