menjadi rekomendasi atau pedoman bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam pengambilan kebijakan pembangunan kawasan pesisir dan masyarakat- nya yang disesuaikan dengan karakteristik khas kawasan tersebut.
Kawasan Timur Indonesia memiliki potensi sumber daya pesisir dan laut yang sangat potensial menyebabkan wilayahnya sangat menjanjikan bagi upaya meningkat- kan pendapatan masyarakat di wilayah pesisir dan dapat menjadi salah satu sumber pemasukan bagi kas daerah. Komunitas masyarakat pesisir akan terbentuk secara alamiah di sepanjang garis pantai, yang sangat menggantungkan hidupnya dari potensi-potensi yang ada di kawasan pesisir tersebut. Komunitas-komunitas masyarakat ini akan sangat menentukan dalam maju atau tidaknya kawasan pesisir di- mana mereka bermukim. Namun kawasan pesisir bukannya aman terhadap penetrasi pembangunan yang tidak mengedepankan prinsip-prinsip pemanfaatan kawasan pe- sisir secara berkelanjutan. Dengan semakin padatnya wilayah daratan dan berkurangnya ketersediaan lahan bagi proyek-proyek infrastruktur baik perumahan, perkantoran dan kawasan industri. Kawasan pesisir menjadi alternatif yang baik karena ketersediaan lahan dan daya tariknya secara ekonomi masih sangat terbuka. Akibatnya kawasan pesisir yang notabene selama ini hanya menjadi kawasan lokal ekonomi masyarakat pesisir sedikit demi sedikit bergeser menjadi kawasan ekonomi yang mengalami eforia pembangunan. Pola hidup masyarakatnya pun juga bergeser, yang semula sangat tradisional akhirnya secara perlahan mengalami fase transisi. Bu- kan hanya kebudayaan masyarakat yang berubah, tapi kelangsungan sumber daya pe- sisir, dan kondisi geografisnya pun akan berubah.
Potensi yang ada di pulau-pulau kecil dan wilayah pesisir harus mampu dikelola dengan sebaik mungkin sehingga dapat bermanfaat bagi kemaslahatan masyarakat se- tempat dan dapat menjadi penyokong utama berkembangnya Negara Indonesia seba- gai salah satu Poros Maritim dunia. Untuk mewujudkan konsepsi besar tersebut dan menyelesaikan berbagai persoalan diwilayah pesisir dan pulau-pulau kecil maka san- gat dibutuhkan adanya riset-riset terpadu atau riset perorangan yang dapat menjadi “oase” baru ditengah sedikitnya program pembangunan di daerah saat ini yang bersan- dar pada kajian akademik.
Hal lain yang saat ini masih terasa kurang adalah pengembangan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil belum berorientasi berorientasi pasar (market oriented). Kawasan-kawasan pesisir andalan yang memiliki potensi yang besar tidak dapat “di- jual” atau dalam arti kata lemah dalam konteks market places (pemasaran kawasan). Sangat disadari untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam pembangunan daerah di era otonomi bertumpu pada kemampunan daerah untuk memanfaatkan se-
gala potensi dan sumber daya yang dimiliki. Dengan demikian daerah akan menentu- kan sendiri pola dan bentuk wilayah serta komoditi yang perlu dikembangkan untuk menopang pembangunan ekonomi daerah. Salah satu yang berperan sebagai ujung tombak dalam peningkatan ekonomi daerah adalah wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Tentunya wilayah-wilayah yang memiliki daerah pesisir dan pulau-pulau kecil akan memainkan peranan yang amat penting untuk meningkatkan pendapatan daerah dan daya saing daerah jika dikelola dengan baik.
Pengembangan ekonomi daerah berbasis kawasan andalan pada desa pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia Bagian Timur belum optimal dilakukan. Sehingga ma- sih diperlukan studi yang komprehensif untuk menentukan model pengembangan ka- wasan andalan yang efektif untuk dikembangkan. Pengalaman pada beberapa daerah pengembangan kawasan andalan kurang optimal karena menekankan pada sisi penge- lolaan project oriented, kurang terfokus pada kesinambungan program jangka pan- jang. Desa pesisir dan pulau-pulau kecil selama ini belum dipandang sebagai organ- isasi bisnis yang mana dalam cara pandang tersebut, desa pesisir dan pulau-pulau ke- cil akan menjadi entitas yang dapat diperlakukan sebagaimana layaknya sebuah organ- isasi bisnis yang pada umumnya harus menjaga kelestariannya, berjuang dan bersaing dengan kawasan lainnya baik dalam skala lokal, regional maupun nasional untuk merebut investasi maupun pangsa pasar unggulannya sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut.
Potensi pembangunan yang terdapat di wilayah pesisir dan pulau kecil dapat di- bagi dalam tiga kelompok, yaitu (1) sumber daya dapat pulih (renewable resources) ; (2) sumber daya tak dapat pulih (non-renewable resources) ; (3) jasa-jasa lingkungan (environmental services). Selama ini ketiga kelompok diatas belum secara optimal di- manfaatkan untuk meningkatkan produk domestik bruto dan kesejahteraan rakyat. Ketertinggalan pembangunan wilayah pesisir dan pulau kecil selama ini menunjukan bahwa sektor pesisir dan pulau kecil belum menjadi prioritas dalam pembangunan ekonomi nasional.
Menurut perhitungan Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB dan Bappenas (2004) di dalam Kusumastanto (2007b), pada tahun 1995 nilai PDB sektor kelautan sebesar Rp. 55,9 trilyun atau sekitar 12,38 % dari total produk do- mestik bruto. Kemudian pada tahun 2002, kontribusi sektor kelautan tersebut men- ingkat menjadi Rp. 322,1 trilyun atau sekitar 23,57 %. Bila dicermati distribusi bidang terhadap kontribusi sektor kelautan pada PDB maka dapat dilihat bahwa sektor per- tambangan dan perikanan mendominasi bidang-bidang lainnya.
Dominasi sektor pertambangan dan perikanan terhadap PDB dapat disebabkan oleh lemahnya fungsi perencanaan dan pengelolaan pembangunan. Sehingga aspek- aspek lain cenderung diabaikan padahal potensi-potensi lain masih bisa dioptimalkan pemanfaatannya. Jika menilik tujuan jangka panjang pembangunan wilayah pesisir dan lautan di Indonesia antara lain yaitu (1) peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui perluasan lapangan kerja dan kesempatan berusaha; (2) pengembangan pro- gram dan kegiatan yang mengarah kepada peningkatan dan pemanfaatan secara opti- mal dan lestari sumber daya di wilayah pesisir dan lautan; (3) peningkatan kemam- puan peran serta masyarakat pantai dalam pelestarian lingkungan; (4) peningkatan pendidikan, latihan, riset, dan pengembangan di wilayah pesisir dan lautan. Terlihat pada poin (2) tujuan tersebut menyebutkan tentang peningkatan dan pemanfaatan se- cara optimal sumber daya pesisir dan lautan. Namun pada poin (4) memberikan pen- gertian bahwa dalam pengelolaan wilayah pesisir dan lautan tidak cukup pada aspek pemanfaatan saja, akan tetapi perlu didukung oleh aspek penelitian dan pengemban- gan. Sehingga untuk itu diperlukan keseimbangan dalam pengelolaan potensi sumber daya wilayah pesisir dan lautan antara pemanfaatan dan penelitian serta pengemban- gan.
Disisi lain potensi pengembangan pulau kecil salah satunya dapat diarahkan pada pengembangan wisata pulau-pulau kecil melalui kegiatan ekoturisme. Ekotur- isme sendiri merupakan istilah yang merujuk pada perjalanan wisata kearah alami, memberikan keuntungan ekonomi dan mempertahankan budaya masyarakat setem- pat (Pratikto 2009). Salah satu bentuk ekoturisme adalah parawisata bahari, yang con- toh keberhasilan pengelolaannya di Pulau Karibia dimana lebih kurang 100 juta turis tiap tahun mendatangi pulau Karibia dan memberikan pemasukan sekitar 12 % GDB negara tersebut (Pratikto 2009). Upaya pengembangan pulau-pulau kecil diarahkan untuk memberikan kemakmuran dan nilai tambah bagi penduduk lokal yang berdom- isili di pulau-pulau kecil. Menurut Pratikto (2005) pengembangan dan pembangunan pulau-pulau kecil harus berpegang pada prinsip sustainable development yang meng- gabungkan 3 (tiga) pencapaian utama yang meliputi economic efficiency, pemerataan pendapatan, dan upaya pemeliharaan atau pelestarian sumber daya alam. Pencapaian ini dapat dilakukan melalui perencanaan dan upaya pengembangan secara terpadu.
Pengembangan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil harus menjadi salah satu cara pemberdayaan masyarakat melalui program-program yang dapat meningkatkan kualitas hidup dan kapabilitas masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir dan pu- lau kecil. Keberhasilan pembangunan pada kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil da- pat terwujud jika didukung oleh kemampuan mencari terobosan pasar khususnya in-
ternational market. Langkah strategis ini perlu dilakukan untuk mengenali perilaku dan kebutuhan konsumen baik dalam maupun luar negeri. Upaya mempertemukan potensi yang dimiliki kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dengan kebutuhan pasar merupakan tantangan terbesar. Bisnis plan pengembangan potensi kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil kususnya untuk menerobos pasar internasional tetap berbasis- kan potensi kelautan, perikanan dan parawisata bahari. Namun upaya pemanfaatan potensi yang dimiliki oleh kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil harus mempertim- bangkan aspek-aspek perlindungan ekosistem perairan dan kelanjutan sumber daya alam yang dimiliki, dalam bahasa yang lebih sederhana adalah pemanfaatan yang berwawasan lingkungan.
Selama ini potensi kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang dimiliki oleh su- atu daerah belum dimanfaatkan secara optimal sebagai kawasan yang dapat diandal- kan untuk menopang perekonomian daerah. Padahal jika dimanfaatkan seoptimal mungkin maka akan memiliki posisi strategis didalam struktur alokasi dan sumber daya ekonomi daerah. Menurut Rahmalia (2003) nilai ekonomi kawasan pesisir dan pualu-pulau kecil mengandung sekurang-kurangnya tiga unsur economic rent yaitu ricardian rent, environmental rent, dan social rent. Ricardian rent adalah rent ber- dasarkan kekayaan dan kesesuaian sumber daya yang dimiliki untuk berbagai penggu- naan aktivitas ekonomi, seperti kesesuainnya untuk budidaya tambak, kesesuaian fisik untuk pengembangan pelabuhan, dan sebagainya. Environmental rent kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil adalah nilai atau fungsi kawasan yang didasarkan atas fungsinya terhadap keseimbangan lingkungan. Sedangkan social rent adalah menyang- kut manfaat kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil untuk berbagai fungsi sosial seperti nilai-nilai budaya masyarakatnya.
Berbagai sektor dapat dikembangkan dalam upaya memajukan dan memakmur- kan perekonomian negara, mulai dari perikanan tangkap perikanan budidaya, indus- tri pengolahan hasil perikanan, industri bioteknologi maritim, pertambangan dan en- ergi, pariwisata bahari, angkutan laut, jasa perdagangan, industri maritim, pembangu- nan maritim (konstruksi dan rekayasa), benda berharga dan warisan budaya (cultural heritage), jasa lingkungan konservasi sampai dengan biodiversitasnya. Oleh karena itu setiap Desa Pesisir di Indonesia seharusnya mengarah pada konsep pembangunan yang terintegrasi antara potensi daratan dan potensi kelautan sehingga pada akhirnya Laut yang ada tidak menjadi hambatan namun menjadi peluang untuk pembangunan di Desa-Desa tersebut.
Khusus di Kawasan Timur Indonesia dimana banyak terdapat Desa-Desa pesisir yang menjadi pusat aktivitas masyarakat namun belum berkembang sebagai Desa
Maritim. Saat ini Desa-Desa pesisir pada Kawasan Timur Indonesia belum dapat mensinergikan potensi daratan dan potensi laut serta posisi geo strategisnya sehingga belum secara maksimal dalam melakukan pengembangan Desa-Desa tersebut. Selain itu sampai saat ini belum ditemukan model yang tepat dalam mengembangkan Desa Pesisir di Kawasan Timur Indonesia sebagai Desa Maritim yang memadukan pemban- gunan disektor darat dan sektor kelautan selain itu dapat memposisikan diri sebagai Desa yang menawarkan jasa baik untuk kepentingan ecotourism, perdagangan atau transportasi.
Desa Pesisir selama ini belum dipandang sebagai organisasi bisnis yang mana da- lam cara pandang tersebut Desa Pesisir akan menjadi entitas yang dapat diperlakukan sebagaimana layaknya sebuah organisasi bisnis yang pada umumnya harus menjaga kelestariannya, berjuang dan bersaing dengan kawasan lainnya baik dalam skala lo- kal, regional maupun nasional untuk merebut investasi maupun pangsa pasar unggu- lannya sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawa- san Desa tersebut. Selain itu Desa Pesisir di Kawasan Timur Indonesia dipengaruhi oleh indikator-indikator tertentu yang saling terkait serta dipengaruhi oleh faktor- faktor lainnya yang terdapat pada aspek ekonomi maupun sosial yang berjalan secara dinamik. Sehingga dengan kondisi tersebut maka model strategi pengembangan Desa Pesisir perlu dibangun melalui pendekatan dinamika sistem. Hal lain yang juga perlu mendapatkan perhatian adalah mengenai tingkat persaingan antar Desa Pesisir den- gan Desa-Desa disekelilingnya. Situasi persaingan antar Desa Pesisir dengan Desa- Desa lainnya yang melibatkan dua atau lebih kepentingan memerlukan adanya pen- dekatan Teori Permainan (Game Theory) yaitu suatu pendekatan matematis untuk merumuskan situasi persaingan dan konflik antara berbagai kepentingan yang menen- tukan perkembangan Desa Pesisir sebagai Desa Maritim.
Pada bagian ini ditampilkan profil alumni sekaligus kesan dan pesan mereka selama kuliah di Teknik Fisika ITS dan ketika menekuni profesinya. Tentu saja, bagian ini bu- kan sebagai “ajang pamer” namun lebih baik dimaknai bahwa para alumni ini berbagi pengalaman suka maupun duka, dan para pembaca dapat mengambil hal-hal yang diperlukan. Penyusun menghubungi para alumni dan memberikan serangkaian per- tanyaan wawancara. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan berkaitan dengan: (i) ala- san memilih Teknik Fisika ITS, (ii) situasi perkuliahan di jaman mereka, (iii) kesan- kesan selama perkuliahan, (iv) pengalaman pengembangan karir, dan (v) pesan untuk pengembangan pendidikan Teknik Fisika ITS.
Seperti disampaikan di pendahuluan, kami mengalami kesulitan siapa sajakah yang ditampilkan dari lebih 2600 alumni ini. Penyusun melakukan cara sporadis yaitu sampling beberapa alumni dari berbagai angkatan dan ragam profesi. Kami sangat yakin masih banyak alumni yang mempunyai pengalaman dan cerita menarik untuk mengisi bagian ini. Atas nama keterbatasan waktu dan ukuran buku, kami me- nampilkan 22 profil alumni Teknik Fisika ITS. Berikut ini susunan alumni berdasar- kan urutan abjadnya:
1. Bapak Agus Hartanto
2. Ibu Apriani Kusumawardhani 3. Bapak Bambang Setiobroto 4. Bapak Bowo Setianto
5. Bapak Chayun Budiono 6. Bapak Dedi Septiadi 7. Bapak Dhany Arifianto
8. Bapak Dicky Edwin Hindarto 9. Bapak Eko Setiadi
10.Bapak Ganesha R. Darmawan 11.Bapak Judi Achmadi
12. Bapak Mahendra Ega Higuitta 13. Bapak Mas’ud Khamid
14. Bapak Moekti Machfoed