• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL BAPAK MAHMUD ZAK

September 1984. Empat tahun kemudian, beliau kembali ke Indonesia dan kembali mengajar di ITS Surabaya.

Pada tahun 1991, Pak Zaki juga menjadi Irjen Departemen Pendidikan dan Budaya di Jakarta sampai tahun 1994. Setelah itu, beliau menjadi Guru Besar ITS Surabaya sampai saat ini. Berikut ini adalah wawancara dengan Bapak Mahmud Zaki.

Mohon ceritakan bagaimana Bapak bergabung dengan ITS?

Saya termasuk salah satu yang direkrut Pemerintah untuk beasiswa Ikatan Dinas pada golongan I (pertama). Saya sempat kuliah di UGM selama satu tahun. Karena mendapatkan beasiswa ini, saya menyelesaikan program S1 dan S2 saya di Australia. Sepulang dari Australia, saya diwajibkan untuk mengabdi di salah satu perguruan tinggi milik pemerintah. Terdapat 5 pilihan perguruan tinggi saat itu yaitu UGM, Uni- versitas di Ujung Pandang, ITS, ITB, dan USU. Setelah pertimbangan banyak hal, ITS menjadi pilihan saya. Alasannya adalah tidak terlalu jauh dari keluarga besar, dan ITS juga belum memiliki sebuah nama yang dikenal dan masih baru sehingga peluang saya untuk berkarya sangat besar. Saya mulai bergabung di ITS ini pada tahun 1962.

Bagaimana awal mula terbentuknya FIPIA? Apakah pada waktu itu su- dah ada Jurusan Fisika Teknik?

Universitas Airlangga lah yang pertama kali hendak mendirikan FIPIA. Saya ikut terlibat dalam persiapannya. Namun usulan ini gagal, hal ini mungkin disebabkan UNAIR hanya memiliki Jurusan Farmasi saja. Pak Marseno, Rektor ITS mencetuskan ide untuk mendirikan FIPIA di ITS. Kemudian dibentuklah panitia inti, dengan Saya sebagai Ketua, Sekretaris Pak Suryanto, dan anggotanya Pak Dumin, Pak Abu Hasan, Pak Wiking dan Pak Bambang. Usulan ini pun dikirim ke Jakarta, dan ITS pun menda- pat persetujuan dengan persyaratan tidak adanya anggaran tambahan. Pada saat itu terdapat Fisika dan Kimia, dengan dosen yang telah ada (Pak Basir, Pak Hikam, Bu Ninik, dan satunya adik Pak Marsyam). Pada saat itu ITS telah mendapat laborato- rium Fisika Dasar, Paket Matematika Dasar, Paket Kimia Dasar.

Namun, yang mendapat persetujuan hanyalah Tingkat Sarjana Muda (BSc), se- hingga tahun 1965 mulai Open Recruitment mahasiswa dengan Jurusan Matematika/ Fisika dan Kimia. Pada tingkat pertama, jurusan Matematika dan Fisika ini masih ber- gabung. Namun pada tingkat kedua dan ketiga, keduanya mulai berpisah. Untuk kurikulum tingkat keempat dan kelima (Doktoral), Fisika ini dipecah menjadi Fisika Teori, Fisika Eksperimental, Fisika Terapan, dan Fisika Teknik. Fisika dipecah men-

jadi Fisika Teori, Fisika Eksperimental (sebagai pengembangan Fisika Teori), Fisika Terapan dan Fisika Teknik (sebagai penerapan di Industri).

Pada tahun awal berdirinya FIPIA, terdapat sekitar 40-an mahasiswa yang men- daftar di Fisika Matematika. Mahasiswa FIPIA 70% berasal dari Jawa Timur. Pada saat itu, hanya sedikit masyarakat yang melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi, se- hingga kalangan mahasiswa ini memiliki peran yang tinggi dalam masyarakat.

Jaman dulu kuliah bisa lama 8-9 tahun mungkin karena sikap mahasiswa dan ka- pasitas dosennya. Dahulu belum ada standard perkuliahan. Hingga pada akhirnya dosen diwajibkan mengikuti AKTA 5 (pelatihan instruksional mengajar di perguruan tinggi).

Lulusan pertama sarjana yaitu pada tahun 1978. Ujian kelulusannya menggu- nakan uji komprehensi. Kurikulum FIPIA pada saat itu masih sama dengan yang ada di ITB. Ada 4 lulusan sarjana muda, yaitu Fisika Teori, Fisika Rekayasa Instrumental, Fisika Terapan, Fisika Terapan, dan Fisika Teknik.

Mohon ceritakan apa yang melatar belakangi Jurusan Teknik Fisika ber- gabung dengan Fakultas Teknologi Industri?

Berpisahnya Teknik Fisika hingga masuk dalam FTI (Fakultas Teknik Industri) bukanlah kehendak kita. Hal itu merupakan intruksi dari pemerintah. Pada tahun 1982, pemerintah mengeluarkan Struktural Perguruan Tinggi. Maka, Fisika Teknik ter- golong dalam FTI. Sebelum terjadi perpisahan itu, jumlah lulusan mahasiswa Fisika Teknik lebih banyak daripada mahasiswa Fisika. Setelah terjadi pelepasan Fisika Tek- nik masuk dalam FTI, dosen dan mahasiswa bebas memilih di mana dia akan melan- jutkan. Namun karena tidak ada ketentuan pastinya, pembagian tersebut kurang mer- ata. Selebihnya tidak ada permasalahan yang serius.

Mestinya saya juga memilih fisika teknik, karena background saya adalah fisika terapan. Tetapi, karena saya juga yang mendirikan fisika, maka saya memutuskan memilih fisika. Tahun 1982, saya masih menjabat sebagai Rektor ITS ketika proses pe- leburan FIPIA menjadi FMIPA dan Teknik Fisika ke FTI.

Bagaimana pendapat Bapak mengenai keilmuan Teknik Fisika?

Fisika merupakan pengembangan ilmu murni dan terapan. Sedangkan Fisika Teknik itu diperlukan sebagai jembatan antara ilmuwan dan teknisi. Jadi Fisika Teknik harus belajar fisika juga teknik. Sehingga tidak terjadi sekat antara orang fisika dan teknik. Terutama di bidang industri. Waktu itu, di Fisika Teknik, belajar proses seperti Tek- nik Kimia, belajar struktur, teknik listrik, dan ilmu bahan. Jadi, Fisika Teknik itu men-

genai sains dan teknik. Fisika Teknik itu ilmu yang dibutuhkan kebutuhan pasar yang berorientasi perkembangan. Seiring berjalannya waktu, Fisika Teknik berkembang menjadi teknik yang tersendiri.

Bagaimana pandangan Bapak terhadap perguruan tinggi di Indonesia?

Kita ini sudah berpikir bisnis, mencari reputasi dan rangking. Sedangkan perguruan tinggi di luar negeri, tidak mengejar rangking semata, tetapi justru karya dan ki- prahnya. Coba lihat ke bawah, kondisi rakyat kita. Jangan lupa kita harus berkarya. Mahasiswa itu ibarat kata pinjaman negara pada masyarakat. Dan apa yang telah kita berikan kepada masyarakat itu mungkin belum bisa melunasi. Alat-alat lab yang kita beli itu sejatinya milik rakyat. Mahasiswa itu milik rakyat. Jangan lupa harapan rakyat terhadap mahasiswa.

Bagaimana Bapak mengenal Tek- nik Fisika?

Saya bersyukur memiliki guru SMA yang pandai menerangkan fisika, sehingga saya menjadi tertarik. Saya mengenal Fisika Teknik sejak di bangku SMA. Kakak kelas saya di SMA, Pak Harsono, datang ke Solo dan mengenalkan Fisika Teknik kepada saya. Beliau adalah lulusan Fisika Teknik ITB. Pada waktu pendaftaran masuk per- guruan tinggi, saya sempat dimarahi pani- tia. Pasalnya, peserta diharuskan mendaf- tar di dua jurusan. Saya tulis pilihan per- tama Fisika Teknik, ITB, dan pilihan ke- dua Fisika Teknik, ITB. Ya boleh saja kan! Karena, memang saya tidak punya minat di tempat lain. Akhirnya syukur alhamdulilah, pada tahun 1961, saya diterima di Fisika Teknik ITB. Pada waktu itu mahasiswa dari Solo maupun dari Jawa Tengah yang diterima di ITB sangat sedikit.

Bagaimana suasana perkuliahan pada waktu itu?

Suasana perkuliahan di ITB pada waktu itu sangatlah formil. Saya sempat diajar dosen-dosen dari luar negeri. Bahasa pengantarnya bahasa Inggris. Selama kuliah, saya ikut aktif terlibat kegiatan belajar di laboratorium, saya pelajari dan kuasai berbagai peralatan laboratorium yang ada. Pada waktu itu, saya juga berkesempatan mengerjakan proyek-proyek rekayasa pengkondisian lingkungan pada gedung-gedung pemerintahan. Dan tugas akhir saya pada waktu itu tentang ilmu bahan polikristalin. Maunya membuat bahan monokristalin, tapi tidak berhasil, namun dapat menemu- kan hal menarik bagaimana perlakuan suhu pada sifat bahan tersebut.