IDPs di Nusaniwe
E. Negeri Soya
Perpindahan para leluhur orang Soya datang secara bergelombang dari Pulau Seram yang kemudian menetap di Negeri Soya. Mereka membentuk clan baru yang kemudian menjadi nama pada tempat kediamanya yang baru. Nama ini sama dengan nama di tempat asalnya. Hal ini dimaksudkan sebagai kenang-kenangan atau peringatan. Negeri Soya kemudian berkembang menjadi satu kerajaan dengan sembilan negeri kecil yang dikuasai seorang Raja. Kesembilan negeri kecil tersebut yakni: Uritetu, Honipopu, Hatuela, Amantelu, Haumalamang, Ahuseng, Pera, Erang, dan Sohia.
Setiap Rumah Tau (mata rumah) yang ada memilih salah satu batu yang dianggap sebagai batu peringatan kedatangan mereka pertama kalinya di Negeri Soya. Batu-batu ini disebut “batu teung”. Saat ini di Soya dapat ditemukan beberapa teung antara lain: 1) Teung Samurele
untuk Rumah Tau Rehatta, 2)Teung Saupele untuk Rumah Tau Huwaa, 3) Teung Paisina untuk Rumah Tau Pesulima, 4) Teung Souhitu untuk Rumah Tau Tamtelahittu, 5)
Teung Rulimena untuk Rumah Tau Soplanit, 6) Teung Pelatiti untuk Rumah Tau Latumalea, 7) Teung Hawari
untuk Rumah Tau Latumanuwey, 8) Teung Soulana untuk
Rumah Tau de Wana, 9) Teung Soukori untuk Rumah Tau Salakory, 10) Teung Saumulu untuk Rumah Tau Ririmasse, 11) Teung Rumania untuk Rumah Tau Hahury, 12) Teung Neurumanguang untuk Rumah Tau Latuputty.
Di antara teung-teung yang ada, terdapat dua tempat
5 Data yang digunakan dalam tulisan bagian ini, bersumber dari Laporan Hasil Assessment IRE Yogyakarta tahun 2012 dan RPJM Negeri Soya tahun 2013 – 2017.
Negeri dan Kelurahan Lokasi MATASIRI 55
yang mempunyai arti tersendiri bagi anggota-anggota
clan tersebut yaitu: (1) Baileo Samasuru, adalah tempat untuk mengadakan rapat; dan (2) Tonisou yang merupakan perkampungan khusus bagi Rumah Tau Rehatta yang di dalam suhat pun disebut sebuah Teung. Awalnya pemerintahan Negeri Soya menggunakan sistem Saniri Latupatih, dimana sistem ini, terdiri dari: Upulatu (Raja), Para Kapitan, Kepala-Kepala Soa, Patih, orang kaya, Kepala Adat Maueng, Kepala Kewang. Saniri Latupatih dilengkapi dengan “Marinyo”.
Dahulu, para penduduk Negeri Soya melangsungkan upacara adat Cuci Negeri selama lima hari berturut-turut. Hal ini dilakukan segera setelah musim barat (bertiupnya angin barat) yang jatuh pada bulan Desember. Prosesi tersebut dipimpin oleh Upu Nee. Bersama dengan beberapa pemuda, mereka menuju ke Sirimau tempat Upulatu. Pemuda-pemuda yang terlibat dalam upacara tersebut berasal dari klan-klan yang bernaung pada Soa Pera.
Penyelenggaraan perayaan upacara adat tiap tahun di Negeri Soya bertujuan untuk memelihara dan meng- hidupkan sifat dan nilai-nilai positif yang ada secara terus menerus, baik kepada generasi sekarang, maupun generasi mendatang. Nilai-nilai yang terkandung dalam upacara ini antara lain: musyawarah, gotong royong, kebersihan, dan toleransi. Unsur-unsur tersebut di atas yang menjadikan upacara adat Cuci Negeri dapat bertahan hingga saat ini.
Upacara adat ini mengalami perubahan tata cara penyelenggaraan, ketika agama Kristen yang dibawa oleh orang Portugis dan Belanda. Dengan masuknya agama Kristen yang dibawa oleh bangsa barat, maka beberapa hal yang berbau animisme ditanggalkan dan disesuaikan dengan ajaran Kristen. Persiapan yang berkenaan dengan
penyambutan arwah leluhur ditiadakan. Makna kegiatan ini, kemudian dikaitkan dengan persiapan-persiapan perayaan menyambut hari Raya Natal, Kunci Tahun, dan Tahun Baru.
Negeri Soya terletak di Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. Negeri Soya memiliki wilayah seluas 59,65 Km2, terbagi dalam 9 RW dan 18 RT, berjarak 5 Km dari ibu kota kecamatan dan 7 Km ke pusat Kota Ambon/Ibu kota
propinsi. Secara geograis Negeri Soya, berbatasan dengan Negeri Hutumuri dan Leahari di sebelah timur, Negeri Urimesing di sebelah barat, Negeri Hatalae, Naku Kilang dan Ema di bagian selatan, dan Negeri Halong dan Passo di bagian utara.
Jumlah penduduk Negeri Soya sebanyak 8.679 jiwa, dengan komposisi terdiri dari laki-laki sebanyak 4.302 jiwa dan perempuan sebanyak 4.377 jiwa. Penduduk tersebar pada 4 lokasi yakni pada negeri induk (pusat pemerintahan) sebanyak 823 jiwa/174 KK, Dusun Kayu Putih sebanyak 3.257 jiwa/674 KK, Dusun Tabea Jou sejumlah 679 jiwa/354 KK, dan Dusun Air Besar sejumlah 1.477 jiwa/376 KK. Tabel-tabel berikut ini akan memberikan informasi tentang jumlah penduduk Negeri Soya berdasarkan golongan umur, jenis kelaminnya, dan mata pencaharian warga masyarakat.
Negeri dan Kelurahan Lokasi MATASIRI 57
Tabel 2.9
Jumlah Penduduk Negeri Soya Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2012
No Kelompok Umur (Tahun) Laki – Laki (Jiwa) Perempuan (Jiwa) Jumlah (Jiwa) 1 0 – 5 301 310 611 2 6 – 15 525 571 1.096 3 16 - 24 508 512 1.020 4 25 – 50 1015 1.018 2.033 5 50 tahun ke atas 302 366 668 Jumlah 2.651 2.777 5.428
Sumber: RPJM Negeri Soya, tahun 2013-2017
Komposisi penduduk negeri ini ditandai dengan jumlah usia produktif (25–50 tahun) yang relatif berimbang dengan penduduk usia sekolah (6 – 24 tahun). Di sisi lain, penduduk yang belum dan melewati masa produktif jumlahnya tidak terlalu besar (1.279 jiwa). Kondisi ini bisa dikatakan ideal karena daya dukung penduduk usia produktif terhadap warga yang masih sekolah dan belum/tidak produktif dalam kategori memadai. Jika mengacu pada data jumlah penduduk menurut mata pencaharian, maka ada 2.122 warga yang masih aktif bekerja. Artinya, di antara penduduk yang berusia 50 tahun ke atas masih banyak yang aktif bekerja, sehingga semakin memperkuat daya dukungnya terhadap warga lain yang belum atau tidak bekerja.
Tabel 2.10
Jumlah Penduduk Negeri Soya Menurut Mata Pencaharian Tahun 2012
No Jenis Pekerjaan Jumlah (orang) 1 PNS 536 2 Wirausaha 227 3 Petani 186 4 Sopir 115 5 TNI/POLRI 112 6 Buru/Swasta 203 7 Pengusaha 229 8 Pedagang 183 9 Penjahit 85 10 Tukang Batu 100 11 Peternak 53 12 Lain-Lain 183 Jumlah 2.212
Sumber: RPJM Negeri Soya, tahun 2013-2017
Potensi Sumber Daya Alam (SDA), di Negeri Soya cukup menjanjikan untuk dikembangkan, terutama di bidang pertanian dan perkebunan. Kegiatan usaha tanaman per- kebunan merupakan salah satu komoditi unggulan bagi masyarakat Negeri Soya. Usaha tanaman perkebunan yang cukup menonjol adalah cengkih, pala, coklat, kelapa, langsa, durian, dan salak. Dari lahan potensial seluas 6.000 Ha, baru 2.500 Ha, yang dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian dan perkebunan.
Negeri dan Kelurahan Lokasi MATASIRI 59
Selain kekayaan alam, Negeri Soya juga memiliki potensi bidang pariwisata. Lingkungan alam yang bergunung dan lereng dengan pemandangan yang sangat indah potensial untuk dikemas menjadi obyek tujuan wisata yang bisa meningkatkan pendapatan warga. Selain itu, di Negeri Soya juga terdapat situs peninggalan zaman dulu yang berlokasi di kaki Gunung Sirimau yang dikenal dengan sebutan Tempayang Soya dan Gereja Tua Soya, yang sudah populer dan banyak dikunjungi wisatawan lokal dan regional.