Daftar Gambar
PETA LOKASI PROGRAM MATASIRI DI PULAU SERAM
A. Memahami Konteks Lokal
D
inamika konlik dan kekerasan telah menjadi bagian dari proses sejarah atau perjalanan panjang negeri ini, sejak bangsa Indonesia merdeka tahun 1945 sampai saat ini. Sekalipun cakupan peristiwanya bisa sporadis atau meluas, dalam skala terbatas maupun besar. Kejadian konlik dan kekerasan juga erat kaitan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang begitu majemukdengan keragaman suku, ras, agama, ailiasi politik, dan
se te rusnya dengan gambaran kerentanan sosial (Nasikun, 1991). Turun naik ketegangan sosial juga beririsan dengan
konigurasi politik yang ada. Sekalipun, di sisi lain hal
itu dapat dipandang sebagai potensi kekuatan dalam mewujudkan negara demokrasi yang besar jikalau mampu melakukan pengelolaan kema jemukan struktur sosial itu hingga terbangunnya integrasi sosial dalam skala nasional (Sujito, 2012). Itulah konteks yang perlu dipahami, bahwa mengapa Indonesia sejak pergeseran kekuasaan menuju
demokrasi, ternyata juga konlik dan kekerasan masih ter- jadi dan mengiringi arus perubahan sosial dan tata politik (IRE, 2013).
Kita bisa lihat dan catat rekam jejaknya, bahwa ke- tegangan sosial politik Indonesia sejak terjadi pergeseran struktur kekuasaan dari corak politik yang otoriter menuju demokrasi, juga diwarnai ragam fenomena konlik dan kekerasan. Fenomena konlik dan peristiwa kekerasan itu diantaranya terjadi di Poso-Sulawesi Tengah maupun- Maluku. Pada penghujung tahun 1990-an dan diawal tahun 2000-an, Maluku dan Poso (Sulawesi Tengah) me- ngalami serentetan kejadian kekerasan yang begitu mem- prihatinkan. Munculnya berbagai kejadian kekerasan itu, bahkan membuat beberapa kalangan cenderung me ng-
klasiikasikan Indonesia ke dalam negara “gagal” atau
“berantakan” (Nordholt dan van Klinken, 2009:1). Pe- nilaian demikian mengasumsikan bahwa salah satu pra- syarat terjadinya pembangunan suatu negara adalah kon- disi aman atau damai. Dalam situasi perang, mencapai tujuan pembangunan tentu sulit dicapai. Tanpa adanya perdamaian, maka pembangunan susah diwujudkan.
Adalah sebuah ironi, di saat berbagai daerah lain di Indo- nesia “merayakan” kebijakan desentralisasi dan oto nomi daerah yang diyakini sebagai tonggak awal untuk mem - peroleh keadilan pembangunan dan pemerataan wilayah di Indonesia, ternyata justru Ambon (Maluku) harus meng- hadapi insiden kekerasan dalam jumlah yang sangat besar
(van Klinken, 2008:1). Konlik yang pernah terjadi di Maluku tampaknya menjadi sejarah kelam bagi masyarakat yang tinggal di pulau kaya rempah-rempah tersebut.
Merujuk dari laporan International Crisis Group (2000), lebih dari 5.000 orang meninggal dunia, terdapat tidak
Bina Damai Melalui MATASIRI 5
kurang dari 500 ribu orang yang harus meninggalkan rumahnya akibat konlik dan kekerasan di Maluku.1 Apa yang terjadi saat itu memang di luar dugaan masyarakat Maluku. Kehidupan yang semula aman dan damai, tiba- tiba menjadi rusuh di mana-mana, yang akhirnya memaksa banyak warga meninggalkan rumahnya untuk mengungsi ke tempat yang diyakini jauh lebih aman. Thorburn (2009:291) mencatat bahwa antara tahun 1999-2004, satu dari tiga orang yang tinggal di Maluku pernah mengungsi.
Peristiwa peperangan antar kelompok masyarakat yang terjadi di Maluku pada akhirnya berdampak munculnya pengungsi, karena para korban terpaksa harus berpindah lokasi dari tempat tinggalnya semula untuk menghindari tekanan kekerasan. Sebagaimana dikatakan Hugo (2002), peperangan yang terjadi sesama manusia (human conlict) merupakan penyebab utama adanya perpindahan penduduk. Terlihat jelas dalam kasus di Maluku, sebagian masyarakat terpaksa harus pindah ke daerah lain karena terjadinya pe- rang antar kelompok masyarakat tersebut. Secara khu sus, fenomena pengungsi ini lazim disebut internally displaced persons (IDPs), sebuah komunitas pengungsi yang harus berpindah daerah tetapi masih dalam lingkup satu negara, bukan disebabkan oleh adanya peristiwa alam seperti banjir tetapi karena adanya kerusuhan atau konlik antar kelompok di suatu daerah misalnya yang pernah terjadi di Maluku.
1 Soal angka 500 ribu ini, tidak ada angka akurat yang bisa dijadikan rujukan. Perserikatan Bangsa-Bangsa menaksir angka 500 ribu sementara pihak Pemerintah mengatakan ada sekitar 570 ribu orang yang harus menjadi pengungsi karena meninggalkan rumahnya. International Crisis Group, “Indonesia : Overcoming Murder And Chaos In Maluku,” ICG Asia Report No. 10, 19 December 2000, Jakarta/Brussels.
Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, dinamika
konlik horizontal di Maluku diyakini semakin menurun. Frekuensi konlik dan kekerasan kian menurun, bahkan pembangunan perdamaian kian memberi harapan. Namun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa dampaknya masih dirasakan dan menjadi beban persoalan hingga saat ini. Akibat-akibat konlik dan kekerasan yang tidak terlalu kentara tetapi menjadi ancaman bagi kelangsungan per- damaian di Maluku adalah belum tuntasnya proses pe- mulihan (recovery) para korban kerusuhan, terutama eks-pengungsi (IDPs), yang kini telah kembali ke daerah asalnya, atau mereka yang telah dikembalikan melalui program pemerintah ke daerah resettlement.
Proses pemulihan menghadapi tantangan di dalam men- dorong kerjasama berbagai pihak, mulai dari masyarakat sipil hingga pemerintah daerah sebagai upaya menciptakan kesejahteraan di tingkat lokal. Hal ini tidak mudah di- lakukan, mengingat terjadinya konlik sebetulnya berakar pada adanya ketidakpercayaan (distrust) antara satu pihak dengan yang lain. Ketidakpercayaan tersebut pada akhirnya menimbulkan ketersisihan (marginalisasi) secara ekonomi- sosial-politik, terutama bagi pihak yang secara kuantitas lebih sedikit, atau yang dialami komunitas minoritas. Hal ini dialami oleh IDPs yang membuat atau secara sengaja dibuatkan pemukiman secara tersendiri oleh pemerintah.
Salah satu persoalan yang dihadapi IDPs adalah sulitnya meng akses atau terlibat dalam proses pembangunan di daerah, misalnya dalam memanfaatkan proses Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Temuan awal IRE dan Mercy Corps (2011) dalam Program MATASIRI di
Ambon, telah berhasil mengidentiikasi berbagai hambatan,
Bina Damai Melalui MATASIRI 7
mendominasi perwakilan publik dalam proses Musrenbang, usulan masyarakat (secara lisan dan tertulis lewat proposal) tidak jelas kelanjutannya. Usulan yang telah disetujui pun tidak pasti kapan dilaksanakan, yang sebenarnya untuk problem terakhir ini hampir sama dialami berbagai daerah soal ketidakberlanjutan usulan dalam kebijakan. Lamanya respon atas usulan melalui Musrenbang membuat masyarakat harus melakukan swadaya untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur publik.
Selain itu, walaupun IDPs ini telah kembali atau berada di daerah pemukiman yang disediakan pemerintah, me- reka masih menghadapi berbagai masalah, misalnya: keter- batasan akses atas pekerjaan, minimnya fasilitas publik, masih menyewa rumah yang dipakai sebagai tempat tinggal, dan susahnya terlibat dalam sistem perencanaan pembangunan terutama di desa/negeri masing-masing.2
Paling tidak ada tiga temuan utama. Pertama, rata¬rata pe nempatan komunitas IDPs di suatu lokasi merupakan inisiatif atau upaya masyarakat sendiri dan bukan program pemerintah. Masalah akses pekerjaan dan tempat tinggal masih dirasakan. Kedua, kendati proses¬proses perencanaan di tingkat negeri (Musrenbang) telah dilakukan, akan tetapi tingkat pelibatan dan partisipasi warga dan kelompok masyarakat masih rendah. Ketika ada keterlibatan pun, ‘suara’ (usulan, masalah atau kebutuhan) mereka cen- derung lemah, bahkan cenderung sayup tak terdengar.
Ketiga, kelompok-kelompok masyarakat yang ada di tingkat negeri kurang terorganisir. Upaya pengorganisiran mereka biasanya dapat berjalan manakala ada bantuan program, atau ketika proposal yang mereka ajukan ke suatu dinas
2 Berdasar hasil assestment yang dilakukan Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogyakarta (2012) dalam Program Matasiri.
disetujui. Jika tidak, mereka cenderung meredup dan ke- mudian hilang dengan sendirinya.
Berdasarkan temuan asesmen tersebut, nampaknya negeri3 belum memiliki rencana pembangunan jangka me ne ngah desa (RPJMDes) yang sistematis dan terdo- kumentasi dengan baik. Selain itu, Musrenbang negeri me - mang berjalan setiap tahun, tetapi dapat dikatakan hanya sebatas formalitas. Belum adanya RPJMDes ini telah mem- buat skema pembangunan di desa menjadi tidak terencana dan pada gilirannya tidak bisa menjawab ma salah-masalah yang dihadapi warga, terutama kelompok miskin.