Ahmad Maulana
Program Studi Pendidikan IPS, FKIP Universitas Lambung Mangkurat e-mail : [email protected]
ABSTRAK
Kini zaman semakin berubah dan berkembang pesat. Kemajuan negara-negara lain saling berpacu. Di era globalisasi ini banyak tantangan memang bagi negeri kita. Tentang kesadaran berbangsa dan bernegara, sudah selayaknya rakyat dan pemerintah untuk bersama-sama memberikan pemahaman bagi rakyatnya, khususnya kaum muda. Pemerintah ikut bertanggung jawab mengemban amanat untuk memberikan kesadaran berbangsa dan bernegara bagi warganya. Bila rakyat bangsa Indonesia sudah tidak memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara, maka kehancuran berbangsa dan bernegara ada di depan mata. Dan mengakibatkan bangsa ini akan jatuh ke dalam kondisi yang sangat parah bahkan jauh terpuruk dari bangsa-bangsa yang lain yang telah mempersiapkan diri dari gangguan bangsa lain. Pembaruan kedasaran berbangsa dan bernegara bukan hanya merupakan tanggung jawab pemerintah selaku penggerak kebijakan negara. Namun justru kita warga negara selaku rakyat yang harus berperan banyak untuk itu, khususnya kaum muda. Jika warga negara sudah tidak memiliki kesadaran untuk itu maka sangat disayangkan, karena ini merupakan bahaya besar bagi bangsa dan negara kita sendiri. Dan akan sulit untuk membuat Indonesia tetap menjadi bangsa yang bermartabat. Mengingat pada saat ini kesadaran berbangsa dan bernegara warga Indonesia itu sendiri telah mengalami pemerosotan. Pasalnya terdesak akan kencangnya arus globalisasi yang tak terpungkiri Indonesia ikut ambil bagian di dalamnya.
Kata Kunci: Pendidikan, Nasional, Peran, Sejarah. PENDAHULUAN
Bangsa kita saat ini sedang berada di fase yang memprihatinkan. Jiwa berbangsa dan bernegara tampak hilang di dalam tiap insan warga negara. Lalu akan dibawa kemana bangsa kita jika terus seperti ini. Kita butuh penerus bangsa sejati yang memiliki jiwa kuat akan berbangsa dan bernegara. Generasi penerus bangsa ada di tangan generasi muda. Generasi muda menjadi satu-satunya harapan bangsa agar bangsa kita menjadi hidup bernyawa layaknya manusia. Namun faktanya saat ini yang bisa di lihat dan dirasakan adalah lemahnya jiwa kebangsaan pada diri generasi muda. Banyak masyarakat di sekitar kita yang hidup dari kata layak. Buruh, petani, pedagang kecil kini semakin susah langkah hidupnya. Bagaimana sikap mereka generasi muda
melihat hal yang miris itu. Mereka tidak memiliki rasa iba dan prihatin menyaksikan kesengsaraan di depan matanya dimana sesama bangsa harus menjadi buruh dan budak di negri sendiri. Bagaimana generasi muda bisa ada revolusi atau lompatan dalam upaya membangun kembali kesadaran berbangsa.
Kini zaman semakin berubah dan berkembang pesat. Kemajuan negara-negara lain saling berpacu. Di era globalisasi ini banyak tantangan memang bagi negeri kita. Tentang kesadaran berbangsa dan bernegara, sudah selayaknya rakyat dan pemerintah untuk bersama-sama memberikan pemahaman bagi rakyatnya, khususnya kaum muda. Pemerintah ikut bertanggung jawab mengemban amanat untuk memberikan kesadaran berbangsa dan bernegara bagi warganya. Bila rakyat bangsa Indonesia sudah tidak memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara, maka kehancuran berbangsa dan bernegara ada di depan mata. Dan mengakibatkan bangsa ini akan jatuh ke dalam kondisi yang sangat parah bahkan jauh terpuruk dari bangsa-bangsa yang lain yang telah mempersiapkan diri dari gangguan bangsa lain.
Pembaruan kedasaran berbangsa dan bernegara bukan hanya merupakan tanggung jawab pemerintah selaku penggerak kebijakan negara. Namun justru kita warga negara selaku rakyat yang harus berperan banyak untuk itu, khususnya kaum muda. Jika warga negara sudah tidak memiliki kesadaran untuk itu maka sangat disayangkan, karena ini merupakan bahaya besar bagi bangsa dan negara kita sendiri. Dan akan sulit untuk membuat Indonesia tetap menjadi bangsa yang bermartabat. Mengingat pada saat ini kesadaran berbangsa dan bernegara warga Indonesia itu sendiri telah mengalami pemerosotan. Pasalnya terdesak akan kencangnya arus globalisasi yang tak terpungkiri Indonesia ikut ambil bagian di dalamnya.
Undang Undang Dasar Tahun 1945, Pasal 27 ayat (3) mengamanatkan bahwa “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara”. Pasal 30 ayat (1) mengamanatkan bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara”. Unsur Dasar Bela Negara – Cinta Tanah Air – Kesadaran Berbangsa dan Bernegara. Dengan sudut pandang itu, diharapkan kita dapat menyatukan pola berpikir dalam merumuskan visi, misi, tujuan, strategi dalam mengaktualisasikan berbangsa, bernegara sebagai pedoman dalam kita bersikap dan berperilaku dalam menjalankan fungsi, pekerjaan, kerja, jabatan, peran dan tanggung jawab dalam berbangsan dan bernegara.
Hal lain yang dapat mengganggu kesadaran berbangsa dan bernegara di tingkat pemuda yang perlu di cermati secara seksama adalah semakin tipisnya kesadaran dan kepekaan sosial. Padahal banyak persoalan-persoalan masyarakat yang membutuhkan peranan pemuda untuk membantu memediasi masyarakat agar keluar dari himpitan masalah, baik itu masalah sosial, ekonomi dan politik.
Bagaimana memberi kesadaran bagi generasi muda untuk mampu berbangsa dan bernegara? Salah satu yang menjadi pekerjaan pemerintah kepada para generasi muda agar tidak mudah terpengaruh paham radikalisme yang bisa berujung pada mengubah ideologi bangsa yang sengaja disebarkan oleh kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab. Mencermati pentingnya suatu konstitusi yang kokoh dan mampu mengikuti kebutuhanya zamannya, maka pembangunan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih memahami dan menyadari akan nilai-nilai konstitusi menjadi suatu keniscayaan.
Sudah saatnya membangun kesadaran berbangsa dan bernegara kepada pemuda. Ini merupakan hal penting, yang tidak boleh diabaikan oleh bangsa ini, karena pemuda merupakan penerus bangsa yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang bangsa ini. Akan tetapi kesadaran berbangsa dan bernegara ini jangan ditafsir hanya berlaku pada pemerintah saja. Tetapi harus lebih luas memandangnya, sehingga dalam implementasinya, pemuda lebih kreatif menerapkan arti sadar berbangsa dan bernegara ini dalam kehidupannya tanpa menghilangkan hakekat kesadaran berbangsa dan bernegara itu sendiri.
Apabila kita membangun kesadaran berbangsa, bernegara, memahami hukum yang berlaku, dan Pancasila sebagai pedoman hidup, tentu tidak akan ada generasi yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang untuk memecahkan bangsa dan negaranya sendiri. Serta tidak ada generasi muda yang memiliki perlakuan yang menyimpang dari norma-norma umum di masyarakat. Dengan membangun kesadaran berbangsa dan bernegara itulah, maka pemuda telah melakukan salah satu dari sekian banyak aspek untuk menjaga keutuhan negara ini yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.
PEMBAHASAN
Bagaimana cara mengatasi berbagai problem sosial, ekonomi dan budaya yang ditengah-tengah bangsa Indonesia saat ini? Salah satu media yang paling tepat adalah pendidikan, yang sangat besar peranannya dalam membentuk karakter bangsa. Salah satu bagian penting pendidikan untuk menanamkan konsep keberagaman adalah pendidikan sejarah. Pendidikan sejarah sangat besar pengaruhnya dalam membentuk kesadaran dan karakter bangsa. Dengan pendidikan sejarah, kita akan menanamkan dan mengembangkan kesadaran multicultural yang bersifat normatif.
Pendidikan sejarah merupakan proses enkulturasi dalam rangka national building, dan proses pelembagaan nilai-nilai positif, seperti nilainilai warisan leluhur, nilai heroism dan nasionalisme, nilai masyarakat industri, maupun nilai-nilai ideologi bangsa (Kartodirdjo, 1999:33). Nilai-nilai-nilai tersebut diharapkan berkembang pada tingkat individu maupun kolektif bangsa yang tercermin dalam etos
budaya bangsa. Beberapa sejarawan terkemuka seperti Cicero (Lucey-1984:15) menyatakan bahwa sejarah adalah "cahaya kebenaran, saksi waktu, guru kehidupan, historia magistra vitae". Kartodirdjo (1992:21) juga menjelaskan bahwa sejarah mempunyai pengaruh higinis terhadap jiwa kita karena membebaskan dari sifat yang percaya belaka.
Pendidikan sejarah dalam era globalisasi memiliki peranan strategis, karena Negara nasional peranannya semakin kecil dan kesadaran nasional semakin merosot (Kennedy, 2001:491-492). Keadaan ini disebabkan kehidupan ekonomi lebih dominan dibandingkan bidang politik sehingga masalah ekonomi dan politik tidak seimbang. Pada bidang ekonomi, dunia disusun menjadi unit kegiatan tunggal yang meliputi keseluruhan. Ketegangan antara bidang ekonomi dan politik ini dapat menghancurkan kehidupan social umat manusia. Pendidikan sejarah memiliki tanggung jawab mewariskan kebudayaan, berperan aktif dalam era globalisasi dan perkembangan iptek. Perkembangan pasar global pada era globalisasi menjadi tantangan pendidikan sejarah, dengan cara menumbuhkan kesadaran sejarah suatu bangsa (Laksono, 2001:5). Kesadaran sejarah yang tumbuh pada suatu bangsa diharapkan dapat mempertebal rasa nasionalisme, sehingga dapat menjadi perekat dalam berbangsa dan bemegara.
Pendidikan sejarah pada era reformasi menghadapi tantangan dan tuntutan kontribusinya untuk lebih menumbuhkan kesadaran sejarah. Peran pendidikan sejarah diharapkan dapat terusmenerus menumbuhkan semangat kebangsaan dalam menghadapi gejolak ekonomi, sosial dan politik. Fenomena kondisi bangsa Indonesia pada era reformasi bagai seseorang yang tidak mengenal sejarahnya sehingga kehilangan memori, pikun atau sakit jiwa, karena kehilangan kepribadian dan identitasnya (Kartodirdjo, 1992). Suasana reformasi teriihat saling menyalahkan dan saling mengalahkan, sehingga menimbulkan gejolak yanga dapat mengancam keutuhan bangsa Indonesia. Pendidikan sejarah diharapkan mampu menyadarkan siswa bahwa pada saat ini aktuaUsasi nasionalisme tidak dalam bentuk periawanan terhadap kolonialisme atau mewujudkan kemerdekaan, melainkan bagaimana mempertahankan dan meningkatkan nilai-nilai pancasiala UUD 1945. Keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran sejarah diharapkan menumbuhkan kesadaran siswa bahwa pada saat sekarang ini telah terjadi pergeseran dalam pengertiian nasionalisme yang tidak lagi berdasarkan ideologi-ideologi pada awal tahun 1950-an. Pendidikan sejarah menggambaikan peristiwa masa lampau dan mengungkap makna yang berguna untuk perjuangan masa kini dan untuk merencanakan masa datang. Hal ini berarti memahami keberadaan dirisendiri sebagai individu maupun sebagai bangsa.
Lebih lanjut Winataputra (2010:3-4) mengungkapkan bahwa yang menjadi tujuan pembangunan karakter bangsa adalah untuk membina dan mengembangkan karakter warga Negara sehingga mampu mewujudkan masyarakat yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berperi kemanusiaan yang adil dan beradab, berjiwa persatuan Indonesia, berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia". Untuk itu maka pembangunan karakter bangsa disikapi dan diperlakukan sebagai suatu gerakannasional yang harus menjadi komitmen seluruh komponen bangsa. Adapun yang menjadi lingkup sasaran dari pembangunan karakter bangsa ini mencakup beberapa aspek, antara lain:
1. Lingkungan Keluarga, yang merupakan wahana pembelajaran dan pembiasaan karakter yang dilakukan oleh orang tua dan orang dewasa lain dalam kelurga terhadap anak sebagai anggota keluarga sehingga diharapkan dapat terwujud keluarga berkarakter mulia yang tercermin dalam perilaku sehari-hari.
2. Lingkungan Satuan Pendidikan, yang merupakan wahana pembinaan dan pengembangan karakter yang dilakukan dengan menggunakan; (a) pendekatan terintegrasi dalam semua mata pelajaran; (b) pengembangan budaya satuan pendidikan; (c) pelaksanaan kegiatan ko-kurikuler dan ekstrakulikuler; dan (d) pembiasaan perilaku dalam kehidupan dilingkungan satuan pendidikan. Pembangunan karakter melalui satuan pendidikan dilakukan mulai dari pendidikan usia dini sampai perguruan tinggi.
3. Lingkungan Pemerintah, yang mempakan wahana pembangunan karakter bangsa melalui keteladanan penyelenggara Negara, elit pemerintah, dan elit politik. Unsur pemerintah mempakan komponen yang sangat penting dalam proses pembentukan karakter bangsa karena aparatur Negara sebagai penyelenggara pemerinjntahan merupakan pengambil dan pelaksana kebijakan yang ikut menentukan berhasibiya pembangunan karakter dengan mengeluarkan berbagai kebijaksanaan.
4. Lingkup Masyarakat, yang merupakan wahana pembinaan dan pengembangan karakter melalui keteladanan tokoh dan pemimpin masyarakat serta berbagai kelompok masyarakat yang tergabung dalam organisasi social kemasyarakatan sehingga nilai-nilai karakter dapat diintemalisasikan menjadi perilaku dan budaya dalam kehidupan sehari-hari.
5. Lingkup Masyarakat Politik, wahana yang melibatkan warga Negara dalam menyalurkan aspirasi dalam politik, masyarakat politik merupakan suara representatif dari segenap elit politik dan simpatisannya. Masyarakat politik memiliki nilai strategis dalam pembangunan karakter bangsa karena semua partai
politik memiliki dasar yang mengarah pada terwujudnya upaya demokratisasi yang bermartabat.
6. Lingkup Dunia Usaha, sebagai sarana interaksi para pelaku sektor riil yang menopang bidang perekonomian nasional. Kemandirian perekonomian nasional sangat bergantung pada kekuatan karakter para pelaku usaha dan industri yang diantaranya dicerminkan oleh menguatnya daya saing, meningkatnya lapangan kerja, dan kebanggaan terhadap produk bangsa sendiri.
7. Lingkup Media Massa, sebagai sebuah fungsi dan sistem yang memberi pengaruh sangat signifikan terhadap publik, khususnya terkait dengan pembentukan nilai-nilai kehidupan, sikap, perilaku, dan keprobadian atau jati diri bangsa. Media massa baik elektronik cetak memiliki fungsi edukatif atau pun non edukatif tergantung dari muatan pesan informasi yang disampaikannya. Pendidikan mempakan hal terpenting untuk membentuk karakter.
Pendidikan sejarah sebagai wahana pendidikan berguna untuk mengembangkan pribadi peserta didik sebagai anggota masyarakat dan warga negara serta mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Peserta didik melalui pendidikan sejarah diajak menelaah keterkaitan kehidupan yang dialami oleh diri, masyarakat dan bangsanya, bukan hanya menghapal fakta atau peristiwa sejarah yang mempakan bentuk pengulangan secara lisan dari buku pelajaran dan bukan merupakan ajang latih keterampilan intelektual (Hasan, 1995; Kardisaputra, 2003).
Pembelajaran sejarah bukan hanya untuk menanamkan pemahaman masa lampau hingga masa kini, menumbuhkan adanya perkembangan masyarakat kebangsaan dan cinta tanah air, kebanggan sebagai bangsa Indonesia, dan memperluas wawasan hubungan masyarakat antar bangsa didunia; melainkan ditekankan pada kegiatan yang dapat memberikan pengalaman untuk menumbuhkan rasa kebangsaan dan kecintaan pada manusia secara universal. Pembelajaran sejarah juga menekankan pada cara berfikir, bemalar, pematangan emosional dan sosial serta meningkatkan kepekaan perasaan dan kemampuan mereka untuk memahami dan menghargai perbedaan. Pembelajaran sejarah adalah bagian dari proses penanaman nilai-nilai yang fungsional untuk menanamkan pengetahuan.
SIMPULAN
Pengembangan pendidikan sejarah merupakan tuntutan untuk melahirkan generasi yang bijaksana yang mampu menyelesaikan permasalahan bangsa dengan bijaksana tidak bertentangan dengan budaya bangsa. Mempelajari masa lampau manusia dapat untuk mengetahui kebenaran dan kesalahan peristiwa kehidupan
manusia. Pengetahuan sejarah sangat fundamental dalam pembentukan identitas nasional, kesadaran sejarah merupakan sumber inspirasi untuk membangkitkan rasa kebangsaan dan tanggung jawab. Kesadaran sejarah penting bagi sutu bangsa, karena dapat membimbing manusia kepada pengertian sebagai bangsa. Kesadaran sejarah sebagai orientasi intelektual, jiwa yang perlu untuk memahami secara tepat paham kepribadian nasional. Kesadaran sejarah ini membimbing manusia kepada pengertian mengenai dirinya sebagai bangsa suatu bangsa.
Pembelajaran sejarah bukan hanya menanamkan pemahaman masa lampau hingga masa kini, menumbuhkan adanya perkembangan masyarakat kebangsaan dan cinta tanah air, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dan memperluas wawasan hubungan masyarakat antar bangsa di dunia, melainkan juga ditekankan pada kegiatan yang dapat memberikan pengalaman untuk menumbuhkan rasa kebangsaan dan kecintaanpada manusia secara universal. Pembelajaran sejarah juga menekankan pada cara berfikir, bemalar, kematangan emosional dan sosial serta meningkatkan kepekaan perasaan dan kemampuan mereka untuk memahami dan menghargai perbedaan
Pendidikan sejarah sebagai wahana pendidikan berguna untuk mengembangkan pribadi peserta didik sebagai anggota masyarakat dan warga negara serta mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Peserta didik melalui pendidikan sejarah diajak menelaah keterkaitan kehidupan yang dialami oleh diri, masyarakat dan bangsanya, bukan hanya menghapal fakta atau peristiwa sejarah yang mempakan bentuk pengulangan secara lisan dari buku pelajaran dan bukan mempakan ajang latih keterampilan intelektual.
REFERENSI
Hasan, H.S. (1995). Pendidikan Ilmu Sosial. Jakarta: Proyek Pendidikan Tenaga Akademik.
Kardisaputra, O. (2003). “Beberapa Ciri Khas Ilmu Sejarah dan Implikasikannya dalam Pengajaran Sejarah” dalam Sjamsuddin, H & Suwitra,. Historia Magistra Vitae: Menyambut 70 Tahun Prof. Dr. Hj. Rochiati Wiriaatmadja, M.A. BandungL Historia Utama Press.
Kartodirjo, S. (1992). Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Kartodirdjo, S. (1999). Pengantar Sejarah Indonesia Baru : Sejarah Pergerakan Nasional, Dari Kolonialisme sampai Nasionalisme jilid 2. Jakarta: Gramedia. Kennedy. (2001). Menyiapkan Diri Menghadapi Abad ke-21, ditermahkan oleh
Yayasan Obor Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor.
Lucey, W.L. (1984). Methods andf Interpretation. New York: Gerland Publishing. Wiraatmadja, R. (2002). Implementasi Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter