• Tidak ada hasil yang ditemukan

Negeri Waai

Dalam dokumen Binder1 Buku MATASIRI 7 Mei 2014 kecil (Halaman 126-130)

IDPs di Negeri Soya

F. Negeri Waai

Penduduk Negeri Waai berasal dari Pulau Seram yang datang secara bergelombang dan tidak bersamaan, terbagi dalam 7 kelompok. Setelah tiba di pesisir pantai bagian timur Pulau Ambon, mereka langsung naik ke Gunung Salahutu dan mendirikan kampung-kampung dalam bentuk

Eri (Soa). Ketujuh Eri/Soa tersebut adalah: Eri Eluhu, Eri Nani, Eri Pokingsaung, Eri Patingsaung, Eri Amalain, Eri Hunimua, dan Eri Amaheru. Pada mulanya penduduk ketujuh Eri adalah Pemeluk Agama Hindu dan Agama Suku, namun pada abad 16 orang-orang Belanda datang ke Indonesia dan mendiami daerah Pulau Ambon. Lalu mereka membawa para Misionaris. Kedatangan orang-orang Be- landa di Negeri Waai dan melalui usaha para Zending

telah mengubah kepercayaan sebagian masyarakat Eri (Soa) menjadi Kristen. Tetapi, ada sebagian penduduk yang tidak menerima injil dan tidak terpercik air baptisan. Mereka yang tidak dibaptis kemudian pergi meninggalkan Gunung Salahutu menuju beberapa lokasi baru di seputar Gunung Salahutu seperti ke Negeri Liang, Negeri Tulehu, Negeri Kailolo, serta Negeri Morela dan selanjutnya mereka menetap sampai saat ini di negeri-negeri tersebut.

Honden Horen adalah seorang Pendeta Belanda yang sangat berperan dalam proses pembaptisan menjadi pemeluk Kristen sebagian penduduk Eri pada tahun 1620. Selanjutnya, bagi masyarakat yang telah dibaptis dan dikristenkan oleh Pendeta Honden Horen diajak

6 Data yang digunakan dalam tulisan bagian ini, bersumber dari Laporan Hasil Assessment IRE Yogyakarta tahun 2012 dan RPJM Negeri Waai tahun 2013 – 2017.

atau dianjurkan untuk hidup di tepi pantai karena semua kebutuhan hidup di sana lebih baik dan mudah didapat. Dengan mempertimbangkan saran tersebut, mereka bersepakat untuk turun dan menetap di tepi pantai yakni bagian selatan dari Gunung Salahutu. Setelah bermukim di daerah pantai, masyarakat bermusyawarah dan bersepakat menunjuk Raja dari Eri Nani untuk menjadi pemimpin di Negeri baru dan dinamakan “WAAI” yang artinya negeri yang diapit dan dialiri oleh sungai dari sumber Gunung Saluhutu.

Proses perpindahan masyarakat 7 Eri dengan turun dari Gunung Salahutu ke permukiman baru yang bernama Waai dipimpin oleh Barnadus Reawaruw yang menjadi raja pertama. Setelah menempati Negeri Waai, dilakukan penggabungan beberapa mata rumah (clan) dari ke-7 Eri (soa) tersebut menjadi 3 Soa yaitu, Soa Risama, Soa Pattihutu, dan Soa Rumahlai. Dalam perkembangannya, Raja Barnadus Reawaruw menyerahkan kepemimpinannya kepada Putimang Bakarbessy untuk melanjutkan pemerin- tahannya dengan gelar Upu Perintah yaitu, Upu Latu Pislehua Sanaputih.

Adat Istiadat yang terjadi secara turun-temurun dari pendahulu, masih dilaksanakan dan dipertahankan oleh masyarakat sampai saat ini, seperti adat Perkawinan, adat Sasi Gereja/Negeri, Pelantikan Raja, dan Tarian Cakalele. Masyarakat sangat menghormati dan mensakralkan adat tersebut. Selain itu, tradisi-tradisi kehidupan bermasyarakat yang masih dihormati dan dihargai serta disakralkan sebagai kekuatan kearifan lokal adalah hubungan-hubungan masa lampau akibat hubungan darah seperti Pela Gandong

yang disebabkan dari kejadian antara Negeri Waai dengan beberapa Negeri lain, antara lain Negeri Kaibobu di pulau

Negeri dan Kelurahan Lokasi MATASIRI 63

Seram sebagai Pela Tuni dan Negeri Morela sebagai Pela Tampa Sirih.

Sejalan dengan perkembangan zaman, Negeri Waai telah dipimpin oleh beberapa raja dan pejabat raja, yaitu orang kaya Johan Bakarbessy yang pada waktu itu merupakan tokoh ke-12 yang duduk dalam “Landraad”. Selanjutnya, pada tahun 1656 beliau dibuang ke pulau Rosingyu di Banda, dan untuk menggantikan posisinya, ditunjuk orang kaya bernama Manuel Kayadu (Kayadoe). Setelah masa kepemimpinan Manuel Kayadu berakhir, Negeri Waai kembali dipimpin secara berturut-turut oleh Peter Bakarbessy, Lodi Bakarbessy, Yosias Bakarbessy, Moses Bakarbessy, Johan Bakarbessy, Hendrik Bakarbessy, Moses Bakarbessy, dan Jan. H. Bakarbessy (Tos).

Selain para raja di atas, Negeri Waai juga pernah dipimpin oleh beberapa orang pejabat raja yaitu, Dominggus de Lima, Daniel Kayadu, Semuel de Lima, dan baru pada tahun 1970-an secara demokratis dipimpin oleh Raja Petrus Reawaruw, SH, mulai tahun 1973 hingga 1978. Dalam masa kepemimpinan Raja Petrus Reawaruw di tahun 1977, terjadi beberapa peristiwa penting seperti Komisi Pengukuran batas wilayah Negeri Waai dan Negeri Liang, juga penyelesaian Pembangunan Gedung Gereja Damai yang diresmikan pada Tahun 1975. Ketika masa kepemimpinan Raja Petrus Reawaruw, SH berakhir, pe- merintahan dilanjutkan oleh Raja Petrus Kayadu dari tahun 1985 sampai 1989. Berikutnya, Negeri Waai dipimpin oleh Pejabat Raja Isaac de Lima, Angkotasan, Erasmus Riri- hatuela pada tahun 1999 - 2008.

Pada masa kepemimpinan Pejabat Raja Erasmus Ririhatuela, Negeri Waai mengalami sedikit perubahan dalam proses pembangunan. Tragedi kemanusiaan tahun

1999 yang melanda daerah Maluku juga berimbas pada masyarakat Negeri Waai. Pada bulan Juli 2000 masyarakat Negeri Waai harus meninggalkan permukiman akibat diporakporandakan oleh konlik yang berkepanjangan. Pada periode tersebut, banyak harta benda hancur dan musnah termasuk hilangnya nyawa manusia. Masyarakat Negeri Waai yang pergi dari permukimannya, menyebar pada beberapa daerah baik di Kota Ambon maupun di luar Provinsi Maluku sampai dengan tahun 2003. Sebagian besar harus menempati barak pengungsian di Negeri Passo, dan pada tahun 2003 baru kembali untuk membangun negeri

dan kehidupannya dari keterpurukan, baik isik, ekonomi

maupun psikis. Selama berada di pengungsian, masyarakat Negeri Waai tetap dipimpin oleh Pejabat Raja Erasmus Ririhatuela. Setelah kembali ke tanah kelahiran/leluhur (Negeri Waai), pada tahun 2009 secara demokratis Negeri Waai memilih seorang Raja yakni Zacarias Bakarbessy yang mulai memimpin Negeri Waai dari tahun 2009 - 2015.

Secara administratif, Negeri Waai merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, dan berada di bagian timur kabupaten tersebut. Waai terdiri dari 4 dusun, yakni: Batu Naga, Ujung Batu, Batu Dua, dan Wainuru. Sementara, negeri induknya terbagi dalam 5 sektor, yaitu Efrata, Talitakumi, Mahalalel, Fajar, dan Gios. Luas wilayah Waai mencapai 10.439,60 Ha, yang terdiri dari 7.615,70 Ha daratan dan 2.823,90 Ha lautan, sedangkan wilayah permukimannya mencapai 3.594,64 Ha,

dengan garis pantai sepanjang 10 Km. Secaran geograis,

Negeri Waai berbatasan langsung dengan Negeri Liang di bagian utara, Negeri Tulehu di bagian selatan, Negeri Kailolo di bagian timur, serta Negeri Morela dan Wakal di bagian barat.

Negeri dan Kelurahan Lokasi MATASIRI 65

Tabel 2.11

Jumlah Penduduk Negeri Waai Berdasarkan Sektor,

Dalam dokumen Binder1 Buku MATASIRI 7 Mei 2014 kecil (Halaman 126-130)